Senin, 03 Desember 2012

Chapter 11


Chapter 11

                Dengan perlahan pria tak dikenal itu melonggarkan pelukannya dan aku langsung mendorong tubuhnya menjauh dari tubuhku.

                “Dengar ya, kau tidak punya hak untuk mencampuri kehidupanku.”

                Aku langsung berlari meninggalkan pria itu.  Mengapa Tuhan tidak membiarkan aku untuk mati saja. Aku benar-benar sudah mulai lelah dengan semua ini. Dan mengapa pria itu tiba-tiba saja muncul di sini?

                Dan akhirnya hari Sabtu pun tiba, dengan enggan akhirnya aku ikut untuk menghadiri acara yang di selenggarakan oleh Gale di kediamannya. Aku pergi bersama Asya dan Mark karena Dhea sudah berada di rumah Gale sejak hari Jum’at.

                “Mark nanti kau bernyanyi di acara itu tidak?”
                “Iya, memang ada apa La?”
                “Tolong  jangan menyanyikan lagu yang sedih, ya.”
                “Lihat saja nanti La.”
                “Awas saja kalau kau menyanyikan lagu yang membuatku menangis.”
               
                Asya dan Mark tertawa mendengar ucapanku yang konyol itu. Dan akhirnya kami bertiga pun sampai di kediaman Gale yang luar biasa. Kami bertiga langsung di persilakan untuk langsung menuju ke taman belakang, karena pestanya akan di adakan di sana. Sepertinya Gale mengundang semua kolega bisnisnya, karena tak ada seorangpun yang aku kenali.

                “Kalian bertiga, kemari…”

                Kami bertiga langsung menghampiri Dhea dan Gale.

                “Akhirnya kau datang juga Lila.”
                “Karena aku menghormatimu Gale, makanya aku datang kemari.”
                “Lila kau terlihat cantik menggunakan gaun itu itu.”
                “Sudahlah Dhee, ini karena Asya yang memaksaku untuk memakai pakaian yang seperti ini.”
                “Bersantailah sedikit Lila.”

                Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri Gale ketika kami sedang mengobrol. Ya Tuhan, dia kan pria yang waktu itu mencegahku agar tidak melompat ke laut. Jangan bilang kalau ia itu rekan bisnis Gale.

                “Mr. Harold, maaf terlamabt.”
                “Hai Zach, tak perlu formal seperti itu, ini bukan di kantor.”
                “Baiklan Gale, maaf sudah menganggu kau dan teman-temanmu.”
                “Oh iya, perkenalkan ini Dheandra calon istriku, itu Asya dan Mark sedangkan yang itu Lila.”
                Tiba-tiba saja pria itu menyapaku, “Kau… Ya Tuhan, aku sangat bersyukur sekali bisa bertemu denganmu lagi dalam keadaaan sehat dan masih bernafas.”

                Sialan, pria ini sepertinya akan mengungkapkan percobaab bunuh diriku yang gagal. Karena sekarang Gale, Dhea, Asya dan Mark memandangiku.

                “Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?”
                “Iya Gale, aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu di pantai. Hari itu aku menolong dirinya.” Aku langsung memelototinya dengan tatapan awas saja kalau bilang,
                “Menolong Lila?”
                “Benar Dhea, karena hari itu ia akan melompat ke laut.”
                Double sialan, mengapa ia malah mengatakannya pada mereka. Dhea dan Asya pasti akan membanjiriku dengan berbagai pertanyaan.

                “Melompat? Kau tidak bermaksud untuk bunuh diri kan, Lila?”
                “Sya, aku tidak mau membahas itu. Aku mau pergi ambil minum.”
                “Tidak La, kau menjelaskan semuanya pada kami. Ya Tuhan, mengapa kau jadi seperti ini, La.”
                “Dhee, aku mohon tidak di sini dan aku benar-benar membutuhkan sesuatu untuk menghilangkan rasa dahagaku.”

                Aku pergi meninggalkan mereka dan mengambil minuman. Dari tempat ku berdiri sekarang aku bisa melihat Zach sedang berbincang-bincang dengan bersama Gale dan sesekali Zach melirikku sambil tersenyum. Ya Tuhan, jangan sampai aku terperosok lagi pada senyuman dari seorang pria yang tampan seperti itu lagi.

***

                “Apakah Lila sudah sering mencoba untuk mengakhiri hidupnya?”
                “Ia tidak pernah melakukan hal sebodoh itu Zach. Mungkin inilah titik dimana Lila sudah merasa jengah dengan semuanya.”
                “Wanita secantik Lila tapi hidupnya sangat rumit, rasanya aku ingin mengeluarkannya dari semua kerumitan yang di alaminya.”
                “Jangan bilang kau menyukai Lila, Zach.”
                “Aku menyukainya ketika pertama kali bertemu dengannya, Gale.”        
                “Zach, bolehkan aku minta tolong sesuatu padamu?”
                “Apa itu Dhea?”
                “Tolong jaga Lila, aku takut ia kan melakukan hal yang gila lagi.”
                “Tentu saja, dengan senang hati aku akan menjaganya.”
               
                Sejak pesta itu aku sering sekali medapatkan kiriman bungan lily kesukaanku. Dan coba tebak Zach yang telah mengirim bunga-bungan lily yang indah itu, ia pasti di beritahu oleh Dhea dan Asya.

                “Lila… Kiriman lagi untukmu.” Asya masuk kekamarku sambil membawa rangkaian bunga lily yang cukup besar.
                “Dari Zach lagi, apa maksudnya dia mengirimkan begitu banyak bunga kepadaku.”
                “Bukankah sudah sejas sekali bahwa Zach jatuh cinta padamu, Lila. Kalau kau tidak menyukai bunga-bunga yang di kirimnya mengapa kau menyimpannya di dalam kamarmu?”
                “Kau tahu aku sangat menyukai bunga lily.”
                “Ya sudah, aku dan Dhee tunggu di depan untuk makan.”

                Setelah menyimpan bunga itu aku langsung mengikuti Asya keluar dari kamar untuk makan. Sudah lama sekali kami tidak memakan makanan Cina bersama-sama lagi. Tepatnya sejak Dhea dan Asya memiliki kekasih. Bau makanannya sangat menggoda dam membuat perutku keroncongan.

                “Ah, makanannya sangat lezat sekali.” Aku memakan mie dalam mangkok menggunakan sumpit.
                “Aku sudah lama tidak memakan ini, kita juga sudah lama tidak pernah makan bersama-sama lagi.”
                “Sejak kalian memiliki kekasih kita memang jadi jarang melakukan kegiatan bersama lagi.”
                “Maafkan kami La.”
                “Sudahlah Sya, sudah waktunya bukan kaian memiliki kekasih dan memikirkan masa depan kalian. Nanti malam kalian ada acara apa?”
                “Rencananya kami mau pergi makan malam, kau mau ikut bersama kami?”
                “Tidak Dhee, nanti malam aku mau pergi ke Costa Coffee Bar saja.”

                Tepat pukul tujuh malam aku pamitan pada Dhea dan Asya untuk pergi. Aku pergi ke sana menggunakan taksi karena aku sedang malas untuk menyetir. Setengah jam kemudian aku sampai di bar itu. Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam bar dan mencari tempat duduk.

                Lagi-lagi ada pemandangan yang membuat hatiku sakit. Ya, aku melihat Kyle sedang bersama wanita yang sama, mereka benar-benar terlihat bahagia dan mesra sekali. Sedangkan aku hanya terpaku melihat meraka, ya Tuhan tolong jangan biarkan aku menangis lagi. Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan yang melingkar di pinggangku.

                “Kau masih belum menemukan mejanya, sayang?”

                Aku emengenali pemilik suara itu Zach, sedang apa dia berada di sini. Kyle melirik kearahku karena Zach menyapaku dengan suara yang agak keras. Wajah Kyle langsung terlihat mura, otot-otot di wajahnya menegang, apalagi Zach melingkarkan lengannya di pinggangku. Lalu Zach membawaku ke sebuah meja yang tidak terlalu jauh dari meja Kyle. Aku benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini, mengapa tiba-tiba Zach ada di sini? Apa hanya kebetulan saja?

                “Sedang apa kau disini, Zach?”
                “Tentu saja untuk menemanimu, Lila.”
                “Aku tak perlu di temani, aku lebih senang sendiri.”
                “Aku tidak bisa membiarkanmu menangis melihat pemandangan tadi Lila.”
                “Apa pedulimu, Zach?”
                “Aku sangat peduli dan sangat mencintaimu, Lila.”
                Aku terkejut mendengar ucapnnya itu, “Apa? Kau mencintaiku? Jangan konyol Zach.”
                “Aku serius Lila, aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu. Dan sejak saat itu aku sangat ingin sekali menjagamu, aku ingin membuatmu bahagia dan selalu tersenyum.”
                “Kau hanya kasihan padaku saja, Zach.”
                “Tidak Lila, aku sungguh-sungguh dengan perasaanku padamu.”
                “Zach… Aku…” tiba-tiba bibirnya mengunci bibirku.

                Aku langsung membeku, tubuhku terkena aliran listrik. Aku tidak bisa berkutik karena Zach begitu kuat mengunci bibirku. Zach mulai membelai punggungku tapi bibirnya tidak mau melepaskan bibirku. Lalu aku merasakan ia mulai menggigit bibirku dan mendesak lidahnya masuk kedalam mulutku dan membelai lidahku dengan lembut.

1 komentar:

  1. Aaaahhh Zach so sweet :*

    Gerak cepat juga nih Zachnya ckckck

    gimana ya Lila nerima ga tuh cintanya Zach??
    penasaraaan…

    cant wait for the next chapter sist :*

    BalasHapus