Jumat, 07 Desember 2012

Chapter 15


Chapter 15

“Asyaa,. “ Dhea memanggilku beberapa kali.

Kubukakan pintu kamarku. Dhea masuk dan duduk disudut tempat tidurku.

“Sya, apa yang terjadi denganmu?? Kau menangis?” Dhea mencecarku dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
“Aku tidak apa-apa Dhee, aku hanya merindukan mama dan papaku. Saat ini aku sangat merindukan mereka. “ kataku sambil menghapus air mataku.
“Telepon mereka Sya, jika merindukannya. Atau kau ada masalah dengan Mark??” sepertinya Dhea tahu apa yang terjadi denganku. Karena selama ini aku tak pernah menangis jika aku merindukan orangtua ku. Aku hanya akan menelpon mereka seharian.
“Tidak Dhee,” jawabku sambil tersenyum kecut.
“Baiklah, aku dengan Gale akan pergi, Sya. Kuharap kau akan baik-baik saja ya. Oh iya tadi Nico datang dari London, dan rencananya malam ini dia akan datang kesini,  tadi dia menanyakanmu. “ Dhea meledekku.
“Oh, iya. “Jawabku pendek.
Dhea tersenyum dan dia keluar kamarku. Kututup lagi pintu kamarku. Hari sudah sore, kupikir dengan mandi akan membuatku sedikit tenang. Saat aku akan masuk kekamar mandiku. Pintu kamarku terbuka, saat aku menoleh ternyata Mark.

“Asya, aku bisa jelaskan semuanya. Itu tidak seperti yang kau bayangkan sayang.” Mark mendekat kearahku
“Cukup Mark, tidak ada lagi yang harus dijelaskan. Itu semua sudah cukup untuk membuktikannya. Aku melihat sendiri apa yang terjadi.” air mataku langsung jatuh di pipiku.
“Tapi aku tak menyangka  akan terjadi hal itu, Sya.”
“Heh? Tidak menyangka aku akan datang kan?? Mungkin kau akan berbuat lebih dari itu kalau aku tidak datang” kataku sambil tersenyum kecut.
“Asya, kau harus percaya padaku, semuanya hanya salah paham saja.” Mark memohon padaku.
“Semuanya benar Mark dan aku percaya apa yang sudah aku lihat itu itu” bentakku padanya.
“Asya, apa yang terjadi denganmu,?”
“Aku baik-baik saja, dan akan lebih baik lagi jika kau pergi dari sini. Aku benci jika kau ada disini.” Aku mendorong Mark keluar dari kamarku. Dan Mark pun keluar dari kamarku.
“Aku akan menunggumu disini, Sya.”
“Terserah.” aku membanting pintu kamarku dan menguncinya.
               
Malamnya aku hanya  mengurung diri dikamar. Beberapa kali kudengar Mark, Dhea dan Lila memanggilku. Namun tak kuhiraukan mereka. Bahkan saat Nico datang pun aku masih tak keluar kamar. Kesedihanku hari ini membuat ku kelelahan hingga akhirnya aku tertidur.

                Siang itu aku terbangun saat kurasakan hangatnya sinar mentari pagi yang mengenai wajahku. Saat terbangun rasanya badanku terasa lemah, perlahan aku berdiri dan saat aku duduk terasa penglihatanku berkunang-kunang. Rasanya tenggorokanku sangat kering. Kuraih gelas yang ada dimejaku, ternyata airnya sudah habis. Akupun keluar kamar untuk minum, terasa pusing kepalaku saat berjalan. Saat aku berjalan menuju dapur, aku tidak melihat Lila dan Dhea. Dan aku baru ingat kalau hari ini mereka pergi bersama kekasih mereka. Aku mengambil sedang menuangkan air minum kedalam gelas, tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku.

“Asya..”

Aku langsung menoleh kesumber suara yang memanggilku. Dan ternyata itu Nico.  “Nico??” aku menyapanya. 
“ Iya ini aku, apa kabar?? Kau kelihatan pucat. Kau sakit yaa??” Nico memelukku sejenak.
“Tubuhmu panas Sya, sepertinya kau demam.” Nico menyentuh pipiku dengan telapak tangannya.
“Tidak, aku baik-baik saja..” kataku sambil tersenyum. Dan aku meminum air yang kutuangkan tadi.
“Sejak kapan kau disini??”tanyaku.
“Sejak semalam Sya, aku sudah mengetuk pintu kamarmu tapi sepertinya kau sudah tidur. Oh iya kekasihmu juga datang tadi malam. Tapi karena kau sudah tidur, dia pulang.” Jelas Nico.

Mendengar penjelasan Nico, aku jadi teringat kejadian kemarin. Perasaan kesal mulai menghampiriku lagi.

“Kenapa Sya?” Nico menatapku.
“Tidak apa-apa, aku balik kekamar, ya.” Kataku sambil pergi meninggalkan Nico.
“Kau tidak ingin sarapan. Dhea mengatakan padaku bahwa kau belum makan dari tadi malam.”
“Aku tidak lapar, terima kasih.” jawabku sambil membuka pintu kamar dan menutupnya lagi.

Seharian aku masih mengurung diri dikamar, beberapa kali Mark menelponku tapi tak kuhiraukan, dia datangpun tak membuatku keluar dari kamar. Aku masih sangat sakit hati dengannya.
               
Sorenya kuputuskan untuk keluar, sudah hampir dua hari aku tidak makan apa-apa. Aku sangat lapar. Akhirnya kuputuskan untuk membeli makanan di restoran Cina langganan kami. Walaupun hari agak mendung, aku tetap pergi. Saat datang kesana kulihat pembeli sudah ramai, jadi aku ikut mengantri dengan yang lain. Saat sedang antri hujan turun dengan derasnya. Sampai akhirnya aku selesai membeli makanan hari tetap saja hujan walau tak sederas tadi. Akhirnya ku paksakan untuk pulang, aku berjalan secepat mungkin supaya tidak kebasahan, namun hujan kembali deras. Aku sudah kebasahan saat sampai diapartemen. Diapartemen, kulihat Nico sudah ada. Memang selama New York dia sering kesini, karena hotelnya yang tidak jauh dari apartemen kami.

“Asya, kau dari mana??” dia terkejut melihatku sudah basah kuyup.
“Aku dari restoran depan, aku membeli makanan.” jawabku sambil menggigil dan meletakkan kantong makananku dimeja.
“Coba kau menelponku, akan aku belikan. Kau cukup menunggu disini Asya.” kata Nico,
“Aku tidak tahu kau akan datang kemari.” jawabku gemetar.
“Sebaiknya kau ganti dulu pakaianmu, akan aku buatkan coklat panas untukmu.” Katanya sambil berjalan kedapur.

Aku mengangguk sambil masuk kekamar. Saat dikamar aku langsung mandi dengan air hangat. Aku sangat kedinginan. Badanku juga terasa sangat lemah dan kepalaku pusing. Setelah berpakaian aku, keluar. Kulihat Nico sudah duduk diruang makan sambil mengaduk dua gelas coklat panas. Aku mengambil bungkusan makanan yang ada diatas meja tadi. Dan langsung duduk didekat Nico.

“Kau harus makan Sya, badanmu sangat pucat. Aku takut kau sakit. “
“Iya aku tahu, kepalaku hanya sedikit pusing. Aku akan minum obat nanti.” Jawabku.

Lalu aku membuka bungkusan makananku dan mulai memakannya. Saat makanan itu masuk kedalam mulutku terasa sangat tidak enak. Lidahku terasa pahit. Lalu kuletakkan lagi sendokku dan minum air putih.

“Kenapa Sya??” Nico heran melihatku.
“Makanannya tidak enak, tidak seperti biasanya. Pahit.”
Nico mengerutkan dahinya, “Pahit?”
Aku mengangguk. “Kau coba saja.”
Lalu Nico menyendok makananku dan memakannya.“Tidak pahit, ini sangat enak.”
“Aku tidak mau memakannya.” Kataku sambil beranjak dari kursiku.

 Saat aku berdiri terasa sakit kepalaku hingga terasa keseimbanganku mulai hilang. Nico yang ada didekatku memegang lenganku takut aku jatuh.

“Asya tubuhmu panas sekali, kau demam.. ayo aku antar kekamar. Kau harus istirahat. Lagipula kau baru saja kehujanan.”

Aku hanya menurutinya, Nico merangkulku saat masuk kekamar. Dia membaringkanku dan menyelimuti tubuhku. Aku benar-benar sangat kedinginan. Karena badanku panas, Nico mengompresku, dan memberikan ku obat demam. Sesaat setelah minum obat aku berusaha untuk tidur. Namun kudengar ponselku berbunyi Dhea menelpon.

“Halo, Dhee.”
“Halo, Sya. Tadi Nico bilang kau demam ya. Maaf Sya, aku dan Lila belum bisa pulang. Disini hujan sangat deras.”
“Iya Dhee, aku tidak apa-apa.  Aku sudah minum obat, mungkin sebentar lagi akan baikan.” Jawabku.
“Oh iya, kalau masih hujan sebaiknya kalian tetaplah disana. Sangat berbahaya menyetir setelah turun hujan. “ jawabku
“Iya Sya, akan kami usahakan untuk pulang secepatnya, ya.” katanya sambil menutup telponnya.

Lalu kuletakkan lagi ponselku, belum lama kuletakkan Mark menelponku. Ku matikan suaranya agar tak menggangguku. Aku masih belum mau berbicara dengannya.  Hujan diluar dimasih saja deras beberapa kali kedengar suara petir menggelegar, sebenarnya aku sangat takut petir. Dan tiba-tiba terdengar suara petir yang sangat besar, sontak aku langsung menjerit smbil menutup telingaku.

Nico yang berada diluar kembali masuk melihatku. Dia mendekatiku.

“Ada apa Sya??” katanya sambil mendekat kearahku.
“Aku takut...” jawabku gemetar.
“Baiklah akan kutemani kau disini.” katanya sambil duduk disampingku.
Nico duduk disampingku sambil membelai rambutku. “Tidurlah aku akan menemanimu.” Katanya sambil mencium dahiku. “Aku merindukanmu Sya.”
“Aku juga.” jawabku sambil menatapnya.

Lalu Nico menunduk dan mendekatkan wajahnya kewajahku. Dan tiba-tiba bibirnya menyentuh bibirku. Nico mencium dengan lembut, lama kelamaan lidahnya mendesak masuk kedalam kedalam mulutku. Dan disaat itulah aku mulai tersadar. Ya Tuhan apa yang ku lakukan, kataku dalam hati. Aku menjauh darinya.

“Maaf Nico... “
“Sudahlah sebaiknya kau tidur saja, Sya.”

Hujan diluar sudah mulai reda, dengan begitu aku sudah bisa tidur. Nico masih disampingku, tangannya masih membelai rambutku. Rasa kantuk mulai melandaku, aku mulai tertidur dipangkuan Nico. Tiba-tiba terdengar suara memanggilku.

“Asya...” suara itu yang sangat kukenali.
Kubukakan mataku perlahan, “ Mark..” jawabku.
“Apa yang sedang kalian lakukan di dalam kamar? Kau mau membalasku, Sya? Dan kau apa yang kau lakukan disini??” Mark membentak kami, dan menunjuk Nico.

Pelan-pelan aku duduk, kukumpulkan kesadaranku sepenuhnya,

“Kami tidak melakukan apapun disini, dia menemaniku” jawabku.
Mark tersenyum sinis. “Sulit bagiku untuk percaya semua ini, Sya. Pantas saat kutelepon kau tidak menjawabnya.”
“Mark, kami tidak melakukan apapun. Percayalah. “ kata Nico
Mark meraih kerah baju Nico, “Aku tak akan pernah bisa mempercayai orang seperti mu.” tiba-tiba Mark memukul wajah Nico. Dan Nico membalas pukulan Mark.
“Mark, Nico… stop... “ aku berdiri dan melerai mereka berdua.

Kutarik tangan Mark, agar dia tak berhenti memukul Nico, tapi Mark sepertinya tak mendengarkanku.
“Stop... stop Mark...” aku berteriak sambil menarik tangan Mark. Namun saat aku menarik tangannya, Mark menepis tanganku dengan keras. Saat Mark melepaskan tanganku, aku terhempas kelantai. Terasa penglihatanku berkunang-kunang dan berputar – putar dan akhirnya gelap.

***

Saat ku bukakan mataku, cahaya lampu diatas sana ssangat menyilaukan mataku. Mataku mengelilingi semua ruangan, dinding putih. Ini bukan kamarku.
“Aku dimana??” tanyaku.
“Asya kau sudah sadar.” Diambilnya air minum disamping tempat tidurku dan memberikan padaku. Dan aku meminumnya. “Maafkan aku Sya.” Mark membelai wajahku pelan.
                “Apa yang terjadi?? “ tanyaku sambil kembali mengingat apa yang terjadi denganku.
“Ini semua salahku, sungguh ini salahku, Sya.” katanya dengan raut wajah menyesal.

Sejenak kuabaikan Mark yang meminta maaf padaku. Perlahan aku mengingatnya. Nico, bagaimana dia. Aku takut terjadi sesuatu dengannya. Tapi tak berani aku menanyakannya.

“Kenapa aku disini?? Aku mau pulang.”
`               Asya, mengapa kau tak memberitahuku kalau kau sakit??”
“Sakit?? “ aku bingung apa yang dikatakan Mark.
“Menurut dokter kau sakit, ada infeksi dilambungmu dan kau sakit Tifus. Kau tak pernah memberitahuku tentang ini.”

Tiba- tiba aku mengingat masalah ku dengan Mark. Emosi langsung naik, kemarahanku tak sanggup lagi kutahan.

“Itu tidak penting Mark “ jawabku ketus
“Itu penting untukku Sya, kau segalanya untukku.”

Aku masih diam, tak tahu apa yang harus kukatakan. Sebenarnya aku masih kesal dengannya. Saat aku terdiam Mark memegang tanganku dan menciumnya.

“Asya, aku tahu aku salah, tapi percayalah semua yang kau lihat saat itu hanyalah kesalahpahaman saja. Itu tak seburuk yang kau bayangkan sayang.”
“Salah paham??”
“Saat aku sampai digaleriku Sharon sudah datang, awalnya kami hanya mengobrol, entah kenapa lama-lama dia mendekat lalu menciumku.”
“Tapi kau membalasnya Mark” air mataku mulai mengalir.
“Maafkan aku, Sya. Kumohon berhentilah menjauhiku.” katanya sambil menyeka air mataku.
“Apa yang kau pikirkan antara aku dan Nico?? Kau juga pasti berpikiran buruk, kan?”
“Aku sudah dengar semuanya dari Nico, maaf atas prasangka burukku padamu. Saat itu aku sangat emosi, Sya.”
“Mark, perbuatanmu sudah menyakiti orang lain.”
“Iya Sya, aku tahu. Aku emosi saat melihat kau dan dia berada dikamar”
“Seburuk itukah pemikiranmu padaku, Mark?”

Lalu Mark mendekatkan wajahnya ke wajahku, diciumnya dahiku cukup lama. Aku memejamkan mataku, merasakan ciuman hangat darinya.

“Aku mencintaimu Asya, aku sangat mencintaimu. Kau mencintaiku, kan??.” bisik Mark pelan padaku.

Air mataku jatuh lagi, aku tak pernah bisa membohongi perasaan ku. Aku juga mencintainya, aku sangat takut kehilangannya.

Aku mengangguk “iya, aku mencintaimu Mark,” jawabku.

Lalu Mark memegang wajahku dengan kedua tangannya, bibirnya mencium lembut bibirku. Kupejamkan mataku, ciuman Mark semakin lama semakin liar, Mark mengigit bibirku dan lidahnya menerobos masuk kemulutku, nafasku mulai terengah-engah. Ku gantungkan tanganku dileher Mark, badanku sudah sedikit terangkat.

“Mark,,,” aku mengerang..
“Asya, aku mencintaimu..” suaranya terdengar mengerang.

Tiba-tiba terdengar handle pintu berbunyi dan suara seseorang berdehem. Kami segera tersadar dan Mark melepasku, lalu aku kembali berbaring.

“Aku rasa kita datang terlalu cepat.” Lila meledekku.
“Lila...” aku melotot, wajahku pasti sudah memerah.
Lila mendekat dan dibelakangnya Zac, Dhea, Gale dan Nico mengiringi.
“Aku fikir kau sudah sehat.” kata Lila.
“Ada apa La, “ tanya Dhea.
“Tidak apa-apa Dhee..” jawab Lila sambil tersenyum.

Malam itu aku dan Mark sudah kembali seperti dulu, aku harap takkan ada lagi masalah yang mengganggu. Mark juga sudah meminta maaf dengan Nico tentang kesalah pahaman yang terjadi. Nico memaafkannya dan mereka terlihat akrab setelah berbaikan. Aku juga baru tahu kalau ternyata Sharon itu ternyata sudah menikah di Italia. Dia kembali menganggu hidup Mark karena dia sedang ada masalah dengan suaminya. Kemarin suaminya menjemput Sharon untuk kembali ke Italia dan Sharon ikut.

Setelah hari sudah larut malam, Dhea, Gale, Lila, Zac dan Nico pulang. Sebenarnya mereka tidak ingin pulang, tapi aku melarangnya. Dhea dan Lila sudah seharian ini pergi, aku tahu pasti mereka sangat lelah. Jadi Mark yang menemaniku, aku juga sangat merindukannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar