First Story
Chapter 1
“Dhea…” tiba-tiba saja aku mendengar
suara Gale memanggil namaku dan aku hanya mendongkak saja menanggapinya,
“Apakah kuliahmu sudah selesai?”
“Memangnya ada apa? Mengapa kau
ada di kampusku bukankah kau biasanya selalu sibuk dengan bisnis-bisnismu itu?”
“TIdak untuk hari ini, sayang.
Aku ingin membawamu ke suatu tempat.”
“Dhee, aku sama Lila pergi ke
perpus dulu, ya. Bye.” Pamit Asya sambil menarik tangan Lila yang sedang serius
membaca buku lalu mereka berdua meninggalkan aku dan Gale berdua.
“Kau mau mengajakku kemana?”
“Rahasia. Ayo kita pergi
sekarang.” Jawabnya sambil memamerkan senyuman khasnya yang bisa membuat para
wanita lemas jika melihatnya.
“Tidak, aku harus belajar untuk
ujian tengah semesterku minggu depan.”
“Ayolah, Dhea aku mohon kau mau
ikut,ya.”
“Tidak, kau saja tidak mau
memberitahuku kemana kau akan membawaku.”
“Aku bermaksud untuk memberikan
sebuah kejutan padamu, Dhea. Jika aku mengatakannya percuma saja aku menyiapkan
semuanya.”
“Sudahlah, Gale. Aku mau
menyusul Lila dan Asya di perpustakaan.” Jawabku sambil berdiri dan
bersiap-siap untuk pergi.
Tiba-tiba Gale berlutut di
hadapanku, menanggap tanganku dan menggenggamnya dengan begitu erat, “Dhea, aku
mohom. Aku hanya ingin meyakinkanmu bahwa aku benar-benar begitu tulus
mencintaimu. Aku belum pernah sebegitu tertariknya pada seseorang, wajahmu selalu
membayangiku di setiap waktuku, Dhea.”
“Kau pikir aku hantu. Sudah,
sudah aku mau pergi ke perpustakaan. Sebaiknya kau berdiri, jangan membuatku
malu, kau mengerti.”
“Aku tidak akan berdiri Dhea.”
“Astaga, kau jangan konyol,
Gale. Apa kau tidak malu, kau ini seorang pengusaha sukses dan terpandang. Kau
bisa mendapatkan wanita manapun yang kau inginkan. Tapi mengapa kau terus saja
mengejarku.”
“Karena aku jatuh cinta padamu
Miss Dheandra Ilana Putri.kan Aku
langsung terbelalak ketika Gale menyebutkan nama lengkapku, “Bagaimana kau tahu
nama lengkapku?”
“Karena aku sangat mencintaimu
Dhea.”
Semakin lama kerumunan para
mahasiswa berkumpul di tempatku dan Gale berada. Mereka terlihat berbisik-bisik
sambil sesekali melirik ke arahku. Ya
Tuhan, pria ini benar-benar sudah membuatku malu di depan banyak orang.
“Gale, ayo cepat berdiri. Lihat
perbuatanmu mengundang perhatian banyak orang.”
“Sudah kubilang aku takkan
beranjak dari tempat ini sebelum kau menyetujui ajakanku, Dhea.”
“Mengapa kau benar-benar
menyebalkan.”
“Karena aku mencintaimu, Dhea.
Itulah mengapa aku bisa sampai melakukan hal-hal yang kau sebut konyol.”
Dengan setengah hati akhirnya
akupun menyetujui ajakannya. Aku setuju semata-mata agar bisa pergi dari kampus
saja. “Baiklah aku akan ikut denganmu, jadi sekarang kau berdiri dan kita pergi
dari sini secepatnya.”
Mendengar ucapanku itu Gale
langsung berdiri dengan wajah yang berseri-seri, “Benarkah itu?”
“Jangan banyak tanya, jangan sampai
aku merubah kemballi pikiranku, Gale.”
“Baiklah, kalau begitu ayo kita
pergi dari sini.”
Aku dan Gale pun langsung
menerobos kerumunan para mahasiswa yang tadi mengerumuni kami berdua. Gale
berjalan di sampingku sambil terdiam, mungkin ia takut kalau kalau aku merubah
pikiranku lagi. Lucu juga melihat Gale seperti ini, wajah tampannya yang
biasanya terlihat berwibawa sekarang seperti wajah anak SMA yang ketakutan.
Diam-diam aku tersenyum memikirkannya. Dan akhirnya kami sampai di luar kampus,
di sana sudah ada sebuah mobil Bentley berwarna hitam.
Gale membukakan pintu untukku
lalu ia menyusul masuk dan duduk di sebelahku. Masih terdiam, pandangannya
lurus kedepan entah apa yang sedang di pikirkannya saat ini.
“Aku Cuma mau mengingatkanmu saja,
jangan mengantarkanku pulang terlalu malam. Karena aku harus belajar untuk
ujianku minggu depan.”
“Kau tenang saja, Dhea. Aku akan
mengantarkanmu pulang tepat pukul delapan malam.”
“Baiklah kalau begitu.”
Gale kembali terdiam, suasana di
dalam mobil menjadi sangat hening. Hanya suara deru mesin yang terdengar. Ya ampun, ada apa dengan pria ini? Tadi ia
begitu banyak sekali berbicara tapi mengapa sekarang ia malah menngacuhkanku?
Benar-benar pria yang aneh, mengapa aku bisa bersamanya saat ini. Tiba-tiba
suara ponselku berbunyi, ternyata Lila yang menelepon.
“Halo, iya ada apa?...
Sepertinya aku akan pulang terlambat kerumah ada urusan dulu… Tidak Lila, tidak
usah kau sebaiknya pulang duluan bersama Asya… Aku baik-baikn saja nanti aku
ceritakan kalau aku sudah pulang. Bye…”
“Siapa yang menelepon?”
“Itu tadi Lila yang menelepon,
aku lupa kalau hari ini kami ada janji akan pergi ke toko buku.”
“Maaf, karena aku sudah
memaksamu untuk pergi bersamaku, Dhea.”
“SUdahlah, Gale, lagipula mau
sampai kapan aku terus menghindarimu? Aku juga lelah.”
“Maafkan aku, Dhea, karena
seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Aku benar-benar jatuh cinta padamu,
perasaan yang aku rasakan kali ini benar-benar berbeda dengan perasaan yang
pernah aku rasakan sebelumnya.”
“Gale, kau ini tampan, seorang
eksekutif muda yang sukses, selalu bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan.
Kau selalu bisa mendapatkan yang terbaik dalam segala hal, aku yakin kau bisa
medapatkan wanita yang terbaik.”
“Tapi bagiku kaulah yang
terbaik, Dhea. Kaulah pusat kehidupanku, apapun akan kulakukan untuk selalu
menjagamu.”
Oh
ya Tuhan, kata-katanya menimbulkan perasaan menyenangkan di dalam hatiku. Oh Gale,
aku juga memiliki perasaan yang sama padamu, hanya saja aku merasa tidak pantas
untuk mendampingimu. Aku tak yakin bahwa aku bisa mengimbangimu, Gale.
“Dhea, kau mau jadi kekasihku,
kan? Aku mohon?”
“Gale… Aku… Aku.. Aku tak tahu,
berikan aku waktu untuk berpikir beberapa saat, please?”
“Baiklah, aku akan memberikanmu
waktu untuk berpikir. Dan aku akan menagih jawabannya darimu ketika kita
sampai.”
“Terima kasih, Gale.” Ia hanya
memamerkan senyumannya yang khas di wajahnya yang aristocrat.
Dalam perjalanan menuju ke
tempat yang masih aku belum tahu kemana, aku terus memikirkan jawaban untuk
Gale nanti. Ya, sebenarnya aku sudah punya jawabannya dan jawabanku ‘Iya’ hanya
saja aku ingin lebih meyakinkan diri dan hatiku. Aku perlu mendapatkan
keyakinan ekstra agar aku merasa pantas untuk bersanding dengan Gale. Harusnya Asya
dan Lila ada untuk memberikanku masukan.
Aku merasakan mobil melambat,
lalu Gale tersenyum padaku.
“Aku ingin kau menutup matamu,
sebenarnya aku tidak ingin tapi aku harus melakukannya.” Lalu Gale melepaskan
dari berwarna hitam metalik yang dipakainya, “Bolehkah aku menutup matamu
dengan ini?”
“Oh… Tentu saja, jika itu memang
harus kau lakukan.”
Dengan sigap dan lembut ia
menutup kedua mataku dengan dasinya itu, ternyata dasinya sangat lembut sekali.
Tak lama kemudian aku merasakan bahwa mobil sudah berhenti. Aku mulai
bertanya-tanya dalam hati, tempat seperti apa yang aku datangi ini.
Aku merasakan seseorang membuka
pintu mobil di sampingku, lalu aku merasakan cengkraman kuat dari tangan Gale
yang membantuku keluar dari dalam mobil. ketika aku keluar angin sepoi-sepoi
menerpa wajahku dengan lembut. Aku menghirup udara dalam-dalam secara spontan.
“Ayo,
aku akan membimbingmu untuk berjalan. Hati-hati.”
“Gale, kapan kau akan membuka
penutup mataku?”
“Sebentar lagi, sayang.”
Aku hanya menurut saja dan tidak
bertanya apa-apa padanya.
“Kita sudah sampai, sayang. Aku akan
segera membuka matamu dan aku harap kau akan suka dengan kejutan yang sudah aku
siapkan ini.” Ia berkata sambil membuka penutup mataku dengan perlahan dan
sangat lembut sekali.
Sentuhan-sentuhan jarinya di
wajahku memunculkan sebuah perasaan yang aneh. Perasaan yang belum pernah aku
rasakan sebelumnya. Membuat seluruh wajah dan tubuhku memanas.
“Baiklah sekarang buka matamu
perlahan-lahan.” Perintahnya padaku.
Aku menuruti perkataannya,
membuka mataku secara perlahan. Aku begitu terpana melihat pemandangan di
depanku. Kami berada di sebuah tempat yang di kelilingi oleh padang bunga mawar
putih. Lalu ada bunga mawar merah yang rangkai menjadi sebuah tulisan “WOULD YOU BE MY ANGEL DHEA?” dengan
ukuran yang sangat besar sekali. Ya Tuhan, ini benar-benar sangat indah sekali
aku tak bisa berkata apa-apa. Kejutan ini sangat indah dan sangat romantic sekali.
“Oh, Gale…” aku benar-benar
tidak tahu harus berkata apa yang aku tahu bahwa ujung mataku mulai memanas. Air
mataku sudah tidak sabar untuk membasahi pipiku yang memanas.
“Kau suka?” tanyanya dengan
ragu-ragu.
“Gale, ini… sangat indah sekali
sungguh, aku tidak tahu harus mengatakan apa.”
“Hei, jangan menangis. Aku mohon
Dhea, jangan menangis.” Ucapnya dengan nada suara panic dan mengusap air mata
yang jatuh di pipiku..
“Aku menangis karena terharu dan
bahagia, Gale.”
“Apakah itu berarti YA?”
akhirnyaaa Chapter 1 muncuul juga ya..
BalasHapusKeren, romantis bgt.. pengen u.u
Trus, ada dasinya juga. Inget sesuatu deh ttg dasi hahahaa
Eh, Dhea malu-malu tapi mau ya?? :D
ana sama christian tu pke dase abu abu xD
BalasHapuswkwkwkwkwkwkwk
Gale ada ada aja tuh..
Huuuaaaa....mupeng...
BalasHapusSerasa jadi Dhea beneran....
bacanya diulang2 sambil senyum2 sendiri
:D