Chapter 23
“ Asya, sayang. Bangun ini sudah sore.” suara itu
membangunkanku
Rasanya aku masih ingin tertidur, tapi belaian tangan itu
kembali mengusikku. Dan akhirnya aku membukakan mataku. Kulihat aku masih
dikamar yang didominasi warna putih dan Mark duduk disampingku, dia sudah
memakai pakaian lengkap.
“Ini hampir jam 6 sayang, sebentar lagi orang yang akan
mendandanimu akan datang” jawab Mark.
“Oh, kenapa aku baru dibangunkan sekarang?”
“Aku tidak tega membangunkanmu, tidurmu nyenyak sekali”
“Maaf ya, aku tidur terlalu nyenyak. Sehingga aku lupa
waktu.”
Mark tersenyum tersenyum jahil “Sebaiknya kau mandi sayang. Kau tampak
berantakan sekali”
Aku memandangi diriku dan terkejut ternyata aku masih telanjang.
“Kau kenapa??” tanyanya sambil tersenyum geli.
“Tidak apa-apa. Aku mandi dulu, ya.” Jawabku sambil mengambil
jubah mandi milik Mark yang ditaruhnya dikursi disebelah ranjang dan memakainya. Akupun melangkah kekamar mandi. Namun
langkahku terhenti saat Mark menarik tanganku. “Ada apa?”
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin menciummu sekali lagi”
jawabnya menyeringai kepadaku.
Aku tersenyum “Badanku lengket Mark dan kau sudah mandi.”
“Aku tidak peduli sayang” katanya sambil mengambil daguku dan
mulai mencium bibirku lembut, dengan perlahan lidahnya menerobos masuk kedalam
mulutku dan bermain dengan lidahku. Ciuman kami semakin panas dan
menggairahkan. Wajahku sudah mulai memanas dan nafas kami mulai terengah-engah.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Kami
langsung tersadar dan melepaskan ciuman itu. Mark menghela nafasnya, berusaha
untuk menguasai dirinya.
“Kau mandilah, itu pasti Lauren. Dia yang akan mendandanimu
nanti” jawab Mark sambil mencium keningku sekilas dan pergi meninggalkanku.
Aku mengangguk dan masuk kedalam kamar mandi. Saat didalam
kamar mandi kubuka jubah mandi yang kupakai. Dan memandangi diriku dicermin.
Ada beberapa jejak yang ditinggalkan Mark ditubuhku. Dan aku langsung
membersihkan tubuhku dan membasuhnya dengan air dingin. Terasa segar saat air
itu mengalir ditubuhku. Sekitar 15 menit aku didalam kamar mandi akhirnya aku
selesai. Dengan memakai jubah mandi dan melilitkan handuk kekepala untuk
mengeringkan rambutku yang basah, lalu aku keluar kamar mandi. Kulihat seorang
wanita sudah duduk dikursi yang ada didekat ranjangku, tirai yang tadi tertutup
sekarang sudah terbuka dan ranjang yang berantakan tadi sudah tersusun rapi.
Wanita itu adalah wanita yang kutemui di butik tadi siang. Dia tersenyum saat
aku sudah mendekat kearahnya.
“Miss Natasya, aku Lauren, maaf tadi siang tidak sempat
berkenalan “ dia menyapaku
Aku tersenyum sambil menjabat tangannya “ Maaf kau sudah lama
menungguku.”
“Tidak juga, Mr. Feehily baru saja menyuruhku masuk kesini.”
Aku mengangguk “Kemana dia sekarang?” tanyaku pada Lauren
“Dia sedang menunggu diluar.”
“Baiklah, itu bisa lebih bagus.”
“Kita bisa mulai sekarang Miss Natasya, tadi Mr Feehily
bilang kau harus selesai sebelum jam 8.” katanya sambil mengeluarkan semua pakaian
dan perlengkapan make up nya untukku.
“Oh Iya, panggil aku Asya, Lauren. Itu terdengar lebih akrab
bukan??” jawabku sambil tersenyum.
Dia mengangguk dan tersenyum “Ya Asya.”
***
Lalu aku mulai berpakaian dan Lauren mulai mendandaniku,
mulai dari wajahku, rambutku, sepatuku, hingga aksesoris yang akan kupakai.
Sepertinya Mark ingin aku tampak berbeda dari biasanya. Saat sedang didandani
Lauren bercerita tentang dirinya, ternyata dia adalah salah satu penata rias
yang biasanya mengurusi model-model Mark. Ya, aku baru kali ini melihatnya
karena aku jarang sekali mengikuti Mark bekerja. Satu jam sudah Lauren
mendandani ku, saat selesai aku langsung melihat diriku didepan cermin.
“Kau cantik sekali, Asya.” Lauren tak henti-hentinya
memujiku.
“Ini karena mu Lauren.” jawabku sambil tersenyum.
“Tidak, aku hanya mendandanimu saja. Kau memang sudah cantik”
jawabnya sambil membereskan peralatan Make Up yang tadi berserakan.
“Ya, terserah, tapi kau juga yang membuatku menjadi seperti
ini.”
Setelah membereskan semuanya Lauren pamit denganku.
“Sya, Mr. Feehily sudah menunggu mu dari tadi. Sebaiknya kau
keluar dan aku juga pamit pulang.” Katanya sambil menepuk bahuku.
“Iya terima kasih untuk semuanya Lauren, aku senang bertemu
denganmu.”
“Aku juga senang bertemu denganmu, kau bisa datang kebutikku
jika ada waktu.”
“Iya, aku akan kesana nanti” jawabku sambil memeluknya.
Saat aku sedang memeluk Lauren suara berdehem membuatku
melepaskan pelukan ku. Ternyata Mark sudah berdiri didepan pintu kamar dan
mendekat kearahku.
“Aku permisi Sya, Mr. Feehily.” Lauren keluar dari kamarku.
“Iya terima kasih.”
“Terima kasih Lauren” jawab Mark.
Sekarang hanya aku dan Mark yang ada dikamar itu. Kulihat
Mark memakai jas dan celana hitam dengan kemeja hitam didalamnya.
“Kau cantik sayang.” Mark mendekat kearahku.
“Ya, Gaun ini sangat cantik.”
“Aku tahu, tapi kau lebih cantik dari gaun itu” Mark
tersenyum menatapku. Dan tiba-tiba dia mengecup hangat keningku dan membelai
pundaku yang terbuka.
“Kita berangkat sekarang yaa?” ajaknya sambil memelukku.
“Baiklah, aku sudah siap Mr. Feehily.”
Lalu kami berjalan keluar sambil bergandengan tangan dan
berangkat ke acara pameran itu.
***
Setelah setengah perjalanan akhirnya kami sampai disebuah
hotel di pusat kota New York. Sesampainya Mark langsung turun dan membukakan
pintu mobilnya untukku. Akupun turun dan setelah Mark menutup pintunya lagi,
dia langsung menggandeng tanganku dan mengecup keningku.
“Sya, kau tahu aku sangat ingin membuktikan kepada orang yang
pernah salah menilaiku. Bahwa penilaian mereka padaku dulu adalah salah besar”
bisik Mark padaku.
“Aku mengerti Mark, aku akan selalu ada untukmu, sayang.”
jawabku sambil mencium pipinya lembut.
Mark tersenyum sambil meremas tanganku. Lalu kami berjalan
dan masuk ketempat pameran. Ternyata acara pembukaannya baru saja selesai.
Banyak orang hadir disana namun tak satupun dari mereka yang kukenali. Saat
masuk aku tertarik melihat foto dan lukisan yang sedang dipamerkan disana.
“Lukisannya bagus, sayang.” bisikku padanya.
“Iya kita akan melihatnya nanti, tapi kita harus bertemu
dengan Brian. Dia yang punya pameran ini.”
Lalu Mark mengajakku masuk kedalam ruang pameran. Dan
kemudian Mark menyapa seseorang yang bernama Brian. Aku rasa dialah yang
menggelar pameran itu.
“Hai, Brian. Maaf aku
terlambat. Aku melewatkan acara pembukaannya.” kata Mark sambil memeluk Brian
singkat.
“TIdak masalah teman. Kau datang juga sudah membuatku
senang.” Brian tertawa.
“Oh iya, kenalkan ini Natasya tunanganku.” Mark mengenalkanku
pada Brian.
“Brian Mc Fadden” dia menatap dan menjabat tanganku
“Natasya.” jawabku sambil tersenyum.
“Natasya Feehily.” lanjutnya sambil tersenyum geli.
“Segera Brian. Doakan saja” jawab Mark.
Akupun tersipu malu mendengar kata-kata Brian, ya Natasya Feehily.
Brian mendekat ke Mark dan membisikkan sesuatu padanya.
Kemudian Mark menjawab “Kau tidak percaya padaku Mr. McFadden.”
“Ya aku percaya padamu, sangat percaya.” jawab Brian sambil
tertawa.
Aku sendiri bingung apa yang mereka bicarakan sehingga mereka
berdua tertawa.
“Baiklah silakan melihat-lihat Mark, Natasya aku akan melihat
tamu undanganku yang lainnya. Kita akan bertemu lagi nanti.” Brian meninggalkan kami berdua.
Lalu kami melihat-lihat lukisan yang dipajang disana,
sebenarnya aku merasa sedikit kurang nyaman dengan beberapa orang yang menatap
kami.
“Sayang, aku ada yang salah denganku. Mengapa orang-orang itu
menatapku dengan tatapan aneh.” bisikku pada Mark. Mark memperhatikanku dan
memeluk pinggangku.
“Tidak ada yang salah denganmu, orang yang melihatmu aneh
adalah temanku satu angkatan dikampus. Mungkin mereka tidak percaya.” jawab
Mark sambil tertawa pelan.
“Kau yakin aku baik-baik saja, semua pakaianku baik-baik
saja?”
“Iya, aku yakin. Bahkan sangat yakin kalau kau cantik malam
ini.” Mark mencium keningku lagi.
Saat kami sedang berdua kulihat bebrapa orang memperhatikan
kami berdua, aku tak peduli tentang apa yang dikatakan orang mengenai Mark
dimasa lalunya. Yang jelas aku saat ini sangat mencintainya.
Lamunanku tentang Mark buyar saat Mark melepaskan tangannya
dari pinganggku.
“Iya, kami belum lama sampai Kev.” akupun langsung menoleh
saat Mark menyebut nama Kev.
Ternyata Kevin sudah ada didekat kami, hanya saja aku tak
menyadarinya, dibelakang Kevin ada seorang pria berambut hitam dan berwajah
tampan. Sebenarnya aku agak jijik melihat Kevin setelah Mark menceritakan semua
tentangnya padaku. Tapi aku berusaha tetap baik dengannya.
“Hai Nastasya, senang bertemu denganmu lagi.” dia menyapaku
sambil tersenyum.
“Iya, aku juga. “ jawabku balas tersenyum.
Lalu Mark dan Kevin mengomentari sebuah lukisan yang ada
didekat kami. Dan lelaki yang bersama Kevin tadi menghampiriku.
“Kau Natasya?” katanya sambil tersenyum
Aku mengangguk, “Ya, aku Natasya.” Jawabku.
“Aku, Adam. Kau wanita Asia, ya?”tanyanya sambil menjabat
tanganku.
“Iya aku dari Indonesia. Kau temannya Kevin?”
“ Iya, aku temannya Kevin. Kau cantik Natasya.” dia memujiku.
“Terima Kasih Adam.” jawabku sambil tersenyum.
***
Belum lama aku dan Adam mengobrol, Mark yang tadi bersama
Kevin langsung memeluk pinggangku.
“Ayo kita mengambil minuman di sana. “ Mark mengajakku.
Aku pikir Mark tidak menyukaiku bicara dengan Adam. Aku pun
mengangguk menerima ajakannya “ baiklah “ jawabku.
“Adam, kami permisi mau mengambil minuman dulu.”
“Iya, Mark silakan” jawab Adam. Lalu kami meninggalkan Adam
dan Kevin dan tak lama kemudian kami menadapati seorang pelayan yang membawa
nampan berisi beberapa gelas minuman.
“ Kau tidak suka aku berbicara dengan Adam?” tanyaku pelan.
“Tidak. Aku hanya butuh minum. “ jawab Mark.
“Kau yakin dengan yang kau ucapkan.” aku menggodanya.
“Sebenarnya tidak, aku hanya takut kau tertarik padanya.”
jawabnya.
“Aku hanya tertarik padamu Mark.”
“Baiklah,
aku percaya itu.” Mark menyentuh hidungku.
***
Lalu kami berdua minum, malam itu banyak teman Mark kuliah
yang datang. Sebenarnya acara pameran ini lebih mirip dengan Reuni Kuliahnya
karena saat bertemu mereka langsung bercerita tentang masa-masa kuliah mereka
yang padahal baru berakhir 2 tahun yang lalu.
Tak terasa acara pameran hari ini sudah selesai, waktu sudah
menunjukkan pukul 10.30 menit. Saat kami akan berpamitan untuk akan pulang,
Kevin mengajak kami untuk minum di sebuah Club besok malam. Awalnya Mark
menolaknya karena berbagai alasan namun Kevin sedikit memaksa, sehingga
akhirnya Mark menyetujuinya.
Kami menghampiri Brian untuk berpamitan pulang, Mark dan
Brian serta beberapa temannya berbincang-bincang sejenak. Saat sedang menunggu
Mark, aku permisi ketoilet sebentar.
“Mark, aku ketoliet sebentar, ya.” Bisikku pada Mark.
“Perlu kuantar?” tanya Mark.
“Tidak usah, aku bisa sendiri. Kau tunggu disini saja.”
jawabku.
“Baiklah,
segera kembali ya sayang.” kata Mark sambil mencium keningku.
Aku mengangguk dan pergi meninggalkan Mark. Aku bertanya
dengan seorang pelayan, dimana toilet disini. Dan pelayan itu mengantarkanku.
Setelah mengucapkan terima kasih aku masuk kedalam toilet itu. Sekitar 5
menit didalam toilet aku keluar. Saat
aku baru melangkah keluar dari toilet, seseorang menarik tanganku dengan kasar.
Dia menyeretku kearah pojok dekat toilet itu. aku sangat terkejut dengan apa
yang terjadi. Saat ku pandangi wajah orang itu ternyata itu adalah Kevin.
“Kevin… Ada apa ini? Apa yang kau lakukan?” aku bertanya
padanya sambil berusaha melepaskan tangannya yang memegang tanganku erat.
“Aku tidak banyak waktu Natasya. Aku hanya ingin bertanya
padamu? Apa kau benar-benar mencintai Mark?” Tanyanya dengan suara mengeram.
“Iya kau mencintainya, sangat mencintainya.” jawabku tegas.
“Kau mencintai Mark karena uangnya saja, kan?” pertanyaan itu
langsung membuatku emosi.
“Apa maksudmu Kev? Aku mencintainya dengan tulus tanpa ada
maksud apapun. Kenapa? Apa ada yang salah dengan itu?” emosiku sudah tak bisa
kutahan lagi.
“Kau tidak pantas untuknya, tinggalkan dia secepatnya.” mata
Kevin menunjukkan kemarahan yang sangat besar padaku.
“Aku takkan pernah meninggalkannya. Sampai maut memisahkan
kami.” Aku meyakinkannya.
“Kau harus tahu kalau akulah yang pantas untuknya bukan kau.
Dan akan kupastikan hidupmu akan menderita jika kau tak segera meninggalkannya.”
katanya sambil melepaskan pegangannya yang kuat dilenganku.
Aku terdiam, dia benar-benar mengancamku.
“Iya, jika kau memberitahukan ini ke Mark, aku juga akan
membuatnya kembali ke Dublin secepat mungkin, dan takkan pernah kembali lagi
kesini. “ katanya sambil meninggalkanku.
***
Aku tersandar lemas didinding,
jantungku berdetak lebih cepat, keringatku mulai bercucuran. Aku benar-benar
takut jika mengingat yang barusan dikatakan Kevin padaku. Aku takut jika dia
benar-benar membuat Mark kembali keDublin dan aku juga takut kalau dia
melakukan hal-hal aneh padaku.
Aku menghela nafasku, berusaha untuk tetap tenang. Lalu aku
masuk kedalam toilet lagi untuk bercermin, merapikan dandananku lagi. Saat
bercermin, kulihat ada tanda memerah bekas pegangan Kevin yang kuat dilenganku
sebelah kanan. Setelah selesai aku bergegas keluar, Mark pasti sudah
menungguku.
Saat aku keluar dari kamar aku terkejut melihat Mark yang
sudah ada didepan pintu toilet itu.
“Hai Mark..” aku
menyapanya sambil memaksakan untuk tersenyum.
“Kau baik-baik saja sayang? Aku khawatir padamu.”
“Aku baik-baik saja.” jawabku pelan.
“Kau yakin sayang. Tapi wajahmu sedikit pucat, sayang.” Mark
memandangiku dan menyentuh keningku. “Asya, badanmu dingin sekali, kau sakit
sayang?” Mark lalu membuka jas yang dipakainya dan memakaikannya padaku.
“Aku
baik-baik saja Mark, sungguh.”
“Kita pulang sekarang saja.” Mark melingkarkan tangannya
kebahuku. Dan kami pun berjalan keluar. “
Kami pulang setelah Mark menemui
Brian. Saat aku terdiam dimobil pikiran tentang Kevin tadi pun bermunculan
diotakku. Dan aku segera menyingkirkan itu semua, aku tak ingin Mark curiga
padaku.
“Sayang,sepertinya kau benar-benar tidak sehat.” Mark
menyentuh tanganku.
“Aku hanya mengantuk dan lelah saja, Mark.”
“Sebaiknya kau tidur saja, sayang.”
Lalu aku memejamkan mataku, pikiran itu sangat sulit untukku
hilangkan. Ingin rasanya aku menangis, lalu aku berpaling melihat kearah
jendela. Hingga akhirnya rasa kantuk menghampiriku dan aku benar-benar
tertidur.
Woo…Mark ninggalin jejak di tubuh Asya. Kira2 jejak apaan tuh ya hehehe
BalasHapusKevin nya ngebet bgt ya sm Mark smp segitunya…
ckckckck
ssstttt, kyk gak prnah ditinggalin jejak sm gale aja nih Dhea :D
BalasHapusKevin, nafsu bgt malah hahha