Minggu, 09 Desember 2012

Chapter 16


Chapter 16

                Seminggu berlalu semenjak Asya dan Mark bertengkar. Kali ini kami semua sedang mempersiapkan perlengkapan untuk kami bawa saat berlibur. Akhir minggu ini kampus kami mengadakan liburan ke Hawaii bagi seluruh mahasiswa untuk semua jurusan di kampus. Meskipun ini acaranya untuk para mahasiswa tapi kami di perkenankan untuk mengajak anggota keluarga atau pacar kami. Dhea dan Asya mengajak Gal e dan Mark, sedangkan Zach tidak bisa menemaniku karena pada hari yang sama ia harus melakukan perjalanan bisnis ke Swiss selama satu minggu.
Sehari sebelum keberangkatan kami ke Hawaii dan keberangkatan Zach ke Swiss.

                “Kau tidak ikut bersama kami ke Hawaii, Zach?”
                “Tidak Gale, sebenarnya aku sangat ingin sekali ikut untuk menemani Lila. Sayangnya nanti malam aku harus berangkat ke Swiss, aku akan berada di sana selama satu minggu. Aku titip Lila sama kalian.”
                “Sayang, sekali tadinya kami berharap kau akan bisa ikut bergabung bersama kami. Kau tenang saja, kami akan menjaga Lila.”
                “Aku dan Mark pamit, ya. Ada yang harus kami beli untuk besok. Bye semuanya.”
                “Aku dan Gale juga pergi dulu, ya. Bye.”

                Akhirnya tinggalah aku dan Zach berdua saja di apartemen. Menghabiskan waktu bersama kami sebelum Zach pergi ke Swiss. Selama satu minggu aku akan berpisah dari Zach, belum apa-apa aku sudah merasa rindu padanya apalagi kalau Zach sudah berangkat nanti.

                “Zach, ayo kita beli makanan Cina kesukaanku. Aku lapar.”
                “Baiklah kita akan membelinya. Mau pakai mobil atau berjalan kaki?”
                “Berjalan kaki sepertinya lebih menyenangkan lagipula jaraknya hanya dua blok dari sini.”
                “Ayo kita pergi sekarang sayang.”

                Kami pun bergegas berangkat menuju ke restoran Cina kesukaanku. Kami keluar dari apartemen sambil bergandengan tangan dengan erat. Bahkan ketika dalam perjalanan tak segan-segan Zach mendaratkan ciumannya di bibirku. Dan apa yang di lakukannya itu membuat kami menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di sana.

                “Zach, berhenti berbuat seperti itu kau membuat kita jadi pusat perhatian orang-orang.”
                “Aku tak peduli, sayang. Aku hanya ingin menunjukkan pada orang-orang bahwa kau adalah kekasihku.”
                “Zach, berhenti membuat wajahmu memanas dan memerah.”
               
                Zach hanya tersenyum mendengar perkataanku. Akhirnya kami pun sampai, karena restoran sedang ramai aku dan Zach menunggu pesanan kami selesai sambil duduk dan berbincang. Aku langsung terpaku ketika mataku memandang ke arah sebuah meja yang berada di pojok ruangan restoran. Ya, aku melihat Kyle bersama beberapa temannya sedang makan sambil berbincang di situ. Aku langsung mengalihkan pandanganku mentapan wajah Zach ketika Kyle memandangku.

                “Hei, kau kenpa sayang?”
                “Aku tidak apa-apa, sayang. Aku hanya ingin cepat-cepat sampai di apartemen saja lalu kita makan bersama. Aku tak mau membuang-buang waktuku hari ini, aku ingin menghabiskan hari ini hanya bersamamu, Zach.”
                “Aku juga hanya ingin menghabiskan hari ini hanya bersamamu, sayang. Karena selama seminggu kedepan aku pasti akan sangat merindukanmu.”

                Zach mengambil daguku lalu menciumnya dengan sangat lembut sekali. Ketika ciuman kami berdua semakin memanas tiba-tiba pelayan mengantarkan pesanan kami. Dengan wajah yang sedikit memerah akhirnya aku dan Zach pun kembali ke apartemen. Sesampainya di sana apartemen masih kosong, berarti belum ada yang pulang. Kami berdua langsung memakan makanan yang sudah kami pesan sambil duduk di depan TV.

                “Kau harus langsung meneleponku jika sudah sampai di Swiss.”
                “Aku pasti akan langsung meneleponmu setelah mendarat, sayang.”
                Aku melingkarkan lenganku memeluk Zach dengan erat dan membenamkan wajahku di dadanya yang bidang itu, “Aku akan merindukanmu.”
               
                Ciuman yang panas menjadi perpisahan kami malam itu, sebelum Zach akhirnya harus pamit untuk pergi ke Swiss dengan penerbangan malam itu. Sedangkan aku langung pergi tidur karena besok pagi-pagi sekali kami harus berangkat ke kampus dan menuju ke Hawaii untuk berliburan, andai saja Zach bisa ikut, pasti akan sangat menyenangkan sekali.

