Rabu, 28 November 2012

Chapter 5


Chapter 5



                “Jika bukan karena dukungan dari kalian berduan dan kekeras kepalaan Kyle aku akan tetap menjadi sebuah pulau yang terisolasi.”
                “Jadi kita punya sesuatu untuk kita rayakan malam ini. Mari bersulang.” Seru Gale sambil mengangkat gelasnya.

                Lalu kamipun mengangkat gelas masing-masing dan bersulang untuk kelanggengenan hubungan kami semua. Benar-benar malam yang indah setelah dua tahun belakangan ini aku selalu di hantui oleh Matt.

***

                Semalam benar-benar sangat menyenangkan sekali. Aku bahagia akhirnya Lila kembali seperti Lila yang dulu kami kenal. Karena sekarang Lila sudah berhasil keluar dari baying-bayang masa lalunya. Siang nanti Mark akan datang untuk menjemputku.

                Ia bilang ada yang ingin dibacarakan denganku, selain itu ia juga ingin menunjukkan sesuatu padaku. Aku jadi degdegan memikirkan ha apa yang akan Mark bicarakan denganku, aku jadi seperti orang bodoh saja karena tersenyum-senyum sendiri. Tak ayal Dhea dan Lila menjadikanku bulan-bulanan.

                “Sepertinya aka nada yang di tembak nih nanti siang.”
                “Kau benar, Dhee, soalnya dari tadi kerjaannya hanya tersenyum-senyum sendiri.”
                “Dhee… Lila… Berhenti mengolok-olokku, lagipula belum tentu Mark akan menyatakan perasaan cinta padaku.”
                “Hey, mengapa kau jadi pesimis seperti ini, Sya. Bukankah kau yang selalu berkata padaku untuk optimis. Dan lihatlah sekarang, akhirnya aku pacaran juga dengan Kyle, bukan.”
                “Iya, Lila, aku tahu itu. Tapi…”
                “Tidak ada kata tapi, kau harus optimis, Sya. Mark menyukaimu apakah kau tidak melihat dan merasakannya?”
                “Aku tahu, Dhee. Karena aku juga menyukai Mark hanya saja aku merasa minder, aku merasa tidak pantas untuk mendampingi Mark.”    
                “Dengar Sya, ketika Gale menyatakan perasaannya padaku, aku juga sempat memiliki perasaan yang sama sepertimu. Aku merasa bahwa aku tidak pantas untuk Gale dan aku tidak akan bisa mengimbanginya. Tapi aku membuang jauh-jauh perasaan itu, aku lebih percaya pada kata hatiku dan ketulusan yang Gale tunjukan padaku. Kau bisa lihat kami sekarangkan, lihat juga Lila dan Kyle. Yang harus kau lakukan adalah percaya pada hatimu dan lihatlah ketulusan Mark.”
                “Yang dikatakan Dhee benar, Sya. Ayo ayo jangan pesimis, mana Asya yang selalu ceria dan optimis seperti biasanya.”
                “Makasih buat supportnya girls,” aku memeluk Dhea dan Lila erat dengan perasaan terharu.
                “Sebaiknya kau bersiap-siap, sebentar lagi Mark tiba, bukan.”
                “Ayo, kita akan membantumu untuk bersiap-siap.”                                                              

                Dhea dan Lila membawaku ke kamar, lalu mereka membantuku untuk berias diri. Benar-benar saat yang menyenangkan sekali. Karena aku bisa menyaksikan Dhea dan Lila berdebat tentang pakaian apa yang akan aku kenakan saat bertemu dengan Mark. Dan akhrirnya pilihan kami bertiga jatuh pada sebuah gaun berwarna  silver berpotongan hatler neck. Sebenernya itu gaun milik Lila dan aku tidak percaya diri menggunakannya, karena pakaian itu memamerkan punggungku. Tapi Dhea dan Lila memaksa.

                Tepat pukul satu Mark tiba dan Lila yang membukakan pintunya, sedangkan Dhea masih menahanku di dalam kamar. Tapi aku bisa mendengar percakapan Lila dan Mark dari dalam, setelah beberapa saat menunggu akhirnya Dhea mengizinkanku untuk keluar.

                “Nah itu Asya sudah siap.”
                Ketika aku menghampiri Mark dan Lila di ruang depan, Mark langsung berdiri. Ia sepertinya terkejut melihatku, aku berasumsi itu karena pakaian yang aku pakai saat ini.

                “Ya Tuhan, kau sangat cantik sekali, Asya.”
                Mendengar ucapan Mark wajahku langsung  memanas. Tuhan, jangan buat wajahku memerah, meskipun aku sangat yakin sekali pasti saat ini wajahku sudah sangat merah sekali seperti buah tomat.

                “Asya cantik bukan, Mark?”
                “Iya Dhee, Asya sangat cantik sekali, bolehkah aku membawanya pergi sekarang?”
                “Tentu saja, kau harus menjaga Asya kami baik-baik. Awas saja jika ada lecet di tubuhnya kau akan berurusan denganku.”
                “Hati-hati Mark, Lila ini pemegang sabuk hitam karate.”
                “Kalian berdua sudahlah aku akan baik-baik saja. Mark pasti akan menjagaku dengan sangat baik sekali. Jangan terlalu mengkhawatirkanku.”
                “Baiklah, kau hati-hati, ya.”

                Setelah pamitan pada Dhea dan Lila kami berduapun pergi. Dalam perjalanan menuju ke tempat parkir Mark terus saja menggenggam tanganku. Dengan begitu erat, lembut dan sangat posesif, itulah yang aku rasakan ketika tangannya menggenggam tanganku.

                Ketika sampai di parkiran Mark menngajakku menuju ke sebuah Ferrari berwarna merah lalu membukakan pintu untukku. Lalu kami pun pergi meninggalkan pelataran parkir apartemen, dan Mark masih belum memberitahu kemana tujuan kami akan pergi.

                “Asya, kau sungguh canti sekali dengan gaun ini.”
                “Ini gaun milik Lila, gaunnya memang indah. Kau tahu Dhea dan Lila yang memaksaku untuk memakainya.”
                “Gaun itu memang sudah cantik di tambah yang memakainya juga cantik.”
                “Berhenti membuat wajahku memerah Mark.”
                “Yang aku katakan ini sungguh sungguh.”
                “Kalau begitu terima kasih banyak atas pujiannya Mr. Feehily.”
                “Karena aku memang memujamu Miss Asya.”
                “Kau membuat wajahku kembali memerah seperti buah tomat, Mark. Lalu kemakah kita akan pergi?”
                “Ke tempatku, aku memiliki sebuah rumah permanen di sini. Aku ingin menunjukan sesuatu untukmu.”
                “Jadi kita akan pergi ke rumahmu?”
                “Iya, dan sebentar lagi kita akan sampai di sana.”

                Ya ampun, Mark akan membawaku ke rumahnya dan aku sangat sangat gugup sekali. Pikiranku menerawang jauh sekali, untuk menghilangkan pikiran yang tidak-tidak aku mengalihkan pandanganku keluar jendelan mobil untuk menikmati pemandangan yang kami lewati selama perjalanan.
               
                Akhirnya mobil yang di kemudikan oleh Mark melambat, ia membelokkan mobilnya masuk ke sebuah rumah yang berukurang sangat besar. Rumah itu bergaya bangunan-bangunan di Inggris dan di cat dengan warna putih bersih.  Lalu Mark menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk ke dalam rumah yang sangat besar. Ia turun, lalu berputar dan membukakan pintu untukku. Mark membantuku turun dari mobil dan menggenggamnya sambil membawaku masuk ke dalam.

                Ketika masuk ke dalam aku hanya bisa berdecak kagum mengagumi keindahan dekorasi di dalamnya. Benar-benar sangat indah dan mewah sekali apalagi di dominasi oleh warna putih.  

                “Rumahmu sangat indah sekali Mark.”
                “Tunggu sampai kau lihat yang satu ini, Asya. Ayo…”

                Mark mengajakku melewati sebuah ruangan yang luas lalu menuju ke sebuah pintu yang langsung mengarah ke taman belakang. Lagi-lagi aku berdecak kagum melihat tamannya yang sangat inidah itu. Berbagai macam bunga tumbuh dengan subur dengan sebuah kolam renang yang sangat luas sekali. Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju kesebuah bangunan yang terletak tak jauh dari kolam renang itu.

                “Sebelum kita masuk aku ingin kau menutup matamu.”
                “Ah, baiklah Mark.”

                Aku pun menutup mataku, lalu dengan hati-hati Mark membimbingku untuk masuk ke dalam. Lalu aku mendengar Mark menutup pintu di belakang kami.

                “Oke, kita sudah sampai sekarang kau buka matamu secara perlahan.”

                Aku menuruti kata-katanya. Perlahan-lahan aku membuka mataku dan aku langsung  berdecak kagum melihat pemandangan di depan mataku. Di setiap dinding ruangan ini terpasang banyak sekali foto dan lukisan diriku. Ya Tuhan, sejak kapan ia melakukan semua ini.

                “Ya Tuhan, ini benar-benar indah, Mark.”
                “Aku sangat bersyukur bahwa kau menyukai semua ini.”
                “Sejak kapan kau membuat semua ini, Mark?”
                “Sejak pertama kali aku bertemu dan berkenalan denganmu Asya. Sejak hari itu aku mulai membuat semua ini, mari.”

                Mark meraih tanganku lalu membawaku menuju ke sebuah piano yang berada di ujung ruangan itu lalu Mark duduk di depan piano itu, “Ayo, Asya kau duduk di sebelahku.”
               
                Dengan malu-malu aku pun duduk di sampingnya. Ya ampun jangan-jangan Mark akan mengajakku bermain piano, bagaimana ini? Aku kan tidak bisa bermain alat musik.

                “Aku akan memainkan sebuah lagu untukmu Asya, dengarkan, ya.”

                Lalu dengan terampil jari-jari Mark mulai menari di setiap tuts  piano itu.

               
Tell me… Can you feel my heart beat
Tell me as I kneel down at your feet
I knew there would come a time when there two hearts
Wouldn’t rhyme just put your hand near mind forever
For so long I’ve been an island
When no one could ever reach this shore’s
And we’ve got whole lifetime to share
And I’ll always be there darling these I swear
So please… Believe me
For these words I say are true
And don’t deny me, are lifetime loving you
And if you ask will I’ll be true
Do I give my ars to you
Then I will say I Do
I’m ready to begin this journey
Well I’m wth you every steps you take
Come on just take my hand
Come on let’s make a step for our love
I know this is so hard to believe
So please believe me

                Ya Tuhan, lagunya sangat indah sekali suara Mark juga begitu merdu dan meneduhkan hatiku. Wajahku benar-benar memanas apalagi ketika bernyanyi matanya tak pernah lepas memandangiku.

                “Lagu yang sangat indah Mark.”
                “Hanya untukmu, Asya.”

Selasa, 27 November 2012

Chapter 4


Chapter 4 


               
                “Terima kasih sudah mengerti, Dhee. Maafkan aku juga Asya.”
                “Sudahlah, tak perlu kau pikirkan. Kita berdua sangat mengerti sekali.”
                Aku menarik nafas dalam-dalam, “Aku bertemu pria itu tadi malam, kami bertabrakan dan sejak itu dia terus saja mengikuti. Aku tak menyangka kalau pria itu ternyata berkuliah di sini juga.”
                “Mungkin pria itu menyukaimu, lihatlah ia terus saja memandangimu.”
                “Tidak Dhee, aku mohon jangan bicarakan tentang hal itu. Bagiku semua pria itu sama saja.”
                “Aku tidak setuju denganmu, Lila. Semua pria itu tidak sama mereka berbeda, ayolah mau sampai kapan kau seperti ini terus.”
                “Asya benar, Lila. Sudah saatnya kau membuka pintu hatimu kembali mungkin saja pria itu memang benar-benar tulus mencintaimu.”
                “Entahlah, aku benar-benar tak tahu dengan perasaanku saat ini.”
                “Pokoknya kau harus membuka hatimu untuknya, lihatlah pria itu sangat tampan dan imut.”
                “Kita lihat saja nanti, oke.”
               
                Mendengar ucapanku Dhee dan Asya tersenyum senang. Ya, mungkin aku harus mulai membuka kembali pintu hatiku yang sudah lama tertutup. Mungkin kali ini lubang besar yang menganga di hatiku selama dua tahun terakhir ini bisa sembuh dan tertutup.

                Sejak hari itu Kyle terus saja berusaha untuk mendapatkan perhatian dariku. Meskipun aku sudah berjanji pada Asya dan Dhea untuk mulai kembali membuka pintu hatiku untuk Kyle, tetap saja semua itu terasa sangat sulit untukku. Selama dua tahun terakhir ini aku benar-benar menjauhi yang namanya pria. Aku membangun benteng yang sangat kuat untuk diriku.

                Malam Minggu tiba, aku, Dhea dan Asya berencana untuk pergi ke sebuah kafe untuk menghabiskan akhir pekan sebelum kami menghadapi ujian pada harinya Senin. Tentu saja Gale ikut bersama kami karena Gale tidak pernah bisa jauh dari Dhea. Ada perasaan iri dalam hatiku melihat kemesraan Dhea dan Gale, lalu Asya dengan Mark pria yang berkenalan dengannya waktu di took buku tempo hari. Meskipun masih dalam tahap pendekatan Asya dan Mark kerap kali pergi keluar untuk berkencan. Dan jika sudah begitu aku hanya menghabiskan waktuku untuk membaca buku di kamar. 

                “Asya, Mark tidak ikut bersama kita?”
                “DIa masih ada urusan tapi nanti akan menyusul kemari kok, Dhee.”
                “Mark siapa? Pacarmu, Sya?”
                “Belum jadi pacar kok, Gale. Kami masih pendekatan.”

                Asya menjawab pertanyaan Gale sambil tersipu malu, diam-diam aku juga ikut tersenyum. Kalau Mark jadi datang kemari hanya aku saja yang tidak mempunyai pasangan. Tapi biarlah, aku menikmani kesendirianku saat ini.

                “Hai, maaf aku terlambat Asya.”
                “Hai, Mark tidak apa-apa kok. Kami juga belum terlalu lama berada disini, oh iya perkenalkan ini Dhea, dan ini Gale pacarnya Dhea. Nah kalau yang itu Lila, kau masih ingatkan.”
                “Ah, iya Lila aku masih ingat, tapi mengapa kau datang sendiri?”
                “Jangan pedulikan aku, kalian nikmati saja kebersamaan kalian. Aku mau ke toilet dulu, ya.”
               
                Aku berdiri  dari tempat dudukku lalu bergegas menuju ke toilet. Lagi lagi ada yang bertanya perihal kesendirianku. Memangnya ada yang salah kalau saat ini aku sedang sendiri. Lagi lagi aku berjalan tanpa memperhatikan jalan yang ku lewati, karena aku bertabrakan lagi dengan seseorang.

“Kau tidak apa-apa?” ucap orang yang menabrakku, “Lila… sedang apa kau disini? Kau tidak terluka, kan?”
                “Kyle, sedang apa kau berada di sini?”
                “Setiap akhir pekan aku dan bandku selalu menyanyi disini. Senang sekali bisa bertemu denganmu disini. Ayo, sebentar lagi aku akan tampil dan kau harus melihatnya.”

                Kyle menarik tanganku dengan lembut, “Hei, kau mau membawaku kemana?”
                “Kau harus melihatku dari meja paling depan.”
                “Aku datang kemari bersama sahabatku.”
                “Aku mohon, Lila kau harus melihat penampilanku malam ini. Dan aku ingin kau duduk di meja paling depan.”

                Kyle membawaku menuju meja yang ia maksud. Saat melewati meja sahabatku mereka hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol mereka. Aku menanggapi reaksi mereka berempat dengan memelototi mereka semua.

                “Nah, sekarang kau duduk di sini. Jangan pergi kemana-mana, ya.”
               
                Aku hanya bisa mengikuti perkataannya, setelah memastikan aku benar-benar duduk dan tidak akan pergi kemana-mana barulah ia naik ke atas panggung kecil untuk begabung dengan teman-temannya. Kyle duduk lalu mengambil sebuah gitar.

                “Selamat malam semuanya, pada kesempatan kali ini saya akan menyanyikan sebuah lagu yang khusus saya tulis untuk seseorang yang sangat special dan membuat hari-hari saja menjadi lebih indah. Dan kebetulan sekali ia berada di sini. Lila, I never tired to show how much I love you because you’re my everything to me. You’re like sunshine in my life, this song I’ve made  just for you I hope you’ll like it, so here this I Only Know How To Be In Love.”

                Kyle mengakhiri kata-katanya lalu mulai memainkan gitarnya. Wajahnya berseri-seri dan matanya yang selalu meneduhkanku itu terlihat berbinar-binar. Aku bisa melihat dengan jelas sekali ketulusan dalam sorot matanya. Perlahan-lahan kekerasana hatiku sedikit mencair.

                Perkataan Dhea dan Asya benar, Kyle benar-benar berbeda ia tidak seperti Matt. Kyle benar-benar tulus dengan perasaannya padaku. bagaimana bisa aku tidak menyadarinya



E I’m the type that’s thought my heart to
Open up when I start feeling, the thing that love is meant to be
And if you decide to come and stay
No need to knock cause I’m unlocked, I want to let you get to me
Oh… will I ever  find a better way or it is how it goes?
Oh… why can’t I take it slow
 I only know how to be in love
I wanna treat you like the only one
I don’t know how to be friends with you cause i
Only know how to be in love
You said take me off this shadow
Box it makes me feel uneasy
The way you’re looking up at me
But in the way that your displayed
Secret sparks start to show
Oh… so beautiful composed
I always try…
Try everyday…
From falling i…
Can’t stand away…
Cause I only know how to be in love…

                Kyle mendapatkan tepuk tangan yang sangat meriah sekali setelah selesai bernyanyi. Dan aku hanya terpaku di tempatku duduk. Ya, aku masih terhipnotis oleh nyanyiannya. Nyanyian yang memang benar-benar tulus dari dalam hatinya dan lagu indah itu di tujukan kepadaku.
                Apalagi yang kau tunggu Lila, pria ini benar-benar tergila-gila padamu. Ia benar-benar tulus mencintaimu. Kapan lagi kau akan menemukan pria seperti itu, sudah jelas-jelas Kyle berbeda dengan Matt, jangan samakan Kyle dengan Matt. Dewi batinku membentak dan berusaha menghancurkan kekerasan hatiku ini dengan sebuah martil.

                Lamunanku buyar ketika Kyle duduk di depanku dan tiba-tiba menggennggam erat lembut tanganku. Dan aku langsung terkesiap ketika tangannya menyentuh kulitku, aku merasa seperti terkena aliran listrik berkekuatan jutaan volt.

                “Hai, maaf aku pasti sudah mengejutkanmu.”
                “Ah, tidak kok. Kau tidak mengejutkanku Kyle.”
                “Bagaimana? Kau menyukai lagunya? Aku menulis lagu ini sambil memikirkanmu, Lila.”
                “Liriknya sangat indah Kyle, terima kasih. Tapi untukku ini terlalu berlebihan, bahkan kau sampai menyebut namaku. Kau tahu semua orang saat ini sedang menatap kita.”
                “Jangan kau pedulikan pandangan dari orang-orang itu, Lila. Karena aku tidak menganggap mereka ada. Yang ada dalam pandanganku saat ini hanyalah kau seorang, Kyla Farhika Nugraha.”
                “Dari mana kau tahun nama lengkapku? Kau pasti sudah menguntitku, iya kan?”
                Mendengar ucapanku Kyle tersenyum. “Kau lupa ya, kalau kita berada di satu universitas yang sama. Meskipun kita mengambil jurusan yang berbeda, tak akan sulit untuk mencari informasi tentangmu, Lila.”
                Aku mengerucutkan bibirku, “Itu sama saja dengan menguntit, tahu!”
                “Maafkan aku kalau begitu, karena aku benar-benar tak tahu harus melakukan apalagi. Kau selalu menolakku dan mengacuhkanku.”
                “Karena… Aku mempunyai trauma dengan sebuah hubungan, Kyle. Aku takut untuk berkomitmen.”
                “Beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku memang benar-benar tulus mencintaimu, Lila. Biarkan aku jadi  penyembuh luka di hatimu itu, aku mohon. Kau mau menerimaku jadi kekasihmu, kan?”
                “Kyle… Aku…”

                Tiba-tiba Dhea dan Asya berseru, “Terima saja, Lila.”
                “Iya, benar terima saja. Kau juga sebenarnya menyukainya, kan.”

                Aku langsung memelototi kedua sahabat tercintaku itu, tapi mereka malah tertawa senang. Tak lama para pengunjung kafe itu ikut bersorak-sorak seperti Dhea dan Asya. Ya Tuhan bagaimana ini? Sedangkan dewi batinku sedang memelototiku sambil berkacak pinggang. Ayolah Lila, apalagi yang kau tunggu, kedua sahabatmu benar. Kau juga menyukainya, bukan.

                Aku menunduk sebentar lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan, “YA…” suaraku seperti berbisik.
                “YA? Kau menerimaku, Lila?” aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Kyle itu.

                Seketika itu juga Kyle langsung memelukku dengan begitu erat. Semua pengunjung kafe ikut senang dan memberikan selamat pada kami berdua. Dan para sahabatku tersayang tak kalah senangnya bahkan Dhea dan Asya sambil melompat naik turun.

                Dhea, Asya terima kasih. Karena jika bukan dukungan dari kalian aku akan tetap terpuruk pada masa laluku yang menyedihkan itu. Aku akan terus di hantui oleh bayangan Matt, terima kasih untuk semuanya I love you so much girls. Sedangkan dewi batinku menari-nari tarian salsa dengan begitu bersemangatnya.

                Lalu aku mengajak Kyle ketempat para sahabatku yang terlihat bahagia

                “Akhirnya, setelah sekian lama akhirnya ada juga pria yang bisa menaklukan Lila.”
                “Dhee….”
                “Yang Dhee ucapkan memang benar, Lila. Kau sudah cukup lama menghindari pria, sudah saatnya kau keluar dari daerah tutorialmu itu.”

Senin, 26 November 2012

Chapter 3


Chapter 3

                “Benarkah? “ suara Asya begitu antusias sekali, “Akhirnya kau punya pacar juga, Dhee.”
                “Hei, hei apa maksudmu itu? Kau sendiri juga belum punya pacarkan.”
                “Dhee, tadi waktu di toko buku Asya berkenalan dengan seorang pria. Dan sejak saat itu ia selalu membicarakannya.”
                “Benarkah itu, Asya? Sayang sekali aku tidak berada bersama kalian tadi.”
                “Diam Lila…” tegurnya dengan wajah yang merah padam.
             “Hahahahaha, wajahmu benar-benar memerah Asya. Seperti buah tomat sama seperti wajah Dhea saat ini.”
                “Lalu kapan kau akan bertemu seseorang yang bisa membuat wajahmu memerah seperti kami?”
                Mendengar ucapanku Lila langsung terdiam dengan wajah yang memucat, “Sudahlah jangan pikirkan aku. Aku lebih senang seperti ini. Ya sudah kalau begitu aku pergi beli makanan, ya.” Lila langsung berdiri memakai jaketnya dan pergi meninggalkan kami.

                “Lila masih tetap sama ternyata, padahal kejadiannya itu sudah dua tahun yang lalu.”
                “Kau benar, Dhee, Lila masih trauma sama pria dan komitmen.”
                “Matt benar-benar sudah menghancurkan kepercayaan di hati Lila. Aku bisa mengerti perasaannya, mereka sudah kenal dari kecil dan mereka berdua pacaran sejak kelas satu SMP. Tapi tiba-tiba saja Matt membuat pengakuan bahwa dirinya itu seorang gay.”
                “Pria tampan sekarang memang patut di curigai, kau harus memastikan bahwa Gale itu benar-benar straight, Dhee.”
                “Aku akan memastikannya begitu juga denganmu.”

***

                Aku berjalan menyusuri jalan menuju ke restoran makanan Cina langganan kami bertiga. Karena jaraknya hanya dua blok dari apartemen aku memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke sana. Aku menyelipkan kedua tanganku ke dalam saku jaketku, karena udara malam itu sudah mulai dingin.
                Pikiranku menerawang jauh ke waktu dua tahun yang lalu. Matt Bomer, lelaku tampan bermata abu-abu cinta pertamaku. Kami bertemu saat masih berumur 5 tahun karena kedua orang tuanya itu seorang konsulat dari Amerika yang sedang bertugas di Jakarta. Kami berdua sering sekali bermain tentu saja bersama Asya dan Dhea juga, tapi Matt lebih dekat denganku.

                Beranjak remaja kami memutuskan untuk pacaran, hubungan kami berjalan baik-baik saja sampai kami menginja bangku SMA. Namun saat kelulusan kejadian yang mengerikan dan menyakitkan itu terjadi. Sebelum aku memutuskan untuk melanjutkan studiku di New York, Matt membuat sebuah pengakuan yang sangat menyakitkan. Ia berkata bahwa selama berpacaran denganku ia juga berpacaran dengan seorang pria. Dan ia memutuskan untuk tinggal bersama kekasih prianya itu.

                Oh ya Tuhan, duniaku langsung terasa gelap dengan seketika. Hatiku hancur berkeping-keping, pria yang sudah menemaniku selama 6 tahun ini ternyata memiliki penyimpangan sexsual. Dengan perasaan yang terluka aku datang ke kota ini bersama kedua sahabatku. Aku berharap lubang besar di hatiku ini akan tertutup. Tapi sudah hampir dua tahun aku tinggal di sini rasa sakit itu masih tetap ada.

                Lamunanku terhenti ketika aku bertabrakan dengan seseorang.

                “Ah, maafkan aku. Aku tidak memperhatikan jalanku.”
                “Tidak, aku yang seharusnya minta maaf. Apakah kau terluka?” tanya pria yang aku tabrak itu.
                Aku menatap wajahnya, dia seorang pria yang sangat tampan. Senyumannya dihiasi oleh sepasang lesung pipit di kedua pipinya itu terlihat sangat menawan. Matanya sangat meneduhkanku, aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku. “Tidak, aku tidak apa-apa terima kasih. Permisi.” Aku beranjak pergi dari hadapan pria itu.
                “Hey, tunggu apakah kau yakin tidak apa-apa?” pria itu membayangi langkahku dari samping.
                “Aku tidak apa-apa terima kasih.”
                “Kau mau kemana malam-malam seperti ini?”
                “Aku hanya akan membeli makanan saja.”

                Ketika aku berbelok masuk ke dalam restoran pria tak di kenal itu pun mengikutiku masuk ke dalam.
                “Apakah kau akan membeli makanan juga?”
                “Tidak, aku hanya menunggumu saja. Kau tinggal di mana?”
                “Dua blok dari restoran ini.”
                “Kalau begitu aku akan mengantarkanmu pulang.”
                “Tidak, terima kasih. Aku bisa pulang sendiri.” Aku buru-buru keluar dari sana setelah mendapatkan makananku.

                Lagi-lagi pria itu mengikutiku. Ya Tuhan, mau apa dia mengikutiku terus menerus.

                “Hei, apa yang kau lakukan? Mengapa kau terus-terusan mengikutiku? Jangan-jangan kau seoranng penguntit.”
                “Tidak… Tidak, aku bukan seorang penguntit. Aku hanya ingin memastikan kau sampai dengan selamat di tempat tinggalmu.”
                “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi aku tidak perlu di khawatirkan aku bisa menjaga diriku dengan sangat baik. Permisi.”

                Aku berjalan cepat-cepat, tidak mempedulikan pria itu yang berteriak-teriak memanggilku. Aku merasa lega sekali ketika masuk ke dalam apartemen. Benar-benar pria aneh, buru-buru aku masuk ke dalam lift.

                “Akhirnya kau datang juga, Lila. Kami sudah sangat kelaparan sekali.”
                “Maafkan aku, Dhee. Tadi restoran langganan kita sangat ramai sekali.”
                “Aku akan mengambilkan jus jeruk untuk menemani kita makan.”

                Sementara aku dan Dhee mengeluarkan makanannya dari dalam kantong plastic, Asya pergi ke dapur untuk membawa jus jeruk. Lalu kami bertiga makan dengan lahapnya, karena sudah benar-benar kelaparan. Setelah itu kami melanjutkan kembali belajar kami yang tadi sempat tertunda.

                Tapi aku tidak bisa konsentrasi pada apa yang sedang aku baca saat ini. Wajah pria itu selalu terlintas dalam pikiranku. Sambil tersenyum menatapku, dan aku harus berkali-kali menggelengkan kepalaku untuk mengeluarkan bayangan wajahnya dari otakku.

                “Kau baik-baik saja, Lila?”
                “Aku baik-baik saja, Asya. Hanya saja kepalaku agak sedikit pusing.”
                “Sebaiknya kau pergi beristirahat saja.”
                “Ya sudah, kalau begitu aku istirahat duluan, ya. Selamat malam semuanya.”

                Aku pergi menuju ke kamarku lalu mengganti pakaianku dengan piyama. Mengapa aku jadi terus memikirkan pria itu? Ada apa denganku sebenarnya Tuhan. Wajahnya selalu menari-nari dalam pikiranku dan membuatku tidak bisa memejamkan mataku hingga fajar datang.

                “Asya, Dhee, apakah kalian sudah siap untuk pergi ke kampus sekarang?”
                “Kami sudah siap,” lalu Asya menyipitkan matanya memandangiku, “Kau baik-baik saja, Lila? Wajahmu terlihat pucat dan agak kusut.”
                “Aku hanya memiliki masalah dalam tidurku saja. Ayo kita berangkat sekarang.”

                Kami bertiga pergi ke kampus di antar oleh Gale, karena ketika kami keluar dari apartemen Gale bersama supirnya sudah menunggu kami bertiga.

                “Lila kau baik-baik saja? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu?”
                “Aku baik-baik saja, Gale. Mengapa hari ini kalian selalu bertanya apakah aku baik-baik saja?”
                “Karena di wajahmu terlihat jelas sekali bahwa kau tidak baik-baik saja.”
                “Ayolah, berhenti bertanya padaku seperti itu. Sungguh aku baik-baik saja.”
                “Oke…” Asya, Dhee dan Gale menjawab dengan serempak.

                Kegiatan di kampus tidak ada yang berbeda. Namun ketika di kantin aku kembali lagi bertemu dengan pria yang bertabrakan denganku semalam.

                “Hai, akhirnya kita bertemu lagi. Aku sangat senang sekali ternyata kau berkuliah di universitas yang sama denganku.”
                “Permisi, bisakah aku lewat.”
                “Aku ingin tahu namaku, perkenalkan…” ia mengulurkan tangannya padaku, “Namaku Kyle Partick, kau siapa?”
                “Permisi, aku mau lewat.”
                “Ayolah, aku ingin tahu namamu.”
               
                Tiba-tiba Asya  berteriak memanggil namaku, “Lila… Sebelah sini.”
                “Jadi namamu Lila?”
                “Kau sudah mendengarnya barusan jadi biarkan aku untuk lewat.”
                “Lila, nama yang sangat indah sangat sesuai dengan dengan orangnya.”
                Aku yang sudah berusaha untuk sabar menghadapinya akhrinya kesal juga,”Bisakah aku lewat? Kau mau apalagi? Kau sudah tahu namaku, sekarang apalagi?”

                Aku membentaknya lalu pergi menuju ke tempat Asya dan Dhea duduk sambil menyenggolnya. Ketika sampai aku langsung duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Dhea. Mereka berdua memandangiku tak berkedip sedikitpun.

                “Apa?” tanyaku dengan nada yang agak membentak.
                “Tidak ada apa-apa, kok.” Jawab Asya buru-buru.
                “Maaf aku sudah membentak kalian berdua. Aku benar-benar sedang kesal sekali pada pria aneh itu.”
                “Ceritakan pada kami jika kau sudah merasa tenang. Oke?”