Minggu, 25 November 2012

The First Story


First Story

Chapter  1

                “Dhea…” tiba-tiba saja aku mendengar suara Gale memanggil namaku dan aku hanya mendongkak saja menanggapinya, “Apakah kuliahmu sudah selesai?”
                “Memangnya ada apa? Mengapa kau ada di kampusku bukankah kau biasanya selalu sibuk dengan bisnis-bisnismu itu?”
                “TIdak untuk hari ini, sayang. Aku ingin membawamu ke suatu tempat.”
                “Dhee, aku sama Lila pergi ke perpus dulu, ya. Bye.” Pamit Asya sambil menarik tangan Lila yang sedang serius membaca buku lalu mereka berdua meninggalkan aku dan Gale berdua.              
                “Kau mau mengajakku kemana?”
                “Rahasia. Ayo kita pergi sekarang.” Jawabnya sambil memamerkan senyuman khasnya yang bisa membuat para wanita lemas jika melihatnya.
                “Tidak, aku harus belajar untuk ujian tengah semesterku minggu depan.”
                “Ayolah, Dhea aku mohon kau mau ikut,ya.”
                “Tidak, kau saja tidak mau memberitahuku kemana kau akan membawaku.”
                “Aku bermaksud untuk memberikan sebuah kejutan padamu, Dhea. Jika aku mengatakannya percuma saja aku menyiapkan semuanya.”
                “Sudahlah, Gale. Aku mau menyusul Lila dan Asya di perpustakaan.” Jawabku sambil berdiri dan bersiap-siap untuk pergi.
                Tiba-tiba Gale berlutut di hadapanku, menanggap tanganku dan menggenggamnya dengan begitu erat, “Dhea, aku mohom. Aku hanya ingin meyakinkanmu bahwa aku benar-benar begitu tulus mencintaimu. Aku belum pernah sebegitu tertariknya pada seseorang, wajahmu selalu membayangiku di setiap waktuku, Dhea.”
                “Kau pikir aku hantu. Sudah, sudah aku mau pergi ke perpustakaan. Sebaiknya kau berdiri, jangan membuatku malu, kau mengerti.”
                “Aku tidak akan berdiri Dhea.”
                “Astaga, kau jangan konyol, Gale. Apa kau tidak malu, kau ini seorang pengusaha sukses dan terpandang. Kau bisa mendapatkan wanita manapun yang kau inginkan. Tapi mengapa kau terus saja mengejarku.”
                “Karena aku jatuh cinta padamu Miss Dheandra Ilana Putri.kan  Aku langsung terbelalak ketika Gale menyebutkan nama lengkapku, “Bagaimana kau tahu nama lengkapku?”
                “Karena aku sangat mencintaimu Dhea.”

                Semakin lama kerumunan para mahasiswa berkumpul di tempatku dan Gale berada. Mereka terlihat berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arahku. Ya Tuhan, pria ini benar-benar sudah membuatku malu di depan banyak orang.

                “Gale, ayo cepat berdiri. Lihat perbuatanmu mengundang perhatian banyak orang.”
                “Sudah kubilang aku takkan beranjak dari tempat ini sebelum kau menyetujui ajakanku, Dhea.”
                “Mengapa kau benar-benar menyebalkan.”
                “Karena aku mencintaimu, Dhea. Itulah mengapa aku bisa sampai melakukan hal-hal yang kau sebut konyol.”
                Dengan setengah hati akhirnya akupun menyetujui ajakannya. Aku setuju semata-mata agar bisa pergi dari kampus saja. “Baiklah aku akan ikut denganmu, jadi sekarang kau berdiri dan kita pergi dari sini secepatnya.”
                Mendengar ucapanku itu Gale langsung berdiri dengan wajah yang berseri-seri, “Benarkah itu?”
                “Jangan banyak tanya, jangan sampai aku merubah kemballi pikiranku, Gale.”
                “Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi dari sini.”
                               
                Aku dan Gale pun langsung menerobos kerumunan para mahasiswa yang tadi mengerumuni kami berdua. Gale berjalan di sampingku sambil terdiam, mungkin ia takut kalau kalau aku merubah pikiranku lagi. Lucu juga melihat Gale seperti ini, wajah tampannya yang biasanya terlihat berwibawa sekarang seperti wajah anak SMA yang ketakutan. Diam-diam aku tersenyum memikirkannya. Dan akhirnya kami sampai di luar kampus, di sana sudah ada sebuah mobil Bentley berwarna hitam.

                Gale membukakan pintu untukku lalu ia menyusul masuk dan duduk di sebelahku. Masih terdiam, pandangannya lurus kedepan entah apa yang sedang di pikirkannya saat ini.

                “Aku Cuma mau mengingatkanmu saja, jangan mengantarkanku pulang terlalu malam. Karena aku harus belajar untuk ujianku minggu depan.”
                “Kau tenang saja, Dhea. Aku akan mengantarkanmu pulang tepat pukul delapan malam.”
                “Baiklah kalau begitu.”

                Gale kembali terdiam, suasana di dalam mobil menjadi sangat hening. Hanya suara deru mesin yang terdengar. Ya ampun, ada apa dengan pria ini? Tadi ia begitu banyak sekali berbicara tapi mengapa sekarang ia malah menngacuhkanku? Benar-benar pria yang aneh, mengapa aku bisa bersamanya saat ini. Tiba-tiba suara ponselku berbunyi, ternyata Lila yang menelepon.

                “Halo, iya ada apa?... Sepertinya aku akan pulang terlambat kerumah ada urusan dulu… Tidak Lila, tidak usah kau sebaiknya pulang duluan bersama Asya… Aku baik-baikn saja nanti aku ceritakan kalau aku sudah pulang. Bye…”
                “Siapa yang menelepon?”
                “Itu tadi Lila yang menelepon, aku lupa kalau hari ini kami ada janji akan pergi ke toko buku.”
                “Maaf, karena aku sudah memaksamu untuk pergi bersamaku, Dhea.”
                “SUdahlah, Gale, lagipula mau sampai kapan aku terus menghindarimu? Aku juga lelah.”
                “Maafkan aku, Dhea, karena seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Aku benar-benar jatuh cinta padamu, perasaan yang aku rasakan kali ini benar-benar berbeda dengan perasaan yang pernah aku rasakan sebelumnya.”
                “Gale, kau ini tampan, seorang eksekutif muda yang sukses, selalu bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan. Kau selalu bisa mendapatkan yang terbaik dalam segala hal, aku yakin kau bisa medapatkan wanita yang terbaik.”
                “Tapi bagiku kaulah yang terbaik, Dhea. Kaulah pusat kehidupanku, apapun akan kulakukan untuk selalu menjagamu.”

                Oh ya Tuhan, kata-katanya menimbulkan perasaan menyenangkan di dalam hatiku. Oh Gale, aku juga memiliki perasaan yang sama padamu, hanya saja aku merasa tidak pantas untuk mendampingimu. Aku tak yakin bahwa aku bisa mengimbangimu, Gale.
                “Dhea, kau mau jadi kekasihku, kan? Aku mohon?”
                “Gale… Aku… Aku.. Aku tak tahu, berikan aku waktu untuk berpikir beberapa saat, please?”
                “Baiklah, aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir. Dan aku akan menagih jawabannya darimu ketika kita sampai.”
                “Terima kasih, Gale.” Ia hanya memamerkan senyumannya yang khas di wajahnya yang aristocrat.

                Dalam perjalanan menuju ke tempat yang masih aku belum tahu kemana, aku terus memikirkan jawaban untuk Gale nanti. Ya, sebenarnya aku sudah punya jawabannya dan jawabanku ‘Iya’ hanya saja aku ingin lebih meyakinkan diri dan hatiku. Aku perlu mendapatkan keyakinan ekstra agar aku merasa pantas untuk bersanding dengan Gale. Harusnya Asya dan Lila ada untuk memberikanku masukan.

                Aku merasakan mobil melambat, lalu Gale tersenyum padaku.

                “Aku ingin kau menutup matamu, sebenarnya aku tidak ingin tapi aku harus melakukannya.” Lalu Gale melepaskan dari berwarna hitam metalik yang dipakainya, “Bolehkah aku menutup matamu dengan ini?”
                “Oh… Tentu saja, jika itu memang harus kau lakukan.”

                Dengan sigap dan lembut ia menutup kedua mataku dengan dasinya itu, ternyata dasinya sangat lembut sekali. Tak lama kemudian aku merasakan bahwa mobil sudah berhenti. Aku mulai bertanya-tanya dalam hati, tempat seperti apa yang aku datangi ini.

                Aku merasakan seseorang membuka pintu mobil di sampingku, lalu aku merasakan cengkraman kuat dari tangan Gale yang membantuku keluar dari dalam mobil. ketika aku keluar angin sepoi-sepoi menerpa wajahku dengan lembut. Aku menghirup udara dalam-dalam secara spontan.

                “Ayo, aku akan membimbingmu untuk berjalan. Hati-hati.”
                “Gale, kapan kau akan membuka penutup mataku?”
                “Sebentar lagi, sayang.”

                Aku hanya menurut saja dan tidak bertanya apa-apa padanya.

                “Kita sudah sampai, sayang. Aku akan segera membuka matamu dan aku harap kau akan suka dengan kejutan yang sudah aku siapkan ini.” Ia berkata sambil membuka penutup mataku dengan perlahan dan sangat lembut sekali.

                Sentuhan-sentuhan jarinya di wajahku memunculkan sebuah perasaan yang aneh. Perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Membuat seluruh wajah dan tubuhku memanas.

                “Baiklah sekarang buka matamu perlahan-lahan.” Perintahnya padaku.
               
                Aku menuruti perkataannya, membuka mataku secara perlahan. Aku begitu terpana melihat pemandangan di depanku. Kami berada di sebuah tempat yang di kelilingi oleh padang bunga mawar putih. Lalu ada bunga mawar merah yang rangkai menjadi sebuah tulisan “WOULD YOU BE MY ANGEL DHEA?” dengan ukuran yang sangat besar sekali. Ya Tuhan, ini benar-benar sangat indah sekali aku tak bisa berkata apa-apa. Kejutan ini sangat indah dan sangat romantic sekali.

                “Oh, Gale…” aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa yang aku tahu bahwa ujung mataku mulai memanas. Air mataku sudah tidak sabar untuk membasahi pipiku yang memanas.
                “Kau suka?” tanyanya dengan ragu-ragu.
                “Gale, ini… sangat indah sekali sungguh, aku tidak tahu harus mengatakan apa.”
                “Hei, jangan menangis. Aku mohon Dhea, jangan menangis.” Ucapnya dengan nada suara panic dan mengusap air mata yang jatuh di pipiku..
                “Aku menangis karena terharu dan bahagia, Gale.”
                “Apakah itu berarti YA?”

3 komentar:

  1. akhirnyaaa Chapter 1 muncuul juga ya..
    Keren, romantis bgt.. pengen u.u
    Trus, ada dasinya juga. Inget sesuatu deh ttg dasi hahahaa
    Eh, Dhea malu-malu tapi mau ya?? :D

    BalasHapus
  2. ana sama christian tu pke dase abu abu xD

    wkwkwkwkwkwkwk

    Gale ada ada aja tuh..

    BalasHapus
  3. Huuuaaaa....mupeng...
    Serasa jadi Dhea beneran....
    bacanya diulang2 sambil senyum2 sendiri

    :D

    BalasHapus