Sabtu, 01 Desember 2012

Chapter 6


Chapter  6



                “Untukku?”
                Mark mengangguk pelan sambil tersenyu lalu meraih lenganku dan menciumnya denga begitu lembut, “Lagu itu adalah ungkapan perasaanku padamu, Asya. Kau mau mau jadi kekasihku, kan?”
                I DO, Mark.” Ucapku langsung  memelukknya dengan begitu erat.

                Oh ya Tuhan, aku benar-benar tida menyangka sekali bahwa pria tampan ini pada akhirnya menyatakan perasaan cinta padaku. Katakan padaku bahwa ini semua bukan mimpi. Lalu aku melepaskan pelukanku, dan Mark menggerakkan jari-jarinya menjelajahi wajahku yang sudah memanas.

                “Aku mencintaimu, Asya.” Lalu bibirnya yang seksi itu mengunci bibirku. Sensasi bibirnya begitu lembut dan hangat di bibirku.

                Dengan ragu aku memberanikan diri untuk menggigit bibir bawahnya. Ternyata perlakuanku itu malah membuatnya semakin intens menciumku. Jari-jari tangannya yang panjang menelusup di antara rambutku sedangkan tangannya yang bebas mencengkram erat pinggangku. Dengan gerakan cepat aku sudah berada dalam pangkuan Mark.

                Dan Mark tidak sedikitpun melepaskan bibirnya dari bibirku. Dengan ciuman yang seintens ini  aku merasakan bahwa kesadaranku mulai menghilang. Aku hanya merasakan segerombolan kupu-kupu berada di perutku. Seluruh tubuhku terasa sangat panas sekali akibat sentuhan-sentuhan Mark.

                “Sya, I really want you. I wanna made you mine forever, I want your loves and your body.” Ucapnya di sela-sela ciuman kami yang sedang panas.

                Aku sempat mengerutkan keningku ketika mendengar ucapannya yang dalam dan bersungguh-sungguh itu. Mendengar ucapannya yang terdengar begitu posesif itu membuat dewi batinku tersenyum  lebar, ia menari-nari dan bersalto kesana kemari. Ya Tuhan, pria tampan ini ingin memiliku. Haruskah aku menjawab pertanyaannya itu?
                Kau juga menginginkan pria itu Asya, tak perlu kau pikir-pikir lagi. Pria tampan itu sangat  mencintaimu. Jadi tunggu apalagi ini adalah kesempatan yang sangat baik, waktunya juga begitu tepat. Kau akan memiliki pria itu selamanya.

                “Asya…” suaranya yang berat itu kembali terdengar di telingaku dengan begitu seksi dan sangat menggoda. “Would you? Of course if you permit me to do that.”

                Aku yang sudah terbuai dengan entengnya mengatakan, “Ya, I would.”

                Mendengar jawaban yang terucap dari bibirku itu Mark langsung tersenyum. Senyumannya begitu manis. Lalu ia berdiri sambil menggendongku. Dan membawaku keluar dari ruangan itu. Sesekali ia menciumi bibirku, tatapannya benar-benar memabukan. Ia mambawaku menaiki tangga dan berbelok menuju ke sebuah ruangan.

                Lalu ia membuka pintu ruangan itu dan mendorong pintu itu menggunakan kakinya. Sebuah kamar yang sangat luas sekali dan lagi-lagi masih di dominasi oleh warna putih. Kamarnya benar-benar sangat indah sekali, aku melihat ada beberapa lukisan wan foto diriku yang terpasang di dinding kamarnya ini.

                Dengan perlahan Mark membaringkanku di atas tempat tidur yang sangat empuk dan sangat besar itu. Benar-benar tempat tidur yang sangat indah dan nyaman sekali. Mark menimpa tubuhku dan kembali menciumi bibirku lalu turun ke leherku. Dan ciumannya di leherku itu membuat tubuhku bergetar hebat.

                “Aku akan melakukannya jika kau benar-benar mau, Sya. Aku takkan memaksamu.”
                I want you since the first time we meet,  Mark.”
                “Oke, I will do it slowly I don’t wanna made you feel hurt.”
                “I trust you, Mark.” Ucapku sambil tersenyum.

                Dan Mark mulai menciumi wajah dan leherku dengan begitu perlahan dan mulai turun kea rah dadaku. Dengan perlahan ia membuka tali yang melilit di leherku dan menariknya dengan perlahan-lahan. Gaun silver itu pun meluncur dengan mulus dari tubuhku yang sudah hampir telanjang.

                Mark berdiri dan membuka kemeja hitam yang di pakainya lalu melemparnya begitu saja ke atas lantai. Aku tak berkedip melihat tubuhnya yang atletis dan beroto itu, Mark benar-benar sangat seksi sekali. Dan itu membuat perutku semakin bergulung-gulung. Dengan perlahan ia merayap di atas tubuhku, sentuhan tangannya di  perutku membuat aku menggelinjang.

                Mark menjalankan jari-jarinya di atas perutku menuju ke arah dadaku, membuatku secara reflex melengkung-lengkungkan tubuhku karena geli. Tiba-tiba saja tangannya yang panas menangkup di salah satu buah dadaku. Aku mengerang ketika jari-jarinya itu memelintir putingnya dengan lembut. Membuat buah dadaku semakin mengeras dan putingnya mencuat keluar.

                Aku tak bisa memperhatikan dengan jelas apa yang Mark lakukan padaku, karena aku terlalu sibuk menyatukan kembali kesadaranku yang meledak-ledak karena sensai yang aku rasakan. Sedetik kemudian aku merasakan Mark mulai melumat buah dadaku dan menggigit putingnya sehingga aku berteriak.

                “Ah…”
                “Maaf…” jawabnya sambir tersenyum dengan suara yang berat.

                Tiba-tiba aku merasakan tubuhku bergetar dengan begitu hebatnya sepertinya sesuatu dalam tubuhku akan meledak dengan sangat hebat, “Mark…” aku hanya bisa mengerang dengan suara serak.

                “Tidak sayang, kau jangan keluar sekarang. Aku belum selesai.”

                Lalu aku medengar suara risleting di buka dan suara robekan foil. Aku terkesiap ketika sesuatu yang sekeras batu berusaha memasuki milikku. “Tenang sayang, ini pasti akan membuatmu kesakitan. Kalau ingin berteriaklah, karena aku akan melakukannya dengan cukup keras.”

                Dengan sekali hentakan aku merasa sesuatu yang robek dalam diriku, sedangkan aku terpekik tertahan. Merasakan rasa sakitnya yang menjalar keseluruh tubuhku. Aku mencengkram bantal kuat-kuat, Mark mencium bibirku dengan lembut dan mencium air mata yang keluar dari sudut mataku.

                Dengan gerakan perlahan ia mulai bergerak keluar dan masuk secara berirama. Dan rasa sakit itu berangsur-angsur menghilang, di gantikan oleh rasa nikmat yang membuatku itu bergoyang kesana kemari. Menyelaraskan gerakanku dengan gerakan Mark.

                Dan akhirnya aku mengalami orgasme keduaku berbarengan dengan Mark. Kami saling memeluk dengan sangat erat dan memanggil nama masing-masing ketika pelepasan itu mencapai puncaknya. Mark mencium keningku dengan nafas yang masih memburu, selama beberapa menit kami berada dalam posisi seperti itu sampai nafas kami berdua kembali normal.

                Dengan perlahan Mark mengeluarkan dirinya dari dalam diriku lalu berguling ke sampingku. Wajahnya berseri-seri, rambutnya acak-acakan dan basah oleh keringat. Ia lalu menyandarkan kepalaku ke dadanya. Dan aku merasa sangat nyaman sekali berada di dalam pelukannya seperti ini.

                “Ayo kita pergi mandi, sayang.”
                “Mark, tubuhku benar-benar lemah dan sakit. Bisakah kita di tempat tidur dulu beberapa saat, aku mohon.”
                “Baiklah sayang…” Mark kembali mendekapku erat dan menciumi kepalaku.

                Setelah rasa lelah itu hilang kami pergi menuju kamar mandi sambil bergandengan tangan. Lalu mark mengajakku makan di sebuah restoran yang sangat mewah dan sangat romantic lalu mengantarkanku pulang. Karena hari sudah mulai malam ia mengingatkanku tentang ujian besok dan aku harus belajar.

                Mark tidak ikut mampir karena harus bertemu dengan kliennya di galeri.
                Selama di dalam lift aku memandangi pantulan wajahku. Aku merasa berbeda setelah apa yang terjadi di antara aku dan Mark tadi. Pipiku terlihat memerah setelah percintaan yang panas itu. Bagaimana aku harus menceritakannya pada Dhea dan Lila? Aku tak bisa membayangkan reaksi mereka berdua nanti seperti apa.
                Dengan tangan gemetaran aku memutar handle pintu dan masuk kedalam.
                                                                                    
                “Malam semua.” Sapaku berusaha untuk biasa saja.
                “Hai, akhirnya kau pulang juga. Aku pikir kau kenapa-kenapa.”
                “Aku baik-baik saja, Lila. Ya sudah kalau begitu aku mau mandi dulu lalu bergabung dengan kalian untuk belajar.”

***

                Hari pertama ujian aku lalui dengan lancer dan tanpa halangan. Setelah ujian selesai Asya langsung menghilang entah kemana. Ia hanya bilang bahwa Mark sudah menjemputnya, jadi tinggallah aku dan Dhea mengobrol di kantin sambil menunggu Gale yang belum menjemputnya.

                Sedangkan Kyle belum keluar dari kelasnya, jadi aku pikir lebih baik menunggunya di kantin saja. Siang itu kami sedang membicarakan sikap Asya yang agak aneh setelah bertemu dengan Mark kemarin. Rasa-rasanya ada yang ia sembunyikan dari aku dan Dhea.

                “Dhee, kau memperhatikan tidak jika Asya agak aneh sejak kemarin.”
                “Aku juga merasa seperti itu, sepertinya terjadi suatu diantara dia dan Mark. Tapi sepertinya mereka baik-baik saja, kan. Kau bisa melihatnya ketika menerima telepon dari Mark tadi malam.”
                “Ya, apapun itu aku benar-benar ikut bahagia untuknya dan untukmu, Dhee.”
                Tiba-tiba ponsel Dhee berdengung ia langsung tersenyum setelah membaca pesan yang di terimanya itu, “Lila, kau taka pa sendirian disini? Karena Gale sudah ada di depan sekarang.”
                “Pergilah Dhee, aku taka pa sendirian di sini. Jangan biarkan pangeranmu menunggu terlalu lama.”
                “Baiklah, kau hati-hati ya, aku pergi. Bye..” pamitnya sambil memberikan pelukan singkat padaku lalu pergi keluar dari kantin.

                Setelah Dhee pergi aku kembali melanjutkan membaca buku yang tadi sempat terhenti.

2 komentar:

  1. yeayy.. The Craziest Chapter for Mark and Asya is coming...
    so Crazy :p

    berasa jdi Asya beneran deh, ikutan degdeg ser.
    Mark keren bgt, ckckck
    kasian Gale sm Kyle blm kebgian scene gitu hahaa

    tapi typonya masih menyebar dibeberapa titik ya kak :(

    oke kak, oke bgt :p
    berhasil buat yg baca panas dingin.

    Chapter selanjutnya yaa :)

    BalasHapus
  2. :O

    ckckck… ternyata Mark lebih gerak cepat dari Eric #eeh

    :D

    BalasHapus