Senin, 03 Desember 2012

Chapter 10


Chapter 10

                “Gale…” aku memanggilnya yang tengah berbaring di sebuah kursi santai.
                “Hai Angel, bagaimana Lila? Ia baik-baik saja, kan?”
                “Asya ternyata takkan pulang malam ini dan Lila sendiri di apartemen. Meskipun ia bilang akan baik-baik saja tetap saja aku khawatir padanya.”
                “Jangan terlalu khawatir sayang, kita sebaiknya harus percaya pada ucapannya. Yakinlah Lila akan baik-baik saja. Kemarilah, sayang.”
                Aku mendekati Gale dan duduk di sampingnya, lalu aku memeluknya dengan sangat erat sekali, “Aku mencintaimu…”
                “Aku juga sangat mencintaimu, sayang. Kau tahu aku masih ingin bercinta denganmu sekarang ini. Tapi menggunakan ini…”
               
                Aku melepaskan pelukanku lalu memperhatikan Gale yang mengeluarkan sesuatu dari belakang tubuhnya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Sebuah dasi?

                Aku mengerutkan keningku ketika melihat dasi berwarna hitam metalik itu, “Dasi? Kau akan menutup mataku lagi dengan itu?”
                “Tidak sayang, aku tidak akan menutup matamu dengan ini. Aku ingin bercinta dengan tanganmu yang terikat. Dengan begitu aku bisa menikmati milikku sepuasnya.”
               
                Aku menelan ludah ketika mendengar perkataannya itu. Dewi batinku sangat senang sekali mendengar perkataan Gale, karena sekarang ia sedang melakukan gerakan koprol kesana kemari karena girang. Gale meraih tubuhku lalu membuka jubah yang sedang ku pakai lalu meraih kedua tanganku lalu mengingatnya menggunakan dasi. Ikatannya terasa sangat kuat namun aku tidak merasakan sakit di kedua pergelangan tanganku.

                “Tunggulah di sini dan jangan bergerak aku akan mengambil sesuatu.”

                Gale pergi meninggalkanku sendirian di balkon dan beberapa saat kemudian Gale kembali sambil membawa sesuatu  di tangannya. Sebuah botol kecil dengan cairan berwarna orange di dalamnya, seperti botol sirup. Aku benar-benar tidak bisa menebak apa yang akan ia lakukan padaku selanjutnya.

                 Gale medekatiku lalu membaringkan tubuhku di atas kursi dan dengan perlahan ia menumpahkan sirup dari dalam botol itu di kedua buah dadaku. Cairan sirup itu meluncur turun menuju perutku. Lalu Gale menjilatinya sampai ke putingku lalu menghisapnya dengan sangat kencang dan membuatku terpekik tertahan.

                Lalu ia menumpahkannya lagi di perutku dan meratakannya menggunakan kedua tangannya. Ia mengoleskannya keseluruh tubuhku dan aku bisa merasakan tubuhku mulai lengket. Lalu ia mulai menjilatinya dari leher turun ke buah dada, perut lalu kedua pahaku.
               
                Setiap lidahnya menyentuh kulitku, tubuhku langsung bergetar sangat hebat sekali. Gale akan membuatku meledak dengan cara seperti ini. Benar saja beberapa menit kemudian tubuhku langsung bergetar hebat dan aku berteriak memanggil nama Gale ketika aku mecapai puncak. Tubuhku langsung lemas sedangkan Gale tersenyum penuh kemanangan melihatku seperti itu.

                “Ini belum apa-apa, sayang.”
                “Oh… Gale… Aku mohon…”
                “Mohon apa sayang?”
                “Aku ingin kau berada di dalam diriku sekarang.”

                Tapi Gale malah menyeringai dan membuka kedua pahaku menjadi saling berjauhan. Lalu ia menjilati pusat diriku dan lidahnya berputar-putar membuatku berteriak. Tubuhku menggelinjang dan bergetar tak karuan.

                “Gale, aku mohon…”

                Gale langsung berhenti dan sepertinya ia takkan menyiksaku seperti itu lagi. Lalu dengan secara perlahan ia menekan masuk kedalam diriku dan mulai bergerak pelan yang lama kelamaan gerakannya menjadi semakin cepat. Bahkan aku bisa merasakan bahwa kursinya bergerak serta suara derit kaki kursi.

                Entah sudah berapa kali aku mengalami orgasme saat itu. Gale benar-bane menggempur tubuhku habis-habisan. Aku benar-benar sudah kehabisan tenaga dan tak sanggup untuk bangun, untuk membuka mataku saja rasanya sangat berat sekali. Percintaan kami selesai ketika Gale mencapai puncak pelepasannya.

                Lalu dengan perlahan ia membuka dasi yang mengikat lenganku lalu mencium guratan merah bekas dasi. Ia menggendongku masuk kedalam untuk membersihkan tubuh kami yang sudah sangat sanagt lengket karena sirup dan keringat akibat percintaan kami yang sangat panas.

***

                Akhir pekanku kali ini benar-benar kelam. Kyle memutuskanku tanpa mau mendengar penjelasku belum lagi Matt yang selalu berusaha untuk mengangguku. Malam ini Dhea dan Asya tidak akan pulang, mereka berdua akan menginap di tempat kekasih mereka berdua. Aku benar-benar merasa iri pada mereka berdua. Tapi aku buru-buru mennghilangkan perasaan iri itu.

                Karena kali ini aku benar-benar sudah tidak ingin menjalin sebuah hubungan lagi dengan seorang pria. Cukup sudah Matt dan Kyle membuatku hancur berkeping-keping, jadi aku lebih memillih untuk menghidari mereka. Menyendiri dengan luka parah di hatiku ini, karena takkan ada yang bisa menyembuhkan luka di hatiku saat ini.

                Di apartemen hanya seorang diri, tak banyak yang bisa di lakukan di sini. Lalu aku melangkahkan kakiku kedalam kamar dan langsung mengambil sebuah gunting. Aku menghampiri cerim yang ada di kamarku dan memandangi wajahku beberapa saat. Dan dengan gemetaran aku langsung memotong rambutku yang panjang itu. Aku memotongnya menjadi pendek, aku tak peduli apa reaksi Dhea dan Asya nanti  jika melihatnya.

                Setengah jam kemudian aku selesai memotong rambutku dengan kedua tanganku sendiri. Dan hasilnya cukup rapi. Buru-buru aku membersihkan potongan-potongan rambutku yang berserakan di lantai dan membuangnya ke tong sampah. Setelah itu menindik hidungku, aku tak merasakan sakit sama sekali. Karena sakitnya tidak seberapa di bandingkan dengan rasa sakit di hatiku.

                Malamnya aku memutuskan untuk pergi berjalan-jalan sebentar agar tidak terlalu suntuk. Malam itu aku memakai celana jeans model pensil dan kaos tanpa lengan berwarna hitam dan memakai sepatu kets. Sebelum pergi aku memakai jaket dan memakai topinya untuk menutupi kepalaku.

                Malam itu aku memutuskan untuk pergi ke kafe untuk minum beberapa gelas, meskipun sebenarnya aku tidak suka minum. Aku melangkahkan kaki masuk kedalam kafe itu, kafe tempat Kyle menyatakan cintanya padaku waktu itu. Ketika di dalam aku mencari tempat untuk duduk, tapi pandangnku langsung tertuju ke sebuah meja yang berada di pojok ruangan.

                Aku melihat Kyle, pria yang aku cintai sedang bersama seorang wanita lalu mereka berdua berciuuman dengan sangat mesra sekali. Tuhan, hatiku semakin remuk melihatnya. Kyle sempat memandang ke arahku dan menyipitkan matanya. Aku buru-buru pergi dari tempat itu, menjauh dan berlari secepatnya.

                Biarpun aku bersumpah takkan membuka pintu hatiku lagi untuk siapapun tapi aku tak bisa memungkiri jika aku masih mencintai Kyle. Dan aku takkan mau untuk menginjakkan kakiku lagi di tempat itu.

                Keesokan harinya. Aku terbangun ketika mendengar suara Dhea dan Asya yang sedang mengobrol di ruang depan. Kapan mereka pulang? Mungkin ketika aku masih tidur mereka pulang. Lalu aku bangun dari tempat tidurku dan menuju ke ruang depan, aku yakin pasti mereka akan berteriak jika melihat penampilanku saat ini.

                “Rupanya kalian sudah pulang.” Sapaku sambil meregangkan tubuhku. “Kalian kenapa?”
                Dhea dan Asya langsung berdiri dan mendekatiku, “Lila, ini kamu, kan?”
                “Iya Dhee, ini aku Lila. Memangnya siapa.”
                Sedangkan Asya bertanya sambil memegangi wajahku, “La, ada apa? Mengapa kau jadi seperti ini. Rambutmu?”
                “Aduh Sya, lepaskan tanganmu dari wajahku.” Asya melepaskan tangannya.
                “Jelaskan pada kami apa yang terjadi denganmu selama kami tidak ada.”

                Kami bertigapun memutuskan untuk berbicara sambil duduk di sofa.

                “Kemarin aku memotong rambutku, aku ingin mencoba penampilan baru saja. Dan seperti inilah penampilanku sekarang.”
                “Ayolah Lila, jangan berbohong pada kami berdua.”
                Aku menutup kedua mataku sambil mengatur pernafasanku, “Semalam aku melihat Kyle sedang bermesraan dengan wanita lain di kafe tempat dia biasa bernyanyi.”
                “Apa?” jawab Dhea dan Asya bersamaan.
                “Bagaimana bisa, La?”
                “Maaf aku belum bilang bahwa aku dan Kyle sudah putus beberapa hari yang lalu.”
                “Apa yang terjadi dengan kalian berdua? Apakah Matt penyebabnya?”

                Aku hanya bisa mengangguk lemah untuk menjawab pertanyaan Dhea. Lalu aku menceritakan semuanya, mengapa aku dan Kyle bisa sampai putus.
               
                “Kau yang sabar ya La, jika kalian berjodoh Tuhan pasti akan mempersatukan kalian kembali.”
                “Itu takkan pernah terjadi Sya, aku benar-benar sudah tidak ingin berhubungannlagi dengan makhluk yang namanya pria.”
                “Kau jangan begitu La.”
                “Aku mohon jangan paksa aku untuk membicarakan hal ini lebih banyak lagi.”
                “Baiklah, jika hal itu membuatmu merasa lebih baik, kami berdua tidak akan membahas masalah itu lagi.”
                “Terima kasih atas pengertian kalian berdua, aku sangat menyayangi kalian berdua.”
                “Kami juga sangat menyayangimu, La.”
                “Oh iya Sabtu depan Gale akan mengadakan sebuah pesta kebut, dan ia sangat berharap kalian berdua dan Mark tentu saja untuk datang ke rumahnya.”
                “Pesta kebun, sudah lama sekali kita tidak pergi berpesta.”
                “Aku tidak ikut, ya.”
                “Gale bilang kau harus datang Lila. Dan ia tidak mau mendengar alasan apapun.”
               
                Aku hanya cemberut mendengar ucapan Dhea, CEO muda itu rupanya sudah membuat Dhea jadi seseorang yang pemaksa. Hari Sabtu dan Minggu aku habiskan untuk pergi jalan-jalan bersama Dhea dan Asya. Ide mereka berdua untuk jalan-jalan sedikit membuatku lupa pada rasa sakit di hatiku. Meskipun perasaan sakit itu pasti akan aku alami lagi ketika di kampus nanti. Aku benar-benar tidak ingin melihat wajah Kyle.

                Hari senin pagi kami pergi ke kampus menggunakan mobilku, akhirnya setelah sekian lama aku bisa juga mengendarai mobil kesayanganku ini. Sebelum berangkat tadi Dhea dan Asya sempat berteriak melihat penampilanku, dengan pakaian yang serba hitam dan riasan mata smokey eyes dan sangat gothic sekali dengan sepatu  kets. Ketika turun dari mobil dan berjalan menuju ke dalam kampus semua mata langsung tertuju pada kami bertiga.

                “Ada apa dengan mereka semua? Mengapa mereka melihat kita seperti itu, Dhee?”
                “Sya, mereka semua memperhatikan Lila. Kau tidak lihat penampilannya sudah berubah 180 derajat. La, jangan buka kacamata hitam yang kau pakai. Bisa-bisa nanti mereka semua pingsan melihatmu.”
                “Kau pikir aku ini hantu, Dhee.” Aku menanggapinya sambil tertawa.

                Dan seperti biasa kami berkumpul di kantin sebelum Gale dan Mark menjemput kedua sahabat tersayangku ini. Ketika menuju ke meja favorit kami aku melihat Kyle sedang berciuman dengan wanita yang sama ketika aku melihatnya di kafe.

                Asya meremas lembut bahuku untuk menguatkan, “Jangan menangis La, kau harus bisa menunjukkan bahwa kau baik-baik saja tanpa dirinya.”
                “Yang di katakana Asya benar La, ayo kita lewati saja mereka seperti tidak terjadi apa-apa.”
                “Baiklah, ayo kita lewati mereka.”

                Ketika sedang berjalan Kyle melihat kearahku dengan ekspresi yang sangat terkejut. Dan aku tidak menghiraukannya sama sekali aku tidak peduli lagi. Setelah sampai di meja yang di maksud kami langsung mengobrol seperti biasa sampai akhirnya Dhea dan Asya bergantian pamit padaku untuk pergi. Setelah kedua sahabaku tersayang pergi aku masih bisa merasakan tatapan terkejut dari Kyle.

                Dan akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Aku memacu mobil sport kesayanganku dengan kecepatan pentuh. Aku sudah berusaha untuk tidak menangis tapi entah mengapa air mataku sudah jatuh membasahi pipiku. Akhirnya aku menghentikan mobilku di sebuah pantai yang sepi. Aku turun dari mobil dan berjalan menyusuri sebuah batu karang yang berada di situ.

                Aku memejamkan kedua mataku dan aku bisa merasakan deburan ombak yang menghantam batu karang dengan begitu kerasnya di bawahku. Perlahan aku berjalan mendekati ujung batu karang dan bersiap untuk melopat. Mungkin aku lebih baik mati, daripada aku harus merasakan sakit yang berkelanjutan.

                Ketika aku hendak melompat tiba-tiba aku merasakan ada tangan yang mencengkramku dengan kuat dan menjatukanku ketanah. Aku melihat wajah orang yang sudah menggagalkan usahaku untuk bunuh diri itu.

                “Apa yang kau lakukan?” tanya pria itu dengan panic, “Mengapa kau berusaha untuk mengakhiri hidupmu?”
                “Lepaskan aku, apa pedulimu? Ini hidupku bukan hidupmu jadi jangan pernah mencampurinya.”
                “Aku tidak bisa diam saja melihat seseorang yang akan melompat dari batu karang di hadapanku.”
                “Apa pedulimu? Mengapa kau tidak membiarkan aku untuk melompat, hah?”
                “Tidak nona, aku tidak akan membiarkan wanita secantik dirimu melakukan perbuatan itu.”

1 komentar:

  1. speechless lg adegan Dhee - Gale :9

    Lila jg ekstrim gitu :'(

    u.u

    Keren sist :*
    *mwah mwah

    BalasHapus