Sabtu, 01 Desember 2012

Chapter 8


Chapter 8

                Ketika sedang serius membaca aku melihat bayangan seseorang yang berdiri tepat di depanku. Dengan perlahan aku pun menegakkan kepalaku untuk melihat orange itu. Aku langsung membeku ketika melihat Matt sedang berdiri di depanku sambil tersenyum.

                “Halo sayang, sudah lama sekali kita tidak bertemu.” Ia duduk di sampingku.
                “Mau apa kau?”
                “Tenang sayang, mengapa kau jadi galak seperti ini. Aku kesini sedang mengurus bisnisku dan tentu saja aku ingin bertemu denganmu Lila sayangku.”
                Ia menyentuh wajahku dan aku menampiknya, “Jangan sentuh aku.”
                “Ada denganmu, sayang.”
                “Menjauhlah dariku, Matt. Aku muak melihatmu.”
                Aku menutup buku yang sedang aku baca lalu bergegas untuk pergi tapi Matt mencengkram lenganku, “Tunggu Lila, kita harus bicara dan aku ingin memperbaiki hubungan kita.”
                “Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Matt. Bagiku semuanya sudah berakhir tak ada gunanya lagi membicarakan tentang hal ini. Lepas, aku mau pergi.”
                “Tidak, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kita bicara.”
                “Aku mau pulang, lepaskan tanganku.”

                Tiba-tiba Matt mendorong tubuhku ke pohon yang ada di situ dan menciumku dengan paksa. Aku berontak untuk melepaskan cengkramannya tapi aku tak kuat melawannya, tangannya begitu kuat mencengkram wajah dan tubuhku.

                “Bibirmu tetap manis, hangat dan lembut, Lila.”
                “Lepaskan aku brengsek.”
                “Tidak akan karena kau masih menjadi milikku Lila.”
                “Jangan harap, lepaskan aku sekarang juga.”
                Matt tidak menggubrisku yang berusaha untuk melepaskan ciumannya. Ia malah semakin bernafsu menciumku. Dan ketika ia melonggarkan cengkramannya aku langsung mendorongnya dan lasngsung berlari meninggalkannya.

                “Dasar kau bajingan…”

                Aku buru-buru pulang ke apartemen sambil menangis. Benar-benar sialan, berani-beraninya dia menciumku seperti itu di depan umum. Demi Tuhan sampai kapanpun aku takkan sudi untuk kembali lagi padanya. Tuhan mengapa aku harus bertemu lagi dengan orang yang sudah membuat hatiku hancur berkeping-keping. Mengapa Tuhan?

                Sesampainya di apartemen aku mendapati pintu apartemen tidak terkunci, mungkin saja Dhea atau Asya berada di rumah. Dengan lunglai aku pun masuk ke dalam dan mendapati Dhea, Gale, Mark dan Asya yang sedang bercanda dan mengobrol sambil menonton TV.
               
                “Hai, rupanya kau sudah pulang.” Aku tidak menjawab Dhea, “Lila kau baik-baik saja, kan?”
                “Aku mau ke kamar, permisi.”
                “Tunggu Lila…” Asya menghadang jalanku, “Kau menangis? Apa yang terjadi padamu?”
                “Sya, aku mohon aku hanya ingin pergi ke kamar, please.”
               
                Asya mundur dan memberiku jalan untuk lewat. Sesampainya di kamar aku langsung menjatuhkan diriku di atas tempat tidur dan menangis sekeras-kerasnya. Lubang di hatiku kembali terbuka lebar dan Matt menaburkan garam di luka itu, membuatku benar-benar sangat sakit.

                Sejak kejadian itu hari-hariku terasa seperti di neraka, aku benar-benar hancur tanpa Kyle, aku sangat-sangat membutuhkannya. Dhea dan Asya belum tahu apa yang terjadi padaku meskipun mereka berdua sudah bisa menebaknya. Bahwa Matt lah yang membuatku jadi seperti ini.

                Hari Jum’at tiba, aku berusaha untuk terlihat ceria dan baik-baik saja. Aku tak ingin membuat Kyle khawatir jika melihat wajahku yang kacau seperti ini. Setelah ujian selesai aku bergegas menuju ke kantin tanpa menunggu Dhea dan Asya. Ketika sampai di sana aku melihat Kyle sedang duduk sambil memainkan gitar keayangannya.

                “Hai, senang akhirnya kau kembali kesini, Kyle.”
                Tapi Kyle tidak menjawabku, ia malah memandangiku dengan tatapan dingin. “Apakah kau benar-benar senang melihatku kembali lagi ke New York.”
                “Tentu saja aku sangat senang sekali. Kau kenapa?”
                “Harusnya aku yang tanya kau kenapa? Apa yang kau lakukan selama aku tidak ada.”
                “Hanya pergi ke toko buku lalu pulang seperti biasa.”
                Lalu Kyle mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan melemparkannya di atas meja, “Lalu apa maksud dari semua itu?”

                Dengan gemetaran aku mengambil amplop yang di lempar Kyle dan membukanya secara perlahan. Aku seperti tertohok ketika melihat foto-foto yang ada di dalamnya adalah foto-fotoku yang sedang di cium oleh Matt. Ya Tuhan bagaimana foto-foto ini bisa ada?                                                                           

                “Mengapa kau diam? Yang ada di foto itu kau, kan.”
                “K-Kyle… Aku bisa menjelaskan semuanya.” Suaraku bergetar hebat.
                “Tak ada yang harus kau jelaskan lagi, Lila. Foto-foto itu sudah bisa menjelaskan segalanya.”
                “Kyle… Semuanya tidak seperti yang kau pikirkan kau harus mendengarkan penjelasanku.”
                “Tidak Lila, aku tidak ingin mendengar apa-apa darimu. Kau tahu aku sangat sangat mencintaimu bahkan aku bersumpah takkan menyakitimu, tapi sekarang…” Kyle mengacak-acak rambutnya dengan penuh amarah, “Aku rasa semuanya sudah selesai.”
                Aku terlonjak kaget mendengar ucapannya, “Apa maksudmu, Kyle?”
                “Kau dan aku sudah selesai. Permisi.”

                Kyle pergi meninggalkanku sendiri di kantin yang sudah mulai sepi, pipiku panas oleh air mata yang sudah tidak sanggup aku tahan lagi. Bagus sekali, luka di hatiku kini bertamabah dalam dan tak mungkin untuk di sembuhkan lagi. Mengapa semua ini harus terjadi di saat aku mulai mencintai Kyle dengan sepenuh hatiku? Mengapa?

                Aku keluar dari kantin bersamaan dengan hujan yang turun dengan lebatnya. Baguslah dengan begitu aku bisa menangis dengan sepuasnya, membiarkan air mataku mengalir bersama air hujan yang turun ini. Aku melangkahkan kakiku menuju sebuah taman yang tidak jauh dari kampus, aku terduduk didekat pohon. Menangis sambil memeluk kedua kakiku, menangis dengan sekerang-kerasnya. Aku tidak peduli dengan tubuhku yang sudah benar-benar basah kuyup oleh guyuran air hujan.

                Menjelang petang hujan tak juga reda dan aku memutuskan untuk pulang. Ketika sedang berjalan tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depanku tak lama kemudian aku melihat Matt keluar dari mobil itu dan menuju ke arahku sambil membawa payung.
               
                “Ya Tuhan Lila, kau kenapa? Mengapa kau malah berjalan di tengah hujan yang lebat ini.”
                “Bukan urusanmu, Matt.”
                “Ayo, biar aku antar kau untuk pulang, kau bisa sakit.”
                “Apa pedulimu, Matt? Biarakan saja aku sakit, aku tak peduli.”
                “Aku peduli padamu, karena aku masih mencintaimu, Lila.”
                “Aku tak percaya dengan yang namanya CINTA, minggir biarkan aku lewat.”

                Aku mendorongnya lalu berjalan cepat-cepat. Gila… Matt benar-benar tidak waras, dengan gampangnya ia bilang bahwa ia mencintaiku? Persetan dengan semuanya.

                Ketika sampai di apartemen aku mulai merasakan tubuhku menggigil hebat karena kedinginan. Ketika aku akan membuaka pintu tiba-tiba Dhea dan Gale sudah membuka pintunya. Mereka berdua kaget melihatku dalam keadaan basah kuyup.

                “Jangan tanya apa-apa, aku mohon, Dhee. Aku mau masuk dan tidur, permisi.”

***

                Beberapa hari ini Lila benar-benar aneh, ia jadi jarang berbicara dan lebih banyak mengunci diri di dalam kamarnya. Aku dan Asya sudah sangat khawatir sekali melihat keadaannya, puncaknya hari ini Lila pulang dalam keadaan basah kuyup.

                “Lila kenapa, Angel?”
                “Entahlah Gale, ia belum mau bicara padaku dan Asya.”
                “Pasti ada penyebabnya Lila menjadi seperti itu.”
                “Matt…”
                “Matt? Siapa dia?”
                “Matt itu cinta pertamanya Lila, mereka sudah bersama ketika masih kecil dan berpacaran. Tapi Matt menyakitinya dan membuat Lila menjauh yang namanya pria. Setiap malam ia selalu berteriak dan histeris dalam tidurnya. Matt membuat Lila trauma untuk berkomitmen.”
                “Tadinya aku kira Lila itu seorang wanita yang sangat kuat, tapi ternyata sebenarnya ia sangat rapuh sekali.”
                “Itulah Gale, apalagi Lila bukan tipe yang bisa dengan mudah untuk mencurahkan perasaannya. Aku dan Asya benar-benar sangat mengkhawatirkannya, Gale.”
                “Untuk saat ini kita cukup mengawasinya saja, sepertinya Lila masih ingin sendiri. Ayo kita pergi, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Karena sepertinya liburan kita tidak akan bisa terlaksana saat ini.”
                “Aku akan ikut kemanapun kau membawaku, Gale.”

                Gale tersenyum geli mendengar ucapannya, lalu ia merengkuh tubuhku dengan lembut dan kami pun pergi menuju ke parkiran. Aku sangat mencintai dewa Yunani ini, aku sangat beruntung bisa memiliki pria tampan ini. Meskipun ia sangat posesif dan protektif tapi aku mulai terbiasa dengan semua yang ia lakukan.

                Gale membawaku ke sebuah rumah yang aku tebak pasti rumah miliknya. Rumahnya sangat besar dan indah sekali dengan pekarang yang luas dan terurus serta di tumbuhi oleh bunga mawar putih.

                “Tamannya sangat indah sekali, Gale.” Ucapku sambil melihat keluar.
                “Aku sengaja melakukannya, karena bunga mawar putih itu mengingatkanku padamu, Angel.”
                “Terima kasih, Gale. Ini semua sangat indah sekali untukku.” Aku memelukknya dengan sangat erat.
                “Angel, aku sedang menyetir.”
               
                Aku langsung melepaskan peukanku dan merasa sangat malu sekali. Lalu Gale menghentikan mobilnya dan mengajakku untuk turun dari mobil. ia membuka pintu rumahnya yang sangat besar itu dan aku hanya berdecak kagum sambil membuka mulutku melihatnya. Ya Tuhan, benar-benar sangat mewah sekali, ini yang membuatku tidak percaya diri untuk mendampinginya.

                “Hei, jangan memasang ekspresi wajah seperti itu. Kau harus mulai terbiasa karena nantinya kau akan menjadi nyonya di rumah ini.”
                “Gale, kuliahku belum selesai.” Wajahku terasa sangat panas.
                “Aku akan bersabar untuk menunggumu, Dhee.”
                “Apakah di taman belakang ada bunga mawar putuh juga?”
                “Kau pasti akan sangat menyukainya, Angel.”

                Tiba-tiba Gale menggendongku dan membuatku berteriak karena kaget. Ia hanya tersenyum mendengar protes yang keluar dari mulutku.

                “Sayang, berhentilah protes padaku. Lihatlah.”
               

1 komentar: