Rabu, 27 Februari 2013

EPILOG

~ Dhee‘s and Gale‘s Family

Kehidupanku saat ini benar-benar sangat sempurna. Ada Gale di sampingku dan Angel yang semakin tumbuh besar. Serta kehadiran anak kedua kami Andy yang sangat tampan.

Hidupku benar-benar sangat mengaggumkan. Mejadi seorang istri dari suami yang tampan dan menjadi ibu dari anak-anak yang cantik dan tampan pula.

Semua ini tidak pernah aku sangka sebelumnya. Pertemuan dengan Gale benar-benar sudah membuat hidup berubah dan lebih berwarna.

Susah dan senang kami lalui bersama. Berbagai cobaan yang menerpa hubungan kami berhasil kami atasi. Aku sangat bahagia sekali dengan apa yang telah aku miliki saat ini.

“Sayang apakah kau sudah siap??“ Gale muncul di pintu kamar Angel.

“Kami sudah siap, Gale.“

“Daddy, ayo kita pergi.“

“Iya, sayang kita berangkat ke rumah Aunty Lila dan Uncle Zach sekarang.“

Hari itu kami berencana untuk pergi ke rumah Zach dan Lila. Karena kami akan mengadakan pesta barbeque sambil berkumpul.

~ Asya‘s and Mark‘s Family

Natasya Feehily, itulah namaku saat ini. Jika mengingat awal pertemuanku dengan Mark Feehily, seorang seniman hebat berdarah Irlandia yang tampan.

Pertemuan yang tidak di sangka-sangka di sebuah toko buku yang berada di salah satu kawasan perbelanjaan di kota New York ini.

Dan sekarang inilah kami. Menjadi sepasang suami istri. Kami memiliki keluarga kecil yang sangat bahagia. Apalagi ketika Tyler lahir kedunia ini, kebahagiaan kami berdua semakin lengkap.

Setengah jam sebelum berangkat ke rumah Lila danZach aku ingin menyampaikan sesuatu terlebih dahulu kepada Mark. Karena aku yakin sekali Mark pasti akan sangat bahagia sekali mendengarnya.

Aku menghampiri Mark yang sedang bermain dengan Tyler di Ruang tamu.

“Sayang, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu.“ ucapku gugup.

Mark menatapku sambil menyipitkan matanya, “Ada apa sayang, sepertinya ada hal penting yang ingin kau sampaikan.“

“Ada hal yang sangat penting untuk kau ketahui.“

“Apa itu, sayang? Cepatlah katakan kepadaku.“

“Ummm... Aku hamil, Mark.“ ucapku pelan.

“Apa? Kau... Kau hamil, sayang?“ Mark seakan tak percaya mendengar ucapanku.

“Iya Mark, aku hamil. Kehamilanku baru.berusia empat minggu, Mark.“

“Sayang...“ Mark memeluk tubuhku dan mencium keningku penuh dengan kasih sayang. “Terima kasih, sayang. Aku sangat mencintaimu, sangat sangat cinta.“

“Aku juga sangat mencintaimu, Mark.“ aku memeluknya dengan erat.

“Ayo kita berangkat sekarang.“

Lalu kami sekeluarga pun berangkat dan menuju ke rumah Lila dan Zach yang berada di daerah pinggiran kota New York.

~ Lila‘s and Zach‘s Family

Saat ini aku sedang menikmati kehidupanku yang baru bersama Zach. Sebelumnya tak pernah terpikirkan bahwa aku akan kembali bersama Zach.

Pernikahanku dan Kyle tidak bertahan lama. Karena pada akhirnya kami memutuskan untuk berpisah setelah satu bulan Junior lahir ke dunia ini.

Jangan tanya bagaimana terpuruknya aku saat itu. Dunia yang kupijak seakan runtuh di depan mataku. Aku kehilangan arah hidupku. Namun Junior menyadarkanku bahwa aku harus menjadi kuat dan bangkit dari keterpurukan itu.

Zach masuk ketika aku sedang hancur, di saat aku membutuhkan seseorang untuk jadi penopang hidupku selain kedua sahabat tercintaku. Itulah yang Zach lakukan tanpa harus kupintai.

Dan sekarang Zach resmi menjadi suamiku. Zach sangat mencintai Junior, sama seperti waktu Zach mengira Junior.adalah darah dagingnya. Sampai akhirnya aku melahirkan putri kembar yang sangat cantik. Hasil dari pernikahanku dengan Zach.

Hari itu kami sedang sibuk di halaman belakang rumah. Karena bulan ini giliran di rumah kami acara berbeque di gelar. Ini memang sudah menjadi agenda rutin kami tiap tahun.

Kadang kami mengedakannya di rumah Dhee, Asya atau di rumahku. Yang penting kami tetap bisa berkumpul, dan tali persaudaraan kami tetap kuat.

“Zach, sebaiknya kau menyiapkan alat pembakaran saja. Biarkan aku yang menyiapkan makanan dan minumannya.“

“Baiklah lah, sayang. Akan segera aku lakukan.“

Sementara kami tengah sibuk, Junior dan Si Kembar sedang asyik bermain di temani oleh para baby sitter.

Tak lama kemudian Gale, Dhee, Asya dan Mark beserta anak-anak mereka tiba di rumah kami.

Dan keadaan rumah langsung menjadi sangat ramai sekali. Junior dan Angel terlihat senang namun tetap malu-malu ketika saling bertemu.

Lalu acarapun segera kami mulai. Suasana hari ini benar-benar sangat santai dan hangat sekali. Obrolan kami  di selingi oleh canda tawa. Semua orang terlihat bahagia. Dan semoga semua ini tidak akan pernah berubah hingga anak-anak kami dewasa nanti.

~~ SELESAI ~~

Minggu, 24 Februari 2013

CHAPTER 45 (REVISI)

Akhirnya aku dan Zach kembali bersama. Bahkan Zach memintaku dan Junior untuk tinggal di apartemen miliknya. Sepertinya Junior sudah menganggap Zach sebagai ayahnya. Apalagi saat ini Junior sudah berusia tiga tahun.

Karena Junior lebih senang bermain bersama Zach. Namun meskipun begitu aku selalu mengijinkan Kyle untuk menemui Kyle. Dan Zach tidak keberatan, karena bagaimanapun juga Kyle tetaplah ayah kandung dari Junior.

Dan sepertinya Kyle juga senang melihat aku dan Zach kembali bersama-sama lagi.  Namun tetap saja, itu tak langsung membuatku langsung menerima lamaran Zach. Rasanya masih ada perasaan takut, meskipun kami sudah bertunangan.

“Sayang, aku benar-benar ingin menikahimu. Katakan apa yang harus kulakukan untuk membuatmu yakin kepadaku.“

“Zach, bukannya aku tidak yakin denganmu. Kau tahu bahwa aku jug sangat mencintaimu, hanya saja...“

“Hanya saja kau tidak yakin untuk menikah denganku.“

“Tidak, bukan seperti itu Zach.“

“Lalu apa jika bukan itu maksudnya?“

“Aku mau menikah denganmu setelah aku...“ aku kembali terdiam.

“Setelah apa sayang?“

“Ummm... Setelah... setelah aku melahirkan anak keduaku.“ suaraku terdengar berbisik.

“Ap-apa melahirkan? Maksudnya saat ini kau sedang...??“

“Iya Zach, aku sedang mengandung bayimu.“

“Sungguh, sayang?“ Zach menatapku dengan tatapan tak percaya.

“Aku bersungguh-sungguh Zach. Aku sedang mengandung dan usia kandunganku sudah memasuki bulan kedua.“

Zach langsung memangku Junior dan memelukku, “Terima kasih sayang, kau sudah memberiku kesempatan untuk menjadi seorang ayah.“

“Kau sudah menjadi ayahnya Junior Zach, jangan lupakan itu.“

“Tentu saja sayang, aku akan tetap memcintai Junior seperti putraku sendiri.“

“Sayang sepertinya kita harus membeli rumah yang lebih luas. Karena aku sedang mengandung bayi kembar.“

“Apa? Kembar?“

“Iya Zach, kita akan memiliki putri kembar.“

Zach langsung menciumiku dan Junior bergantian. Zach sangat bahagia sekali mendengar kabar kehamilanku. Aku saja kaget ketika mengetahui tentang kehamilanku ini.

“Mommy...“ tiba-tiba Junior memanggilku.

“Ada apa, sayang?“

“Aku mau ketemu Angel, Mommy.“

“Iya sayang, sebentar lagi kita ke rumah.Angel. Kakak senang, kan?“

“Thank you Daddy.“ Junior mencium pipi Zac.

“Kakak mau makan dulu?“

“No, minum susu aja.“

“Ya sudah, Mommy buat dulu ya.“

Setelah Junior meminum susunya dan menyiapkan beberapa keperluan, kami bertiga pun pergi menuju ke rumah Gale dan Dhee.

Karena hari ini keluargaku dan keluarga Asya akan berkumpul di rumah Gale dan Dhee. Junior sangat senang sekali jika akan bertemu dengan Angel. Sepertinya Junior sangat menyukai Angel. Aku dan Dhee hanya bisa tertawa melihat Junior dan Angel jika sedang bersama-sama.

***

Aku dan Zach berencana untuk menikah setelah satu bulan melahirkan. Maka dari itu ketika kehamilanku menginjak bulan ke 8, Zach dan aku mulai sibuk mempersiapkan pernikahan kamu.

Selain itu kami berdua juga sibuk menyiapkan perlengkapan untuk kelahahiran putri kembar kami yang tinggal satu bulan lagi. Junior sepertinya juga sudah tidak sabar menunggu kelahiran adiknya.

Zach juga sudah menyiapkan sebuah rumah yang akan kami tempati setelah aku melahirkan nanti.

Kehamilan kali ini aku tidak bisa bepergian kemanapun dengan leluasa. Aku jadi mudah merasa lelah. Apalagi perut yang sudah besar ini terasa sangat berat berbeda dengan kehamilan pertamaku.

Hari ini Dhee datang berkunjung ke apartemen kami. Tentu saja Junior sangat senang sekali karena bertemu lagi dengan Angel.

“Kapan kau akan melahirkan?“

“Menurut dokter sekitar minggu depan, Dhee. Kehamilan kali ini aku benar-benar kewalahan Dhee. Aku menjadi cepat lelah, rasanya sangat berat sekali.“

“Wajar kau merasa seperti itu, La. Kau sedang mengandung bayi kembar, tentu saja lebih berat.“

“Dan kau tahu Dhee, Zach sudah mulai membicarakan tentang anak lagi. Dia bilang ingin punya anak laki-laki.“

“Ya ampun, Zach benar-benar ya. Padahal kau saja belum melahirkan.“

“Maka dari itu, Dhee. Ada-ada saja dia itu, lalu bagaimana keadaan kehamilan keduamu, Dhee?“

“Baik-baik saja, Dhee. Gale sangat senang sekali ketika mengetahui bayi yang sedang aku kandung ini berjenis kelamin laki-laki.“

“Selamat Dhee, tentu saja Gale sangat senang. Bukankah dia memang sangat menginginkan anak laki-laki.“

“Eh, Asya belum pulang ke New York lagi, ya.“

“Sepertinya belum, Dhee. Asya dan Mark masih berada di Irlandia.“

“Lila, aku tidak pernah berpikir untuk jadi seperti ini. Maksudku menikah dan memiliki anak di usia yang menurutku masih muda.“

“Aku juga memiliki pemikiran sama sepertimu Dhee. Bahkan aku harus mengalami kegagalan dalam rumah tanggaku. Kau tahu bagaimana terpukulnya aku saat itu.“

Kami berbincang-bincang sambil mengawasi Junior dan Angel yang sedang Asyik bermain bersama.

Sampai tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa di perutku.

“Lila... Kau kenapa?“

“Perutku, Dhee. Sakit sekali, ya Tuhan.“ aku berkata sambil meringis kesakitan.

“Jangan-jangan kau akan melahirkan, La. Ya ampun air ketubannya sudah pecah.“

“Sakit sekali Dhee...“

“Aku akan segera menelepon Zac dan ambulan. Kau tahan ya, La.“

“Ya Tuhan, sakit sekali Dhee...“

Beberapa saat kemudian ambulan datang dan langsung membawaku menuju ke Rumah Sakit. Sedangkan Dhee akan menyusul bersama anak-anak.

Sesampainya di sana aku langsung di bawa ke masuk ke dalam Ruang Bersalin. Dan setengah jam kemudian Zac masuk untuk mendampingiku.

“Z-Zac...“

“Aku di sini sayang. Aku yakin kau bisa melewati semua ini. Karena kau wanita yang sangat kuat, sayang. Berjuanglah, kau pasti bisa. Aku sangat mencintaimu, sayang.“ Zac mengecup bibirku.

Dan akhirnya aku melahirkan bayi kembarku. Setelah berjuang selama berjam-jam di ruang bersalin.

Kebahagianku dan Zach kembali bertambah setelah kelahiran Kyla dan Kylie.

*** TAMAT ***

Kamis, 21 Februari 2013

CHAPTER 44

Aku membuka mataku perlahan. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Karena ketika aku membuka mata keadaan di sekelilingku tampak lengan.

Aku tidak melihat sosok Eric, Lila, Asya dan Mark atau Zach. Hanya sosok Gale yang sedang tertidur sambil bersandar di kursi yang berada di dekat ranjang.

Perasaanku langsung campur aduk ketika melihat sosoknya yang sedang tertidur dengan wajah yang kelelahan. Aku tak tahu bagaimana harus bersikap kepada Gale. Karena jika teringan kejadian siang itu hatiku terasa sangat sakit.

Rasanya aku ingin mengusirnya jauh-jauh dari hidupku. Aku tak ingin melihatnya, karena hanya perasaan marah yang aku rasakan.

“Angel, rupanya kau sudah bangun. Ya Tuhan, mengapa kau tidak mengatakan kepadaku jika kau sedang hamil.“

“Bukan urusanmu Gale, sebaiknya kau pergi dari sini. Temani saja kekasihmu itu.“ jawabku dengan nada yang sangat sinis.

Gale mengerutkan keningnya mendengar ucapanku, “Apa maksudmu, Angel. Aku benar-benar tidak mengerti dengan ucapanmu.“

“Terus saja mengelak, Gale. Kau tahu siang itu aku melihatmu sedang berciuman dengan Irene di depan pintu masuk perusahaanmu.“

“Jadi kau berada di sana? Angel, dengar ini tidak seperti yang kau pikir dan kau lihat.“

“Semuanya sudah cukup jelas, Gale. Dan kaulah yang membuatku kehilangan bayiku.“ aku menangis dengan emosi yang meledak-ledak.

“Tidak seperti itu, sayang. Irene tiba-tiba menciumku, ia menerobos masuk ke dalam mobilku.“

“Haruskah aku percaya lagi dengan semua ucapanmu itu Gale?“

“Angel, hanya kaulah yang aku cintai. Dan takkan pernah ada wanita lain di hatiku. Hanya kau.“ Gale menggenggam erat tanganku.

“Dua kali kau menyakitikiku, Gale. Dan yang terakhir adalah yang terparah.“

“Angel, aku tahu aku salah. Seharusnya aku tidak lengah. Andai saja aku bisa lebih waspada dan tegas, mungkin Irene tidak akan berani mendekatiku lagi.“

Gale kembali menciumi tiap buku jariku dan mengecup air mata yang membasahi kedua pipiku. Dengan lembut ia mengecup keningku. Aku tahu dan bisa merasakan bahwa dia memang benar-benar mencintaiku dengan tulus.

Lalu Gale menghentikan ciumannya dan kembali menciumi tanganku. Dengan perlahan aku membelai rambutnya menggunakan tanganku yang satunya.

“Gale... Maafkan aku juga karena telah bersikap begitu egois. Aku sangat sedih karena aku kehilangan bayiku sebelum aku mengetahuinya.“

“Angel, sudah. Kita masih bisa memiliki bayi. Dokter sudah mengatakannya kepadaku. Jika kau sudah benar-benar pulih kita bisa melakukan program untuk memiliki anak. Itupun jika kau sudah kuat dan siap.“

“Aku mencintaimu, Gale. Sangat sangat mencintaimu.“

“Begitupun juga denganku, Angel. Kaulah hidupku. Pusat kehidupanku.“

Lalu Gale mencium bibirku dengan perlahan, lembut dan penuh kasih sayang. Ya, aku mencintai suamiku. Sampai kapanpun hanya akan ada Gale di dalam hati dan hidupku. Sampai kapanpun.

Setelah menjalani perawatan selama dua minggu dokter memperbolehkanku untuk pulang. Dan beberapa hari kemudian Gale mengajakku pergi berlibur kesebuah pulau pribadi miliknya yang berada di kepulauan Karibia.

Aku merasa seperti sedang pergi berbulan madu yang kedua. Karena setiap hari Gale selalu memanjakanku.

Sore itu Gale mengajakku berjalan-jalan di sepenjang pantai sambil menikmati keindahan pantai di sore hari. Gale mengajakku ke sisi lain dari pantai yang memiliki pemandangan batu karang yang sangat indah sekali.

Gale membantuku naik ke salah satu bagian batu karang yang tidak tinggi. Batunya juga lebih halus dari pada yang lain. Kami duduk di sana sambil menikmati sore yang sangat indah.

“Tempatnya indah sekali Gale. Terima kasih untuk liburan yang sangat menyenangkan ini.“

“Aku akan melakukan apapun untuk membahagiakanmu, Angel.“

“Aku sangat mencintaimu, Gale.“

“Begitupun juga denganku, Angel.“

Gale menangkup wajahku, lalu mencium bibirku. Mencecap seluruh bagian yang ada di mulutku. Lidah kami menari-nari dan bertautan.

Tangannya mulai bergeriliya di punggungku yang terbuka. Meninggalkan jejak-jejak panas di tubuhku. Meningkatkan gairah yang mulai terbangun dalam diriku.

Tangannya mulai menelusup ke dalam tank-top yang aku gunakan. Menjalankan tangannya menuju ke bagian depan tubuhku. Lalu menangkup dan meremas payudaraku dengan lembut dan perlahan. Membuatku mengerang di dalam mulutnya.

“Gale...“ suaraku terdengar berat dan mendesah.

Lalu dengan cekatan Gale mulai membuka tank-top yang kupakai. Payudaraku yang tanpa bra langsung terbebas dan terekspos.

Gale membaringkan tubuhku di atas batu karang. Lalu mulai mengeksplorasi payudaraku yang terbuka. Mempermaikan putingnya yang sudah sangat mengeras dan sensitif sekali.

Lalu Gale melumat dan menghisapnya dengan sangat bergairah. Membuatku tak henti-hentinya mengerang dengan nafas yang terengah-engah.

Gale membuka kancing dan restleting celana pendek yang ku pakai. Lalu menelusupkan tangannya kedalam celana dalamku. Tangannya menangkup di pusat di diriku yang sudah sangat basah. Lalu menurunkan celana dan celana dalamku sekaligus.

Tangannya membelai clitku yang sudah mengeras, lalu ia membuat gerakan memutar di sana. Dengan perlahan ia memasukan jarinya kedalam diriku dan menggerakkannya secara perlahan.

“Ah... Gale...“

“Datanglah untukku, Angel. Dan jangan menutup matamu.“

Semakin lama gerakan jari-jari Gale semakin cepat. Tubuhku bergetar hebat, aku tak henti-hentinya meracau ketika orgasme itu semakin dekat.

“Oh ya Tuhan, Gale...“ aku memekik sambil mencengkram tubuh Gale.

Tubuhku terkulai lemas. Gale mengeluarkan jarinya dan di gantikan dengan sapuan-sapuan lidahnya yang panas. Menghisap dan menggigit clitku.

Tubuhku yang lemas mulai kembali bergairah. Gale terus saja mengeksplorasi bagian pusat diriku dengan mulutnya. Sedangkan tangannya meremas payudaraku.

“Ah, Gale...“ aku tak kuasa ketika orgasme kedua kembali menghantam tubuhku.

Ketika tubuhku sudah terasa lemas, Gale buru-buru melepaskan seluruh pakaiannya dan mulai merangkak di atas tubuhku.

“Sekarang giliranku, Angel“ Gale berbisik lalu menggigit pelan kupingku.

Tubuhku menggelinjang ketika ia mulai menciumi bagian sensitif di tubuhku.

“Aku sangat mencintaimu, Angel.“ Gale berkata sambil memasukan miliknya kedalam diriku.

Miliknya langsung terasa penuh di dalam diriku. Lalu Gale mulai menggerakkan tubuhnya secara perlahan-lahan. Aku menyelaraskan gerakan tubuhku dengan dirinya. Sampai aku kembali merasakan orgaameku yang ketiga.

Lalu Gale membalik posisi kami, tanpa mengeluarkan dirinya dari dalam diriku. Memegangiku ketika aku melakukan gerakan naik dan turun. Tubuhku bergoyang ke kiri dan kanan membuat ereksi Gale terpelintir dengan kenikmatan.

Aku yang sudah sangat sensitif kembali mengalami orgasme. Akhirnya tubuhku ambruk di atas tubuh Gale. Tubuhku sudah sangat lemas, namun tidak bagi Gale. Miliknya masih terasa keras di dalam diriku.

Gale mencium keningku sebelum akhirnya kembali membalik posisi kami. Gale meraih salah satu kakiku dan memegangnya ke atas.

Lalu kembali menusuk diriku dengan sangat dalam. Membuatku kembali bergairah, aku tak ingat lagi sudah berapa kali aku menglami orgasme. Tubuhku sudah sangat lemas sekali.

Gerakan Gale semakin cepat, miliknya mulai berkedut. Gerakannya menjadi perlahan namun begitu keras ketika menusukannya ke dalam diriku. Sehingga rasanya seperti menembus perutku.

“Ayo Angel, datanglah bersamaku.“ ia menggeram sambil menggertakan giginya.

Akhirnya Gale menyemprotkan benih-benihnya di dalam rahimku. Rasanya terasa hangat dan penuh sekali. Kami akhirnya mencapai klimaks bersama-sama. Gale tidak langsung mengeluarkan dirinya.

Melainkan mengangkat pantanku ke atas dan agak miring. Memastikan tidak ada cairan yang keluar.

Setelah itu kami berdua berbaring sambil berpelukan dengan tubuh telanjang. Setelah tenaga kami pulih, Gale membantuku memakai kembali pakaianku lalu Gale memakai pakaiannya.

“Sayang, aku sangat mencintaimu, Angel.“

“Aku juga sangat mencintaimu, Gale.“

Kami kembali berciuman dengan sangat panas. Setelah itu Gale mengajakku untuk pulang ke rumah. Setelah membersihkan diri dan makan malam kami kembali terlibat dalam percintaan yang panas. Dan akhirnya tertidur pulas karena kelelahan.

Senin, 18 Februari 2013

CHAPTER 43

***

Akhirnya Asya dan Mark menikah beberapa bulan yang lalu. Lila dan Zach yang selama ini menutupi hubungan mereka pada akhirnya tidak kuasa menutup-nutupi lagi kisah cinta yang sedang bersemi di antara mereka berdua. Tentu saja aku sangat senang sekali.

Siang itu aku berniat untuk memberikan kejutan makan siang untuk suamiku tercinta. Aku juga sudah membuat makanan yang spesial untuk Gale.

Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam. Akhirnya aku sampai di perusahaan milik Gale.

Aku berjalan menyusuri parkiran yang berada tepat di depan perusahaan. Dari jauh aku melihat mobil milik Gale yang baru saja tiba entah dari mana.

Tak lama kemudian aku melihat sosok Gale yang baru keluar dari dalam mobil. Namun rupanya Gale tidak sendiri. Sosok Irene muncul dari dalam mobil Gale.

Aku membeku di tempatku berpijak saat ini. Dengan tatapan nanar aku melihat kejadian yang sedang berlangsung di depanku saat ini.

Gale dan Irene sedang berciuman mesra di depan pintu masuk. Air mataku langsung jatuh membasahi pipi tanpa bisa aku tahan lagi.

Aku langsung membalikan tubuhku. Berlari menjauhi tempat itu sambil berurai air mata. Ya Tuhan, mengapa suamiku tega berbuat seperti itu?

Di persimpangan jalan aku berhenti. Selain untuk mengatur pernafasan, aku juga merasakan sakit yang luar biasa di perutku.

Perutku serasa di remas-remas, sangat sakit sekali. Dan semakin lama semakin sakit, aku tidak kuat untuk menahannya lagi. Pandanganku mulai kabur, kepalaku sakit seperti berputar-putar.

Aku bersandar di tembok sebuah bangunan yang berada di persimpangan jalan itu. Aku menunduk memandangi jalan. Aku tersentak kaget ketika melihat darah segar yang meluncur dari pahaku.

Ya Tuhan, darah apa itu???
Lama kelamaan kesadaranku mulai menurun. Aku sempat mendengar suara seseorang memanggil namaku. Namun sebelum aku sempat melihatnya, keadaan di sekitarku langsung gelap gulita.

Dengan perlahan aku membuka mataku. Namun sinar lampu yang berada di atasku sangat menyilaukan dan membuat mataku menjadi sakit. Setelah mataku bisa menyesuaikan dengan keadaan sekitar, aku mulai memperhatikan tempatku berada saat ini.

Sebuah ruangan yang di dominasi oleh.warna putih serta bau disinfektan yang sangat kuat. Aku langsung menebak bahwa saat ini aku sedang berada di Rumah Sakit.

Aku  melihat Lila dan Eric yang sedang terkantuk-kantuk di sofa. Beberapa saat kemudian Asya dan Mark menerobos masuk ke dalam ruangan dan langsung menghampiriku.

“Dhee, syukurlah kau sudah sadar. Bagaimana keadaanmu?‘

“S-Sya, ba-ba-bagaimana a-aku b-bisa  berada disini?“ tanyaku dengan terbata-bata.

“Eric menemukanmu pingsan di pinggir jalan, Dhee. Kau mengalami pendarahan yang cukup hebat.“

“Syukurlah kau sudah sadar, Dhee. Aku dan Kak Eric sangat khawatir denganmu.“

“Bagaimana perasaanmu saat ini, Dhee?“ tanya Eric dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.

“Perutku sakit, terima kasih kau telah menolongku.“

“Apa yang terjadi, Dhee? Sampai-sampai kau bisa mengalami pendarahan yang parah seperti ini.“

“Ceritanya panjang, La.“

“Sayang, aku dan Eric akan pergi ke kantin dulu untuk membeli sesuatu untuk kalian.“

“Iya Mark, hati-hati.“

Eric dan Mark pergi keluar dari ruanganku. Sepertinya Mark dan Eric memberiku privasi untuk berbicara dengan Asya dan Lila.

“Jadi maukah kau menceritakan yang sebenarnya kepadaku dan Lila.“

“Baiklah, aku akan menceritakan yang sebenarnya kepada kalian berdua.“

Lalu aku mulai menceritakan kejadian yang aku alami tadi siang. Termasuk kejadian saat Gale dan Irene yang sedang berciuman.

“Selalu saja Irene. Mengapa wanita itu tak pernah mau menyerah. Selalu saja mengganggu hubunganmu dengan Gale.“

“Entahlah La, aku tak mengerti. Bisakah kalian memberitahuku mengapa apa aku.bisa mengalami pendarahan?“

Asya dan Lila langsung saling melempar pandangan ketika aku melontarkan pertanyaan itu. Ekspresi wajah mereka berdua benar-benar terlihat bingung.

“Ayolah, katakan kepadaku.“

“Dokter bilang kau keguguran, Dhee.“

Ucapan Asya terasa seperti petir di tengah di tengah hari di telingaku, “Apa? Keguguran?“

“Benar Dhee, kau mengalami keguguran. Menurut dokter usia kandunganmu sudah berusia dua bulan. Dan aku sangat yakin sekali bahwa kau pasti tidak menyadari kehamilanmu.“

“Ya Tuhan, bayiku...“ aku langsung memegangi perutku, “Aku... aku memang tidak menyadari kehamilanku, La.“ air mataku kembali jatuh membasahi pipi.

“Kau yang sabar ya, Dhee.“

“Sya, bayiku... Aku kehilangan bayi yang belum sempat aku ketahui, Sya.“ ucapku sambil menangis tersedu.

“Kau jangan bersedih Dhee, dokter bilang kau bisa hamil jika sudah pulih. Dokter bilang sekitar tiga bulan lagi kau bisa kembali hamil.“

“Tapi La... Bayiku...“ aku terus saja menangis.

“Ya Tuhan Dhee, sudah jangan menangis. Kami mohon, yang terpenting sekarang adalah kau segera sembuh.“

“Tidak Sya, aku ingin bayiku kembali.“

Aku mulai kehilangan kontrol mulai berteriak histeris. Aku mulai melempar bantal dan selimutku. Bahkan selang infus yang terpasang di tangan kananku langsung saja ku cabut. Sehingga darah terus keluar dari tangan kananku.

Ketika aku sedang mengamuk Mark dan Eric datang. Mereka berdua langsung memegangi kedua tanganku, dan Lila memegangi kakiku sedangkan Asya sedang pergi memanggil dokter dan suster.

“Lepaskan aku... Aku ingin bayiku.“ aku berteriak-teriak seperti orang gila.

“Demi Tuhan, tenanglah Dhee. Aku mohon.“

“Eric, lepaskan tanganku. Aku hanya ingin bayiku kembali Eric.“

“Tidak, kami tidak akan melepaskanmu sebelum kau tenang.“

Tak lama kemuadian Asya datang bersama dokter dan suster. Dokter langsung menyuntikan obat penenang dalam dosis yang cukup tinggi agar aku bisa tenang. Tubuhku menjadi lemas dan akhirnya aku kembali tak sadarkan diri.

Minggu, 17 Februari 2013

CHAPTER 42

Persiapan pernikahanku yang akan di gelar di rumah pantai milik kami. Persiapannya sudah 95%. Dan itu membuatku semakin gugup sekali.

Dhee dan Lila jadi lebih sering menemaniku untuk fitting gaun pengantin. Pergi keluar bersama Dhee dan Lila sekarang tidak bisa sesantai dan setenang dulu.

Karena masih saja aja wartawan yang mengikuti Lila. Apalagi pasca perceraiannya dengan Kyle terkuak ke publik. Seperti hari ini, kami harus bermain kucing-kucingan dengan para wartawan.

Para wartawan itu mengira bahwa Lila akan menikah lagi. Padahal yang akan menikah itu adalah aku. Agar para wartawan itu tidak terlalu ngotot.

Akhirnya Lila mau menjawab beberapa pertanyaan dari wartawan dengan sangat singkat. Termasuk tentang apa yang di lakukannya di sebuah butik gaun pengantin desiner ternama.

Setelah itu barulah kami bisa masuk ke dalam mobil dan pergi dari tempat it dengan tenang. Hari itu kami berencana untuk ke rumah pantai.

Karena Junior berada di sana bersama Mark, Gale, dan Zach. Aku dan Dhee sempat bertanya-tanya apakah Lila dan Zach kembali bersama-sama?

Karena semenjak Lila resmi bercerai dengan Kyle. Zach sering sekali datang ke apartemen kami. Dan akhirnya kami bertiga sampai di rumah pantai. Lila langsung menghampiri Zach yang sedang duduk di kursi yang menghadap langsung ke pantai.

“Hai sayang, bagaimana fittingnya?“

“Berjalan lancar, gaunnya sangat indah dan sedang dalam proses finishing.“

“Hei, apakah Lila dan Zach kembali bersama?“

“Entahlah Gale, menurut cerita Asya Zach sering sekali datang berkunjung ke apartemen untuk menemui Lila.“

“Tapi sepertinya Junior cocok dengan Zach ya?“

“Tentu saja Mark. Karena Zach sangat mencintai Junior meskipun kenyataannya Junior bukan darah dagingnya.“ Dhee menjelaskan.

“Lihat saja mereka sekarang, sudah seperti sebuah keluarga, bukan. Sebenarnya Zach pernah menceritakan kepadaku tentang rencananya untuk meminta Lila kembali padanya.“

“Kau serius, Gale?“

“Aku serius, Sya. Beberapa hari yang lalu Zach mengatakannya kepadaku.“

“Semoga mereka kembali bersama.“

Aku mengangguk pelan namun mantap menjawab ucapan Dhee, “Semoga Dhee.“

~~~

Hari pernikahanpun tiba. Aku sedang cemas menunggu Ayahku datang untuk menjempu. Dhee dan Lila sudah berada di luar menungguku.

Akhirnya Ayah datang menjemputku. Aku meremas lengan Ayah dengan sangat kuat, berharap semua perasaan gugupku akan hilang. Sedangkan Dhee dan Lila dengan anggunnya berjalan di depanku.

Pandanganku terus tertuju ke depan. Meskipun aku tahu semua mata sedang tertuju kepadaku. Namun sosok tampan  yang berada di depanku jauh lebih menarik. Ya, di depan sana Mark berdiri dengan gagahnya, berbalut tuxedo berwarna putih. Tersenyum kepadaku.

Ayah menyerahkanku kepada Mark, selanjutnya upacara pernikahanpun di mulai. Dengan diiringi oleh suara desiran ombak yang saling berkejaran. Menjadi saksi ikrar suci kami berdua.

Resmi sudah aku dan Mark menjadi sepasang suami dan istri. Para sahabatku bergantkan mengucapkan selamat kepada kami berdua.

“Selamat untuk kalian berdua. Semoga lekas di beri momongan.“

“Terima kasih Lila. Semoga kau lekas menemukan pendamping hidupmu.“ aku memeluk Lila erat.

“Sepertinya aku sudah menemukannya, Sya.“ Lila berbisik kepadaku agar tidak ada yang mendengar ucapannya.

“Ah, aku mengerti maksudmu. Dan aku akan selalu berdoa untukmu.“

Lila tersipu malu mendengar ucapanku. Lalu Dhee datang menghampiri kami berdua.

“Sepertinya kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku?“ Dhee menyipitkan kedua matanya kepada kami.

“Tidak ada Dhee. Jika waktunya sudah tiba kau akan mengetahuinya.“ aku mengedipkan sebelah mataku kepada Dhee.

“Kalian berdua benar-benar sudah membuatku sangat penasaran sekali.“

“Belum waktunya, Dhee.“ aku jadi mengikuti perkataan Lila.

“Kalian berdua menyebalkan.“

Dhee yang terlihat kesal langsung pergi meninggalkan aku dan Lila. Kami hanya tertawa geli melihat tingkahnya.

“Aku harap kau dan Zach sudah kembali bersama ketika aku pulang nanti, La.“

“Doakan yang terbaik saja, Sya. Lagipula aku belum yakin jika Zach masih memiliku perasaan kepadaku.“

“Apakah kau tidak bisa melihatnya? Zach masih sangat mencintaimu Lila. Apakah aku harus menyuruh Zach untuk membuktikannya kepadamu?“

“Ya, aku butuh bukti Sya. Karena aku tidak mau mengalami kegagalan untuk yang kedua kalinya. Rasa sakitnya masih terasa hingga saat ini, Sya.“

“Aku mengerti Lila.“

Tiba-tiba Mark datang menhampiriku. “Maafkan aku Lila, aku harus mengambil istriku.“

“Tentu saja Mark, aku sudah selesai dengan Asya. Sekali lagi selamat untuk kalian berdua. Aku harus melihat putraku.“

“Terima kasih banyak, La. Junior sedang berada dengan Zach.“

“Kalau begitu aku permisi. Bye Sya, Mark.“

Setelah pamit Lila langsung pergi menuju ke tempat Zach yang sedang menggendong Junior.

“Sayang, ayo kita. Kita harus mengganti pakaian kita. Karena kita akan segera pergi.“

“Bisakah aku berpamitan dulu?“

“Kita akan melakukannya setelah berganti pakaian.“

“Tapi Mark...“

“Tidak ada tapi.“

Mark membawaku masuk ke dalam untuk berganti pakaian. Setelah itu kami berpamitan kepada keluarga, sahabat, teman dan kerabat kami yang sudah hadir di pesta.

Setelah itu Mark membawaku pergi. Kami berencana akan menghabiskan waktu bulan madu kami dengan berkeliling Eropa.

Aku sangat bahagia sekali karena akhirnya aku dan Mark bisa bersatu.

~~~

Jumat, 15 Februari 2013

CHAPTER 41

***************************************************************
******************************
*****************************

“Lila, mengapa kau tidak menceritakannya kepada kami sejak awal.“

“Karena aku belum siap Dhee. Aku juga tidak mau merusak kebahagiaan yang sedang kalian nikmati saat ini.“

“Ya ampun Lila, mengapa kau sampai memiliki pemikiran yang seperti itu.“

“Aku minta maaf, Sya. Karena tadinya aku pikir aku bisa menyelesaikannya sendiri. Namun ternyata aku salah.“

“Sudahlah Lila, kau jangan menangi. Ingat putramu, dia lebih membutuhkanmu. Jadi kau harus tetap kuat.“

“Terima kasih Dhee, terima kasih juga Sya.“

“Lila, bolehkah aku menggendong bayimu? Dia bangun dan sangat menggemaskan.“

“Tentu saja kau boleh menggendongnya, Sya.“

Asya berjalan ke arah box bayi tempat Kyle Jr di tempatkan. Dengan hati-hati Asya menggendongnya dan membawanya memdekat kepadaku.

“Hei, lihatlah aku bisa menggendongnya dan dia tidak menangis.“

Sontak saja aku dan Dhee tertawa mendengar perkataan Asya itu.

“Mengapa kalian berdua tertawa? Memangnya ada yang lucu?“

“Tidak Sya, tidak ada yang lucu.“ namun Dhee terus saja menahan tawanya.

“Kau menertawakanku, Dhee.“

“Tidak Sya, hanya saja ucapanmu sangat lucu sekali.“

“Kau menyebalkan sekali, Dhee.“

“Hei, sudah-sudah kalian jangan bertengkar. Nanti anakku menangis karena mendengar pertengkaran kalian.“

Aku tak bisa menghentikan tawaku melihat tingkah Dhee dan Asya. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa tertawa dengan perasaan yang tenang dan ringan seperti ini.

Untung saja aku bisa memiliki sahabat seperti Dhee dan Asya. Mereka selalu bisa membuatku tertawa dan kuat. Mereka selalu ada di manapun aku membutuhkan mereka berdua. Tak terasa air mataku kembali jatuh.

“Lila kau kenapa menangis? Jangan bersedih lagi.“

“Tidak Dhee, ini bukan air mata kesedihan. Tapi air mata bahagia, karena aku memiliki sahabat seperti kalian berdua.“

Tiga hari kemudian aku dan bayiku di perbolehkan untung pulang. Sebenarnya aku tidak ingin kembali ke rumah itu. Namun pengacaraku dan pengacara Kyle meminta kami untuk melakukan mediasi selama satu bulan.

Jika dalam satu bulan kami tidak ada perbaikan dan malah semakin memburuk barulah pengacara kami akan mengurus proses perceraianku dan Kyle di pengadilan.

Dan selama satu bulan itu tak ada sedikitpun kemajuan di antara kami berdua. Yang ada hanya bertambah buruk saja. Dan setelah berdiskusi dan berbicara dari hati ke hati. Akhirnya kami memutuskan untuk berpisah.

Kyle menyerahkan hak asuh Junior kepadaku sepenuhnya. Karena Junior masih sangat kecil sekali. Dia lebih membutuhkanku.

“Dengarkan Kyle, aku takkan pernah memaksamu untuk memperbaiki hubungan kita ini. Karena semuanya sudah terlambat.“

“Aku tahu, aku sudah terlambat untuk memperbaiki semuanya. Kesalahanku sudah tidak dapat di maafkan.“

“Ya, kesalahanmu memang sudah tidak termaafkan, Kyle. Aku sudah lelah, aku tak sanggup lagi untuk bertahan. Hanya bayiku yang bisa membuatku tetap waras sampai detik ini.“

“Bolehkah aku bertemu dengan putraku jika kita tidak bersama lagi?“

“Dia darah dagingmu, Kyle. Dan aku takkan menyembunyikan keberadaanmu kepadanya. Bagaimanapun juga Junior harus tahu tentang ayah kandungnya.“

“Ya Tuhan, Lila...“ tiba-tiba Kyle memelukku dengan erat, “ Maafkan aku Lila, maafkan aku karena kita harus berhasil seperti ini. Aku akan melepasmu, karena aku tak ingin terus menerus mentakitimu, sayang. Aku sangat mencintaimu, kau tahu.“

“Aku mengerti Kyle, sangat sangat mengerti. Hiduplah yang baik kau pasti akan menemukan wanita yang lebih baik.“

“Aku bisa menemukan wanita yang sepertk apapun juga. Tapi takkan ada yang bisa sepertimu, Lila. Tolong jaga Junior baik-baik, katakan bahwa aku sangat mencintainya.“

Aku hanya bisa mengangguk sambil menangis tersedu dalam pelukannya. Tuhan, tolong kuatkanlah aku agar bisa terus menjalani kehidupanku setelah berpisah dengan Kyle.

Aku terus meyakinkanku bahwa perpisahan kami adalah jalan yang terbaik. Kami berdua sudah tidak bisa hidup bersama-sama lagi.

“Kyle biskah kau mengantarkanku kembali ke apartemenku besok pagi.“

“Rumah ini milikmu Lila.“

“Aku tidak bisa tinggal di rumah ini, Kyle. Terlalu banyak kenangan tentangmu di sini, Kyle. Aku tidak akan sanggup.“

Kyle terlihat frustasi sambil mengacak rambutnya, “Aku ingin kau dan Junior aman.“

“Aku akan jauh merasa lebih aman berada disana Kyle. Ada Asya yang akan memaniku di sana. Asya bisa membantuku menjaga Junior ketika aku harus menghadiri persidangan perceraian kita.“

“Jika itu kau minta, baiklah aku akan mengantarmu ke sana. Tapi jika kau butuh sesuatu hubungin aku.“

“Akan kulakukan. Kalau begitu aku duluan. Aku sangat lelah, Kyle.“

“Selamat malam, Lila.“

Aku mengangguk dan langsung pergi meninggalkan Kyle. Aku langung menuju ke kamar Junior. Memandangi tubuh mungilnya yang sedang tidur dalam damai.

Hatiku terasa semakin remuk. Ya Tuhan, anakku masih sangat kecil sekali. Masih membutuhkan ayah dan ibunya. Namun aku dan Kyle benar-benat tidak bisa untuk bersama-sama lagi.

“Maafkan Mommy, sayang.“ aku menangis sambil membelai wajah Junior.

Aku cepat-cepat menghapus air mataku dan langsung membereskan semua pakaian dan perlengkapan milik Junior dan milikku. Setelah semuanya selesai di packing aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur.

Mataku tak bisa terpejam, meskipun aku sangat sangat lelah sekali dengan semua ini. Mataku menerawang memandangi ke sekeliling kamar. Terlalu banyak kenangan indah di kamar ini bersama Kyle. Dan aku hanya bisa menangis hingga pagi menjelang.

Keesokan harinya setelah sarapan Kyle mengantarkanku kembali ke apartemen. Sepanjang perjalanan menuju kesana hanya keheningan yang menemani kami.

Setengah jam kemudian kami sampai di sana. Ternyata Asya tidak berada di apartrmen, karena saat ini Asya sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Mark.

Kyle membantuku membereskan barang-barang milikku dan Junior. Bahkan Kyle membawa box tempat tidur Junior dan menyimpannya di kamarku.

“Apa ada lagi yang kau butuhkan?“

“Tidak ada Kyle, terima kasih sudah membantuku.“

“Aku akan sangat merindukanmu.“

“Kyle, tolong jangan seperti ini.“

“Maafkan aku Lila, hanya saja aku merasa belum siap untuk semua ini.“

“Kau akan terbiasa tanpaku, Kyle. Kau akan baik-baik saja.

Kyle menatapku, terlihat jelas kesedihan yang teramat dalam di matanya, “Aku pergi, jaga diri baik-baik. Bolehkah aku melihat putraku?“

“Tentu saja, dia anakmu Kyle.“

Kyle masuk ke dalam kamar dan aku mengikutinya. Kyle berlutut di samping tempat tidurku. Karena Juniot sedang tidak aku tempatkan di boxnya.

“Daddy pergi dulu ya, sayang. Kau jangan nakal, maaf Daddy tidak bisa bersamamu. Tapi meskipun begitu Daddy sangat sangat sangat mencintai dan menyayangimu sayang.“

Hatiku kembali terasa sakit melihat Kyle berbicara kepada Junior seperti itu. Ya Tuhan...

Akhirnya Kyle pun pergi dari apartemen. Aku tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihanku. Aku harus kembali bangkit demi putraku. Maka dari itu aku memutuskan untuk memasak di dapur setelah Junior tidur.

Memasak membuatku merasa jauh lebih baik. Semoga nanti siang Asya akan pulang kemari jadi aku tidak akan merasa kesepian. Karena aku sangat membutuhkan seseorang untuk berbicara.

Ketika aku sedang menyelesaikan pekerjaanku di dapur. Aku mendengar suara seseorang yang membuka pintu. Aku buru-buru pergi ke ruang depan untuk melihatnya.

“Asya...“

“Lila. Apa yang sedang kau lakukan di sini?“ Asya yang bingung dan terkejut langsung membanjiriku dengan berbagai pertanyaan.

“Pelankan suaramu Sya, kau akan membuat Junior terbangun.“

“Junior ada di sini?“

“Aku akan menceritakan semuanya kepadamu sambil makan siang.“

“Baiklah kalau begitu.“

Selama makan siang, aku menceritakan tentang proses perceraianku dengan Kyle kepada Asya. Asya sangat syok sekali mendengar semuanya, tapi dia tetap mendukung keputusan yang aku ambil.

“Kalau itu yang terbaik, aku akan selalu mendukungmu, La.“

“Terima kasih Sya, bagaimana persiapan pernikahanmu dengan Mark? Kapan pernikahannya? Semoga badanku bisa agak kecil.“

Asya tertawa mendengar ucapanku, “Jangan diet La, kasian Junior. Kau akan tetap jadi pendampingku, kan?“

“Tentu saja Asya, kau ini sahabatku. Mana mungkin aku tidak menjadi pendampingmu nanti.“

“Lalu siapa yang akan menggendong Junior?‘

“Ada Kak Eric, Gale dan Zach. Aku yakin mereka pasti mau.“

“Syukurlah, aku senang mendengarnya.“

“Aku tidak sabar melihatmu jadi seorang pengantin, Sya.“

“Aku sangat gugup sekali kau tahu. Meskipun pernikahanku masih satu bulan lagi. Aku agak stress memikirkan semuanya.“

“Itu hal yang wajar, Sya. Semua wanita yang akan menikah pasti akan mengalaminya.“

Aku berjanji dalam hati. Bahwa aku tidak akan menangis atau bersedih lagi. Aku akan memulai lembaran hidupku yang baru dengan senyuman.

~~~~~~~~~~~

Siang itu aku memutuskan untuk pulang ke apartemen saja. Aku heran ketika memutar kunci pintu apartemen tidak terkunci.

Perlahan-lahan aku membuka pintu dan masuk ke dalam. Ternyata ad Lila di apartemen. Dan itu membuatku semakin terkejut. Apa yang sedang Lila lakukan di sini dengan menggunakan apron?

“Asya.“ Lila menyapaku sambil tersenyum.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?“

“Pelankan suaramu Sya, kau akan membangunkan Junior.“

“Junior juga ada di sini?“

“Aku akan menceritakan semuanya sambil makan siang.“

“Baiklah kalau begitu.“

Aku sangat terkejut mengetahui bahwa Lila dan Kyle sedang memproses perceraian mereka di pengadilan.

Lila lebih memilih kembali ke apartemen dari pada harus tinggal di rumah itu. Sebenarnya aku sangat sedih sekali mendengarnya.

Namun apa boleh buat, jika perpisahan adalah jalan yang terbaik. Aku akan selalu mendukung Lila asalkan Lila bisa tersenyum dan ceria lagi seperti dulu.

Sejak Lila kembali ke apartemen aku jadi sering pulang ke sana. Untung saja Mark mau mengerti dengan penjelasanku, toh setelah menikah nanti aku akan tinggal bersamanya.

Proses perceraian Lila dan Kyle akhirnya selesai. Saat ini Lila sudah resmi berpisah dari Kyle. Meskipun Lila terlihat sering tersenyum namun aku tahu bahwa Lila masih hancur dan masih berusaha untuk menyatukan kembali kepingan hatinya yang hancur berkeping-keping.

Sedangkan aku semakin sibuk dengan persiapan pernikahanku yang tinggal tiga minggu lagi. Aku semakin gugup dan tertekan dengan semuanya.

Bahkan tak jarang aku terlibat pertengkaran kecil dengan Mark. Mengapa pernikahan membuatku seperti ini??

CHAPTER 40

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
   ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
     ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
       ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
          ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
            ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
               ~~~~~~~~~~~~~~~~
                  ~~~~~~~~~~~~~~
                     ~~~~~~~~~~~~
                        ~~~~~~~~~~
                           ~~~~~~~~
                              ~~~~~~
                                 ~~~~
                                    ~~
                                      ~

Tidak terasa kehamilanku sudah menginjak bulan ke sembilan. Tinggal beberapa hari lagi aku akan melahirkan bayiku.

Dan itu membuatku sangat gugup sekali. Apalagi Kyle yang sudah sukses dengan album pertamanya jarang sekali berada di rumah karena sibuk dengan tur dan konser.

Sejak Kyle mengajakku untuk menghadiri sebuah acara penghargaan musik yang besar, kehidupanku jadi tidak setenang dulu. Karena sekarang banyak sekali wartawan yang mengikutiku ketika aku sedang berada di luar rumah.

Bahkan para wartawan itu sampai nekat untuk mendatangi perusahaan dan tempat tinggal kedua sahabatku. Aku jadi merasa tidak enak kepada mereka berdua.
Hubunganku dengan Kyle saat ini sedang tidak baik. Kami sering sekali terlibat cek cok. Dan itu terjadi hampir setiap hari, di telepon pun kami masih tetap saja bertengkar.

Bahkan ketika Kyle berada di rumah ketika sibuk pun Kyle lebih memilih menghabiskan waktunya di studio yang berada di basement.

Aku hanya bisa mengelus dada. Kyle sepertinya tidak ingin memperbaiki hubungan kami. Yang semakin hari semakin renggang dan menjauh.

Dan ketika aku sedang terpuruk seperti ini. Zach tiba-tiba hadir dan menguatkanku. Zach selalu menghiburku, membuatku menjadi lebih tenang dalam menghadapi kemelut dalam rumah tangga aku dan Kyle.

Terkadang aku selalu berpikir, mengapa aku lebih memilih Kyle daripada Zach? Zach ternyata memang lebih baik dari suamiku. Penyesalan, mungkin itulah yang sedang aku rasakan saat ini.

Hari itu aku dan Zach bertemu kantor Zach untuk membicarakan kerjasama antara perusahaan kami. Ya, meskipun perutku sudah sangat besar aku tetap pergi bekerja.

Karena itulah satu-satunya cara agar aku bisa melupakan masalahku dengan Kyle sejenak. Dan disinilah aku sekarang berada. Di ruang kerja mantan kekasihku,membicarakan pekerjaan.

“Ayolah Lila, kita pergi makan siang. Ini sudah lewat jam makan siang.“

“Tidak Zach, aku sedang tidak berselera untuk makan.“

“Aku memaksa.“

“Kau tak pernah berubah Zach.“

“Takkan akan pernah berubah, Lila. Biar aku memesan makanan, kita makan siang di ruanganku saja, bagaimana?“

“Terserah kau saja, Zach.“

Zach tersenyum mendengar ucapanku sambil berjalan menuju mejanya. Tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa di perutku. Jangan-jangan aku akan melahirkan.

“Lila, kau kenapa?“ Zach terlihat sangat panik sekali.

“Perutku sakit sekali. Bawa aku ke Rumah Sakit sekarang Zach, kumohon.“

“Apakah kau akan melahirkan?“

“Ya Tuhan Zac, cepat bawa aku ke Rumah Sakit sekarang.“

Zach terlihat sangat panik sekali. Dia langsung menelepon supirnya agar menunggu di pintu keluar yang berada di parkiran.

Zach memapahku sampai ke mobilnya bersama asistennya. Setelah itu Zach langsung membawaku ke Rumah Sakit secepatnya.

Sesampainya di sana para suster langsung membawaku ke Ruang Bersalin.

“Zach, jangan tinggalkan aku.“

“Aku akan menunggumu di sini, Lila.“

“Tidak Zach, aku ingin menemaniku di dalam. Aku takut Zach, kumohon.“

Emosi terlihat berkecamuk di wajah tampannya. Aku tahu permintaan yang aku ajukan kali ini benar-benar tidak masuk akal. Karena seharusnya yang menemaniku disini adalah Kyle bukan Zach.

Tapi untuk saat ini hanya Zach yang aku butuhkan. Hanya dia yang bisa membuatku merasa kuat.

“Zach... Kumohon.“

“Aku akan menemanimu Lila, kumohon jangan menangis. Tapi aku harus memberitahu Dhee dan Asya terlebih dahulu.“

“Cepatlah...“

Zach mengangguk lembut dan para suster itu membawaku masuk ke dalam. Dan Zach masuk beberapa saat kemudian.

Setelah berjam-jam berjuang, akhirnya putraku terlahir ke dunia dengan selamat. Ya Tuhan, wajahnya mengingatkanku kepada Kyle.

Meskipun nanti aku harus berpisah dengan Kyle, aku akan tetap mencinti anakku ini. Karena dialah alasanku untuk terus bertahan dengan Kyle. Walaupun aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan.

“Selamat Lila, bayimu lahir dengan selamat.“

“Terima kasih untuk semuanya Zach.“

Zach lagi-lagi hanya tersenyum, “Aku akan keluar. Siapa tahu Dhee dan Asya sudah datang.“ Zach pergi keluar.

Dan akhirnya para suster itu memindahkanku ke ruang pemulihan. Tentu saja bersama bayiku dan Zach yang masih dengan setia menemaniku.

“Bagaimana keadaanmu?“

“Aku baik-baik saja, Zach. Hanya saja aku merasa sangat lelah sekali.“

“Kau hebat Lila, aku sangat sangat kagum kepadamu.“

“Bagiku yang terpenting adalah bayiku bisa lahir dengan selamat, Zach.“

Ketika sedang berbincang-bincang dengan Zach. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Lalu Zach bergegas untuk membukanya.

“Hai, akhirnya kalian datang juga. Ayo silakan masuk.“

“Sejak kapan kau berada di sini, Zach?“ Gale bertanya kepada Zach.

“Sejak Lila belum melahirkan Gale.“ jawabnya sambil tertawa renyah.

“Lila... Maaf kami baru bisa datang kemari.“

“Tidak apa-apa Dhee. Yang penting kalian sudah berada di sini sekarang.“

“Kyle mana, La?“

Aku langsung terdiam mendengar pertanyaan Mark, “Tidak ada Mark, Kyle sedang sibuk dengan turnya.“

“Lila, sebenarnya ada apa? Aku merasa seperti ada yang kau sembunyikan dari kami.“

“Aku tidak bisa menceritakannya saat ini, Sya.“

“Ceritakanlah jika kau sudah merasa siap.“

“Terima kasih, Dhee.“

Ketika Zach, Gale dan Mark pergi ke kantin. Barulah aku menceritakan semuanya kepada Dhee danAsya.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tanggaku dan Kyle selama ini. Dan aku hanya bisa menangis. Sepertinya seluruh pertahananku runtuh.

Jumat, 01 Februari 2013

Chapter 39

Chapter 39

Hari ini aku sudah ada dikampus sejak pukul 8, padahal aku baru ada kuliah jam 10 nanti. Tapi karena tugas yang diberikan Prof. Alex untukku, makanya aku harus datang lebih pagi. Saat datang aku langsung keruangan Prof. Alex,  kulihat disana sudah ada Christian dan Prof. Alex yang sedang mengobrol. 
"Selamat pagi Prof,. maaf aku datang terlambat. " 
"Tidak apa-apa Natasya, silakan duduk.." dia mempersilakanku duduk.

Lalu aku duduk disebelah Christian. Kemudian Prof Alex menjelaskan apa yang harus aku lakukan untuk membantu Christian selama ada di sini. Aku ditugaskan untuk menemaninya kebeberapa tempat untuk mengambil beberapa data dari sana. Setelah Prof Alex menjelaskan semuanya aku dan Christian diperbolehkan keluar dan memulai pekerjaan kami. Saat keluar dari ruangan Prof. Alex aku langsung pergi kekelasku  sedangkan Christian menungguku di perpustakaan kampus, dan kami akan bertemu lagi saat jam makan siang. 

Tak terasa, kuliahku sudah selesai. Begitu keluar dari kelas aku langsung menemui Christian diperpustakaan, kulihat dia tampak sedang konsentrasi membaca sebuah buku..
 "Selamat siang Christ, maaf aku baru datang kuliahku baru saja selesai." 
 "Tidak masalah Natasya, kau duduk saja dulu mungkin kau perlu istirahat sebelum kita mulai" 
 Lalu aku duduk berhadapan dengan Christian, sedangkan dia menutup bukunya dan meletakkannya lagi diatas meja dan melirik jam tangannya. 
 "Kau pasti belum makan siang kan?? Kita makan siang saja dulu setelah itu kita mulai pergi" 
Aku mengangguk "baiklah Christ.."
"Natasya kau bisa memanggilku Tian, itu terdengar lebih akrab. Keluargaku memanggilku dengan panggilan itu"
"Baiklah Tian,.." aku menyebut namanya pelan.
Dia tersenyum saat aku menyebut namanya pelan. "Kau lucu Natasya. Ayo kita pergi sekarang. Ternyata menunggu itu membuatku lapar juga ya" 

Lalu aku dan Christian beranjak dari sana dan menuju kekantin. Setelah sampai di kantin kami langsung memesan makanan, saat sedang menunggu pesanan kami Christian pergi ketoilet. Saat aku sedang menunggu Mark menelponku, dia memang biasa menelponku disaat jam makan siang seperti ini. Dia selalu mengingatkanku untuk makan teratur, walaupun dia sedang marah denganku sekalipun. Sekarang aku sedang berdebat dengan Mark ditelpon, dia sedang mempermasalahkan aku yang membawa mobil sendiri kekampus hari ini,. Terkadang aku membenci sikap Mark yang selalu berlebihan, dia tidak pernah mengizinkanku untuk menyetir mobil sendiri. Itulah sebabnya sejak aku berpacaran dengannya aku jarang bepergian sendiri.

Saat aku sedang berdebat dengan Mark, Christian kembali dari toiletnya aku langsung menyuruh Mark untuk mematikan telponnya. Aku tidak mungkin tetap berdebat dengan Mark didepan Christian. Kudengar Mark menggerutu kesal saat aku memintanya untuk mematikan telponnya. Setelah kumatikan, aku memasukkan kembali ponselku kedalam tas. 
 "Maaf menunggu lama.." katanya sambil tersenyum   
 "Tidak apa-apa Tian,. " aku tersenyum sambil mengambil minumanku yang baru saja dibawakan oleh seorang pelayan kantin. 
  "Kulihat kau tadi sedang serius menelpon. Maaf, apa sedang ada masalah??" dia mengerutkan dahinya saat bertanya padaku.
Rupanya Christian memperhatikanku saat aku dan Mark sedang berdebat ditelpon tadi. "Ohh, masalah biasa, hanya terjadi sedikit kesalahpahaman. Sebaiknya kita makan saja ya, aku mulai merasa lapar.." aku mengalihkan pembicaraan sebelum dia bertanya tentang perdebatanku ditelpon dengan Mark.

Lalu aku dan Christian langsung menyantap makanan yang sudah kami pesan. Saat sedang makan beberapa kali aku tak sengaja melihat Christian sedang memperhatikanku, saat tertangkap sedang melihatku dia langsung mengalihkan pandangannya

 ***

Beberapa minggu  Christian disini membuatku ikut sibuk, bagaimana tidak aktivitasku bertambah selain kuliah aku juga harus menemani Christian mencari data yang harus dia kumpulkan. Bahkan yang biasanya aku mempunyai 3 hari waktu libur karena tidak ada jadwal kuliah tidak berlaku saat ini, waktu liburku hanyalah hari minggu saja. Aku benar-benar sibuk, tapi hal itu tidak menjadi beban untukku. Karena Christian adalah orang yang sangat baik, ramah dan dia juga mengetahui banyak hal yang tidak aku ketahui. Harus kuakui aku juga banyak belajar darinya. Tak jarang aku dan dia terlibat diskusi dalm memecahkan suatu permasalahan. Aku sangat beruntung mendapatkan teman seperti dia.

Namun kesibukanku dikampus akhir-akhir ini sepertinya tidak disukai Mark, beberapa kali dia protes kepadaku saat aku menolak untuk pergi bersamanya. Aku juga tidak mengerti kenapa? padahal aku sudah menjelaskan semuanya termasuk tentang Christian. Aku menceritakan semuanya karena aku tidak ingin Mark berprasangka buruk terhadapku. Namun hal itu sepertinya tidak berpengaruh bagi Mark, terkadang aku dan Mark terlibat perdebatan karena hal yang sangat kecil. Aku juga tidak mengerti apa yang saat terjadi dengan hubungan ku dan Mark.

Hari ini aku dan Christian akan segera menyelesaikan tugas kami. Semua data yang dicari oleh Christian telah didapatnya, beberapa hari lagi dia akan meninggalkan New York. Sore ini selesai kami mendatangi salah satu kantor departemen pendidikan di kampusku Christian mengajakku untuk makan disalah satu resto yang tidak jauh dari kampusku, menurutnya ini adalah salah satu bentuk ucapan terima kasih darinya karena kau telah membantunya selama disini. Karena dia berkata seperti itu akhirnya aku memenuhi permintaannya. Lagi pula tidak mungkin aku menolaknya terus-terusan.

Akhirnya kami pergi dengan mengendarai motor sportnya, tak lama kemudian kami sampai disebuah resto yang cukup mewah dan Christian langsung mengajakku kesebuah meja yang tempat berada dipojokkan ruangan. Setelah kami memesan makanan, seorang pelayan datang sambil membawakan seborol wine dan menuangkannya kedalam dua gelas. Setelah pelayan itu pergi Christian mengajakku pergi, dia menceritakan banyak hal tentang keluarganya, obrolan kami terhenti saat seorang pelayan membawakan pesanan kami. Setelah pelayan itu pergi, kami pun mulai makan..

"Natasya, maaf ya kalo selama ini aku sudah menyita banyak waktumu. Aku sangat berterima kasih sekali karena kau sudah membantuku"
aku mengangguk sambil tersenyum, "aku senang jika yang kulakukan itu bisa membantu orang lain. Kau juga sudah mengajari banyak hal Tian, "
"sampaikan maafku juga pada kekasihmu, mungkin hampir sebulan ini aku telah mencurimu" katanya sambil tertawa.
"Dia cukup mengerti dengan keadaanku Tian.."
Makan Christian terhenti, lalu dia mengenggam tanganku. Gerakannya yang tiba-tiba itu membuatku kaget.
 "Natasya...."
Lalu akupun menatapnya, tangannya masih mengenggam tanganku.
"Aku hanya ingin kau tahu, aku mencintaimu.. Aku menyukai dari awal kita bertemu.." katanya sambil tersenyum.
"Christian..." aku tak tahu apa maksud dari ucapannnya, apa dia nembakku atau ada maksud lain dibalik itu.
"Aku tidak butuh jawaban apa-apa darimu Natasya, aku hanya ingin kau tahu tentang perasaanku. lagipula aku sudah tahu jawabannya. Kau takkan pernah menerimaku" tangannya yang tadi mengenggam tanganku kini membelai wajahku.
Lalu aku menyentuh tangannya yang menyentuh wajahku, aku melepaskan tangannya dari wajahku,
"Terima kasih kau telah mengerti perasaanku Tian, kau benar aku tak bisa menerimamu, aku sangat mencintai Mark. Tapi kita masih bisa berteman kan..??"
Christian mengangguk, "Iya, kita masih bisa berteman.. Aku menjadi orang yang beruntung mempunyai teman sepertimu.." Lalu dia setengan berdiri dari tempat duduknya, dia mendekatkan wajahnya kewajahku. Aku bisa merasakan tempo nafasnya yang tidak beraturan, lalu dia mencium keningku dan mengecup sekilas bibirku.
"aku harap kau tidak memberitahukan ini pada kekasihmu.."

Aku masih terpaku dengan apa yang Christian lakukan padaku, dia mencium keningku dan kemudian mengecup bibirku. Ya Tuhan, kenapa semuanya jadi begini. Aku menggerutu didalam hatiku, saat kami sama-sama terdiam, aku dikagetkan dengan suara ponselku yang berbunyi. Aku langsung mengambilnya dan kulihat nama Mark yang tertera disana. Aku langsung menerimanya..

"iya hallo, aku ada di resto didekat kampus. aku bersama temanku Mark. Baiklah aku akan menunggumu disini. Love you yoo.."

Aku menutup telpon dari Mark, kulihat Christian masih memandangiku. Hingga akhirnya dia membuka suara lagi..
"Dia akan kesini??" tanyanya.
aku mengangguk "Iya, sekitar 15 menit lagi dia akan sampai.." kataku sambil minum air mineral yang tersedia dimeja kami.
"Kau habiskan makanmu ya.." katanya

Akupun mengangguk, dan segera menghabiskan makananku. Benar saja tak lama kemudian Mark menelponku lagi, katanya dia sudah dihalaman parkir resto ini. Lalu aku dan Christian keluar setelah Christian membayar tagihannya. Aku ingin mengenalkan Christian dengan Mark. mereka belum pernah berkenalan sebelumnya. Setelah sampai diparkiran, kulihat mobil Audi R8 hitam milik Mark sudah ada. Saat kudekati Mark langsung membuka kacanya, lalu aku menghampirinya, mengajak Mark berkenalan dengan Christian. Mark menuruti semua ucapanku, dia keluar dari mobil dan kemudian berkenalan dengan Christian, namun tidak lama mereka berdua mengobrol Mark sudah mengajakku pulang karena hari sudah mulai gelap.
     
Dimobil aku dan Mark hanya saling diam, aku menyandarkan kepalaku sambil memandang lurus kedepan melihat jalanan yang sangat padat diakhir pekan seperti ini. Aku bingung apa yang harus kukatakan dengan Mark, apalagi setelah Christian mengungkapkan perasaannya kepadaku dan setelah dia menciumku. Aku merasa sangat bersalah padanya, ternyata apa yang dicemaskan Mark benar-benar terjadi. Kecemburuan yang ditunjukkan Mark memang beralasan.

***
Ntah berapa lama aku tertidur, aku baru terbangun saat aku merasakan seseorang mengangkat tubuhku. Saat kubukakan mataku, aku melihat Mark yang sedang mengendongku.
"Maaf, aku ketiduran..."
"aku tidak berani membangunkanmu, sepertinya kau lelah sekali sayang.." lalu dia mencium bibirku. "turunkan aku Mark,..."
"tidak, sebelum kita sampai didalam sayang.."

Lalu Mark, membuka pintu kemudian menutupnya lagi. Mark membawaku kekamar, dan menurunkanku dan membaringkanku diranjangnya.
"lanjutkan tidurmu sayang, sepertinya kau kelelahan" katanya sambil mencium keningku.

Saat Mark akan meninggalkanku, aku menarik tangannya. Dia pun langsung menoleh lagi kearahku.
  "Maafkan aku ya,."
  "untuk apa?? kau tidak melakukan kesalahan sayang.." dia kembali duduk disampingku.
 "untuk semua sikapku akhir-akhir ini,. Maafkan aku, Mark, aku sangat mencintaimu.." aku membelai wajahnya.
Dia mengangguk sambil mengenggam tanganku yang tadi membelai wajahku.
"aku juga sangat mencintaimu sayang. Kaulah segalanya untukku, kebahagiaanku adalah dirimu. Aku juga meminta maaf padamu, sikap cemburuku sangat berlebihan saat kau bersama orang lain. Tapi semua itu kulakukan karena aku sangat takut kehilanganmu, kau tau aku sangat ingin memilikimu selamanya, aku ingin kau selalu ada bersamaku"
"aku selalu ada bersamamu sayang.."
"ya aku tau,. Maksudku aku berharap kita menikah Sya. Aku takut kehilanganmu"
"kau melamarku??"
"hmm, itu hanya semacam ungkapan isi hatiku Sya. Akan ada moment special untuk itu"
Fikiranku langsung melayang jauh, apa dia tahu kalu aku belum siap untuk itu. Aku belum siap untuk menikah sekarang. Kuliahku pun belum selesai.
"Syukurlah, aku belum siap untuk itu Mark. Aku belum berfikir untuk menikah dalam waktu dekat."
Sesaat kemudian Mark terdiam,
"Baiklah, aku akan menunggu saatnya tiba. Aku akan menunggu sampai kau siap, karena aku sangat mencintaimu"

Mataku memanas saat mendengar ucapan dari Mark. Ya Tuhan,  Mark sangat ingin menikahiku tapi entah kenapa hatiku masih ragu, aku belum siap. Air mataku mulai menggenangi mataku..
"Jangan menangis Sya, aku mohon jangan menangis," dia menghapus air mataku yang mulai jatuh.
Aku langsung memeluknya erat "aku mencintaimu.." itulah kata-kata yang dapat kukatakan padanya, dia mengangguk sambil mencium keningku dan bibirku kemudian melepaskannya.
"sebaiknya kau mandi dulu, kau terlihat sangat kacau sayang.." katanya sambil tersenyum menggodaku.
"aku juga ingin pergi mandi, terlalu banyak kegiatanku hari ini" kataku sambil beranjak meninggalkan Mark.

15 menit aku mandi membersihkan tubuh, saat aku keluar dari kamar mandi aku tidak melihat Mark dikamar, tapi pintu kaca yang menghadap ke pantai terbuka, sehingga angin dari laut masuk kedalam kamar. Aku merinding kedinginan saat hembusan angin itu mengenai tubuhku yang hanya dibalut dengan jubah mandi milik Mark. Aku melipat kedua tanganku kedepan saat angin itu berhembus lagi.

 "Sudah selesai yaa" aku terkejut saat tiba-tiba Mark memelukku dari belakang
Aku mengangguk sambil membelai wajahnya.
 "Aku punya sesuatu untukmu.." katanya sambil menunjukkan sebuah kotak kecil kepadaku.
 "ini apa??" tanyaku sambil menoleh kesamping, saat itu wajahku dan wajahnya sangat berdekatan.
 "kau buka saja, ini untukmu. Dan aku harap kau menyukainya.." katanya sambil meletakkan kotak kecil itu ketangan kananku.
Lalu aku membukanya, sebuah kalung dengan liontin yang sangat indah. Aku mengambilnya dan memegangnya.
"kau menyukainya??' tanyanya lagi.
Aku mengangguk pelan, "ini sangat indah Mark. Iya aku menyukainya. Terima Kasih"
Lalu dia mengambilnya dari tanganku dan memakainya dileherku. " ini tidak seindah orang yang memakainya" Dia menciumi pipi hingga leherku.

Angin pantai kembali berhembus masuk kekamar, udara yang dingin membuatku sedikit bergidik.
 "Kau kedinginan sayang.." .
  "Udaranya cukup dingin.."
Tangannya membungkus tubuhku lagi, "Boleh aku menghangatkanmu.." katanya sambil menggigit daun telingaku. Kemudian tangannya meremas pinggangku. Lalu bergerak kebagian depan menangkup payudaraku.
"Apa maksudmu??" tanyaku lagi
"Boleh aku menghangatkan tubuhmu yang kedinginan ini sayang, " suaranya terdengar berat ditelingaku.
Aku tersenyum kecil, saat dia mengatakan itu padaku. Sepertinya Mark lupa kalau siklus bulananku sedang datang.
 "Kenapa kau tersenyum??"
 "Maaf sayang, siklus bulananku baru saja datang..." aku menoleh kearahnya.
Mark menghela nafas panjang, wajahnya terlihat frustasi, tangannya mengacak-acak rambutnya.
"Baiklah kalau begitu aku mandi dulu yaa. Aku rasa malam ini aku akan menyelesaikan pekerjaanku diruang kerja." katanya sambil mencium bibirku sekilas.
"Aku akan menyiapkan makan malam untuk kita sayang" jawabku sambil terkekeh..
 "Iya, aku tunggu, " katanya sambil meninggalkanku dan pergi kekamar mandi.