Selasa, 25 Desember 2012

Chapterr 31


Chapter 31
               
“Angel, ayo kita masuk. Hari sudah semakin larut, udaranya juga sudah mulai dingin. Aku tidak mau kau sakit karena angin malam.”
                “Baiklah, ayo kita masuk sebelum tubuhku menggigil.”

                Lalu kami berdua masuk ke dalam dan langsung menuju ke kamar kami. Aku dan Gale duduk di sofa yang ada di dalam kamar.

                “Gale, bagaimana kalau besok kita pergi menemui Mama dan Papa? Mereka masih akan tinggal di New York untuk beberapa hari.”
                “Angel, sebenarnya aku sudah menemui kedua orang tuamu. Aku sudah meminta izin pada mereka untuk menikahimu dan mereka sudah memberikan restunya padaku.’
                “Kau sudah menemui Mama dan Papa?” aku kaget  mendengar ucapannya itu. “Kapan kau menemui mereka?”
                “Sebenarnya tadi siang aku tidak bisa menjemputmu di kampus karena aku sedang bersama kedua orang tuamu, sayang. Kami sedang membicarakan tentang pernikahan kau dan aku.”
                “Gale… mengapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?” aku menekuk wajahku karena kesal.
                “Aku ingin memberikan kejutan padamu, sayang. Lagipula sepertinya kau sedang sibuk dengan kuliahmu.”
                “Aku memang sedang ada beberapa ujian, tapi seharusnya kau bilang padaku, Gale.”
                “Maafkan aku, Angel”  Gale menarikku kedalam pelukannya dan mencium kepalaku dengan sangat lembut. “Bagaimana kalau kita pergi mandi dulu, sayang?”

                Gale bangkit dari duduknya lalu menarik tanganku untuk berdiri. Dengan segan aku beranjak dari sofa, lalu kami berdua menuju ke kamar mandi. Gale menyalakan air dan mengisi bathtub dengan air hangat lalu menuangkan bubble soap ke dalam bathtub. Setelah selesai, ia langsung menarikku ke dalam pelukannya lalu menciumku dengan panas. Aku melingkarkan tanganku ke lehernya dan membalas ciumannya. Nafas kami terengah-engah ketika Gale melepaskan ciumannya dan membalikkan tubuhku membelakanginya lalu mulai menciumi belakang telingaku turun ke tengkuk dan bahuku sementara kedua tangannya mengelus lenganku yang terbuka. Aku mengerang pelan karena sentuhannya yang lembut sekaligus panas itu.

                “Kau sangat cantik sekali, Angel. Aku tidak akan pernah puas untuk bercinta denganmu. Kau milikku, sayang. Kau akan menjadi milikku seutuhnya”

                Bisikannya di telingaku membuatku terbakar. Tubuhku semakin memanas ketika ia membuka restleting gaunku dan membiarkannya meluncur  turun dari tubuhku. Kedua tangannya menangkup kedua payudaraku dari belakang dan meremasnya sehingga membuat punggungku semakin merapat ke dadanya. Kepalaku bersandar di bahunya ketika ia memagut bibirku dengan sangat liar lalu membalikkan tubuhku menghadapnya dan mencium keningku. Aku menggerakkan tanganku didadanya lalu membuka kancing kemejanya satu persatu dan melepaskannya dari tubuhnya. Aku sangat menikmati ini, melihatnya tidak berdaya dengan sentuhanku. Tanganku mulai turun ke ikat pinggang dan celananya, melepaskannya dari tubuhya. Kini tidak ada sehelai benangpun di tubuh kami. Gale membawaku ke bathtub dan kami berendam di sana. Air yang hangat segera menyegarkan tubuh kami. Rasanya nikmat sekali ketika ia mulai memijit tengkukku dengan lembut lalu menyabuni tubuhku dengan bubble soap. Sentuhannya membuat tubuhku kembali memanas dan aku merasakan miliknya yang semakin keras. Aku membalikkan tubuhku menghadapnya dan menciumnya.

                “Bercintalah denganku, Gale” Aku berbisik
                “Ah, sayang. Aku kira kau tidak akan pernah memintanya”

                Gale menciumiku dengan liar dan menarik tubuhku ke atasnya lalu memposisikan miliknya ke pusat diriku yang sudah sangat panas karena cumbuannya tadi. Perlahan-lahan aku mulai menggerakkan tubuhku di atasnya, perlahan dan akhirnya aku bergerak cepat sehingga miliknya semakin besar dan keras di dalam diriku. Aku mengerang ketika ia menghisap putingku dan menggigitnya dengan keras sampai akhirnya tubuhku bergetar hebat ketika orgasme menyerangku. Gale mengambil alih tubuhku dan menusukku dengan keras ketika sisa-sisa orgasme masih melandaku. Ia terus bergerak dengan cepat di dalamku sampai ia mendapatkan kepuasannya dan meledak di dalam diriku. Kami saling berpelukan dan terengah-engah. Setelah nafas kami kembali normal lalu kami pun mulai membilas tubuh kami, memakai jubah mandi dan kembali ke kamar.

                “Kau lapar, Angel? Apa kau mau makan?”
                “Iya, aku lapar, Gale”. Perutku memang terasa lapar mungkin karena percintaan panas kami tadi membuatku sangat lapar sekarang.
                “Aku akan ambilkan makanan untuk kita. Diamlah disini”. Lalu Gale pun berlalu dari hadapanku .

                Sambil menunggu Gale, aku memperhatikan cincin pertunangan dijari manisku. Rasanya aku masih belum percaya kalau sebentar lagi aku akan segera menjadi istrinya. Istri dari seorang pria tampan yang sangat mencintai dan memujaku. Ah, aku sudah tidak sabar untuk segera menikah dengannya. Lamunanku terhenti ketika Gale masuk dengan membawa dua piring berisi spaghetti.
“Maaf Angel, aku hanya bisa menemukan makanan ini di dapur”
“Tidak apa-apa, Gale. Aku suka sekali spaghetti. Hmm…kelihatannya enak, rasanya aku sudah tidak sabar untuk memakannya”

Aku segera mengambil piring dari tangannya dan Gale pun duduk di sampingku lalu kami mulai makan sambil berbincang-bincang.

“Rasanya aku sudah tidak sabar untuk membawamu tinggal di rumah ini selamanya, Angel”
“Aku juga, Gale. Tapi aku ingin kita menikah setelah Lila dan Kyle kembali dari honeymoon ya?. Aku ingin Asya dan Lila hadir dipernikahan kita dan menjadi pendampingku”
“Tentu, Angel. Kita tidak bisa membiarkan Lila dan Kyle melewatkan pernikahan kita nanti. Dan aku juga tahu betapa berartinya kedua sahabatmu Lila dan Asya bagimu”
“Aku pasti akan sangat merindukan mereka, Gale”. Mataku mulai memanas, rasanya aku tidak bisa berpisah dari kedua sahabatku itu.
“Hei, jangan menangis, Angel. Kita tidak akan tinggal jauh dari mereka. Kau masih bisa bertemu dengan mereka kapanpun kau mau, sayang”. Gale menyapu airmata yang mulai jatuh dipipiku dengan lembut lalu mengecupnya. “Tersenyumlah, Angel. Aku tidak mau melihatmu bersedih”

Yah, Gale benar. Tidak seharusnya aku bersedih. Ini hari yang terindah dalam hidupku, tahap awal yang baru dari kehidupanku. Mereka akan tetap menjadi sahabat dan saudara terbaikku walau kami tidak tinggal bersama-sama lagi nanti. Aku juga masih bisa menemui mereka karena Gale tidak akan menjauhkanku dari kedua sahabatku itu.

Lamunanku terhenti ketika Gale mulai menggodaku dengan mencolek saus dari piring dan menempelkannya di bibirku lalu menyapunya dengan bibir dan lidahnya yang panas. Tubuhku terasa dialiri listrik jutaan volt. Ia kembali menggodaku dengan mengambil selembar spaghetti, menggigit ujungnya dan aku menggigit ujung lainnya sampai akhirnya bibir kami bertemu. Gale membawaku ke pangkuannya, memagut bibirku dan kami berciuman dengan sangat sangat panas di sofa itu. Kakiku melingkari pinggangnya sementara bibir kami enggan untuk terlepas ketika Gale mengangkatku dan membaringkanku ditempat tidur. Kami saling bertatapan, tanganku melingkari lehernya dan menyusupkan jari-jariku ke rambutnya. Ia memejamkan matanya menikmati sentuhanku.

“Gale, ada yang ingin aku katakan padamu”
“Iya, Angel. Katakanlah”
“Uumm…aku...aku sudah tidak meminum pil KB ku, Gale”. Wajahku terasa memanas ketika mengatakannya. Matanya melebar dan menatapku tidak percaya tapi aku bisa melihat kelegaan dan kebahagiaan disana.
“Kau sungguh-sungguh, sayang? Apa itu artinya kau sudah siap untuk menjadi Ibu dari anak-anakku?”. Matanya masih menatapku dengan takjub.
“Iya, Gale. Aku sudah siap.” Aku yakin wajahku sudah semakin memerah sekarang karena pipiku terasa panas sekali.
“Ah, terima kasih Angel. Aku sangat mencintaimu”.

Gale mencium keningku, hidungku dan bibirku dengan sangat lembut. Kami berciuman cukup lama sampai akhirnya jubah mandi kami terlepas. Gale mencumbuku dengan sangat lembut dan kami pun kembali bercinta, tapi percintaan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Ia melakukannya dengan sangat lembut seakan tidak ingin menyakitiku, memastikan aku akan aman bersamanya. Kami sangat menikmatinya sampai akhirnya kami mendapatkan kepuasan bersama-sama.

“Sebaiknya kita tidur, sayang. I love you, my Angel”. Gale mencium kepalaku dan melingkari tubuhku dengan tangannya yang hangat. Tak berapa lama akhirnya aku pun tertidur.

***

Keesokan harinya, aku terbangun dengan sebuah kecupan di keningku. Dengan malas aku membuka mataku. Gale duduk disamping tempat tidur sambil tersenyum geli melihatku yang masih sangat mengantuk.

“Good morning, Mrs. Harold. Kau tidur nyenyak sekali”
“Good morning. Tapi aku kan belum resmi menjadi istrimu, Mr. Harold”
“Kau harus membiasakan itu dari sekarang, Angel. Tidak lama lagi aku akan selalu membangunkanmu dengan panggilan itu. Sebaiknya kau mandi sekarang sudah hampir pukul sepuluh”
“Aku pikir kau akan menemaniku mandi pagi ini”. Aku menggodanya yang sudah berpakaian rapi.
“Jangan menggodaku, sayang atau kita akan terlambat nanti”. Gale menarik tanganku turun dari tempat tidur dan mendorong tubuhku perlahan ke arah kamar mandi. “Aku menunggumu di bawah, Angel”. Ia mengecup bibirku sekilas lalu menutup pintu kamar mandi.

Selesai mandi dan berpakaian akupun menyusul Gale ke bawah. Ternyata Gale sudah menyiapkan sarapan untuk kami.  Aku pun duduk di sampingnya yang sedang asyik dengan koran pagi dan kopinya.

“Kemana kita hari ini, Gale?” kataku sambil menikmati sandwich isi telur kegemaranku.
“Kita akan menemui Mama Papamu, Angel. Kau bilang kemarin ingin menemui mereka, kan?”
“Ah, iya Gale. Aku lupa”
“Kita akan makan siang bersama mereka, Angel. Tadi aku sudah memesan tempat di Bouley Restoran”
“Pasti sangat menyenangkan, sayang. Bagaimana kalau setelah itu kita ajak mereka jalan-jalan?”
“Maafkan aku. Aku ingin sekali, Angel. Tapi aku tidak bisa menemani kalian, sore ini aku ada pertemuan dengan beberapa klien. Apa kau sudah siap, sebaiknya kita berangkat sekarang”

Lalu kami pun meninggalkan meja makan dan menuju mobil yang terparkir di halaman. Setelah setengah jam, kami pun sampai di hotel tempat Mama dan Papaku menginap. Tentu saja mereka sangat senang menyambut kami dan tidak henti-hentinya Mama menciumiku ketika aku mengatakan bahwa Gale sudah melamarku. Papa dan Gale hanya tertawa melihat tingkah Mama padaku. Tak lama kemudian, kami pun pergi menuju restoran yang telah di pilih Gale untuk makan siang kami. Makan siang ini terasa sangat sangat istimewa bagiku karena aku bersama dengan kedua orang tuaku dan juga tunanganku. Ah, seandainya Asya, Lila dan juga Kyle serta Mark ada di sini bersama kami pasti akan sangat menyenangkan. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk memberitahu Lila dan Asya tentang pertunanganku ini.

Selesai makan, Aku, Mama dan Papa pergi berjalan-jalan dengan di antar supir Gale, sedangkan Gale langsung menuju ke kantornya setelah mobil dan supirnya yang lain menjemputnya. Hari ini aku menghabiskan waktu bersama kedua orang tuaku karena lusa mereka harus kembali ke Indonesia dan akan kembali saat pernikahanku nanti.

3 komentar:

  1. What i have to say???
    Its totally hot and sweet...

    saking asyiknya hot hot pop Gale sampe bikin Dhee lupa kalo pngn ketemu ortunya ya...
    Ckckckck

    This is great, hot and the sweetest part
    love it love it love it :*

    BalasHapus
  2. haaaaahhh..
    Panas, panas.
    hot and cold, bgt ini Dhee,
    #tepuk tangan, tepuk tangan..

    Ciee, gale jr bntr muncul.
    Gak minum pil kb lagi yeyeyeye...

    Blh nyoba mkan spagetti juga gak Dhee. Hahaha

    keren, keren ceritanya.
    Lanjut sista :*

    BalasHapus