Selasa, 04 Desember 2012

Chapter 12


Chapter 12

                Akhirnya Zach melepaskan ciumannya dan mencium keningku dengan sangat dalam sekali. Seolah-olah ia ingin membuktikan bahwa perasaannya padaku benar-benar tulus.

                “Maafkan aku Lila, aku hanya ingin membuktikannya padamu. Kau pasti bisa merasakan perasaanku, bukan?”
                “Zach… Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.”
                “Kau tak perlu menjawab apapun, Lila. Kau hanya perlu merasakan perasaanku saja. Aku ingin menjagamu Lila, melindungimu dari orang-orang yang membuatmu hancur.”
               
                Aku hanya bisa terdiam, tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Aku sempat melirik sekilas bahwa Kyle sudah tidak ada dan aku yakin sekali ia pasti melihat katika Zach menciumku. Zach sebenarnya sangat tampan, ia memiliki warna mata yang sama seperti Matt. Hanya saja warna mata Zach lebih lembut, penuh kasih sayang dan sangat meneduhkan.
                “Zach… Terima kasih untuk bunga lily yang kau kirimkan. Aku… sangat menyukainya.” Wajahku memanas ketika mengatakannya.
                “Dhea memberitahuku bahwa kau sangat menyukai bunga lily, dan bunga lily bisa memperbaiki suasana hatimu. Aku akan lebih sering mengirimimu bunga lily Lila.”
                “Tidak perlu Zach, kamarku sudah penuh dengan bunga-bunga pemberianmu.”
                Mendengar ucapanku Zach terlihat terkejut, “Kau menyimpan semua bunga-bunga pemberianku di dalam kamarmu?”
                “I-iya…” aku tergugu menjawab pertanyaan Zach, “Karena aku memang menyukai bungan lily, sangat sangat suka.”
               
                Aku dan Zach membicarakan banyak hal, ia bisa saja berhasil membuatku untuk tersenyum. Tapi tidak dengan hatiku, hatiku masih terlalu beku. Sampai akhrinya kami harus pulang karena malam sudah semakin larut dan Zach mengantarkanku pulang. Sebelum turun dari dalam mobil.

                “Terima kasih sudah membuat malamku menyenangkan, Lila.”
                “Zach, aku mau mengobrol banyak hal denganmu dan mau kau antar pulang bukan berarti kau sudah mendapatkan perhatianku dan sudah bisa meluluhkan hatiku. Kau tahu butuh waktu bagiku untuk bisa mempercayai lagi seorang pria.”
                “Aku akan menunggu sampai kau bisa mempercayaiku dan aku takkan pernah lelah untuk meyakinkanmu, Lila.”
                “Terima kasih sudah mengantarkanku pulang, Zach. Selamat malam.”

                Aku turun dari mobil Zach dan bergegas masuk kedalam gedung. Setelah di dalam aku melihat keluar, mobil Zach langsung pergi dan aku melihat Kyle berada di sebrang jalan dengan motor sport kesayangannya lalu ia pergi dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ya Tuhan…

                Aku naik ke apartemenku dengan perasaan yang sangat kacau sekali. Mengapa tiba-tiba aku jadi merasa bersalah pada Kyle atas apa yang sudah terjadi antara aku dan Kyle di Costa Coffee Bar tadi. Tapi untuk apa aku merasa bersalah? Toh Zach tiba-tiba saja muncul dan menciumku, tidak seperti dirinya yang seperti sengaja membuatku cemburu dan bermesraan dengan wanita lain di depanku.

                Ketika sampai aku medapati Mark dan Gale tentu saja bersama Asya dan Dhea. Mereka terlihat sedang berpesta karena aku melihat ada beberapa botol anggul di atas meja dengan berbagai macam makanan kecil.


                “Hai…” sapaku sambil hendak menuju ke kamar.
                “Hei Lila, kau mau kemana? Ayo bergabung dengan kami.”
                “Aku mau tidur saja, aku sangat-sangat lelah sekali. Terima kasih, Gale”
                “Ayolah minum bersama kami beberapa gelas saja.”
                “Baiklah, hanya dua gelas saja.”

                Akhrinya aku ikut bergabung dengan mereka berempat. Aku duduk di sebelah Dhee dan langsung menuangkan anggur kedalam gelas kosong yang ada di situ dan meminumnya dengan buru-buru. Dan kembali mengisi gelas yang sudah kosong itu.
                “Pelan-pelan Lila, kau tadi bilang hanya akan minum dua gelas saja.”
                “Aku butuh ini untuk menenangkan pikiranku, Sya.” Aku kembali menuangkan anggur ke dalam gelasku yang kosong dan meminumny dalam satu tegukan.
                “Lila berhenti kau bisa mabuk. Kau sudah menghabisakan tiga gelas.”.”
                “Biarkan aku minum Dhee, please.”

                Aku memang tidak suka minum, baru minum tiga gelas saja kepalaku sudah mulai terasa pusing tujuh keliling. Pandanganku mulai berkunang-kunang.

                “Kalian tahu, aku bertemu Kyle di bar ia bersama kekasihnya. Benar-benar keterlaluan dia, tapi tiba-tiba Zach muncul.”
                “Zach ada disana juga?”
                “Ya, dia berada di sana. Kau mau tahu Gale, tiba-tiba saja ia menciumku.”
                “Zach menciummu, La?” Hal terakhir yang aku ingat adalah suara Gale yang terkejut dan setelah itu aku tidak mengingat apa-apa lagi.

                Pagi itu aku terbangun dengan kepala yang sakit sekali, rasanya aku benar-benar sangat malas sekali untuk bangun dan pergi ke kampus. Dengan malas aku pergi ke kamar mandi, setelah berpakaian aku bergegas keluar dari kamar dan mendapati Dhea dan Gale yang sudah dalam pakaian kantornya.             
                                                                                                                                                               
                “Asya sudah pergi?”
                “Sudah, ia berangkat di antar oleh Mark tadi.”
                “Lalu kenapa kalian berdua masih berada di sini?”
                “Tentu saja kami menunggumu, La.”
                “Aku bisa berangkat ke kampus sendiri dengan mobilku.”
                “Jangan gila, mana mungkin aku dan Dhea membiarkanmu menyetir dalam keadaan seperti ini.”
                Aku merenggut ketakutan di marahi seperti itu oleh Gale, “Maaf.”
                “Ya sudah, ayo kita pergi sekarang saja nanti kita semua akan terlambat.”

                Dalam perjalanan menuju ke kampus Dhea dan Gale menasehatiku habis-habisan dan salah satunya adalah tentang Zach.

                “Zach itu pria yang baik La, aku sudah lama mengenal dan berteman dengannya. Aku takkan mengatakan hal ini jika aku tidak benar-benar mengenalnya dengan baik.”
                “Dan selain itu ia memang benar-benar sangat mencintaimu, dengan  begitu kau tidak akan di ganggu lagi oleh Matt.”
                “Entahlah, aku bingung dengan perasaanku saat ini.”
                “Pikirkan baik-baik tapi jangan terlalu lama. Kau tidak merasa kasihan pada Zach.”
                “Jika dia memang benar-benar mencintaiku ia pasti akan menungguku sampai kapanpun.”
                “Dhea benar-benar hatimu memang sudah beku.”

                Aku tidak menanggapi ucapan terakhir Gale itu, aku memandangi keluar jendela mobil menikmati panorama di luar sana. Sebaik apapun Zach padaku tetap saja aku belum bisa membuka pintu hatiku untuknya.

                Selama jam kuliah berlangsung aku terus ingat oleh perkataan Gale dan Dhea saat di mobil dalam perjalanan menuju ke kampus tadi. Bahkan ketika jam kuliah selesaipun aku masih memikirkannya. Kali ini aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan saja, aku butuh waktu untuk berpikir. Tapi dalam perjalanan Kyle menghadang jalanku, ia menyeretku ke samping gedung perpustakaan dan menekan tubuhku ke dinding.

                “Lepaskan aku, kau mau apa Kyle?”
                “Jadi sekarang kau sedang membuatku cemburu, hah. Jangan harap kau bisa membodohi aku.”
                “Aku tidak pernah berniat untuk membuatmu cemburu. Toh aku juga sudah tidak peduli lagi padamu. Mau kau bercumbu dengan wanita manapun di depanku juga aku takkan peduli.”

                Mendengar ucapanku itu, matanya langsung berubah. Tatapannya menunjukan kemarahan yang sangat besar sekali. Ia melepaskan cengkramannya lalu pergi meninggalkanku begitu saja sambil menendang tong sampah yang di lewatinya. Aku hanya bisa menangis tertahan dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja.

                Aku memutuskan untuk pergi ke taman yang tidak jauh dari kampus. Tiba-tiba Matt muncul dan menyeretku ke pohon besar yang berada di situ, lalu Matt mulai menciumiku dengan sangat brutal.

                “Tidak Lila, jika aku tidak bisa mendapatkan kau kembali dengan cara yang baik maka aku akan melakukan cara yang tidak baik. Aku akan membuatmu jadi milikku.”
                “Tidak, aku tidak mau. Jangan berani-berani untuk menyentuhku.” Aku berusaha untuk melepaskan diri dari cengkramannya yang sangat kuat dan membuat badanku sakit.

                Matt membuka paksa kemeja yang aku pakai sampai kancing-kancingnya terlepas. Dan ketika ia mengarahkan bibirnya untuk mencium leherku aku memejamkan mataku, berharap seseorang akan menolongku terlepas dari bajingan ini. Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara dan ketika membuka mataku dengan perlahan Matt sudah tersungkur di tanah. Ternyata Zach yang menolongku.

                “Pakai ini…” sambil memakaikan jasnya padaku, “Kau tidak apa-apa, kan? Apa kau terluka?”
                “Aku tidak apa-apa, Zach.” Jawabku sambil terisak.

                Tiba-tiba Matt bangun dan langsung memukul wajah Zach sampai tersungkur ke tanah. Aku menjerit kaget melihat itu. Lalu Zach kembali medaratkan pukulannya di wajah Matt. Mereka berdua terlibat baku hantam cukup lama. Sampai akhirnya Zach mendaratkan pukulan telaknya ke perut Matt dan membuatnya tersungkur tak berkutik.

                “Zach, kau tidak apa-apa? Ya Tuhan, kau terluka.”
                Ia meringis kesakitan ketika aku menyentuh unjung bibirnya yang terluka, “Itu sakit, La.”
                “Ayo, aku akan mengobati luka-luka di wajahmu itu.”
                “Apakah kau terluka?”
                “Tidak, aku baik-baik saja. Ayo kita pegi dari sini.”
                Lalu Zach segera membawaku pergi dari tempat itu menuju ke apartemenku. Ternyata Dhea dan Asya belum pulang. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil kotak P3K dari dapur dan langsung mengobati luka-luka di wajah Zach.

                Dengan perlahan aku mengompres luka di wajah Zach dan ia meringis sesekali, “Pelan-pelan Lila, itu tadi sakit.”
                “Maafkan aku Zach, tapi aku mohon untuk mengobati luka-luka itu.”
                Zach meraih tanganku dan menempatkannya pada luka yang berada di ujung bibirnya, “Kau tahu, luka-luka ini tidak begitu berarti bagiku, Lila. Karena yang terpenting bagiku adalah keselamatanmu.” Ia mencium buku-buku jariku dengan lembut.
                “Tapi tidak perlu sampai membahayakan keselamatmu, Zach. Kau membuatku khawatir, aku takut terjadi sesuatu padamu.” Air mataku tiba-tiba saja terjatuh di pipiku.
                “Lila, jangan menangis. Demi Tuhan, aku baik-baik saja sekarang dan aku berjanji takkan membuatmu khawatir lagi.”
               
                Zach menghapus air mataku lalu memelukku dengan sangat erat sekali. Pelukannya memang sangat hangat dan membuatku merasa nyaman. Lalu ia meraih daguku dan menciumnya dengan perlahan-lahan, membuatku terbuai dan melupakan segalanya. Aku mulai membalas ciuman-ciumannya, ciuman kami berubah menjadi penuh gairah bahkan tanpa sadar aku sedang menciumnya dengan posisi aku berada di pangkuannya.

                Zach meremas pinggangku dengan sangat keras, ia menjalankan jari jemarinya dari punggungku lalu naik ke tengkuk, meremas bahuku dan membelai daun telingaku dengan begitu lembut. Setiap sentuhannya membuat tubuhku terbakar. Sebuah suara berdehem yang cukup keras menghentikan ciuman kami yang sedang panas itu. Buru-buru aku turun dari pangkuan Zach dan membereskan rambutku yang acak-acakan.

                “H-hai Dhee…” jawabku tergugu dengan wajah yang sangat panas.
                “Angel, sepertinya kita datang di saat yang tidak tepat.”
                “Hai Gale, senang bertemu denganmu disini.”
                “Ada apa dengan wajahmu, Zach?”
C

Tidak ada komentar:

Posting Komentar