Chapter 6
“Untukku?”
Mark
mengangguk pelan sambil tersenyu lalu meraih lenganku dan menciumnya denga
begitu lembut, “Lagu itu adalah ungkapan perasaanku padamu, Asya. Kau mau mau
jadi kekasihku, kan?”
“I DO, Mark.” Ucapku langsung memelukknya dengan begitu erat.
Oh ya Tuhan, aku benar-benar tida menyangka sekali
bahwa pria tampan ini pada akhirnya menyatakan perasaan cinta padaku. Katakan
padaku bahwa ini semua bukan mimpi. Lalu aku melepaskan pelukanku, dan Mark
menggerakkan jari-jarinya menjelajahi wajahku yang sudah memanas.
“Aku
mencintaimu, Asya.” Lalu bibirnya yang seksi itu mengunci bibirku. Sensasi
bibirnya begitu lembut dan hangat di bibirku.
Dengan
ragu aku memberanikan diri untuk menggigit bibir bawahnya. Ternyata perlakuanku
itu malah membuatnya semakin intens menciumku. Jari-jari tangannya yang panjang
menelusup di antara rambutku sedangkan tangannya yang bebas mencengkram erat pinggangku.
Dengan gerakan cepat aku sudah berada dalam pangkuan Mark.
Dan Mark
tidak sedikitpun melepaskan bibirnya dari bibirku. Dengan ciuman yang seintens
ini aku merasakan bahwa kesadaranku
mulai menghilang. Aku hanya merasakan segerombolan kupu-kupu berada di perutku.
Seluruh tubuhku terasa sangat panas sekali akibat sentuhan-sentuhan Mark.
“Sya, I really want you. I wanna made you mine
forever, I want your loves and your body.” Ucapnya di sela-sela ciuman kami
yang sedang panas.
Aku sempat
mengerutkan keningku ketika mendengar ucapannya yang dalam dan
bersungguh-sungguh itu. Mendengar ucapannya yang terdengar begitu posesif itu
membuat dewi batinku tersenyum lebar, ia
menari-nari dan bersalto kesana kemari. Ya
Tuhan, pria tampan ini ingin memiliku. Haruskah aku menjawab pertanyaannya itu?
Kau juga menginginkan pria itu Asya, tak perlu kau
pikir-pikir lagi. Pria tampan itu sangat mencintaimu. Jadi tunggu apalagi ini adalah
kesempatan yang sangat baik, waktunya juga begitu tepat. Kau akan memiliki pria
itu selamanya.
“Asya…” suaranya yang berat itu kembali terdengar
di telingaku dengan begitu seksi dan sangat menggoda. “Would you? Of course if you permit me to do that.”
Aku yang sudah terbuai dengan entengnya
mengatakan, “Ya, I would.”
Mendengar jawaban yang terucap dari bibirku itu
Mark langsung tersenyum. Senyumannya begitu manis. Lalu ia berdiri sambil
menggendongku. Dan membawaku keluar dari ruangan itu. Sesekali ia menciumi
bibirku, tatapannya benar-benar memabukan. Ia mambawaku menaiki tangga dan
berbelok menuju ke sebuah ruangan.
Lalu ia
membuka pintu ruangan itu dan mendorong pintu itu menggunakan kakinya. Sebuah kamar
yang sangat luas sekali dan lagi-lagi masih di dominasi oleh warna putih. Kamarnya
benar-benar sangat indah sekali, aku melihat ada beberapa lukisan wan foto
diriku yang terpasang di dinding kamarnya ini.
Dengan perlahan
Mark membaringkanku di atas tempat tidur yang sangat empuk dan sangat besar
itu. Benar-benar tempat tidur yang sangat indah dan nyaman sekali. Mark menimpa
tubuhku dan kembali menciumi bibirku lalu turun ke leherku. Dan ciumannya di
leherku itu membuat tubuhku bergetar hebat.
“Aku akan
melakukannya jika kau benar-benar mau, Sya. Aku takkan memaksamu.”
“I want you since the first time we meet, Mark.”
“Oke, I
will do it slowly I don’t wanna made you feel hurt.”
“I trust you, Mark.” Ucapku sambil tersenyum.
Dan Mark
mulai menciumi wajah dan leherku dengan begitu perlahan dan mulai turun kea rah
dadaku. Dengan perlahan ia membuka tali yang melilit di leherku dan menariknya
dengan perlahan-lahan. Gaun silver itu pun meluncur dengan mulus dari tubuhku
yang sudah hampir telanjang.
Mark berdiri
dan membuka kemeja hitam yang di pakainya lalu melemparnya begitu saja ke atas
lantai. Aku tak berkedip melihat tubuhnya yang atletis dan beroto itu, Mark
benar-benar sangat seksi sekali. Dan itu membuat perutku semakin bergulung-gulung.
Dengan perlahan ia merayap di atas tubuhku, sentuhan tangannya di perutku membuat aku menggelinjang.
Mark menjalankan
jari-jarinya di atas perutku menuju ke arah dadaku, membuatku secara reflex melengkung-lengkungkan
tubuhku karena geli. Tiba-tiba saja tangannya yang panas menangkup di salah
satu buah dadaku. Aku mengerang ketika jari-jarinya itu memelintir putingnya
dengan lembut. Membuat buah dadaku semakin mengeras dan putingnya mencuat
keluar.
Aku tak
bisa memperhatikan dengan jelas apa yang Mark lakukan padaku, karena aku
terlalu sibuk menyatukan kembali kesadaranku yang meledak-ledak karena sensai
yang aku rasakan. Sedetik kemudian aku merasakan Mark mulai melumat buah dadaku
dan menggigit putingnya sehingga aku berteriak.
“Ah…”
“Maaf…” jawabnya
sambir tersenyum dengan suara yang berat.
Tiba-tiba
aku merasakan tubuhku bergetar dengan begitu hebatnya sepertinya sesuatu dalam
tubuhku akan meledak dengan sangat hebat, “Mark…” aku hanya bisa mengerang
dengan suara serak.
“Tidak
sayang, kau jangan keluar sekarang. Aku belum selesai.”
Lalu aku
medengar suara risleting di buka dan suara robekan foil. Aku terkesiap ketika
sesuatu yang sekeras batu berusaha memasuki milikku. “Tenang sayang, ini pasti
akan membuatmu kesakitan. Kalau ingin berteriaklah, karena aku akan
melakukannya dengan cukup keras.”
Dengan sekali
hentakan aku merasa sesuatu yang robek dalam diriku, sedangkan aku terpekik
tertahan. Merasakan rasa sakitnya yang menjalar keseluruh tubuhku. Aku mencengkram
bantal kuat-kuat, Mark mencium bibirku dengan lembut dan mencium air mata yang
keluar dari sudut mataku.
Dengan gerakan
perlahan ia mulai bergerak keluar dan masuk secara berirama. Dan rasa sakit itu
berangsur-angsur menghilang, di gantikan oleh rasa nikmat yang membuatku itu
bergoyang kesana kemari. Menyelaraskan gerakanku dengan gerakan Mark.
Dan akhirnya
aku mengalami orgasme keduaku berbarengan dengan Mark. Kami saling memeluk
dengan sangat erat dan memanggil nama masing-masing ketika pelepasan itu
mencapai puncaknya. Mark mencium keningku dengan nafas yang masih memburu,
selama beberapa menit kami berada dalam posisi seperti itu sampai nafas kami berdua
kembali normal.
Dengan perlahan
Mark mengeluarkan dirinya dari dalam diriku lalu berguling ke sampingku. Wajahnya
berseri-seri, rambutnya acak-acakan dan basah oleh keringat. Ia lalu menyandarkan
kepalaku ke dadanya. Dan aku merasa sangat nyaman sekali berada di dalam
pelukannya seperti ini.
“Ayo kita
pergi mandi, sayang.”
“Mark,
tubuhku benar-benar lemah dan sakit. Bisakah kita di tempat tidur dulu beberapa
saat, aku mohon.”
“Baiklah
sayang…” Mark kembali mendekapku erat dan menciumi kepalaku.
Setelah rasa
lelah itu hilang kami pergi menuju kamar mandi sambil bergandengan tangan. Lalu
mark mengajakku makan di sebuah restoran yang sangat mewah dan sangat romantic
lalu mengantarkanku pulang. Karena hari sudah mulai malam ia mengingatkanku
tentang ujian besok dan aku harus belajar.
Mark tidak
ikut mampir karena harus bertemu dengan kliennya di galeri.
Selama di
dalam lift aku memandangi pantulan wajahku. Aku merasa berbeda setelah apa yang
terjadi di antara aku dan Mark tadi. Pipiku terlihat memerah setelah percintaan
yang panas itu. Bagaimana aku harus menceritakannya pada Dhea dan Lila? Aku tak
bisa membayangkan reaksi mereka berdua nanti seperti apa.
Dengan tangan
gemetaran aku memutar handle pintu dan masuk kedalam.
“Malam
semua.” Sapaku berusaha untuk biasa saja.
“Hai,
akhirnya kau pulang juga. Aku pikir kau kenapa-kenapa.”
“Aku
baik-baik saja, Lila. Ya sudah kalau begitu aku mau mandi dulu lalu bergabung dengan
kalian untuk belajar.”
***
Hari
pertama ujian aku lalui dengan lancer dan tanpa halangan. Setelah ujian selesai
Asya langsung menghilang entah kemana. Ia hanya bilang bahwa Mark sudah
menjemputnya, jadi tinggallah aku dan Dhea mengobrol di kantin sambil menunggu
Gale yang belum menjemputnya.
Sedangkan
Kyle belum keluar dari kelasnya, jadi aku pikir lebih baik menunggunya di
kantin saja. Siang itu kami sedang membicarakan sikap Asya yang agak aneh
setelah bertemu dengan Mark kemarin. Rasa-rasanya ada yang ia sembunyikan dari
aku dan Dhea.
“Dhee, kau
memperhatikan tidak jika Asya agak aneh sejak kemarin.”
“Aku juga
merasa seperti itu, sepertinya terjadi suatu diantara dia dan Mark. Tapi sepertinya
mereka baik-baik saja, kan. Kau bisa melihatnya ketika menerima telepon dari
Mark tadi malam.”
“Ya,
apapun itu aku benar-benar ikut bahagia untuknya dan untukmu, Dhee.”
Tiba-tiba
ponsel Dhee berdengung ia langsung tersenyum setelah membaca pesan yang di
terimanya itu, “Lila, kau taka pa sendirian disini? Karena Gale sudah ada di
depan sekarang.”
“Pergilah
Dhee, aku taka pa sendirian di sini. Jangan biarkan pangeranmu menunggu terlalu
lama.”
“Baiklah,
kau hati-hati ya, aku pergi. Bye..” pamitnya sambil memberikan pelukan singkat
padaku lalu pergi keluar dari kantin.
Setelah Dhee
pergi aku kembali melanjutkan membaca buku yang tadi sempat terhenti.
yeayy.. The Craziest Chapter for Mark and Asya is coming...
BalasHapusso Crazy :p
berasa jdi Asya beneran deh, ikutan degdeg ser.
Mark keren bgt, ckckck
kasian Gale sm Kyle blm kebgian scene gitu hahaa
tapi typonya masih menyebar dibeberapa titik ya kak :(
oke kak, oke bgt :p
berhasil buat yg baca panas dingin.
Chapter selanjutnya yaa :)
:O
BalasHapusckckck… ternyata Mark lebih gerak cepat dari Eric #eeh
:D