Senin, 26 November 2012

Chapter 3


Chapter 3

                “Benarkah? “ suara Asya begitu antusias sekali, “Akhirnya kau punya pacar juga, Dhee.”
                “Hei, hei apa maksudmu itu? Kau sendiri juga belum punya pacarkan.”
                “Dhee, tadi waktu di toko buku Asya berkenalan dengan seorang pria. Dan sejak saat itu ia selalu membicarakannya.”
                “Benarkah itu, Asya? Sayang sekali aku tidak berada bersama kalian tadi.”
                “Diam Lila…” tegurnya dengan wajah yang merah padam.
             “Hahahahaha, wajahmu benar-benar memerah Asya. Seperti buah tomat sama seperti wajah Dhea saat ini.”
                “Lalu kapan kau akan bertemu seseorang yang bisa membuat wajahmu memerah seperti kami?”
                Mendengar ucapanku Lila langsung terdiam dengan wajah yang memucat, “Sudahlah jangan pikirkan aku. Aku lebih senang seperti ini. Ya sudah kalau begitu aku pergi beli makanan, ya.” Lila langsung berdiri memakai jaketnya dan pergi meninggalkan kami.

                “Lila masih tetap sama ternyata, padahal kejadiannya itu sudah dua tahun yang lalu.”
                “Kau benar, Dhee, Lila masih trauma sama pria dan komitmen.”
                “Matt benar-benar sudah menghancurkan kepercayaan di hati Lila. Aku bisa mengerti perasaannya, mereka sudah kenal dari kecil dan mereka berdua pacaran sejak kelas satu SMP. Tapi tiba-tiba saja Matt membuat pengakuan bahwa dirinya itu seorang gay.”
                “Pria tampan sekarang memang patut di curigai, kau harus memastikan bahwa Gale itu benar-benar straight, Dhee.”
                “Aku akan memastikannya begitu juga denganmu.”

***

                Aku berjalan menyusuri jalan menuju ke restoran makanan Cina langganan kami bertiga. Karena jaraknya hanya dua blok dari apartemen aku memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke sana. Aku menyelipkan kedua tanganku ke dalam saku jaketku, karena udara malam itu sudah mulai dingin.
                Pikiranku menerawang jauh ke waktu dua tahun yang lalu. Matt Bomer, lelaku tampan bermata abu-abu cinta pertamaku. Kami bertemu saat masih berumur 5 tahun karena kedua orang tuanya itu seorang konsulat dari Amerika yang sedang bertugas di Jakarta. Kami berdua sering sekali bermain tentu saja bersama Asya dan Dhea juga, tapi Matt lebih dekat denganku.

                Beranjak remaja kami memutuskan untuk pacaran, hubungan kami berjalan baik-baik saja sampai kami menginja bangku SMA. Namun saat kelulusan kejadian yang mengerikan dan menyakitkan itu terjadi. Sebelum aku memutuskan untuk melanjutkan studiku di New York, Matt membuat sebuah pengakuan yang sangat menyakitkan. Ia berkata bahwa selama berpacaran denganku ia juga berpacaran dengan seorang pria. Dan ia memutuskan untuk tinggal bersama kekasih prianya itu.

                Oh ya Tuhan, duniaku langsung terasa gelap dengan seketika. Hatiku hancur berkeping-keping, pria yang sudah menemaniku selama 6 tahun ini ternyata memiliki penyimpangan sexsual. Dengan perasaan yang terluka aku datang ke kota ini bersama kedua sahabatku. Aku berharap lubang besar di hatiku ini akan tertutup. Tapi sudah hampir dua tahun aku tinggal di sini rasa sakit itu masih tetap ada.

                Lamunanku terhenti ketika aku bertabrakan dengan seseorang.

                “Ah, maafkan aku. Aku tidak memperhatikan jalanku.”
                “Tidak, aku yang seharusnya minta maaf. Apakah kau terluka?” tanya pria yang aku tabrak itu.
                Aku menatap wajahnya, dia seorang pria yang sangat tampan. Senyumannya dihiasi oleh sepasang lesung pipit di kedua pipinya itu terlihat sangat menawan. Matanya sangat meneduhkanku, aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku. “Tidak, aku tidak apa-apa terima kasih. Permisi.” Aku beranjak pergi dari hadapan pria itu.
                “Hey, tunggu apakah kau yakin tidak apa-apa?” pria itu membayangi langkahku dari samping.
                “Aku tidak apa-apa terima kasih.”
                “Kau mau kemana malam-malam seperti ini?”
                “Aku hanya akan membeli makanan saja.”

                Ketika aku berbelok masuk ke dalam restoran pria tak di kenal itu pun mengikutiku masuk ke dalam.
                “Apakah kau akan membeli makanan juga?”
                “Tidak, aku hanya menunggumu saja. Kau tinggal di mana?”
                “Dua blok dari restoran ini.”
                “Kalau begitu aku akan mengantarkanmu pulang.”
                “Tidak, terima kasih. Aku bisa pulang sendiri.” Aku buru-buru keluar dari sana setelah mendapatkan makananku.

                Lagi-lagi pria itu mengikutiku. Ya Tuhan, mau apa dia mengikutiku terus menerus.

                “Hei, apa yang kau lakukan? Mengapa kau terus-terusan mengikutiku? Jangan-jangan kau seoranng penguntit.”
                “Tidak… Tidak, aku bukan seorang penguntit. Aku hanya ingin memastikan kau sampai dengan selamat di tempat tinggalmu.”
                “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi aku tidak perlu di khawatirkan aku bisa menjaga diriku dengan sangat baik. Permisi.”

                Aku berjalan cepat-cepat, tidak mempedulikan pria itu yang berteriak-teriak memanggilku. Aku merasa lega sekali ketika masuk ke dalam apartemen. Benar-benar pria aneh, buru-buru aku masuk ke dalam lift.

                “Akhirnya kau datang juga, Lila. Kami sudah sangat kelaparan sekali.”
                “Maafkan aku, Dhee. Tadi restoran langganan kita sangat ramai sekali.”
                “Aku akan mengambilkan jus jeruk untuk menemani kita makan.”

                Sementara aku dan Dhee mengeluarkan makanannya dari dalam kantong plastic, Asya pergi ke dapur untuk membawa jus jeruk. Lalu kami bertiga makan dengan lahapnya, karena sudah benar-benar kelaparan. Setelah itu kami melanjutkan kembali belajar kami yang tadi sempat tertunda.

                Tapi aku tidak bisa konsentrasi pada apa yang sedang aku baca saat ini. Wajah pria itu selalu terlintas dalam pikiranku. Sambil tersenyum menatapku, dan aku harus berkali-kali menggelengkan kepalaku untuk mengeluarkan bayangan wajahnya dari otakku.

                “Kau baik-baik saja, Lila?”
                “Aku baik-baik saja, Asya. Hanya saja kepalaku agak sedikit pusing.”
                “Sebaiknya kau pergi beristirahat saja.”
                “Ya sudah, kalau begitu aku istirahat duluan, ya. Selamat malam semuanya.”

                Aku pergi menuju ke kamarku lalu mengganti pakaianku dengan piyama. Mengapa aku jadi terus memikirkan pria itu? Ada apa denganku sebenarnya Tuhan. Wajahnya selalu menari-nari dalam pikiranku dan membuatku tidak bisa memejamkan mataku hingga fajar datang.

                “Asya, Dhee, apakah kalian sudah siap untuk pergi ke kampus sekarang?”
                “Kami sudah siap,” lalu Asya menyipitkan matanya memandangiku, “Kau baik-baik saja, Lila? Wajahmu terlihat pucat dan agak kusut.”
                “Aku hanya memiliki masalah dalam tidurku saja. Ayo kita berangkat sekarang.”

                Kami bertiga pergi ke kampus di antar oleh Gale, karena ketika kami keluar dari apartemen Gale bersama supirnya sudah menunggu kami bertiga.

                “Lila kau baik-baik saja? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu?”
                “Aku baik-baik saja, Gale. Mengapa hari ini kalian selalu bertanya apakah aku baik-baik saja?”
                “Karena di wajahmu terlihat jelas sekali bahwa kau tidak baik-baik saja.”
                “Ayolah, berhenti bertanya padaku seperti itu. Sungguh aku baik-baik saja.”
                “Oke…” Asya, Dhee dan Gale menjawab dengan serempak.

                Kegiatan di kampus tidak ada yang berbeda. Namun ketika di kantin aku kembali lagi bertemu dengan pria yang bertabrakan denganku semalam.

                “Hai, akhirnya kita bertemu lagi. Aku sangat senang sekali ternyata kau berkuliah di universitas yang sama denganku.”
                “Permisi, bisakah aku lewat.”
                “Aku ingin tahu namaku, perkenalkan…” ia mengulurkan tangannya padaku, “Namaku Kyle Partick, kau siapa?”
                “Permisi, aku mau lewat.”
                “Ayolah, aku ingin tahu namamu.”
               
                Tiba-tiba Asya  berteriak memanggil namaku, “Lila… Sebelah sini.”
                “Jadi namamu Lila?”
                “Kau sudah mendengarnya barusan jadi biarkan aku untuk lewat.”
                “Lila, nama yang sangat indah sangat sesuai dengan dengan orangnya.”
                Aku yang sudah berusaha untuk sabar menghadapinya akhrinya kesal juga,”Bisakah aku lewat? Kau mau apalagi? Kau sudah tahu namaku, sekarang apalagi?”

                Aku membentaknya lalu pergi menuju ke tempat Asya dan Dhea duduk sambil menyenggolnya. Ketika sampai aku langsung duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Dhea. Mereka berdua memandangiku tak berkedip sedikitpun.

                “Apa?” tanyaku dengan nada yang agak membentak.
                “Tidak ada apa-apa, kok.” Jawab Asya buru-buru.
                “Maaf aku sudah membentak kalian berdua. Aku benar-benar sedang kesal sekali pada pria aneh itu.”
                “Ceritakan pada kami jika kau sudah merasa tenang. Oke?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar