Chapter 12
Akhirnya
Zach melepaskan ciumannya dan mencium keningku dengan sangat dalam sekali.
Seolah-olah ia ingin membuktikan bahwa perasaannya padaku benar-benar tulus.
“Maafkan
aku Lila, aku hanya ingin membuktikannya padamu. Kau pasti bisa merasakan
perasaanku, bukan?”
“Zach…
Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.”
“Kau
tak perlu menjawab apapun, Lila. Kau hanya perlu merasakan perasaanku saja. Aku
ingin menjagamu Lila, melindungimu dari orang-orang yang membuatmu hancur.”
Aku
hanya bisa terdiam, tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Aku sempat melirik sekilas
bahwa Kyle sudah tidak ada dan aku yakin sekali ia pasti melihat katika Zach
menciumku. Zach sebenarnya sangat tampan, ia memiliki warna mata yang sama
seperti Matt. Hanya saja warna mata Zach lebih lembut, penuh kasih sayang dan
sangat meneduhkan.
“Zach…
Terima kasih untuk bunga lily yang kau kirimkan. Aku… sangat menyukainya.”
Wajahku memanas ketika mengatakannya.
“Dhea
memberitahuku bahwa kau sangat menyukai bunga lily, dan bunga lily bisa
memperbaiki suasana hatimu. Aku akan lebih sering mengirimimu bunga lily Lila.”
“Tidak
perlu Zach, kamarku sudah penuh dengan bunga-bunga pemberianmu.”
Mendengar
ucapanku Zach terlihat terkejut, “Kau menyimpan semua bunga-bunga pemberianku
di dalam kamarmu?”
“I-iya…”
aku tergugu menjawab pertanyaan Zach, “Karena aku memang menyukai bungan lily,
sangat sangat suka.”
Aku
dan Zach membicarakan banyak hal, ia bisa saja berhasil membuatku untuk
tersenyum. Tapi tidak dengan hatiku, hatiku masih terlalu beku. Sampai akhrinya
kami harus pulang karena malam sudah semakin larut dan Zach mengantarkanku
pulang. Sebelum turun dari dalam mobil.
“Terima
kasih sudah membuat malamku menyenangkan, Lila.”
“Zach, aku mau mengobrol banyak
hal denganmu dan mau kau antar pulang bukan berarti kau sudah mendapatkan
perhatianku dan sudah bisa meluluhkan hatiku. Kau tahu butuh waktu bagiku untuk
bisa mempercayai lagi seorang pria.”
“Aku
akan menunggu sampai kau bisa mempercayaiku dan aku takkan pernah lelah untuk
meyakinkanmu, Lila.”
“Terima
kasih sudah mengantarkanku pulang, Zach. Selamat malam.”
Aku
turun dari mobil Zach dan bergegas masuk kedalam gedung. Setelah di dalam aku
melihat keluar, mobil Zach langsung pergi dan aku melihat Kyle berada di
sebrang jalan dengan motor sport kesayangannya lalu ia pergi dengan kecepatan
yang sangat tinggi. Ya Tuhan…
Aku
naik ke apartemenku dengan perasaan yang sangat kacau sekali. Mengapa tiba-tiba
aku jadi merasa bersalah pada Kyle atas apa yang sudah terjadi antara aku dan
Kyle di Costa Coffee Bar tadi. Tapi untuk apa aku merasa bersalah? Toh Zach
tiba-tiba saja muncul dan menciumku, tidak seperti dirinya yang seperti sengaja
membuatku cemburu dan bermesraan dengan wanita lain di depanku.
Ketika
sampai aku medapati Mark dan Gale tentu saja bersama Asya dan Dhea. Mereka terlihat
sedang berpesta karena aku melihat ada beberapa botol anggul di atas meja
dengan berbagai macam makanan kecil.
“Hai…”
sapaku sambil hendak menuju ke kamar.
“Hei
Lila, kau mau kemana? Ayo bergabung dengan kami.”
“Aku
mau tidur saja, aku sangat-sangat lelah sekali. Terima kasih, Gale”
“Ayolah
minum bersama kami beberapa gelas saja.”
“Baiklah,
hanya dua gelas saja.”
Akhrinya
aku ikut bergabung dengan mereka berempat. Aku duduk di sebelah Dhee dan
langsung menuangkan anggur kedalam gelas kosong yang ada di situ dan meminumnya
dengan buru-buru. Dan kembali mengisi gelas yang sudah kosong itu.
“Pelan-pelan
Lila, kau tadi bilang hanya akan minum dua gelas saja.”
“Aku
butuh ini untuk menenangkan pikiranku, Sya.” Aku kembali menuangkan anggur ke
dalam gelasku yang kosong dan meminumny dalam satu tegukan.
“Lila
berhenti kau bisa mabuk. Kau sudah menghabisakan tiga gelas.”.”
“Biarkan
aku minum Dhee, please.”
Aku
memang tidak suka minum, baru minum tiga gelas saja kepalaku sudah mulai terasa
pusing tujuh keliling. Pandanganku mulai berkunang-kunang.
“Kalian
tahu, aku bertemu Kyle di bar ia bersama kekasihnya. Benar-benar keterlaluan
dia, tapi tiba-tiba Zach muncul.”
“Zach
ada disana juga?”
“Ya,
dia berada di sana. Kau mau tahu Gale, tiba-tiba saja ia menciumku.”
“Zach
menciummu, La?” Hal terakhir yang aku ingat adalah suara Gale yang terkejut dan
setelah itu aku tidak mengingat apa-apa lagi.
Pagi
itu aku terbangun dengan kepala yang sakit sekali, rasanya aku benar-benar
sangat malas sekali untuk bangun dan pergi ke kampus. Dengan malas aku pergi ke
kamar mandi, setelah berpakaian aku bergegas keluar dari kamar dan mendapati
Dhea dan Gale yang sudah dalam pakaian kantornya.
“Asya
sudah pergi?”
“Sudah,
ia berangkat di antar oleh Mark tadi.”
“Lalu
kenapa kalian berdua masih berada di sini?”
“Tentu
saja kami menunggumu, La.”
“Aku
bisa berangkat ke kampus sendiri dengan mobilku.”
“Jangan
gila, mana mungkin aku dan Dhea membiarkanmu menyetir dalam keadaan seperti
ini.”
Aku
merenggut ketakutan di marahi seperti itu oleh Gale, “Maaf.”
“Ya
sudah, ayo kita pergi sekarang saja nanti kita semua akan terlambat.”
Dalam
perjalanan menuju ke kampus Dhea dan Gale menasehatiku habis-habisan dan salah
satunya adalah tentang Zach.
“Zach
itu pria yang baik La, aku sudah lama mengenal dan berteman dengannya. Aku takkan
mengatakan hal ini jika aku tidak benar-benar mengenalnya dengan baik.”
“Dan
selain itu ia memang benar-benar sangat mencintaimu, dengan begitu kau tidak akan di ganggu lagi oleh
Matt.”
“Entahlah,
aku bingung dengan perasaanku saat ini.”
“Pikirkan
baik-baik tapi jangan terlalu lama. Kau tidak merasa kasihan pada Zach.”
“Jika
dia memang benar-benar mencintaiku ia pasti akan menungguku sampai kapanpun.”
“Dhea
benar-benar hatimu memang sudah beku.”
Aku
tidak menanggapi ucapan terakhir Gale itu, aku memandangi keluar jendela mobil
menikmati panorama di luar sana. Sebaik apapun Zach padaku tetap saja aku belum
bisa membuka pintu hatiku untuknya.
Selama
jam kuliah berlangsung aku terus ingat oleh perkataan Gale dan Dhea saat di
mobil dalam perjalanan menuju ke kampus tadi. Bahkan ketika jam kuliah
selesaipun aku masih memikirkannya. Kali ini aku memutuskan untuk pergi ke
perpustakaan saja, aku butuh waktu untuk berpikir. Tapi dalam perjalanan Kyle
menghadang jalanku, ia menyeretku ke samping gedung perpustakaan dan menekan
tubuhku ke dinding.
“Lepaskan
aku, kau mau apa Kyle?”
“Jadi
sekarang kau sedang membuatku cemburu, hah. Jangan harap kau bisa membodohi aku.”
“Aku
tidak pernah berniat untuk membuatmu cemburu. Toh aku juga sudah tidak peduli
lagi padamu. Mau kau bercumbu dengan wanita manapun di depanku juga aku takkan
peduli.”
Mendengar
ucapanku itu, matanya langsung berubah. Tatapannya menunjukan kemarahan yang
sangat besar sekali. Ia melepaskan cengkramannya lalu pergi meninggalkanku
begitu saja sambil menendang tong sampah yang di lewatinya. Aku hanya bisa
menangis tertahan dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja.
Aku
memutuskan untuk pergi ke taman yang tidak jauh dari kampus. Tiba-tiba Matt
muncul dan menyeretku ke pohon besar yang berada di situ, lalu Matt mulai menciumiku
dengan sangat brutal.
“Tidak
Lila, jika aku tidak bisa mendapatkan kau kembali dengan cara yang baik maka
aku akan melakukan cara yang tidak baik. Aku akan membuatmu jadi milikku.”
“Tidak,
aku tidak mau. Jangan berani-berani untuk menyentuhku.” Aku berusaha untuk
melepaskan diri dari cengkramannya yang sangat kuat dan membuat badanku sakit.
Matt
membuka paksa kemeja yang aku pakai sampai kancing-kancingnya terlepas. Dan ketika
ia mengarahkan bibirnya untuk mencium leherku aku memejamkan mataku, berharap
seseorang akan menolongku terlepas dari bajingan ini. Tiba-tiba aku mendengar
sebuah suara dan ketika membuka mataku dengan perlahan Matt sudah tersungkur di
tanah. Ternyata Zach yang menolongku.
“Pakai
ini…” sambil memakaikan jasnya padaku, “Kau tidak apa-apa, kan? Apa kau
terluka?”
“Aku
tidak apa-apa, Zach.” Jawabku sambil terisak.
Tiba-tiba
Matt bangun dan langsung memukul wajah Zach sampai tersungkur ke tanah. Aku menjerit
kaget melihat itu. Lalu Zach kembali medaratkan pukulannya di wajah Matt. Mereka
berdua terlibat baku hantam cukup lama. Sampai akhirnya Zach mendaratkan
pukulan telaknya ke perut Matt dan membuatnya tersungkur tak berkutik.
“Zach,
kau tidak apa-apa? Ya Tuhan, kau terluka.”
Ia
meringis kesakitan ketika aku menyentuh unjung bibirnya yang terluka, “Itu
sakit, La.”
“Ayo,
aku akan mengobati luka-luka di wajahmu itu.”
“Apakah
kau terluka?”
“Tidak,
aku baik-baik saja. Ayo kita pegi dari sini.”
Lalu
Zach segera membawaku pergi dari tempat itu menuju ke apartemenku. Ternyata Dhea
dan Asya belum pulang. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil kotak P3K
dari dapur dan langsung mengobati luka-luka di wajah Zach.
Dengan
perlahan aku mengompres luka di wajah Zach dan ia meringis sesekali, “Pelan-pelan
Lila, itu tadi sakit.”
“Maafkan
aku Zach, tapi aku mohon untuk mengobati luka-luka itu.”
Zach
meraih tanganku dan menempatkannya pada luka yang berada di ujung bibirnya, “Kau
tahu, luka-luka ini tidak begitu berarti bagiku, Lila. Karena yang terpenting
bagiku adalah keselamatanmu.” Ia mencium buku-buku jariku dengan lembut.
“Tapi
tidak perlu sampai membahayakan keselamatmu, Zach. Kau membuatku khawatir, aku
takut terjadi sesuatu padamu.” Air mataku tiba-tiba saja terjatuh di pipiku.
“Lila,
jangan menangis. Demi Tuhan, aku baik-baik saja sekarang dan aku berjanji
takkan membuatmu khawatir lagi.”
Zach
menghapus air mataku lalu memelukku dengan sangat erat sekali. Pelukannya memang
sangat hangat dan membuatku merasa nyaman. Lalu ia meraih daguku dan menciumnya
dengan perlahan-lahan, membuatku terbuai dan melupakan segalanya. Aku mulai
membalas ciuman-ciumannya, ciuman kami berubah menjadi penuh gairah bahkan
tanpa sadar aku sedang menciumnya dengan posisi aku berada di pangkuannya.
Zach
meremas pinggangku dengan sangat keras, ia menjalankan jari jemarinya dari
punggungku lalu naik ke tengkuk, meremas bahuku dan membelai daun telingaku
dengan begitu lembut. Setiap sentuhannya membuat tubuhku terbakar. Sebuah suara
berdehem yang cukup keras menghentikan ciuman kami yang sedang panas itu. Buru-buru
aku turun dari pangkuan Zach dan membereskan rambutku yang acak-acakan.
“H-hai
Dhee…” jawabku tergugu dengan wajah yang sangat panas.
“Angel,
sepertinya kita datang di saat yang tidak tepat.”
“Hai
Gale, senang bertemu denganmu disini.”
“Ada
apa dengan wajahmu, Zach?”
C
Tidak ada komentar:
Posting Komentar