Chapter 4
“Terima kasih sudah mengerti,
Dhee. Maafkan aku juga Asya.”
“Sudahlah, tak perlu kau
pikirkan. Kita berdua sangat mengerti sekali.”
Aku menarik nafas dalam-dalam,
“Aku bertemu pria itu tadi malam, kami bertabrakan dan sejak itu dia terus saja
mengikuti. Aku tak menyangka kalau pria itu ternyata berkuliah di sini juga.”
“Mungkin pria itu menyukaimu,
lihatlah ia terus saja memandangimu.”
“Tidak Dhee, aku mohon jangan
bicarakan tentang hal itu. Bagiku semua pria itu sama saja.”
“Aku tidak setuju denganmu,
Lila. Semua pria itu tidak sama mereka berbeda, ayolah mau sampai kapan kau
seperti ini terus.”
“Asya benar, Lila. Sudah saatnya
kau membuka pintu hatimu kembali mungkin saja pria itu memang benar-benar tulus
mencintaimu.”
“Entahlah, aku benar-benar tak
tahu dengan perasaanku saat ini.”
“Pokoknya kau harus membuka
hatimu untuknya, lihatlah pria itu sangat tampan dan imut.”
“Kita lihat saja nanti, oke.”
Mendengar ucapanku Dhee dan Asya
tersenyum senang. Ya, mungkin aku harus mulai membuka kembali pintu hatiku yang
sudah lama tertutup. Mungkin kali ini lubang besar yang menganga di hatiku
selama dua tahun terakhir ini bisa sembuh dan tertutup.
Sejak hari itu Kyle terus saja
berusaha untuk mendapatkan perhatian dariku. Meskipun aku sudah berjanji pada
Asya dan Dhea untuk mulai kembali membuka pintu hatiku untuk Kyle, tetap saja
semua itu terasa sangat sulit untukku. Selama dua tahun terakhir ini aku
benar-benar menjauhi yang namanya pria. Aku membangun benteng yang sangat kuat
untuk diriku.
Malam Minggu tiba, aku, Dhea dan
Asya berencana untuk pergi ke sebuah kafe untuk menghabiskan akhir pekan
sebelum kami menghadapi ujian pada harinya Senin. Tentu saja Gale ikut bersama
kami karena Gale tidak pernah bisa jauh dari Dhea. Ada perasaan iri dalam
hatiku melihat kemesraan Dhea dan Gale, lalu Asya dengan Mark pria yang
berkenalan dengannya waktu di took buku tempo hari. Meskipun masih dalam tahap
pendekatan Asya dan Mark kerap kali pergi keluar untuk berkencan. Dan jika
sudah begitu aku hanya menghabiskan waktuku untuk membaca buku di kamar.
“Asya, Mark tidak ikut bersama
kita?”
“DIa masih ada urusan tapi nanti
akan menyusul kemari kok, Dhee.”
“Mark siapa? Pacarmu, Sya?”
“Belum jadi pacar kok, Gale.
Kami masih pendekatan.”
Asya menjawab pertanyaan Gale
sambil tersipu malu, diam-diam aku juga ikut tersenyum. Kalau Mark jadi datang kemari hanya aku saja yang tidak mempunyai
pasangan. Tapi biarlah, aku menikmani kesendirianku saat ini.
“Hai, maaf aku terlambat Asya.”
“Hai, Mark tidak apa-apa kok.
Kami juga belum terlalu lama berada disini, oh iya perkenalkan ini Dhea, dan
ini Gale pacarnya Dhea. Nah kalau yang itu Lila, kau masih ingatkan.”
“Ah, iya Lila aku masih ingat,
tapi mengapa kau datang sendiri?”
“Jangan pedulikan aku, kalian
nikmati saja kebersamaan kalian. Aku mau ke toilet dulu, ya.”
Aku berdiri dari tempat dudukku lalu bergegas menuju ke
toilet. Lagi lagi ada yang bertanya
perihal kesendirianku. Memangnya ada yang salah kalau saat ini aku sedang
sendiri. Lagi lagi aku berjalan tanpa memperhatikan jalan yang ku lewati,
karena aku bertabrakan lagi dengan seseorang.
“Kau tidak apa-apa?” ucap orang yang menabrakku, “Lila…
sedang apa kau disini? Kau tidak terluka, kan?”
“Kyle, sedang apa kau berada di
sini?”
“Setiap akhir pekan aku dan
bandku selalu menyanyi disini. Senang sekali bisa bertemu denganmu disini. Ayo,
sebentar lagi aku akan tampil dan kau harus melihatnya.”
Kyle menarik tanganku dengan
lembut, “Hei, kau mau membawaku kemana?”
“Kau harus melihatku dari meja
paling depan.”
“Aku datang kemari bersama
sahabatku.”
“Aku mohon, Lila kau harus
melihat penampilanku malam ini. Dan aku ingin kau duduk di meja paling depan.”
Kyle membawaku menuju meja yang
ia maksud. Saat melewati meja sahabatku mereka hanya tersenyum sambil
mengacungkan jempol mereka. Aku menanggapi reaksi mereka berempat dengan
memelototi mereka semua.
“Nah, sekarang kau duduk di
sini. Jangan pergi kemana-mana, ya.”
Aku hanya bisa mengikuti
perkataannya, setelah memastikan aku benar-benar duduk dan tidak akan pergi
kemana-mana barulah ia naik ke atas panggung kecil untuk begabung dengan
teman-temannya. Kyle duduk lalu mengambil sebuah gitar.
“Selamat malam semuanya, pada
kesempatan kali ini saya akan menyanyikan sebuah lagu yang khusus saya tulis
untuk seseorang yang sangat special dan membuat hari-hari saja menjadi lebih
indah. Dan kebetulan sekali ia berada di sini. Lila, I never tired to show how much I love you because you’re my
everything to me. You’re like sunshine in my life, this song I’ve made just for you I hope you’ll like it, so here
this I Only Know How To Be In Love.”
Kyle
mengakhiri kata-katanya lalu mulai memainkan gitarnya. Wajahnya berseri-seri
dan matanya yang selalu meneduhkanku itu terlihat berbinar-binar. Aku bisa
melihat dengan jelas sekali ketulusan dalam sorot matanya. Perlahan-lahan
kekerasana hatiku sedikit mencair.
Perkataan Dhea dan Asya benar,
Kyle benar-benar berbeda ia tidak seperti Matt. Kyle benar-benar tulus dengan
perasaannya padaku. bagaimana bisa aku tidak menyadarinya
E I’m the type that’s thought my heart to
Open up when I start feeling, the thing that love is meant to be
And if you decide to come and stay
No need to knock cause I’m unlocked, I want to let you get to me
Oh… will I ever find a better
way or it is how it goes?
Oh… why can’t I take it slow
I only know how to be in love
I wanna treat you like the only one
I don’t know how to be friends with you cause i
Only know how to be in love
You said take me off this shadow
Box it makes me feel uneasy
The way you’re looking up at me
But in the way that your displayed
Secret sparks start to show
Oh… so beautiful composed
I always try…
Try everyday…
From falling i…
Can’t stand away…
Cause I only know how to be in love…
Kyle mendapatkan tepuk tangan
yang sangat meriah sekali setelah selesai bernyanyi. Dan aku hanya terpaku di
tempatku duduk. Ya, aku masih terhipnotis
oleh nyanyiannya. Nyanyian yang memang benar-benar tulus dari dalam hatinya dan
lagu indah itu di tujukan kepadaku.
Apalagi yang kau tunggu Lila, pria ini
benar-benar tergila-gila padamu. Ia benar-benar tulus mencintaimu. Kapan lagi
kau akan menemukan pria seperti itu, sudah jelas-jelas Kyle berbeda dengan
Matt, jangan samakan Kyle dengan Matt. Dewi batinku membentak dan berusaha
menghancurkan kekerasan hatiku ini dengan sebuah martil.
Lamunanku buyar ketika Kyle
duduk di depanku dan tiba-tiba menggennggam erat lembut tanganku. Dan aku
langsung terkesiap ketika tangannya menyentuh kulitku, aku merasa seperti
terkena aliran listrik berkekuatan jutaan volt.
“Hai, maaf aku pasti sudah
mengejutkanmu.”
“Ah, tidak kok. Kau tidak
mengejutkanku Kyle.”
“Bagaimana? Kau menyukai lagunya?
Aku menulis lagu ini sambil memikirkanmu, Lila.”
“Liriknya sangat indah Kyle,
terima kasih. Tapi untukku ini terlalu berlebihan, bahkan kau sampai menyebut
namaku. Kau tahu semua orang saat ini sedang menatap kita.”
“Jangan kau pedulikan pandangan
dari orang-orang itu, Lila. Karena aku tidak menganggap mereka ada. Yang ada
dalam pandanganku saat ini hanyalah kau seorang, Kyla Farhika Nugraha.”
“Dari mana kau tahun nama
lengkapku? Kau pasti sudah menguntitku, iya kan?”
Mendengar ucapanku Kyle tersenyum.
“Kau lupa ya, kalau kita berada di satu universitas yang sama. Meskipun kita
mengambil jurusan yang berbeda, tak akan sulit untuk mencari informasi
tentangmu, Lila.”
Aku mengerucutkan bibirku, “Itu
sama saja dengan menguntit, tahu!”
“Maafkan aku kalau begitu,
karena aku benar-benar tak tahu harus melakukan apalagi. Kau selalu menolakku
dan mengacuhkanku.”
“Karena… Aku mempunyai trauma
dengan sebuah hubungan, Kyle. Aku takut untuk berkomitmen.”
“Beri aku kesempatan untuk
membuktikan bahwa aku memang benar-benar tulus mencintaimu, Lila. Biarkan aku
jadi penyembuh luka di hatimu itu, aku
mohon. Kau mau menerimaku jadi kekasihmu, kan?”
“Kyle… Aku…”
Tiba-tiba Dhea dan Asya berseru,
“Terima saja, Lila.”
“Iya, benar terima saja. Kau
juga sebenarnya menyukainya, kan.”
Aku langsung memelototi kedua
sahabat tercintaku itu, tapi mereka malah tertawa senang. Tak lama para
pengunjung kafe itu ikut bersorak-sorak seperti Dhea dan Asya. Ya Tuhan bagaimana ini? Sedangkan dewi
batinku sedang memelototiku sambil berkacak pinggang. Ayolah Lila, apalagi yang kau tunggu, kedua sahabatmu benar. Kau juga
menyukainya, bukan.
Aku menunduk sebentar lalu
menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan, “YA…” suaraku
seperti berbisik.
“YA? Kau menerimaku, Lila?” aku
hanya mengangguk menjawab pertanyaan Kyle itu.
Seketika itu juga Kyle langsung
memelukku dengan begitu erat. Semua pengunjung kafe ikut senang dan memberikan
selamat pada kami berdua. Dan para sahabatku tersayang tak kalah senangnya
bahkan Dhea dan Asya sambil melompat naik turun.
Dhea, Asya terima kasih. Karena jika bukan dukungan dari kalian aku
akan tetap terpuruk pada masa laluku yang menyedihkan itu. Aku akan terus di
hantui oleh bayangan Matt, terima kasih untuk semuanya I love you so much
girls. Sedangkan dewi batinku menari-nari tarian salsa dengan begitu
bersemangatnya.
Lalu aku mengajak Kyle ketempat
para sahabatku yang terlihat bahagia
“Akhirnya, setelah sekian lama
akhirnya ada juga pria yang bisa menaklukan Lila.”
“Dhee….”
“Yang Dhee ucapkan memang benar,
Lila. Kau sudah cukup lama menghindari pria, sudah saatnya kau keluar dari
daerah tutorialmu itu.”
Ecie...cie..jadian ni ya Lila sma Kyle. So sweet :D
BalasHapuseh..itu dewi batin kyknya kenal deh:D
kirain terakhirnya dewi batin nari gangnam style wkwkwk
Love this sist (y)
*mwah mwah
kurang romantis ini..
BalasHapussoalnya feel romance di abisin dhee sma gale...
ana steele itu wkwkwkwk
bisa juga tuh gangnam style..
ntar aku ganti...
thanks for you appreciate this sist :*
test..test.
BalasHapusku koment ya kakak.
kak, kyknya koma nya salah tempat deh yang ini “Hai, Mark tidak apa-apa kok. Kami juga belum terlalu lama berada disini......"
seharusnya "hai Mark, tidak apa-apa kok"
trus typonya juga msih ada kak..
okee itu aja deh kyknya.
selebihnya bgus bgt, walaupun kurang romantis kyk Dhee sm Gale.
part selanjutnya yaa..
hehehe
iya, itu typonya ud aku benerin di naskah aslinya..
BalasHapushehehehe