Rabu, 30 Januari 2013

CHAPTER 38


Chapter 38

Seminggu setelah pernikahan Dhee dan Gale, aku merasa sangat kesepian diapartemen ini. Padahal aku baru menginap disini sendiri malam ini. Sebelumnya aku kerumah pantai dengan Mark. Tapi akhirnya aku ingin kembali keapartemenku dan kedua sahabatku. Aku merindukan suasana apartemen, aku rindu saat kami bertiga bercanda bersama, keluar malam bersama. Tapi saat aku membuka pintu ternyata tidak ada penghuninya lagi selain aku. Dhee belum kembali dari honeymoonnya dengan Gale sedangkan Lila sudah lama pindah sejak dia menikah dengan Kyle. Ya Tuhan ternyata ini rasanya sendiri, Aku menghempaskan tubuhku kesofa.

            Aku menghela nafas panjang, ternyata aku benar-benar kehilangan saat-saat bersama mereka disini, tak terasa air mataku jatuh.
“Sayang.. mau dibawa kemana koper ini.” suara Mark menginterupsi lamunanku. Cepat-cepat kuhapus airmataku. Aku tidak ingin Mark melihatku menangis.
“ehh, dikamar sayang..” Jawabku.
Mark berhenti berjalan, menatapku lama. “Sayang kau kenapa?? Kau sakit??””
Aku menggelengkan kepalaku “tidak aku baik-baik saja”
Dia mendekatiku, menyentuh pundakku. “ kau menangis, Asya. Ada apa??” tanya
“aku tidak apa-apa. Aku kedapur dulu ya. Akan kuambilkan kau minum..”

Lalu kutinggalkan Mark yang bingung menatapku. Aku mengambilkan Mark minum dari kulkas dan kembali duduk disofa sambil menyalakan televisi.
“kau kenapa sayang?? Kenapa wajahmu terlihat sedih?? Apa aku melakukan kesalahan??” Mark duduk mendekatiku.
Aku menggeleng “tidak, kau tidak salah sayang. Aku hanya merindukan kedua sahabatku. Aku merindukan saat-saat bersama mereka. Aku kesepian tanpa mereka...” air mataku mulai jatuh lagi.
Mark menghapus air mataku yang jatuh “ sayang kenapa kau bersedih?? Kalian kan masih bisa saling bertemu. Lagipula kau bisa tinggal bersamaku sayang, kau takkan pernah sendiri” Mark membelai wajahku. Lalu aku langsung menyandarkan kepalaku dipundaknya.
“berhentilah menangis sayang, aku akan selalu ada untukmu. Jika kau mau, aku akan menemanimu dimana saja” Mark mencium keningku sambil membelai rambutku.
“terima kasih Mark,. Tapi aku ingin disini untuk beberapa hari kedepan. Entah kenapa aku sangat ingin disini”
“baiklah, aku akan menemanimu sayang”

Malam itu setelah aku membersihkan apartemenku, karena sudah hampir dua minggu kami tinggalkan Aku dan Mark menghabiskan waktu berdua bersama dengan menonton beberapa film. Entah sampai jam berapa kami menonton. Mataku tak sengaja terlelap dan baru terbangun saat Mark menepuk pipiku.
“Sayang, sebaiknya kita tidur dikamar saja. Sepertinya kau tidak nyaman tidur disini.”
Aku masih mengumpulkan kesadaranku saat Mark membangunkanku. Aku tertidur dipangkuan Mark. Aku mengusap-usap mataku.
“Ayolah Asya.. “
Lalu aku pun mengangguk, pelan-pelan aku duduk dan menyandarkan tubuhku padanya.
“Aku malas jika harus berjalan Mark.”
Lalu aku mengantungkan tanganku keleher Mark. Dengan tersenyum Mark mengangkat tubuhku sambil mencium bibirku.
“Kau, manja sekali yaa??”
“tidak apa-apa kan??” aku tersenyum.
Mark menggeleng lalu mencium bibirku lagi sambil berjalan kekamar, setelah sampai dia langsung duduk diatas ranjangku dan membaringkanku disana.
“terima kasih sayang..” kataku sambil memejamkan mataku lagi.
Setelah itu Mark berdiri, kudengar dia membuka celana jeans dan baju kemejanya. Dan berbaring disampingku sambil memelukku.
“Sayang..” panggilnya sambil membelai wajahku.
“ehhmm.. Nite, Sayang. “ jawabku sambil tetap memejamkan mataku dan  menarik selimut hingga menutupi setengah dari tubuhku.

Kudengar nafasnya memburu setelah itu Mark menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya lalu dia menciumi bahuku. Sedangkan aku tetap memejamkan mataku. Mataku benar-benar mengantuk dan lelah sekali, ditambah lagi dengan udara yang cukup dingin.

***
Keesokan harinya aku terbangun saat sinar matahari sudah menyusup masuk dari cela-cela jendela kamarku, kubukakan mataku, kulihat Mark sudah tidak ada disampingku. Kulirik jam yang ada dimejaku. Sudah jam 7, aku baru ingat kalau aku ada kuliah jam 8. Astaga aku bisa terlambat datang kekampus. Cepat-cepat aku langsung membereskan tempat tidurku. Setelah itu aku langsung masuk kekamar mandi. Saat aku didalam kamar mandi kulihat Mark baru selesai mandi.
“kau tidak membangunkanku Mark. Aku ada kuliah jam 8 ini.” aku mnggerutu kesal.
“aku fikir kau tidak ada kuliah, habisnya kau sangat nyenyak sekali tidur tadi malam. Bahkan aku pun tidak kau hiraukan.”
“sudah Mark, aku tidak mengerti apa maksudmu. Aku tidak ingin terlambat kekampus hari ini.” lalu aku membuka seluruh pakaianku dan Mark langsung keluar dari kamar mandi.

            Selesai mandi dan berpakaian, aku langsung keluar dari kamar sambil membawa beberapa buku dan mengambil sepatu.
“aku pergi sekarang.” Kutinggalkan Mark yang sedang duduk disofa depan.
“Asya...” dia setengah berteriak padaku.
“aku akan terlambat Mark”
“kau tidak menganggapku ada?? Aku menunggumu Asya”
Langkah ku terhenti, menatapnya. Teganya aku meninggalkannya yang dari tadi menungguku.
“ya sudah. Ayo pergi sekarang Mark. Aku hampir terlambat..”
“Tidak, sebelum kau sarapan Asya..”
Aku tersenyum kecut mendengar ucapannya. Sungguh menjengkelkanku kau hari ini Mark. Aku menghela nafas panjang.
“aku tidak punya waktu untuk itu Mark. Kau jangan membuatku badmood hari ini” gerutuku.
“Asya, aku tidak ingin kau sakit..” lalu dia mengambil segelas susu dan memberikannya padaku.
Aku mengambilnya dari Mark “ hanya untuk ini, tidak yang lain” lalu aku meminum susu itu dan meletakkannya kemeja lagi.
“Jika kau belum mau pergi, aku duluan..” aku keluar dari dari apartemenku.

Mark menyusulku dan akhirnya kami berangkat bersama. Di mobil, beberapa saat kami saling diam. Mark menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Karena dia tahu kalau aku hampir terlambat. Tak lama kemudian dia mulai bicara..
“Maafkan aku, sayang..” tadi aku sudah membentakmu.
“Sudahlah, aku tidak ingin membahas apapun yang bisa merusak moodku”
“Asya.. kau masih marah” dia mengambil tanganku dan menciumnya.
“tidak..” jawabku pendek.
Belum banyak aku dan Mark mengobrol. Kami sudah sampai dihalaman kampusku. Mark yang tadi ingin mengatakan sesuatu terhenti.
“ aku harus masuk sekarang Mark, terima kasih..” aku langsung membalikkan tubuhku ingin turun.
“Asyaa..” dia memanggilku
Aku menoleh lalu mendekatkan wajahku kewajahnya. Dia mencium keningku sekilas. “Maaf kan sikapku padamu yaa”
Aku mengangguk “ maafkan aku Mark..” kataku sambil melepaskan pelukkannya.
“telepon aku saat akan pulang, aku ada digaleri hari ini” katanya

Aku mengangguk dan buru-buru masuk kedalam ruanganku. Saat aku masuk, aku lega sekali karena perkuliahan belum dimulai. Namun belum lama aku sampai, dosennya datang dan kami belajar seperti biasa.
Tepat pukul 12 aku keluar dari kelas, saat aku melihat ponselku kulihat ada pesan singkat darinya 
Asya sayang, maafkan aku ya, siang ini aku tidak bisa menjemputmu. Ada klien yang harus aku temui. Kau pulang sendiri ya. Jangan lupa makan siang.. I LOVE You..
Dan akhirnya aku membalas pesan singkatnya untukku.
“Iya, tidak masalah aku bisa pulang naik taksi.. dan aku takkan melupakannya, kau juga syg. I love you too :*

Lalu aku pergi kekantin untuk makan siang. Aku merasa sangat lapar hari ini. Saat aku berada dikantin aku langsung memesan makananku. Selama menunggu pesananku, aku menelpon Lila rencananya aku ingin sekali kesana. Dari pada aku merasa kesepian. Aku sudah menelponnya, namun tidak diangkat, setelah beberapa kali barulah, Lila menerimanya.

“iya La?? Kau dimana?? Aku sangat merindukanmu sekarang.. kau sedang pergi?? Baiklah, kalau begitu nanti malam saja aku datang..

Aku menutup teleponnya berbarengan dengan pesanan makananku yang datang. Lalu aku langsung makan, setelah makan aku akan pulang saja keapartemen. Aku akan mengerjakan beberapa tugasku, barulah nanti malam aku akan kerumah Lila. Mungkin aku kan menginap disana, karena Kyle akan pergi malam ini..

Selesai makan dan membayarnya aku langsung pergi meninggalkan kantin. Saat aku berjalan keluar, tiba-tiba saja seseorang menabrakku hingga tubuhku terhempas kedinding. Sambil mengusap bahuku aku melirik seseorang yang menatapku. Dia seorang laki-laki betubuh tinggi, dari wajahnya kulihat dia sepertinya orang Asia.
“Maafkan aku nona, aku buru-buru.. apa kau terluka??” Dia memegang pundakku dan mengusapnya.
“aku harap kau lebih berhati-hati lain kali”
“Maaf aku sudah hampir terlambat. Ohh ya, kau mahasiswa disini??” tanyanya
Aku mengangguk “kenapa??”
“Aku ingin menemui dosen ini, tapi aku tidak tau. Aku baru saja sampai dari Filipina dan dosenku menyuruhku untuk menemui dosen ini” katanya sambil memperlihatkan sebuah kartu nama kepadaku.

Lalu aku melihatnya, dan begitu kulihat ternyata nama yang tertera itu adalah nama dosen pembimbingku. Aku mengangguk-ngangguk melihatnya.
“apa kau mengenalnya??”
“dia dosen pembimbingku, sekarang dia sedang mengajar dikelas adik tingkatku. Baiklah akan kau antar kau kesana..” lalu aku berjalan, dan dia mengikutiku,
“hmm, namaku Christian. “ dia menjulurkan tangannya.
Aku langsung menoleh kearahnya dan menyambut tangannya “aku Natasya dari Indonesia” jawabku
“kau dari Indonesia?? Senang bertemu denganmu“
Aku tersenyum, “aku sudah 3 tahun disini, ini tahun terakhirku dsini. “ jawabku
“aku sedang melakukan tugas akhirku, tapi aku butuh beberapa informasi, dan dosen pembimbingku menyuruhku untuk menemui dosenmu, ada berapa banyak orang Indonesia disini”
“lumayan juga, dikelasku ada  2 orang lagi, mereka sahabatku. Tapi saat ini mereka sedang cuti. Oh Iya, ini ruangan Prof Alexander dan dia sedang mengajar dikelas yang  ada di sana” kataku sambil menunjukkan kearah salah satu ruang kelas.
“terima kasih kau telah membantuku Natasya. Dan maaf juga tdi aku sempat menabrakmu”
“tidak apa-apa Christ, bukan masalah. Oh Iya aku duluan ya. Kau bisa langsung masuk saja nanti. dia orang yang sangat ramah”
Dia mengangguk mengerti mendengar penjelasanku dan aku langsung pergi meninggalkannya.

