Chapter 3
“Benarkah? “ suara Asya begitu
antusias sekali, “Akhirnya kau punya pacar juga, Dhee.”
“Hei, hei apa maksudmu itu? Kau
sendiri juga belum punya pacarkan.”
“Dhee, tadi waktu di toko buku
Asya berkenalan dengan seorang pria. Dan sejak saat itu ia selalu
membicarakannya.”
“Benarkah itu, Asya? Sayang
sekali aku tidak berada bersama kalian tadi.”
“Diam Lila…” tegurnya dengan
wajah yang merah padam.
“Hahahahaha, wajahmu benar-benar
memerah Asya. Seperti buah tomat sama seperti wajah Dhea saat ini.”
“Lalu kapan kau akan bertemu
seseorang yang bisa membuat wajahmu memerah seperti kami?”
Mendengar ucapanku Lila langsung
terdiam dengan wajah yang memucat, “Sudahlah jangan pikirkan aku. Aku lebih
senang seperti ini. Ya sudah kalau begitu aku pergi beli makanan, ya.” Lila
langsung berdiri memakai jaketnya dan pergi meninggalkan kami.
“Lila masih tetap sama ternyata,
padahal kejadiannya itu sudah dua tahun yang lalu.”
“Kau benar, Dhee, Lila masih
trauma sama pria dan komitmen.”
“Matt benar-benar sudah
menghancurkan kepercayaan di hati Lila. Aku bisa mengerti perasaannya, mereka
sudah kenal dari kecil dan mereka berdua pacaran sejak kelas satu SMP. Tapi
tiba-tiba saja Matt membuat pengakuan bahwa dirinya itu seorang gay.”
“Pria tampan sekarang memang
patut di curigai, kau harus memastikan bahwa Gale itu benar-benar straight, Dhee.”
“Aku akan memastikannya begitu
juga denganmu.”
***
Aku berjalan menyusuri jalan
menuju ke restoran makanan Cina langganan kami bertiga. Karena jaraknya hanya
dua blok dari apartemen aku memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke sana. Aku
menyelipkan kedua tanganku ke dalam saku jaketku, karena udara malam itu sudah
mulai dingin.
Pikiranku menerawang jauh ke
waktu dua tahun yang lalu. Matt Bomer, lelaku tampan bermata abu-abu cinta
pertamaku. Kami bertemu saat masih berumur 5 tahun karena kedua orang tuanya
itu seorang konsulat dari Amerika yang sedang bertugas di Jakarta. Kami berdua
sering sekali bermain tentu saja bersama Asya dan Dhea juga, tapi Matt lebih
dekat denganku.
Beranjak remaja kami memutuskan
untuk pacaran, hubungan kami berjalan baik-baik saja sampai kami menginja
bangku SMA. Namun saat kelulusan kejadian yang mengerikan dan menyakitkan itu
terjadi. Sebelum aku memutuskan untuk melanjutkan studiku di New York, Matt
membuat sebuah pengakuan yang sangat menyakitkan. Ia berkata bahwa selama
berpacaran denganku ia juga berpacaran dengan seorang pria. Dan ia memutuskan
untuk tinggal bersama kekasih prianya itu.
Oh ya Tuhan, duniaku langsung
terasa gelap dengan seketika. Hatiku hancur berkeping-keping, pria yang sudah
menemaniku selama 6 tahun ini ternyata memiliki penyimpangan sexsual. Dengan
perasaan yang terluka aku datang ke kota ini bersama kedua sahabatku. Aku
berharap lubang besar di hatiku ini akan tertutup. Tapi sudah hampir dua tahun
aku tinggal di sini rasa sakit itu masih tetap ada.
Lamunanku terhenti ketika aku
bertabrakan dengan seseorang.
“Ah, maafkan aku. Aku tidak
memperhatikan jalanku.”
“Tidak, aku yang seharusnya
minta maaf. Apakah kau terluka?” tanya pria yang aku tabrak itu.
Aku menatap wajahnya, dia
seorang pria yang sangat tampan. Senyumannya dihiasi oleh sepasang lesung pipit
di kedua pipinya itu terlihat sangat menawan. Matanya sangat meneduhkanku, aku
langsung menggeleng-gelengkan kepalaku. “Tidak, aku tidak apa-apa terima kasih.
Permisi.” Aku beranjak pergi dari hadapan pria itu.
“Hey, tunggu apakah kau yakin
tidak apa-apa?” pria itu membayangi langkahku dari samping.
“Aku tidak apa-apa terima
kasih.”
“Kau mau kemana malam-malam
seperti ini?”
“Aku hanya akan membeli makanan
saja.”
Ketika aku berbelok masuk ke
dalam restoran pria tak di kenal itu pun mengikutiku masuk ke dalam.
“Apakah kau akan membeli makanan
juga?”
“Tidak, aku hanya menunggumu
saja. Kau tinggal di mana?”
“Dua blok dari restoran ini.”
“Kalau begitu aku akan
mengantarkanmu pulang.”
“Tidak, terima kasih. Aku bisa
pulang sendiri.” Aku buru-buru keluar dari sana setelah mendapatkan makananku.
Lagi-lagi pria itu mengikutiku.
Ya Tuhan, mau apa dia mengikutiku terus menerus.
“Hei, apa yang kau lakukan?
Mengapa kau terus-terusan mengikutiku? Jangan-jangan kau seoranng penguntit.”
“Tidak… Tidak, aku bukan seorang
penguntit. Aku hanya ingin memastikan kau sampai dengan selamat di tempat
tinggalmu.”
“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku,
tapi aku tidak perlu di khawatirkan aku bisa menjaga diriku dengan sangat baik.
Permisi.”
Aku berjalan cepat-cepat, tidak
mempedulikan pria itu yang berteriak-teriak memanggilku. Aku merasa lega
sekali ketika masuk ke dalam apartemen. Benar-benar pria aneh, buru-buru aku
masuk ke dalam lift.
“Akhirnya kau datang juga, Lila.
Kami sudah sangat kelaparan sekali.”
“Maafkan aku, Dhee. Tadi
restoran langganan kita sangat ramai sekali.”
“Aku akan mengambilkan jus jeruk
untuk menemani kita makan.”
Sementara aku dan Dhee
mengeluarkan makanannya dari dalam kantong plastic, Asya pergi ke dapur untuk
membawa jus jeruk. Lalu kami bertiga makan dengan lahapnya, karena sudah
benar-benar kelaparan. Setelah itu kami melanjutkan kembali belajar kami yang
tadi sempat tertunda.
Tapi aku tidak bisa konsentrasi
pada apa yang sedang aku baca saat ini. Wajah pria itu selalu terlintas dalam
pikiranku. Sambil tersenyum menatapku, dan aku harus berkali-kali menggelengkan
kepalaku untuk mengeluarkan bayangan wajahnya dari otakku.
“Kau baik-baik saja, Lila?”
“Aku baik-baik saja, Asya. Hanya
saja kepalaku agak sedikit pusing.”
“Sebaiknya kau pergi
beristirahat saja.”
“Ya sudah, kalau begitu aku
istirahat duluan, ya. Selamat malam semuanya.”
Aku pergi menuju ke kamarku lalu
mengganti pakaianku dengan piyama. Mengapa aku jadi terus memikirkan pria itu?
Ada apa denganku sebenarnya Tuhan. Wajahnya selalu menari-nari dalam pikiranku
dan membuatku tidak bisa memejamkan mataku hingga fajar datang.
“Asya, Dhee, apakah kalian sudah
siap untuk pergi ke kampus sekarang?”
“Kami sudah siap,” lalu Asya
menyipitkan matanya memandangiku, “Kau baik-baik saja, Lila? Wajahmu terlihat
pucat dan agak kusut.”
“Aku hanya memiliki masalah
dalam tidurku saja. Ayo kita berangkat sekarang.”
Kami bertiga pergi ke kampus di
antar oleh Gale, karena ketika kami keluar dari apartemen Gale bersama supirnya
sudah menunggu kami bertiga.
“Lila kau baik-baik saja?
Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu?”
“Aku baik-baik saja, Gale. Mengapa
hari ini kalian selalu bertanya apakah aku baik-baik saja?”
“Karena di wajahmu terlihat
jelas sekali bahwa kau tidak baik-baik saja.”
“Ayolah, berhenti bertanya
padaku seperti itu. Sungguh aku baik-baik saja.”
“Oke…” Asya, Dhee dan Gale
menjawab dengan serempak.
Kegiatan di kampus tidak ada
yang berbeda. Namun ketika di kantin aku kembali lagi bertemu dengan pria yang
bertabrakan denganku semalam.
“Hai, akhirnya kita bertemu
lagi. Aku sangat senang sekali ternyata kau berkuliah di universitas yang
sama denganku.”
“Permisi, bisakah aku lewat.”
“Aku ingin tahu namaku,
perkenalkan…” ia mengulurkan tangannya padaku, “Namaku Kyle Partick, kau
siapa?”
“Permisi, aku mau lewat.”
“Ayolah, aku ingin tahu namamu.”
Tiba-tiba Asya berteriak memanggil namaku, “Lila… Sebelah
sini.”
“Jadi namamu Lila?”
“Kau sudah mendengarnya barusan
jadi biarkan aku untuk lewat.”
“Lila, nama yang sangat indah
sangat sesuai dengan dengan orangnya.”
Aku yang sudah berusaha untuk
sabar menghadapinya akhrinya kesal juga,”Bisakah aku lewat? Kau mau apalagi?
Kau sudah tahu namaku, sekarang apalagi?”
Aku membentaknya lalu pergi
menuju ke tempat Asya dan Dhea duduk sambil menyenggolnya. Ketika sampai aku
langsung duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Dhea. Mereka berdua
memandangiku tak berkedip sedikitpun.
“Apa?” tanyaku dengan nada yang
agak membentak.
“Tidak ada apa-apa, kok.” Jawab
Asya buru-buru.
“Maaf aku sudah membentak kalian
berdua. Aku benar-benar sedang kesal sekali pada pria aneh itu.”
“Ceritakan pada kami jika kau
sudah merasa tenang. Oke?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar