Minggu, 25 November 2012

Chapter 2


Chapter 2



                Aku hanya mampu menganggukkan kepalaku meng-iyakan ucapan Gale. Ia menatapku dengan seakan tak percaya dengan jawaban yang aku berikan padanya.

                “Apa kau sungguh-sungguh? Kau benar-benar mau menjadi kekasihku?”
                “Iya, aku mau menjadi kekasihmu. Gale.” Jawabku sambil tersenyum.

                Gale langsung memeluk erat tubuhku dan mengangkat tubuhku sambil berputar-putar.

                “Gale…. Turunkan aku…” ucapku sambil berteriak, karena dia terus mengajakku berputar-putar.
                “Tidak akan, sayang.”
                “Kau membuat kepalaku pusing. Aku mohon berhentilah kau akan membuatku muntah.”

                Lalu Gale berhenti dan menurunkanku dengan hati-hati, ia masih menopang tubuhku dan kembali memelukku dengan erat. Jari-jarinya di selipkan di rambutku lalu membelainya dengan mesra. Matanya menatap mataku dengan intens, senyuman khasnya menghiasi wajah tampannya. Lalu Gale mendekatkan wajahnya sehingga kening kami saling menempel.

                “Aku sangat bahagia sekali, Dhea, aku merasa menjadi lelaki yang paling beruntung di dunia ini.”
                “Oh, Gale, kau terlalu berlebihan.” Wajahku semakin memanas karena posisi kami yang sangat berdekatan seperti ini.

                Aku bisa merasakan nafasnya di wajahku, aroma tubuhnya sangat wangi sekali, perpaduan dari cologne dan wangi khas tubuhnya. Benar-benar memabukkanku, ya ampun perasaan apa ini?

                “Hei, mengapa kau terdiam seperti itu? Apakah aku melakukan kesalahan?”
                “Tidak, Gale, kau tidak melakukan kesalahan apapun.”
                “Lalu kau kenapa? Mengapa kau terdiam seperti ini? Kau sedang memikirkan apa?”
                “Aku hanya berpikir, apakah aku pantas untuk mendampingimu.”
                “Sayang, kau benar-benar pantas untuk diriku. Kau begitu sempurna di mataku, jadi aku mohon berhentilah berpikiran bahwa kau tidak pantas untukku.”
                Aku tersenyum mendengarnya, perkataannya berhasil menenangkan hatiku, “Terima kasih, Gale.”

                Tiba-tiba Gale mendaratkan bibirnya di bibirku, ia mencium bibirku dengan begitu lembut sekali. Dengan malu-malu akupun mulai membalas ciumannya. Lama-lama ciuman kami berubah menjadi sangat panas sekali, Gale berhasil meneroboskan lidahnya kedalam mulutku sedangkan aku hanya bisa terkesiap. Aku mulai merasakan sesak nafas karena ciumannya sangat intens dan panas sekali. Beberapa kali aku mengerang karena Gale menggigit bibir bawahku dengan gemas.

                “Kau milikku, Dhea.” Ucapnya setelah melepaskan ciumannya.

                Lagi lagi aku hanya bisa tersenyum. Lalu kami memutuskan untuk menikmati sore hari di tempat itu. Entah sejak kapan ada sebuah meja dengan paying yang besar dan dua buah kursi disana lengkap dengan peralatan untuk minum teh.

                “Pemandangan yang sangat indah sekali.”
                “Kau menyukainya?”
                “Sangat menyukainya Gale, terima kasih. Dari  mana kau tahu bahwa aku menyukai bunga mawar?”
                “Sebenarnya apapun yang kau sukai dan yang tidak kau sukai aku mengetahui semuanya.”
                “Kau sudah menguntitku?” tanyaku sambil memelototinya, tapi Gale hanya tersenyum seperti seorang anak kecil.
                “Karena aku bisa, sayang.”
                “Ya, aku sangat mengerti sekali.”

                Diam-diam aku memperhatikannya, Gale memang sangat tampan sekali. Wajahnya seperti di pahat dengan sangat sempurna. Semua yang ada didirinya benar-benar indah, matanya, hidungnya bahkan bibirnya semua itu memabukanku. Aku tak menyangka bahwa ia bisa tergila-gila padaku.

                “Sedang menikmati pertunjuka, sayang?” tegurnya sambil mengedipkan matanya padaku.
                “Ah, tidak juga… Tempatnya indah, ya.” Jawabku tergugu.

                Wajahku kembali memanas, aku sangat malu sekali. Ternyata ia tahu bahwa aku sedang memperhatikannya.

                “Ayo berdiri, sebentar lagi ada ada pertunjukan yang lebih indah.” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku.
               
                Aku menggapai uluran tangannya lalu berdiri dengan hati-hati disampingnya. Dan tak lama kemudian semburat berwarna jingga muncul. Pancaran warnanya begitu indah sekali.
               
                “Ya Tuhan, ini benar-benar ind…” tiba-tiba Gale mendaratkan ciumannya di bibirku.

                Kami berciuman di waktu matahari tenggelam cukup lama. Suasana yang sangat romantic sekali. Ini pengalaman pertama bagiku. Setelah hari mulai menjadi gelap Gale mengajakku pulang. Sebelum masuk kedalam mobil aku sempat berkaca pada kaca mobil karena aku merasakan bibirku membengak. Mungkin karena Gale terlalu gemas mencium dan mengigiti bibirku.

                Kira-kira Asya dan Lila akan menyadari adanya perbedaan dengan bibirku tidak, ya? Ah aku sangat malu sekali jika mereka berdua tahu. Aku tak tahu harus bilang apa pada mereka berdua.

                “Sayang, ayo cepat masuk udara sudah mulai dingin.”

                Aku buru-buru masuk kedalam mobil lalu dia mengikuti dari belakang. Selama perjalanan pulang  kami berdua saling pandang dan tersenyum malu-malu sambil menautkan jari-jari kami. Benar-benar dua orang yang sedang  jatuh cinta.

                Setelah perjalanan yang cukup panjangn akhirnya kami sampai di depan apartemenku.

                “Kau mau mampir dulu?”
                “Tidak, sayang, nanti saja aku tak ingin mengganggu belajarmu.”
                “Ah, baiklah kalau begitu. Kau hati-hati di jalan, ya.”
                “Tentu saja aku akan berhati-hati, karena aku tidak ingin membuat kekasihku sedih.”
                “Ya sudah, kalau begitu aku masuk dulu, ya.” Ketika tanganku sudah memeganng handle pintu Gale membalik badanku.
                “Tunggu dulu, sayang.”
                “Ada apa lagi?” tanyaku sambil mengerutkan kening.

                Lalu dia kembali menciumku dengan begitu dalam dan begitu keras, menggigit bibir bawahku. Kali ini aku pun melakukan hal yang sama aku menggigit bibir bawahnya dan meneroboskan lidahku masuk kedalam mulutnya. Lidah kami saling bertautan, ciuman kami menjadi semain panas.

                Nafasku mulai terengah-engah begitupun juga dengan Gale, tatapan matanya jadi berkabut tapi tetap membakar tubuhku. Sampai akhirnya aku melepaskan ciumannya.

                “Gale… Aku harus masuk kedalam,” suaraku terdengar sedikit bergetar dan agak serak dengan nafas yang masih memburu.
                “Maaf, sayang, kau membuatku hampir kehlangan kemdali. Masuklah, aku akan pergi jika kau sudak masuk ke dalam. I love you Angel.” Ucapnya sambil mencium keningku.
                I love you too.”

                Lalu aku turun dari dalam mobil dan bergeges masuk ke dalam apartemen. Dan ketika aku melirik mobil Gale pergi setelah aku masuk. Aku langsung melanjutkan perjalananku menuju ke lift. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk menghentikan detakan jantungku yang begitu keras.

                Merapikan diriku mengingat aku dan Gale tadi begitu panasnya berciuman di dalam mobil mengingat itu wajahku kembali memanas. Aku memegangi bibirku yang masih membengkak karena ciuman Gale tadi. Bagaimana aku harus mengatakannya pada Asya dan Lila? Lamunanku terhenti ketika lift berhenti di lantai yang aku tuju.

                Dengan gemataran aku membuka pintu apartemen dan ketika masuk mendapati Asya dan Lila di ruang depan di temani dengan buku-buku yang berserakan di mana-mana.

                “Hai, kau sudah pulang rupanya.”
                “Hai Asya hai Lila, maaf aku pulang terlambat,” aku berkata sambil duduk di samping Lila.
                “Kau baik-baik saja kan, Dhee?” Lila bertanya sambil memperhatikan wajahku dengan begitu seksama.
                “Aku baik-baik saja, Lila.”
                “Sepertinya kau terlihat sangat ceria sekali, Dhee. Wajahmu bersemu merah dan bersemi-semi.”
                “Aku baik-baik saja, Asya.”
                “Kau tadi pergi dengan eksekutif itu, ya?”
                “Lila, namanya Gale.”
                “Gale maksudku, maaf. Dia tidak melakukan hal yang aneh padamu, kan?”
                “Tidak, Lila, Gale sangat baik padaku. Kau tak perlu khawatir.”
                “Apakah kalian berdua pada akhirnya memutuskan untuk pacaran?”
               
                Tebakanmu benar Asya, aku menjawab dalam hati sambil tersenyum penuh arti.

3 komentar:

  1. wuuaaaa...its beautiful!!!
    makin romantis ceritanya.
    deg deg seeer bacanya pas adegan cup cup ahh itu :D

    Lanjutkan!!!

    hehehehe.......




    BalasHapus
  2. ada yang senyum2 sendiri nih kyaknya..

    heheheheheheh :D

    BalasHapus
  3. wehehehe....iya nieh udah kyk orgil aja . nyeess banget bacanya kyk bnran aku aja itu yg ngalamin :p

    BalasHapus