***
Sesampainya aku diapartemen aku langsung istirahat sebentar dan mengerjakan tugas-tugasku. Ntah berapa lama ku berkutat dengan buku-buku referensi. Akhirnya semuanya sudah selesai dan aku langsung membereskannya lagi keatas meja belajarku. Ku dengan ponselku berbunyi, begitu kulihat Lila yang menelponku dan aku langsung menerimanya...

Halo la, aku diapartemen sekarang. Baru selesai mengerjakan tugasku. Iya, aku memang berniat menginap dirumah mu malam ini. kau tau aku semalam kesepian disini. Iya sudah aku akan segera kesana”
Lalu akupun menutup telponnnya dan bergegas membereskan keperluanku untuk pergi kerumah Lila. Tepat pukul 4 aku mengeluarkan mobilku yang sudah lama sekali tidak kupakai. Aku pun pergi kerumah Lila.

Sesampainya dirumah Lila kau langsung memarkir mobilku didepan garasi rumah Lila, dan keluar mobil dan masuk kerumah kerumah Lila, aku langsung berteriak memanggilnya..
“Lilaaa....”
“hey, kau kenapa Sya, “ Lila keluar dari kamarnya dengan wajah terkejut memandangku
Aku tersenyum “ tidak apa-apa, aku hanya terlalu merindukanmu” aku langsung memeluknya erat.
“kau baik-baik saja kan??’ lila melepaskan pelukannya dan menyentuh keningku
“aku baik-baik saja La, kau tahu semalam aku menangis saat aku datang keapartemen tanpa kau dan Dhee disana??” aku cemberut sambil kami berjalan kesofa yang ada didekat ruang keluarga rumah Lila, dan kemudian kami duduk.
“Asya, aku kan sudah bilang kau bisa menginap disini, kapanpun kau mau..” Lila menepuk bahuku
“Aku tidak apa-apa La, semalam hanya terbawa emosi saja. Aku belum terbiasa hidup sendiri tanpa kalian. Oh ya, Kyle mana?? Dia sudah pergi??”
“Dia ada meeting sebelum berangkat. Makanya dia pergi dari jam 4 tadi. Tadinya kau ingin ikut mengantarnya tapi dia melarangku, karena supirku sedang tidak ada “
“bagaimana dengan kandunganmu?? Bayi nya baik-baik saja kan??” aku mengamati tubuh Lila yang sekarang semakin berisi, dan perutnya semakin terlihat membesar.
“Iya Sya, bayi ku baik-baik saja. Aku sudah memeriksa jenis kelaminnya. Dan kau tahu, bayiku ini laki-laki. Dan Kyle sangat senang sekali” wajah Lila terlihat sangat bahagia saat menceritakan tentang keluarha kecilnya.
“ selamat La, berarti yang akan lahir nanti Kyle Jr yaa?? Aku sudah tidak sabar ingin bermain bersamanya. Pasti dia sangat lucu”
“Iya Sya, tapi kan ini masih lama, kandunganku baru berumur 10 minggu.”

Aku tertawa mendengar ucapan Lila, iya ya kandungan Lila kan baru 10 minggu masih lama sekali menunggu Kyle Jr lahir. Lalu kami berdua mengobrol bersama tentang kuliahku, tentang Lila yang mulai bekerja diperusahaan papa nya. Dan akupun menceritakan tentang tugasku untuk menemani Christian selama disini, tadi dosenku menelponku saat aku sedang dijalan menuju kesini, dia menyuruhku untuk menemani Christian selama ada di sini. Dan saat tahu tentang itu Lila malah menggodaku..


Senin, 28 Januari 2013

Chapter 37


Chapter 37

Kami semua tertawa melihat tingkah Asya dan Mark. Menurutku mereka pasangan yang sangat lucu. Terlebih lagi Asya masih seperti anak kecil, untung saja Mark sangat sabar sekali menghadapinya. Semoga mereka berdua akan segera menyusul aku dan Lila untuk menikah.

“Kyle, apakah Lila benar-benar tidur?”
“Iya Dhee, Lila sudah tidur. Sepertinya dia kelelahaan.”
“Semalam kau apakan Lila, Kyle? Sampai-sampai ia kelelahan seperti itu?”
“Hehehehe, seperti biasalah Gale”
“Awas kalau terjadi sesuatu pada Lila.”
“Aku akan berhati-hati dan menjaganya Gale.”
“Ingat kalau Lila sedang hamil, Kyle.”
 “Iya, aku tahu Dhee. Aku akan selalu berhati-hati, percayalah padaku.”
“Iya kami percaya padamu untuk menjaga Lila, Kyle. Jangan sampai Matt
mengganggunya lagi seperti waktu itu.”

Selama sisa perjalanan kami habiskan untuk beristirahat. Dan setelah menepuh perjalanan yang panjang akhirnya pesawat yang kami tumpangi mendarat juga. Dari bandara kami langsung menuju ke sebuah hotel mewah yang sudah di pesan oleh Gale. Kami di jemput menggunakan mobil limo yang sangat besar sekali. Pemandangan selama perjalan menuju ke hotel benar-benar sangat indah, membuatku ingin turun dari mobil dan pergi berjalan-jalan sambil berjalan kaki saja.

“Tempatnya indah, aku ingin pergi berjalan-jalan.”
“Memang indah Dhee, apalagi saat malam hari. Tapi buatku tempat yang indah dan romantic itu Cuma di Venice, soalnya kita bisa naik gondola, menyusuri sungai sambil disuguhin nyanyian nyanyian berbahasa Itali yang sangat indah.”
“Kalian tahu Lila sampai tiga kali minta naik gondola waktu di Venice.”
 “Yang aku dengar Venice memang sangat indah tempatnya. Gale, bagaimana kalau nanti kita pergi mengunjungi Venice.”
 “Tentu saja Angel, nanti kita akan mengunjunginya.”
“Hei kapan-kapan kita harus pergi berlibur bersama-sama, pasti akan sangat menyenangkan sekali.”
“Ide yang bagus Sya. Kita harus pergi berlibur bersama-sama.”
“Kalian harus mengunjungin Irlandia, karena di sana banyak sekali tempat yang indah.”
“Kapan aku bisa ikut berlibur dengan kalian? Aku kan tidak mungkin melakukan perjalanan jauh dengan perut yang mulai membesar ini.”

***
Akhirnya kami sampai di sebuah hotel yang letaknya dekat dengan tempat pernikahan kami di gelar. Kami semua langsung pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat, perjalanan yang panjang ini membuatku sangat lelah.

Ketika sampai di kamar aku langsung menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur yang ukurannya sangat besar dan berkasur sangat empuk sekali. Mataku langsung terpejam ketika kepalaku menyentuh bantal.
“Sayang…” Gale menepuk-nepuk pipiku.
“Ummm…” hanya jawaban itulah yang berhasil keluar dari dalam mulutku sedangkan mataku tetap terpejam.
“Jangan tidur dulu, Angel. Aku ingin melakukan sesuatu denganmu dulu.”
“Nanti saja Gale, aku sangat lelah sekali. Biarkan aku tidur dulu.”
“Angel ayolah, sudah beberapa hari ini aku tidak menyentuhmu.”
 “Sudah kubilang kau tidak boleh menyentuhku sampai kita resmi menjadi sepasang suami istri.”
“Angel… Kumohon.” Suaranya terdengan sangat memelas.
“Tidak Gale…”
Setelah berdebat dengan Gale aku melanjutkan kembali tidurku dan tidak menggubris permohonannya yang ingin bercinta denganku. Aku benar-benar sangat lelah sekali hari ini, ya meskipun seandainya aku tidak dalam keadaan lelahpun aku tetap tidak akan menerima ajakannya untuk bercinta.

Malam harinya kami bertemu di restoran untuk makan malam bersama. Aku sangat menyukai suasana di restoran yang berada di dalam hotel ini. Bukan karena interiornya yang mewah dan berkelas tapi suasana disini benar-benar hangat dan membuatku merasa nyaman sekali.

Gale masih cemberut dan menekuk wajahnya. Sepertinya ia masih marah dan kesal padaku karena tadi aku menolaknya untuk bercinta. Tapi aku tidak ambil pusing dengan sikapnya yang sedang merajuk seperti saat ini.
“Kalian berdua kenapa? Mengapa dari tadi kami perhatikan hanya saling diam saja. Apakah kalian berdua sedang bertengkar?”
“Tidak ada apa-apa Lila, aku dan Gale hanya sedikit berselisih saja tadi. Kau tak perlu khawatir.” Jawabku enteng.
“Angel…”
“Berhenti merajuk seperti anak kecil Gale. Jangan membuatku kesal yang beribas pada keputusanku untuk membatalkan pernikahan denganmu.”
“Jangan Angel, aku mohon. Jangan membatalkan pernikahan kita kumohon, aku bisa mati jika kau membatalkan pernikahan kita ini.”
 “Kalau begitu berhentilah merajuk seperti anak kecil.”
 “Maafkan aku Angel.”
 “Sudah-sudah ayo kita lanjutkan kembali makan malam kita. Jangan merusak suasana malam ini.”
Lalu kami semua melanjutkan kembali makan malam kami dan suasana pun mulai kembali seperti semula. Gale sudah tidak merajuk lagi seperti tadi. Malam itu kami habiskan untuk mengobrol di restoran sambil menghabiskan malam, sebelum akhirnya kami kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat karena besok adalah hari yang sangat penting sekali bagiku dan Gale.

Keesokan harinya aku dan Gale melakukan pengepasan gaun dan jas pengantin kami. Setelah itu kami mengecek ke lokasi pernikahan akan di gelar. Acaranya akan di laksanakan di halaman sebuah kastil yang sudah di sulap menjadi tempat yang sangat indah sekali. Dekorasi berwarna
putih mendominasi disini.
Banyak bunga mawar putih disana sini. Aku tak tahu bagaimana harus menggambarkan tempat ini seperti apa. Karena tempatnya sangat indah sekali. Aku tak henti-hentinya berdecak kagum melihat keindahan tempat yang sebenarnya sudah indah menjadi sangat indah.

***
Akhirnya hari besar untukku dan Gale tiba. Hari ini langit sangat cerah sekali, secerah hatiku. Mengapa tidak karena hari ini aku akanmenikah dengan pria yang sangat aku cintai. Di tempat ini  kami akan mengikat janji suci sebagai sepasang suami dan istri.

10 menit lagi papa akan menjemputku. Sebelum keluar aku tak henti-hentinya memandangi diriku dicermin, ya semuanya masih terlihat sangat rapi. Aku sangat merasa gugup sekali. Aku takut kalau upacara nya tidak akan lancar. Ya Tuhan, berikan kelancaran untuk kami semua.

“Dhee.. kau kenapa??” suara Lila membuyarkan lamunanku.
“sepertinya kau sangat gelisah..”
“aku tidak apa-apa. Hanya sedikit gugup. Ehh, kalian berdua sangat cantik.” Aku memandangi kedua sahabatku. Mereka berdua memang sangat cantik hari ini.
“Tidak usah gugup Dhee, semuanya pasti akan lancar-lancar saja.” Lila menepuk bahuku menenangkan.
“benar Dhee, kau jangan terlihat gelisah. Tenanglah, sebentar lagi kau akan resmi menjadi Mrs Harold”
Aku menyentuh tangan Lila yang menyentuh pundakku. “Iya aku percaya semua akan lancar. Terima kasih kalian sudah menenangkanku. “ jawabku sambil tersenyum.
“kalau senyum begitu kau terlihat semakin cantik Dhee...”
“berhenti meledekku Sya, lalu kapan kau akan segera menyusul kami. Sekarang hanya kau yang belum menikah..”
“entahlah. Aku belum berfikir kearah sana” jawabnya sambil tersenyum.
“ Asya, kau masih saja seperti itu..”
“Sudah, sudah kalian berdua jangan berdebat. Sebentar lagi kau akan keluar Dhee. Bersiap-siaplah” Lila menengahi aku dan Asya.

Benar saja apa yang dikatakan Lila, tak lama kemudian papa menjemputku. Lalu kami berjalan keluar sambil beriringan. Aku semakin gugup saat kulihat semua mata tamu undangan itu tertuju padaku. Papa mengandeng tanganku erat memberikanku kekuatan agar aku tidak terlalu gugup.
Sedangkan didepanku saat ini kulihat Gale yang mengenakan setelan tuxedo putih berdiri dengan gagahnya. Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya saat dia menatapku. Kegugupanku sedikit berkurang saat aku menyambut tangannya dan berdiri sejajar dengannya. Dan upacara yang sangat sakral itupun dimulai.

****
Upacara sakral itu telah selesai, sekarang aku resmi menjadi Mrs Harold. Senyum bahagia tak pernah lepas dari bibir kami berdua. Begitupun dengan keluarga dan kedua sahabatku. Mereka semua nampak bahagia.
Hadir disini selain keluarga besar dan sahabatku, ada juga rekan bisnis Gale dan beberapa temanku. Selesai upacara sakral, pesta pernikahanpun dilangsungkan semua tamu undangan bersenang-senang.

“Bagaimana Angel, kau menyukainya??” suara Gale membuyarkan semua lamunanku saat aku masih
 memandangi suasana disekelilingku. Tangannya memeluk pinggangku dan bibirnya mengecup hangat keningku.
Aku menatapnya sambil membelai wajahnya yang tampan. Aku mengangguk sambil tersenyum “Ya, aku sangat menyukainya. Terima kasih untuk semuanya, sayang. Kau membuatku sangat bahagia hari ini”
“apapun akan kulakukan untuk kebahagiaanmu, Angel.. Kau segalanya untukku.”
Wajahku memanas saat mendengar ucapan Gale. Ya Tuhan, aku tidak menyesal menikah dengannya. Dia selalu bisa membuatku tersenyum bahagia.
“aku sangat mencintaimu Mr Harold..”
“aku juga sangat mencintaimu Mrs Harold”

Lalu Gale mendekatkan wajahnya ke wajahku mencium keningku lagi, setelah itu dia mencium bibirku dengan lembut dan intens. Beberapa saat bibir kami saling bertautan dan baru terlepas saat Lila berdehem dan menyentuh pundakku..
“belum saatnya sekarang Dhee. Masih banyak tamu undangan disini”
Wajahku memerah saat kulihat didekat kami sudah ada Lila dan Kyle, serta Asya dan Mark.
“Lila.. “ aku menekuk wajahku karena malu.
“hahhaha, sudah-sudah nanti kalian lanjutkan lagi setelah pestanya selesai” Kyle ikut meledekku.
“ohh, kalian membalas perbuatanku saat kalian menikah kemarin yaa??”
“tidak Gale, aku hanya mengingatkan saja..” Lila tersenyum sambil menyikutku.
“Kyle, La, sebaiknya kita ucapakan selamat saja pada pengantin baru ini”
“Oh iya Sya, aku jadi lupa..”
Lila dan Asya memelukku sesaat “ selamat ya Dhee, semoga kalian bahagia selalu”
“selamat ya Dhee.. semoga kalian cepat mendapat momongan”
“Doakan saja Sya” Gale menyahut saat dia masih mengobrol dengan Mark dan Kyle.
“terima kasih ya La, Sya. Aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti kalian. “ aku mengenggam tangan kedua sahabat ku itu.
“akan sangat menyenangkan ya jika nanti memiliki dua keponakan yang lucu-lucu”
“akukan belum hamil Sya??” aku melotot melihat Asya.
“aku bilangkan nanti Dhee..”
Mereka semua tertawa melihatku dan Asya yang sedang berdebat.

“lalu kapan kalian menikah Mark..”
“Mudah-mudah secepatnya Gale..” kulihat Mark melirik Asya saat menjawab pertanyaan dari suamiku.
“hanya kalian yang belum menikah, menikah itu enak Mark..” sahut Kyle.
Kulihat Asya tersenyum saat Kyle dan suamiku menggoda kekasihnya.
“ya segeraa” jawab Mark

Kamis, 03 Januari 2013

Chapter 36


Chapter 36

                “Sudah Sya, mereka bertiga sedang marah-marah karena  di kunci di dalam gudang. Kalian berdua pasti akan tertawa jika melihat wajah mereka yang kesal.”
                “Rencana pertama kita berjalan lancer, sekarang kita tinggal menjalankan langkah kedua.”
                “Kau benar La, ayo kita mengganti pakaian kita dengan memakai bikini.”
                “Dhee, bagaimana kalau setelah memakai bikininya kita memakai pakaian kita lagi.”
                “Kenapa La?”
                “Begini Sya, nanti kita keluar lalu setelah berada di sana kita mulai melepaskan pakaian kita satu persatu secara perlahan-lahan. Pasti mereka bertiga akan berteriak histeris jika melihat kita seperti itu.”
                “Ide yang sangat bagus sekali Lila, sepertinya kau semakin pandai menggoda, ya.”
                “Karena aku sangat senang sekali menggoda Kyle, Dhee. Hahaha…”
                “Ayo kita ganti sekarang, jangan buang-buang waktu lagi.”

                Kami bertiga segera masuk kedalam kamar mandi yang letaknya tidak terlalu jauh dari situ.Kami segera memakai bikini milik kami masing-masing dan setelah itu kami memakai pakaian kami lagi.Setelah selesai kami pergi ke halaman belakang sambil memegang gelas berisi wine, jus untuk Lila.Bisa-bisa Kyle membunuhku jika aku membiarkan Lila meminum wine.

***

                Entah apa yang sedang di rencanakan oleh Dhea, Asya dan Lila saat ini, karena mereka bertiga mengurung kami di dalam gudang penyimpanan anggur seperti ini.

                “Sebenarnya apa yang sedang mereka bertiga rencanakan dan akan mereka lakukan?”
                “Aku tidak tahu, Kyle.Dhea tidak menceritakan apa-apa padaku.”
                “Begitupun dengan Asya, biasanya dia selalu bercerita padaku.Tapi beberapa hari ini dia memang terlihat agak aneh.”
                “Lihat, mereka bertiga muncul dan duduk di kursi.” Seru Kyle.

