Chapter 5
“Jika bukan karena dukungan dari
kalian berduan dan kekeras kepalaan Kyle aku akan tetap menjadi sebuah pulau
yang terisolasi.”
“Jadi kita punya sesuatu untuk
kita rayakan malam ini. Mari bersulang.” Seru Gale sambil mengangkat gelasnya.
Lalu
kamipun mengangkat gelas masing-masing dan bersulang untuk kelanggengenan
hubungan kami semua. Benar-benar malam yang indah setelah dua tahun belakangan
ini aku selalu di hantui oleh Matt.
***
Semalam
benar-benar sangat menyenangkan sekali. Aku bahagia akhirnya Lila kembali
seperti Lila yang dulu kami kenal. Karena sekarang Lila sudah berhasil keluar
dari baying-bayang masa lalunya. Siang nanti Mark akan datang untuk
menjemputku.
Ia bilang
ada yang ingin dibacarakan denganku, selain itu ia juga ingin menunjukkan
sesuatu padaku. Aku jadi degdegan memikirkan ha apa yang akan Mark bicarakan
denganku, aku jadi seperti orang bodoh saja karena tersenyum-senyum sendiri.
Tak ayal Dhea dan Lila menjadikanku bulan-bulanan.
“Sepertinya
aka nada yang di tembak nih nanti siang.”
“Kau
benar, Dhee, soalnya dari tadi kerjaannya hanya tersenyum-senyum sendiri.”
“Dhee…
Lila… Berhenti mengolok-olokku, lagipula belum tentu Mark akan menyatakan
perasaan cinta padaku.”
“Hey,
mengapa kau jadi pesimis seperti ini, Sya. Bukankah kau yang selalu berkata
padaku untuk optimis. Dan lihatlah sekarang, akhirnya aku pacaran juga dengan
Kyle, bukan.”
“Iya,
Lila, aku tahu itu. Tapi…”
“Tidak ada kata tapi, kau harus optimis, Sya. Mark
menyukaimu apakah kau tidak melihat dan merasakannya?”
“Aku tahu,
Dhee. Karena aku juga menyukai Mark hanya saja aku merasa minder, aku merasa
tidak pantas untuk mendampingi Mark.”
“Dengar
Sya, ketika Gale menyatakan perasaannya padaku, aku juga sempat memiliki
perasaan yang sama sepertimu. Aku merasa bahwa aku tidak pantas untuk Gale dan
aku tidak akan bisa mengimbanginya. Tapi aku membuang jauh-jauh perasaan itu,
aku lebih percaya pada kata hatiku dan ketulusan yang Gale tunjukan padaku. Kau
bisa lihat kami sekarangkan, lihat juga Lila dan Kyle. Yang harus kau lakukan
adalah percaya pada hatimu dan lihatlah ketulusan Mark.”
“Yang
dikatakan Dhee benar, Sya. Ayo ayo jangan pesimis, mana Asya yang selalu ceria
dan optimis seperti biasanya.”
“Makasih
buat supportnya girls,” aku memeluk Dhea dan Lila erat dengan perasaan terharu.
“Sebaiknya
kau bersiap-siap, sebentar lagi Mark tiba, bukan.”
“Ayo,
kita akan membantumu untuk bersiap-siap.”
Dhea dan
Lila membawaku ke kamar, lalu mereka membantuku untuk berias diri. Benar-benar
saat yang menyenangkan sekali. Karena aku bisa menyaksikan Dhea dan Lila
berdebat tentang pakaian apa yang akan aku kenakan saat bertemu dengan Mark.
Dan akhrirnya pilihan kami bertiga jatuh pada sebuah gaun berwarna silver berpotongan hatler neck. Sebenernya
itu gaun milik Lila dan aku tidak percaya diri menggunakannya, karena pakaian
itu memamerkan punggungku. Tapi Dhea dan Lila memaksa.
Tepat
pukul satu Mark tiba dan Lila yang membukakan pintunya, sedangkan Dhea masih
menahanku di dalam kamar. Tapi aku bisa mendengar percakapan Lila dan Mark dari
dalam, setelah beberapa saat menunggu akhirnya Dhea mengizinkanku untuk keluar.
“Nah itu
Asya sudah siap.”
Ketika aku
menghampiri Mark dan Lila di ruang depan, Mark langsung berdiri. Ia sepertinya
terkejut melihatku, aku berasumsi itu karena pakaian yang aku pakai saat ini.
“Ya Tuhan,
kau sangat cantik sekali, Asya.”
Mendengar ucapan Mark wajahku langsung memanas. Tuhan, jangan buat wajahku memerah,
meskipun aku sangat yakin sekali pasti saat ini wajahku sudah sangat merah
sekali seperti buah tomat.
“Asya
cantik bukan, Mark?”
“Iya Dhee,
Asya sangat cantik sekali, bolehkah aku membawanya pergi sekarang?”
“Tentu
saja, kau harus menjaga Asya kami baik-baik. Awas saja jika ada lecet di
tubuhnya kau akan berurusan denganku.”
“Hati-hati
Mark, Lila ini pemegang sabuk hitam karate.”
“Kalian
berdua sudahlah aku akan baik-baik saja. Mark pasti akan menjagaku dengan
sangat baik sekali. Jangan terlalu mengkhawatirkanku.”
“Baiklah,
kau hati-hati, ya.”
Setelah
pamitan pada Dhea dan Lila kami berduapun pergi. Dalam perjalanan menuju ke
tempat parkir Mark terus saja menggenggam tanganku. Dengan begitu erat, lembut
dan sangat posesif, itulah yang aku rasakan ketika tangannya menggenggam
tanganku.
Ketika
sampai di parkiran Mark menngajakku menuju ke sebuah Ferrari berwarna merah lalu
membukakan pintu untukku. Lalu kami pun pergi meninggalkan pelataran parkir
apartemen, dan Mark masih belum memberitahu kemana tujuan kami akan pergi.
“Asya, kau
sungguh canti sekali dengan gaun ini.”
“Ini gaun
milik Lila, gaunnya memang indah. Kau tahu Dhea dan Lila yang memaksaku untuk
memakainya.”
“Gaun itu
memang sudah cantik di tambah yang memakainya juga cantik.”
“Berhenti
membuat wajahku memerah Mark.”
“Yang aku
katakan ini sungguh sungguh.”
“Kalau
begitu terima kasih banyak atas pujiannya Mr. Feehily.”
“Karena
aku memang memujamu Miss Asya.”
“Kau
membuat wajahku kembali memerah seperti buah tomat, Mark. Lalu kemakah kita
akan pergi?”
“Ke
tempatku, aku memiliki sebuah rumah permanen di sini. Aku ingin menunjukan
sesuatu untukmu.”
“Jadi kita
akan pergi ke rumahmu?”
“Iya, dan
sebentar lagi kita akan sampai di sana.”
Ya ampun,
Mark akan membawaku ke rumahnya dan aku sangat sangat gugup sekali. Pikiranku
menerawang jauh sekali, untuk menghilangkan pikiran yang tidak-tidak aku
mengalihkan pandanganku keluar jendelan mobil untuk menikmati pemandangan yang
kami lewati selama perjalanan.
Akhirnya
mobil yang di kemudikan oleh Mark melambat, ia membelokkan mobilnya masuk ke
sebuah rumah yang berukurang sangat besar. Rumah itu bergaya bangunan-bangunan
di Inggris dan di cat dengan warna putih bersih. Lalu Mark menghentikan mobilnya tepat di
depan pintu masuk ke dalam rumah yang sangat besar. Ia turun, lalu berputar dan
membukakan pintu untukku. Mark membantuku turun dari mobil dan menggenggamnya
sambil membawaku masuk ke dalam.
Ketika
masuk ke dalam aku hanya bisa berdecak kagum mengagumi keindahan dekorasi di
dalamnya. Benar-benar sangat indah dan mewah sekali apalagi di dominasi oleh
warna putih.
“Rumahmu
sangat indah sekali Mark.”
“Tunggu
sampai kau lihat yang satu ini, Asya. Ayo…”
Mark
mengajakku melewati sebuah ruangan yang luas lalu menuju ke sebuah pintu yang
langsung mengarah ke taman belakang. Lagi-lagi aku berdecak kagum melihat
tamannya yang sangat inidah itu. Berbagai macam bunga tumbuh dengan subur
dengan sebuah kolam renang yang sangat luas sekali. Lalu kami melanjutkan
perjalanan menuju kesebuah bangunan yang terletak tak jauh dari kolam renang
itu.
“Sebelum
kita masuk aku ingin kau menutup matamu.”
“Ah,
baiklah Mark.”
Aku pun
menutup mataku, lalu dengan hati-hati Mark membimbingku untuk masuk ke dalam.
Lalu aku mendengar Mark menutup pintu di belakang kami.
“Oke, kita
sudah sampai sekarang kau buka matamu secara perlahan.”
Aku
menuruti kata-katanya. Perlahan-lahan aku membuka mataku dan aku langsung berdecak kagum melihat pemandangan di depan
mataku. Di setiap dinding ruangan ini terpasang banyak sekali foto dan lukisan
diriku. Ya Tuhan, sejak kapan ia melakukan semua ini.
“Ya Tuhan,
ini benar-benar indah, Mark.”
“Aku
sangat bersyukur bahwa kau menyukai semua ini.”
“Sejak
kapan kau membuat semua ini, Mark?”
“Sejak
pertama kali aku bertemu dan berkenalan denganmu Asya. Sejak hari itu aku mulai
membuat semua ini, mari.”
Mark
meraih tanganku lalu membawaku menuju ke sebuah piano yang berada di ujung
ruangan itu lalu Mark duduk di depan piano itu, “Ayo, Asya kau duduk di
sebelahku.”
Dengan
malu-malu aku pun duduk di sampingnya. Ya
ampun jangan-jangan Mark akan mengajakku bermain piano, bagaimana ini? Aku kan
tidak bisa bermain alat musik.
“Aku akan
memainkan sebuah lagu untukmu Asya, dengarkan, ya.”
Lalu dengan
terampil jari-jari Mark mulai menari di setiap tuts piano itu.
Tell me… Can you feel my heart beat
Tell me as I kneel down at your feet
I knew there would come a time when there
two hearts
Wouldn’t rhyme just put your hand near mind
forever
For so long I’ve been an island
When no one could ever reach this shore’s
And we’ve got whole lifetime to share
And I’ll always be there darling these I swear
So please… Believe me
For these words I say are true
And don’t deny me, are lifetime loving you
And if you ask will I’ll be true
Do I give my ars to you
Then I will say I Do
I’m ready to begin this journey
Well I’m wth you every steps you take
Come on just take my hand
Come on let’s make a step for our love
I know this is so hard to believe
So please believe me
Ya Tuhan,
lagunya sangat indah sekali suara Mark juga begitu merdu dan meneduhkan hatiku.
Wajahku benar-benar memanas apalagi ketika bernyanyi matanya tak pernah lepas
memandangiku.
“Lagu yang
sangat indah Mark.”
“Hanya
untukmu, Asya.”