Chapter 31
“Angel, ayo kita masuk. Hari sudah
semakin larut, udaranya juga sudah mulai dingin. Aku tidak mau kau sakit karena
angin malam.”
“Baiklah,
ayo kita masuk sebelum tubuhku menggigil.”
Lalu
kami berdua masuk ke dalam dan langsung menuju ke kamar kami. Aku dan Gale
duduk di sofa yang ada di dalam kamar.
“Gale,
bagaimana kalau besok kita pergi menemui Mama dan Papa? Mereka masih akan
tinggal di New York untuk beberapa hari.”
“Angel,
sebenarnya aku sudah menemui kedua orang tuamu. Aku sudah meminta izin pada
mereka untuk menikahimu dan mereka sudah memberikan restunya padaku.’
“Kau
sudah menemui Mama dan Papa?” aku kaget
mendengar ucapannya itu. “Kapan kau menemui mereka?”
“Sebenarnya
tadi siang aku tidak bisa menjemputmu di kampus karena aku sedang bersama kedua
orang tuamu, sayang. Kami sedang membicarakan tentang pernikahan kau dan aku.”
“Gale…
mengapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?” aku menekuk wajahku karena kesal.
“Aku
ingin memberikan kejutan padamu, sayang. Lagipula sepertinya kau sedang sibuk
dengan kuliahmu.”
“Aku
memang sedang ada beberapa ujian, tapi seharusnya kau bilang padaku, Gale.”
“Maafkan
aku, Angel” Gale menarikku kedalam
pelukannya dan mencium kepalaku dengan sangat lembut. “Bagaimana kalau kita
pergi mandi dulu, sayang?”
Gale
bangkit dari duduknya lalu menarik tanganku untuk berdiri. Dengan segan aku
beranjak dari sofa, lalu kami berdua menuju ke kamar mandi. Gale menyalakan air
dan mengisi bathtub dengan air hangat lalu menuangkan bubble soap ke dalam bathtub.
Setelah selesai, ia langsung menarikku ke dalam pelukannya lalu menciumku
dengan panas. Aku melingkarkan tanganku ke lehernya dan membalas ciumannya.
Nafas kami terengah-engah ketika Gale melepaskan ciumannya dan membalikkan
tubuhku membelakanginya lalu mulai menciumi belakang telingaku turun ke tengkuk
dan bahuku sementara kedua tangannya mengelus lenganku yang terbuka. Aku
mengerang pelan karena sentuhannya yang lembut sekaligus panas itu.
“Kau
sangat cantik sekali, Angel. Aku tidak akan pernah puas untuk bercinta
denganmu. Kau milikku, sayang. Kau akan menjadi milikku seutuhnya”
Bisikannya
di telingaku membuatku terbakar. Tubuhku semakin memanas ketika ia membuka
restleting gaunku dan membiarkannya meluncur
turun dari tubuhku. Kedua tangannya menangkup kedua payudaraku dari
belakang dan meremasnya sehingga membuat punggungku semakin merapat ke dadanya.
Kepalaku bersandar di bahunya ketika ia memagut bibirku dengan sangat liar lalu
membalikkan tubuhku menghadapnya dan mencium keningku. Aku menggerakkan
tanganku didadanya lalu membuka kancing kemejanya satu persatu dan
melepaskannya dari tubuhnya. Aku sangat menikmati ini, melihatnya tidak berdaya
dengan sentuhanku. Tanganku mulai turun ke ikat pinggang dan celananya,
melepaskannya dari tubuhya. Kini tidak ada sehelai benangpun di tubuh kami.
Gale membawaku ke bathtub dan kami berendam di sana. Air yang hangat segera
menyegarkan tubuh kami. Rasanya nikmat sekali ketika ia mulai memijit tengkukku
dengan lembut lalu menyabuni tubuhku dengan bubble soap. Sentuhannya membuat
tubuhku kembali memanas dan aku merasakan miliknya yang semakin keras. Aku
membalikkan tubuhku menghadapnya dan menciumnya.
“Bercintalah
denganku, Gale” Aku berbisik
“Ah,
sayang. Aku kira kau tidak akan pernah memintanya”
Gale
menciumiku dengan liar dan menarik tubuhku ke atasnya lalu memposisikan
miliknya ke pusat diriku yang sudah sangat panas karena cumbuannya tadi.
Perlahan-lahan aku mulai menggerakkan tubuhku di atasnya, perlahan dan akhirnya
aku bergerak cepat sehingga miliknya semakin besar dan keras di dalam diriku.
Aku mengerang ketika ia menghisap putingku dan menggigitnya dengan keras sampai
akhirnya tubuhku bergetar hebat ketika orgasme menyerangku. Gale mengambil alih
tubuhku dan menusukku dengan keras ketika sisa-sisa orgasme masih melandaku. Ia
terus bergerak dengan cepat di dalamku sampai ia mendapatkan kepuasannya dan
meledak di dalam diriku. Kami saling berpelukan dan terengah-engah. Setelah
nafas kami kembali normal lalu kami pun mulai membilas tubuh kami, memakai
jubah mandi dan kembali ke kamar.
“Kau
lapar, Angel? Apa kau mau makan?”
“Iya,
aku lapar, Gale”. Perutku memang terasa lapar mungkin karena percintaan panas
kami tadi membuatku sangat lapar sekarang.
“Aku
akan ambilkan makanan untuk kita. Diamlah disini”. Lalu Gale pun berlalu dari
hadapanku .
Sambil
menunggu Gale, aku memperhatikan cincin pertunangan dijari manisku. Rasanya aku
masih belum percaya kalau sebentar lagi aku akan segera menjadi istrinya. Istri
dari seorang pria tampan yang sangat mencintai dan memujaku. Ah, aku sudah
tidak sabar untuk segera menikah dengannya. Lamunanku terhenti ketika Gale
masuk dengan membawa dua piring berisi spaghetti.
“Maaf Angel, aku hanya bisa
menemukan makanan ini di dapur”
“Tidak apa-apa, Gale. Aku suka sekali
spaghetti. Hmm…kelihatannya enak, rasanya aku sudah tidak sabar untuk
memakannya”
Aku segera mengambil piring dari
tangannya dan Gale pun duduk di sampingku lalu kami mulai makan sambil
berbincang-bincang.
“Rasanya aku sudah tidak sabar
untuk membawamu tinggal di rumah ini selamanya, Angel”
“Aku juga, Gale. Tapi aku ingin
kita menikah setelah Lila dan Kyle kembali dari honeymoon ya?. Aku ingin Asya
dan Lila hadir dipernikahan kita dan menjadi pendampingku”
“Tentu, Angel. Kita tidak bisa
membiarkan Lila dan Kyle melewatkan pernikahan kita nanti. Dan aku juga tahu
betapa berartinya kedua sahabatmu Lila dan Asya bagimu”
“Aku pasti akan sangat merindukan
mereka, Gale”. Mataku mulai memanas, rasanya aku tidak bisa berpisah dari kedua
sahabatku itu.
“Hei, jangan menangis, Angel. Kita
tidak akan tinggal jauh dari mereka. Kau masih bisa bertemu dengan mereka
kapanpun kau mau, sayang”. Gale menyapu airmata yang mulai jatuh dipipiku
dengan lembut lalu mengecupnya. “Tersenyumlah, Angel. Aku tidak mau melihatmu bersedih”
Yah, Gale benar. Tidak seharusnya
aku bersedih. Ini hari yang terindah dalam hidupku, tahap awal yang baru dari
kehidupanku. Mereka akan tetap menjadi sahabat dan saudara terbaikku walau kami
tidak tinggal bersama-sama lagi nanti. Aku juga masih bisa menemui mereka
karena Gale tidak akan menjauhkanku dari kedua sahabatku itu.
Lamunanku terhenti ketika Gale
mulai menggodaku dengan mencolek saus dari piring dan menempelkannya di bibirku
lalu menyapunya dengan bibir dan lidahnya yang panas. Tubuhku terasa dialiri
listrik jutaan volt. Ia kembali menggodaku dengan mengambil selembar spaghetti,
menggigit ujungnya dan aku menggigit ujung lainnya sampai akhirnya bibir kami
bertemu. Gale membawaku ke pangkuannya, memagut bibirku dan kami berciuman
dengan sangat sangat panas di sofa itu. Kakiku melingkari pinggangnya sementara
bibir kami enggan untuk terlepas ketika Gale mengangkatku dan membaringkanku
ditempat tidur. Kami saling bertatapan, tanganku melingkari lehernya dan
menyusupkan jari-jariku ke rambutnya. Ia memejamkan matanya menikmati
sentuhanku.
“Gale, ada yang ingin aku katakan
padamu”
“Iya, Angel. Katakanlah”
“Uumm…aku...aku sudah tidak meminum
pil KB ku, Gale”. Wajahku terasa memanas ketika mengatakannya. Matanya melebar
dan menatapku tidak percaya tapi aku bisa melihat kelegaan dan kebahagiaan
disana.
“Kau sungguh-sungguh, sayang? Apa
itu artinya kau sudah siap untuk menjadi Ibu dari anak-anakku?”. Matanya masih
menatapku dengan takjub.
“Iya, Gale. Aku sudah siap.” Aku
yakin wajahku sudah semakin memerah sekarang karena pipiku terasa panas sekali.
“Ah, terima kasih Angel. Aku sangat
mencintaimu”.
Gale mencium keningku, hidungku dan
bibirku dengan sangat lembut. Kami berciuman cukup lama sampai akhirnya jubah
mandi kami terlepas. Gale mencumbuku dengan sangat lembut dan kami pun kembali
bercinta, tapi percintaan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Ia melakukannya
dengan sangat lembut seakan tidak ingin menyakitiku, memastikan aku akan aman
bersamanya. Kami sangat menikmatinya sampai akhirnya kami mendapatkan kepuasan
bersama-sama.
“Sebaiknya kita tidur, sayang. I
love you, my Angel”. Gale mencium kepalaku dan melingkari tubuhku dengan
tangannya yang hangat. Tak berapa lama akhirnya aku pun tertidur.
***
Keesokan harinya, aku terbangun
dengan sebuah kecupan di keningku. Dengan malas aku membuka mataku. Gale duduk
disamping tempat tidur sambil tersenyum geli melihatku yang masih sangat
mengantuk.
“Good morning, Mrs. Harold. Kau
tidur nyenyak sekali”
“Good morning. Tapi aku kan belum
resmi menjadi istrimu, Mr. Harold”
“Kau harus membiasakan itu dari
sekarang, Angel. Tidak lama lagi aku akan selalu membangunkanmu dengan
panggilan itu. Sebaiknya kau mandi sekarang sudah hampir pukul sepuluh”
“Aku pikir kau akan menemaniku
mandi pagi ini”. Aku menggodanya yang sudah berpakaian rapi.
“Jangan menggodaku, sayang atau
kita akan terlambat nanti”. Gale menarik tanganku turun dari tempat tidur dan
mendorong tubuhku perlahan ke arah kamar mandi. “Aku menunggumu di bawah,
Angel”. Ia mengecup bibirku sekilas lalu menutup pintu kamar mandi.
Selesai mandi dan berpakaian akupun
menyusul Gale ke bawah. Ternyata Gale sudah menyiapkan sarapan untuk kami. Aku pun duduk di sampingnya yang sedang asyik
dengan koran pagi dan kopinya.
“Kemana kita hari ini, Gale?” kataku
sambil menikmati sandwich isi telur kegemaranku.
“Kita akan menemui Mama Papamu,
Angel. Kau bilang kemarin ingin menemui mereka, kan?”
“Ah, iya Gale. Aku lupa”
“Kita akan makan siang bersama
mereka, Angel. Tadi aku sudah memesan tempat di Bouley Restoran”
“Pasti sangat menyenangkan, sayang.
Bagaimana kalau setelah itu kita ajak mereka jalan-jalan?”
“Maafkan aku. Aku ingin sekali,
Angel. Tapi aku tidak bisa menemani kalian, sore ini aku ada pertemuan dengan
beberapa klien. Apa kau sudah siap, sebaiknya kita berangkat sekarang”
Lalu kami pun meninggalkan meja
makan dan menuju mobil yang terparkir di halaman. Setelah setengah jam, kami
pun sampai di hotel tempat Mama dan Papaku menginap. Tentu saja mereka sangat
senang menyambut kami dan tidak henti-hentinya Mama menciumiku ketika aku
mengatakan bahwa Gale sudah melamarku. Papa dan Gale hanya tertawa melihat
tingkah Mama padaku. Tak lama kemudian, kami pun pergi menuju restoran yang
telah di pilih Gale untuk makan siang kami. Makan siang ini terasa sangat sangat
istimewa bagiku karena aku bersama dengan kedua orang tuaku dan juga
tunanganku. Ah, seandainya Asya, Lila dan juga Kyle serta Mark ada di sini
bersama kami pasti akan sangat menyenangkan. Rasanya aku sudah tidak sabar
untuk memberitahu Lila dan Asya tentang pertunanganku ini.
Selesai makan, Aku, Mama dan Papa
pergi berjalan-jalan dengan di antar supir Gale, sedangkan Gale langsung menuju
ke kantornya setelah mobil dan supirnya yang lain menjemputnya. Hari ini aku
menghabiskan waktu bersama kedua orang tuaku karena lusa mereka harus kembali
ke Indonesia dan akan kembali saat pernikahanku nanti.
What i have to say???
BalasHapusIts totally hot and sweet...
saking asyiknya hot hot pop Gale sampe bikin Dhee lupa kalo pngn ketemu ortunya ya...
Ckckckck
This is great, hot and the sweetest part
love it love it love it :*
haaaaahhh..
BalasHapusPanas, panas.
hot and cold, bgt ini Dhee,
#tepuk tangan, tepuk tangan..
Ciee, gale jr bntr muncul.
Gak minum pil kb lagi yeyeyeye...
Blh nyoba mkan spagetti juga gak Dhee. Hahaha
keren, keren ceritanya.
Lanjut sista :*
:O
BalasHapus:O