                Keesokkan harinya pagi-pagi sekali aku, Dhea, Gale, Mark dan Asya sudah berada di kampus pagi-pagi sekali. Udaranya juga masih sangat dingin sekali, tadi ketika dalam perjalanan menuju ke kampus Zach menelepon bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju ke hotel untuk melakukan meeting.

                “Pagi ini sangat dingin sekali, ya. Asya sama Mark kemana?”
                “Katanya mereka mau beli kopi untuk kita di minimarket sebrang.”
                “Aku masih mengantuk.”
                “Memangnya semalam kau habis melakukan apa dengan Zach, La?”
                “Kami tidak melakukan apa-apa Dhee.”
                “Benarkah kalian tidak melakukan apa-apa?”
                “Tidak melakukan apapun, sungguh. Kami hanya pergi membeli makan lalu kembali lagi ke apartemen dan makan bersama.”
                “Sepertinya ada yang terus-terusan memandangimu, La?”
                “Siapa Gale? Biarkan saja mungkin orang itu sedang tidak ada kerjaan.”
                “Hai, ini kopinya masih panas.”
                “Terima kasih, Sya.”
               
                Kami pun minum kopi bersama dan tak lama kemudian kami naik ke dalam bis dan pergi menuju ke bandara. Dalam perjalanan aku pakai untuk tidur dan tidur. Ketika dalam pesawat aku duduk tepat di belakang Asya dan Mark, tiba-tiba Kyle duduk di sebelahku dan aku berusaha untuk mengacuhkannya.

                “Hai, bolehkah aku duduk di sini?”
                “Silakan,” jawabku datar dan aku kembali memandangi keadaan luar lewat jendelan.
                “Aku… Minta maaf, La?”
                “Minta maaf untuk apa?” masih memandangi keuar.
                “Untuk kewajian waktu itu, ketika aku menyeretmu. Aku benar-benar minta maaf, kau tahu aku benar-benar marah karena melihatmu berciuman dengan pria lain.”
                Aku memandanginy dengan tatapan nanar, “Biar aku jelaskan padamu, Kyle. Pria yang kau ihat di dalam foto itu adalah Matt, ia mantan kekasihku dan ia menciumku dengan paksa. Entah siapa yang memotret kami dan pria yang kau lihat waktu di Costa Coffee Bar dia Zach rekan bisnisnya Gale dan ia kekasihku.”
                “Aku baru sadar bahwa aku masih mencintaimu, La.”
                “Semua sudah terlambat Kyle, kau sudah memiliki kekasih begitupun juga denganku. Aku bahagia bersama Zach, maaf kyle. jadi aku rasa sebaiknya kita berteman saja.”
                “Aku akan tetap menunggumu Lila, sampai kau mau kembali lagi padaku.”
                “Terserah kau saja, aku mau tidur.”

                Aku kembali memasangkan earphone dan memakai penutup mata. Hal itu aku lakukan karena aku tidak mau berbicara dan menatap mata Kyle lebih lama, karena semua itu hanya akan semakin mmebuatku menderita. Aku tak mau menyakiti Zach, dia sangat baik dan aku mulai mencintainya. Meskipun aku tak memungkiri bahwa aku masih mencintai Kyle, tapi aku tak bisa memilihnya dan tak bisa kembali lagi padanya.

                Setelah penerbangan yang cukup panjang, akhirnya rombongan kami sampai di bandara Honolulu dari situ kami semua pergi menuju ke hotel yang sudah kami pesan sebelumnya. Dan kali ini aku akan tidur sendiri, biasanya jika liburan seperti ini kami bertiga selalu berada dalam satu kamar. Tapi kali ini tidak mungkin, karena Dhea dan Asya mengajak kekasih mereka.

                Ketika sampai di kamar aku langsung menjatuhkan diriku di atas tempat tidur dan memandangi langit-langit kamar. Tiba-tiba ponselku bordering dan di layarnya tertulis nama Dhea.

                “Iya Dhee… Kalian duluan saja. Aku mau mandi dulu… Oke, kita ketemu di bawah saja, ya. Bye.”

                Aku buru-buru pergi ke kamar mandi, setelah selesai mandi dan berpakaian aku langsung menuju ke lobi karena sahabatku sudah menunggu di sana. Karena kami sampai di Hawaii pada sore hari jadinya kami memutuskan untuk berjalan-jalan sambil menunggu waktu untuk makan malam saja. Dan akhirnya kami menemukan sebuah kafe dekat pantai yang menyuguhkan panorama laut yang sangat indah. Dan kami memutuskan untuk makan malam dan menghabiskan malam di sana.

                Di sela-sela makan malam Zach sempat menelepon dan menanyakan kabarku. Lalu setelah makan malam selesai kami melanjutkannya dengan acara minum-minum dan malam ini aku sedang ingin mabuk. Tepat pukul satu malam kami kembali kehotel dalam keadaan mabuk berat. Ketik dalam perjalanan menuju ke kamar aku bertemu dengan Kyle.

                “Lila, sepertinya kau mabuk berat. Ayo aku antar kau kembali ke kamar.” Kyle memapahku menuju ke kamarku.
                “Hai Kyle, aku tidak mau mabuk kau tahu… Kau masih bersama wanita itu?”
                “iya Lila.”
                “Baguslah, karena aku masih berharap kalian untuk putus.”
                “Kau menginginkan aku untuk berpisah dengan pacarku saat ini Lila?”
                “Ya, kau tahu meskipun saat ini aku berpacaran dengan Zach jauh di dalam hatiku… Aku masih mencintaimu Kyle. Kau tahu aku mencintaimu dan Zach, perasaan ini membuatku pusing.”
               
                Akhirnya Kyle sampai di kamarku dan membaringkanku di atas tempat tidur. Entah siapa yang memulai tahu tahu kami terlibat dalam ciuman yang sangat panas dan sangat liar sekali. Bahkan aku merasakan tangan Kyle yang menyusup kedalam pakainku dan menangkup payudaraku dan meremasnya dengan penuh gairah.

                Tubuhku panas dengan gairah yang meletup-letup sedangkan Kyle terus menciumiku tanpa henti. Setiap kali mulutnya menyentuh kulitku aku langsung menggelinjang dan merasakan kulitku terbakar. Bahkan aku mulai meremas rambutnya dan menggantukan tanganku kelehernya sambil melengkung-lennngkungkan tubuhku. Aku tak tahu sejak kapan semua pakaianku di lucuti begitu juga dengan Kyle yang sudah tidak memakai apapun di tubuhnya.

                Ia mendaratkan mulutnya di atas putingku dan menghisapnya dengan kuat membuatku mengerang tertahan. Jari-jarinya menari di seluruh tubuhku memperainkan gairah yang sedang membakar tubuhku saat ini. Sampai akhirnya aku merasakan dirinya mendesak masuk kedalam diriku aku aku terpekik tertahan ketika dirinya terasa penuh dan tepat berada di dalam diriku. Aku merasakan gerakannya mendorong keluar masuk dalam tubuhku, mengalirkan arus listrik keseluruh tubuh. Kami terhanyut dalam percintaan yang panas malam itu dan membuatku melupakan segalanya.  

                Sinar matahari yang menembus ke dalam kamar dan mengenai wajahku mau tak mau memaksaku untuk membuka mataku. Dengan perlahan aku duduk, aku kaget melihat tubuhku yang tidak memakai apapun ketika selimut yang kupakai merosot ke bawah. Dan yang membuatku hampir pingsan adalah ketika melihat Kyle yang sedang tidur di sampingku dan tidak menggunakan pakaian juga. Ya Tuhan apa yang terjadi.

                “Lila… Kamu tenang dulu biarkan aku menjelaskan semuanya.”
                “Tidak ada yang harus kau jelaskan lagi, Kyle. sebaiknya kau pergi dari kamarku sekarang juga. Aku sangat sangat membencimu, Kyle.”

                Lalu Kyle memakai pakaiannya dan segera keluar dari kamarku. Sepeninggalan Kyle aku hanya bisa menangis terisak. Ya Tuhan, bagaimana semua ini bisa terjadi? Aku sudah mengkhianati Zach. Liburan kali ini benar-benar bencana untukku, aku benar-benar tidak bisa menikmati liburan kali ini. Namun aku berusaha untuk bersikap biasa saja, karena aku tidak mau membuat Dhea dan Asya curiga padaku.

                 Seminggu setelah kejadian itu aku mulai bersikap biasa saja. Meskipun Kyle terus-terusan mendekatiku ketika di kampus. Aku benar-benar tidak ingin melihat wajahnya lagi dan untung saja Dhea dan Asya berhasil menjauhkan aku dari dia ketika kami sedang berada di kampus.

                Kyle benar-benar membuatku pusing dan itu berimbas pada nafsu makanku yang jadi lebih banyak dari biasanya. Kadang Dhea dan Asya sampai memelototiku ketika makan karena porsi yang ku makan tidak seperti biasanya.

                “Apa?”
                “Kau makan banyak sekali, La?”
                “Aku sangat lapar Dhee.”
                “Tapi biasanya kau tidak bisa makan dengan pori sebanyak ini, La. Badanmu juga jadi agak berisi.”
                “Kau bagaimana sih Sya, kan sekarang makanku banyak wajar saja jika tubuhku saat ini agak berisi.”

                Aku kembali melanjutkan makanku tanpa menghiraukan pertanyaan-pertanyaan dari Dhea dan Asya. Memangnya ada yang salah dengan diriku? Aku kan hanya jadi suka makan saja.

                “Aku dan Dhea mau pergi ke swalayan kau mau menitip apa, La?”
                “Sekotak susu coklat saja.”
                “Kau kan tidak suka minum susu colkat, Lila.”
                “Tapi aku ingin minum itu, Dhee.”
                “Apa ada lagi yang?”
                “Ya, belikan aku mangga, ya. Tapi yang muda.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar