Sabtu, 01 Desember 2012

Chapter 7


Chapter 7

                Ketika sedang serius membaca tiba-tiba Kyle datang menganggetkanku. Ia datang sambil terus saja memamerkan lesung pipitnya itu.

                “Sayang, maaf aku terlambat dan membuatmu menunggu lama.”
                “Kau menganggetkanku saja, Kyle.”
                “Maafkan aku lagi sayang.” Ucapnya sambil menyatukan kedua tangannya untuk memohon maaf padaku.
                Melihat tingkahnya itu aku jadi ingin tertawa, “Sudahlah dan berhenti meminta maaf padaku. aku tidak marah padamuku.”
                “Terima kasih sayang.” Sambil memelukku dengan erat.
                “Kyle, lepaskan ini di tempat umum selain itu aku tidak bisa bernafas.”
                “Maaf, ayo kita pergi dari sini. Kau mau menemaniku pergi ke toko buku, kan. Ada buku yang harus aku beli.”
                “Dengan senang hati, karena aku suka pergi ke sana juga.”

                Kyle membawaku pergi dari sana sambil menggenggam erat tanganku. Sepertinya ia ingin menunjukan pada semua mahasiswa disini bahwa ia berhasil menaklukan “Ice Princess”. Sedangkan aku hanya tersenyum memandangi wajahnya. Wajahnya yang tampan itu terlihat begitu bahagian dan bangga.

                Akhirnya kami sampai di parkiran motor. Kyle memboncengku dengan motor sport kesayangannya. Aku memeluknya erat-erat karena aku jarang sekali bepergian dengan sebiah motor.

                Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya kami sampai di toko buku dan mulai berkeliling mencari buku yang di cari oleh Kyle.

                “Kyle, aku mau ke bagian novel dulu. Sebentar takkan lama.”
                “Baiklah, nanti aku akan segera menyusulmu, sayang.” Aku mencium pipinya lalu buru-buru pergi dari situ.

                Setelah sampai di bagian novel aku mengintip Kyle yang masih terpaku kaget di tempatnya karena perbuatan yang aku lakukan. Aku hanya tersenyum jahil sambil mengedipkan sebelah mataku. Buru-buru aku langsung menyibukkan diri mencari novel yang bagus.

                Tiba-tiba Kyle menghampiriku dan memelukku dari belakang, “Kau sudah menemukan novel yang kau cari?”
                “Sudah, bagaimana denganmu? Sudah menemukan buku yang kau cari itu?”
                “Sudah juga, ayo kita ke kasir lalu kita pergi cari makanan. Aku sangat lapar sekali.”

                Lalu kami pergi ke kasir untuk membayar buku yang kami beli. Setelah itu Kyle mengajakku pergi ke sebuah kafe untuk makan siang. Dan Kyle memesan banyak sekali makanan.

                “Ya ampun, banyak sekali lalu siapa yang akan menghabiskan semua ini?”
                “Tentu saja kita berdua, kau terlalu kurus sayang.”
                “Tidak, aku tidak mau menghabiskannya. Kau saja yang menghabiskannya, enak saja aku terlalu kurus. Padahal kau sendiri yang kurus.”
                “Kurus begini tubuhku berotot juga. Dan yang penting aku tetap tampan dan menawan.”
                “Iya iya, kau memang kekasihku yang paling tampan.”

                Mendengar ucapanku Kyle tersenyum senang apalagi sekarang aku sudah tidak kaku lagi seperti pertama kali kita pacaran. Sejak berpacaran dengannya aku bisa merasa lebih santai daripada sebelumnya. Karena Kyle selalu membuatku tersenyum.

                “Kyle, aku permisi dulu ke toilet, ya.”

                Kyle menggangguk lalu aku segera menuju ke toilet yang berada di pojok ruangan. Dan setelah selesai aku bergegas untuk kembali ke meja. Namun di salah satu pojok ruangan dekat toilet pria aku melihat seseorang yang aku kenal sedang bercumbu dengan seorang wanita.

                Ya Tuhan, itu Matt!!! Mengapa dia ada di kota ini apa yang dilakukannya di sini? Aku masih terpaku melihat pemandangan di depanku. Tiba-tiba Matt menoleh dan melihatku, ekspresinya terkejut. Buru-buru aku pergi dari tempat itu.

                “Sayang, kau tidak apa-apa? Mengapa wajahmu sangat pucat sekali?”
                “Kyle, aku mau pergi dari tempat ini, please. Tiba-tiba aku merasa tidak enak badan.”
                Kyle menempelakan telapak tangannya di dahiku, “Badanmu agak hangat sayang. Ya sudag, mari kita pulang saja. Aku tak ingin kau sampai sakit.”
               
                Setelah membayar tagihannya, Kyle menggenggam tanganku keluar dari kafe itu. Aku melirik sekilas Matt yang terlihat sedang mencari-cariku. Dan ia mendapati aku sedang bergandengan tangan dengan Kyle. Ekspresi wajahnya mengeras seperti menahan amarah. Tapi aku tidak peduli, sama sekali tidak peduli. Aku hanya tidak ingin bertemu dan melihat wajahnya saja.

                Dalam perjalanan pulang aku memeluk Kyle erat-erat, aku benar-benar ketakutan setelah melihat Matt ada di kota ini. Ya Tuhan, aku mohon jauhkanlah pria itu dari hidupku. Biarkan aku memulai hidupku yang baru bersama Kyle.

                Ketika sampai di apartemen ternyata ada Asya dan Mark. Melihat kedatanganku dan kyle wajah mereka berdua terlihat bersemu merah. Apalagi rambut Mark terlihat berantakan sekali.

                “Kau baik-baik saja, Lila?”
                “Dia agak demam, Sya. Makanya aku membawanya pulang saja, aku takut Lila kenapa-napa.”
                “Aku mau ke dapur dulu ambil minum.”

                Asya mengikuti ke dapur dan mulai bertanya-tanya.
                “Kau dan kyle baik-baik saja, kan? Kalian tidak sedang bertengkar?”
                “Aku dan Kyle baik-baik saja, Sya.”
                “Lila, jangan bohong padaku. Wajahmu jelas-jelas terlihat ada sesuatu yang tidak beres.”
                “Demi Tuhan, aku dan Kyle baik-baik saja Sya, sungguh. Aku bahagia bersama Kyle.”
                “Apa ada masalah lain yang mengganggumu?”
                Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan, “Matt…”
                “Apa? Matt? “ aku menganggukkan kepalaku untuk membenarkan pertanyaan Asya.
                “Aku melihat Matt berada di kafe yang aku datangi bersama kyle dan Matt melihatku di sana. Asya aku mohon jangan bahas ini di depan Kyle, aku tak ingin membuatnya khawatir.”
                “Baiklah aku takkan membahasnya di depan Kyle. Kita harus kembali kedepan, sepertinya mereka sudah mulai mencemaskan kita?”
                “Kau dan Mark sudah melakukan apa? Mengapa Mark terlihat berantakan sepertinya habis melakukan percintaan yang sangat panas.”
                Mendengar ucapanku wajah Asya menjadi merah padam. “Ya ampun, jadi benar kalian sudah…”
                “Iya, sudah-sudah aku malu tahu.”

                Aku cekikikan melihat ekspresi wajah Asya. Bahkan aku tak sangggup menahan tawaku ketika sudah sampai di ruang depan. Membuat Kyle dan Mark terheran-heran melihatku.
               
                “Ada apa? Sepertinya ada hal yang lucu?”
                “Tidak ada Mark, ini hanya urusana cewek. Hahahaha…”
                “Lila, sudah… Jangan tertawa terus.”
                “Iya-iya aku berhenti tidak akan tertawa lagi.” Aku langsung menutup mulutku untuk berhenti tertawa.
                “Dhea kemana?”
                “Biasa sedang bersama pangerannya.”
                “Hei, weekends nanti bagaimana kalau kita pergi berlibur bersama?”
                “Ide yang sangat bagus Mark, kebetulan aku, Asya sama Dhea ujiannya sampai hari Jum’at.”
                “Mark kita pergi ke swalayan di sebrang yuk.”
                “Jangan lama-lama, ya.”
                “Kalian mau titip apa?”
                “Apa saja terserah kalian.”
                “Ya sudah kalau begitu aku sama Mark pergi dulu ya, bye.”
                                                                                                                             
                Asya dan Mark pergi meninggalkan aku berdua dan Kyle. Tiba-tiba saja aku jadi teringat dengan wajah Matt. Ya Tuhan, aku melihatnya sdang berciuman dengan seoranga wanita di tempat umum. Apakah dia sudah kembali menjadi pria normal?

                “Sayang, kau tidak apa-apa?” suara Kyle langsung menginterupsi lamunanku.
                “Ah, aku tidak apa-apa, Kyle.”                                                 
                “Kau sedang memikirkan apa? Sejak dari toilet di kafe tadi sikapmu agak aneh.”
                “Sungguh, aku baik-baik saja. Maaf sudah membuatmu khawatir.”

                Aku membelai wajah Kyle yang tampan itu, untuk menenangkan perasaanku yang sedang resah. Lalu Kyle mengambil tanganku dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.

                “Aku takut terjadi sesuatu padamu, sayang. Aku mohon jika ada sesuatu atau masalah beritahu aku, jangan menyembunyikannya dariku.”
                “Aku pasti akan memberitahumu jika ada sesuatu, Kyle.”
                “Terima kasih, sayang.”

                Kyle mengambil daguku lalu mencium bibirku dengan sangat lembut sekali. Ciuman yang berbeda dan baru pertama kali aku rasakan. Kyle begitu lembut tidak seperti Matt. Meskipun ciumannya lembut tapi sangat intens sekali. Tiba-tiba Asya dan Mark datang sambil berdehem.

                “Wah, kayaknya kita ganggu nih.”
                “Ah, biasa saja kami sedang tidak sibuk, kok.”
                “Lila, wajahmu sangat merah sekali.”
                “Biar saja wajahku memerah. Aku tak peduli, kau takkan bisa mengolok-olokku, Asya.”
               
                Hari itu kami berempat menghabiskan waktu bersama sambil mengobrol dan menonton TV dan tepat pukul 6 sore Mark dan Kyle pamit pulang. Setelah mandi aku termenung sambil duduk di jendela kamarku menatap kosong ke luar. Pikiranku melayang, mengingat kejadian tadi siang.

                Aku mendengar Dhea sudah pulang dan sedang berbincang-bicang dengan Asya di ruang depan. Biasanya aku selalu ikut mengobrol dengan mereka berdua tapi malam ini aku hanya ingin menyendiri saja di dalam kamar. Matt, untuk apa kau tiba-tiba muncul di kota ini? Melihat wajahmu hanya akan  membuat luka di hatiku kembali terbuka.                

***

                Mata abu-abu itu terus menghantuiku, tatapannya selalu terfokus mengawasiku. Seperti mata seorang predator yang sedang mengawasi mangsanya. Ia terus saja mengejarku kemanapun aku pergi, mengapa aku tak bisa menghindarinya. Tempat ini gelap sekali tidak ada seorangpun. Aku berteriak memanggil Dhea, Asya dan Kyle tapi mereka tak kunjung muncul. Hanya sosok pemilik mata abu-abu itu yang muncul dan mendekatiku.

                “Tidak…” aku berteriak, tubuhku basah oleh keringan jantungku berdetak kencang dan idak beraturan dan pada detik berikutnya aku mendapati diriku sedang menangis.

                “Lila…” Dhea memanggilku “Kau tidak apa?”
                “Lila, kau kenapa menangis? Apakah kau mimpi itu lagi?”
                “Matt… Matt ada di sini aku bertemu dengannya tadi siang.” Suaraku bergetar.
                “Matt ada dii kota ini?”
                “Iya Dhee, tadi siang Lila cerita padaku.”
                “Mau apa dia ada disini? Tenanglah, Matt tidak akan berani mendekatimu. Kalau sampai ia berani menyentuhmu aku akan menghajarnya.”

                Dhea dan Asya lalu memelukku untuk menenangkanku. Aku benar-benar sangat beruntung memiliki sahabat seperti Dhea dan Asya, karena mereka selalu ada di saat aku senang maupun sedih.

                Keesokkan harinya aku tidak bisa focus pada soal-soal ujian yang sedang aku kerjakan, Matt selalu berkelebatan di dalam pikiranku. Lila, you should’ve forget about Matt. Remember you had Kyle beside you now, Kyle better than Matt. Kata-kata itulah yang aku ucapkan dalam hati berkali sampai akhirnya aku bisa menyelesaikan ujianku.

                Ketika di kantin aku tidak melihat Kyle sama aku. Dan aku baru ingat bahwa hari ini ia pergi ke Georgia untuk menemui orang tuanya dan akan kembali pada hari Jum’at.
               
                “Kau tidak apa-apa sendirian?”
                “Aku tidak apa-apa, kalian berdua pergilah aku akan baik-baik saja.”
                “Segera telepon kami jika ada apa-apa.”
                “Iya Dhee, aku akan langsung menelepon kalian.”
                “Kau hati-hati, ya. Kyle sedang tidak ada soalnya.”
                “Ia akan pulang pada hari Jum’at. Nikmati hari kalian salam buat Gale dan Mark, ya.”

                Setelah kami berpelukan singkat Dhea dan Asya langsung pergi untuk menemua Gale dan Mark yang sudah menjemput mereka. Ayo Lila saatnya bersenang-senang dengan dirimu sendiri. Tempat yang pertama aku datangi adalah toko buku, lalu aku memutuskan untuk membaca buku-buku yang baru aku beli di taman kota.

                Sesampainya di sana aku langsung mencari tempat duduk di dekat sebuah pohon yang rindang. Benar-benar tempat yang pas untuk membaca buku, meskipun di sini banyak sekali orang-orang yang melakukan berbagai kegiatan di tempat ini.

2 komentar:

  1. Whooaaa…Matt mulai menghantui Lila lg :(
    kyknya udh normal tuh si matt ><

    hayo…Asya sm Mark ketagihan tu kyknya wkwkwk

    Keren :*

    next chapternya di tunggu loh ;D

    BalasHapus
  2. yaahh... Matt menghancurkan segalanya..
    Padahal Lila udah bahagia sm Kyle, ckckckck
    #pengen tonjok Matt..

    Kyle care bgt sm Lila :)

    ehm, Mark sm Asya diapartemen pun jadi :p

    keseluruhannya bagus kak, aku suka ceritanya ngalir gitu aja. Keren,keren..

    Tp sayang typonya masih nongol aja #maklum

    Chapter 9 ya kakak :)

    BalasHapus