Chapter 13
“Tadi
Zach berkelahi dengan Matt, Gale.”
“Berkelahi
dengan Matt/ bagaimana bisa itu terjadi?”
“Matt
tadi hampir memperkosaku, Dhee. Untung saja Zach muncul, kalau tidak… Aku tidak
tahu apa yang akan terjadi padaku saat ini.”
“Pria
itu sepertinya sangat terobsesi pada Lila.”
“Matt
memang mantan kekasih Lila, Zach. Selama ini Matt memang selalu mengganggu
Lila.”
“Sudahlah,
jangan bahas lagi tentang Matt, aku mohon Dhee.”
“Baiklah,
aku takkan membahasnya lagi. lagi pula
sekarang sudah ada Zach yang akan melindungi dan menjagamu dari Matt.”
Lalu
kami menutuskan untuk membicarakan hal lain. Di luar sedang turun hujan yang
sangat lebat sekali dan tak kunjung reda padahal jam sudah menunjukkan hampir
tengah malam. Kalau Gale memang berencana akan menginap di sini, bahkan ia
sudah membawa pakaian ganti. Besok pagi Gale dan Dhea akan pergi ke Washington
DC untuk menghadiri sebuah acara. Sedangkan Asya aku tidak tahu kapan ia akan
pulang.
“Zach
sebaiknya kau menginap saja di sini. Sepertinya hujan takkan reda sampai besok
pagi.”
“Aku
tidak membawa pakaian untuk ganti, Gale.”
“Kau
bisa memakai pakaian milikku. Sebentar aku akan mengambilnya dulu.”
Gale
masuk kedalam kamar Dhea, dan beberapa saat kemudian kembali dengan membawa
sebuah celana training dan sebuah kaos. Gale langsung memberikan pakaian itu pada
Zach.
“Sebaiknya
kau ganti dulu pakaianmu di kamarku, Zach. Ayo aku akan mengantarkanmu.”
Aku
menunjukan Zach kamarku lalu kembali lagi ke ruang depan dan kembali bergabung
bersama Dhea dan Gale. Beberapa menit kemudian Zach ikut bergabung dengan kami
dan melanjutkan obrolan kami yang sempat terpotong tadi. Tepat pukul satu Dhea
dan Gale pamit untuk tidur, mereka berdua masuk ke dalam kamar sambil
berbisik-bisik. Sedangkan aku dan Zach masih menonton TV. Aku menyandarkan
kepalaku di bahu Zach dan mulai terkantuk-kantuk.
“Sebaiknya
kita juga harus pergi tidur, kau terlihat sangat kelelahan sekali.”
“Ya
sudah, ayo kita pergi tidur saja.”
Kami
menuju ke kamarku untuk tidur, hari yang sangat sangat melelahkan. Ketika sudah
berada di dalam aku mendengar Zach mengunci pintunya. Lalu ia naik ke atas
tempat tidur berbaring di sampingku dan memelukku dengan sangat erat. Aku tidak
bisa tidur, apalagi di sebelahku ada Zach. Jantungku berdetak kencang, tubuhku
mulai memanas. Apalagi ketika mulut Zach berada di telingaku. Aku membalikan
tubuhku dan langsung memandang wajah tampan dengan mata abu-abu itu yang
sekarang sudah berubah menjadi sangat bergairah.
“Lila,
aku benar-benar tidak percaya bahwa sekarang ini kau adalah kekasihku. Terima kasih
sudah memberikan aku kesempatan.”
“Apa
yang kau lakukan untukku selama ini sedikit demi sedikit sudah mencairkan
kebekuan di hatiku, Zach.”
“Aku
sangat mencintaimu Lila.”
Lalu
tiba-tiba Zach mendaratkan mulutnya di dahiku dan berdiam di sana sementara
tangannya menyusup membuka bajuku dan mendorong melepaskannya dari bahuku. Zach
duduk di samping tempat tidur dan meletakkan tanganku di atas pahanya dan
membawanya di antara kakinya yang terbuka. Aku berdiri di antara paha keras
Zach, tanganku gemetaran di bahunya. Zach menyapukan jemarinya ke arah bawah ke
lembah di antara payudaraku., di atas renda berwarna biru muda cup bra yang aku
kenakan, lalu Zach kembali menyapukan tangannya ke atas.
“Tuhan,
kau sangat mempesona Lila. Aku tahu tubuhmu pasti sangat mempesona.”
Aku
gemetar di lengan Zach saat gairah tajam melanda sekujur tubuhku, dari atas
sampai bawah. Mulutku mendarat di mulut Zach dan kami berciuman dengan tergesa-gesa
yang panas dari lidah dan mulut kami berdua. Aku merasakan desakan kebutuhan
dari Zach, melayang dari tubuh Zach ke tubuhku dan intensitas ini menghilangkan
kesadaranku.
Lidah kami saling menari. Tangan Zach berada di
sekujur tubuhku dan Zach mulai mendorong training yang aku pakai, gerakan Zach
di mulai dengan godaan yang pelan menjadi sebuah kebutuhan seksual. Aku mencari
keseimbangan dengan meletakkan tanganku di atas bahu Zach dan mengangkat satu
persatu kakiku keluar dari celana training yang aku pakai, sampai training itu
terbaring bersama kaos yang kugunakan mendarat tepat di kakiku.
Lalu Zach mendorong tubuhku dengan lembut untuk
berbaring kembali. Tanganya bergerak menuju kepenjepit bra-ku, lalu
melepaskannya dengan cepat. Putting payudaraku
mengeras dan udara dingin yang menerpa
membuatku sedikit gemetar.
“Apakah aku boleh memilik tubuhmu malam ini?”
“Y-ya…” jawabku gemetaran.
“Bagus, terima kasih sayang. Aku berjanji takkan
membuatmu kesakitan.”
Lalu Zach membuka kaos yang di kenakannya dan setelah
itu menangkup payudaraku dan meremasnya . Aku mulai mendesah dan mulai
menggeliat. Tangan Zach kemudian jatuh ke pantatku dan menarikku ke tubuhnya,
menekanku ke perutnya. Zach memelukku dengan erat saat tangannya menyapu ke
seluruh tubuhku, tidak membiarkan ada jarak sedikitpun di antara kami berdua. Dan
mulutnya kembali melumat mulutku, ciuman diantara kami menjadi basah, liar dan
panas. Intensitas pertukaran ini benar-benar membuat hilang pikiran.
Zach membuat tanda kepemilikan di salah satu
payudaraku. Lalu Zach berdiri dan mulai melepaskan pakaian yang tersisa di
tubuhnya sehingga kami benar-benar dalam keadaan telanjang. Lalu Zach
menjatuhkan lututnya di atas tempat tidur dan berada di antara pahaku,
membentangkan kakiku dan mengangkat kedua kakiku ke pinggangnya.
Zach menyusupkan tangannya kebawah dan memposisikan
dirinya ke gerbang masuk diriku. Mendorong dengan sedikit member tekanan, Zach
mengangkat tangannya ke wajahku dan membungkus wajahku dengan tangannya,
jemarinya masuk ke dalam rambutku. Mataku terbuka dan menemukan pandangan
terfokus Zach yang sepenuhnya pada diriku.
Zach mendorong beberapa inci kedalam diriku dan aku merasakan diriku
meregang untuk menerima Zach sambil meringis menahan sakit.
Zach menggeram dan mataku tertutup untuk menahannya. Saat
mataku terbuka Zach menyusup masuk kedalam diriku, mendorong dengan konstan. Mataku
langsung melebar sambil terpekik tertahan karena sakit yang di timbulkan. Zach diam
beberapa saat membiarkan tubuhku untuk menerimanya, lalu ia melakukan
dorongan-dorongan yang lembut dan keras. Membuat kami terengah hebat. Dan Zach kembali menusuk lalu berhenti dan
mendorong dengan begitu keras berkali-kali.
Kenikmatan yang tajam dan panas menjalar kedalam
diriku. Lalu Zach mengangkat pantatku, menahannya ke atas ke arahnya. Zach mulai
bergerak dengan tusukan konstan, mengobarkan nafsu kami berdua. Oh Tuhan itu sangat nikmat, aku bercinta
dengan Zach. Seorang eksekutif muda yang tampan dan sangat mencintaiku. Aku merasakan
Zach semakin bertambah besar dalam diriku dan menusukku menuju orgasme. Maju
dan mundur, tubuhku dibanjiri oleh kenikmatan, kenikmatan yang murni.
Zach meraih wajahku dan mencium bibirku, lidah kami
saling menari. Ciuman kami panas, paru-paru kami terengah-engah mengharapkan
oksigen tapi kami tetap tidak melepaskan diri kami masing-masing. Tubuhku menegang
dan aku tahu akan segera orgasme. Getaran pelan yang berasal dari
tenggorokanku, suara kebutuhan dan gairah, dan otot internal milikku mulai
mengetat di ereksi Zach. Aku mendorong kea rah Zach saat kenikmatan menyelimuti
seluruh tubuhku.
Aku masih berada dalam gelombang orgasme ketika Zach
menggeram dan menusuk ke dalam diriku dengan tusukan lainnya. Tiga tusukan yang
dalam lalu Zach klimaks, aku merasakan cairan panas yang menyembur dalam
diriku. Aku memeluk erat Zach dan menciumnya, lalu Zach menjatuhkan kepalanya
di atas bahuku. Kami berdua berusaha untuk menenangkan diri dan mengatur nafas
kami.
Setelah nafas kami berdua kembali normal Zach
melepaskan dirinya dari dalam diriku secara perlahan, lalu menggulingkan
tubuhnya di sampingku. Lalu memeluk tubuhku dengan sangat erat, membenamkan
wajahnya di rambutku.
“Aku sangat menciuntaimu, sayang. Tadi benar-benar
sangat hebat sekali, terima kasih.”
“Aku… Sangat lelah Zach, bisakah kita tidur sekarang.”
“Tidurlah sayang, aku akan memelukmu.” Kami berduapun
tertidur karena kelelahan.
Mataku terbuka ketika seberkas sinar dari luar
menerpa wajahku. Aku merasakan panasnya nafas Zach di telingaku. Tangan dan
kakinya membungkusku dengan sangat erat dan membuatku tidak bisa bergerak. Dengan
perlahan aku memutar tubuhku, memperhatikan wajahnya yang tampan itu terlihat
sangat damai sekali ketika tidur. Aku tak percaya bahwa pada akhirnya dengan
pria inilah aku akan bercinta.
“Hai, selamat pagi sayang.” Sapanya dengan suara yang
agak serak.
“Selamat pagi, bisakah kau melepaskanku? Karena aku
harus bangun, Dhea dan Gale akan berangkat pagi ini. Tapi jika kau masih
mengantuk tidur saja lagi.”
“Aku mau tidur beberapa menit lagi tidak apa-apa,
kan?”
“Ya sudah, aku mau bangun dan keluar dulu.”
Zach mencium bibirku lalu melepaskan pelukannya. Badanku
terasa sangat sakit sekali, dengan malas aku bangun dan langsung memakai
pakaianku yang teronggok di lantai, aku bisa melihat ada noda darah di atas
sepraiku. Dan aku jadi merinding melihatnya, setelah berpakaian dan merapikan
rambutku yang acak-acakan aku langsung keluar mendapati Dhea dan Gale yang
sedang sarapan.
“Hai, selamat pagi…” Dhea tertawa melihatku, “Dhee
kau kenapa? Apa ada yang lucu?”
“Tidak… tidak ada, hanya saja wajahmu terlihat jelas
sekali habis-bercinta.”
Mendengar ucapanny wajahku langsung memanas, “Kau…
Bicara apa?”
“Kau sudah dewasa Lila, tidak perlu malu mengakuinya.”
“Ya sudah, sarapan untukmu dan Zach sudah ada. Kami berdua
harus berangkat sekarang.”
“Zach mana?”
“Dia masih tidur, Gale.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar