Rabu, 26 Desember 2012

Chapter 32


Chapter 32

                Hari kepulangan kedua orang tuaku tiba, Gale langsung menjemputku dari kampus dan kami langsung menuju kebandara untuk mengantarkan Mama dan Papa. Setelah pesawat mereka lepas landas aku dan Gale memutuskan untuk mampir kesebuah kedai kopi untuk makan siang.

                “Sayang, besok kedua orang tuaku akan datang dari Washington DC, mereka berdua ingin segera bertemu dengan calon menantunya yang cantik ini.”
                “Gale jangan membuatku gugup. Aku takut kedua orangtuamu nanti tidak akan menyukaiku.”
                “Mereka menyukaimu, Angel, sangat sangat menyukaimu karena aku sudah menceritakan tentang dirimu pada mereka. Besok aku akan menjemputmu untuk makan malam bersama dengan mereka.”
                “Tapi…”
                “Jangan gugup, percayalah padaku. Mereka berdua sangat menyukaimu, Angel.”
                “Baiklah, meskipun aku tidak tahu apakah kegugupanku itu akan hilang besok malam.”
                “Aku sangat mencintaimu, Angel. Kaulah nyawa dan hidupku.”

                Lalu Gale mencium bibirku dengan lembut, sepertinya ia sedang nahan gairahnya yang mulai muncul itu. Rasanya aku ingin tertawa melihat ekspresinya yang tersiksa seperti itu. Lalu Gale segera mengajaku pulang setelah membayar tagihannya.

***

                Akhirnya Lila menikah juga. Tadinya aku sempat berpikir bahwa Zach yang akan menjadi suami Lila, tapi pada kenyataannya Lila menikah dengan Kyle. Benar-benar kejadian yang tidak terduga, aku tak habis pikir bahwa ada beberapa pria yang begitu terobsesi pada Lila, dulu Matt sekarang Kyle dan Zach namun pada akhirnya Lila dan Kyle di persatukan juga.

                Semenjak hari itu aku memang jadi jarang pulang ke rumah, kadang aku merasa tidak enak karena harus meninggalkan Dhea tinggal sendirian di apartemen. Karena Lila akan langsung menempati rumah barunya sepulang dari bulan madu nanti. Bahkan barang-barang milik Lila sudah tidak ada di kamarnya. Rasanya aku ingin cepat-cepat menikah saja, tapi aku belum siap untuk menjadi seorang istri dan seorang ibu.

                Hari ini aku menghabiskan waktu untuk membantu Mark yang akan menggelar pameran perdananya. Ternyata sangat menyenangkan sekali bisa membantunya bekerja. Ketika aku mengecek daftar tamu yang akan datang, mataku langsung tertuju pada sebuah nama. Nama yang membuatku merasa takut. Kevin McDaid, ya nama itu membuatku takut sekali. Karena Kevin begitu terobsesi pada Mark bahkan ia nyaris menabrakku. Benar-benar pria yang mengerikan sekaligus menyedihkan sekali.

                “Sayang, apa daftar tamunya sudah kau cek?” suara Mark membuyarkan lamunanku.
                “Ah, sedang aku cek Mark. Aku akan segera menyusulmu sebentar lagi.”
                “Jangan lama-lama sayang, aku sudah sangat lapar sekali.”

                Lima menit kemudian aku keluar dari ruang kerja milik Mark di galerinya. Aku langsung mendekatinya yang sedang berdiri di depan salah satu lukisan hasil karyanya.

                “Mark, aku sudah selesai. Bisakah kita pergi sekarang?”
                “Tentu saja, sayang. Aku sudah sangat lapar sekali kau tahu.”

                Kami berdua keluar dari galeri milik Mark sambil saling bergandengan tangan. Bahkan sesekali Mark mendaratkan ciumannya di bibir, pipi dan keningku. Semakin hari aku semakin mencintai Mark, dan aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk mempertahankannya.
                “Kita akan pergi makan dimana, Mark?”
                “Sebuah restoran yang bagus tentunya, kau pasti akan menyukainya sayang. Percayalah padaku.”
                “Aku akan ikut kemanapun kau akan membawaku, Mark.” Aku melingkarkan tanganku di lengannya.
                “Sayang, kau akan membuat kita mengalami kecelakaan.”
                “Maaf, aku selalu lupa jika melakukan hal seperti itu.”

                Mark hanya tersenyum geli melihat tingkahku yang seperti anak kecil. Lalu aku memutuskan untuk menikmati pemandangan selama perjalanan menuju ke restoran yang Mark maksud tanpa komentar, karena aku tidak ingin mengganggu konsentrasinya ketika sedang menyetir. Tak lama kemudian laju mobil melambat dan berhenti di depan sebuah restoran yang cukup mewah. Mark membantuku turun dan kami masuk ke dalam restoran itu sambil bergandengan tangan.

                Seorang pelayan mengarahkan kami kesebuah meja yang berada di bagian pojok ruangan di restoran ini. Setelah kami duduk dan memberikan daftar menu pelayan itupun pergi meninggalkan meja kami berdua. Beberapa saat kemudian pelayan itu kembali membawakan kami sebotol wine dan dua buah gelas lalu pergi lagi setelah menuangkan wine kedalam gelas kami berdua.

                Mark meremas tanganku yang berada di atas meja dengan lembut, “Sayang, terima kasih sudah membantuku untuk menyiapkan pagelaran pameran besok malam.”
                “Bukan batuan yang berarti, aku senang membantumu.”
                “Maaf juga karena sudah membuatmu lelah dan kurang istirahat karena semua ini.”
                “Mark aku sudah bilang bahwa aku senang membantumu.” Aku menyentuh pipinya dan Mark memejamkan matanya menikmati sensasi dari sentuhanku.
               
                Lalu kami berdua memesan makan dan meminum wine kami samba menunggu makanannya datang. Tak lama kemudian para pelayan keluar membawakan makanan yang sudah kami pesan. Kami menikmati makanan itu dengan lahap. Dan setelah selesai Mark mengantarkanku pulang ke apartemen karena Dhea sendirian disana.

                Setelah mengantarkanku Mark langsung pamit pulang karena masih ada yang harus di selesaikannya di galeri. Aku buru-buru masuk dan ketika sampai di apartemen aku mendapati Dhea yang sedang makan sambil menonton TV.

                “Akhirnya kau pulang juga, Sya. Tadinya aku pikir kau tidak akan pulang lagi.”
                “Aku pasti pulang ke sini, Dhee. Aku sudah berjanji padamu untuk pulang malam ini.”
                “Apakah kau mau makan?”                                                                                         
                “Tidak Dhee, terima kasih aku sudah makan tadi bersama Mark. Oh iya, Mark mengundangmu dan Gale untuk menghadiri pameran lukisannya besok malam di galeri.”
                “Aku dan Gale pasti akan datang, Sya. Terima kasih sudah mengundang kami berdua.”
                “Apakah Lila sudah memberi kabar padamu? Ia belum meneleponku sama sekali.”
                “Ia juga belum menghubungiku, Sya. Biasalah dia sedang berbulan madu dan tidak mau kita ganggu.” Dhea tertawa geli menjawab pertanyaanku.
                “Apartemen jadi sepi,ya. Biasanya Lila tidak pernah bisa diam jika berada di apartemen dan yang lucu ketika ia mengetahui bahwa dirinya sedang hamil ia banyak diam.”
                “Iya, aku tak menyangka bahwa ia akan menikah duluan. Lambat laun kita pasti akan berpisah Sya. Tapi meskipun nanti kita berpisah dan hidup dengan suami kita masing-masing kita akan tetap  bersahabat. Hubungan kita akan tetap seperti ini, kita sudah seperti saudara dan tidak aka nada yang bisa memutuskan hubungan kita bertiga.”
                “Yang kau katakan itu benar Dhee. Mungkin jika kau menikah dengan Gale nanti aku akan menerima ajakan Mark untuk tinggal di rumahnya. Aku tak mau tinggal sendirian di sini.”
                “Sekarang saja kau sudah lebih banyak menghabiskan waktumu bersama Mark, Sya. Tapi aku juga seperti itu. Hahaha…”
               
                Malam itu aku dan Dhea berbincang-bincang sampai larut malam. Sudah lama sekali kami tidak melakukan kegiatan seperti ini dan yang tidak ada hanya Lila saja. Pasti akan lebih menyenangkan jika Lila bergabung dengan kami. Sepertinya aku dan Dhea harus bisa menerima kenyataan bahwa Lila sudah menikah dan tidak tinggal lagi bersama kami berdua.

                Keesokan harinya aku dan Dhea bangun siang, karena semalam kami mengobrol sampai larut sekali. Kebetula hari ini adalah hari Sabtu dan kuliah kami libur. Dan kegiatan kami berdua adalah mencari gaun yang akan kami gunakan untuk acara nanti malam. Aku dan Dhea sibuk membongkar lemari mencari gaun yang cocok, aku dan Dhea memang tidak memiliki gaun dalam jumlah yang sangat banyak, kami berdua mulai memakai dan membeli gaun setelah berkenalan dengan Gale dan Mark.

                Di antara kami bertiga Lila yang memiliki gaun dalam jumlah banyak. Biasanya aku dan Dhea suka meminjam salah satu dari gaun miliknya tapi sekarang sepertinya tidak akan bisa. Mungkin aku harus mulai membeli beberapa gaun setelah ini karena Mark suka mengajakku untuki menghadiri sebuah pesta yang cukup formal.

                Dan tepat pukul enam sore Mark menjemputku sedangkan Gale dan Dhea akan berangkat pada pukul tujuh nanti. Aku harus datang lebih awal karena harus menemani Mark di sana, akku harus menemani dan berada di sampingnya ketika orang-orang yang di undangnya datang.

                Tepat pukul tujuh malam satu persatu para tamu tiba di galeri milik Mark. Sampai akhirnya Kevin tiba, ia datang seorang diri tidak bersama Adam. Aku bisa merasa lega karena Adam tidak ada, namun aku tetap saja cemas karena Kevin menatapku seperti ingin membunuhku.

                “Senang kau bisa hadir, Kev. Terima kasih sudah menyempankan waktumu untuk menghadiri acaraku.”
                “Aku akan melakukan apapun untukmu, Mark.” Ia lalu mengalihkan pandangannya padaku, “Apa kabar Natasya, senang bisa bertemu lagi denganmu.”
                “Kabar baik, Kev. Silakan nikmati acaranya aku dan Mark harus menyambut beberapa tamu kami yang baru datang. Permisi, ayo Mark.”

                Aku menarik lengan Mark untuk menjauhi Kevin yang sedari tadi menatapku dengan tatapan membunuhnya. Benar-benar orang yang sangat menyebalkan, jika ini bukan acara yang formal aku pasti akan berteriak dan mengusirnya dari sini. Namun aku harus ekstra sabar, aku harus menjaga sikapku di depan teman dan relasi Mark. Aku tidak mau nama Mark tercoreng karena sikapku.

                Suasana hatiku berubah drastic ketika bertemu muka dengan Kevin tadi. Itulah alasannya aku segera membawa Mark menjauh dari pemangsa itu. Aku benar-benar sangat kesal sekali, rasanya aku ingin sekali berteriak.

                “Sayang, kau tidak apa-apa, kan? Sepertinya kau terlihat kesal sekali.”
                Sepertinya Mark menyadari kegelisahan yang sedang aku alami saat ini, “Aku… Aku tidak apa-apa Mark. Aku hanya haus saja, aku akan mengambil minuman untuk kita.”
                “Biar aku saja yang mengambilnya, sayang. Diam di sini jangan pergi kemana-mana.”

                Ia mengecup bibirku lalu pergi untuk mengambilkan minuman. Sambil menunggu Mark aku memperhatikan keadaan di sekelilingku sambil berharap bisa melihat sosok Gale dan Dhea di antara para tamu yang hadir pada malam ini.   
               
                Tiba-tiba saja aku merasakan seseorang menarik tanganku dan menyeretku menjauh dari kerumunan para tamu yang berada di galeri milik Mark. Aku kaget sekali ketika mengetahui pria yang menarik tanganku secara paksa adalah Kevin.

                “Lepaskan tanganku, Kev. Mengapa kau selalu mengangguku?” lalu ia menghempaskan tubuhku hingga punggungku membentur tembok, “Awww…” aku meringis kesakitan.
                “Dengar, aku akan selalu menganggu kehidupanmu sebelum kau meninggalkan Mark. Mengapa kau tidak pernah mau menggubris ancaman dariku. Apakah kau sudah bosan hidup.”
                “Kau tidak akan bisa memisahkan kami, Kev. Aku tidak takut mati, aku tahu bahwa kaulah pengendara motor yang hampir menabrakku beberapa waktu yang lalu.”
                “Ya, aku memang orang yang akan menabrakmu sampai mati. Kalau saja temanmy yang sialan itu tidak segera menarik tubuhmu.” Kev berteriak kepadaku.

2 komentar:

  1. WWaduh mo di kenalin sm cln mertua nih dhee
    degdegan ><

    Gale bisa jg ya nahan wkwkwk

    Biang masalah si Kev muncul lagi --"
    *timpuk rame2

    next chapter sist :*

    BalasHapus
  2. Cieee, yang mau dikenalin sm Org tua Gale. Degdegan tuh Dhee.
    Hahaha

    beneran sepi sejak Lila gak ada diapartemen. Ckckck

    Kevin lagi, kevin lagi..
    Pengen tembak tu org..
    #Jauhin Mark dri Kevin.

    Next Chapter kakak :*
    pengen liat Mark berantem sm Kevin :D

    BalasHapus