Chapter 15
“Asyaa,. “ Dhea memanggilku beberapa kali.
Kubukakan pintu kamarku. Dhea masuk dan duduk
disudut tempat tidurku.
“Sya, apa yang terjadi denganmu?? Kau
menangis?” Dhea mencecarku dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
“Aku tidak apa-apa Dhee, aku hanya merindukan
mama dan papaku. Saat ini aku sangat merindukan mereka. “ kataku sambil
menghapus air mataku.
“Telepon mereka Sya, jika merindukannya. Atau
kau ada masalah dengan Mark??” sepertinya Dhea tahu apa yang terjadi denganku.
Karena selama ini aku tak pernah menangis jika aku merindukan orangtua ku. Aku
hanya akan menelpon mereka seharian.
“Tidak Dhee,” jawabku sambil tersenyum kecut.
“Baiklah, aku dengan Gale akan pergi, Sya.
Kuharap kau akan baik-baik saja ya. Oh iya tadi Nico datang dari London, dan
rencananya malam ini dia akan datang kesini, tadi dia menanyakanmu. “ Dhea meledekku.
“Oh, iya. “Jawabku pendek.
Dhea tersenyum dan dia keluar kamarku. Kututup
lagi pintu kamarku. Hari sudah sore, kupikir dengan mandi akan membuatku
sedikit tenang. Saat aku akan masuk kekamar mandiku. Pintu kamarku terbuka,
saat aku menoleh ternyata Mark.
“Asya, aku bisa jelaskan semuanya. Itu tidak
seperti yang kau bayangkan sayang.” Mark mendekat kearahku
“Cukup Mark, tidak ada lagi yang harus
dijelaskan. Itu semua sudah cukup untuk membuktikannya. Aku melihat sendiri apa
yang terjadi.” air mataku langsung jatuh di pipiku.
“Tapi aku tak menyangka akan terjadi hal itu, Sya.”
“Heh? Tidak menyangka aku akan datang kan??
Mungkin kau akan berbuat lebih dari itu kalau aku tidak datang” kataku sambil
tersenyum kecut.
“Asya, kau harus percaya padaku, semuanya
hanya salah paham saja.” Mark memohon padaku.
“Semuanya benar Mark dan aku percaya apa yang
sudah aku lihat itu itu” bentakku padanya.
“Asya, apa yang terjadi denganmu,?”
“Aku baik-baik saja, dan akan lebih baik lagi
jika kau pergi dari sini. Aku benci jika kau ada disini.” Aku mendorong Mark
keluar dari kamarku. Dan Mark pun keluar dari kamarku.
“Aku akan menunggumu disini, Sya.”
“Terserah.” aku membanting pintu kamarku dan
menguncinya.
Malamnya aku hanya mengurung diri dikamar. Beberapa kali
kudengar Mark, Dhea dan Lila memanggilku. Namun tak kuhiraukan mereka. Bahkan
saat Nico datang pun aku masih tak keluar kamar. Kesedihanku hari ini membuat
ku kelelahan hingga akhirnya aku tertidur.
Siang itu
aku terbangun saat kurasakan hangatnya sinar mentari pagi yang mengenai
wajahku. Saat terbangun rasanya badanku terasa lemah, perlahan aku berdiri dan
saat aku duduk terasa penglihatanku berkunang-kunang. Rasanya tenggorokanku
sangat kering. Kuraih gelas yang ada dimejaku, ternyata airnya sudah habis.
Akupun keluar kamar untuk minum, terasa pusing kepalaku saat berjalan. Saat aku
berjalan menuju dapur, aku tidak melihat Lila dan Dhea. Dan aku baru ingat
kalau hari ini mereka pergi bersama kekasih mereka. Aku mengambil sedang
menuangkan air minum kedalam gelas, tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku.
“Asya..”
Aku langsung menoleh kesumber suara yang
memanggilku. Dan ternyata itu Nico. “Nico??”
aku menyapanya.
“ Iya ini aku, apa kabar?? Kau kelihatan
pucat. Kau sakit yaa??” Nico memelukku sejenak.
“Tubuhmu panas Sya, sepertinya kau demam.”
Nico menyentuh pipiku dengan telapak tangannya.
“Tidak, aku baik-baik saja..” kataku sambil
tersenyum. Dan aku meminum air yang kutuangkan tadi.
“Sejak kapan kau disini??”tanyaku.
“Sejak semalam Sya, aku sudah mengetuk pintu
kamarmu tapi sepertinya kau sudah tidur. Oh iya kekasihmu juga datang tadi
malam. Tapi karena kau sudah tidur, dia pulang.” Jelas Nico.
Mendengar penjelasan Nico, aku jadi teringat
kejadian kemarin. Perasaan kesal mulai menghampiriku lagi.
“Kenapa Sya?” Nico menatapku.
“Tidak apa-apa, aku balik kekamar, ya.”
Kataku sambil pergi meninggalkan Nico.
“Kau tidak ingin sarapan. Dhea mengatakan
padaku bahwa kau belum makan dari tadi malam.”
“Aku tidak lapar, terima kasih.” jawabku
sambil membuka pintu kamar dan menutupnya lagi.
Seharian aku masih mengurung diri dikamar,
beberapa kali Mark menelponku tapi tak kuhiraukan, dia datangpun tak membuatku
keluar dari kamar. Aku masih sangat sakit hati dengannya.
Sorenya kuputuskan untuk keluar, sudah hampir
dua hari aku tidak makan apa-apa. Aku sangat lapar. Akhirnya kuputuskan untuk
membeli makanan di restoran Cina langganan kami. Walaupun hari agak mendung,
aku tetap pergi. Saat datang kesana kulihat pembeli sudah ramai, jadi aku ikut
mengantri dengan yang lain. Saat sedang antri hujan turun dengan derasnya.
Sampai akhirnya aku selesai membeli makanan hari tetap saja hujan walau tak
sederas tadi. Akhirnya ku paksakan untuk pulang, aku berjalan secepat mungkin
supaya tidak kebasahan, namun hujan kembali deras. Aku sudah kebasahan saat sampai
diapartemen. Diapartemen, kulihat Nico sudah ada. Memang selama New York dia
sering kesini, karena hotelnya yang tidak jauh dari apartemen kami.
“Asya, kau dari mana??” dia terkejut
melihatku sudah basah kuyup.
“Aku dari restoran depan, aku membeli
makanan.” jawabku sambil menggigil dan meletakkan kantong makananku dimeja.
“Coba kau menelponku, akan aku belikan. Kau
cukup menunggu disini Asya.” kata Nico,
“Aku tidak tahu kau akan datang kemari.”
jawabku gemetar.
“Sebaiknya kau ganti dulu pakaianmu, akan aku
buatkan coklat panas untukmu.” Katanya sambil berjalan kedapur.
Aku mengangguk sambil masuk kekamar. Saat
dikamar aku langsung mandi dengan air hangat. Aku sangat kedinginan. Badanku
juga terasa sangat lemah dan kepalaku pusing. Setelah berpakaian aku, keluar.
Kulihat Nico sudah duduk diruang makan sambil mengaduk dua gelas coklat panas.
Aku mengambil bungkusan makanan yang ada diatas meja tadi. Dan langsung duduk
didekat Nico.
“Kau harus makan Sya, badanmu sangat pucat.
Aku takut kau sakit. “
“Iya aku tahu, kepalaku hanya sedikit pusing.
Aku akan minum obat nanti.” Jawabku.
Lalu aku membuka bungkusan makananku dan
mulai memakannya. Saat makanan itu masuk kedalam mulutku terasa sangat tidak
enak. Lidahku terasa pahit. Lalu kuletakkan lagi sendokku dan minum air putih.
“Kenapa Sya??” Nico heran melihatku.
“Makanannya tidak enak, tidak seperti
biasanya. Pahit.”
Nico mengerutkan dahinya, “Pahit?”
Aku mengangguk. “Kau coba saja.”
Lalu Nico menyendok makananku dan memakannya.“Tidak
pahit, ini sangat enak.”
“Aku tidak mau memakannya.” Kataku sambil
beranjak dari kursiku.
Saat
aku berdiri terasa sakit kepalaku hingga terasa keseimbanganku mulai hilang.
Nico yang ada didekatku memegang lenganku takut aku jatuh.
“Asya tubuhmu panas sekali, kau demam.. ayo
aku antar kekamar. Kau harus istirahat. Lagipula kau baru saja kehujanan.”
Aku hanya menurutinya, Nico merangkulku saat
masuk kekamar. Dia membaringkanku dan menyelimuti tubuhku. Aku benar-benar
sangat kedinginan. Karena badanku panas, Nico mengompresku, dan memberikan ku
obat demam. Sesaat setelah minum obat aku berusaha untuk tidur. Namun kudengar
ponselku berbunyi Dhea menelpon.
“Halo, Dhee.”
“Halo, Sya. Tadi Nico bilang kau demam ya.
Maaf Sya, aku dan Lila belum bisa pulang. Disini hujan sangat deras.”
“Iya Dhee, aku tidak apa-apa. Aku sudah minum obat, mungkin sebentar lagi
akan baikan.” Jawabku.
“Oh iya, kalau masih hujan sebaiknya kalian
tetaplah disana. Sangat berbahaya menyetir setelah turun hujan. “ jawabku
“Iya Sya, akan kami usahakan untuk pulang
secepatnya, ya.” katanya sambil menutup telponnya.
Lalu kuletakkan lagi ponselku, belum lama
kuletakkan Mark menelponku. Ku matikan suaranya agar tak menggangguku. Aku
masih belum mau berbicara dengannya. Hujan
diluar dimasih saja deras beberapa kali kedengar suara petir menggelegar,
sebenarnya aku sangat takut petir. Dan tiba-tiba terdengar suara petir yang
sangat besar, sontak aku langsung menjerit smbil menutup telingaku.
Nico yang berada diluar kembali masuk
melihatku. Dia mendekatiku.
“Ada apa Sya??” katanya sambil mendekat
kearahku.
“Aku takut...” jawabku gemetar.
“Baiklah akan kutemani kau disini.” katanya
sambil duduk disampingku.
Nico duduk disampingku sambil membelai
rambutku. “Tidurlah aku akan menemanimu.” Katanya sambil mencium dahiku. “Aku
merindukanmu Sya.”
“Aku juga.” jawabku sambil menatapnya.
Lalu Nico menunduk dan mendekatkan wajahnya
kewajahku. Dan tiba-tiba bibirnya menyentuh bibirku. Nico mencium dengan
lembut, lama kelamaan lidahnya mendesak masuk kedalam kedalam mulutku. Dan
disaat itulah aku mulai tersadar. Ya Tuhan apa yang ku lakukan, kataku dalam
hati. Aku menjauh darinya.
“Maaf Nico... “
“Sudahlah sebaiknya kau tidur saja, Sya.”
Hujan diluar sudah mulai reda, dengan begitu
aku sudah bisa tidur. Nico masih disampingku, tangannya masih membelai
rambutku. Rasa kantuk mulai melandaku, aku mulai tertidur dipangkuan Nico.
Tiba-tiba terdengar suara memanggilku.
“Asya...” suara itu yang sangat kukenali.
Kubukakan mataku perlahan, “ Mark..” jawabku.
“Apa yang sedang kalian lakukan di dalam kamar? Kau mau
membalasku, Sya? Dan kau apa yang kau lakukan disini??” Mark membentak kami,
dan menunjuk Nico.
Pelan-pelan aku duduk, kukumpulkan
kesadaranku sepenuhnya,
“Kami tidak melakukan apapun disini, dia
menemaniku” jawabku.
Mark tersenyum sinis. “Sulit bagiku untuk percaya
semua ini, Sya. Pantas saat kutelepon kau tidak menjawabnya.”
“Mark, kami tidak melakukan apapun. Percayalah.
“ kata Nico
Mark meraih kerah baju Nico, “Aku tak akan
pernah bisa mempercayai orang seperti mu.” tiba-tiba Mark memukul wajah Nico.
Dan Nico membalas pukulan Mark.
“Mark, Nico… stop... “ aku berdiri dan
melerai mereka berdua.
Kutarik tangan Mark, agar dia tak berhenti
memukul Nico, tapi Mark sepertinya tak mendengarkanku.
“Stop... stop Mark...” aku berteriak sambil
menarik tangan Mark. Namun saat aku menarik tangannya, Mark menepis tanganku
dengan keras. Saat Mark melepaskan tanganku, aku terhempas kelantai. Terasa
penglihatanku berkunang-kunang dan berputar – putar dan akhirnya gelap.
***
Saat ku bukakan mataku, cahaya lampu diatas
sana ssangat menyilaukan mataku. Mataku mengelilingi semua ruangan, dinding
putih. Ini bukan kamarku.
“Aku dimana??” tanyaku.
“Asya kau sudah sadar.” Diambilnya air minum
disamping tempat tidurku dan memberikan padaku. Dan aku meminumnya. “Maafkan
aku Sya.” Mark membelai wajahku pelan.
“Apa yang terjadi?? “ tanyaku sambil kembali mengingat
apa yang terjadi denganku.
“Ini semua salahku, sungguh ini salahku, Sya.”
katanya dengan raut wajah menyesal.
Sejenak kuabaikan Mark yang meminta maaf
padaku. Perlahan aku mengingatnya. Nico, bagaimana dia. Aku takut terjadi
sesuatu dengannya. Tapi tak berani aku menanyakannya.
“Kenapa aku disini?? Aku mau pulang.”
` Asya,
mengapa kau tak memberitahuku kalau kau sakit??”
“Sakit?? “ aku bingung apa yang dikatakan
Mark.
“Menurut dokter kau sakit, ada infeksi
dilambungmu dan kau sakit Tifus. Kau tak pernah memberitahuku tentang ini.”
Tiba- tiba aku mengingat masalah ku dengan
Mark. Emosi langsung naik, kemarahanku tak sanggup lagi kutahan.
“Itu tidak penting Mark “ jawabku ketus
“Itu penting untukku Sya, kau segalanya
untukku.”
Aku masih diam, tak tahu apa yang harus
kukatakan. Sebenarnya aku masih kesal dengannya. Saat aku terdiam Mark memegang
tanganku dan menciumnya.
“Asya, aku tahu aku salah, tapi percayalah
semua yang kau lihat saat itu hanyalah kesalahpahaman saja. Itu tak seburuk yang
kau bayangkan sayang.”
“Salah paham??”
“Saat aku sampai digaleriku Sharon sudah
datang, awalnya kami hanya mengobrol, entah kenapa lama-lama dia mendekat lalu
menciumku.”
“Tapi kau membalasnya Mark” air mataku mulai
mengalir.
“Maafkan aku, Sya. Kumohon berhentilah menjauhiku.”
katanya sambil menyeka air mataku.
“Apa yang kau pikirkan antara aku dan Nico?? Kau
juga pasti berpikiran buruk, kan?”
“Aku sudah dengar semuanya dari Nico, maaf
atas prasangka burukku padamu. Saat itu aku sangat emosi, Sya.”
“Mark, perbuatanmu sudah menyakiti orang lain.”
“Iya Sya, aku tahu. Aku emosi saat melihat
kau dan dia berada dikamar”
“Seburuk itukah pemikiranmu padaku, Mark?”
Lalu Mark mendekatkan wajahnya ke wajahku,
diciumnya dahiku cukup lama. Aku memejamkan mataku, merasakan ciuman hangat
darinya.
“Aku mencintaimu Asya, aku sangat
mencintaimu. Kau mencintaiku, kan??.” bisik Mark pelan padaku.
Air mataku jatuh lagi, aku tak pernah bisa
membohongi perasaan ku. Aku juga mencintainya, aku sangat takut kehilangannya.
Aku mengangguk “iya, aku mencintaimu Mark,”
jawabku.
Lalu Mark memegang wajahku dengan kedua
tangannya, bibirnya mencium lembut bibirku. Kupejamkan mataku, ciuman Mark
semakin lama semakin liar, Mark mengigit bibirku dan lidahnya menerobos masuk
kemulutku, nafasku mulai terengah-engah. Ku gantungkan tanganku dileher Mark,
badanku sudah sedikit terangkat.
“Mark,,,” aku mengerang..
“Asya, aku mencintaimu..” suaranya terdengar
mengerang.
Tiba-tiba terdengar handle pintu berbunyi dan
suara seseorang berdehem. Kami segera tersadar dan Mark melepasku, lalu aku
kembali berbaring.
“Aku rasa kita datang terlalu cepat.” Lila
meledekku.
“Lila...” aku melotot, wajahku pasti sudah
memerah.
Lila mendekat dan dibelakangnya Zac, Dhea,
Gale dan Nico mengiringi.
“Aku fikir kau sudah sehat.” kata Lila.
“Ada apa La, “ tanya Dhea.
“Tidak apa-apa Dhee..” jawab Lila sambil
tersenyum.
Malam itu aku dan Mark sudah kembali seperti
dulu, aku harap takkan ada lagi masalah yang mengganggu. Mark juga sudah
meminta maaf dengan Nico tentang kesalah pahaman yang terjadi. Nico
memaafkannya dan mereka terlihat akrab setelah berbaikan. Aku juga baru tahu
kalau ternyata Sharon itu ternyata sudah menikah di Italia. Dia kembali
menganggu hidup Mark karena dia sedang ada masalah dengan suaminya. Kemarin
suaminya menjemput Sharon untuk kembali ke Italia dan Sharon ikut.
Setelah hari sudah larut malam, Dhea, Gale,
Lila, Zac dan Nico pulang. Sebenarnya mereka tidak ingin pulang, tapi aku
melarangnya. Dhea dan Lila sudah seharian ini pergi, aku tahu pasti mereka
sangat lelah. Jadi Mark yang menemaniku, aku juga sangat merindukannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar