Chapter 32
Hari
kepulangan kedua orang tuaku tiba, Gale langsung menjemputku dari kampus dan
kami langsung menuju kebandara untuk mengantarkan Mama dan Papa. Setelah
pesawat mereka lepas landas aku dan Gale memutuskan untuk mampir kesebuah kedai
kopi untuk makan siang.
“Sayang,
besok kedua orang tuaku akan datang dari Washington DC, mereka berdua ingin
segera bertemu dengan calon menantunya yang cantik ini.”
“Gale
jangan membuatku gugup. Aku takut kedua orangtuamu nanti tidak akan
menyukaiku.”
“Mereka
menyukaimu, Angel, sangat sangat menyukaimu karena aku sudah menceritakan
tentang dirimu pada mereka. Besok aku akan menjemputmu untuk makan malam
bersama dengan mereka.”
“Tapi…”
“Jangan
gugup, percayalah padaku. Mereka berdua sangat menyukaimu, Angel.”
“Baiklah,
meskipun aku tidak tahu apakah kegugupanku itu akan hilang besok malam.”
“Aku
sangat mencintaimu, Angel. Kaulah nyawa dan hidupku.”
Lalu
Gale mencium bibirku dengan lembut, sepertinya ia sedang nahan gairahnya yang
mulai muncul itu. Rasanya aku ingin tertawa melihat ekspresinya yang tersiksa
seperti itu. Lalu Gale segera mengajaku pulang setelah membayar tagihannya.
***
Akhirnya
Lila menikah juga. Tadinya aku sempat berpikir bahwa Zach yang akan menjadi
suami Lila, tapi pada kenyataannya Lila menikah dengan Kyle. Benar-benar
kejadian yang tidak terduga, aku tak habis pikir bahwa ada beberapa pria yang
begitu terobsesi pada Lila, dulu Matt sekarang Kyle dan Zach namun pada
akhirnya Lila dan Kyle di persatukan juga.
Semenjak
hari itu aku memang jadi jarang pulang ke rumah, kadang aku merasa tidak enak
karena harus meninggalkan Dhea tinggal sendirian di apartemen. Karena Lila akan
langsung menempati rumah barunya sepulang dari bulan madu nanti. Bahkan
barang-barang milik Lila sudah tidak ada di kamarnya. Rasanya aku ingin
cepat-cepat menikah saja, tapi aku belum siap untuk menjadi seorang istri dan
seorang ibu.
Hari
ini aku menghabiskan waktu untuk membantu Mark yang akan menggelar pameran
perdananya. Ternyata sangat menyenangkan sekali bisa membantunya bekerja.
Ketika aku mengecek daftar tamu yang akan datang, mataku langsung tertuju pada
sebuah nama. Nama yang membuatku merasa takut. Kevin McDaid, ya nama itu
membuatku takut sekali. Karena Kevin begitu terobsesi pada Mark bahkan ia
nyaris menabrakku. Benar-benar pria yang mengerikan sekaligus menyedihkan
sekali.
“Sayang,
apa daftar tamunya sudah kau cek?” suara Mark membuyarkan lamunanku.
“Ah,
sedang aku cek Mark. Aku akan segera menyusulmu sebentar lagi.”
“Jangan
lama-lama sayang, aku sudah sangat lapar sekali.”
Lima
menit kemudian aku keluar dari ruang kerja milik Mark di galerinya. Aku langsung
mendekatinya yang sedang berdiri di depan salah satu lukisan hasil karyanya.
“Mark,
aku sudah selesai. Bisakah kita pergi sekarang?”
“Tentu
saja, sayang. Aku sudah sangat lapar sekali kau tahu.”
Kami
berdua keluar dari galeri milik Mark sambil saling bergandengan tangan. Bahkan
sesekali Mark mendaratkan ciumannya di bibir, pipi dan keningku. Semakin hari
aku semakin mencintai Mark, dan aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk
mempertahankannya.
“Kita
akan pergi makan dimana, Mark?”
“Sebuah
restoran yang bagus tentunya, kau pasti akan menyukainya sayang. Percayalah
padaku.”
“Aku
akan ikut kemanapun kau akan membawaku, Mark.” Aku melingkarkan tanganku di
lengannya.
“Sayang,
kau akan membuat kita mengalami kecelakaan.”
“Maaf,
aku selalu lupa jika melakukan hal seperti itu.”
Mark
hanya tersenyum geli melihat tingkahku yang seperti anak kecil. Lalu aku
memutuskan untuk menikmati pemandangan selama perjalanan menuju ke restoran
yang Mark maksud tanpa komentar, karena aku tidak ingin mengganggu konsentrasinya
ketika sedang menyetir. Tak lama kemudian laju mobil melambat dan berhenti di
depan sebuah restoran yang cukup mewah. Mark membantuku turun dan kami masuk ke
dalam restoran itu sambil bergandengan tangan.
