Jumat, 28 Desember 2012

Chapter 34


Chapter 34

                Aku menyipitkan mata mendengar ucapan dari suamiku itu, “Lapar tapi bukan untuk makanan? Apa maksudmu?”
                “Ayolah sayang, kau masa tidak tahu.” Kyle merengek seperti anak kecil.
                “Tapi aku benar-benar ingin memakan MAKANAN, kau mengerti.”
                “Bagaimana jika setelah makan?”
                “Lihat saja nanti, bantu aku menyaipkan makanannya di meja, ya.”

                Kyle langsung menyiapkan dua buah piring dan yang lainnya di atas meja sambil menggerutu. Aku tertawa cekikikan ketika melihat tingkahnya itu, setelah makanannya tersaji di atas meja makan aku dan Kyle duduk saling berhadapan. Tapi ia makan sambil menggerutu tidak jelas, mungkin ia masih kesal padaku.

                “Kenapa kau tidak menghabiskan makanannya?”
                “Aku sudah kenyang.”
                “Jangan membohongiku, aku tahu bahwa kau masih lapar.”
                “Aku sudah tidak berselera untuk makan.”
                “Ya sudah, berarti tidak aka nada makanan penutupnya untukmu.” Aku menghabiskan makannku, lalu menyimpan piring kotornya di bak cuci piring. “Ya sudah aku duluan, ya. Aku mau tidur lagi.”
                “Kau akan meninggalkanku sendirian disini?”
                “Iya, karena kau tidak mau menghabiskan makanan yang sudah susah-susah aku sediakan.”
                “Baiklah, aku akan menghabiskannya tapi kau jangan pergi keman-mana. Temani aku disini sampai aku selesai makan.”

                Aku kembali duduk dan memperhatikan Kyle yang sedang menghabiskan makanannya sambil tersenyum jahil. Hohoho, aku berhasil menjahili suamiku. Setelah selesai kami mencuci piring dan gelas yang sudah kami gunakan tadi. Lalu kami berdua segera menuju ke kamar.  Sesampainya di dalam kamar aku langsung duduk di atas tempat tidur.

                “Kyle…”
                “Ada apa, sayang?”
                “Ayo kita tidur lagi, aku masih lelah.”
                “Kau tidur saja duluan, aku mau ke studio di basement saja.”
                “Tidak kau harus menemaniku di sini.”

                Kyle pun naik ke atas tempat ditidur dan berbaring di sampingku. Ia menarik tubuhku agar ikut berbaring juga. Ia menarik tubuhku agar lebih menempel dengan tubuhnya, lalu Kyle melingkarkan lengannya memeluk tubuhku. Aku bisa mendengar nafasnya yang tidak teratur karena menahan gairahnya yang sudah meluap-luap, dan sepertinya sebentar lagi gairahnya akan meledak dan tidak akan bisa di tahan lagi.

                “Kau kenapa? Sepertinya gelisah seperti itu?”
                “Jangan menggodaku, sayang. Aku sedang berusaha menahan keinginan akan kebutuhanku.”
                “Mengapa kau tahan? Kau sudah memiliki istri, bukan.”
                “Aku tidak mau memaksamu jika kau tidak mau, sayang. Lagipula kau sedang hamil muda.”
                “Kita masih bisa bercinta asalkan kau bisa melakukannya dengan lembut dan tidak terlalu keras.”
                “Kalau begitu maukah kau bercinta denganku sekarang?”
                “Tentu saja aku mau, Kyle. Kau ini suamiku.”

                Mendengar persetujuan dariku Kyle langsung melumat bibirku dengan dengan lembut namun sangat intents sekali. Lalu bibirnya mencium leherku dengan sangat lembut, membuat tubuhku merinding dan mendesah. Tanganku meremas rambutnya ketika ia masih meciumi leherku, sedangkan tubuhku sudah menggeliat. Sementara tangannya bereksplorasi di setiap jengkal kulitku, aku menarik kaos yang di pakainya dan melemparkannya ke lantai. Kyle pun melakukan hal yang sama kepadaku, saat ini tubuh kami berdua sudah benar-benar tanpa busana.

                Ia meremas dan menghisap payudaraku dengan sangat bergairah. “Payudaramu semakin berisi, sayang. Sangat menggairah sekali.”
                “Karena aku sedang mengandung, Kyle.”

                Lalu Kyle berbaring, aku merangkak ke atas tubuhnya, menciumi wajahnya dan dadanya. Aku merasakan miliknya yang sudah setengah mengeras dan setengah membesar menekan perutku. Aku  terus menciumi setiap jengkal tubuhnya, ia bergetar ketika tiap ciumanku mendarat di kulitnya. Lalu tanganku memegang miliknya, dengan perlahan aku menggerakkan tanganku itu. Dan ia mengerang ketika aku melakukannya. Lalu aku menjilati miliknya itu dan memasukannya kedalam mulutku.

                “Sayang, apa yang akan kau lakukan padaku?” teriaknya dengan suara yang terengah-engah.

                Aku tidak menggubrisnya, malah aku semakin liar dan semakin kuat menghisap miliknya itu. Aku mulai kekurangan oksigen karena miliknya yang semakin besar di dalam diriku, bukannya menghetikan aku malah semakin mempercepat hisapan dan kocokannya dengan mulutku. Sampai tiba-tiba Kyle bangun, lalu ia membimbingku menaiki tubuhnya. Dengan perlahan aku memasukan miliknya yang sudah sangat keras dan besar kedalam diriku. Gerakan yang perlahan itu semakin membuat tubuhku terbakar, aku mengertakan bibirku ketika miliknya semakin tenggelan di dalam diriku.

                Ketika miliknya sudah berada di dalam tubuhku sepenuhnya , aku menarik nafas dalam-dalam lalu mulai menggerakkan tubuhku naik dan turun secara perlahan. Ya Tuhan, aku bisa meledak sebentar lagi. Sedangkan Kyle memegang pinggangku, kadang tangannya menyentuh dan meremas payudaraku. Aku mencondongkan tubuhku ke depan, lalu aku mencium bibir Kyle dan mengigit bibirnya dengan gemas.

                “Ayo, sayang… Datanglah untukku…”

                Suaranya membuatku meledak karena orgasme yang cukup hebat dan tubuhku langsung ambruk di atas tubuhnya. Dengan perlahan ia membalik tubuhku tanpa melepaskan dirinya dari dalam diriku terlebih dahulu. Kyle memompa dirinya di dalam diriku dengan ritme yang agak cepat namun tetap terkontrol. Dan setelah beberapa menit Kyle menggeram sambil menggertakan giginya ketika menemukan pelepasannya.

                Tubuhnya langsung ambruk di atas tubuhku, ia mencium bahuku lalu beralih mencium keningku cukup lama.

                “Terima kasih sayang. I love you…”
                I love you too my hubby…”

                Lalu ia mengeluarkan dirinya dari dalam diriku dan berguling kesampingku. Ia menarik selimut dan menutupi tubuh kami yang tanpa busana, ia lalu memeluk tubuhku sambil menciumi puncak kepalaku dengan penuh perasaan.

                “Kyle, bagaimana kalau besok kita mengadakan acara barbeque bersama Gale, Dhea, Asya dan Mark. Aku sudah menelepon Dhea tadi dan ia akan datang kemari.”
                “Sepertinya menyenangkan, sayang. Berarti besok kita harus belanja lagi, sepertinya persediaan bahan makanan di kulkas kita tidak akan cukup.”
                “Kapan kau akan kembali masuk kuliah?”
                “Aku mengambil cuti, sayang. Karena aku ingin focus dulu pada rekaman albumku dulu, selain itu aku masih ingin menikmati hari-hari berdua denganmu sebelum sibuk.”
                “Berarti nanti kau akan sering meninggalkan aku sendirian di rumah?”
                “Kau boleh menginap di apartemenmu yang dulu, sayang. Kau tahu, aku sangat sangat bahagia sekali karena akhirnya kau benar-benar kembali padaku dan menjadi istrikuk.”
                “Aku juga senang bisa kembali lagi padamu, Kyle.”
                “Ayo kita tidur sayang, kau pasti sangat lelah sekali. Besok kita harus bangun pagi-pagi untuk berbelanja ke swalayan.” Lalu kami berduapun terlelap tidur.

                Keesokan harinya aku dan Kyle pergi ke sebuah swalayan untuk berbelanja. Ia memasukan banyak sekali camilan, minuman kaleng dan beberapa botol wine. Selain itu kami membeli daging sapi untuk steak, ayam, sosis dan udang serta bahan-bahan lainnya yang dibutuhkan untuk acara barbeque kami nanti malam. Selesai berbelanja Kyle mengajakku ke sebuah restoran untuk makan siang lalu pulang.

                Sesampainya di rumah kami langsung menyusun semua belanjaan yang kami beli di swalayan tadi ke dalam kulkas. Lalu aku sibuk membuat bumbu untuk bahan-bahan makanan yang akan di jadikan barbeque.

                “Sayang, biarkan aku membantumu. Kau tidak boleh terlalu lelah.”
                “Tidak apa-apa, sebaiknya kau menonton TV saja. Sebentar lagi juga Dhea dan Asya akan segera sampai, mereka berdua akan membantuku untuk menyiapkan semuanya.”

                Akhirnya Kyle pergi menuju ke ruang TV dengan segan. Sepuluh menit kemudian aku mendengar suara bel berbunyi, mungkin Dhea dan Asya sudah datang. Ternyata benar saja mereka berdua, karena setelah Kyle membuka pintu Dhea dan Asya langsung berteriak memanggilku.

                “Lila… Apa kabar?” Dhea langsung memelukku.
                “Kabar baik, bagaimana kabar kalian berdua?”
                “Kami berdua baik-baik saja. Senang kau sudah kembali lagi ke New York.” Asya memelukku.
                “Sepertinya kau sedang sangat sibuk sekali, biark aku dan Asya yang mengerjakannya. Kau tidak boleh terlalu lelah.”
                “Ayolah Dhee, jangan melarangku seperti Kyle. aku tidak selemah itu.’

                Tak lama kemudian Kyle, Gale dan Mark menghampiri kami dan duduk di kursi dekap mini bar. Mereka bertiga entah sedang membicarakan apa, karena tak jarang mereka memperhatikan kami yang sedang sibuk di dapur.

                “Hey, kalian bertiga daripada hanya duduk, mengobrol, minum dan memperhatikan kami yang sedang sibuk di dapaur. Mengapa kalian bukannya mempersiapkan peralatan untuk acara kita di halaman belakang.”
                “Kau jadi galak sekali Lila.”
                “Aku tidak galak Gale, aku hanya sedikit memerintah kalian saja.”
                “Tak bisakah kami duduk sebentar lagi.”
                “Tidak Mark, kau tidak melihat bahwa Asya dan Dhea langsung membantuku di dapur setika mereka baru sampai di sini.”
                “Sebentar lagi sayang. Kami sedang membicarakan sesuatu.”
                “Oke, kalau begitu biar aku saja yang mengangkat peralatan untuk barbeque dari gudang ke halaman belakang.”

                Aku yang sekarang jadi cepat marah langsung melepas celemek yang sedang aku pakai dan bergegas untuk pergi ke gudang peralatan.

                “Tidak sayang, jangan kau lakukan. Peralatan itu cukup berat. Ingat kau sedang mengandung, sayang.” Kyle langsung panic dengan gertakanku.

Kamis, 27 Desember 2012

Chapter 33


Chapter 33

                “Kau benar-benar sangat menyedihkan, Kev.”
                Dia mencengkram bahuku dengan sangat kasar dank eras, “Jangan pernah sekali-kali menyebutku dengan sebutan orang yang menyedihkan.”
                “Karena kau memang orang yang sangat menyebalkan Kev.”
                “Kau… Kau akan membayar semua ini.”
                “Apakah kau akan membunuhku, Kev? Silakan saja, aku tidak takut dengan ancamanmu itu.”

                Lalu Kev mengarahkan salah satu lengannya menuju ke leherku, Kev berniat untuk mencekikku. Aku memejamkan mataku, berharap ada seseorang yang menemukan kami disini. Tangannya yang dingin sudah berada di leherku dan bersiap untuk mencekikku. Tapi tiba-tiba aku merasakan tangannya yang sudah mencekikku itu terlepas. Aku segera membuka mata dan melihat Mark berada di sampingku. Tatapannya benar-benar marah, sedangkan Kev tersungkur di lantai karena Mark memukulnya.

                “Kau benar-benar brengsek Kev. Jika kau berani muncul lagi di hadapanku atau bahkan menganggu tunanganku akan aku pastikan hidupmu akan jauh menderita.”
                “Aku mencintaimu sejak kita masih kuliah Mark. Mengapa kau tidak juga mengerti perasaanku padamu. Akulah yang pantas menjadi pendampingmu bukan wanita sialan ini.”
                “Jaga ucapanmu Kev, Asya adalah wanita yang sangat pantas untukku dan aku sangat mencntainya begitu juga dia yang sangat mencintaiku. Aku tidak memiliki perasaan apapun padamu Kev. Aku pria normal, aku mencintai seorang wanita sejati, bukan seorang pria. Sebaiknya kau pergi dari tempat ini. Dan ingat baik-baik, sejengkal saja kau mendekati Asya aku tak segan-segan akan melaporkanmu pada pihak yang berwajib. Dan akan ku pastikan kau akan membusuk di dalam penjara.”

                Mendengar ancaman dari Mark Kevin langsung pergi dari tempat itu dengan sangat kesal. Lalu Mark memelukku dengan erat dan menciumi wajahku sambil meminta maaf.

                “Sayang, maafkan aku. Harusnya aku tadi tidak meninggalkanmu di sana sendirian, kau baik-baik saja, kan? Apa Kevin melukaimu?”
                “Tidak Mark, aku tidak apa-apa. Aku hanya sangat syok dan sangat takut sekali, aku tak menyangka bahwa Kevin akan mencekikku di tempat ini.”
                “Ayo, kita pergi dari tempat ini sayang. Untung saja aku menemukanmu karena tadi Dhea menanyakanmu.”
                Mark membawaku kembali keruang utama galeri dan langsung mengajakku untuk menemui Dhea dan Gale yang sudah menunggu.

                “Kau baik-baik saja, Sya?”
                “Akan aku ceritakan nanti, Dhee.”
                “Pameran yang bagus, Mark. Aku suka dengan beberapa lukisan yang kau buat.”
                “Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang kemari.”
                “Tapi Mark, aku dan Gale tidak bisa lama-lama karena jam delapan kami berdua harus menemui kedua orang tua Gale.”
                “Tidak apa-apa, Dhee. Yang penting kau dan Gale sudah datang.”
                “Kalau begitu kami berdua pamit, ya.” Lalu Dhea memelukku sebelum pergi, “Aku pergi ya, Sya. Kau hati-hati. Jangan lupa untuk menceritakannya padaku.”
                “Kau juga hati-hati, Dhee. Mungkin besok aku akan menceritakan semuanya padamu.”

                Lalu Dhea dan Gale pergi meninggalkan pameran. Sedangkan aku kembali menemani Mark untuk menemui para tamunya. Ia tak pernah membiarkan aku lepas dari pengawasannya, meskipun ia sedang mengobrol tapi tangannya menggenggam tanganku dengan sangat erat.

                Akhirnya acara ini selesai juga dan berjalan dengan sukses. Setelah acara benar-benar selesai kami berduapun pulang. Mark mengajakku pulang ke rumah pantai, aku memang membutuhkan suasana yang tenang mala mini. Kejadian tadi benar-benar membuatku ketakutan, jika tadi Mark tidak datang mungkin saja aku sudah mati tercekik karena kekurangan udara.

                “Sayang ada apa?”
                “Ah, aku tidak apa-apa. Hanya saja aku masih syok dengan kejadian yang terjadi ketika di pameran tadi.”
                “Aku juga tidak menyangka kalau Kev bisa berbuat senekat itu. Harusnya aku lebih waspada menjagamu, sayang. Maafkan aku karena sudah membuatmu mengalami hal buruk seperti ini.”
                “Tidak Mark, kau tidak salah. Harusnya aku mengatakan padamu ketika Kev mengancamku saat pertama kali, hanya saja aku tidak menyangka bahwa ia akan berani bertindak sejauh ini.”
                “Sudahlah, yang penting sekarang Kev sudah pergi dan dia tidak akan berani mengganggu kita lagi. Sebaiknya kita lupakan saja masalah ini.”
                “Aku takut kehilanganmu Mark.”
                “Aku takkan pergi kemana-mana, percayalah sayang. Sebaiknya kita pergi ke kamar tidur sekarang aku ingin mencoba sesuatu denganmu.”
                “Kau mau mencoba apa denganku?” melihat ekspresi wajahku yang bingung ia hanya tersenyum jahil.

                Dengan lembut ia menarikku untuk mengikutinya masuk kedalam kamar. Sesampainya di kamar Mark langsung menarikku ke dalam pelukannya dan langsung melumat bibirku dengan sangat liar dan sangat bergairah. Ia begitun intents menciumku sehingga dadaku mulai sesak karena kehabisan udara, dan Mark terus saja memagut bibirku, membuat nafasku menjadi terengah-engah.

                Tangannya bergerak membelai punggungku, lalu berpindah kedepan dan meremas payudaraku dengan bergairah, membuatku mengerang karena rasa sakit dan rasa nikmat yang di timbulkan secara bersamaan oleh sentuhannya itu. Dan aku semakin liar menciumi bibirnya, aku merasakan tangannya menurunkan restleting gaunku dan menariknya hingga terjatuh ke lantai. Sedangkan bibirnya masih memagut bibirku, ia tak ingin melepaskannya sedikitpun.

                Ketika ia melepaskan ciumannya Mark tersenyum, lalu aku membuka jas dan kemeja yang dipakainya dan menjatuhkannya ke lantai. Lalu aku menyusuri dadanya yang bidang itu. Tubuhnya seperti di pahat dengan sangat sempurna dengan otot-otot yang keras. Aku mendaratkan bibirku di dadanya itu, tubuhnya bergetar ketika aku mencium tubuhnya itu. Suara geramanpun keluar dari mulutnya.

                “Sepertinya kau mulai liar, sayang.” Suaranya terdengar berat dan sedikit menggeram.
                Aku medongkak menghadap wajahnya, “Kau yang sudah membuatku menjadi liar, Mark.”
               
                Lalu Mark menjatuhkan tubuhku ke atas tempat tidur. Ia merangkak di atas tubuhku dan menghisap payudaraku dengan sangat kecang membuatku berteriak. Ia menjalankan lidahnya di seluruh tubuhky yang sudah sangat panas dan bergetar hebat, aku merasakan pusat diriku sudah sangat lembab, panas dan basah. Lalu tangannya menyelusup kedalam thong yang aku pakai, jari-jarinya menuju ke pusat diriku dan aku mengerang ketika ia memasukan jarinya kedalam pusat diriku.

                Aku mengerang ketika jari-jarinya itu bergerak keluar masuk di dalam pusat diriku. Sampai akhirnya aku merasakan tubuhku bergetar, otot-otot tubuhku menegang karena orgasme yang hampir meledak dan aku sudah tidak bisa menahannya. Aku berteriak kencang ketika orgasme yang hebat itu menghantamku.

                Mark tersenyum puas dan penuh kemenangan ketika melihatku mencapai pelepasanku. Lalu ia melepaskan celana dan boxer yang dipakainya sekaligus dan menarik thong yang aku pakai dan melemparnya sembarangan. Lalu ia membalik tubuhku, menopang diriku sehingga bagian bawah tubuhku lebih tinggi, kakiku menggantung di samping tempat tidur. Lalu ia menciumi tengkuk dan punggunggu, selingga tubuhku menggeliat karena sentuhannya itu.

                Setelah itu ia meremas pantatku dengan gemas, tiba-tiba ia memukul pantatku sehingga aku berteriak karena kaget. Lalu ia mencium bagian yang dipukulnya tadi. Perasaan sakit yang menyengat berpadu dengan rasa nikmat yang diakibatkan oleh ciumannya, ia melakukan hal itu sampai beberapa kali. Aku hanya menggigit selimut dan memendam wajahku kedalam selimut. Ini benar-benar menyiksaku, membuatku tidak bisa bernafas.

                Lalu ia melebarkan kedua kakiku, aku merasa bahwa saat ini aku benar-benar sangat terekspos sekali. Aku merasakan sesuatu yang keras berusaha masuk kedalam diriku, ia memasukan dirinya dengan perlahan-lahan dan itu membuat tubuhku kembali bergetar hebat. Aku mengalami orgasmeku yang kedua dan Mark langsung menenggelamkan dirinya di dalam diriku dengan agak keras.

                Ketika aku masih mengalami orgasmeku ia menggerakkan miliknya di dalam diriku dengan tempo yang sangat teratur, membuatku berteriak. Aku seperti melihat bintang-bintang dan bintik-bintik putih, Mark membuatku hancur berkeping-keping. Dengan posisi seperti ini miliknya benar-benar terasa sangat penuh sekali, bahkan aku merasa miliknya sudah menyentuh dasarnya.

                Satu persatu aku mengalami orgasme kembali, entah sudah berapa kali aku mengalaminya. Karena jaraknya sangat berdekatan sekali, aku mendengar Mark menggeram keras dan mempercepat gerakannya, dan ketika aku mulai mencapai pelepasanku kembali Mark juga menemukan pelepasannya. Tubuhnya ambruk di atas punggungku, sedangkan aku sudah benar-benar tidak bisa bergerak. Tubuhku benar-benar menjadi jelly. Lalu Mark mengeluarkan dirinya dan membalik tubuhku.

                “Sayang, kau baik-baik saja, kan? Apakah aku menyakitimu?”
                “Tidak… Kau… kau bisa membuatku mati… jika aku mengalami orgasme sekali lagi.”
                “Tadi benar-benar hal yang terhebat dalam hidupku, sayang. Terima kasih.” Ia mengecup bibirku, “Sepertinya kau harus segera tidur, kau benar-benar terlihat sangat kacau sayang.” Ia berkata sambil tersenyum geli.
                “Kau yang sudah membuatku seperti ini, Mark. Biarkan aku tidur sampai besok siang, aku tidak punya tenaga untuk membuka mataku meskipun hanya sedikit.”
                “Tidurlah, sayang.” Ia memelukku dan akhirnya akupun tertidur lelap dalam pelukannya.

***

                Pergi selama dua minggu di Eropa selama dua minggu benar-benar sangat menyenangkan sekali. Dan sekarang aku sudah kembali pulang ke New York, memulai kehidupanku yang baru sebagai seorang istri dari pria yang sangat tampan, baik dan lucu. Ketika sampai di rumah yang aku lakukan pertama kali adalah tidur, karena semenjak hamil aku jadi cepat merasa lelah dan selalu ingin tidur.

                Sore itu aku bangun, mandi dan langsung ke dapur untuk membuat sesuatu karena Kyle masih tertidur pulas di kamar. Sebelumnya aku menelepon Dhea, aku sangat sangat merindukan kedua sahabatku tersayang itu.

                “Halo Dhee, apa kabar?”
                “Lila… Apa kabar? Akhirnya kau menelepon juga, sedang berada di mana sekarang?”
                “Aku sudah berada di New York Dhee, tapi pagi-pagi sekali kami sampai di sini. Maaf baru bisamenghubungimu sekarang. Bagaimana kabar kalian berdua?”
                “Aku dan Asya baik-baik saja, kami sangat merindukanmu. Apartemen sepi semenjak kau pindah.”
                “Aku juga sangat merindukan kalian berdua. Bagaimana kalau besok kita bertemu dan mehgadakan pesta barbeque di rumahku?”
                “Ide yang bagus, aku akan memberitahukannya pada Asya. Karena saat ini ia sedang tidak ada di rumah.”
                Tiba-tiba Kyle memelukku dari belakang, “Dhee sudah dulu ya, nanti aku hubungi lagi. Aku takut masakanku gosong.”
                “Baiklah, sampai bertemu besok. Bye.”

                Aku menutup teleponnya, mematikan api di kompor dan membalikan tubuhku menghadap Kyle.

                “Kau sudah bangun rupanya.”
                “Aku bangun karena tidak menemukanmu di sampingku sayang.”
                “Aku lapar, makanya aku memutuskan untuk bangun. Kau lapar juga kan?”
                “Aku sangat lapar, sayang. Tapi bukan untuk makan.”

Rabu, 26 Desember 2012

Chapter 32


Chapter 32

                Hari kepulangan kedua orang tuaku tiba, Gale langsung menjemputku dari kampus dan kami langsung menuju kebandara untuk mengantarkan Mama dan Papa. Setelah pesawat mereka lepas landas aku dan Gale memutuskan untuk mampir kesebuah kedai kopi untuk makan siang.

                “Sayang, besok kedua orang tuaku akan datang dari Washington DC, mereka berdua ingin segera bertemu dengan calon menantunya yang cantik ini.”
                “Gale jangan membuatku gugup. Aku takut kedua orangtuamu nanti tidak akan menyukaiku.”
                “Mereka menyukaimu, Angel, sangat sangat menyukaimu karena aku sudah menceritakan tentang dirimu pada mereka. Besok aku akan menjemputmu untuk makan malam bersama dengan mereka.”
                “Tapi…”
                “Jangan gugup, percayalah padaku. Mereka berdua sangat menyukaimu, Angel.”
                “Baiklah, meskipun aku tidak tahu apakah kegugupanku itu akan hilang besok malam.”
                “Aku sangat mencintaimu, Angel. Kaulah nyawa dan hidupku.”

                Lalu Gale mencium bibirku dengan lembut, sepertinya ia sedang nahan gairahnya yang mulai muncul itu. Rasanya aku ingin tertawa melihat ekspresinya yang tersiksa seperti itu. Lalu Gale segera mengajaku pulang setelah membayar tagihannya.

***

                Akhirnya Lila menikah juga. Tadinya aku sempat berpikir bahwa Zach yang akan menjadi suami Lila, tapi pada kenyataannya Lila menikah dengan Kyle. Benar-benar kejadian yang tidak terduga, aku tak habis pikir bahwa ada beberapa pria yang begitu terobsesi pada Lila, dulu Matt sekarang Kyle dan Zach namun pada akhirnya Lila dan Kyle di persatukan juga.

                Semenjak hari itu aku memang jadi jarang pulang ke rumah, kadang aku merasa tidak enak karena harus meninggalkan Dhea tinggal sendirian di apartemen. Karena Lila akan langsung menempati rumah barunya sepulang dari bulan madu nanti. Bahkan barang-barang milik Lila sudah tidak ada di kamarnya. Rasanya aku ingin cepat-cepat menikah saja, tapi aku belum siap untuk menjadi seorang istri dan seorang ibu.

                Hari ini aku menghabiskan waktu untuk membantu Mark yang akan menggelar pameran perdananya. Ternyata sangat menyenangkan sekali bisa membantunya bekerja. Ketika aku mengecek daftar tamu yang akan datang, mataku langsung tertuju pada sebuah nama. Nama yang membuatku merasa takut. Kevin McDaid, ya nama itu membuatku takut sekali. Karena Kevin begitu terobsesi pada Mark bahkan ia nyaris menabrakku. Benar-benar pria yang mengerikan sekaligus menyedihkan sekali.

                “Sayang, apa daftar tamunya sudah kau cek?” suara Mark membuyarkan lamunanku.
                “Ah, sedang aku cek Mark. Aku akan segera menyusulmu sebentar lagi.”
                “Jangan lama-lama sayang, aku sudah sangat lapar sekali.”

                Lima menit kemudian aku keluar dari ruang kerja milik Mark di galerinya. Aku langsung mendekatinya yang sedang berdiri di depan salah satu lukisan hasil karyanya.

                “Mark, aku sudah selesai. Bisakah kita pergi sekarang?”
                “Tentu saja, sayang. Aku sudah sangat lapar sekali kau tahu.”

                Kami berdua keluar dari galeri milik Mark sambil saling bergandengan tangan. Bahkan sesekali Mark mendaratkan ciumannya di bibir, pipi dan keningku. Semakin hari aku semakin mencintai Mark, dan aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk mempertahankannya.
                “Kita akan pergi makan dimana, Mark?”
                “Sebuah restoran yang bagus tentunya, kau pasti akan menyukainya sayang. Percayalah padaku.”
                “Aku akan ikut kemanapun kau akan membawaku, Mark.” Aku melingkarkan tanganku di lengannya.
                “Sayang, kau akan membuat kita mengalami kecelakaan.”
                “Maaf, aku selalu lupa jika melakukan hal seperti itu.”

                Mark hanya tersenyum geli melihat tingkahku yang seperti anak kecil. Lalu aku memutuskan untuk menikmati pemandangan selama perjalanan menuju ke restoran yang Mark maksud tanpa komentar, karena aku tidak ingin mengganggu konsentrasinya ketika sedang menyetir. Tak lama kemudian laju mobil melambat dan berhenti di depan sebuah restoran yang cukup mewah. Mark membantuku turun dan kami masuk ke dalam restoran itu sambil bergandengan tangan.

                Seorang pelayan mengarahkan kami kesebuah meja yang berada di bagian pojok ruangan di restoran ini. Setelah kami duduk dan memberikan daftar menu pelayan itupun pergi meninggalkan meja kami berdua. Beberapa saat kemudian pelayan itu kembali membawakan kami sebotol wine dan dua buah gelas lalu pergi lagi setelah menuangkan wine kedalam gelas kami berdua.

                Mark meremas tanganku yang berada di atas meja dengan lembut, “Sayang, terima kasih sudah membantuku untuk menyiapkan pagelaran pameran besok malam.”
                “Bukan batuan yang berarti, aku senang membantumu.”
                “Maaf juga karena sudah membuatmu lelah dan kurang istirahat karena semua ini.”
                “Mark aku sudah bilang bahwa aku senang membantumu.” Aku menyentuh pipinya dan Mark memejamkan matanya menikmati sensasi dari sentuhanku.
               
                Lalu kami berdua memesan makan dan meminum wine kami samba menunggu makanannya datang. Tak lama kemudian para pelayan keluar membawakan makanan yang sudah kami pesan. Kami menikmati makanan itu dengan lahap. Dan setelah selesai Mark mengantarkanku pulang ke apartemen karena Dhea sendirian disana.

                Setelah mengantarkanku Mark langsung pamit pulang karena masih ada yang harus di selesaikannya di galeri. Aku buru-buru masuk dan ketika sampai di apartemen aku mendapati Dhea yang sedang makan sambil menonton TV.

                “Akhirnya kau pulang juga, Sya. Tadinya aku pikir kau tidak akan pulang lagi.”
                “Aku pasti pulang ke sini, Dhee. Aku sudah berjanji padamu untuk pulang malam ini.”
                “Apakah kau mau makan?”                                                                                         
                “Tidak Dhee, terima kasih aku sudah makan tadi bersama Mark. Oh iya, Mark mengundangmu dan Gale untuk menghadiri pameran lukisannya besok malam di galeri.”
                “Aku dan Gale pasti akan datang, Sya. Terima kasih sudah mengundang kami berdua.”
                “Apakah Lila sudah memberi kabar padamu? Ia belum meneleponku sama sekali.”
                “Ia juga belum menghubungiku, Sya. Biasalah dia sedang berbulan madu dan tidak mau kita ganggu.” Dhea tertawa geli menjawab pertanyaanku.
                “Apartemen jadi sepi,ya. Biasanya Lila tidak pernah bisa diam jika berada di apartemen dan yang lucu ketika ia mengetahui bahwa dirinya sedang hamil ia banyak diam.”
                “Iya, aku tak menyangka bahwa ia akan menikah duluan. Lambat laun kita pasti akan berpisah Sya. Tapi meskipun nanti kita berpisah dan hidup dengan suami kita masing-masing kita akan tetap  bersahabat. Hubungan kita akan tetap seperti ini, kita sudah seperti saudara dan tidak aka nada yang bisa memutuskan hubungan kita bertiga.”
                “Yang kau katakan itu benar Dhee. Mungkin jika kau menikah dengan Gale nanti aku akan menerima ajakan Mark untuk tinggal di rumahnya. Aku tak mau tinggal sendirian di sini.”
                “Sekarang saja kau sudah lebih banyak menghabiskan waktumu bersama Mark, Sya. Tapi aku juga seperti itu. Hahaha…”
               
                Malam itu aku dan Dhea berbincang-bincang sampai larut malam. Sudah lama sekali kami tidak melakukan kegiatan seperti ini dan yang tidak ada hanya Lila saja. Pasti akan lebih menyenangkan jika Lila bergabung dengan kami. Sepertinya aku dan Dhea harus bisa menerima kenyataan bahwa Lila sudah menikah dan tidak tinggal lagi bersama kami berdua.

                Keesokan harinya aku dan Dhea bangun siang, karena semalam kami mengobrol sampai larut sekali. Kebetula hari ini adalah hari Sabtu dan kuliah kami libur. Dan kegiatan kami berdua adalah mencari gaun yang akan kami gunakan untuk acara nanti malam. Aku dan Dhea sibuk membongkar lemari mencari gaun yang cocok, aku dan Dhea memang tidak memiliki gaun dalam jumlah yang sangat banyak, kami berdua mulai memakai dan membeli gaun setelah berkenalan dengan Gale dan Mark.

                Di antara kami bertiga Lila yang memiliki gaun dalam jumlah banyak. Biasanya aku dan Dhea suka meminjam salah satu dari gaun miliknya tapi sekarang sepertinya tidak akan bisa. Mungkin aku harus mulai membeli beberapa gaun setelah ini karena Mark suka mengajakku untuki menghadiri sebuah pesta yang cukup formal.

                Dan tepat pukul enam sore Mark menjemputku sedangkan Gale dan Dhea akan berangkat pada pukul tujuh nanti. Aku harus datang lebih awal karena harus menemani Mark di sana, akku harus menemani dan berada di sampingnya ketika orang-orang yang di undangnya datang.

                Tepat pukul tujuh malam satu persatu para tamu tiba di galeri milik Mark. Sampai akhirnya Kevin tiba, ia datang seorang diri tidak bersama Adam. Aku bisa merasa lega karena Adam tidak ada, namun aku tetap saja cemas karena Kevin menatapku seperti ingin membunuhku.

                “Senang kau bisa hadir, Kev. Terima kasih sudah menyempankan waktumu untuk menghadiri acaraku.”
                “Aku akan melakukan apapun untukmu, Mark.” Ia lalu mengalihkan pandangannya padaku, “Apa kabar Natasya, senang bisa bertemu lagi denganmu.”
                “Kabar baik, Kev. Silakan nikmati acaranya aku dan Mark harus menyambut beberapa tamu kami yang baru datang. Permisi, ayo Mark.”

                Aku menarik lengan Mark untuk menjauhi Kevin yang sedari tadi menatapku dengan tatapan membunuhnya. Benar-benar orang yang sangat menyebalkan, jika ini bukan acara yang formal aku pasti akan berteriak dan mengusirnya dari sini. Namun aku harus ekstra sabar, aku harus menjaga sikapku di depan teman dan relasi Mark. Aku tidak mau nama Mark tercoreng karena sikapku.

                Suasana hatiku berubah drastic ketika bertemu muka dengan Kevin tadi. Itulah alasannya aku segera membawa Mark menjauh dari pemangsa itu. Aku benar-benar sangat kesal sekali, rasanya aku ingin sekali berteriak.

                “Sayang, kau tidak apa-apa, kan? Sepertinya kau terlihat kesal sekali.”
                Sepertinya Mark menyadari kegelisahan yang sedang aku alami saat ini, “Aku… Aku tidak apa-apa Mark. Aku hanya haus saja, aku akan mengambil minuman untuk kita.”
                “Biar aku saja yang mengambilnya, sayang. Diam di sini jangan pergi kemana-mana.”

                Ia mengecup bibirku lalu pergi untuk mengambilkan minuman. Sambil menunggu Mark aku memperhatikan keadaan di sekelilingku sambil berharap bisa melihat sosok Gale dan Dhea di antara para tamu yang hadir pada malam ini.   
               
                Tiba-tiba saja aku merasakan seseorang menarik tanganku dan menyeretku menjauh dari kerumunan para tamu yang berada di galeri milik Mark. Aku kaget sekali ketika mengetahui pria yang menarik tanganku secara paksa adalah Kevin.

                “Lepaskan tanganku, Kev. Mengapa kau selalu mengangguku?” lalu ia menghempaskan tubuhku hingga punggungku membentur tembok, “Awww…” aku meringis kesakitan.
                “Dengar, aku akan selalu menganggu kehidupanmu sebelum kau meninggalkan Mark. Mengapa kau tidak pernah mau menggubris ancaman dariku. Apakah kau sudah bosan hidup.”
                “Kau tidak akan bisa memisahkan kami, Kev. Aku tidak takut mati, aku tahu bahwa kaulah pengendara motor yang hampir menabrakku beberapa waktu yang lalu.”
                “Ya, aku memang orang yang akan menabrakmu sampai mati. Kalau saja temanmy yang sialan itu tidak segera menarik tubuhmu.” Kev berteriak kepadaku.