                Kami bertiga langsung memperhatikan para gadis kami bertiga.Mereka tidak melakukan hal-hal yang mencurigakan tapi mengapa mereka malah mengunci kami bertiga disini?

                “Apa… Apa yang akan mereka bertiga lakukan?” pekik Kyle, karena Lila terlihat sedang membuka kancing kemeja yang di pakainya, begitu juga dengan Dhea dan Asya.
                “Ladies… What are you doing?” teriak kami bertiga.
                “Kyle, Mark… Tutup mata kalian jangan melihat tubuh calon istriku.”Ucap Gale sambil menutupi mata Kyle dan Mark dengan tangannya.
                “Kau juga, jangan melihat istriku yang sedang membuka pakaiannya.”
                “Kalian berdua juga jangan melihat tunanganku.”

                Keadaan di dalam gudang menjadi ricuh, karena para gadis kami sedang melucuti pakaian mereka dengan sangat seksi dan menggoda sekali.Membuat kami yang sedang terkurung di dalam gudang ini semakin menggila.

                “Ya Tuhan, mereka memakai bikini yang sangat seksi sekali.”
                “Gale, ayo kita dobrak pintu ini.Aku ingin segera keluar dan bergabung dengan istriku.”
                “Bukan kau saja, Kyle.Kami berdua juga ingin segera keluar dari sini.”
                “Gale apakah tidak ada sebuah pintu rahasia disini?”
                “Kau mengingatkanku sesuatu Mark.Ada sebuah pintu lagi disini, semoga saja Dhea tidak mengetahuinya.Ayo ikuti aku.”

                Kami bertiga berjalan ke pojok ruangan, ternyata di sana ada sebuah pintu yang berwarna sama dengan cat tembok di dalam gudang. Gale langsung membukanya dan ternyata pintu itu tidak terkunci, kami bertiga langsung keluar dari dalam gudang sambil mengendap-endap agar para gadis kami tidak mengetahui jika kami sudah berhasil lolos.

***

                “Kenapa sekarang mereka tidak terdengar bersuara lagi, ya?”
                “Sepertinya mereka sudah menyerah, paling mereka sedang mengobrol sambil makan-makan didalam Sya.”
                “Kita keterlaluan tidak?”
                “Menurutku tidak begitu, La. Lagipula tidak setiap hari kita mengerjai mereka seperti ini.”
               
                Ketika kai sedang asyik mengobrol tiba-tiba ada yang menyergap kami di belakang.Tentu saja kami berteriak secara spontan karena terkejut.
                               
                “Ba-bagaimana kalian bias keluar dari dalam sana?”
                “Jangan bermain-main dengan kami, Angel.”Gale menggendongku.
                “Mark, kau mau apa menggendongkun juga?”
                “Menghukummu, sayang?”
                “Apakah kau juga akan menghukumku, Kyle?”
                “Tidak, sayang.Aku tidak akan menghukummu, tapi aku mohon pakailah jubbah ini.”

                Dan dalam hitungan ketiga Gale dan Mark langsung menceburkan aku dan Asya kedalam kolam.Lalu mereka berdua langsung melepas pakaian mereka hingga boxer saja yang tersisa.Sedangkan Lila dan Kyle tertawa melihat kami berempat di dalam kolam.          

                “Kyle, mengapa kau tidak menghukum Lila?”
                “Tidak Dhee, Lila sedang mengandung jadi anakku mana mungkin aku melempar istriku ke dalam kolam. Lagipula Lila akan mendapatkan hukumannya nanti malam.”
                “Apa maksud ucapanmu, Kyle?”
                “Kau akan tahu nanti malam, sayang.”

                Setelah puas bermain air akhirnya kami memutuskan untuk naik, mandi dan berpakaian.Lalu kami segera memulai acara barbeque kami. Acara berlangsung sampai malam, karena besok kami semua akan berangkat ke Italia jadi kami memutuskan untuk tidur lebih awal. Saat di kamar Gale bermaksud untuk “menghukum”ku tapi sebelum dia menjalankan rencananya aku duluan yang sudah mengehukumnya.

                “Tidak Gale, aku sedang tidak ingin bercinta denganmu mala mini.”
                “Mengapa kau tidak mau, Angel?”
                “Aku sangat lelah sekali Gale.Lagipula aku tak ingin bercinta lagi denganmu sampai kita resmi menikah.”
                “Kau ingin menyiksaku Angel?”
                “Tidak Gale, bukan seperti itu.”
                “Lalu apa, Angel?”
                “Aku sedang tidak ingin saja.Sudahlah, aku mau tidur, besok kita harus bangun pagi-pagi sekali.Aku tidak ingin terlambat Gale.”Aku menarik selimut, “Selamat malam, saying.”Aku memunggunginya.

                Aku mendengarnya menarik nafas dengan berat sekali, sepertinya ia sangat kecewa sekali. Maafkan aku Gale, aku harap kau bisa bertahan sampai kita resmi menikah nanti.Aku yakin kau bisa menahannya sampai hari itu tiba.Lalu aku memejamkan mataku dan terlelap.

                Keesokan harinya kami semua sudah bangun dan sudah sarapan.Saat ini kami berenam sedang dalam perjalanan menuju ke bandara. Kami akan berangkat ke Italia menggunakan jet pribadi milik Gale, sedangkan Mama dan Papa serta kedua orangtuanya Gale sudah berada di Florance sejak kemarin.

                Dan ketika sudah berada di dalam pesawat kami langsung duduk di kursi masing-masing.

                “Sepertinya kita honeymoon lagi, saying.”
                “Berisik, Kyle. Aku mau tidur.”
                “Ini kali kedua kalian mengunjungi Italia, bukan?”
                “Ya, ini kali kedua aku dan Lila dating berkunjung ke Italia. Gale dan Dhea memberikan kado pernikahan liburan di Venice selama satu minggu untuk kami berdua.”
                “Sepertinya yang tersisa di apartemen hanya aku seorang.”
                “Aku akan selalu mengunjungimu di apartemen, Sya.”
                “Iya Dhee, aku tahu bahwa kau dan Lila pasti akan selalu mengunjungiku di apartemen, tapi tetap saja…”
                “Aku akan menemanimu, sayang.Jangan jangan kau tidak menganggapku ada.”
                “Tidak, maksudku bukan seperti itu Mark.”
                “Kalau begitu kau tinggal bersamaku di rumah pantai, kalau kau mau di apartemen juga tidak apa-apa.Yang jelas aku akan selalu ada di sampingmu.”

Chapter 35


Chapter 35

                “Kerjakan sekarang juga atau aku yang akan mengerjakannya sekarang!!”
                “Iya iya, akan kami kerjakan sekarang.”Seru Mark sambil menarik tangan Gale dan Kyle.

                Lalu Kyle, Gale dan Mark segera bergegas pergi ke gunang peralatan untuk menyiapkan alat-alat yang di perlukan untuk acara kami malam ini. Akhirnya bahan-bahan makanan yang di perlukan sudah selesai, lalu kami memasukkan semuanya ke dalam kulkas agar bumbu-bumbunya meresap.Lalu kami bertiga pergi ke halaman belakang untuk melihat Kyle, Gale dan Mark yang sedang sibuk menyapkan alat-alat untuk barbeque.

                “Ini sudah hampir pukul enam sore, tapi pekerjaan kaia masih belum selesai juga.”
                “Angel,maukah kau membawakan aku minuman? Aku sangat haus sekali.”
                “Baru bekerja seperti itu sudah mengeluh.”Lalu Dhea masuk ke dalam sambil tertawa.
                “Dhea, sekalian bawakan untuk kami juga, ya.” Mark berteriak.
                “Kalian sudah selesai di dapur?”
                “Tentu saja kita sudah selesai.Cepat selesaikan, agar kita bisa segera memulai acaranya.”Aku mendekati Kyle lalu menyeka keringat yang ada di dahinya.
                “Terima kasih, sayang.”

Beberapa saat kemudian Dhea kembali sambil membawa nampan yang berisi jus sari jerus dan menyimpannya di atas meja yang berada di depan sofa yang sedang kami duduki. Kyle, Gale dan Mark langsung meminumnya sampai habis tak tersisa. Dan setengah jam kemudian mereka selesai, aku, Dhea dan Asya mulai mengeluarkan makannya dari kulkas dan membawanya ke halaman belakang.
               
“Ayo kit mulai, aku sudah sangat lapar sekali.” Mark sudah bersiap-siap di depan alat pemanggang. “Biar aku saja yang memanggangnya.”
                “Aku akan membantumu.”Asya langsung berdiri di samping Mark.
               
Dhea dan Gale menyiapkan peralatan makanan, sedangkan aku dan Kyle mengeluarkan makanan kecil dan wine yang sudah kami beli tadi pagi. Dan mengeluarkan Caesar salad yang sudah kami buat tadi.Meskipun kami sedang sibuk dengan tugas masing-masing, tapi kami mengerjakan semuanya dengan suka cita.Dan akhirnya, semua makanan sudah tersaji di atas meja, dan kami semua mengelilinginya.Bersiap-siap untuk memakannya, namun sebelum acara makan di mulai Dhea dan Gale ingin menyampaikan sesuatu pada kami semua.
               
“Ada mau aku dan Gale sampaikan pada kalian semua.”
                “Menyampaikan apa, Dhee? Apakah sesuatu yang baik?”
                “Ya, ini sesuatu yang baik.Umm…Aku dan Gale sudah bertunangan.”
                “Kalian sudah bertunangan?Kapan?Ya ampun, selamat untuk kalian berdua, ya.”Aku langsung memeluk Dhea.
                “Kapan Dhee?”
                “Dua hari setelah pernikahan Lila, Sya.”
                “Selamat selama, akan lebih menyenangkan jika sudah menikah Gale.”
                “Mentang-mentang kau sudah menikah, Kyle.” Mark menyenggol bahu Kyle.
                “Aku bicara fakta dan pengalaman yang aku alami, Mark.”
                “Lalu kapan kalian berdua akan menikah?”
                “Dua minggu, Sya.”
                “Dua minggu lagi?Wah, sebentar lagi dong itu.Berarti aku akan tinggal sendiri di apartemen.”
                “Kau bisa pindah ke rumah pantai, sayang.”
                “Benar kata Mark, Sya. Kau pindah ke sana saja, dari pada tinggal sendirian di apartemen. Nanti aku dan Lila pasti akan mengunjungimu kok.”
                “Baiklah, kalau begitu ayo kita mulai makan. Sambil merayakan pertunangannya Dhea dan Gale.Mari bersulang.” Aku menganggat gelasku yang berisi jus, sedangkan yang lain berisi wine yang sangat menggoda.
               
Kami semua mengangkat gelas dan bersulang, lalu kami mulai menikmati makanan yang sudah kami buat bersama-sama tadi.Benar-benar hari yang sangat menyenangkan sekali bisa berkumpul bersama seperti ini. Aku harus rutin mengadakan acara seperti ini agar hubungan kami semua tetap dan tidak berubah meskipun nanti kami akan hidup masing-masing dengan pasangan kami.
               
Acara setelah makan adalah mencuci piring untuk para wanita sedangkan para pria masih mengobrol di halaman belakang. Aku, Dhea dan Asya lebih memilih untuk membersikan peralatan makan daripada harus mendengarkan para pria yang sedang mengobrol, lagi pula udaranya sudah mulai dingin dan Kyle tidak akan mengizinkanku untuk bergabung bersama mereka.  Setelah selesai kami bertiga bergegas menuju ke ruang TV.
               
“Lila, bagaimana keadaan kandunganmu?”
                “Baik-baik saja, Dhee.Kyle senang sekali menciumi perutku dan mengajak bayinya berkomunikasi.”
                “Bayinya laki-laki atau perempuan, La?”
                “Belum tahu, Sya.Belum dua bulan jadi belum bisa dilihat jenis kelaminnya, tapi seminggu lagi udah bisa kok.”
                “Gk kerasa ya, uah mau dua bulan lagi.”
                “Iya Dhee, sebentar lagi perut aku akan membesar. Kyle ingin anaknya ini laki-laki, katanya biar dia mempunyai teman.”
                “Bagaimana kalau kita mengadakan pesta barbeque lagi nanti.Tiga hari sebelum aku dan Gale menikah.”
                “Ide bagus Dhee, di mana kita akan melakukannya?Tidak mungkin di apartemen kita, kan.”
                “Tentu saja tidak, Sya.Kita akan mengnadakannya di rumah Gale saja.”
                “Ide bagus Dhee.Aku pasti akan ikut acara itu.”
                “Dengan aku puny ide…”                             
                “Ide apa Dhee?” tanya Asya dan aku.
                “Bagaimana kalau kita kerjai Gale, Mark dan Kyle?”
                “Mengerjai mereka bertiga?Aku setuju tapi bagaimana caranya?”
                “Kemari-kemari aku akan memberi tahukan rencanaku pada kalian berdua.”Lalu aku dan Asya mendekat lalu Dhea membisikan rencananya pada kami berdua, “Bagaimana?”
                “Aku setuju sekali, Dhee.Kita buat mereka bertiga menderita.”
                “Ayo, mumpung perut aku masih rata. Hahaha…”
                “Baiklah kita akan membahasnya lagi nanti, jika kita masih membahas rencana malam ini cukup berbahaya.Bisa-bisa mereka mendengar rencana kita ini.”
                “Jangan sampai mereka tahu, akan hancur nanti semua rencana kita.”
                Dan kami bertiga langsung tertawa lepas setelah membicarakan ide gila yang dii cetuskan oleh Dhea itu.Bertukar pikiran seperti ini sangat menyenangkan sekali, apalagi semenjak kami memiliki kekasih kami jarang mengobrol atau berkumpul seperti ini.

                “Sudah malam sebaiknya kita tidur.”Tiba-tiba Kyle masuk bersama Gale dan Mark.
                “Lila, bolehkah aku tidur di pavilion dekat danau saja.Sepertinya di sana sangat menyenangkan.”
                “Tentu saja Dhee, kuncinya ada di di kotak khusus kunci yang berada di dekat kulkas, kau bisa ambil saja sendiri.”
                “Umm… Lila, aku dan Mark tidur mana?”
                “Terserah kalian mau tidur di mana.Di atas ada tiga buah kamar tamu, pilh saja kamar yang kalian suka.Kamar aku dan Kyle ada di ujung lorong sana.”
                “Ya sudah kalau begitu aku dan Lila duluan, ya.Selamat malam semuanya.”Kyle menggandengku untuk pergi ke kamar.

***
                Sepulang dari rumah Lila aku dan Gale mulai siap untuk menyiapkan segala keperluan untuk pernikahan kami nanti. Rencananya kami akan menikah di sebuah kastil yang berada di kota Florance Italia. Orang-orang kepercayaan Gale yang mengurus di sana.

                Menyiapkan pernikahan itu ternyata sangat meelahkan sekali.Aku benar-benar pusing dan sangat lelah sekali, untung saja Gale dan kedua sahabatku selalu setia mendukung dan membantuku. Jadi aku bisa mengatasi rasa stress yang aku alami. Dan tiga hari sebelum keberangkatan kami ke Florance aku, Asya dan Lila mulai menjalankan rencana kami itu.Sehari sebelumnya aku, Asya dan Lila pergi berbelanja bersama, kami membeli sebuah bikini baru yang sangat seksi dan sangat menggoda seklai. Kami sangat yakin sekali jika mereka bertiga melihat kami mengenakan bikini ini mata mereka bertika akan melompat keluar.

                Ketika aku, Asya dan Lila sedang sibuk di dapur, Gale, Mark dan Kyle sedang menyiapkan alat-alat untuk barbeque dekat kolam di halaman belakang.Mereka menyiapkan itu sebelum aku menyuruh, mungkin mereka takut di marahi lagi oleh Lila seperti waktu itu.

                Tiba-tiba Lila berbisik padaku, “Dhee, kita mulai sekarang. Sebaiknya kau suruh mereka bertiga untuk mengambilkan beberapa wine di gudang.”
                “Baiklah, kau dan Asya tunggu sebentar di sini.Aku akan menemui mereka dulu.”
                Aku pergi menuju ke halaman belakang untuk menyuruh mereka bertiga pergi ke gudang penyimpanan anggur.
                “Hai…” sapaku pada mereka bertiga.
                “Hai Angel, ada apa?”
                “Aku minta tolong pada kalian bertiga bisa tidak?”
                “Kau membutuhkan pertolongan kami bertiga?” tanya Kyle.
                “Benar, bisakah kalian menganbilkan beberapa botol anggur di gudang penyimpanan anggur.”
                “Kalau kami bertiga yang kesana siapa yang akan menyelesaikan di sini?”
                “Biar aku dan Asya saja, Mark.Tinggal menyalakan pemanggangnya saja, kan.”
                “Baiklah Angle, kalau begitu kami bertiga pergi dulu ke gudang. Ayo.” Ajak Gale kepada Mark dan Kyle.

                Setelah mereka bertiga masuk kedalam, aku mengendap-endap ke sana lalu menutup pintu dan mengunci mereka bertiga di dalam sana. Dan beberapa menit kemudian aku mendengar teriakan Gale dari dalam gudang.

                “Maaf ya, untuk hari ini kalian bertiga diam dulu di dalam sana. Tenang saja kami bertiga sudah menyiapkan makanan dan minuman di dalam sana.”
                “Mengapa kau mengunci kami bertiga disini?Apa yang kalian rencanakan?”
                “Tenang saja Kyle, Lila akan baik-baik saja.Kami tidak akan melakukan hal-hal yang membahayan.”
                “Ada apa dengan kalian bertiga.”
                “Tidak apa-apa Mark, kami hanya ingin sedikit mengerjai kalian bertiga saja.Karena kami ingin melakukan sesuatu.”
                “Angel, cepat keluarkan kami bertiga dari disini.”
                “Maafkan aku, sayang.Aku tidak bisa membuka pintunya, kalian bisa menonton kami melalui jendela ini. Sudah ya, aku mau bersiap-siap dulu bersama Asya dan Lila, bye….”
               
Aku meninggalkan mereka sambil tertawa lepas dan bergegas masuk ke dalam karena Asya dan Lila sudah mengungguku di sana.
                “Bagaimana Dhee? Apakah mereka bertiga sudah masuk kedalam perangkap?”