Rabu, 19 Desember 2012

Chapter 28


Chapter 28

                Lalu Kyle mengajakku pergi dari ruang keluarga menuju ke kamarnya dan untungnya kamarnya itu berada di lantai satu. Kyle menyimpan tas yang di bawanya di atas meja yang berada di dekat lemari, sedangkan aku duduk di atas tempat tidur.

                “Istirahatlah, sayang. Nanti kita akan berkumpul kembali saat makan malam tiba.”
                “Kau juga harus istirahat, kau sudah menyetir seharian ini.”
                Lalu Kyle naik keatas tempat tidur dan mengajakku berbaring, “Iya, aku juga akan beristirahat. Aku akan ikut tidur bersamamu, sayang. Pejamkanlah matamu, atau aku akan melakukan sesuatu padamu agar kau menutup mata indahmu itu.” Ucapnya sambil tersenyum jahil.
                “Kehamilanku baru empat minggu, Kyle. Jadi jangan meminta yang aneh-aneh padaku sekarang.”
                Ia memelukku dengan gemas, “Iya, aku mengerti sayang. Ayo kita tidur, aku sangat lelah sekali.”

                Lalu kami berduapun terlelap karena kelelahan. Sinar matahari senja yang menerobos masuk ke kamar menerpa wajahku, sehingga mau tidak mau aku langsung membuka mataku. Ah, aku sedang berada di rumah Kyle di Georgia. Aku menemukan Kyle baru keluar dari kamar mandi, ia terlihat sangat segar sekali. Ia lalu menghampiriku yang masih terbaring di atas tempat tidur.

                “Akhirnya kau bangun juga sayang, mau mandi?”
                “Tentu saja aku mau mandi, tubuhku lengket dan sangat tidak nyaman.”
                “Aku sudah menyiapkan air hangat di bathtub, hati-hati ya. Aku akan berada di ruang keluarga, segera keluarlah jika kau sudah selesai.” Ia mengecup bibirku lalu pergi keluar.

                Aku bangun dan langsung mandi, setelah itu langsung ke ruang keluarga untuk bergabung bersama keluarga besar calon suamiku. Lalu kami melanjutkan acaranya ke makan malam bersama di halaman belakang rumah. Tadi sore ketika akan pergi mandi Mama menelepon bahwa beliau sudah sampai di New York. Jadi mau tidak mau aku dan Kyle harus pulang ke New York besok pagi.

                Tidak terasa hari pernikahanpun tiba. Aku benar-benar syok melihat rumah yang sudah di beli oleh Kyle untukku. Rumah itu sangat indah sekali, berada di kawasan pinggiran kota New York. Daerahnya masih hijau. Karena panorama yang di dapat dari rumah itu adalah langsung menuju ke padang rumput yang sangat luas sekali dan tak jauh dari situ ada sebuah danau kecil yang sngat indah. Tapi Kyle sudah menanam bunga lily untuk melengkapi padang rumput yang hijau itu.

                Dan dekorasi pernikahannya pun sangat hebat menurutku. Ada sebuah tenda berukuran besar yang di bangun di halaman belakang, lalu dekorasi berbagai bunga di sana sini dan didominasi oleh warna putih dan silver. Sehingga membuat tempat ini jadi terlihat mewah dan elega,

Meskipun yang akan hadir hanya keluarga kami dan kerabat dekat saja, tapi Kyle membuatnya seperti sebuah pesta yang sangat mewah. Dan saat ini aku sedang sangat gugup sekali, aku masih di kamar di temani oleh Dhea dan Asya mereka berdua sangat cantik sekali. Bahkan aku sangat yakin sekali setelah acara ini pasti mereka berdua pasti akan di lamar oleh kekasih mereka berdua.

                “Apakah make-upnya masih oke?”
                “Masih La, kau terlihat cantik dengan gaun pengantin ini.”
                “Kalian berdua terlihat seperti mempelai wanita untuk pasangan kalian masing-masing. Kalian harus segera menyusul, ya.”
                “Berhenti menggoda kami berdua, Kyla.”
                “ Aku tidak menggoda kalian berdua. Sudah lama sekali kau tidak memanggilku Kyla, Dhee.”
                “Itu artinya aku sudah sangat kesal padamu, tahu.” Aku hanya tertawa mendengar Dhea mengomel padaku.
                “Sudah jangan bercanda terus, Lila ayo kita keluar sekarang. Ini sudah saatnya.”
                “Aku sangat sangat gugup sekali.” Aku berdiri dari tempat dudukku dan mengatur pernafasanku agar tidak gugup.
               
Papa datang menjemputku, lalu kami berempat jalan beriringan menuju ke halaman belakang rumah. Papa menggenggam tanganku dengan sangat erat untuk menguatkan diriku agar tidak gugup. Sedangkan Dhea dan Asya berjalan didepanku sambil beriringan. Ketika sampai di sana semua mata langsung tertuju padaku dan itu semakin membuatku gugup.
               
Dan Kyle sudah menungguku didepan sana, ia terlihat sangat tampan dengan stelan tuxedo berwarna putih.  Ia benar-benar terlihat seperti Prince of Brithis, dan senyumannya yang menawan itu benar-benar membuatku tenang dan menghilangkan perasaan gugup dalam diriku. Kyle menyambut tanganku, lalu acara yang sacral itupun segera dimulai.
                Akhirnya upacara sacral itu selesai, aku dan Kyle sekarang sudah resmi menjadi suami istri. Dan sekarang saatnya berpesta bersama keluarga dan teman-teman kami yang hadir pada hari ini. Wajah Kyle terus saja dihiasi oleh senyumannya yang menawan. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Kyle lah yang pada akhirnya akan menjadi pasangan hidupku, tadinya aku pikir Zach yang akan menjadi suamiku. Tapi ternyata takdir berkata lain, aku dan Zach tidak diizinkan untuk bersatu.
               
Melihat Zach ada di pesta pernikahanku membuatku merasakan bahagia dan sedih dalam waktu yang bersamaan. Tatapan matanya masih memancarkan kesedihan meskipun ia berusaha untuk menyembunyikannya. Orang-orang tidak bisa merasakannya tapi aku bisa. Perasaan bersalah itu kembali menghantuiku.
               
“Sayang, ada apa? Apakah kau tidak suka dengan pestanya?”
                “Tidak Kyle, aku sangat suka sekali dengan pestanya. Terima kasih sudah memberikan kejutan yang sangat indah untukku, Kyle.”
                “Sejak pertama kali bertemu denganmu aku memang ingin memberikan kejutan seperti ini untukmu, sayang.” Lalu Kyle mencium bibirku dengan lembut, ciumannya masih sama seperti ia menciumku saat pertama kali menyatakan perasaannya padaku di kafe itu.

                Sebuah suara deheman yang cukup keras dari Gale membuat Kyle melepaskan ciumannya dengan wajah yang sedikit memerah.           
               
“Sebaiknya kalian berdua segera masuk kedalam kamar saja.”
                “Gale…” aku memelototinya.
                “Aku hanya bercanda Lila. Selamat untuk kalian berdua, ya.”
                “Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang, Gale.”
                “Gale ada calon mertuamu disini, apakah kau sudah bertemu dengan mereka.”
                “Dhee belum mengajakku untuk bertemu dengan mereka, Lila.”            
                “Dhee, mengapa kau belum mengajak Gale bertemu dengan Om dan Tante? Tuh lihat Asya sudah mengenalkan Mark pada kedua orang tuanya.”
                “Aku akan mengenalkannya, La. Tapi aku ingin menemuimu dulu, sebelum bertemu kedua orang tuaku, apa itu tak boleh.”
                “Jangan marah Dhee, aku hanya bercanda.”
                “Ya sudah,kalau begitu aku dan Gale pergi dulu, ya. Bye.”
                Lalu Dhea dan Gale pergi untuk menemui orang tua Dhea yang sedang mengobrol dengan Mama dan Papaku. Ternyata Kyle juga mengundang beberapa teman di kampusnya, dan mereka semua kaget melihat pengantin wanitanya adalah aku. Satu persatu para tamu pamit, begitu juga dengan Mama dan Papa yang memutuskan untuk kembali ke hotel saja. Tinggalah kini aku dan Kyle dan beberapa pelayan yang sedang membersihkan ruangan dan taman bekas pesta.
               
Sesampainya di kamar aku langsung membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Badanku benar-benar lelah sekali. Aku tak tahu bahwa mengadakan sebuah pesta pernikahan itu benar-benar sangat melelahkan sekali seperti ini, untungnya hanya sekali seumur hidup.
               
Kyle yang sudah melepas jasnya duduk di sampingku, ia membelai punggungku yang terbuka dan menyusurinya dengan jari-jarinya, “Mengapa kau belum mengganti pakaianmu, sayang?”
                “Aku ingin berbaring sebentar, rasanya punggungku mau patah.”
                “Ayo duduk, aku akan membantumu untuk melepaskan gaun ini.”
               
Dengan malas akhirnya aku memposisikan tubuhku dalam keadaan duduk. Lalu membelai punggungku menuju tengkukku. Lalu ia mencium bahuku yang memang terbuka juga, sedangkan tangan yang satunya meremas payudaraku dengan lembut sekali, aku mengerang ketika ia melakukannya.
               
“Pelan-pelan Kyle, agak sakit di bagian dadaku.”
                “Maaf sayang.” Suaranya terdengar agak parau.
               
Kemudian dengan hati-hati ia menurunkan gaun yang aku pakai lalu menariknya dan melemparkannya ke lantai. Ia kembali membaringkanku lalu melumat bibirku dengan sangat lembut dan sangat intens, dengan perlahan Kyle menggigit dan menarik bibir bawahku. Aku membalas ciumannya sambil merangkul lehernya lalu bergerak untuk mengelus rambutnya sambil menggerakkan tubuhku yang sudah sangat terbakar oleh gairah.
                Lalu aku menurunkan tanganku untuk membuka pakaiannya, satu persatu kancing kemejanya aku buka dan melemparnya. Lalu aku menjalankan jari=jariku di tubuhnya, meskipun tidak terlalu berotot seperti Zach tapi Kyle tetap terlihat sangat menggoda. Lalu ia mendaratkan mulutnya di ujung payudaraku dan menghisapnya dengan lembut, tubuhku semakin bergetar hebat.
                “Sayang, bolehkah aku…”
                “Lakukan dengan pelan, Kyle.”
                “Aku mengerti sayang, aku akan melakukannya selembut mungkin. Apa kau mau jika berada di atasku?”
               
Aku hanya menganggung pelan menjawab pertanyaannya. Setelah membuka pakaiannya yang tersisa Kyle berbaring telentang. Dengan perlahan aku menaiki tubuhnya di bombing oleh Kyle, sambil berpegangan aku mengarahnya diriku tepat diatas miliknya yang sudah membesar dan mengeras itu. Lalu aku medorongnya masuk secara perlahan ke dalam diriku sambil meringis.
               
“Pelan-pelan sayang, aku akan memegangimu, ya, betul seperti itu. Lalu bergeraklah secara perlahan.”
               
Mataku melebar ketika miliknya sudah berada di dalam diriku sepenuhnya, lalu secara perlahan mulai menggerakkan tubuhku naik turun di atas miliknya. Ya Tuhan, rasanya benar-benar sangat nikmat sekali. Lalu aku menurunkan tubuhku di atas dadanya lalu mencium bibirnya, dan sekarang Kyle yang bergerak, nafas kami benar-benar seperti orang yang sedang lari marathon, sesekali tangannya meremas dan mulunya mencium payudaraku.
               
“Kyle…” suaraku terdengar seperti desahan.
                “Sebentar lagi sayang,” iamenjawab sambil menggertakan giginya
               
Dan akhirnya kami berdua mencapai pelepasan gairah kami bersama-sama. Kyle memeluk tubuhku dengan begitu erat dan mencium keningku dengan penuh kerinduan.
               
“Aku sangat mencintaimu Mrs. Dickherber.”
                “Aku juga sangat mencintaimu, suamiku.”
                Lalu Kyle memegangiku ketika aku beranjak dari tubuhnya. Tubuhku benar-benar sangat lemas, mataku langsung terpejam karena kelelahan, yang aku rasakan hanya tangan Kyle yang memeluk tubuhku dengan penuh kehangatan. Lalu kami tertidur lelap.

3 komentar:

  1. Yeay…The wedding day has come ^^

    its time to party \(^_^)/

    :*



    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetep ada yang kurang Dhee...
      Dan aku belum nemuin dmna kurangnya...

      Kurang sreg :/

      Hapus
  2. yeaaahh, pestanya telah dimulai..
    mau dong nikah juga hahaha
    *lirik Mark



    Inget ya Lila Kyle, kasian Kyle Jr nya hahha :p


    BalasHapus