Selasa, 27 November 2012

Chapter 4


Chapter 4 


               
                “Terima kasih sudah mengerti, Dhee. Maafkan aku juga Asya.”
                “Sudahlah, tak perlu kau pikirkan. Kita berdua sangat mengerti sekali.”
                Aku menarik nafas dalam-dalam, “Aku bertemu pria itu tadi malam, kami bertabrakan dan sejak itu dia terus saja mengikuti. Aku tak menyangka kalau pria itu ternyata berkuliah di sini juga.”
                “Mungkin pria itu menyukaimu, lihatlah ia terus saja memandangimu.”
                “Tidak Dhee, aku mohon jangan bicarakan tentang hal itu. Bagiku semua pria itu sama saja.”
                “Aku tidak setuju denganmu, Lila. Semua pria itu tidak sama mereka berbeda, ayolah mau sampai kapan kau seperti ini terus.”
                “Asya benar, Lila. Sudah saatnya kau membuka pintu hatimu kembali mungkin saja pria itu memang benar-benar tulus mencintaimu.”
                “Entahlah, aku benar-benar tak tahu dengan perasaanku saat ini.”
                “Pokoknya kau harus membuka hatimu untuknya, lihatlah pria itu sangat tampan dan imut.”
                “Kita lihat saja nanti, oke.”
               
                Mendengar ucapanku Dhee dan Asya tersenyum senang. Ya, mungkin aku harus mulai membuka kembali pintu hatiku yang sudah lama tertutup. Mungkin kali ini lubang besar yang menganga di hatiku selama dua tahun terakhir ini bisa sembuh dan tertutup.

                Sejak hari itu Kyle terus saja berusaha untuk mendapatkan perhatian dariku. Meskipun aku sudah berjanji pada Asya dan Dhea untuk mulai kembali membuka pintu hatiku untuk Kyle, tetap saja semua itu terasa sangat sulit untukku. Selama dua tahun terakhir ini aku benar-benar menjauhi yang namanya pria. Aku membangun benteng yang sangat kuat untuk diriku.

                Malam Minggu tiba, aku, Dhea dan Asya berencana untuk pergi ke sebuah kafe untuk menghabiskan akhir pekan sebelum kami menghadapi ujian pada harinya Senin. Tentu saja Gale ikut bersama kami karena Gale tidak pernah bisa jauh dari Dhea. Ada perasaan iri dalam hatiku melihat kemesraan Dhea dan Gale, lalu Asya dengan Mark pria yang berkenalan dengannya waktu di took buku tempo hari. Meskipun masih dalam tahap pendekatan Asya dan Mark kerap kali pergi keluar untuk berkencan. Dan jika sudah begitu aku hanya menghabiskan waktuku untuk membaca buku di kamar. 

                “Asya, Mark tidak ikut bersama kita?”
                “DIa masih ada urusan tapi nanti akan menyusul kemari kok, Dhee.”
                “Mark siapa? Pacarmu, Sya?”
                “Belum jadi pacar kok, Gale. Kami masih pendekatan.”

                Asya menjawab pertanyaan Gale sambil tersipu malu, diam-diam aku juga ikut tersenyum. Kalau Mark jadi datang kemari hanya aku saja yang tidak mempunyai pasangan. Tapi biarlah, aku menikmani kesendirianku saat ini.

                “Hai, maaf aku terlambat Asya.”
                “Hai, Mark tidak apa-apa kok. Kami juga belum terlalu lama berada disini, oh iya perkenalkan ini Dhea, dan ini Gale pacarnya Dhea. Nah kalau yang itu Lila, kau masih ingatkan.”
                “Ah, iya Lila aku masih ingat, tapi mengapa kau datang sendiri?”
                “Jangan pedulikan aku, kalian nikmati saja kebersamaan kalian. Aku mau ke toilet dulu, ya.”
               
                Aku berdiri  dari tempat dudukku lalu bergegas menuju ke toilet. Lagi lagi ada yang bertanya perihal kesendirianku. Memangnya ada yang salah kalau saat ini aku sedang sendiri. Lagi lagi aku berjalan tanpa memperhatikan jalan yang ku lewati, karena aku bertabrakan lagi dengan seseorang.

“Kau tidak apa-apa?” ucap orang yang menabrakku, “Lila… sedang apa kau disini? Kau tidak terluka, kan?”
                “Kyle, sedang apa kau berada di sini?”
                “Setiap akhir pekan aku dan bandku selalu menyanyi disini. Senang sekali bisa bertemu denganmu disini. Ayo, sebentar lagi aku akan tampil dan kau harus melihatnya.”

                Kyle menarik tanganku dengan lembut, “Hei, kau mau membawaku kemana?”
                “Kau harus melihatku dari meja paling depan.”
                “Aku datang kemari bersama sahabatku.”
                “Aku mohon, Lila kau harus melihat penampilanku malam ini. Dan aku ingin kau duduk di meja paling depan.”

                Kyle membawaku menuju meja yang ia maksud. Saat melewati meja sahabatku mereka hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol mereka. Aku menanggapi reaksi mereka berempat dengan memelototi mereka semua.

                “Nah, sekarang kau duduk di sini. Jangan pergi kemana-mana, ya.”
               
                Aku hanya bisa mengikuti perkataannya, setelah memastikan aku benar-benar duduk dan tidak akan pergi kemana-mana barulah ia naik ke atas panggung kecil untuk begabung dengan teman-temannya. Kyle duduk lalu mengambil sebuah gitar.

                “Selamat malam semuanya, pada kesempatan kali ini saya akan menyanyikan sebuah lagu yang khusus saya tulis untuk seseorang yang sangat special dan membuat hari-hari saja menjadi lebih indah. Dan kebetulan sekali ia berada di sini. Lila, I never tired to show how much I love you because you’re my everything to me. You’re like sunshine in my life, this song I’ve made  just for you I hope you’ll like it, so here this I Only Know How To Be In Love.”

                Kyle mengakhiri kata-katanya lalu mulai memainkan gitarnya. Wajahnya berseri-seri dan matanya yang selalu meneduhkanku itu terlihat berbinar-binar. Aku bisa melihat dengan jelas sekali ketulusan dalam sorot matanya. Perlahan-lahan kekerasana hatiku sedikit mencair.

                Perkataan Dhea dan Asya benar, Kyle benar-benar berbeda ia tidak seperti Matt. Kyle benar-benar tulus dengan perasaannya padaku. bagaimana bisa aku tidak menyadarinya



E I’m the type that’s thought my heart to
Open up when I start feeling, the thing that love is meant to be
And if you decide to come and stay
No need to knock cause I’m unlocked, I want to let you get to me
Oh… will I ever  find a better way or it is how it goes?
Oh… why can’t I take it slow
 I only know how to be in love
I wanna treat you like the only one
I don’t know how to be friends with you cause i
Only know how to be in love
You said take me off this shadow
Box it makes me feel uneasy
The way you’re looking up at me
But in the way that your displayed
Secret sparks start to show
Oh… so beautiful composed
I always try…
Try everyday…
From falling i…
Can’t stand away…
Cause I only know how to be in love…

                Kyle mendapatkan tepuk tangan yang sangat meriah sekali setelah selesai bernyanyi. Dan aku hanya terpaku di tempatku duduk. Ya, aku masih terhipnotis oleh nyanyiannya. Nyanyian yang memang benar-benar tulus dari dalam hatinya dan lagu indah itu di tujukan kepadaku.
                Apalagi yang kau tunggu Lila, pria ini benar-benar tergila-gila padamu. Ia benar-benar tulus mencintaimu. Kapan lagi kau akan menemukan pria seperti itu, sudah jelas-jelas Kyle berbeda dengan Matt, jangan samakan Kyle dengan Matt. Dewi batinku membentak dan berusaha menghancurkan kekerasan hatiku ini dengan sebuah martil.

                Lamunanku buyar ketika Kyle duduk di depanku dan tiba-tiba menggennggam erat lembut tanganku. Dan aku langsung terkesiap ketika tangannya menyentuh kulitku, aku merasa seperti terkena aliran listrik berkekuatan jutaan volt.

                “Hai, maaf aku pasti sudah mengejutkanmu.”
                “Ah, tidak kok. Kau tidak mengejutkanku Kyle.”
                “Bagaimana? Kau menyukai lagunya? Aku menulis lagu ini sambil memikirkanmu, Lila.”
                “Liriknya sangat indah Kyle, terima kasih. Tapi untukku ini terlalu berlebihan, bahkan kau sampai menyebut namaku. Kau tahu semua orang saat ini sedang menatap kita.”
                “Jangan kau pedulikan pandangan dari orang-orang itu, Lila. Karena aku tidak menganggap mereka ada. Yang ada dalam pandanganku saat ini hanyalah kau seorang, Kyla Farhika Nugraha.”
                “Dari mana kau tahun nama lengkapku? Kau pasti sudah menguntitku, iya kan?”
                Mendengar ucapanku Kyle tersenyum. “Kau lupa ya, kalau kita berada di satu universitas yang sama. Meskipun kita mengambil jurusan yang berbeda, tak akan sulit untuk mencari informasi tentangmu, Lila.”
                Aku mengerucutkan bibirku, “Itu sama saja dengan menguntit, tahu!”
                “Maafkan aku kalau begitu, karena aku benar-benar tak tahu harus melakukan apalagi. Kau selalu menolakku dan mengacuhkanku.”
                “Karena… Aku mempunyai trauma dengan sebuah hubungan, Kyle. Aku takut untuk berkomitmen.”
                “Beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku memang benar-benar tulus mencintaimu, Lila. Biarkan aku jadi  penyembuh luka di hatimu itu, aku mohon. Kau mau menerimaku jadi kekasihmu, kan?”
                “Kyle… Aku…”

                Tiba-tiba Dhea dan Asya berseru, “Terima saja, Lila.”
                “Iya, benar terima saja. Kau juga sebenarnya menyukainya, kan.”

                Aku langsung memelototi kedua sahabat tercintaku itu, tapi mereka malah tertawa senang. Tak lama para pengunjung kafe itu ikut bersorak-sorak seperti Dhea dan Asya. Ya Tuhan bagaimana ini? Sedangkan dewi batinku sedang memelototiku sambil berkacak pinggang. Ayolah Lila, apalagi yang kau tunggu, kedua sahabatmu benar. Kau juga menyukainya, bukan.

                Aku menunduk sebentar lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan, “YA…” suaraku seperti berbisik.
                “YA? Kau menerimaku, Lila?” aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Kyle itu.

                Seketika itu juga Kyle langsung memelukku dengan begitu erat. Semua pengunjung kafe ikut senang dan memberikan selamat pada kami berdua. Dan para sahabatku tersayang tak kalah senangnya bahkan Dhea dan Asya sambil melompat naik turun.

                Dhea, Asya terima kasih. Karena jika bukan dukungan dari kalian aku akan tetap terpuruk pada masa laluku yang menyedihkan itu. Aku akan terus di hantui oleh bayangan Matt, terima kasih untuk semuanya I love you so much girls. Sedangkan dewi batinku menari-nari tarian salsa dengan begitu bersemangatnya.

                Lalu aku mengajak Kyle ketempat para sahabatku yang terlihat bahagia

                “Akhirnya, setelah sekian lama akhirnya ada juga pria yang bisa menaklukan Lila.”
                “Dhee….”
                “Yang Dhee ucapkan memang benar, Lila. Kau sudah cukup lama menghindari pria, sudah saatnya kau keluar dari daerah tutorialmu itu.”

4 komentar:

  1. Ecie...cie..jadian ni ya Lila sma Kyle. So sweet :D

    eh..itu dewi batin kyknya kenal deh:D

    kirain terakhirnya dewi batin nari gangnam style wkwkwk

    Love this sist (y)

    *mwah mwah

    BalasHapus
  2. kurang romantis ini..
    soalnya feel romance di abisin dhee sma gale...

    ana steele itu wkwkwkwk

    bisa juga tuh gangnam style..
    ntar aku ganti...

    thanks for you appreciate this sist :*

    BalasHapus
  3. test..test.

    ku koment ya kakak.

    kak, kyknya koma nya salah tempat deh yang ini “Hai, Mark tidak apa-apa kok. Kami juga belum terlalu lama berada disini......"
    seharusnya "hai Mark, tidak apa-apa kok"

    trus typonya juga msih ada kak..

    okee itu aja deh kyknya.
    selebihnya bgus bgt, walaupun kurang romantis kyk Dhee sm Gale.

    part selanjutnya yaa..
    hehehe

    BalasHapus
  4. iya, itu typonya ud aku benerin di naskah aslinya..

    hehehehe

    BalasHapus