Rabu, 28 November 2012

Chapter 5


Chapter 5



                “Jika bukan karena dukungan dari kalian berduan dan kekeras kepalaan Kyle aku akan tetap menjadi sebuah pulau yang terisolasi.”
                “Jadi kita punya sesuatu untuk kita rayakan malam ini. Mari bersulang.” Seru Gale sambil mengangkat gelasnya.

                Lalu kamipun mengangkat gelas masing-masing dan bersulang untuk kelanggengenan hubungan kami semua. Benar-benar malam yang indah setelah dua tahun belakangan ini aku selalu di hantui oleh Matt.

***

                Semalam benar-benar sangat menyenangkan sekali. Aku bahagia akhirnya Lila kembali seperti Lila yang dulu kami kenal. Karena sekarang Lila sudah berhasil keluar dari baying-bayang masa lalunya. Siang nanti Mark akan datang untuk menjemputku.

                Ia bilang ada yang ingin dibacarakan denganku, selain itu ia juga ingin menunjukkan sesuatu padaku. Aku jadi degdegan memikirkan ha apa yang akan Mark bicarakan denganku, aku jadi seperti orang bodoh saja karena tersenyum-senyum sendiri. Tak ayal Dhea dan Lila menjadikanku bulan-bulanan.

                “Sepertinya aka nada yang di tembak nih nanti siang.”
                “Kau benar, Dhee, soalnya dari tadi kerjaannya hanya tersenyum-senyum sendiri.”
                “Dhee… Lila… Berhenti mengolok-olokku, lagipula belum tentu Mark akan menyatakan perasaan cinta padaku.”
                “Hey, mengapa kau jadi pesimis seperti ini, Sya. Bukankah kau yang selalu berkata padaku untuk optimis. Dan lihatlah sekarang, akhirnya aku pacaran juga dengan Kyle, bukan.”
                “Iya, Lila, aku tahu itu. Tapi…”
                “Tidak ada kata tapi, kau harus optimis, Sya. Mark menyukaimu apakah kau tidak melihat dan merasakannya?”
                “Aku tahu, Dhee. Karena aku juga menyukai Mark hanya saja aku merasa minder, aku merasa tidak pantas untuk mendampingi Mark.”    
                “Dengar Sya, ketika Gale menyatakan perasaannya padaku, aku juga sempat memiliki perasaan yang sama sepertimu. Aku merasa bahwa aku tidak pantas untuk Gale dan aku tidak akan bisa mengimbanginya. Tapi aku membuang jauh-jauh perasaan itu, aku lebih percaya pada kata hatiku dan ketulusan yang Gale tunjukan padaku. Kau bisa lihat kami sekarangkan, lihat juga Lila dan Kyle. Yang harus kau lakukan adalah percaya pada hatimu dan lihatlah ketulusan Mark.”
                “Yang dikatakan Dhee benar, Sya. Ayo ayo jangan pesimis, mana Asya yang selalu ceria dan optimis seperti biasanya.”
                “Makasih buat supportnya girls,” aku memeluk Dhea dan Lila erat dengan perasaan terharu.
                “Sebaiknya kau bersiap-siap, sebentar lagi Mark tiba, bukan.”
                “Ayo, kita akan membantumu untuk bersiap-siap.”                                                              

                Dhea dan Lila membawaku ke kamar, lalu mereka membantuku untuk berias diri. Benar-benar saat yang menyenangkan sekali. Karena aku bisa menyaksikan Dhea dan Lila berdebat tentang pakaian apa yang akan aku kenakan saat bertemu dengan Mark. Dan akhrirnya pilihan kami bertiga jatuh pada sebuah gaun berwarna  silver berpotongan hatler neck. Sebenernya itu gaun milik Lila dan aku tidak percaya diri menggunakannya, karena pakaian itu memamerkan punggungku. Tapi Dhea dan Lila memaksa.

                Tepat pukul satu Mark tiba dan Lila yang membukakan pintunya, sedangkan Dhea masih menahanku di dalam kamar. Tapi aku bisa mendengar percakapan Lila dan Mark dari dalam, setelah beberapa saat menunggu akhirnya Dhea mengizinkanku untuk keluar.

                “Nah itu Asya sudah siap.”
                Ketika aku menghampiri Mark dan Lila di ruang depan, Mark langsung berdiri. Ia sepertinya terkejut melihatku, aku berasumsi itu karena pakaian yang aku pakai saat ini.

                “Ya Tuhan, kau sangat cantik sekali, Asya.”
                Mendengar ucapan Mark wajahku langsung  memanas. Tuhan, jangan buat wajahku memerah, meskipun aku sangat yakin sekali pasti saat ini wajahku sudah sangat merah sekali seperti buah tomat.

                “Asya cantik bukan, Mark?”
                “Iya Dhee, Asya sangat cantik sekali, bolehkah aku membawanya pergi sekarang?”
                “Tentu saja, kau harus menjaga Asya kami baik-baik. Awas saja jika ada lecet di tubuhnya kau akan berurusan denganku.”
                “Hati-hati Mark, Lila ini pemegang sabuk hitam karate.”
                “Kalian berdua sudahlah aku akan baik-baik saja. Mark pasti akan menjagaku dengan sangat baik sekali. Jangan terlalu mengkhawatirkanku.”
                “Baiklah, kau hati-hati, ya.”

                Setelah pamitan pada Dhea dan Lila kami berduapun pergi. Dalam perjalanan menuju ke tempat parkir Mark terus saja menggenggam tanganku. Dengan begitu erat, lembut dan sangat posesif, itulah yang aku rasakan ketika tangannya menggenggam tanganku.

                Ketika sampai di parkiran Mark menngajakku menuju ke sebuah Ferrari berwarna merah lalu membukakan pintu untukku. Lalu kami pun pergi meninggalkan pelataran parkir apartemen, dan Mark masih belum memberitahu kemana tujuan kami akan pergi.

                “Asya, kau sungguh canti sekali dengan gaun ini.”
                “Ini gaun milik Lila, gaunnya memang indah. Kau tahu Dhea dan Lila yang memaksaku untuk memakainya.”
                “Gaun itu memang sudah cantik di tambah yang memakainya juga cantik.”
                “Berhenti membuat wajahku memerah Mark.”
                “Yang aku katakan ini sungguh sungguh.”
                “Kalau begitu terima kasih banyak atas pujiannya Mr. Feehily.”
                “Karena aku memang memujamu Miss Asya.”
                “Kau membuat wajahku kembali memerah seperti buah tomat, Mark. Lalu kemakah kita akan pergi?”
                “Ke tempatku, aku memiliki sebuah rumah permanen di sini. Aku ingin menunjukan sesuatu untukmu.”
                “Jadi kita akan pergi ke rumahmu?”
                “Iya, dan sebentar lagi kita akan sampai di sana.”

                Ya ampun, Mark akan membawaku ke rumahnya dan aku sangat sangat gugup sekali. Pikiranku menerawang jauh sekali, untuk menghilangkan pikiran yang tidak-tidak aku mengalihkan pandanganku keluar jendelan mobil untuk menikmati pemandangan yang kami lewati selama perjalanan.
               
                Akhirnya mobil yang di kemudikan oleh Mark melambat, ia membelokkan mobilnya masuk ke sebuah rumah yang berukurang sangat besar. Rumah itu bergaya bangunan-bangunan di Inggris dan di cat dengan warna putih bersih.  Lalu Mark menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk ke dalam rumah yang sangat besar. Ia turun, lalu berputar dan membukakan pintu untukku. Mark membantuku turun dari mobil dan menggenggamnya sambil membawaku masuk ke dalam.

                Ketika masuk ke dalam aku hanya bisa berdecak kagum mengagumi keindahan dekorasi di dalamnya. Benar-benar sangat indah dan mewah sekali apalagi di dominasi oleh warna putih.  

                “Rumahmu sangat indah sekali Mark.”
                “Tunggu sampai kau lihat yang satu ini, Asya. Ayo…”

                Mark mengajakku melewati sebuah ruangan yang luas lalu menuju ke sebuah pintu yang langsung mengarah ke taman belakang. Lagi-lagi aku berdecak kagum melihat tamannya yang sangat inidah itu. Berbagai macam bunga tumbuh dengan subur dengan sebuah kolam renang yang sangat luas sekali. Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju kesebuah bangunan yang terletak tak jauh dari kolam renang itu.

                “Sebelum kita masuk aku ingin kau menutup matamu.”
                “Ah, baiklah Mark.”

                Aku pun menutup mataku, lalu dengan hati-hati Mark membimbingku untuk masuk ke dalam. Lalu aku mendengar Mark menutup pintu di belakang kami.

                “Oke, kita sudah sampai sekarang kau buka matamu secara perlahan.”

                Aku menuruti kata-katanya. Perlahan-lahan aku membuka mataku dan aku langsung  berdecak kagum melihat pemandangan di depan mataku. Di setiap dinding ruangan ini terpasang banyak sekali foto dan lukisan diriku. Ya Tuhan, sejak kapan ia melakukan semua ini.

                “Ya Tuhan, ini benar-benar indah, Mark.”
                “Aku sangat bersyukur bahwa kau menyukai semua ini.”
                “Sejak kapan kau membuat semua ini, Mark?”
                “Sejak pertama kali aku bertemu dan berkenalan denganmu Asya. Sejak hari itu aku mulai membuat semua ini, mari.”

                Mark meraih tanganku lalu membawaku menuju ke sebuah piano yang berada di ujung ruangan itu lalu Mark duduk di depan piano itu, “Ayo, Asya kau duduk di sebelahku.”
               
                Dengan malu-malu aku pun duduk di sampingnya. Ya ampun jangan-jangan Mark akan mengajakku bermain piano, bagaimana ini? Aku kan tidak bisa bermain alat musik.

                “Aku akan memainkan sebuah lagu untukmu Asya, dengarkan, ya.”

                Lalu dengan terampil jari-jari Mark mulai menari di setiap tuts  piano itu.

               
Tell me… Can you feel my heart beat
Tell me as I kneel down at your feet
I knew there would come a time when there two hearts
Wouldn’t rhyme just put your hand near mind forever
For so long I’ve been an island
When no one could ever reach this shore’s
And we’ve got whole lifetime to share
And I’ll always be there darling these I swear
So please… Believe me
For these words I say are true
And don’t deny me, are lifetime loving you
And if you ask will I’ll be true
Do I give my ars to you
Then I will say I Do
I’m ready to begin this journey
Well I’m wth you every steps you take
Come on just take my hand
Come on let’s make a step for our love
I know this is so hard to believe
So please believe me

                Ya Tuhan, lagunya sangat indah sekali suara Mark juga begitu merdu dan meneduhkan hatiku. Wajahku benar-benar memanas apalagi ketika bernyanyi matanya tak pernah lepas memandangiku.

                “Lagu yang sangat indah Mark.”
                “Hanya untukmu, Asya.”

3 komentar:

  1. I do… i do… :D

    aahh… sesuatu bgt deh.…

    mulai bergerak nieh Marknya. ayo Mark jgn kalah sm Gale n Kyle… ye ye ye

    :*



    BalasHapus
    Balasan
    1. Mark udah maju di chapter 6
      udah berani cium cium segala malahan...
      justru Kyle yang belum maju maju belum ngapa-ngapain xD

      Hapus
  2. wahh,keren bgt...
    Mark sm Asya mulai romantis2an.
    bikin aku jdi senyum2 sendiri deh bacanya. Berasa jadi Asya

    #gubraakk

    apalgi Mark nyanyiin lagu I do, makin bersemu merah nih mukaku ^_^

    tp msih ada typonya kak, ckckckckk
    tp keseluruhannya okke,,

    Chapter selanjutnya ditunggu ya
    :* :*

    BalasHapus