Chapter 10
“Gale…”
aku memanggilnya yang tengah berbaring di sebuah kursi santai.
“Hai
Angel, bagaimana Lila? Ia baik-baik saja, kan?”
“Asya
ternyata takkan pulang malam ini dan Lila sendiri di apartemen. Meskipun ia
bilang akan baik-baik saja tetap saja aku khawatir padanya.”
“Jangan
terlalu khawatir sayang, kita sebaiknya harus percaya pada ucapannya. Yakinlah
Lila akan baik-baik saja. Kemarilah, sayang.”
Aku
mendekati Gale dan duduk di sampingnya, lalu aku memeluknya dengan sangat erat
sekali, “Aku mencintaimu…”
“Aku juga
sangat mencintaimu, sayang. Kau tahu aku masih ingin bercinta denganmu sekarang
ini. Tapi menggunakan ini…”
Aku
melepaskan pelukanku lalu memperhatikan Gale yang mengeluarkan sesuatu dari
belakang tubuhnya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Sebuah dasi?
Aku
mengerutkan keningku ketika melihat dasi berwarna hitam metalik itu, “Dasi? Kau
akan menutup mataku lagi dengan itu?”
“Tidak
sayang, aku tidak akan menutup matamu dengan ini. Aku ingin bercinta dengan
tanganmu yang terikat. Dengan begitu aku bisa menikmati milikku sepuasnya.”
Aku
menelan ludah ketika mendengar perkataannya itu. Dewi batinku sangat senang
sekali mendengar perkataan Gale, karena sekarang ia sedang melakukan gerakan
koprol kesana kemari karena girang. Gale meraih tubuhku lalu membuka jubah yang
sedang ku pakai lalu meraih kedua tanganku lalu mengingatnya menggunakan dasi.
Ikatannya terasa sangat kuat namun aku tidak merasakan sakit di kedua
pergelangan tanganku.
“Tunggulah
di sini dan jangan bergerak aku akan mengambil sesuatu.”
Gale pergi
meninggalkanku sendirian di balkon dan beberapa saat kemudian Gale kembali
sambil membawa sesuatu di tangannya.
Sebuah botol kecil dengan cairan berwarna orange di dalamnya, seperti botol
sirup. Aku benar-benar tidak bisa menebak apa yang akan ia lakukan padaku
selanjutnya.
Gale medekatiku lalu membaringkan tubuhku di
atas kursi dan dengan perlahan ia menumpahkan sirup dari dalam botol itu di
kedua buah dadaku. Cairan sirup itu meluncur turun menuju perutku. Lalu Gale
menjilatinya sampai ke putingku lalu menghisapnya dengan sangat kencang dan
membuatku terpekik tertahan.
Lalu
ia menumpahkannya lagi di perutku dan meratakannya menggunakan kedua tangannya.
Ia mengoleskannya keseluruh tubuhku dan aku bisa merasakan tubuhku mulai
lengket. Lalu ia mulai menjilatinya dari leher turun ke buah dada, perut lalu
kedua pahaku.
Setiap
lidahnya menyentuh kulitku, tubuhku langsung bergetar sangat hebat sekali. Gale
akan membuatku meledak dengan cara seperti ini. Benar saja beberapa menit
kemudian tubuhku langsung bergetar hebat dan aku berteriak memanggil nama Gale
ketika aku mecapai puncak. Tubuhku langsung lemas sedangkan Gale tersenyum
penuh kemanangan melihatku seperti itu.
“Ini
belum apa-apa, sayang.”
“Oh…
Gale… Aku mohon…”
“Mohon
apa sayang?”
“Aku
ingin kau berada di dalam diriku sekarang.”
Tapi
Gale malah menyeringai dan membuka kedua pahaku menjadi saling berjauhan. Lalu
ia menjilati pusat diriku dan lidahnya berputar-putar membuatku berteriak.
Tubuhku menggelinjang dan bergetar tak karuan.
“Gale,
aku mohon…”
Gale
langsung berhenti dan sepertinya ia takkan menyiksaku seperti itu lagi. Lalu
dengan secara perlahan ia menekan masuk kedalam diriku dan mulai bergerak pelan
yang lama kelamaan gerakannya menjadi semakin cepat. Bahkan aku bisa merasakan
bahwa kursinya bergerak serta suara derit kaki kursi.
Entah
sudah berapa kali aku mengalami orgasme saat itu. Gale benar-bane menggempur
tubuhku habis-habisan. Aku benar-benar sudah kehabisan tenaga dan tak sanggup
untuk bangun, untuk membuka mataku saja rasanya sangat berat sekali. Percintaan
kami selesai ketika Gale mencapai puncak pelepasannya.
Lalu
dengan perlahan ia membuka dasi yang mengikat lenganku lalu mencium guratan
merah bekas dasi. Ia menggendongku masuk kedalam untuk membersihkan tubuh kami
yang sudah sangat sanagt lengket karena sirup dan keringat akibat percintaan
kami yang sangat panas.
***
Akhir
pekanku kali ini benar-benar kelam. Kyle memutuskanku tanpa mau mendengar
penjelasku belum lagi Matt yang selalu berusaha untuk mengangguku. Malam ini
Dhea dan Asya tidak akan pulang, mereka berdua akan menginap di tempat kekasih
mereka berdua. Aku benar-benar merasa iri pada mereka berdua. Tapi aku
buru-buru mennghilangkan perasaan iri itu.
Karena
kali ini aku benar-benar sudah tidak ingin menjalin sebuah hubungan lagi dengan
seorang pria. Cukup sudah Matt dan Kyle membuatku hancur berkeping-keping, jadi
aku lebih memillih untuk menghidari mereka. Menyendiri dengan luka parah di
hatiku ini, karena takkan ada yang bisa menyembuhkan luka di hatiku saat ini.
Di
apartemen hanya seorang diri, tak banyak yang bisa di lakukan di sini. Lalu aku
melangkahkan kakiku kedalam kamar dan langsung mengambil sebuah gunting. Aku
menghampiri cerim yang ada di kamarku dan memandangi wajahku beberapa saat. Dan
dengan gemetaran aku langsung memotong rambutku yang panjang itu. Aku
memotongnya menjadi pendek, aku tak peduli apa reaksi Dhea dan Asya nanti jika melihatnya.
Setengah
jam kemudian aku selesai memotong rambutku dengan kedua tanganku sendiri. Dan
hasilnya cukup rapi. Buru-buru aku membersihkan potongan-potongan rambutku yang
berserakan di lantai dan membuangnya ke tong sampah. Setelah itu menindik
hidungku, aku tak merasakan sakit sama sekali. Karena sakitnya tidak seberapa
di bandingkan dengan rasa sakit di hatiku.
Malamnya
aku memutuskan untuk pergi berjalan-jalan sebentar agar tidak terlalu suntuk.
Malam itu aku memakai celana jeans model pensil dan kaos tanpa lengan berwarna
hitam dan memakai sepatu kets. Sebelum pergi aku memakai jaket dan memakai
topinya untuk menutupi kepalaku.
Malam
itu aku memutuskan untuk pergi ke kafe untuk minum beberapa gelas, meskipun
sebenarnya aku tidak suka minum. Aku melangkahkan kaki masuk kedalam kafe itu,
kafe tempat Kyle menyatakan cintanya padaku waktu itu. Ketika di dalam aku
mencari tempat untuk duduk, tapi pandangnku langsung tertuju ke sebuah meja
yang berada di pojok ruangan.
Aku
melihat Kyle, pria yang aku cintai sedang bersama seorang wanita lalu mereka
berdua berciuuman dengan sangat mesra sekali. Tuhan, hatiku semakin remuk
melihatnya. Kyle sempat memandang ke arahku dan menyipitkan matanya. Aku
buru-buru pergi dari tempat itu, menjauh dan berlari secepatnya.
Biarpun
aku bersumpah takkan membuka pintu hatiku lagi untuk siapapun tapi aku tak bisa
memungkiri jika aku masih mencintai Kyle. Dan aku takkan mau untuk menginjakkan
kakiku lagi di tempat itu.
Keesokan
harinya. Aku terbangun ketika mendengar suara Dhea dan Asya yang sedang
mengobrol di ruang depan. Kapan mereka pulang? Mungkin ketika aku masih tidur
mereka pulang. Lalu aku bangun dari tempat tidurku dan menuju ke ruang depan,
aku yakin pasti mereka akan berteriak jika melihat penampilanku saat ini.
“Rupanya
kalian sudah pulang.” Sapaku sambil meregangkan tubuhku. “Kalian kenapa?”
Dhea
dan Asya langsung berdiri dan mendekatiku, “Lila, ini kamu, kan?”
“Iya
Dhee, ini aku Lila. Memangnya siapa.”
Sedangkan
Asya bertanya sambil memegangi wajahku, “La, ada apa? Mengapa kau jadi seperti
ini. Rambutmu?”
“Aduh
Sya, lepaskan tanganmu dari wajahku.” Asya melepaskan tangannya.
“Jelaskan
pada kami apa yang terjadi denganmu selama kami tidak ada.”
Kami
bertigapun memutuskan untuk berbicara sambil duduk di sofa.
“Kemarin
aku memotong rambutku, aku ingin mencoba penampilan baru saja. Dan seperti
inilah penampilanku sekarang.”
“Ayolah
Lila, jangan berbohong pada kami berdua.”
Aku
menutup kedua mataku sambil mengatur pernafasanku, “Semalam aku melihat Kyle
sedang bermesraan dengan wanita lain di kafe tempat dia biasa bernyanyi.”
“Apa?”
jawab Dhea dan Asya bersamaan.
“Bagaimana
bisa, La?”
“Maaf
aku belum bilang bahwa aku dan Kyle sudah putus beberapa hari yang lalu.”
“Apa
yang terjadi dengan kalian berdua? Apakah Matt penyebabnya?”
Aku
hanya bisa mengangguk lemah untuk menjawab pertanyaan Dhea. Lalu aku
menceritakan semuanya, mengapa aku dan Kyle bisa sampai putus.
“Kau
yang sabar ya La, jika kalian berjodoh Tuhan pasti akan mempersatukan kalian
kembali.”
“Itu
takkan pernah terjadi Sya, aku benar-benar sudah tidak ingin berhubungannlagi
dengan makhluk yang namanya pria.”
“Kau
jangan begitu La.”
“Aku
mohon jangan paksa aku untuk membicarakan hal ini lebih banyak lagi.”
“Baiklah,
jika hal itu membuatmu merasa lebih baik, kami berdua tidak akan membahas
masalah itu lagi.”
“Terima kasih atas pengertian
kalian berdua, aku sangat menyayangi kalian berdua.”
“Kami
juga sangat menyayangimu, La.”
“Oh
iya Sabtu depan Gale akan mengadakan sebuah pesta kebut, dan ia sangat berharap
kalian berdua dan Mark tentu saja untuk datang ke rumahnya.”
“Pesta
kebun, sudah lama sekali kita tidak pergi berpesta.”
“Aku
tidak ikut, ya.”
“Gale
bilang kau harus datang Lila. Dan ia tidak mau mendengar alasan apapun.”
Aku
hanya cemberut mendengar ucapan Dhea, CEO muda itu rupanya sudah membuat Dhea
jadi seseorang yang pemaksa. Hari Sabtu dan Minggu aku habiskan untuk pergi
jalan-jalan bersama Dhea dan Asya. Ide mereka berdua untuk jalan-jalan sedikit membuatku
lupa pada rasa sakit di hatiku. Meskipun perasaan sakit itu pasti akan aku
alami lagi ketika di kampus nanti. Aku benar-benar tidak ingin melihat wajah
Kyle.
Hari
senin pagi kami pergi ke kampus menggunakan mobilku, akhirnya setelah sekian
lama aku bisa juga mengendarai mobil kesayanganku ini. Sebelum berangkat tadi
Dhea dan Asya sempat berteriak melihat penampilanku, dengan pakaian yang serba
hitam dan riasan mata smokey eyes dan sangat gothic sekali dengan sepatu kets. Ketika turun dari mobil dan berjalan
menuju ke dalam kampus semua mata langsung tertuju pada kami bertiga.
“Ada
apa dengan mereka semua? Mengapa mereka melihat kita seperti itu, Dhee?”
“Sya,
mereka semua memperhatikan Lila. Kau tidak lihat penampilannya sudah berubah 180
derajat. La, jangan buka kacamata hitam yang kau pakai. Bisa-bisa nanti mereka
semua pingsan melihatmu.”
“Kau
pikir aku ini hantu, Dhee.” Aku menanggapinya sambil tertawa.
Dan
seperti biasa kami berkumpul di kantin sebelum Gale dan Mark menjemput kedua
sahabat tersayangku ini. Ketika menuju ke meja favorit kami aku melihat Kyle
sedang berciuman dengan wanita yang sama ketika aku melihatnya di kafe.
Asya
meremas lembut bahuku untuk menguatkan, “Jangan menangis La, kau harus bisa
menunjukkan bahwa kau baik-baik saja tanpa dirinya.”
“Yang
di katakana Asya benar La, ayo kita lewati saja mereka seperti tidak terjadi
apa-apa.”
“Baiklah,
ayo kita lewati mereka.”
Ketika
sedang berjalan Kyle melihat kearahku dengan ekspresi yang sangat terkejut. Dan
aku tidak menghiraukannya sama sekali aku tidak peduli lagi. Setelah sampai di
meja yang di maksud kami langsung mengobrol seperti biasa sampai akhirnya Dhea
dan Asya bergantian pamit padaku untuk pergi. Setelah kedua sahabaku tersayang
pergi aku masih bisa merasakan tatapan terkejut dari Kyle.
Dan
akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Aku memacu mobil sport
kesayanganku dengan kecepatan pentuh. Aku sudah berusaha untuk tidak menangis
tapi entah mengapa air mataku sudah jatuh membasahi pipiku. Akhirnya aku
menghentikan mobilku di sebuah pantai yang sepi. Aku turun dari mobil dan
berjalan menyusuri sebuah batu karang yang berada di situ.
Aku
memejamkan kedua mataku dan aku bisa merasakan deburan ombak yang menghantam
batu karang dengan begitu kerasnya di bawahku. Perlahan aku berjalan mendekati
ujung batu karang dan bersiap untuk melopat. Mungkin aku lebih baik mati,
daripada aku harus merasakan sakit yang berkelanjutan.
Ketika
aku hendak melompat tiba-tiba aku merasakan ada tangan yang mencengkramku
dengan kuat dan menjatukanku ketanah. Aku melihat wajah orang yang sudah
menggagalkan usahaku untuk bunuh diri itu.
“Apa
yang kau lakukan?” tanya pria itu dengan panic, “Mengapa kau berusaha untuk
mengakhiri hidupmu?”
“Lepaskan
aku, apa pedulimu? Ini hidupku bukan hidupmu jadi jangan pernah mencampurinya.”
“Aku
tidak bisa diam saja melihat seseorang yang akan melompat dari batu karang di
hadapanku.”
“Apa
pedulimu? Mengapa kau tidak membiarkan aku untuk melompat, hah?”
“Tidak
nona, aku tidak akan membiarkan wanita secantik dirimu melakukan perbuatan itu.”
speechless lg adegan Dhee - Gale :9
BalasHapusLila jg ekstrim gitu :'(
u.u
Keren sist :*
*mwah mwah