Chapter 11
Dengan
perlahan pria tak dikenal itu melonggarkan pelukannya dan aku langsung
mendorong tubuhnya menjauh dari tubuhku.
“Dengar
ya, kau tidak punya hak untuk mencampuri kehidupanku.”
Aku
langsung berlari meninggalkan pria itu. Mengapa
Tuhan tidak membiarkan aku untuk mati saja. Aku benar-benar sudah mulai lelah
dengan semua ini. Dan mengapa pria itu tiba-tiba saja muncul di sini?
Dan
akhirnya hari Sabtu pun tiba, dengan enggan akhirnya aku ikut untuk menghadiri
acara yang di selenggarakan oleh Gale di kediamannya. Aku pergi bersama Asya
dan Mark karena Dhea sudah berada di rumah Gale sejak hari Jum’at.
“Mark
nanti kau bernyanyi di acara itu tidak?”
“Iya,
memang ada apa La?”
“Tolong
jangan menyanyikan lagu yang sedih, ya.”
“Lihat
saja nanti La.”
“Awas
saja kalau kau menyanyikan lagu yang membuatku menangis.”
Asya
dan Mark tertawa mendengar ucapanku yang konyol itu. Dan akhirnya kami bertiga pun
sampai di kediaman Gale yang luar biasa. Kami bertiga langsung di persilakan
untuk langsung menuju ke taman belakang, karena pestanya akan di adakan di
sana. Sepertinya Gale mengundang semua kolega bisnisnya, karena tak ada
seorangpun yang aku kenali.
“Kalian
bertiga, kemari…”
Kami
bertiga langsung menghampiri Dhea dan Gale.
“Akhirnya
kau datang juga Lila.”
“Karena
aku menghormatimu Gale, makanya aku datang kemari.”
“Lila
kau terlihat cantik menggunakan gaun itu itu.”
“Sudahlah
Dhee, ini karena Asya yang memaksaku untuk memakai pakaian yang seperti ini.”
“Bersantailah
sedikit Lila.”
Tiba-tiba
ada seseorang yang menghampiri Gale ketika kami sedang mengobrol. Ya Tuhan, dia
kan pria yang waktu itu mencegahku agar tidak melompat ke laut. Jangan bilang
kalau ia itu rekan bisnis Gale.
“Mr.
Harold, maaf terlamabt.”
“Hai
Zach, tak perlu formal seperti itu, ini bukan di kantor.”
“Baiklan
Gale, maaf sudah menganggu kau dan teman-temanmu.”
“Oh
iya, perkenalkan ini Dheandra calon istriku, itu Asya dan Mark sedangkan yang
itu Lila.”
Tiba-tiba
saja pria itu menyapaku, “Kau… Ya Tuhan, aku sangat bersyukur sekali bisa
bertemu denganmu lagi dalam keadaaan sehat dan masih bernafas.”
Sialan,
pria ini sepertinya akan mengungkapkan percobaab bunuh diriku yang gagal.
Karena sekarang Gale, Dhea, Asya dan Mark memandangiku.
“Kalian
sudah pernah bertemu sebelumnya?”
“Iya
Gale, aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu di pantai. Hari itu aku
menolong dirinya.” Aku langsung memelototinya dengan tatapan awas saja kalau
bilang,
“Menolong
Lila?”
“Benar
Dhea, karena hari itu ia akan melompat ke laut.”
Double sialan, mengapa ia malah mengatakannya
pada mereka. Dhea dan Asya pasti akan membanjiriku dengan berbagai pertanyaan.
“Melompat?
Kau tidak bermaksud untuk bunuh diri kan, Lila?”
“Sya,
aku tidak mau membahas itu. Aku mau pergi ambil minum.”
“Tidak
La, kau menjelaskan semuanya pada kami. Ya Tuhan, mengapa kau jadi seperti ini,
La.”
“Dhee,
aku mohon tidak di sini dan aku benar-benar membutuhkan sesuatu untuk
menghilangkan rasa dahagaku.”
Aku
pergi meninggalkan mereka dan mengambil minuman. Dari tempat ku berdiri
sekarang aku bisa melihat Zach sedang berbincang-bincang dengan bersama Gale
dan sesekali Zach melirikku sambil tersenyum. Ya Tuhan, jangan sampai aku
terperosok lagi pada senyuman dari seorang pria yang tampan seperti itu lagi.
***
“Apakah
Lila sudah sering mencoba untuk mengakhiri hidupnya?”
“Ia
tidak pernah melakukan hal sebodoh itu Zach. Mungkin inilah titik dimana Lila
sudah merasa jengah dengan semuanya.”
“Wanita
secantik Lila tapi hidupnya sangat rumit, rasanya aku ingin mengeluarkannya
dari semua kerumitan yang di alaminya.”
“Jangan
bilang kau menyukai Lila, Zach.”
“Aku
menyukainya ketika pertama kali bertemu dengannya, Gale.”
“Zach,
bolehkan aku minta tolong sesuatu padamu?”
