Selasa, 04 Desember 2012

Chapter 13


Chapter 13

                “Tadi Zach berkelahi dengan Matt, Gale.”
                “Berkelahi dengan Matt/ bagaimana bisa itu terjadi?”
                “Matt tadi hampir memperkosaku, Dhee. Untung saja Zach muncul, kalau tidak… Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku saat ini.”
                “Pria itu sepertinya sangat terobsesi pada Lila.”
                “Matt memang mantan kekasih Lila, Zach. Selama ini Matt memang selalu mengganggu Lila.”
                “Sudahlah, jangan bahas lagi tentang Matt, aku mohon Dhee.”
                “Baiklah, aku takkan membahasnya lagi. lagi        pula sekarang sudah ada Zach yang akan melindungi dan menjagamu dari Matt.”
               
                Lalu kami menutuskan untuk membicarakan hal lain. Di luar sedang turun hujan yang sangat lebat sekali dan tak kunjung reda padahal jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Kalau Gale memang berencana akan menginap di sini, bahkan ia sudah membawa pakaian ganti. Besok pagi Gale dan Dhea akan pergi ke Washington DC untuk menghadiri sebuah acara. Sedangkan Asya aku tidak tahu kapan ia akan pulang.

                “Zach sebaiknya kau menginap saja di sini. Sepertinya hujan takkan reda sampai besok pagi.”
                “Aku tidak membawa pakaian untuk ganti, Gale.”
                “Kau bisa memakai pakaian milikku. Sebentar aku akan mengambilnya dulu.”
               
                Gale masuk kedalam kamar Dhea, dan beberapa saat kemudian kembali dengan membawa sebuah celana training dan sebuah kaos. Gale langsung    memberikan pakaian itu pada Zach.

                “Sebaiknya kau ganti dulu pakaianmu di kamarku, Zach. Ayo aku akan mengantarkanmu.”

                Aku menunjukan Zach kamarku lalu kembali lagi ke ruang depan dan kembali bergabung bersama Dhea dan Gale. Beberapa menit kemudian Zach ikut bergabung dengan kami dan melanjutkan obrolan kami yang sempat terpotong tadi. Tepat pukul satu Dhea dan Gale pamit untuk tidur, mereka berdua masuk ke dalam kamar sambil berbisik-bisik. Sedangkan aku dan Zach masih menonton TV. Aku menyandarkan kepalaku di bahu Zach dan mulai terkantuk-kantuk.

                “Sebaiknya kita juga harus pergi tidur, kau terlihat sangat kelelahan sekali.”
                “Ya sudah, ayo kita pergi tidur saja.”

                Kami menuju ke kamarku untuk tidur, hari yang sangat sangat melelahkan. Ketika sudah berada di dalam aku mendengar Zach mengunci pintunya. Lalu ia naik ke atas tempat tidur berbaring di sampingku dan memelukku dengan sangat erat. Aku tidak bisa tidur, apalagi di sebelahku ada Zach. Jantungku berdetak kencang, tubuhku mulai memanas. Apalagi ketika mulut Zach berada di telingaku. Aku membalikan tubuhku dan langsung memandang wajah tampan dengan mata abu-abu itu yang sekarang sudah berubah menjadi sangat bergairah.
                                                                                                                                                                                        
                “Lila, aku benar-benar tidak percaya bahwa sekarang ini kau adalah kekasihku. Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan.”
                “Apa yang kau lakukan untukku selama ini sedikit demi sedikit sudah mencairkan kebekuan di hatiku, Zach.”
                “Aku sangat mencintaimu Lila.”

                Lalu tiba-tiba Zach mendaratkan mulutnya di dahiku dan berdiam di sana sementara tangannya menyusup membuka bajuku dan mendorong melepaskannya dari bahuku. Zach duduk di samping tempat tidur dan meletakkan tanganku di atas pahanya dan membawanya di antara kakinya yang terbuka. Aku berdiri di antara paha keras Zach, tanganku gemetaran di bahunya. Zach menyapukan jemarinya ke arah bawah ke lembah di antara payudaraku., di atas renda berwarna biru muda cup bra yang aku kenakan, lalu Zach kembali menyapukan tangannya ke atas.

