Chapter 19
Aku hanya menatap amplop itu dengan tatapan
kosong setelah Irene pergi meninggalkanku. Aku meresakan ujung mataku memanas,
tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mataku agar tidak jatuh. Aku
tidak ingin menangis, lebih tepatnya lagi aku tidak ingin menangis di tempat
umum seperti ini. Dengan kasar aku memasukan amplop itu kedalam task u lalu aku
bergegas menuju ke perpustakaan menyusul Asya dan Lila.
“Kau
kenapa, Dhee? Wajahmu sangat kusut sekali? Ceritakan pada kami berdua, siapa
tahu aku dan Lila bisa membantumu.”
“Jangan
bertanya apa-apa padaku, Sya.”
“Sudah-sudah
jangan bertengkar kita sedang di perpustakaan. Tak apa jika kau tidak mau
menceritakannya pada kami Dhee.”
Akhirnya
kami bertiga langsung tenggelam membaca buku yang sedang kami baca
masing-masing. Dan mengerjakan tugas-tugas kuliah kami lalu kami segera menuju
ke kantin setelah menyelesaikannya.
“Sya,
maafkan aku karena akhir-akhir ini suka membentakmu.”
“Sudahlah
Dhee, aku tidak apa-apa. Harusnya aku melihat dulu suasana hatimu seperti apa.”
“Kalian
mau makan apa? Biar aku saja yang membelinya.”
“Tidak
Lila, biar aku dan Asya saja yang pergi kau sedang hamil. Kalau terjadi apa-apa
denganmu Zach pasti akan marah besar.”
“Kami
tinggal dulu sebentar ya, La.”
Lalu aku
dan Asya meninggalkan Lila dan bergegas menuju ke counter makanan. Dalam
perjalanan kami membicarakan tentang perubahan sikap Lila yang jadi lebih
dewasa daripada sebelumnya. Karena Lila itu dulu sangat manja dan masih
sepeerti anak kecil.
“Dhee,
kau merasa ada perubahan pada Lila tidak?”
“Ya, aku
merasakannya Sya, kau tahu ia jadi lebih dewasa dari sebelumnya meskipun
kadang-kadang masih manja.”
“Kalau
menurut pengamatan aku mungkin perubahan itu terjadi akibat kehamilannya. Bawaan
bayi yang sedang di kandungnya itu pasti yang membuat Lila jadi berubah.”
“Asya
pelankan suaramu…” aku memelototi Asya karena Kyle ada berdiri tepat di
sampingnya.
“Memang
ada apa, Dhee?”
“Kyle di
sampingmu tahu.”
“Apa
maksud ucapan kamu tadi, Sya? Kau bilang Lila hamil?”
“Bukan
urusanmu, Ky…” belum selesai Kyle sudah pergi meninggalkan kami. “Kau itu kalau
berbicara pelankan sedikit suaramu.”
“Maaf,
aku tidak tahu kalau Kyle ada dan akan mendengar semuanya.”
“Sudah
sudah sebaiknya kita membeli makanan dan minumannya lalu segera kembali.”
Dan benar
saja ketika sampai kami baru saja melihat Kyle pergi meninggalkan Lila, yang
sekarang sedang duduk sambil menopang dagunya. Aku dan Asya tidak berani untuk
bertanya apa-apa karena Lila bisa jadi sangat emosional sekali. Hari ini Gale
tidak bisa menjemputku di kampus akhirnya aku ikut pulang bersama Zach dan
Lila. Setelah sampai di kamar aku langsung membaringkat tubuhku di atas tempat
tidur.
Mataku
menerawang sambil menatap langit-langit kamarku. Tiba-tiba kejadian tadi siang
ketika di kampus muncul lagi. Pembicaraan aku dan Irene terngiang-ngiang di
kepalaku, membuat kepalaku sangat sakit. Irene
sedang mengandung anak Gale? Bagaimana bisa? Ya Tuhan, hatiku sangat sangat
sakit sekali mengingatnya. Bahkan Gale pun belum menghubungiku sejak semalam,
apa jangan-jangan ia sedang bersama wanita itu? Pikiran-pikiran buruk it
uterus saja menghantuiku, bahkan aku tidak menyadari pipiku sudah basah oleh
air mata.
Aku mengambil
amplop yang di berikan oleh Irene tadi siang ketika di kampus. Dengan gemetaran
aku membukanya dan membaca isinya dengan gemetaran, hatiku benar-benar tak karuan membaca tulisan di kertas itu. Ya
Tuhan, Irene tidak berbohong ia benar-benar sedang mengandung. Aku langsung
meremas kertas itu lalu melemparnya sembarangan, aku menutup wajahku dengan
bantal dan menangis.
Aku tidak
mempedulikan ketukan-ketukan di pintu kamarku, yang aku inginkan hanyalah
sendiri. Mengurung diri di dalam kamar entah sampai kapan. Bahkan ketika malam
menjelangpun Gale masih tidak member kabar padaku. Dan aku benar-benar tidak
mau untuk menghubunginya.
Keesokkan
harinya ketika akan pergi ke kampus aku memutuskan untuk naik taksi saja. Dan tiba-tiba-tiba
saja Gale menghentikan mobilnya. Dengan terpaksa aku masuk ke dalam mobilnya,
karena aku sedang tidak ingin berdebat dengannya pagi ini.
“Angel,
maaf kemarin aku tidak sempat menghubungimu karena aku benar-benar sangat sibuk
sekali.” Tapi aku tidak menghiraukannya, “ Angel, apakah kau marah padaku? Kumohon
jangan marah Angel, kemarin aku sedang sibuk sekali.”
“Sudahlah
Gale, aku tidak mau mendengar alasan apapun darimu. Aku sedang tidak mood untuk
berbicara dengan siapapun.”
Aku langsung
mengalihkan pandanganku ke luar. Akhirnya kami hanya terdiam selama perjalanan
menuju ke kampus. Bahkan ketika sampai di depan kampuspun aku tidak menunggu
Gale untuk membukakan pintu untukku. Ketika mobil berhenti aku langsung membuka
pintu mobil dan langsung masuk ke dalam tanpa mengatakan apapun padanya.
Saat ini
aku benar-benar tidak ingin bertemu dan melihat wajahnya. Aku benar-benar marah dan kesal sekalinya padanya. Ketika menuju
ke dalam kelas tiba-tiba saja ponselku berbunyi, ternyata Gale mengirim pesan
padaku.
Angel,
maafkan aku karena nanti siang aku tidak bisa menjemputmu. Ada pertemuan dengan
klien penting tapi aku janji akan menemuimu di apartemen nanti malam. Your love
and soul Gale.
Rasanya aku
ingin sekali membanting ponselku ke tanah tapi aku urungkan niatku. Aku langsung
memasukan kembali ponselku ke dalam tas dan masuk ke dalam kelas tanpa membalas
pesannya. Nanti siang aku akan pergi ke kantornya. Itulah tekadku dalam hati.
Dan ketika
siang tiba aku langsung pamit pada Asya dan Lila. Aku langsung menghentkan
taksi yang kebetulan lewat di depan kampus dan langsung menuju ke kantornya
Gale. Setengah jam kemudian aku sampai di depan perusahaan milik Gale. Setelah membayar
taksi aku buru-buru masuk, namun ketika di parkiran aku melihat Gale dan Irene
sedang berciuman sangat mesra sekali dan aku hanya terpaku melihat kejadian
itu. Ya Tuhan…
Aku langsung
meninggalkan tempat itu dengan hati yang teramat sangat sakit sekali. Ternyata semuanya
memang benar, bahwa Gale adalah ayah dari bayi yang sedang di kandung oleh
Irene. Aku tak menyangka Gale bisa menyakitiku seperti ini.
Aku menangis
di dalam taksi dan mematika ponselku. Aku butuh tempat yang sepi untuk menenangakan
pikiranku. Semua ini kejadian ini benar-benar menghantamku, membuat memar
seluruh hatiku. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan jika aku bertemu
dengannya nanti.
Taksi yang
aku tumpangi berhenti di kawasan pantai. Aku berjalan menyusuri pantai itu
sambil menghapus air mata yang terus saja jatuh tanpa henti. Aku melepaskan
sepatu boots yang kupakai lalu kau duduk di atas batu karang sambil memegang
kedua lututku.
Mataku memandang lurus kedepan, menerawang
jauh. Hanya suara-suara deburan ombak yang terdengar menghantam batu karang. Mengapa
semuanya jadi seperti ini? Mengapa Gale menyakitiku dengan cara seperti ini? Apa
yang harus aku lakakukan? Haruskah aku memberikan selamat pada Gale dan Irene
karena mereka akan segera menjadi orang tua? Aku hanya bisa menangis dan
menangis tanpa tahu harus melakukan apa.
Tiba-tiba
aku mendengar seseorang memanggil namaku, sepertinya suara itu sudah tidak
asing lagi dan sangat familiar sekali. Buru-buru aku menghapus air mataku dan
melihat siapa yang menyapaku. Ternyata benar pemilik suara itu adalah Eric,
seseorang yang pernah mengisi hidupku. Bagaimana ia ada disini?
“Eric,
sedang apa kau disini?” tanyaku denngan suara yang agak parau.
“Ternyata
memang kau, senang bisa bertemu denganmu, Dhee. Kau masih menyukai pantai
sebagai tempat pelarianmu ternyata.”
“Kau
sudah tahu alasannya apa, Eric.”
“Tentu
saja aku tahu, karena aku sudah sering mendapatimu sedang menangis di pantai
dan sekarangpun seperti itu.”
“Kau
masih saja ingat kebiasaan burukku.”
“Jangan
menangis Dhee, jangan buat matamu yang indah itu jadi sembab dan tidak bersinar
seperti biasanya.”
“Eric…”
lalu Eric menghapus air mataku dengan lembut.
Eric masih
tetap lembut seperti dulu, bagaimana bisa aku melepaskan lelaki ini waktu dulu?
Mengapa tiba-tiba ia datang di saat hatiku sedang hancur seperti ini?
“Hei,
bagaimana kalau aku menyanyikan sebuah lagu untukmu agar kau bisa tersenyum
kembali.”
“Boleh,
sudah lama sekali aku tidak mendengarmu bernyayi. Nyanyikanlah sebuah lagu
untuk membuatku kembali tersenyum.”
Hey girl, whats your name
I think I cought you looking at my way
Do you wanna know how to get me all to your
own
Weekends work the best I’ll pick the place
you do rest
Hey now don’t be shy but you got tp keep me
in line
Love at first sight never thought it could
happen to me
But you made me believe
Kidnap my heart take me with you
Kidnap my heart make my dreams come true,
take me away
Caouse falling in love ain’t very far
Not from the start, kidnap my heart. Can you
get me up more
Fun that I can ever dream of . Could you tie
me down
Can you keep me hanging around, I don’t
wanna be here to keep you company
Put your hand in mine got to hold on tight for
the ride
You’ve got to hold me tighter caouse I’m a
real fighter
Don’t tear us apart
Love at first sight never thought it could
happen to me
But you made me believe
Ternyata Eric
menyanyikan lagu yang ia nyanyikan waktu pertama kali kami pacaran dulu. Dan lagu
ini masih saja bisa membua wajahku memanas dan memarah. Ya Tuhan, jangan sampai
aku merasa jatuh cinta lagi pada Eric. Tidak tidak tidak yang aku rasakan pada
Eric saat ini bukan perasaan cinta.
“Bagaimana?
Sudah merasa jauh lebih baik?”
“Kau
membuat wajahku memanas dan memerah seperti buah tomat.”
“Kau
masih saja seperti itu jika aku menyanyikanmu lagu ini.”
“Berhenti
mentertawakanku, Eric.” Aku menekuk wajahku.
“Aku
hanya bercanda Dhee, maafkan aku.”
Akhirnya hari
itu aku menghabiskan waktuku bersama Eric yang merupakan cinta pertamaku. Kehadiraannya
benar-benar tepat waktu, ia bisa sedikit membuatku melupakan rasa sakit yang di
timbulkan oleh Gale padaku. Langit senja menggantikan siang, pemandangan di
sini benar-benar sangat indah apalagi jika senja menjelang. Itulah mengapa aku
sangat menyukai pantai sebagai tempat persembunyianku.
Eric mengantarkanku
pulang ke apartemen setelah mengajakku makan malam. Ketika sampai di apartemen
ternyata ada Gale yang sedang mondar mandir menungguku pulang. Tapi aku tidak
menghiraukannya, aku langsung saja menuju ke kamarku.
“Angel,
akhirnya kau pulang juga. Kau dari mana saja seharian ini, aku benar-benar
khawatir karena aku tidak bisa menghubungimu.”
“Aku
lelah Gale, aku mau mandi.” Sambil berlalu.
“Gale aku
tidak tahu apa yangs sedang terjadi dengan kalian berdua saat ini. Aku hanya
ingin memberitahumu bahwa saat ini Dhee sedang tidak bisa diajak untuk
berbicara. Berikan dia waktu untuk sendirian dulu.”
“Sejak
kemarin ia bersikap aneh, La.”
“Kami
tahu Gale, kami berdua juga menyadari perubahan sikapnya. Maka dari itu biarkan
dulu ia sendiri, mungkin salah satu dari kami bisa mengajaknya bicara.”
“Ya sudah
kalau begitu aku pulang. Permisi.”
Di dalam
kamar aku mendengarkan pembicaraan Gale dan Lila sampai akhirnya aku mendengar
Gale pamit dan pulang. Syukurlah Lila bisa menahannya agar tidak mengikuti
masuk ke dalam kamar. Karena kalau sampai itu terjadi aku bisa pastikan kami
akan bertengkar hebat mala mini. Sedangkan aku sudah sangat lelah sekali dengan
semua ini.
Aku memutuskan
untuk mandi. Aku membiarkan dinginnya air membasuh seluruh tubuhku yang terasa
sakit. Aku memejamkan mataku sambil merasakan air yang mengguyur seluruh
tubuhku. Aku ingin menghilangkan rasa sakit di hatiku ini meskipun aku yakin
luka ini takkan bisa sembuh semudah itu. Aku sangat mencintai Gale bahkan aku
rela menyerahkan nyawaku padanya, tapi mengapa sekarang ia malah membuatku
hancur berkeping-keping seperti ini.
Aku baru
keluar dari kamar mandi setelah tubuhku menggigil karena kedinginan. Buru-buru
aku mengambil jubah mandiku, lalu mengeringkan tubuhku dan memakai piyamaku. Aku
membaringkan tubuhku di tempat tidur, tubuhku terasa sangat lelah lelah yang
teramat sangat.
C
:'( Sedih ya…hancur hatiku :'( mengaduk2 hatiku bgt ini :'(
BalasHapusKamu ko tega sih Gale :'(
Untung ada Eric sang pelipur hati :))
cant wait for the next chapter sist :*
waduh mengaduk-adu hati :O
BalasHapusmasa sih Dhee..
aku ini bkinnya lagi pusing terus acak acakan lagi..
hehehehhehe...
thanks for your comment sist :*
Galeeeee *triak pake Toa
BalasHapuskamu bikin Dhea nangis, kejam bgt sih T.T
bundir lama-lama Dhea nya klo galau trus..
ehh ada Eric yaa.
siap2 buat perang antara Eric vs Gale nih :D
Maaf juga ya Lila, tdi Asya keceplosan ngomongnya. Kyle jdi tau deh..
Okke kak ceritanya,.
tampilannya juga lebih rapi ^_^
Cant wait for the next yaa :*