Chapter 34
Aku
menyipitkan mata mendengar ucapan dari suamiku itu, “Lapar tapi bukan untuk
makanan? Apa maksudmu?”
“Ayolah
sayang, kau masa tidak tahu.” Kyle merengek seperti anak kecil.
“Tapi
aku benar-benar ingin memakan MAKANAN, kau mengerti.”
“Bagaimana
jika setelah makan?”
“Lihat
saja nanti, bantu aku menyaipkan makanannya di meja, ya.”
Kyle
langsung menyiapkan dua buah piring dan yang lainnya di atas meja sambil
menggerutu. Aku tertawa cekikikan ketika melihat tingkahnya itu, setelah
makanannya tersaji di atas meja makan aku dan Kyle duduk saling berhadapan.
Tapi ia makan sambil menggerutu tidak jelas, mungkin ia masih kesal padaku.
“Kenapa
kau tidak menghabiskan makanannya?”
“Aku
sudah kenyang.”
“Jangan
membohongiku, aku tahu bahwa kau masih lapar.”
“Aku
sudah tidak berselera untuk makan.”
“Ya
sudah, berarti tidak aka nada makanan penutupnya untukmu.” Aku menghabiskan
makannku, lalu menyimpan piring kotornya di bak cuci piring. “Ya sudah aku
duluan, ya. Aku mau tidur lagi.”
“Kau
akan meninggalkanku sendirian disini?”
“Iya,
karena kau tidak mau menghabiskan makanan yang sudah susah-susah aku sediakan.”
“Baiklah,
aku akan menghabiskannya tapi kau jangan pergi keman-mana. Temani aku disini
sampai aku selesai makan.”
Aku
kembali duduk dan memperhatikan Kyle yang sedang menghabiskan makanannya sambil
tersenyum jahil. Hohoho, aku berhasil menjahili suamiku. Setelah selesai kami
mencuci piring dan gelas yang sudah kami gunakan tadi. Lalu kami berdua segera
menuju ke kamar. Sesampainya di dalam
kamar aku langsung duduk di atas tempat tidur.
“Kyle…”
“Ada
apa, sayang?”
“Ayo
kita tidur lagi, aku masih lelah.”
“Kau
tidur saja duluan, aku mau ke studio di basement saja.”
“Tidak
kau harus menemaniku di sini.”
Kyle
pun naik ke atas tempat ditidur dan berbaring di sampingku. Ia menarik tubuhku
agar ikut berbaring juga. Ia menarik tubuhku agar lebih menempel dengan
tubuhnya, lalu Kyle melingkarkan lengannya memeluk tubuhku. Aku bisa mendengar
nafasnya yang tidak teratur karena menahan gairahnya yang sudah meluap-luap,
dan sepertinya sebentar lagi gairahnya akan meledak dan tidak akan bisa di
tahan lagi.
“Kau
kenapa? Sepertinya gelisah seperti itu?”
“Jangan
menggodaku, sayang. Aku sedang berusaha menahan keinginan akan kebutuhanku.”
“Mengapa
kau tahan? Kau sudah memiliki istri, bukan.”
“Aku
tidak mau memaksamu jika kau tidak mau, sayang. Lagipula kau sedang hamil
muda.”
“Kita
masih bisa bercinta asalkan kau bisa melakukannya dengan lembut dan tidak
terlalu keras.”
“Kalau
begitu maukah kau bercinta denganku sekarang?”
“Tentu
saja aku mau, Kyle. Kau ini suamiku.”
Mendengar
persetujuan dariku Kyle langsung melumat bibirku dengan dengan lembut namun
sangat intents sekali. Lalu bibirnya mencium leherku dengan sangat lembut,
membuat tubuhku merinding dan mendesah. Tanganku meremas rambutnya ketika ia
masih meciumi leherku, sedangkan tubuhku sudah menggeliat. Sementara tangannya
bereksplorasi di setiap jengkal kulitku, aku menarik kaos yang di pakainya dan
melemparkannya ke lantai. Kyle pun melakukan hal yang sama kepadaku, saat ini
tubuh kami berdua sudah benar-benar tanpa busana.
Ia
meremas dan menghisap payudaraku dengan sangat bergairah. “Payudaramu semakin
berisi, sayang. Sangat menggairah sekali.”
“Karena
aku sedang mengandung, Kyle.”
Lalu
Kyle berbaring, aku merangkak ke atas tubuhnya, menciumi wajahnya dan dadanya.
Aku merasakan miliknya yang sudah setengah mengeras dan setengah membesar
menekan perutku. Aku terus menciumi
setiap jengkal tubuhnya, ia bergetar ketika tiap ciumanku mendarat di kulitnya.
Lalu tanganku memegang miliknya, dengan perlahan aku menggerakkan tanganku itu.
Dan ia mengerang ketika aku melakukannya. Lalu aku menjilati miliknya itu dan
memasukannya kedalam mulutku.
“Sayang,
apa yang akan kau lakukan padaku?” teriaknya dengan suara yang terengah-engah.
Aku
tidak menggubrisnya, malah aku semakin liar dan semakin kuat menghisap miliknya
itu. Aku mulai kekurangan oksigen karena miliknya yang semakin besar di dalam
diriku, bukannya menghetikan aku malah semakin mempercepat hisapan dan
kocokannya dengan mulutku. Sampai tiba-tiba Kyle bangun, lalu ia membimbingku
menaiki tubuhnya. Dengan perlahan aku memasukan miliknya yang sudah sangat
keras dan besar kedalam diriku. Gerakan yang perlahan itu semakin membuat
tubuhku terbakar, aku mengertakan bibirku ketika miliknya semakin tenggelan di
dalam diriku.
Ketika
miliknya sudah berada di dalam tubuhku sepenuhnya , aku menarik nafas
dalam-dalam lalu mulai menggerakkan tubuhku naik dan turun secara perlahan. Ya
Tuhan, aku bisa meledak sebentar lagi. Sedangkan Kyle memegang pinggangku,
kadang tangannya menyentuh dan meremas payudaraku. Aku mencondongkan tubuhku ke
depan, lalu aku mencium bibir Kyle dan mengigit bibirnya dengan gemas.
“Ayo,
sayang… Datanglah untukku…”
Suaranya
membuatku meledak karena orgasme yang cukup hebat dan tubuhku langsung ambruk
di atas tubuhnya. Dengan perlahan ia membalik tubuhku tanpa melepaskan dirinya
dari dalam diriku terlebih dahulu. Kyle memompa dirinya di dalam diriku dengan
ritme yang agak cepat namun tetap terkontrol. Dan setelah beberapa menit Kyle
menggeram sambil menggertakan giginya ketika menemukan pelepasannya.
Tubuhnya
langsung ambruk di atas tubuhku, ia mencium bahuku lalu beralih mencium
keningku cukup lama.
“Terima
kasih sayang. I love you…”
“I love you too my hubby…”
Lalu
ia mengeluarkan dirinya dari dalam diriku dan berguling kesampingku. Ia menarik
selimut dan menutupi tubuh kami yang tanpa busana, ia lalu memeluk tubuhku
sambil menciumi puncak kepalaku dengan penuh perasaan.
“Kyle,
bagaimana kalau besok kita mengadakan acara barbeque bersama Gale, Dhea, Asya
dan Mark. Aku sudah menelepon Dhea tadi dan ia akan datang kemari.”
“Sepertinya
menyenangkan, sayang. Berarti besok kita harus belanja lagi, sepertinya
persediaan bahan makanan di kulkas kita tidak akan cukup.”
“Kapan
kau akan kembali masuk kuliah?”
“Aku
mengambil cuti, sayang. Karena aku ingin focus dulu pada rekaman albumku dulu,
selain itu aku masih ingin menikmati hari-hari berdua denganmu sebelum sibuk.”
“Berarti
nanti kau akan sering meninggalkan aku sendirian di rumah?”
“Kau
boleh menginap di apartemenmu yang dulu, sayang. Kau tahu, aku sangat sangat
bahagia sekali karena akhirnya kau benar-benar kembali padaku dan menjadi
istrikuk.”
“Aku
juga senang bisa kembali lagi padamu, Kyle.”
“Ayo
kita tidur sayang, kau pasti sangat lelah sekali. Besok kita harus bangun
pagi-pagi untuk berbelanja ke swalayan.” Lalu kami berduapun terlelap tidur.
Keesokan
harinya aku dan Kyle pergi ke sebuah swalayan untuk berbelanja. Ia memasukan
banyak sekali camilan, minuman kaleng dan beberapa botol wine. Selain itu kami
membeli daging sapi untuk steak, ayam, sosis dan udang serta bahan-bahan
lainnya yang dibutuhkan untuk acara barbeque kami nanti malam. Selesai
berbelanja Kyle mengajakku ke sebuah restoran untuk makan siang lalu pulang.
Sesampainya
di rumah kami langsung menyusun semua belanjaan yang kami beli di swalayan tadi
ke dalam kulkas. Lalu aku sibuk membuat bumbu untuk bahan-bahan makanan yang
akan di jadikan barbeque.
“Sayang,
biarkan aku membantumu. Kau tidak boleh terlalu lelah.”
“Tidak
apa-apa, sebaiknya kau menonton TV saja. Sebentar lagi juga Dhea dan Asya akan
segera sampai, mereka berdua akan membantuku untuk menyiapkan semuanya.”
Akhirnya
Kyle pergi menuju ke ruang TV dengan segan. Sepuluh menit kemudian aku
mendengar suara bel berbunyi, mungkin Dhea dan Asya sudah datang. Ternyata
benar saja mereka berdua, karena setelah Kyle membuka pintu Dhea dan Asya
langsung berteriak memanggilku.
“Lila…
Apa kabar?” Dhea langsung memelukku.
“Kabar
baik, bagaimana kabar kalian berdua?”
“Kami
berdua baik-baik saja. Senang kau sudah kembali lagi ke New York.” Asya
memelukku.
“Sepertinya
kau sedang sangat sibuk sekali, biark aku dan Asya yang mengerjakannya. Kau
tidak boleh terlalu lelah.”
“Ayolah
Dhee, jangan melarangku seperti Kyle. aku tidak selemah itu.’
Tak
lama kemudian Kyle, Gale dan Mark menghampiri kami dan duduk di kursi dekap
mini bar. Mereka bertiga entah sedang membicarakan apa, karena tak jarang
mereka memperhatikan kami yang sedang sibuk di dapur.
“Hey,
kalian bertiga daripada hanya duduk, mengobrol, minum dan memperhatikan kami
yang sedang sibuk di dapaur. Mengapa kalian bukannya mempersiapkan peralatan
untuk acara kita di halaman belakang.”
“Kau
jadi galak sekali Lila.”
“Aku
tidak galak Gale, aku hanya sedikit memerintah kalian saja.”
“Tak
bisakah kami duduk sebentar lagi.”
“Tidak
Mark, kau tidak melihat bahwa Asya dan Dhea langsung membantuku di dapur setika
mereka baru sampai di sini.”
“Sebentar
lagi sayang. Kami sedang membicarakan sesuatu.”
“Oke,
kalau begitu biar aku saja yang mengangkat peralatan untuk barbeque dari gudang
ke halaman belakang.”
Aku
yang sekarang jadi cepat marah langsung melepas celemek yang sedang aku pakai
dan bergegas untuk pergi ke gudang peralatan.
“Tidak
sayang, jangan kau lakukan. Peralatan itu cukup berat. Ingat kau sedang
mengandung, sayang.” Kyle langsung panic dengan gertakanku.