“Apa
itu Dhea?”
“Tolong
jaga Lila, aku takut ia kan melakukan hal yang gila lagi.”
“Tentu
saja, dengan senang hati aku akan menjaganya.”
Sejak
pesta itu aku sering sekali medapatkan kiriman bungan lily kesukaanku. Dan coba
tebak Zach yang telah mengirim bunga-bungan lily yang indah itu, ia pasti di
beritahu oleh Dhea dan Asya.
“Lila…
Kiriman lagi untukmu.” Asya masuk kekamarku sambil membawa rangkaian bunga lily
yang cukup besar.
“Dari
Zach lagi, apa maksudnya dia mengirimkan begitu banyak bunga kepadaku.”
“Bukankah
sudah sejas sekali bahwa Zach jatuh cinta padamu, Lila. Kalau kau tidak
menyukai bunga-bunga yang di kirimnya mengapa kau menyimpannya di dalam kamarmu?”
“Kau
tahu aku sangat menyukai bunga lily.”
“Ya
sudah, aku dan Dhee tunggu di depan untuk makan.”
Setelah
menyimpan bunga itu aku langsung mengikuti Asya keluar dari kamar untuk makan. Sudah
lama sekali kami tidak memakan makanan Cina bersama-sama lagi. Tepatnya sejak
Dhea dan Asya memiliki kekasih. Bau makanannya sangat menggoda dam membuat
perutku keroncongan.
“Ah,
makanannya sangat lezat sekali.” Aku memakan mie dalam mangkok menggunakan
sumpit.
“Aku
sudah lama tidak memakan ini, kita juga sudah lama tidak pernah makan
bersama-sama lagi.”
“Sejak
kalian memiliki kekasih kita memang jadi jarang melakukan kegiatan bersama
lagi.”
“Maafkan
kami La.”
“Sudahlah
Sya, sudah waktunya bukan kaian memiliki kekasih dan memikirkan masa depan
kalian. Nanti malam kalian ada acara apa?”
“Rencananya
kami mau pergi makan malam, kau mau ikut bersama kami?”
“Tidak
Dhee, nanti malam aku mau pergi ke Costa Coffee Bar saja.”
Tepat
pukul tujuh malam aku pamitan pada Dhea dan Asya untuk pergi. Aku pergi ke sana
menggunakan taksi karena aku sedang malas untuk menyetir. Setengah jam kemudian
aku sampai di bar itu. Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam bar dan mencari
tempat duduk.
Lagi-lagi
ada pemandangan yang membuat hatiku sakit. Ya, aku melihat Kyle sedang bersama
wanita yang sama, mereka benar-benar terlihat bahagia dan mesra sekali. Sedangkan
aku hanya terpaku melihat meraka, ya Tuhan tolong jangan biarkan aku menangis
lagi. Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan yang melingkar di pinggangku.
“Kau
masih belum menemukan mejanya, sayang?”
Aku
emengenali pemilik suara itu Zach, sedang apa dia berada di sini. Kyle melirik
kearahku karena Zach menyapaku dengan suara yang agak keras. Wajah Kyle
langsung terlihat mura, otot-otot di wajahnya menegang, apalagi Zach
melingkarkan lengannya di pinggangku. Lalu Zach membawaku ke sebuah meja yang
tidak terlalu jauh dari meja Kyle. Aku benar-benar tidak bisa berpikir dengan
jernih saat ini, mengapa tiba-tiba Zach ada di sini? Apa hanya kebetulan saja?
“Sedang
apa kau disini, Zach?”
“Tentu
saja untuk menemanimu, Lila.”
“Aku
tak perlu di temani, aku lebih senang sendiri.”
“Aku
tidak bisa membiarkanmu menangis melihat pemandangan tadi Lila.”
“Apa
pedulimu, Zach?”
“Aku
sangat peduli dan sangat mencintaimu, Lila.”
Aku
terkejut mendengar ucapnnya itu, “Apa? Kau mencintaiku? Jangan konyol Zach.”
“Aku
serius Lila, aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu. Dan sejak
saat itu aku sangat ingin sekali menjagamu, aku ingin membuatmu bahagia dan
selalu tersenyum.”
“Kau
hanya kasihan padaku saja, Zach.”
“Tidak
Lila, aku sungguh-sungguh dengan perasaanku padamu.”
“Zach…
Aku…” tiba-tiba bibirnya mengunci bibirku.
Aku
langsung membeku, tubuhku terkena aliran listrik. Aku tidak bisa berkutik
karena Zach begitu kuat mengunci bibirku. Zach mulai membelai punggungku tapi
bibirnya tidak mau melepaskan bibirku. Lalu aku merasakan ia mulai menggigit
bibirku dan mendesak lidahnya masuk kedalam mulutku dan membelai lidahku dengan
lembut.
Aaaahhh Zach so sweet :*
BalasHapusGerak cepat juga nih Zachnya ckckck
gimana ya Lila nerima ga tuh cintanya Zach??
penasaraaan…
cant wait for the next chapter sist :*