Chapter 2
Aku hanya mampu menganggukkan
kepalaku meng-iyakan ucapan Gale. Ia menatapku dengan seakan tak percaya dengan
jawaban yang aku berikan padanya.
“Apa kau sungguh-sungguh? Kau
benar-benar mau menjadi kekasihku?”
“Iya, aku mau menjadi kekasihmu.
Gale.” Jawabku sambil tersenyum.
Gale langsung memeluk erat
tubuhku dan mengangkat tubuhku sambil berputar-putar.
“Gale…. Turunkan aku…” ucapku
sambil berteriak, karena dia terus mengajakku berputar-putar.
“Tidak akan, sayang.”
“Kau membuat kepalaku pusing.
Aku mohon berhentilah kau akan membuatku muntah.”
Lalu Gale berhenti dan
menurunkanku dengan hati-hati, ia masih menopang tubuhku dan kembali memelukku
dengan erat. Jari-jarinya di selipkan di rambutku lalu membelainya dengan
mesra. Matanya menatap mataku dengan intens, senyuman khasnya menghiasi wajah
tampannya. Lalu Gale mendekatkan wajahnya sehingga kening kami saling menempel.
“Aku sangat bahagia sekali,
Dhea, aku merasa menjadi lelaki yang paling beruntung di dunia ini.”
“Oh, Gale, kau terlalu
berlebihan.” Wajahku semakin memanas karena posisi kami yang sangat berdekatan
seperti ini.
Aku bisa merasakan nafasnya di
wajahku, aroma tubuhnya sangat wangi sekali, perpaduan dari cologne dan wangi
khas tubuhnya. Benar-benar memabukkanku, ya ampun perasaan apa ini?
“Hei, mengapa kau terdiam
seperti itu? Apakah aku melakukan kesalahan?”
“Tidak, Gale, kau tidak
melakukan kesalahan apapun.”
“Lalu kau kenapa? Mengapa kau
terdiam seperti ini? Kau sedang memikirkan apa?”
“Aku hanya berpikir, apakah aku
pantas untuk mendampingimu.”
“Sayang, kau benar-benar pantas
untuk diriku. Kau begitu sempurna di mataku, jadi aku mohon berhentilah
berpikiran bahwa kau tidak pantas untukku.”
Aku tersenyum mendengarnya,
perkataannya berhasil menenangkan hatiku, “Terima kasih, Gale.”
Tiba-tiba Gale mendaratkan
bibirnya di bibirku, ia mencium bibirku dengan begitu lembut sekali. Dengan malu-malu
akupun mulai membalas ciumannya. Lama-lama ciuman kami berubah menjadi sangat
panas sekali, Gale berhasil meneroboskan lidahnya kedalam mulutku sedangkan aku
hanya bisa terkesiap. Aku mulai merasakan sesak nafas karena ciumannya sangat
intens dan panas sekali. Beberapa kali aku mengerang karena Gale menggigit
bibir bawahku dengan gemas.
“Kau milikku, Dhea.” Ucapnya setelah
melepaskan ciumannya.
Lagi lagi aku hanya bisa
tersenyum. Lalu kami memutuskan untuk menikmati sore hari di tempat itu. Entah sejak
kapan ada sebuah meja dengan paying yang besar dan dua buah kursi disana
lengkap dengan peralatan untuk minum teh.
“Pemandangan yang sangat indah
sekali.”
“Kau menyukainya?”
“Sangat menyukainya Gale, terima
kasih. Dari mana kau tahu bahwa aku
menyukai bunga mawar?”
“Sebenarnya apapun yang kau
sukai dan yang tidak kau sukai aku mengetahui semuanya.”
“Kau sudah menguntitku?” tanyaku
sambil memelototinya, tapi Gale hanya tersenyum seperti seorang anak kecil.
“Karena aku bisa, sayang.”
“Ya, aku sangat mengerti sekali.”
Diam-diam aku memperhatikannya,
Gale memang sangat tampan sekali. Wajahnya seperti di pahat dengan sangat
sempurna. Semua yang ada didirinya benar-benar indah, matanya, hidungnya bahkan
bibirnya semua itu memabukanku. Aku tak menyangka bahwa ia bisa tergila-gila
padaku.
“Sedang menikmati pertunjuka,
sayang?” tegurnya sambil mengedipkan matanya padaku.
“Ah, tidak juga… Tempatnya
indah, ya.” Jawabku tergugu.
Wajahku kembali memanas, aku
sangat malu sekali. Ternyata ia tahu bahwa aku sedang memperhatikannya.
“Ayo berdiri, sebentar lagi ada
ada pertunjukan yang lebih indah.” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku.
Aku menggapai uluran tangannya
lalu berdiri dengan hati-hati disampingnya. Dan tak lama kemudian semburat
berwarna jingga muncul. Pancaran warnanya begitu indah sekali.
“Ya Tuhan, ini benar-benar ind…”
tiba-tiba Gale mendaratkan ciumannya di bibirku.
Kami berciuman di waktu matahari
tenggelam cukup lama. Suasana yang sangat romantic sekali. Ini pengalaman
pertama bagiku. Setelah hari mulai menjadi gelap Gale mengajakku pulang. Sebelum
masuk kedalam mobil aku sempat berkaca pada kaca mobil karena aku merasakan
bibirku membengak. Mungkin karena Gale terlalu gemas mencium dan mengigiti
bibirku.
Kira-kira
Asya dan Lila akan menyadari adanya perbedaan dengan bibirku tidak, ya? Ah aku
sangat malu sekali jika mereka berdua tahu. Aku tak tahu harus bilang apa pada
mereka berdua.
“Sayang, ayo cepat masuk udara
sudah mulai dingin.”
Aku buru-buru masuk kedalam
mobil lalu dia mengikuti dari belakang. Selama perjalanan pulang kami berdua saling pandang dan tersenyum
malu-malu sambil menautkan jari-jari kami. Benar-benar dua orang yang sedang jatuh cinta.
Setelah perjalanan yang cukup
panjangn akhirnya kami sampai di depan apartemenku.
“Kau mau mampir dulu?”
“Tidak, sayang, nanti saja aku
tak ingin mengganggu belajarmu.”
“Ah, baiklah kalau begitu. Kau hati-hati
di jalan, ya.”
“Tentu saja aku akan
berhati-hati, karena aku tidak ingin membuat kekasihku sedih.”
“Ya sudah, kalau begitu aku
masuk dulu, ya.” Ketika tanganku sudah memeganng handle pintu Gale membalik
badanku.
“Tunggu dulu, sayang.”
“Ada apa lagi?” tanyaku sambil
mengerutkan kening.
Lalu dia kembali menciumku
dengan begitu dalam dan begitu keras, menggigit bibir bawahku. Kali ini aku pun
melakukan hal yang sama aku menggigit bibir bawahnya dan meneroboskan lidahku
masuk kedalam mulutnya. Lidah kami saling bertautan, ciuman kami menjadi semain
panas.
Nafasku mulai terengah-engah
begitupun juga dengan Gale, tatapan matanya jadi berkabut tapi tetap membakar
tubuhku. Sampai akhirnya aku melepaskan ciumannya.
“Gale… Aku harus masuk kedalam,”
suaraku terdengar sedikit bergetar dan agak serak dengan nafas yang masih
memburu.
“Maaf, sayang, kau membuatku
hampir kehlangan kemdali. Masuklah, aku akan pergi jika kau sudak masuk ke
dalam. I love you Angel.” Ucapnya sambil
mencium keningku.
“I love you too.”
Lalu
aku turun dari dalam mobil dan bergeges masuk ke dalam apartemen. Dan ketika
aku melirik mobil Gale pergi setelah aku masuk. Aku langsung melanjutkan
perjalananku menuju ke lift. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk menghentikan
detakan jantungku yang begitu keras.
Merapikan diriku mengingat aku
dan Gale tadi begitu panasnya berciuman di dalam mobil mengingat itu wajahku
kembali memanas. Aku memegangi bibirku yang masih membengkak karena ciuman Gale
tadi. Bagaimana aku harus mengatakannya pada Asya dan Lila? Lamunanku terhenti
ketika lift berhenti di lantai yang aku tuju.
Dengan gemataran aku membuka
pintu apartemen dan ketika masuk mendapati Asya dan Lila di ruang depan di
temani dengan buku-buku yang berserakan di mana-mana.
“Hai, kau sudah pulang rupanya.”
“Hai Asya hai Lila, maaf aku
pulang terlambat,” aku berkata sambil duduk di samping Lila.
“Kau baik-baik saja kan, Dhee?”
Lila bertanya sambil memperhatikan wajahku dengan begitu seksama.
“Aku baik-baik saja, Lila.”
“Sepertinya kau terlihat sangat
ceria sekali, Dhee. Wajahmu bersemu merah dan bersemi-semi.”
“Aku baik-baik saja, Asya.”
“Kau tadi pergi dengan eksekutif
itu, ya?”
“Lila, namanya Gale.”
“Gale maksudku, maaf. Dia tidak
melakukan hal yang aneh padamu, kan?”
“Tidak, Lila, Gale sangat baik
padaku. Kau tak perlu khawatir.”
“Apakah kalian berdua pada
akhirnya memutuskan untuk pacaran?”
Tebakanmu benar Asya, aku
menjawab dalam hati sambil tersenyum penuh arti.
wuuaaaa...its beautiful!!!
BalasHapusmakin romantis ceritanya.
deg deg seeer bacanya pas adegan cup cup ahh itu :D
Lanjutkan!!!
hehehehe.......
ada yang senyum2 sendiri nih kyaknya..
BalasHapusheheheheheheh :D
wehehehe....iya nieh udah kyk orgil aja . nyeess banget bacanya kyk bnran aku aja itu yg ngalamin :p
BalasHapus