Seorang
pelayan mengarahkan kami kesebuah meja yang berada di bagian pojok ruangan di
restoran ini. Setelah kami duduk dan memberikan daftar menu pelayan itupun
pergi meninggalkan meja kami berdua. Beberapa saat kemudian pelayan itu kembali
membawakan kami sebotol wine dan dua buah gelas lalu pergi lagi setelah
menuangkan wine kedalam gelas kami berdua.
Mark
meremas tanganku yang berada di atas meja dengan lembut, “Sayang, terima kasih
sudah membantuku untuk menyiapkan pagelaran pameran besok malam.”
“Bukan
batuan yang berarti, aku senang membantumu.”
“Maaf
juga karena sudah membuatmu lelah dan kurang istirahat karena semua ini.”
“Mark
aku sudah bilang bahwa aku senang membantumu.” Aku menyentuh pipinya dan Mark
memejamkan matanya menikmati sensasi dari sentuhanku.
Lalu
kami berdua memesan makan dan meminum wine kami samba menunggu makanannya
datang. Tak lama kemudian para pelayan keluar membawakan makanan yang sudah
kami pesan. Kami menikmati makanan itu dengan lahap. Dan setelah selesai Mark
mengantarkanku pulang ke apartemen karena Dhea sendirian disana.
Setelah
mengantarkanku Mark langsung pamit pulang karena masih ada yang harus di
selesaikannya di galeri. Aku buru-buru masuk dan ketika sampai di apartemen aku
mendapati Dhea yang sedang makan sambil menonton TV.
“Akhirnya
kau pulang juga, Sya. Tadinya aku pikir kau tidak akan pulang lagi.”
“Aku
pasti pulang ke sini, Dhee. Aku sudah berjanji padamu untuk pulang malam ini.”
“Apakah kau mau makan?”
“Tidak
Dhee, terima kasih aku sudah makan tadi bersama Mark. Oh iya, Mark mengundangmu
dan Gale untuk menghadiri pameran lukisannya besok malam di galeri.”
“Aku
dan Gale pasti akan datang, Sya. Terima kasih sudah mengundang kami berdua.”
“Apakah
Lila sudah memberi kabar padamu? Ia belum meneleponku sama sekali.”
“Ia
juga belum menghubungiku, Sya. Biasalah dia sedang berbulan madu dan tidak mau
kita ganggu.” Dhea tertawa geli menjawab pertanyaanku.
“Apartemen
jadi sepi,ya. Biasanya Lila tidak pernah bisa diam jika berada di apartemen dan
yang lucu ketika ia mengetahui bahwa dirinya sedang hamil ia banyak diam.”
“Iya,
aku tak menyangka bahwa ia akan menikah duluan. Lambat laun kita pasti akan
berpisah Sya. Tapi meskipun nanti kita berpisah dan hidup dengan suami kita
masing-masing kita akan tetap bersahabat.
Hubungan kita akan tetap seperti ini, kita sudah seperti saudara dan tidak aka
nada yang bisa memutuskan hubungan kita bertiga.”
“Yang
kau katakan itu benar Dhee. Mungkin jika kau menikah dengan Gale nanti aku akan
menerima ajakan Mark untuk tinggal di rumahnya. Aku tak mau tinggal sendirian
di sini.”
“Sekarang
saja kau sudah lebih banyak menghabiskan waktumu bersama Mark, Sya. Tapi aku
juga seperti itu. Hahaha…”
Malam
itu aku dan Dhea berbincang-bincang sampai larut malam. Sudah lama sekali kami
tidak melakukan kegiatan seperti ini dan yang tidak ada hanya Lila saja. Pasti
akan lebih menyenangkan jika Lila bergabung dengan kami. Sepertinya aku dan
Dhea harus bisa menerima kenyataan bahwa Lila sudah menikah dan tidak tinggal
lagi bersama kami berdua.
Keesokan
harinya aku dan Dhea bangun siang, karena semalam kami mengobrol sampai larut
sekali. Kebetula hari ini adalah hari Sabtu dan kuliah kami libur. Dan kegiatan
kami berdua adalah mencari gaun yang akan kami gunakan untuk acara nanti malam.
Aku dan Dhea sibuk membongkar lemari mencari gaun yang cocok, aku dan Dhea
memang tidak memiliki gaun dalam jumlah yang sangat banyak, kami berdua mulai
memakai dan membeli gaun setelah berkenalan dengan Gale dan Mark.
Di
antara kami bertiga Lila yang memiliki gaun dalam jumlah banyak. Biasanya aku
dan Dhea suka meminjam salah satu dari gaun miliknya tapi sekarang sepertinya
tidak akan bisa. Mungkin aku harus mulai membeli beberapa gaun setelah ini
karena Mark suka mengajakku untuki menghadiri sebuah pesta yang cukup formal.
Dan
tepat pukul enam sore Mark menjemputku sedangkan Gale dan Dhea akan berangkat
pada pukul tujuh nanti. Aku harus datang lebih awal karena harus menemani Mark
di sana, akku harus menemani dan berada di sampingnya ketika orang-orang yang
di undangnya datang.
Tepat
pukul tujuh malam satu persatu para tamu tiba di galeri milik Mark. Sampai
akhirnya Kevin tiba, ia datang seorang diri tidak bersama Adam. Aku bisa merasa
lega karena Adam tidak ada, namun aku tetap saja cemas karena Kevin menatapku
seperti ingin membunuhku.
“Senang
kau bisa hadir, Kev. Terima kasih sudah menyempankan waktumu untuk menghadiri
acaraku.”
“Aku
akan melakukan apapun untukmu, Mark.” Ia lalu mengalihkan pandangannya padaku,
“Apa kabar Natasya, senang bisa bertemu lagi denganmu.”
“Kabar
baik, Kev. Silakan nikmati acaranya aku dan Mark harus menyambut beberapa tamu
kami yang baru datang. Permisi, ayo Mark.”
Aku
menarik lengan Mark untuk menjauhi Kevin yang sedari tadi menatapku dengan
tatapan membunuhnya. Benar-benar orang yang sangat menyebalkan, jika ini bukan
acara yang formal aku pasti akan berteriak dan mengusirnya dari sini. Namun aku
harus ekstra sabar, aku harus menjaga sikapku di depan teman dan relasi Mark.
Aku tidak mau nama Mark tercoreng karena sikapku.
Suasana
hatiku berubah drastic ketika bertemu muka dengan Kevin tadi. Itulah alasannya aku
segera membawa Mark menjauh dari pemangsa itu. Aku benar-benar sangat kesal sekali,
rasanya aku ingin sekali berteriak.
“Sayang,
kau tidak apa-apa, kan? Sepertinya kau terlihat kesal sekali.”
Sepertinya
Mark menyadari kegelisahan yang sedang aku alami saat ini, “Aku… Aku tidak apa-apa
Mark. Aku hanya haus saja, aku akan mengambil minuman untuk kita.”
“Biar
aku saja yang mengambilnya, sayang. Diam di sini jangan pergi kemana-mana.”
Ia
mengecup bibirku lalu pergi untuk mengambilkan minuman. Sambil menunggu Mark aku
memperhatikan keadaan di sekelilingku sambil berharap bisa melihat sosok Gale dan
Dhea di antara para tamu yang hadir pada malam ini.
Tiba-tiba
saja aku merasakan seseorang menarik tanganku dan menyeretku menjauh dari kerumunan
para tamu yang berada di galeri milik Mark. Aku kaget sekali ketika mengetahui pria
yang menarik tanganku secara paksa adalah Kevin.
“Lepaskan
tanganku, Kev. Mengapa kau selalu mengangguku?” lalu ia menghempaskan tubuhku hingga
punggungku membentur tembok, “Awww…” aku meringis kesakitan.
“Dengar,
aku akan selalu menganggu kehidupanmu sebelum kau meninggalkan Mark. Mengapa kau
tidak pernah mau menggubris ancaman dariku. Apakah kau sudah bosan hidup.”
“Kau
tidak akan bisa memisahkan kami, Kev. Aku tidak takut mati, aku tahu bahwa kaulah
pengendara motor yang hampir menabrakku beberapa waktu yang lalu.”
“Ya,
aku memang orang yang akan menabrakmu sampai mati. Kalau saja temanmy yang sialan
itu tidak segera menarik tubuhmu.” Kev berteriak kepadaku.
WWaduh mo di kenalin sm cln mertua nih dhee
BalasHapusdegdegan ><
Gale bisa jg ya nahan wkwkwk
Biang masalah si Kev muncul lagi --"
*timpuk rame2
next chapter sist :*
Cieee, yang mau dikenalin sm Org tua Gale. Degdegan tuh Dhee.
BalasHapusHahaha
beneran sepi sejak Lila gak ada diapartemen. Ckckck
Kevin lagi, kevin lagi..
Pengen tembak tu org..
#Jauhin Mark dri Kevin.
Next Chapter kakak :*
pengen liat Mark berantem sm Kevin :D