Chapter 16
Seminggu
berlalu semenjak Asya dan Mark bertengkar. Kali ini kami semua sedang
mempersiapkan perlengkapan untuk kami bawa saat berlibur. Akhir minggu ini
kampus kami mengadakan liburan ke Hawaii bagi seluruh mahasiswa untuk semua
jurusan di kampus. Meskipun ini acaranya untuk para mahasiswa tapi kami di
perkenankan untuk mengajak anggota keluarga atau pacar kami. Dhea dan Asya
mengajak Gal e dan Mark, sedangkan Zach tidak bisa menemaniku karena pada hari
yang sama ia harus melakukan perjalanan bisnis ke Swiss selama satu minggu.
Sehari sebelum keberangkatan kami ke Hawaii dan keberangkatan
Zach ke Swiss.
“Kau
tidak ikut bersama kami ke Hawaii, Zach?”
“Tidak
Gale, sebenarnya aku sangat ingin sekali ikut untuk menemani Lila. Sayangnya
nanti malam aku harus berangkat ke Swiss, aku akan berada di sana selama satu
minggu. Aku titip Lila sama kalian.”
“Sayang,
sekali tadinya kami berharap kau akan bisa ikut bergabung bersama kami. Kau
tenang saja, kami akan menjaga Lila.”
“Aku dan
Mark pamit, ya. Ada yang harus kami beli untuk besok. Bye semuanya.”
“Aku dan
Gale juga pergi dulu, ya. Bye.”
Akhirnya
tinggalah aku dan Zach berdua saja di apartemen. Menghabiskan waktu bersama
kami sebelum Zach pergi ke Swiss. Selama satu minggu aku akan berpisah dari
Zach, belum apa-apa aku sudah merasa rindu padanya apalagi kalau Zach sudah
berangkat nanti.
“Zach,
ayo kita beli makanan Cina kesukaanku. Aku lapar.”
“Baiklah
kita akan membelinya. Mau pakai mobil atau berjalan kaki?”
“Berjalan
kaki sepertinya lebih menyenangkan lagipula jaraknya hanya dua blok dari sini.”
“Ayo kita
pergi sekarang sayang.”
Kami pun
bergegas berangkat menuju ke restoran Cina kesukaanku. Kami keluar dari
apartemen sambil bergandengan tangan dengan erat. Bahkan ketika dalam
perjalanan tak segan-segan Zach mendaratkan ciumannya di bibirku. Dan apa yang
di lakukannya itu membuat kami menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada
di sana.
“Zach,
berhenti berbuat seperti itu kau membuat kita jadi pusat perhatian orang-orang.”
“Aku tak
peduli, sayang. Aku hanya ingin menunjukkan pada orang-orang bahwa kau adalah
kekasihku.”
“Zach,
berhenti membuat wajahmu memanas dan memerah.”
Zach
hanya tersenyum mendengar perkataanku. Akhirnya kami pun sampai, karena
restoran sedang ramai aku dan Zach menunggu pesanan kami selesai sambil duduk dan
berbincang. Aku langsung terpaku ketika mataku memandang ke arah sebuah meja
yang berada di pojok ruangan restoran. Ya, aku melihat Kyle bersama beberapa
temannya sedang makan sambil berbincang di situ. Aku langsung mengalihkan
pandanganku mentapan wajah Zach ketika Kyle memandangku.
“Hei, kau
kenpa sayang?”
“Aku
tidak apa-apa, sayang. Aku hanya ingin cepat-cepat sampai di apartemen saja
lalu kita makan bersama. Aku tak mau membuang-buang waktuku hari ini, aku ingin
menghabiskan hari ini hanya bersamamu, Zach.”
“Aku juga
hanya ingin menghabiskan hari ini hanya bersamamu, sayang. Karena selama
seminggu kedepan aku pasti akan sangat merindukanmu.”
Zach
mengambil daguku lalu menciumnya dengan sangat lembut sekali. Ketika ciuman
kami berdua semakin memanas tiba-tiba pelayan mengantarkan pesanan kami. Dengan
wajah yang sedikit memerah akhirnya aku dan Zach pun kembali ke apartemen.
Sesampainya di sana apartemen masih kosong, berarti belum ada yang pulang. Kami
berdua langsung memakan makanan yang sudah kami pesan sambil duduk di depan TV.
“Kau
harus langsung meneleponku jika sudah sampai di Swiss.”
“Aku
pasti akan langsung meneleponmu setelah mendarat, sayang.”
Aku
melingkarkan lenganku memeluk Zach dengan erat dan membenamkan wajahku di
dadanya yang bidang itu, “Aku akan merindukanmu.”
Ciuman
yang panas menjadi perpisahan kami malam itu, sebelum Zach akhirnya harus pamit
untuk pergi ke Swiss dengan penerbangan malam itu. Sedangkan aku langung pergi
tidur karena besok pagi-pagi sekali kami harus berangkat ke kampus dan menuju
ke Hawaii untuk berliburan, andai saja Zach bisa ikut, pasti akan sangat
menyenangkan sekali.
Keesokkan
harinya pagi-pagi sekali aku, Dhea, Gale, Mark dan Asya sudah berada di kampus
pagi-pagi sekali. Udaranya juga masih sangat dingin sekali, tadi ketika dalam
perjalanan menuju ke kampus Zach menelepon bahwa ia sedang dalam perjalanan
menuju ke hotel untuk melakukan meeting.
“Pagi ini
sangat dingin sekali, ya. Asya sama Mark kemana?”
“Katanya
mereka mau beli kopi untuk kita di minimarket sebrang.”
“Aku
masih mengantuk.”
“Memangnya
semalam kau habis melakukan apa dengan Zach, La?”
“Kami
tidak melakukan apa-apa Dhee.”
“Benarkah
kalian tidak melakukan apa-apa?”
“Tidak
melakukan apapun, sungguh. Kami hanya pergi membeli makan lalu kembali lagi ke
apartemen dan makan bersama.”
“Sepertinya
ada yang terus-terusan memandangimu, La?”
“Siapa
Gale? Biarkan saja mungkin orang itu sedang tidak ada kerjaan.”
“Hai, ini
kopinya masih panas.”
“Terima
kasih, Sya.”
Kami pun
minum kopi bersama dan tak lama kemudian kami naik ke dalam bis dan pergi
menuju ke bandara. Dalam perjalanan aku pakai untuk tidur dan tidur. Ketika
dalam pesawat aku duduk tepat di belakang Asya dan Mark, tiba-tiba Kyle duduk
di sebelahku dan aku berusaha untuk mengacuhkannya.
“Hai,
bolehkah aku duduk di sini?”
“Silakan,”
jawabku datar dan aku kembali memandangi keadaan luar lewat jendelan.
“Aku…
Minta maaf, La?”
“Minta
maaf untuk apa?” masih memandangi keuar.
“Untuk
kewajian waktu itu, ketika aku menyeretmu. Aku benar-benar minta maaf, kau tahu
aku benar-benar marah karena melihatmu berciuman dengan pria lain.”
Aku
memandanginy dengan tatapan nanar, “Biar aku jelaskan padamu, Kyle. Pria yang
kau ihat di dalam foto itu adalah Matt, ia mantan kekasihku dan ia menciumku
dengan paksa. Entah siapa yang memotret kami dan pria yang kau lihat waktu di
Costa Coffee Bar dia Zach rekan bisnisnya Gale dan ia kekasihku.”
“Aku baru
sadar bahwa aku masih mencintaimu, La.”
“Semua
sudah terlambat Kyle, kau sudah memiliki kekasih begitupun juga denganku. Aku
bahagia bersama Zach, maaf kyle. jadi aku rasa sebaiknya kita berteman saja.”
“Aku akan
tetap menunggumu Lila, sampai kau mau kembali lagi padaku.”
“Terserah
kau saja, aku mau tidur.”
Aku
kembali memasangkan earphone dan memakai penutup mata. Hal itu aku lakukan
karena aku tidak mau berbicara dan menatap mata Kyle lebih lama, karena semua
itu hanya akan semakin mmebuatku menderita. Aku tak mau menyakiti Zach, dia
sangat baik dan aku mulai mencintainya. Meskipun aku tak memungkiri bahwa aku
masih mencintai Kyle, tapi aku tak bisa memilihnya dan tak bisa kembali lagi
padanya.
Setelah
penerbangan yang cukup panjang, akhirnya rombongan kami sampai di bandara
Honolulu dari situ kami semua pergi menuju ke hotel yang sudah kami pesan
sebelumnya. Dan kali ini aku akan tidur sendiri, biasanya jika liburan seperti
ini kami bertiga selalu berada dalam satu kamar. Tapi kali ini tidak mungkin,
karena Dhea dan Asya mengajak kekasih mereka.
Ketika
sampai di kamar aku langsung menjatuhkan diriku di atas tempat tidur dan
memandangi langit-langit kamar. Tiba-tiba ponselku bordering dan di layarnya
tertulis nama Dhea.
“Iya
Dhee… Kalian duluan saja. Aku mau mandi dulu… Oke, kita ketemu di bawah saja,
ya. Bye.”
Aku
buru-buru pergi ke kamar mandi, setelah selesai mandi dan berpakaian aku
langsung menuju ke lobi karena sahabatku sudah menunggu di sana. Karena kami
sampai di Hawaii pada sore hari jadinya kami memutuskan untuk berjalan-jalan
sambil menunggu waktu untuk makan malam saja. Dan akhirnya kami menemukan
sebuah kafe dekat pantai yang menyuguhkan panorama laut yang sangat indah. Dan
kami memutuskan untuk makan malam dan menghabiskan malam di sana.
Di
sela-sela makan malam Zach sempat menelepon dan menanyakan kabarku. Lalu
setelah makan malam selesai kami melanjutkannya dengan acara minum-minum dan
malam ini aku sedang ingin mabuk. Tepat pukul satu malam kami kembali kehotel
dalam keadaan mabuk berat. Ketik dalam perjalanan menuju ke kamar aku bertemu
dengan Kyle.
“Lila,
sepertinya kau mabuk berat. Ayo aku antar kau kembali ke kamar.” Kyle memapahku
menuju ke kamarku.
“Hai
Kyle, aku tidak mau mabuk kau tahu… Kau masih bersama wanita itu?”
“iya
Lila.”
“Baguslah,
karena aku masih berharap kalian untuk putus.”
“Kau
menginginkan aku untuk berpisah dengan pacarku saat ini Lila?”
“Ya, kau
tahu meskipun saat ini aku berpacaran dengan Zach jauh di dalam hatiku… Aku
masih mencintaimu Kyle. Kau tahu aku mencintaimu dan Zach, perasaan ini
membuatku pusing.”
Akhirnya
Kyle sampai di kamarku dan membaringkanku di atas tempat tidur. Entah siapa
yang memulai tahu tahu kami terlibat dalam ciuman yang sangat panas dan sangat
liar sekali. Bahkan aku merasakan tangan Kyle yang menyusup kedalam pakainku
dan menangkup payudaraku dan meremasnya dengan penuh gairah.
Tubuhku
panas dengan gairah yang meletup-letup sedangkan Kyle terus menciumiku tanpa
henti. Setiap kali mulutnya menyentuh kulitku aku langsung menggelinjang dan merasakan
kulitku terbakar. Bahkan aku mulai meremas rambutnya dan menggantukan tanganku
kelehernya sambil melengkung-lennngkungkan tubuhku. Aku tak tahu sejak kapan
semua pakaianku di lucuti begitu juga dengan Kyle yang sudah tidak memakai
apapun di tubuhnya.
Ia
mendaratkan mulutnya di atas putingku dan menghisapnya dengan kuat membuatku
mengerang tertahan. Jari-jarinya menari di seluruh tubuhku memperainkan gairah
yang sedang membakar tubuhku saat ini. Sampai akhirnya aku merasakan dirinya
mendesak masuk kedalam diriku aku aku terpekik tertahan ketika dirinya terasa
penuh dan tepat berada di dalam diriku. Aku merasakan gerakannya mendorong
keluar masuk dalam tubuhku, mengalirkan arus listrik keseluruh tubuh. Kami
terhanyut dalam percintaan yang panas malam itu dan membuatku melupakan
segalanya.
Sinar
matahari yang menembus ke dalam kamar dan mengenai wajahku mau tak mau
memaksaku untuk membuka mataku. Dengan perlahan aku duduk, aku kaget melihat
tubuhku yang tidak memakai apapun ketika selimut yang kupakai merosot ke bawah.
Dan yang membuatku hampir pingsan adalah ketika melihat Kyle yang sedang tidur
di sampingku dan tidak menggunakan pakaian juga. Ya Tuhan apa yang terjadi.
“Lila…
Kamu tenang dulu biarkan aku menjelaskan semuanya.”
“Tidak
ada yang harus kau jelaskan lagi, Kyle. sebaiknya kau pergi dari kamarku
sekarang juga. Aku sangat sangat membencimu, Kyle.”
Lalu Kyle
memakai pakaiannya dan segera keluar dari kamarku. Sepeninggalan Kyle aku hanya
bisa menangis terisak. Ya Tuhan, bagaimana semua ini bisa terjadi? Aku sudah
mengkhianati Zach. Liburan kali ini benar-benar bencana untukku, aku
benar-benar tidak bisa menikmati liburan kali ini. Namun aku berusaha untuk
bersikap biasa saja, karena aku tidak mau membuat Dhea dan Asya curiga padaku.
Seminggu setelah kejadian itu aku mulai
bersikap biasa saja. Meskipun Kyle terus-terusan mendekatiku ketika di kampus.
Aku benar-benar tidak ingin melihat wajahnya lagi dan untung saja Dhea dan Asya
berhasil menjauhkan aku dari dia ketika kami sedang berada di kampus.
Kyle
benar-benar membuatku pusing dan itu berimbas pada nafsu makanku yang jadi
lebih banyak dari biasanya. Kadang Dhea dan Asya sampai memelototiku ketika
makan karena porsi yang ku makan tidak seperti biasanya.
“Apa?”
“Kau
makan banyak sekali, La?”
“Aku
sangat lapar Dhee.”
“Tapi
biasanya kau tidak bisa makan dengan pori sebanyak ini, La. Badanmu juga jadi
agak berisi.”
“Kau
bagaimana sih Sya, kan sekarang makanku banyak wajar saja jika tubuhku saat ini
agak berisi.”
Aku
kembali melanjutkan makanku tanpa menghiraukan pertanyaan-pertanyaan dari Dhea
dan Asya. Memangnya ada yang salah dengan diriku? Aku kan hanya jadi suka makan
saja.
“Aku dan
Dhea mau pergi ke swalayan kau mau menitip apa, La?”
“Sekotak
susu coklat saja.”
“Kau kan
tidak suka minum susu colkat, Lila.”
“Tapi aku
ingin minum itu, Dhee.”
“Apa ada
lagi yang?”
“Ya,
belikan aku mangga, ya. Tapi yang muda.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar