***************************************************************
******************************
*****************************
“Lila, mengapa kau tidak menceritakannya kepada kami sejak awal.“
“Karena aku belum siap Dhee. Aku juga tidak mau merusak kebahagiaan yang sedang kalian nikmati saat ini.“
“Ya ampun Lila, mengapa kau sampai memiliki pemikiran yang seperti itu.“
“Aku minta maaf, Sya. Karena tadinya aku pikir aku bisa menyelesaikannya sendiri. Namun ternyata aku salah.“
“Sudahlah Lila, kau jangan menangi. Ingat putramu, dia lebih membutuhkanmu. Jadi kau harus tetap kuat.“
“Terima kasih Dhee, terima kasih juga Sya.“
“Lila, bolehkah aku menggendong bayimu? Dia bangun dan sangat menggemaskan.“
“Tentu saja kau boleh menggendongnya, Sya.“
Asya berjalan ke arah box bayi tempat Kyle Jr di tempatkan. Dengan hati-hati Asya menggendongnya dan membawanya memdekat kepadaku.
“Hei, lihatlah aku bisa menggendongnya dan dia tidak menangis.“
Sontak saja aku dan Dhee tertawa mendengar perkataan Asya itu.
“Mengapa kalian berdua tertawa? Memangnya ada yang lucu?“
“Tidak Sya, tidak ada yang lucu.“ namun Dhee terus saja menahan tawanya.
“Kau menertawakanku, Dhee.“
“Tidak Sya, hanya saja ucapanmu sangat lucu sekali.“
“Kau menyebalkan sekali, Dhee.“
“Hei, sudah-sudah kalian jangan bertengkar. Nanti anakku menangis karena mendengar pertengkaran kalian.“
Aku tak bisa menghentikan tawaku melihat tingkah Dhee dan Asya. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa tertawa dengan perasaan yang tenang dan ringan seperti ini.
Untung saja aku bisa memiliki sahabat seperti Dhee dan Asya. Mereka selalu bisa membuatku tertawa dan kuat. Mereka selalu ada di manapun aku membutuhkan mereka berdua. Tak terasa air mataku kembali jatuh.
“Lila kau kenapa menangis? Jangan bersedih lagi.“
“Tidak Dhee, ini bukan air mata kesedihan. Tapi air mata bahagia, karena aku memiliki sahabat seperti kalian berdua.“
Tiga hari kemudian aku dan bayiku di perbolehkan untung pulang. Sebenarnya aku tidak ingin kembali ke rumah itu. Namun pengacaraku dan pengacara Kyle meminta kami untuk melakukan mediasi selama satu bulan.
Jika dalam satu bulan kami tidak ada perbaikan dan malah semakin memburuk barulah pengacara kami akan mengurus proses perceraianku dan Kyle di pengadilan.
Dan selama satu bulan itu tak ada sedikitpun kemajuan di antara kami berdua. Yang ada hanya bertambah buruk saja. Dan setelah berdiskusi dan berbicara dari hati ke hati. Akhirnya kami memutuskan untuk berpisah.
Kyle menyerahkan hak asuh Junior kepadaku sepenuhnya. Karena Junior masih sangat kecil sekali. Dia lebih membutuhkanku.
“Dengarkan Kyle, aku takkan pernah memaksamu untuk memperbaiki hubungan kita ini. Karena semuanya sudah terlambat.“
“Aku tahu, aku sudah terlambat untuk memperbaiki semuanya. Kesalahanku sudah tidak dapat di maafkan.“
“Ya, kesalahanmu memang sudah tidak termaafkan, Kyle. Aku sudah lelah, aku tak sanggup lagi untuk bertahan. Hanya bayiku yang bisa membuatku tetap waras sampai detik ini.“
“Bolehkah aku bertemu dengan putraku jika kita tidak bersama lagi?“
“Dia darah dagingmu, Kyle. Dan aku takkan menyembunyikan keberadaanmu kepadanya. Bagaimanapun juga Junior harus tahu tentang ayah kandungnya.“
“Ya Tuhan, Lila...“ tiba-tiba Kyle memelukku dengan erat, “ Maafkan aku Lila, maafkan aku karena kita harus berhasil seperti ini. Aku akan melepasmu, karena aku tak ingin terus menerus mentakitimu, sayang. Aku sangat mencintaimu, kau tahu.“
“Aku mengerti Kyle, sangat sangat mengerti. Hiduplah yang baik kau pasti akan menemukan wanita yang lebih baik.“
“Aku bisa menemukan wanita yang sepertk apapun juga. Tapi takkan ada yang bisa sepertimu, Lila. Tolong jaga Junior baik-baik, katakan bahwa aku sangat mencintainya.“
Aku hanya bisa mengangguk sambil menangis tersedu dalam pelukannya. Tuhan, tolong kuatkanlah aku agar bisa terus menjalani kehidupanku setelah berpisah dengan Kyle.
Aku terus meyakinkanku bahwa perpisahan kami adalah jalan yang terbaik. Kami berdua sudah tidak bisa hidup bersama-sama lagi.
“Kyle biskah kau mengantarkanku kembali ke apartemenku besok pagi.“
“Rumah ini milikmu Lila.“
“Aku tidak bisa tinggal di rumah ini, Kyle. Terlalu banyak kenangan tentangmu di sini, Kyle. Aku tidak akan sanggup.“
Kyle terlihat frustasi sambil mengacak rambutnya, “Aku ingin kau dan Junior aman.“
“Aku akan jauh merasa lebih aman berada disana Kyle. Ada Asya yang akan memaniku di sana. Asya bisa membantuku menjaga Junior ketika aku harus menghadiri persidangan perceraian kita.“
“Jika itu kau minta, baiklah aku akan mengantarmu ke sana. Tapi jika kau butuh sesuatu hubungin aku.“
“Akan kulakukan. Kalau begitu aku duluan. Aku sangat lelah, Kyle.“
“Selamat malam, Lila.“
Aku mengangguk dan langsung pergi meninggalkan Kyle. Aku langung menuju ke kamar Junior. Memandangi tubuh mungilnya yang sedang tidur dalam damai.
Hatiku terasa semakin remuk. Ya Tuhan, anakku masih sangat kecil sekali. Masih membutuhkan ayah dan ibunya. Namun aku dan Kyle benar-benat tidak bisa untuk bersama-sama lagi.
“Maafkan Mommy, sayang.“ aku menangis sambil membelai wajah Junior.
Aku cepat-cepat menghapus air mataku dan langsung membereskan semua pakaian dan perlengkapan milik Junior dan milikku. Setelah semuanya selesai di packing aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur.
Mataku tak bisa terpejam, meskipun aku sangat sangat lelah sekali dengan semua ini. Mataku menerawang memandangi ke sekeliling kamar. Terlalu banyak kenangan indah di kamar ini bersama Kyle. Dan aku hanya bisa menangis hingga pagi menjelang.
Keesokan harinya setelah sarapan Kyle mengantarkanku kembali ke apartemen. Sepanjang perjalanan menuju kesana hanya keheningan yang menemani kami.
Setengah jam kemudian kami sampai di sana. Ternyata Asya tidak berada di apartrmen, karena saat ini Asya sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Mark.
Kyle membantuku membereskan barang-barang milikku dan Junior. Bahkan Kyle membawa box tempat tidur Junior dan menyimpannya di kamarku.
“Apa ada lagi yang kau butuhkan?“
“Tidak ada Kyle, terima kasih sudah membantuku.“
“Aku akan sangat merindukanmu.“
“Kyle, tolong jangan seperti ini.“
“Maafkan aku Lila, hanya saja aku merasa belum siap untuk semua ini.“
“Kau akan terbiasa tanpaku, Kyle. Kau akan baik-baik saja.
Kyle menatapku, terlihat jelas kesedihan yang teramat dalam di matanya, “Aku pergi, jaga diri baik-baik. Bolehkah aku melihat putraku?“
“Tentu saja, dia anakmu Kyle.“
Kyle masuk ke dalam kamar dan aku mengikutinya. Kyle berlutut di samping tempat tidurku. Karena Juniot sedang tidak aku tempatkan di boxnya.
“Daddy pergi dulu ya, sayang. Kau jangan nakal, maaf Daddy tidak bisa bersamamu. Tapi meskipun begitu Daddy sangat sangat sangat mencintai dan menyayangimu sayang.“
Hatiku kembali terasa sakit melihat Kyle berbicara kepada Junior seperti itu. Ya Tuhan...
Akhirnya Kyle pun pergi dari apartemen. Aku tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihanku. Aku harus kembali bangkit demi putraku. Maka dari itu aku memutuskan untuk memasak di dapur setelah Junior tidur.
Memasak membuatku merasa jauh lebih baik. Semoga nanti siang Asya akan pulang kemari jadi aku tidak akan merasa kesepian. Karena aku sangat membutuhkan seseorang untuk berbicara.
Ketika aku sedang menyelesaikan pekerjaanku di dapur. Aku mendengar suara seseorang yang membuka pintu. Aku buru-buru pergi ke ruang depan untuk melihatnya.
“Asya...“
“Lila. Apa yang sedang kau lakukan di sini?“ Asya yang bingung dan terkejut langsung membanjiriku dengan berbagai pertanyaan.
“Pelankan suaramu Sya, kau akan membuat Junior terbangun.“
“Junior ada di sini?“
“Aku akan menceritakan semuanya kepadamu sambil makan siang.“
“Baiklah kalau begitu.“
Selama makan siang, aku menceritakan tentang proses perceraianku dengan Kyle kepada Asya. Asya sangat syok sekali mendengar semuanya, tapi dia tetap mendukung keputusan yang aku ambil.
“Kalau itu yang terbaik, aku akan selalu mendukungmu, La.“
“Terima kasih Sya, bagaimana persiapan pernikahanmu dengan Mark? Kapan pernikahannya? Semoga badanku bisa agak kecil.“
Asya tertawa mendengar ucapanku, “Jangan diet La, kasian Junior. Kau akan tetap jadi pendampingku, kan?“
“Tentu saja Asya, kau ini sahabatku. Mana mungkin aku tidak menjadi pendampingmu nanti.“
“Lalu siapa yang akan menggendong Junior?‘
“Ada Kak Eric, Gale dan Zach. Aku yakin mereka pasti mau.“
“Syukurlah, aku senang mendengarnya.“
“Aku tidak sabar melihatmu jadi seorang pengantin, Sya.“
“Aku sangat gugup sekali kau tahu. Meskipun pernikahanku masih satu bulan lagi. Aku agak stress memikirkan semuanya.“
“Itu hal yang wajar, Sya. Semua wanita yang akan menikah pasti akan mengalaminya.“
Aku berjanji dalam hati. Bahwa aku tidak akan menangis atau bersedih lagi. Aku akan memulai lembaran hidupku yang baru dengan senyuman.
~~~~~~~~~~~
Siang itu aku memutuskan untuk pulang ke apartemen saja. Aku heran ketika memutar kunci pintu apartemen tidak terkunci.
Perlahan-lahan aku membuka pintu dan masuk ke dalam. Ternyata ad Lila di apartemen. Dan itu membuatku semakin terkejut. Apa yang sedang Lila lakukan di sini dengan menggunakan apron?
“Asya.“ Lila menyapaku sambil tersenyum.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini?“
“Pelankan suaramu Sya, kau akan membangunkan Junior.“
“Junior juga ada di sini?“
“Aku akan menceritakan semuanya sambil makan siang.“
“Baiklah kalau begitu.“
Aku sangat terkejut mengetahui bahwa Lila dan Kyle sedang memproses perceraian mereka di pengadilan.
Lila lebih memilih kembali ke apartemen dari pada harus tinggal di rumah itu. Sebenarnya aku sangat sedih sekali mendengarnya.
Namun apa boleh buat, jika perpisahan adalah jalan yang terbaik. Aku akan selalu mendukung Lila asalkan Lila bisa tersenyum dan ceria lagi seperti dulu.
Sejak Lila kembali ke apartemen aku jadi sering pulang ke sana. Untung saja Mark mau mengerti dengan penjelasanku, toh setelah menikah nanti aku akan tinggal bersamanya.
Proses perceraian Lila dan Kyle akhirnya selesai. Saat ini Lila sudah resmi berpisah dari Kyle. Meskipun Lila terlihat sering tersenyum namun aku tahu bahwa Lila masih hancur dan masih berusaha untuk menyatukan kembali kepingan hatinya yang hancur berkeping-keping.
Sedangkan aku semakin sibuk dengan persiapan pernikahanku yang tinggal tiga minggu lagi. Aku semakin gugup dan tertekan dengan semuanya.
Bahkan tak jarang aku terlibat pertengkaran kecil dengan Mark. Mengapa pernikahan membuatku seperti ini??