                “Tuhan, kau sangat mempesona Lila. Aku tahu tubuhmu pasti sangat mempesona.”

                Aku gemetar di lengan Zach saat gairah tajam melanda sekujur tubuhku, dari atas sampai bawah. Mulutku mendarat di mulut Zach dan kami berciuman dengan tergesa-gesa yang panas dari lidah dan mulut kami berdua. Aku merasakan desakan kebutuhan dari Zach, melayang dari tubuh Zach ke tubuhku dan intensitas ini menghilangkan kesadaranku.

                Lidah kami saling menari. Tangan Zach berada di sekujur tubuhku dan Zach mulai mendorong training yang aku pakai, gerakan Zach di mulai dengan godaan yang pelan menjadi sebuah kebutuhan seksual. Aku mencari keseimbangan dengan meletakkan tanganku di atas bahu Zach dan mengangkat satu persatu kakiku keluar dari celana training yang aku pakai, sampai training itu terbaring bersama kaos yang kugunakan mendarat tepat di kakiku.

                Lalu Zach mendorong tubuhku dengan lembut untuk berbaring kembali. Tanganya bergerak menuju kepenjepit bra-ku, lalu melepaskannya dengan cepat.  Putting payudaraku mengeras dan udara  dingin yang menerpa membuatku sedikit gemetar.

                “Apakah aku boleh memilik tubuhmu malam ini?”
                “Y-ya…” jawabku gemetaran.
                “Bagus, terima kasih sayang. Aku berjanji takkan membuatmu kesakitan.”

                Lalu Zach membuka kaos yang di kenakannya dan setelah itu menangkup payudaraku dan meremasnya . Aku mulai mendesah dan mulai menggeliat. Tangan Zach kemudian jatuh ke pantatku dan menarikku ke tubuhnya, menekanku ke perutnya. Zach memelukku dengan erat saat tangannya menyapu ke seluruh tubuhku, tidak membiarkan ada jarak sedikitpun di antara kami berdua. Dan mulutnya kembali melumat mulutku, ciuman diantara kami menjadi basah, liar dan panas. Intensitas pertukaran ini benar-benar membuat hilang pikiran.

                Zach membuat tanda kepemilikan di salah satu payudaraku. Lalu Zach berdiri dan mulai melepaskan pakaian yang tersisa di tubuhnya sehingga kami benar-benar dalam keadaan telanjang. Lalu Zach menjatuhkan lututnya di atas tempat tidur dan berada di antara pahaku, membentangkan kakiku dan mengangkat kedua kakiku ke pinggangnya.

                Zach menyusupkan tangannya kebawah dan memposisikan dirinya ke gerbang masuk diriku. Mendorong dengan sedikit member tekanan, Zach mengangkat tangannya ke wajahku dan membungkus wajahku dengan tangannya, jemarinya masuk ke dalam rambutku. Mataku terbuka dan menemukan pandangan terfokus Zach yang sepenuhnya pada diriku.  Zach mendorong beberapa inci kedalam diriku dan aku merasakan diriku meregang untuk menerima Zach sambil meringis menahan sakit.

                Zach menggeram dan mataku tertutup untuk menahannya. Saat mataku terbuka Zach menyusup masuk kedalam diriku, mendorong dengan konstan. Mataku langsung melebar sambil terpekik tertahan karena sakit yang di timbulkan. Zach diam beberapa saat membiarkan tubuhku untuk menerimanya, lalu ia melakukan dorongan-dorongan yang lembut dan keras. Membuat  kami terengah hebat. Dan  Zach kembali menusuk lalu berhenti dan mendorong dengan begitu keras berkali-kali.

                Kenikmatan yang tajam dan panas menjalar kedalam diriku. Lalu Zach mengangkat pantatku, menahannya ke atas ke arahnya. Zach mulai bergerak dengan tusukan konstan, mengobarkan nafsu kami berdua. Oh Tuhan itu sangat nikmat, aku bercinta dengan Zach. Seorang eksekutif muda yang tampan dan sangat mencintaiku. Aku merasakan Zach semakin bertambah besar dalam diriku dan menusukku menuju orgasme. Maju dan mundur, tubuhku dibanjiri oleh kenikmatan, kenikmatan yang murni.

                Zach meraih wajahku dan mencium bibirku, lidah kami saling menari. Ciuman kami panas, paru-paru kami terengah-engah mengharapkan oksigen tapi kami tetap tidak melepaskan diri kami masing-masing. Tubuhku menegang dan aku tahu akan segera orgasme. Getaran pelan yang berasal dari tenggorokanku, suara kebutuhan dan gairah, dan otot internal milikku mulai mengetat di ereksi Zach. Aku mendorong kea rah Zach saat kenikmatan menyelimuti seluruh tubuhku.

                Aku masih berada dalam gelombang orgasme ketika Zach menggeram dan menusuk ke dalam diriku dengan tusukan lainnya. Tiga tusukan yang dalam lalu Zach klimaks, aku merasakan cairan panas yang menyembur dalam diriku. Aku memeluk erat Zach dan menciumnya, lalu Zach menjatuhkan kepalanya di atas bahuku. Kami berdua berusaha untuk menenangkan diri dan mengatur nafas kami.

                Setelah nafas kami berdua kembali normal Zach melepaskan dirinya dari dalam diriku secara perlahan, lalu menggulingkan tubuhnya di sampingku. Lalu memeluk tubuhku dengan sangat erat, membenamkan wajahnya di rambutku.
                “Aku sangat menciuntaimu, sayang. Tadi benar-benar sangat hebat sekali, terima kasih.”
                “Aku… Sangat lelah Zach, bisakah kita tidur sekarang.”
                “Tidurlah sayang, aku akan memelukmu.” Kami berduapun tertidur karena kelelahan.

                Mataku terbuka ketika seberkas sinar dari luar menerpa wajahku. Aku merasakan panasnya nafas Zach di telingaku. Tangan dan kakinya membungkusku dengan sangat erat dan membuatku tidak bisa bergerak. Dengan perlahan aku memutar tubuhku, memperhatikan wajahnya yang tampan itu terlihat sangat damai sekali ketika tidur. Aku tak percaya bahwa pada akhirnya dengan pria inilah aku akan bercinta.

                “Hai, selamat pagi sayang.” Sapanya dengan suara yang agak serak.
                “Selamat pagi, bisakah kau melepaskanku? Karena aku harus bangun, Dhea dan Gale akan berangkat pagi ini. Tapi jika kau masih mengantuk tidur saja lagi.”
                “Aku mau tidur beberapa menit lagi tidak apa-apa, kan?”
                “Ya sudah, aku mau bangun dan keluar dulu.”

                Zach mencium bibirku lalu melepaskan pelukannya. Badanku terasa sangat sakit sekali, dengan malas aku bangun dan langsung memakai pakaianku yang teronggok di lantai, aku bisa melihat ada noda darah di atas sepraiku. Dan aku jadi merinding melihatnya, setelah berpakaian dan merapikan rambutku yang acak-acakan aku langsung keluar mendapati Dhea dan Gale yang sedang sarapan.

                “Hai, selamat pagi…” Dhea tertawa melihatku, “Dhee kau kenapa? Apa ada yang lucu?”
                “Tidak… tidak ada, hanya saja wajahmu terlihat jelas sekali habis-bercinta.”
                Mendengar ucapanny wajahku langsung memanas, “Kau… Bicara apa?”
                “Kau sudah dewasa Lila, tidak perlu malu mengakuinya.”
                “Ya sudah, sarapan untukmu dan Zach sudah ada. Kami berdua harus berangkat sekarang.”
                “Zach mana?”
                “Dia masih tidur, Gale.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar