Jumat, 07 Desember 2012

Chapter 14


Chapter 14                                                                                 

                “Ya sudah, sampaikan saja salam kami berdua untuknya. Kami pergi.”
                Dhee berbisik padaku, “Lila, kau harus mencoba bercinta di atas sofa karena sensaninya sangat berbeda sekali.” Lalu Dhea tertawa melihat ekspresiku.

                Lalu Dhea dan Gale pun pergi. Setelah mereka berdua masuk ke dalam lift aku kembali masuk kedalam dan menngunci pintunya. Saat berbalik tiba-tiba Zach langsung menyergapku, mendorong tubuhku ke dinding dan menciumku dengan sangat bergairah.

                “Zach…” aku melepaskan diri dari ciumannya.
                “Maaf aku membuatmu kaget. Dhea dan Gale sudah berangkat?”
                “Mereka baru saja berangkat, ayo kita sarapan.”
                “Tapi aku ingin sarapan yang lain…”
                “Jangan yang aneh-aneh, aku sangat lapar kau tahu.”
                “Tapi aku merasa lapar pada tubuhmu itu, sayang.”
                “Tapi aku butuh makanan untuk tenagaku. Jangan berdebat di meja makan, aku mohon.”
               
                Akhirnya Zach pun ikut sarapan bersamaku, meskipun setelah selesai sarapan ia langsung mengajakku kembali bercinta di setiap sudut yang berada di apartemen. Lalu kembali bercinta di kamarku, setelah itu kami mandi bersama, dan pada siang harinya ketika akan pergi aku dan Zach akan pergi Asya dan Mark datang. Sepertinya ada yang aneh dengan mereka berdua, seperti sedang bertengkar.

                “Hai Zach, aku tidak tahu bahwa kau berada di sini.”
                “Hai Sya, kemarin malam kami memang menginap di sini.”
                “Kau menginap di sini Zach?”
                “Sudah-sudah nanti aku akan menjelaskannya padamu. Sekarang ini kami sedang terburu-buru.”
***
Pagi ini aku sudah bersiap untuk pergi kekampus, saat aku keluar dari kamarku kulihat Dhea baru saja berangkat dengan Gale, sedangkan Lila sejak kemarin sore belum pulang karena pergi bersama Zach. Aku masih terduduk di sofa ruang tamuku sambil menunggu Mark, sebentar lagi dia akan datang menjemputku. Dan benar saja belum lama aku menunggu terdengar pintu apartemenku diketuk. Buru –buru aku membukanya, benar dugaanku Mark yang datang.

“Selamat pagi sayang.” kata Mark sambil memeluk dan mencium keningku sekilas.
“Selamat pagi juga sayang.” jawabku sambil tersenyum.
“Apakah aku sudah terlambat menjemputmu?? “
Aku menggeleng “Tidak, aku baru saja selesai.”
“Yang lain sudah pergi??”tanyanya sambil melihat sekeliling ruangan apartemenku.
“Iya, Dhea sudah pergi bersama Gale sekitar 10 menit yang lalu, sedangkan Lila dari kemarin belum pulang bersama Zach. Tapi yang pasti dia akan ada dikampus hari ini.” jelasku pada Mark.
“Oke, apa kita akan pergi sekarang sayang?  Aku tak ingin kau terlambat.”katanya sambil melirik jam tangannya.
“Iya sekarang.” jawabku sambil mengambil tasku.

Kami pun beranjak meninggalkan apartemenku menuju parkiran. Saat dimobil Mark dan aku berencana hanya mengobrol ringan hingga tak terasa kami sudah sampai diparkiran kampus.

“Mark, aku kuliah dulu, ya.”
“Maafkan aku sayang,  aku tidak bisa mengantarkan sampai kedalam. Aku ada janji dengan klienku 30 menit lagi” katanya sambil memegang pipiku lembut.
“Tidak apa-apa. Aku tahu kau sedang ada pekerjaan kan.” jawabku sambil menyentuh tangannya yang sedang memegang pipiku.
Thanks ya,  I love you, Sya.” katanya.
Akupun tersenyum dan mengangguk “ I love you too, Mr Feehily.”

Dan saat aku memandangnya Mark langsung mendekatkan wajahnya kewajahku. Dapat kurasakan nafasnya yang hangat diwajahku. Dan tiba-tiba Mark langsung mendaratkan bibirnya ke bibirku dengan lembut. Namun lama kelamaan ciumannya menjadi ciuman yang menggairahkan. Mark menggigit bibir bawahku, begitupun aku sebaliknya. Lidah Mark menerobos masuk kedalam mulutku. Ciuman kami semakin panas, dan nafasku mulai terengah-engah.

Tiba –tiba suara ponselku membuat kami kembali kedunia nyata. Mark melepaskan ciumannya dan menatapku dalam. Kuambil ponselku yang ada didalam tas. Tertulis nama Dhea disana.

“Dhea.” sambil menunjukkan ponselku ke Mark.

Mark mengangguk sambil tersenyum, sambil membelai rambutku yang berantakan. Sedangkan aku menerima telpon Dhea.

“Iya Dhee…”
“Mark sudah menjemputmu??” tanyanya.
“Iya, aku sudah diparkiran, sebentar lagi aku sampai dikelas”  jawabku.
“Baiklah aku hanya ingin memberitahumu, dosen kita tidak masuk. Tapi ada tugas yang harus kita selesaikan hari ini juga.”jelasnya.
“Iya Dhee, trima kasih yaa.” jawabku sambil menutup telponnya. Dan memasukkannya kedalam tas.

Setelah itu aku merapikan lagi dan rambutku yang berantakan.
“Ada apa??” tanya Mark.
“Dosennya tidak hadir hari ini, tapi ada tugas yang harus kami kerjakan.” Jawabku “Oh, iya aku masuk dulu ya sayang.” kataku lagi sambil mencium pipinya
“Iya, nanti akan kujemput seperti biasa, ya.”

Aku mengangguk sambil tersenyum dan membuka pintu mobilnya. Lalu aku pun masuk kedalam halaman kampus menuju kekelasku.

***

                Tugas hari ini cukup banyak dan membuatku merasa lelah, karena itulah sampai – sampai kami lupa makan siang. Kulirik jam tanganku sudah menunjukkan pukul 3 siang. Saat baru keluar kelas, Dhea dan Lila mengajakku kekantin untuk makan tapi tadi Mark sudah menelponku. Dia sudah menungguku diparkiran. Jadi kuputuskan untuk tidak ikut dengan Lila dan Dhea. Aku bergegas menyusul Mark. Dan saat sudah sampai diparkiran aku langsung menghampiri mobil ferrari merah, ya aku yakin itu pasti Mark. Dan saat aku mendekat kemobilnya, Mark keluar dari mobilnya sambil tersenyum padaku.

“Kau terlihat tidak baik sayang?”
“Hanya sedikit lelah.” Jawabku sambil membuka mobilnya dan masuk.

Begitu pun Mark yang masuk dan duduk dibalik kemudinya dan mulai mengendarai mobilnya. Wajahnya berubah heran ketika melihat wajahku yang sedikit murung.

“Kau yakin baik-baik saja?? Kau tidak sakit kan??” tanyanya meyakinkanku.
“Tidak sayang, aku baik-baik saja sungguh” jawabku sambil tersenyum.
“Kau sudah makan siang? Aku pikir kau belum makan. Kau sangat tidak bertenaga sayang” Mark menoleh kearahku sekilas dan fokus menyetir.
Aku mengangguk pelan, “Iya Mark aku belum makan, tapi sekarang aku sudah tidak lapar lagi.”
“ Tapi kau harus makan sayang. Aku tak ingin kau sakit. “

Aku menggeleng, sudah tak ada lagi rasa lapar diperutku, aku hanya kelelahan. Dan ingin cepat pulang. Tapi sepertinya tidak untuk Mark.

“Mark ini bukan jalan keapartemenku?” Tanyaku keheranan.
“Iya bukan, aku hanya ingin kau makan Asya, aku tak ingin kau sakit.”

Dan saat aku ingin menjawab pembicaraan Mark, kudengar ponselnya berbunyi. Dan Mark langsung mengangkatnya.

“Iya, halo…” sahut Mark, “ Iya benar, ini siapa, ya?” Mark menyahuti orang yang sedang menelponnya.
“Ohh,..” dan tak lama kemudian dijawabnya. “Maaf aku sedang tidak bisa diganggu.” Jawab Mark sambil menutup telponnya.

Aku penasaran siapa yang menelpon Mark, tapi enggan sekali rasanya aku untuk bersuara. Lagipula itu mungkin karyawan di galerInya.

Lalu Mark memberhentikan mobilnya di depan sebuah restoran.  Diapun keluar dari mobil dan membukakan pintu untukku.

“Sya, ayo turun. Kita makan sebentar sebelum kita pulang,. “ ajak Mark sambil menarik tanganku.

Karena aku tak ingin mengecewakan Mark, akhirnya aku turun dari mobil dan Mark merangkulku sambil berjalan masuk kedalam resto itu. Lalu kami duduk disebuah meja, Mark langsung memesan makanan untukku.

"Tugasnya banyak ya. Kau terlihat lelah sekali sayang" katanya sambil membelai wajahku.
"Ya, lumayan juga. Berfikir keras seharian membuatku sedikit pusing." Jawabku.
"Setelah ini aku antar kau pulang ya, supaya bisa istirahat." jawabnya.
Aku menganggu pelan. "Mark, aku ketoilet sebentar dulu ya" kataku sambil berdiri.
" Cepat kembali ya sayang." Katanya.

Aku tersenyum memandanginya. Dan pergi ketoilet.
Selesai dari toilet aku bercermin sambil mencuci tangan, dua wanita seumuranku masuk mereka nampak akrab sekali. Dari obrolan mereka sepertinya mereka sedang membicarakan seorang pria.

"Iya, tadi aku sudah menelponnya. Tapi sepertinya dia tidak bisa diganggu" kata  wanita berambut coklat
"Mungkin dia sibuk Shar.." jawab  wanita berambut pirang itu
"Tapi suara nya dingin seperti itu, beberapa kali kutelpon juga tetap seperti itu. Aku takut dia sudah benar-benar melupakanku, padahal aku sangat merindukannya" kata wanita itu.
"Kau coba saja lagi, untuk menelponnya." wanita pirang itu menjawab.

Aku selesai mencuci tangan dan merapikan rambutku. Lalu aku keluar dari toilet itu. Kudengar mereka masih asyik berbincang saat aku keluar.
Saat aku kembali kemeja, kulihat pesanan kami sudah tersedia dimeja. Akupun langsung duduk menghadap Mark.
"Maaf menunggu lama, ya"
"Tidak masalah sayang. Oh iya, makanan kita sudah datang. Kau makan, ya" katanya.
"Sebenarnya aku sudah tidak lapar" jawabku
"Itu karena kau sudah terlalu terlambat makan siang, Asya. Sekarang makanlah walau sedikit."
Aku mengangguk, dan mulai meminum orange juice yang sudah tersedia. Dan kami pun makan sambil sedikit ngobrol. Sekitar 30 menit kami selesai makan. Mark memanggil pelayan restoran itu untuk meminta tagihannya. Setelah menerima tagihannya, Mark ke meja kasir untuk membayar. Sedangkan aku masih duduk. 

Sudah beberapa menit mark ke meja kasir tapi dia belum juga kembali. Tidak biasanya Mark lama meninggalkanku. Akhirnya kuputuskan menyusul Mark.

Aku berjalan menuju meja kasir. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat Mark sedang berpelukan dengan seorang wanita. Wanita itu mencium pipi Mark dan setelah itu memeluk Mark. Terasa lemas badanku melihatnya.

"Aku sudah sangat merindukanmu Mark" kata wanita itu.

Yang membuatku lebih terkejut lagi, ternyata wanita itu adalah wanita  berambut coklat yang kutemui ditoilet tadi.

"Aku tak menyangka kita akan bertemu disini, tadi kau bilang kau sedang tidak bisa diganggu. Tapi ternyata kau disini" wanita itu masih memasih memeluk Mark.

Emosi ku sudah tidak bisa ku tahan lagi, ada hubungan apa sebenarnya Mark dengan wanita itu. Menelpon. Dia menelpon Mark. Mataku mulai panas, aku rasa sebentar lagi air mataku akan meleleh. Tapi berusaha untuk ku tahan. Aku pun memanggil Mark.

"Mark.." panggilku.

Seketika wanita itu melepaskan pelukannya dan Mark membalikkan badan. "Asya.." panggilnya dan langsung berjalan kearahku. Saat sudah didekatku dia melingkarkan tangannya ke pinggangku dan mencium keningku.

"Ayo ikut aku,." katanya sambil berbisik.

Aku hanya menuruti Mark, mendekat kewanita itu.

"Kenalkan Shar, ini Asya kekasihku. Asya ini Sharon." mark mengenalkannya padaku.
Ku jabat tanganku kepada wanita itu.
"Sharon,."katanya sambil tersenyum yang dipaksa kepadaku.
"Natasya." Jawabku datar. Lalu aku memandangi Mark. "Aku mau pulang sekarang sayang.”
“Baiklah sayang, kita pulang sekarang..” katanya sambil menepuk bahuku.
“Shar, kami berdua pamit.” Mark pamit dengan Sharon. Dan Sharon hanya mengangguk. Sedangkan aku tersenyum kepada Sharon. Lalu kami berdua pergi meninggalkan Sharon.

                Saat dimobil aku hanya terdiam sambil memejamkan mataku, kurasakan tangan yang hangat menyentuh dahiku.

“Kau sakit sayang.”
Aku membuka mataku. “Tidak.” jawabku dan kembali memejamkan mataku.
“Sya, apa yang terjadi denganmu. Dari tadi kau hanya diam saja. Apa ada yang salah??” tanya Mark.
Aku menggeleng.
“Jangan bohong Sya, ada apa??”
“Oh iya, tadi itu Sharon, dia...”
“Dia mantan kekasihmu kan??” langsung kupotong Mark yang sedang berbicara.
Sesaat Mark terdiam, dan akhirnya kembali berbicara.
“Iya Sya, dia mantan pacarku. Tapi kami sudah lama tidak bertemu.”
“Tapi masih menelponnya, dan kau juga cinta pertamanya kan??” aku mencecar dia dengan pertanyaan –pertanyaan. Mataku kembali memanas dan air mataku langsung meleleh membasahi pipiku.  
“Asya sayang, percayalah. Aku hanya mencintaimu. Lagi pula  aku sudah tidak ada lagi hubungan dengannya. Tadi memang dia menelponku, tapi tak kuhiraukan. “ jawabnya dengan raut wajah bersungguh-sunggguh. Tangannya menghapus air mataku yang jatuh.         
“Mark, tapi dia menginginkanmu kembali bersamanya. Sebenarnya tadi aku sudah bertemu dengannya di toilet. Sharon bersama temannya, dia bilang kalau dia akan membuatmu kembali padanya.” Suaraku terdengar terisak.
“Asya percayalah padaku, aku akan berhati-hati dengannya. Sekarang jangan menangis lagi. Demi Tuhan, Hanya kau yang kucintai sayang, tak ada yang lain.” katanya menghapus air mataku dengan tangan kirinya.

Aku mengangguk sambil menghela nafas panjang. Sebenarnya aku sangat takut kehilangan Mark.  Dialah segalanya untukku saat ini, selain Lila dan Dhea kedua sahabatku.
Sesampainya, aku langsung turun dari mobil Mark dan masuk keapartemenku. Sedangkan Mark langsung pulang. Karena dia ada pekerjaan yang harus diselesaikannya malam ini. Saat aku masuk kulihat Lila dan Zach sedang ada diapartemen. Mereka berdua sedang bersantai sambil menonton TV.

“Kau sudah pulang Sya??”
“Iya, La “
“Mark mana??” tanyanya.
“Dia sudah pulang, ada pekerjaan yang harus diselesaikannya malam ini. aku masuk dulu ya La, Zach,” kataku meninggalkan mereka berdua.

Akupun masuk kamar dan langsung menghempaskan tubuhku ketempat tidur. Bayangan wajah Sharon tadi menghantuiku. Apalagi saat dia memeluk dan menatap Mark. Sungguh hal itu membuatku takut kehilangan Mark.

***

Sejak aku bertemu dan tahu tentang Sharon, aku merasa hubunganku dengan Mark sedikit merenggang. Beberapa kali juga aku berdebat dengan Mark, walau akhirnya Mark yang mengalah. Aku sungguh tak mengerti dengan apa yang terjadi denganku saat ini. Apakah rasa cemburuku ini berlebihan.

Hari ini aku berangkat kekampus bersama Dhea dan Gale. Karena sudah 3 hari Mark pergi keLondon untuk mengunjungi keluarganya. Rencananya siang ini Mark akan kembali ke New York. Tapi aku tidak bisa menjemputnya, karena aku ada ujian. Jadi kupikir aku akan datang ke galerinya setelah pulang dari kuliah.

Ujian kuhari ini bisa kuselesaikan dengan baik, saat keluar aku bergegas mencari taksi untuk pergi. Tadi pagi aku sudah memesan beberapa cupcake coklat. Sudah lama kami tidak makan cupcake coklat dan es krim bersama. Sebenarnya Mark akan protes jika aku makan es krim disaat musim hujan seperti ini. Cepat – cepat aku keluar dari minimarket itu dan kembali pergi dengan taksi yang menungguku tadi. Sudah tiga hari tidak bertemu dengan Mark, aku sudah sangat merindukannya. Tak terasa aku sudah sampai dipakiran galeri milik Mark. Kulihat mobilnya sudah terparkir didekat pintu masuk. Mark benar-benar sudah sampai, gumanku dalam hati.

Akupun langsung masuk kedalam galerinya menuju ruangannya. Saat aku didepan pintu ruangan pribadi Mark, aku melihat sebuah kenyataan yang sangat mengejutkankanku. Sharon sedang mencium bibir Mark, tangannya memegang wajah Mark, sedangkan Mark terpaku berdiri, dan tiba-tiba kulihat Mark membalas ciuman itu, ya Tuhan sungguh aku tak sanggup melihat semua ini.  Air mataku langsung mengalir tanpa bisa kutahan lagi. Mark, apa yang kutakutkan selama ini terjadi. Kuhempaskan kotak cupcake dan es krim yang kubawa tadi. Aku berlari keluar galeri. Saat aku berlari kudengar Mark memanggilku. Aku berlari sekuat yang aku bisa, hingga aku menemukan sebuah taksi yang lewat dan menumpanginya.

“Asya…  Asya tunggu…” Mark mengetuk pintu taksi yang kutumpangi.

Tak kuhiraukan Dia, dan menyuruh sopir taksi itu tetap jalan.
Di taksi itu menangis sejadi-jadinya sungguh hatiku sakit mengingat yang baru saja terjadi.
Saat tiba di didekat apartemen aku langsung menghapus air mataku. Aku tak ingin  merusak kebahagiaan kedua sahabatku, aku tahu mereka pasti sudah pulang. Benar saja saat aku pulang kulihat ada Gale dan Dhea.

“Hai…” sapaku mereka berdua.
“Baru pulang Sya?” Dhea menatapku dengan curiga.
“Iya Dhee, aku kekamar dulu, ya.” kataku sambil masuk kekamar. Saat dikamar aku langsungmenghempaskan tubuhku ditempat tidur dan menangis. Kudengar Dhea mengetuk pintu kamar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar