Chapter
22.
Mark sudah dari tadi menunggu
untuk mengantarkanku pergi kekampus. Namun saat kami akan pergi kulihat Gale
datang, sepertinya dia sedang panik karena dari kemarin Dhea tidak bisa
dihubungi. Entahlah apa yang terjadi diantara mereka berdua, sepertinya Dhea
sangat marah pada Gale, sampai-sampai sikapnya berubah menjadi pemarah beberapa
hari ini. Tak jarang aku dibentaknya karena sikap keingintahuanku yang
berlebihan.
Aku, Mark, Lila dan Zach
berusaha untuk meyakinkan Gale kalau Dhea baik-baik saja dan membiarkan Dhea
menyendiri dulu. Karena tadinya Gale akan mendobrak pintu kamar kalau Dhea tak
juga keluar. Untunglah usaha kami dalam meyakinkannya berhasil, sehingga Gale
menuruti apa yang kami sarankan. Setelah Gale pergi, kami pun pergi. Aku bersama
Mark dan Lila bersama Zac.
Saat
dimobil, Mark mengajakku untuk ikut dengannya keacara pameran salah satu
temannya.
“Ikut
denganmu?? Kemana??” tanyaku
“Salah
satu teman kuliahku akan membuka pamerannya malam ini, aku sangat ingin kau ikut.” Katanya sambil menatapku.
Aku
mengernyitkan dahiku keacara pameran
temannya, malam ini?? gumanku dalam hati.
“Ayo
lah sayang, please..” katanya sambil
memohon.
Aku
tersenyum sambil mengangguk pelan “ yaa, mau.” Jawabku
Mark
langsung mengambil tanganku dan mencium buku-buku jariku.
“Thanks
ya sayang..” katanya
“Sayang,
sebaiknya kau fokus saja menyetir. Akan sangat berbahaya jika kau terus
menyetir sambil mencium tanganku. Aku belum siap jika terjadi sesuatu dengan
kita.” Aku mengingatkannya.
“Aku
akan selalu siap jika itu terjadi bersamamu” katanya
“Mark...!!!”
aku sedikit berteriak sambil cemberut.
Lalu
Mark melepaskan tanganku “Kau marah sayang...??”tanyanya.
Aku
tersenyum sambil menatapnya, dan mencium pipinya dengan lembut “ Menurutmu??”
“Kau
bisa membuat kita lebih berbahaya lagi.” Katanya sambil tersenyum.
“
Kenapa??’ tanyaku heran.
“
Dengan kau menciumku, itu membuatku ingin lebih lagi menciummu”
Jawaban
Mark membuat wajahku memerah karena malu.
“Aku
juga suka melihat wajahmu memerah seperti tomat” katanya.
“ Aku malu, Mark.” Jawabku sambil mencubit
lengannya.
“ Aww, kau galak juga yaa??” katanya sambil memegang bekas
cubitanku dilengannya.
Akupun tersenyum melihat ekspresi Mark yang sedikit
mengernyitkan dahinya. Setelah itu ekspresinya kembali tersenyum.
“
Kau pulang jam berapa sayang??” tanyanya.
“ Mungkin
setelah makan siang. “ jawabku
“
Baiklah jika pekerjaanku cepat selesai, aku akan menjemputmu nanti.”
“
Kalau kau masih sibuk, aku bisa pulang sendiri. Aku tak ingin mengganggumu”
jawabku
“
Aku akan menelponmu nanti ya..”
Akupun mengangguk, lalu Mark membelokkan mobilnya memasuki
halaman kampus dan berhenti. Setelah Mark mencium keningku sekilas, aku turun
dari mobilnya dan masuk meninggalkannya kedalam kampus.
***
Jam sudah menunjukkann pukul 12 tepat,
seluruh mahasiswa yang ada dikelas berhamburan keluar. Ya, perkuliahan kami
selesai. Aku dan Lila keluar kelas bersama, hari ini Dhea tidak masuk.
Sepertinya dia sedang ingin menyendiri, sehingga aku dan Lila tidak memaksanya
untuk kuliah hari ini.
“
Setelah ini kau akan kemana Sya??” Lila bertanya padaku.
“
Sebenarnya Mark akan menjemputku, tapi dia belum juga menelponku. Akan kutelpon
saja nanti. Zac menjemputmu kan?? ”
“
Iya, tapi setengah jam lagi dia akan sampai. Sekarang dia ada rapat dengan kliennya”
Jawab Lila.
“ Ya
sudah, aku juga masih akan menunggu Mark. Kita kekantin saja ya, kau harus
makan La. Aku tak ingin terjadi sesuatu dengan kau dan Zac junior nanti.”
jawabku sambil tersenyum.
“
Kau juga Sya, kau juga jangan terlambat makan. Aku tak ingin melihatmu sakit
lagi dan melihat Mark panik setengah mati karenamu”
Aku
tersenyum mendengar Lila menasehatiku
“Iya
baiklah, ayo kita makan sekarang” ajakku
Lalu kami pergi kekantin untuk makan siang. Setelah sampai
disana aku dan Lila langsung memesan makanan. Saat menunggu pesanan kami
sampai, ponselku berbunyi. Tertera dilayar ponselku nama Mark. Ternyata dia
mengirimkan pesan singkat untukku.
“Asya
sayang, aku akan menjemputmu 30 menit lagi. Maaf aku baru mengabarimu. Saat ini
aku masih bertemu dengan sahabat lamaku. Kau jangan lupa makan siang yaa. I
Love you..
Sambil
tersenyum langsung saja ku balas..
“ Iya
sayang, saat ini aku sedang makan bersama Lila. Dan aku akan menunggumu. I love
you too..
Lalu
ku masukkan kembali ponselku kedalam tas. Kebetulan pesanan kami sudah sampai.
Aku dan Lila langsung makan bersama.
“
Mark sudah menghubungimu??” tanya Lila.
“Iya,
dia sedang bertemu dengan sahabatnya dan 30 menit lagi akan kesini.” Jawabku
sambil meminum jus melon yang kupesan tadi.
Lalu
kami melanjutkan makan kami, saat baru selesai makan Zac datang.
“
Hai sayang, hai Asya. Kalian sudah makan siang??.” Zac menyapa kami berdua.
“
Baru saja selesai” jawabku
“
Kau tidak bilang akan cepat menjemputku, kalau aku tahu kita akan makan
bersama” Kata Lila
“
Tidak sayang, aku sudah makan dengan Klienku tadi. Lagipula tidak disangka
pertemuannya akan cepat selesai” Jawab Zac.
Lalu
Zac duduk disebelah Lila,
“
Kalau kalian mau duluan silakan, aku tidak apa-apa “ kataku
“
Kau akan sendirian Sya..” kata Lila.
“
Mark sebentar lagi akan datang Lila, tidak usah khawatir. Lagi pula kau harus
istirahat” jawabku
“
Kau tidak ingin pulang dengan kami Sya??” Zac mengajakku.
“Tidak
Zac, Mark saat ini sedang dijalan, sebentar lagi akan sampai..” jawabku
“
Baiklah kalau begitu Sya, aku pulang duluan ya. Kau hati-hati” sambil beranjak
dari kursinya.
Aku
mengangguk, “ Iya Lila..” Jawabku sambil menepuk bahunya.
“
Kami pulang yaa Sya,” Zac pamit padaku .
Lalu mereka berdua pulang sedangkan aku masih duduk disana.
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 12.40 Mark belum datang juga. Apa ku telpon saja dia fikirku dalam hati. Saat
akan menelpon Mark aku dikejutkan oleh seseorang yang menyentuh pundakku.
“Kau
sudah lama menunggu sayang??” suara itu sangat aku kenali
Aku
langsung menoleh, ternyata benar dugaanku Mark.
“
Kau mengagetkanku Mark,” jawabku
“
Maaf, kau terlalu konsentrasi sepertinya.” Katanya sambil mencium keningku.
“
Tidak juga, Lila dan Zac baru saja pergi” jawabku
“Iya
aku bertemu dengan mereka diparkiran tadi..” katanya
“
Kau sudah makan??” tanyaku
“
Ya, sudah tadi. Kita berangkat sekarang yaa” ajaknya
“
Berangkat?? Kemana??” tanyaku
“
kau akan tahu nanti sayang..” Katanya sambil menggandeng tanganku.
Lalu kami keluar dari kantin itu dan berjalan keparkiran. Mark
mulai menyetir mobilnya keluar dari areal kampus.
“
Mark kita mau kemana??’ tanyaku penasaran.
“
Aku ingin mengajakmu belanja terlebih dahulu”
katanya
“
Belanja?? Untuk apa??” aku keheranan.
“
Minimal untuk malam ini, kau tak pernah mau jika ku ajak berbelanja” jawabnya.
“
Aku tidak mau..” jawabku sambil cemberut.
“
Ayolah sayang, kau akan mengecewakanku kalau kau menolaknya lagi.” Mark
memohon.
“
Seperti itukah?? “ tanyaku
Dia
mengangguk, “ Aku kecewa jika kau tidak menurutiku kali ini” jawabnya.
Aku menghela nafas
panjang, yaa sudah beberapa kali Mark mengajakku berbelanja tapi selalu
kutolak. Aku tak terlalu suka belanja dan juga tidak terlalu pintar dalam
urusan berbelanja. Aku biasanya berbelanja bersama Dhea dan Lila. Mereka yang selalu memberikan masukan tentang urusan
pakaianku.
“
Baiklah hanya untuk acara malam ini saja” jawabku
“
Terima kasih sayang..” katanya.
Lalu Mark membelokkan mobil Audi R8 hitamnya keareal pusat
perbelanjaan yang tidak jauh dari kampusku. Lalu kami turun dan Mark mengajakku
kesebuah butik. Disana aku kami bertemu dengan seorang desainer, dia wanita
muda yang cantik dan sangat ramah. Mark memintanya untuk mencarikan sebuah gaun
untukku. Setelah kami memilih-milih akhirnya kami bertiga sepakat dengan gaun
berwarna coklat muda yang minimalis namun terkesan mewah, begitu juga dengan
semua perlengkapanku untuk nanti malam semuanya sudah ada.
Setelah selesai berbelanja aku dan Mark keluar dari pusat
perbelanjaan itu saat dipakiran seorang pria berambut pirang dan bermata biru
menyapa Mark.
“ Hai, Mark. Kau disini..??” katanya sambil
memandangiku dan Mark yang sedang bergandengan tangan.
“ Iya Kev, kau sendiri..??” tanya Mark
“
Bersama Adam, dia lagi ketoilet..” katanya.
“ Oh
iya Kev, ini Natasya tunanganku. Dan sayang ini Kevin, dia sahabatku yang
kutemui tadi “ Mark mengenalkan kami berdua.
“Kevin,
senang bertemu denganmu” Kevin menjabat tanganku.
“
Yah, aku Natasya. Senang juga bertemu denganmu” jawabku sambil tersenyum.
Mark dan Kevin mengobrol sebentar tentang acara yang akan
berlangsung malam ini. Selama mengobrol
beberapa kali Kevin memandangiku. Dan dia langsung menghindari
pandanganku saat terjebak sedang memandangiku. Tatapannya padaku seperti
tatapan sedang menyelidiki sesuatu. Tapi aku berusaha tetap berffikir positif
padahal ada sedikit rasa tidak nyaman saat dia memandangiku.
Tak lama mereka ngobrol, kami pamit untuk pulang. Saat
dimobil Mark menceritakan tentang Kevin kepadaku.
“Sya,
Kevin itu sahabatku yang tadi pagi kutemui”
“
Ohh, dia fotografer juga ya??” tanyaku.
“
Iya dulu dia, asistenku saat kami masih di Dublin. Kami sudah bersahabat sejak
kuliah”Jelas Mark.
“
Dia tampan dan baik..” jawabku
“
Iya dia baik dan tampan, tapi dia gay. “ jawab Mark pelan.
“
Apa?? Kau serius sayang??” tanyaku tidak percaya.
Mark
mengangguk, “itulah mengapa aku pindah ke New York . Saat aku masih di Dublin
banyak yang mengira aku dan dia pasangan gay. Padahal aku tidak, aku normal. “
jawab Mark
Aku terdiam mendengar apa yang barusan dikatakan Mark.
Orang-orang mengira Mark, Gay. Aku tak pernah tahu tentang ini sebelumnya. Sejujurnya
aku sangat terkejut mendengarnya. Pantas saja Kevin tadi memandangiku dengan
tatapan seperti itu, aku rasa dia tidak menyukaiku.
“
Sayang...” Mark membuyarkan lamunanku tentang Kevin
“
Iya, “ jawabku pendek.
“
Kau tidak apa-apa kan??” tanyanya sambil meremas bahuku.
Aku
menggeleng, “ tidak sayang “ jawabku.
Semua
kemungkinan mulai memenuhi otakku, aku bingung harus mengatakan apa.
“
Sya, percaya padaku aku tidak seperti yang orang-orang diDublin katakan. Kau
sudah mengetahui bagaimana aku denganmu kan?? Aku juga tidak pernah melakukan
apapun dengan Kevin. Saat aku mengetahui tentang kelainannya itu aku langsung
menjauh. Aku tidak membenarkan persepsi orang tentangku. “
Mark benar, aku sudah mengetahuinya, bagaimana dia denganku.
Tidak mungkin Mark, Gay, kalaupun dia seorang Gay, dia tidak akan menjauh dari
Kevin. Ya, aku mempercayainya bahkan sangat mempercayainya. Aku takkan
membiarkan orang-orang mengatakan hal yang tidak seharusnya mereka katakan tentang
Mark.
Akupun
tersenyum padanya “ Iya sayang aku percaya padamu. Biarkan persepsi negatif
orang-orang tentangmu. Itu semua akan terbukti salah seiring berjalannya waktu”
jawabku.
“
Thanks ya sayang, kau selalu bisa membuatku tenang..” jawabnya.
Aku
mengangguk. Kemudian aku teringat, kemana dia akan membawaku pergi, kami sudah
berjalan agak jauh dari New York.
“
Mark, kau belum memberitahuku kemana kita akan pergi.??.” tanyaku
“
Ohh, itu masih rahasia sayang..” katanya
Aku
cemberut karena Mark tidak memberi tahuku kemana aku dan dia akan pergi.
“
Kau penasaran sayang??” tanyanya.
Aku
mengangguk pelan..
“
Baiklah kalau penasaran..” katanya sambil memberhentikan mobilnya.
“
Disini??” tanyaku heran sambil melihat keluar aku fikir tidak ada hal yang menarik
disini..
“Tidak
sayang, bukan disini.. sebaiknya kau pakai ini dulu ya..” Mark mengeluarkan
sebuah saputangan, melipatnya menjadi bentuk segitiga dan memakaikannya sebagai
penutup mataku .
“
Katakan padaku jika merasa pusing ya??” katanya padaku.
“
Mark kau membuatku mati penasaran.” Jawabku.
“
Ini surprise sayang,..” katanya
“
Aku benci Suprise “ jawabku.
“
Tenanglah, semakin kau tenang semakin cepat kita sampai” jawabnya,
Lalu kurasakan Mark kembali menyetir mobilnya dengan
kecepatan tinggi. Dan dapat juga kurasakan dia membelokkan mobilnya dan
berhenti.
“
Kita sudah sampai??” tanyaku
“
Sudah tapi belum tepat pada tempatnya. Berjalan sebentar yaa.” Jawabnya.
Lalu
kudengar Mark membuka pintu mobilnya dan tak lama kemudian membuka pintu yang
disebelahku.
“
Ayo kita keluar, tapi hati-hati ya..” katanya sambil memegangiku.
Lalu aku keluar dengan dibantu Mark dan berjalan perlahan.
Hingga Mark menyuruhku untuk berhenti. Ku dengar Mark seperti membuka sebuah
pintu.
“Ayo
sayang kita masuk” katanya sambil memeluk pinggangku dan kami mulai berjalan
lagi.
“
ini masih lama ya??” aku semakin penasaran.
“
Sebentar lagi, kau sudah pusing ??” tanyanya.
“
Sedikit, “ jawabku
Kemudian
kami berhenti.
“
Kau sudah siap??” tanya Mark.
Aku
menarik nafas dalam-dalam. ‘” Siap” jawabku.
Lalu Mark membukakan penutup mataku. Terasa pusing kepala
saat mataku melihat cahaya yang terang. Dan aku fokus melihat sekelilingku.
Sepertinya aku ada didalam ruangan, dsudut ruangan itu terdapat sebuah ranjang
berseprai satin putih, semua yang ada disini didominasi oleh warna putih dan
didepanku itu sebuah pintu kaca dan diluar sana ada pantai. Pantai tempat yang
paling aku sukai.
“
Bagaimana sayang..??” tanya Mark.
“
Ini apa??” tanyaku bingung.
“
Ini rumah kita. Kau menyukainya..” katanya
la“
Rumah kita, maksudmu??” apa yang dimaksud Mark dengan rumah kita.
“Iya
ini rumahku dan rumahmu. Aku membeli ini teringat denganmu, kau menyukai
pantaikan. Rumah ini langsung menghadap kepantai. Tempatnya juga masih
sepi,masih tenang. “ Mark membelai wajahku.
“
Ini rumahmu Mark, berlebihan sekali jika mengatakannya rumahku.”
“
Tidak, ini rumahmu juga. Sekarang apa yang ada padaku adalah milikmu sayang..”
Aku
menggeleng “ Tidak..” jawabku.
“ Terserah
padamu, tapi aku sudah menyerahkan semuanya untukmu” jawabnya sambil memegang
wajahku dengan kedua tangannya dan mencium kening dengan hangat. Aku memejamkan
mataku merasakan hangatnya bibir Mark menyentuh keningku.
Saat aku membuka mataku, wajah
kami berdua sudah sangat dekat. Hidung Mark sudah menyentuh hidungku, nafasnya
hangat diwajahku tatapan matanya tajam padaku.
“
Sayang, saat kau mencium pipiku tadi pagi, aku sangat ingin mencium bibirmu
ini” katanya sambil membelai bibirku.
Jantungku berdetak
cepat, bahkan lebih cepat dari dari biasanya. Lalu Mark mencium bibirku dengan
hangat dan lembut, aku membalas ciuman itu. Kulingkarkan tanganku di lehernya, Tangan Mark sudah
melingkar dipinggangku. Ciuman menjadi
panas saat Mark mengigit bibir bawahku perlahan. Lidahnya menerobos masuk
kedalam mulutku dan menari bersama dengan lidahku. Setelah itu Mark mengigit
bibirku dan aku pun mengigit bibirnya. Nafas kami mulai terengah-engah.
“
Asya, aku menginginkanmu sayang..” suara parau Mark memecah keheningan diantara
kami, tatapan matanya yang menyala-nyala mengartikan keinginannya yang kuat
akan diriku.
Wajah
kami berdua sudah memanas. aku tak ingin membohongi diriku sendiri, aku juga
menginginkannya. “Ya, aku tahu sayang..” jawabku sambil mengangguk.
Mark tersenyum saat aku mengangguk. Lalu dia mengendongku dan
menciumi leherku. Kemudian aku dibaringkannya diranjang yang ada disudut
ruangan. Tangannya menyentuh remote penutup tirai pintu kaca besar itu. dan
kaca itupun tertutup oleh tirai. Mark kembali menatapku dalam, aku membalas
tatapannya. Mark mulai menindihku dan menopangkan kedua lengannya ditempat
tidur agar menjaga keseimbangan badannya.
“
kau sangat cantik Sya, .” aku tersenyum
mendengarnya. Lalu dia kembali menciumku dengan ciuman yang panas. Setelah itu
bibirnya menyusuri leherku dan tangannya mulai menyusup membelai punggungku.
Saat dibelainya itulah nafas ku semakin terburu-buru.
“sabar
sayang..” katanya sambil membuka kancing kemejaku satu persatu dan
melepaskannya dari tanganku. Nafasku masih memburu dan keringatku sudah bercucuran
karena panas. Mark duduk disampingku membuka baju kaos yang dipakainya dan
melemparkannya dilantai. Tubuh nya yang atletis itu yang membuatku tergila-gila
padanya.
Lalu Mark kembali mendekatiku
dan mengangkatku hingga aku duduk dipangkuannya. Lalu dia membelai tubuhku,
belaiannya itu membuatku semakin panas dan terbakar. Dipeluknya erat tubuhku,
tangannya membelai punggungku dan dengan perlahan melepaskan pengait bra ku.
Dan melepaskannya. Mark mendorong tubuhku hingga kembali berbaring diranjang.
Menunduk hingga dia mencium payudaraku dan memainkannya dengan tangannya. Kugantungkan
tanganku dilehernya dan jariku mulai menyusup masuk disela-sela rambutnya.
Tubuhku terasa melayang saat Mark melakukan itu.
“Mark...”
aku tak bisa lagi menahan diriku.
Mark tersenyum melihatku, senyuman kemenangan darinya. Dia
membuka kancing celana jeansku dan melepaskannya dari kakiku. aku memandangi
tubuhku yang tak ditutupi sehelai benangpun. Rasanya tak ada lagi rasa malu didalam diriku. Kudengar
Mark membuka jeansnya dan suara sobekan kemasan foil. Dan dia kembali menindih
tubuhku, menopangkan satu tangannya dan tangan satunya membelaiku. Kakinya ada
diantara kedua pahaku.
“
Sayang ini bukan hal yang baru untukmu dan untukku. Tapi aku selalu
menikmatinya.” Katanya
Lalu Mark menyentak dalam sekali gerakan, dia memasuki diriku
dengan cepat. Aku terpekik tertahan dan
terkejut dengan gerakannya yang tiba-tiba. Mark sudah ada didalam
diriku, aku memeluk nya kencang. Mark menciumku dan dia mulai bergerak maju
mundur secara perlahan. Tubuhku bergetar hebat. Mark tersenyum melihatku yang
sudah sangat panas dan merasakan gelombang orgasme melandaku. Mark kembali
bergerak dengan cepat sehingga membuatku tak berdaya karena nikmat yang ku
rasakan. Aku pun terkulai lemas sambil berpelukan saat Mark mengakhirinya.
“ I
love you, Sya..” Katanya sambil menciumku.
Perlahan
dia mengangkat tubuhnya dan melepaskannya dari diriku. Aku meringis kesakitan
saat Mark mengangkat tubuhnya dari tubuhku. Lalu Mark mengangkat kepalaku
kelengannya dan menciumnya.
“Kau
ingin mandi sayang..” tanyanya.
“
Aku masih ingin istirahat Mark,” jawabku.
“
Baiklah, masih ada waktu untukmu tidur sejenak sebelum kita berangkat
kepameran” jawabnya.
Lalu
aku memejamkan mataku, percintaan yang panas itu membuatku kelelahan. Mark
membelai dan mencium kepalaku. Tak berapa lama kemudian aku tertidur.
Tadinya agak bingung di awal cerita tp akhirnya ngerti kl ini POV nya Asya.
BalasHapusTepuk tangan buat hothotpopnya :D
Selamat, anda berhasil Sya :)
Can't wait for the next chapter sists :*
hehehee..
BalasHapus*sembunyi dipelukan Mark.
terima kasih berhasil membuat diri sendiri panas dingin hhaha
Chapternya yg gila ato yg authornya yg mulai gila :D
Cckckckck