Chapter 8
Ketika
sedang serius membaca aku melihat bayangan seseorang yang berdiri tepat di
depanku. Dengan perlahan aku pun menegakkan kepalaku untuk melihat orange itu. Aku
langsung membeku ketika melihat Matt sedang berdiri di depanku sambil
tersenyum.
“Halo
sayang, sudah lama sekali kita tidak bertemu.” Ia duduk di sampingku.
“Mau
apa kau?”
“Tenang
sayang, mengapa kau jadi galak seperti ini. Aku kesini sedang mengurus bisnisku
dan tentu saja aku ingin bertemu denganmu Lila sayangku.”
Ia
menyentuh wajahku dan aku menampiknya, “Jangan sentuh aku.”
“Ada
denganmu, sayang.”
“Menjauhlah
dariku, Matt. Aku muak melihatmu.”
Aku
menutup buku yang sedang aku baca lalu bergegas untuk pergi tapi Matt
mencengkram lenganku, “Tunggu Lila, kita harus bicara dan aku ingin memperbaiki
hubungan kita.”
“Tak
ada yang perlu kita bicarakan lagi, Matt. Bagiku semuanya sudah berakhir tak
ada gunanya lagi membicarakan tentang hal ini. Lepas, aku mau pergi.”
“Tidak,
aku tidak akan melepaskanmu sebelum kita bicara.”
“Aku
mau pulang, lepaskan tanganku.”
Tiba-tiba
Matt mendorong tubuhku ke pohon yang ada di situ dan menciumku dengan paksa. Aku
berontak untuk melepaskan cengkramannya tapi aku tak kuat melawannya, tangannya
begitu kuat mencengkram wajah dan tubuhku.
“Bibirmu
tetap manis, hangat dan lembut, Lila.”
“Lepaskan
aku brengsek.”
“Tidak
akan karena kau masih menjadi milikku Lila.”
“Jangan
harap, lepaskan aku sekarang juga.”
Matt
tidak menggubrisku yang berusaha untuk melepaskan ciumannya. Ia malah semakin
bernafsu menciumku. Dan ketika ia melonggarkan cengkramannya aku langsung
mendorongnya dan lasngsung berlari meninggalkannya.
“Dasar
kau bajingan…”
Aku
buru-buru pulang ke apartemen sambil menangis. Benar-benar sialan, berani-beraninya
dia menciumku seperti itu di depan umum. Demi Tuhan sampai kapanpun aku takkan
sudi untuk kembali lagi padanya. Tuhan mengapa aku harus bertemu lagi dengan
orang yang sudah membuat hatiku hancur berkeping-keping. Mengapa Tuhan?
Sesampainya
di apartemen aku mendapati pintu apartemen tidak terkunci, mungkin saja Dhea
atau Asya berada di rumah. Dengan lunglai aku pun masuk ke dalam dan mendapati
Dhea, Gale, Mark dan Asya yang sedang bercanda dan mengobrol sambil menonton
TV.
“Hai,
rupanya kau sudah pulang.” Aku tidak menjawab Dhea, “Lila kau baik-baik saja,
kan?”
“Aku
mau ke kamar, permisi.”
“Tunggu
Lila…” Asya menghadang jalanku, “Kau menangis? Apa yang terjadi padamu?”
“Sya,
aku mohon aku hanya ingin pergi ke kamar, please.”
Asya
mundur dan memberiku jalan untuk lewat. Sesampainya di kamar aku langsung
menjatuhkan diriku di atas tempat tidur dan menangis sekeras-kerasnya. Lubang di
hatiku kembali terbuka lebar dan Matt menaburkan garam di luka itu, membuatku
benar-benar sangat sakit.
Sejak
kejadian itu hari-hariku terasa seperti di neraka, aku benar-benar hancur tanpa
Kyle, aku sangat-sangat membutuhkannya. Dhea dan Asya belum tahu apa yang
terjadi padaku meskipun mereka berdua sudah bisa menebaknya. Bahwa Matt lah
yang membuatku jadi seperti ini.
Hari
Jum’at tiba, aku berusaha untuk terlihat ceria dan baik-baik saja. Aku tak
ingin membuat Kyle khawatir jika melihat wajahku yang kacau seperti ini. Setelah
ujian selesai aku bergegas menuju ke kantin tanpa menunggu Dhea dan Asya. Ketika
sampai di sana aku melihat Kyle sedang duduk sambil memainkan gitar
keayangannya.
“Hai,
senang akhirnya kau kembali kesini, Kyle.”
Tapi
Kyle tidak menjawabku, ia malah memandangiku dengan tatapan dingin. “Apakah kau
benar-benar senang melihatku kembali lagi ke New York.”
“Tentu
saja aku sangat senang sekali. Kau kenapa?”
“Harusnya
aku yang tanya kau kenapa? Apa yang kau lakukan selama aku tidak ada.”
“Hanya
pergi ke toko buku lalu pulang seperti biasa.”
Lalu
Kyle mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan melemparkannya di atas meja, “Lalu
apa maksud dari semua itu?”
Dengan
gemetaran aku mengambil amplop yang di lempar Kyle dan membukanya secara
perlahan. Aku seperti tertohok ketika melihat foto-foto yang ada di dalamnya
adalah foto-fotoku yang sedang di cium oleh Matt. Ya Tuhan bagaimana foto-foto
ini bisa ada?
“Mengapa
kau diam? Yang ada di foto itu kau, kan.”
“K-Kyle…
Aku bisa menjelaskan semuanya.” Suaraku bergetar hebat.
“Tak
ada yang harus kau jelaskan lagi, Lila. Foto-foto itu sudah bisa menjelaskan
segalanya.”
“Kyle…
Semuanya tidak seperti yang kau pikirkan kau harus mendengarkan penjelasanku.”
“Tidak
Lila, aku tidak ingin mendengar apa-apa darimu. Kau tahu aku sangat sangat
mencintaimu bahkan aku bersumpah takkan menyakitimu, tapi sekarang…” Kyle
mengacak-acak rambutnya dengan penuh amarah, “Aku rasa semuanya sudah selesai.”
Aku
terlonjak kaget mendengar ucapannya, “Apa maksudmu, Kyle?”
“Kau
dan aku sudah selesai. Permisi.”
Kyle
pergi meninggalkanku sendiri di kantin yang sudah mulai sepi, pipiku panas oleh
air mata yang sudah tidak sanggup aku tahan lagi. Bagus sekali, luka di hatiku
kini bertamabah dalam dan tak mungkin untuk di sembuhkan lagi. Mengapa semua
ini harus terjadi di saat aku mulai mencintai Kyle dengan sepenuh hatiku? Mengapa?
Aku
keluar dari kantin bersamaan dengan hujan yang turun dengan lebatnya. Baguslah dengan
begitu aku bisa menangis dengan sepuasnya, membiarkan air mataku mengalir
bersama air hujan yang turun ini. Aku melangkahkan kakiku menuju sebuah taman
yang tidak jauh dari kampus, aku terduduk didekat pohon. Menangis sambil
memeluk kedua kakiku, menangis dengan sekerang-kerasnya. Aku tidak peduli
dengan tubuhku yang sudah benar-benar basah kuyup oleh guyuran air hujan.
Menjelang
petang hujan tak juga reda dan aku memutuskan untuk pulang. Ketika sedang
berjalan tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depanku tak lama kemudian
aku melihat Matt keluar dari mobil itu dan menuju ke arahku sambil membawa payung.
“Ya
Tuhan Lila, kau kenapa? Mengapa kau malah berjalan di tengah hujan yang lebat
ini.”
“Bukan
urusanmu, Matt.”
“Ayo,
biar aku antar kau untuk pulang, kau bisa sakit.”
“Apa
pedulimu, Matt? Biarakan saja aku sakit, aku tak peduli.”
“Aku
peduli padamu, karena aku masih mencintaimu, Lila.”
“Aku
tak percaya dengan yang namanya CINTA, minggir biarkan aku lewat.”
Aku
mendorongnya lalu berjalan cepat-cepat. Gila…
Matt benar-benar tidak waras, dengan gampangnya ia bilang bahwa ia mencintaiku?
Persetan dengan semuanya.
Ketika
sampai di apartemen aku mulai merasakan tubuhku menggigil hebat karena
kedinginan. Ketika aku akan membuaka pintu tiba-tiba Dhea dan Gale sudah
membuka pintunya. Mereka berdua kaget melihatku dalam keadaan basah kuyup.
“Jangan
tanya apa-apa, aku mohon, Dhee. Aku mau masuk dan tidur, permisi.”
***
Beberapa
hari ini Lila benar-benar aneh, ia jadi jarang berbicara dan lebih banyak
mengunci diri di dalam kamarnya. Aku dan Asya sudah sangat khawatir sekali
melihat keadaannya, puncaknya hari ini Lila pulang dalam keadaan basah kuyup.
“Lila
kenapa, Angel?”
“Entahlah
Gale, ia belum mau bicara padaku dan Asya.”
“Pasti
ada penyebabnya Lila menjadi seperti itu.”
“Matt…”
“Matt?
Siapa dia?”
“Matt
itu cinta pertamanya Lila, mereka sudah bersama ketika masih kecil dan
berpacaran. Tapi Matt menyakitinya dan membuat Lila menjauh yang namanya pria. Setiap
malam ia selalu berteriak dan histeris dalam tidurnya. Matt membuat Lila trauma
untuk berkomitmen.”
“Tadinya
aku kira Lila itu seorang wanita yang sangat kuat, tapi ternyata sebenarnya ia
sangat rapuh sekali.”
“Itulah
Gale, apalagi Lila bukan tipe yang bisa dengan mudah untuk mencurahkan
perasaannya. Aku dan Asya benar-benar sangat mengkhawatirkannya, Gale.”
“Untuk
saat ini kita cukup mengawasinya saja, sepertinya Lila masih ingin sendiri. Ayo
kita pergi, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Karena sepertinya liburan
kita tidak akan bisa terlaksana saat ini.”
“Aku
akan ikut kemanapun kau membawaku, Gale.”
Gale
tersenyum geli mendengar ucapannya, lalu ia merengkuh tubuhku dengan lembut dan
kami pun pergi menuju ke parkiran. Aku sangat mencintai dewa Yunani ini, aku
sangat beruntung bisa memiliki pria tampan ini. Meskipun ia sangat posesif dan
protektif tapi aku mulai terbiasa dengan semua yang ia lakukan.
Gale
membawaku ke sebuah rumah yang aku tebak pasti rumah miliknya. Rumahnya sangat
besar dan indah sekali dengan pekarang yang luas dan terurus serta di tumbuhi
oleh bunga mawar putih.
“Tamannya
sangat indah sekali, Gale.” Ucapku sambil melihat keluar.
“Aku
sengaja melakukannya, karena bunga mawar putih itu mengingatkanku padamu,
Angel.”
“Terima
kasih, Gale. Ini semua sangat indah sekali untukku.” Aku memelukknya dengan
sangat erat.
“Angel,
aku sedang menyetir.”
Aku
langsung melepaskan peukanku dan merasa sangat malu sekali. Lalu Gale
menghentikan mobilnya dan mengajakku untuk turun dari mobil. ia membuka pintu
rumahnya yang sangat besar itu dan aku hanya berdecak kagum sambil membuka
mulutku melihatnya. Ya Tuhan, benar-benar sangat mewah sekali, ini yang
membuatku tidak percaya diri untuk mendampinginya.
“Hei,
jangan memasang ekspresi wajah seperti itu. Kau harus mulai terbiasa karena
nantinya kau akan menjadi nyonya di rumah ini.”
“Gale,
kuliahku belum selesai.” Wajahku terasa sangat panas.
“Aku
akan bersabar untuk menunggumu, Dhee.”
“Apakah
di taman belakang ada bunga mawar putuh juga?”
“Kau
pasti akan sangat menyukainya, Angel.”
Tiba-tiba
Gale menggendongku dan membuatku berteriak karena kaget. Ia hanya tersenyum
mendengar protes yang keluar dari mulutku.
“Sayang,
berhentilah protes padaku. Lihatlah.”
Matt nyebelin bgt bgt :(
BalasHapusLo gue end…huua Kyle kasian Lila :'(