Chapter 7
Ketika
sedang serius membaca tiba-tiba Kyle datang menganggetkanku. Ia datang sambil
terus saja memamerkan lesung pipitnya itu.
“Sayang,
maaf aku terlambat dan membuatmu menunggu lama.”
“Kau
menganggetkanku saja, Kyle.”
“Maafkan
aku lagi sayang.” Ucapnya sambil menyatukan kedua tangannya untuk memohon maaf
padaku.
Melihat
tingkahnya itu aku jadi ingin tertawa, “Sudahlah dan berhenti meminta maaf
padaku. aku tidak marah padamuku.”
“Terima
kasih sayang.” Sambil memelukku dengan erat.
“Kyle,
lepaskan ini di tempat umum selain itu aku tidak bisa bernafas.”
“Maaf, ayo
kita pergi dari sini. Kau mau menemaniku pergi ke toko buku, kan. Ada buku yang
harus aku beli.”
“Dengan
senang hati, karena aku suka pergi ke sana juga.”
Kyle
membawaku pergi dari sana sambil menggenggam erat tanganku. Sepertinya ia ingin
menunjukan pada semua mahasiswa disini bahwa ia berhasil menaklukan “Ice Princess”.
Sedangkan aku hanya tersenyum memandangi wajahnya. Wajahnya yang tampan itu
terlihat begitu bahagian dan bangga.
Akhirnya
kami sampai di parkiran motor. Kyle memboncengku dengan motor sport
kesayangannya. Aku memeluknya erat-erat karena aku jarang sekali bepergian
dengan sebiah motor.
Setelah
perjalanan yang cukup panjang akhirnya kami sampai di toko buku dan mulai
berkeliling mencari buku yang di cari oleh Kyle.
“Kyle,
aku mau ke bagian novel dulu. Sebentar takkan lama.”
“Baiklah,
nanti aku akan segera menyusulmu, sayang.” Aku mencium pipinya lalu buru-buru
pergi dari situ.
Setelah
sampai di bagian novel aku mengintip Kyle yang masih terpaku kaget di tempatnya
karena perbuatan yang aku lakukan. Aku hanya tersenyum jahil sambil mengedipkan
sebelah mataku. Buru-buru aku langsung menyibukkan diri mencari novel yang
bagus.
Tiba-tiba
Kyle menghampiriku dan memelukku dari belakang, “Kau sudah menemukan novel yang
kau cari?”
“Sudah,
bagaimana denganmu? Sudah menemukan buku yang kau cari itu?”
“Sudah
juga, ayo kita ke kasir lalu kita pergi cari makanan. Aku sangat lapar sekali.”
Lalu
kami pergi ke kasir untuk membayar buku yang kami beli. Setelah itu Kyle
mengajakku pergi ke sebuah kafe untuk makan siang. Dan Kyle memesan banyak
sekali makanan.
“Ya
ampun, banyak sekali lalu siapa yang akan menghabiskan semua ini?”
“Tentu
saja kita berdua, kau terlalu kurus sayang.”
“Tidak,
aku tidak mau menghabiskannya. Kau saja yang menghabiskannya, enak saja aku
terlalu kurus. Padahal kau sendiri yang kurus.”
“Kurus
begini tubuhku berotot juga. Dan yang penting aku tetap tampan dan menawan.”
“Iya
iya, kau memang kekasihku yang paling tampan.”
Mendengar
ucapanku Kyle tersenyum senang apalagi sekarang aku sudah tidak kaku lagi
seperti pertama kali kita pacaran. Sejak berpacaran dengannya aku bisa merasa
lebih santai daripada sebelumnya. Karena Kyle selalu membuatku tersenyum.
“Kyle,
aku permisi dulu ke toilet, ya.”
Kyle
menggangguk lalu aku segera menuju ke toilet yang berada di pojok ruangan. Dan setelah
selesai aku bergegas untuk kembali ke meja. Namun di salah satu pojok ruangan
dekat toilet pria aku melihat seseorang yang aku kenal sedang bercumbu dengan
seorang wanita.
Ya
Tuhan, itu Matt!!! Mengapa dia ada di kota ini apa yang dilakukannya di sini?
Aku masih terpaku melihat pemandangan di depanku. Tiba-tiba Matt menoleh dan
melihatku, ekspresinya terkejut. Buru-buru aku pergi dari tempat itu.
“Sayang,
kau tidak apa-apa? Mengapa wajahmu sangat pucat sekali?”
“Kyle,
aku mau pergi dari tempat ini, please. Tiba-tiba
aku merasa tidak enak badan.”
Kyle
menempelakan telapak tangannya di dahiku, “Badanmu agak hangat sayang. Ya
sudag, mari kita pulang saja. Aku tak ingin kau sampai sakit.”
Setelah
membayar tagihannya, Kyle menggenggam tanganku keluar dari kafe itu. Aku
melirik sekilas Matt yang terlihat sedang mencari-cariku. Dan ia mendapati aku
sedang bergandengan tangan dengan Kyle. Ekspresi wajahnya mengeras seperti
menahan amarah. Tapi aku tidak peduli, sama sekali tidak peduli. Aku hanya tidak
ingin bertemu dan melihat wajahnya saja.
Dalam
perjalanan pulang aku memeluk Kyle erat-erat, aku benar-benar ketakutan setelah
melihat Matt ada di kota ini. Ya Tuhan, aku mohon jauhkanlah pria itu dari
hidupku. Biarkan aku memulai hidupku yang baru bersama Kyle.
Ketika
sampai di apartemen ternyata ada Asya dan Mark. Melihat kedatanganku dan kyle
wajah mereka berdua terlihat bersemu merah. Apalagi rambut Mark terlihat
berantakan sekali.
“Kau
baik-baik saja, Lila?”
“Dia
agak demam, Sya. Makanya aku membawanya pulang saja, aku takut Lila
kenapa-napa.”
“Aku
mau ke dapur dulu ambil minum.”
Asya
mengikuti ke dapur dan mulai bertanya-tanya.
“Kau
dan kyle baik-baik saja, kan? Kalian tidak sedang bertengkar?”
“Aku
dan Kyle baik-baik saja, Sya.”
“Lila,
jangan bohong padaku. Wajahmu jelas-jelas terlihat ada sesuatu yang tidak
beres.”
“Demi
Tuhan, aku dan Kyle baik-baik saja Sya, sungguh. Aku bahagia bersama Kyle.”
“Apa
ada masalah lain yang mengganggumu?”
Aku
menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan, “Matt…”
“Apa?
Matt? “ aku menganggukkan kepalaku untuk membenarkan pertanyaan Asya.
“Aku
melihat Matt berada di kafe yang aku datangi bersama kyle dan Matt melihatku di
sana. Asya aku mohon jangan bahas ini di depan Kyle, aku tak ingin membuatnya
khawatir.”
“Baiklah
aku takkan membahasnya di depan Kyle. Kita harus kembali kedepan, sepertinya
mereka sudah mulai mencemaskan kita?”
“Kau
dan Mark sudah melakukan apa? Mengapa Mark terlihat berantakan sepertinya habis
melakukan percintaan yang sangat panas.”
Mendengar
ucapanku wajah Asya menjadi merah padam. “Ya ampun, jadi benar kalian sudah…”
“Iya,
sudah-sudah aku malu tahu.”
Aku
cekikikan melihat ekspresi wajah Asya. Bahkan aku tak sangggup menahan tawaku
ketika sudah sampai di ruang depan. Membuat Kyle dan Mark terheran-heran
melihatku.
“Ada
apa? Sepertinya ada hal yang lucu?”
“Tidak
ada Mark, ini hanya urusana cewek. Hahahaha…”
“Lila,
sudah… Jangan tertawa terus.”
“Iya-iya
aku berhenti tidak akan tertawa lagi.” Aku langsung menutup mulutku untuk
berhenti tertawa.
“Dhea
kemana?”
“Biasa
sedang bersama pangerannya.”
“Hei,
weekends nanti bagaimana kalau kita pergi berlibur bersama?”
“Ide
yang sangat bagus Mark, kebetulan aku, Asya sama Dhea ujiannya sampai hari Jum’at.”
“Mark
kita pergi ke swalayan di sebrang yuk.”
“Jangan
lama-lama, ya.”
“Kalian
mau titip apa?”
“Apa
saja terserah kalian.”
“Ya
sudah kalau begitu aku sama Mark pergi dulu ya, bye.”
Asya
dan Mark pergi meninggalkan aku berdua dan Kyle. Tiba-tiba saja aku jadi
teringat dengan wajah Matt. Ya Tuhan, aku melihatnya sdang berciuman dengan
seoranga wanita di tempat umum. Apakah dia sudah kembali menjadi pria normal?
“Sayang,
kau tidak apa-apa?” suara Kyle langsung menginterupsi lamunanku.
“Ah,
aku tidak apa-apa, Kyle.”
“Kau
sedang memikirkan apa? Sejak dari toilet di kafe tadi sikapmu agak aneh.”
“Sungguh,
aku baik-baik saja. Maaf sudah membuatmu khawatir.”
Aku
membelai wajah Kyle yang tampan itu, untuk menenangkan perasaanku yang sedang
resah. Lalu Kyle mengambil tanganku dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.
“Aku
takut terjadi sesuatu padamu, sayang. Aku mohon jika ada sesuatu atau masalah
beritahu aku, jangan menyembunyikannya dariku.”
“Aku
pasti akan memberitahumu jika ada sesuatu, Kyle.”
“Terima
kasih, sayang.”
Kyle
mengambil daguku lalu mencium bibirku dengan sangat lembut sekali. Ciuman yang
berbeda dan baru pertama kali aku rasakan. Kyle begitu lembut tidak seperti
Matt. Meskipun ciumannya lembut tapi sangat intens sekali. Tiba-tiba Asya dan
Mark datang sambil berdehem.
“Wah,
kayaknya kita ganggu nih.”
“Ah,
biasa saja kami sedang tidak sibuk, kok.”
“Lila,
wajahmu sangat merah sekali.”
“Biar
saja wajahku memerah. Aku tak peduli, kau takkan bisa mengolok-olokku, Asya.”
Hari
itu kami berempat menghabiskan waktu bersama sambil mengobrol dan menonton TV
dan tepat pukul 6 sore Mark dan Kyle pamit pulang. Setelah mandi aku termenung
sambil duduk di jendela kamarku menatap kosong ke luar. Pikiranku melayang,
mengingat kejadian tadi siang.
Aku
mendengar Dhea sudah pulang dan sedang berbincang-bicang dengan Asya di ruang
depan. Biasanya aku selalu ikut mengobrol dengan mereka berdua tapi malam ini aku
hanya ingin menyendiri saja di dalam kamar. Matt,
untuk apa kau tiba-tiba muncul di kota ini? Melihat wajahmu hanya akan membuat luka di hatiku kembali terbuka.
***
Mata abu-abu itu terus
menghantuiku, tatapannya selalu terfokus mengawasiku. Seperti mata seorang
predator yang sedang mengawasi mangsanya. Ia terus saja mengejarku kemanapun
aku pergi, mengapa aku tak bisa menghindarinya. Tempat ini gelap sekali tidak
ada seorangpun. Aku berteriak memanggil Dhea, Asya dan Kyle tapi mereka tak
kunjung muncul. Hanya sosok pemilik mata abu-abu itu yang muncul dan
mendekatiku.
“Tidak…”
aku berteriak, tubuhku basah oleh keringan jantungku berdetak kencang dan idak
beraturan dan pada detik berikutnya aku mendapati diriku sedang menangis.
“Lila…”
Dhea memanggilku “Kau tidak apa?”
“Lila,
kau kenapa menangis? Apakah kau mimpi itu lagi?”
“Matt…
Matt ada di sini aku bertemu dengannya tadi siang.” Suaraku bergetar.
“Matt
ada dii kota ini?”
“Iya
Dhee, tadi siang Lila cerita padaku.”
“Mau
apa dia ada disini? Tenanglah, Matt tidak akan berani mendekatimu. Kalau sampai
ia berani menyentuhmu aku akan menghajarnya.”
Dhea
dan Asya lalu memelukku untuk menenangkanku. Aku benar-benar sangat beruntung
memiliki sahabat seperti Dhea dan Asya, karena mereka selalu ada di saat aku
senang maupun sedih.
Keesokkan
harinya aku tidak bisa focus pada soal-soal ujian yang sedang aku kerjakan, Matt
selalu berkelebatan di dalam pikiranku. Lila,
you should’ve forget about Matt. Remember you had Kyle beside you now, Kyle
better than Matt. Kata-kata itulah yang aku ucapkan dalam hati berkali
sampai akhirnya aku bisa menyelesaikan ujianku.
Ketika
di kantin aku tidak melihat Kyle sama aku. Dan aku baru ingat bahwa hari ini ia
pergi ke Georgia untuk menemui orang tuanya dan akan kembali pada hari Jum’at.
“Kau
tidak apa-apa sendirian?”
“Aku
tidak apa-apa, kalian berdua pergilah aku akan baik-baik saja.”
“Segera
telepon kami jika ada apa-apa.”
“Iya
Dhee, aku akan langsung menelepon kalian.”
“Kau
hati-hati, ya. Kyle sedang tidak ada soalnya.”
“Ia
akan pulang pada hari Jum’at. Nikmati hari kalian salam buat Gale dan Mark, ya.”
Setelah
kami berpelukan singkat Dhea dan Asya langsung pergi untuk menemua Gale dan
Mark yang sudah menjemput mereka. Ayo Lila saatnya bersenang-senang dengan
dirimu sendiri. Tempat yang pertama aku datangi adalah toko buku, lalu aku
memutuskan untuk membaca buku-buku yang baru aku beli di taman kota.
Sesampainya
di sana aku langsung mencari tempat duduk di dekat sebuah pohon yang rindang. Benar-benar
tempat yang pas untuk membaca buku, meskipun di sini banyak sekali orang-orang
yang melakukan berbagai kegiatan di tempat ini.
Whooaaa…Matt mulai menghantui Lila lg :(
BalasHapuskyknya udh normal tuh si matt ><
hayo…Asya sm Mark ketagihan tu kyknya wkwkwk
Keren :*
next chapternya di tunggu loh ;D
yaahh... Matt menghancurkan segalanya..
BalasHapusPadahal Lila udah bahagia sm Kyle, ckckckck
#pengen tonjok Matt..
Kyle care bgt sm Lila :)
ehm, Mark sm Asya diapartemen pun jadi :p
keseluruhannya bagus kak, aku suka ceritanya ngalir gitu aja. Keren,keren..
Tp sayang typonya masih nongol aja #maklum
Chapter 9 ya kakak :)