Senin, 17 Desember 2012

Chapter 24


Chapter 24

Dua orang datang menghampiriku dan Mark, tiba-tiba mereka memisahkan kami. Mark memanggil namaku, sedangkan aku diseret masuk kedalam sebuah ruangan yang gelap. Aku terus memberontak ingin melepaskan genggaman lelaki itu. Tapi pegangan itu sangat kuat, hingga tak dapat aku melepaskannya. Seseorang menarik daguku, aku tak bisa melihat siapa yang melakukan itu.
“ Jika aku tak bisa mendapatkannya, maka kau juga tidak bisa.” Lelaki itu tertawa.
Secercah cahaya bersinar didepanku, saat itu kulihat Mark sedang duduk dikursi, tangannya diikat, mulutnya ditutup. Dia duduk membelakangiku.
“Aku akan membuat kita sama-sama tak memilikinya” lelaki itu berjalan mendekati Mark dan mengangkat tangannya yang memegang sebuah pistol. Aku terkejut melihatnya.
“Jangan,, tolong jangan... “ aku menjerit sekuat mungkin. Lelaki itu sudah hampir menembakkannya kearah kepala Mark.
“Asya... Asya.. bangun sayang.” sesorang menepuk wajahku pelan. Mengguncang-guncangkan tubuhku.
“Sayang… bangun. Bukalah matamu, ini aku.”
Perlahan aku membuka mataku, nafasku terasa sesak. Kulihat Mark ada didekatku.
“ Mark..” aku memanggilnya pelan.
“Iya ini aku, kau hanya mimpi sayang..” Mark membelai wajahku yang basah karena keringat.
“Aku takut Mark...”
“Apa yang kau takutkan, aku ada bersamamu. “ jawab Mark sambil memeluk tubuhku tubuhku erat.
Aku menangis saat teringat mimpiku tadi. Air mata ini sangat sulit kutahan. Mark memandangiku sambil menyeka air mataku.
“ Kau kenapa menangis??” tanyanya
“ Aku takut kau akan pergi dariku” jawabku sambil menangis.
“ Aku takkan meninggalkanmu. Aku janji.” Jawabnya sambil mencium hangat keningku.
Aku kembali memejamkan mataku, nafasku masih tak beraturan, keringatku masih bercucuran. Kupeluk erat tubuh Mark dan membenamkan wajahku kedadanya yang bidang.
“Asya..” Mark memanggilku.
Aku membuka mataku, Mark menarik daguku dan mencium bibirku dengan lembut. Aku terkejut dengan ciuman Mark yang tiba-tiba. Ciumannya berubah menjadi panas dan menggairahkan, Mark mengecap semua bagian bibirku, dia mengigit bibir bawahku. Perlahanku balas ciuman itu. Lidah Mark masuk kedalam mulutku dan bermain-main dengan lidahku. Tubuh kami sama-sama sudah panas dan akhirnya percintaan yang panas itu kembali terjadi.
***
Paginya aku terbangun saat hangatnya cahaya matahari menerpa wajahku. Kulihat Mark masih tertidur disampingku, tubuhnya mengunci tubuhku. Lalu perlahan aku berbalik,
“ Mark… lepaskan aku.” aku membelai wajahnya.
Mark membuka matanya “Kau mau kemana?” tanya sambil mengangkat kakinya yang menekan kakiku.
“ Aku ada kuliah pagi ini” jawabku.
“ Oh iya, maaf aku lupa sayang..” katanya.
Lalu aku berdiri dan memunguti pakaian kami yang berserakan dilantai. Ternyata saat aku tidur Mark telah mengganti gaunku dengan baju kaosnya dan celana trainingnya. Setelah itu akupun pergi mandi. Selesai mandi aku berpakaian dan membuka pintu kaca yang ada dikamar. Hamparan pasir didepan dan angin yang berhembus membuatku sangat nyaman.
“Kau menyukai ini sayang? “ Mark memelukku dari belakang.
Aku mengangguk “ Iya aku menyukainya” jawabku.
“ Kau wangi sekali sayang..” Mark  mulai mencium leherku.
“ Sayang, aku akan kekampus jam 10, tapi aku ingin kembali keapartemen dulu”
“ Iya aku tahu sayang” jawab Mark.
“ Sebaiknya kau mandi, aku akan menyiapkan sarapan untuk kita.” jawabku
Mark melepaskan pelukannya dan mencium keningku sekilas. Lalu masuk kekamar mandi. Sedang kan aku kedapur menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Setelah Mark selesai mandi kami sarapan bersama. Kemudian kami berangkat keaparetemenku sebelum aku kekampus.
***
                Mark mengantarkanku pulang ke apartemen untuk mengambil beberapa buku-buku untuk kuliahku hari ini. Setelah itu dia mengantarkanku kekampus. Hari ini Mark sudah mengatakan padaku kalau dia tidak bisa menjemputku pulang, karena dia harus menyelesaikan pekerjaannya.
                Saat dikampus aku langsung masuk kelas dan bergabung dengan Dhea dan Lila. Kulihat hari ini Dhea sudah lebih ceria. Dia juga sudah mulai membicarakan tentang Gale lagi. Aku yakin mereka sudah berbaikan.
Kuliah hari ini hanya sebentar, setelah selesai. Aku, Lila dan Dhea berencana untuk ketoko buku. Kami akan membeli buku referensi untuk kuliah. Kami ketoko buku yang letaknya tidak begitu jauh dari kampus. Biasanya kami berjalan kaki pergi kesana, namun kali ini kami lebih memilih naik taksi. Dikarenakan ini jam 12 siang, hari juga begitu panas dan ada Lila yang ikut. Lila yang sedang hamil tidak boleh terlalu lelah.
Sebuah taksi datang dari arah yang berlawanan,taksi itu berhenti dan kami harus menyebrang. Saat menyebrang Lila dan Dhea berjalan beriringan sedangkan aku berjalan paling belakang. Lila sudah masuk kedalam taksi, saat itu aku tepat berada ditengah jalan dan tiba-tiba sebuah motor sport melaju dengan kencangnya. Hampir saja motor itu menabrakku.
“Asyaaaa...” teriak  Dhea smbil menarik tanganku. Hingga aku terjatuh dan tersungkur didekat taksi yang sedang parkir.
Dhea langsung membantuku berdiri “Maaf aku menarikmu agak kasar karena motor itu.”
“Aku tidak apa-apa Dhee.” jawabku sambil membersihkan tanganku.
Lila keluar dari taksi itu, dia terlihat panic dan mendekatiku “ Kau tidak apa-apa Sya?” tanyanya.
“Tidak, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit terkejut. Ayo kita pergi.” ajakku pada mereka.
Lalu kami masuk kedalam taksi,
“ Kau yakin tidak apa-apa, Sya? “ tanya Lila sambil memberikan air mineral kepadaku.
Aku mengambilnya “Aku baik-baik saja, terima kasih Dhee kau sudah menyelamatkanku.” jawabku.
“ Aku lihat motor itu sangat kencang, refleks aku tarik tanganmu.” Dhea mengelus belakangku.
“ Atau kau mau pulang Sya? Kita pulang saja ya.”
“ Tidak La, aku baik. Kita tetap ke toko bukunya.” Jawabku.
“ Baiklah jika kau baik-baik saja” Lila mengangguk.
                Kami tetap pergi ketoko buku, walaupun Lila dan Dhea mengajakku pulang. Aku tidak apa-apa, hanya sedikit terkejut. Dan tanganku sedikit memerah karena tersungkur tadi. Setelah selesai kami memutuskan untuk pulang, namun entah mengapa aku ingin sekali ke galeri Mark. Walaupun Lila dan Dhea melarangku, dan mereka memintaku untuk menelpon Mark saja agar dia menjengukku nanti, tapi aku tetap ingin ke galeri Mark. Akhirnya Dhea dan Lila pulang duluan, sedangkan aku pergi kegaleri Mark.
Saat aku sampai digaleri Mark, kulihat sebuah motor sport berwarna merah terparkir didekat mobil Mark. Aku langsung saja masuk mencari Mark, kulihat dari dinding kaca Mark sedang tertidur disofa diruangannya, tiba-tiba Kevin datang. Kevin tak menyadari kedatanganku. Langkahku pun terhenti memperhatikan Kevin mendekati Mark. Dia membelai wajah Mark dan menundukkan wajahnya mendekati wajah Mark.. Aku langsung berteriak memanggil Mark.
“ Maaarkkkk..” teriakku, Kevin terkejut melihat kedatanganku dan Mark terbangun dari tidurnya.
Kevin langsung memelototiku,  dan aku mendekati Mark tak menghiraukannya.
“Eh, sayang kau sudah lama disini?? Hai Kev. Maaf ya aku ketiduran.” Mark langsung membenarkan posisi duduknya. Aku pun duduk didekatnya.
“Aku baru saja sampai sayang, “ jawabku sambil mencium pipinya.
“Aku sudah memanggilmu tapi kau tidak juga bangun. Aku hanya mampir tadi, tapi sepertinya kalian butuh waktu berdua. Aku pulang dulu ya, jangan lupa nanti malam”  Katanya.
“ Kau yakin Kev, kau baru saja sampai” jawab Mark.
“ Adam baru saja menelponku, dia membutuhkanku” katanya sambil pergi.
Kevin pun pergi meninggalkan kami.
” Sayang kau tidak bilang akan kesini??” tanya Mark
“ Aku tiba-tiba mengkhawatirkanmu  Mark” jawbku.
“ Apa yang kau khawatirkan Sayang?? Mimpi mu semalam??” tanyanya.
Aku mengangguk, “Itu salah satunya, tapi tadi Kevin..” aku ragu mengatakan tentang kejadian yang terjadi barusan. aku tak ingin hubungan Kevin dan Mark jadi berantakan karenaku.
“Apa sayang, Kevin kenapa? Kau datang dengannya?” tanya Mark.
Aku menggeleng “ Tidak, aku dan dia tidak datang bersama.”
“ Lalu…”  Mark menunggu jawaban dariku.
“ Tapi kau janji, tetap bersikap biasa saja pada Kevin, anggap tidak pernah terjadi apa-apa ya.” jawabku
“Baiklah aku janji, “ katanya.
“Tadi, Kevin berusaha menciummu, makanya aku berteriak.”
“Benarkah? Aku tak tahu tentang itu sayang.”
“Sebaiknya kau hati-hati sayang. Dia pasti akan melakukan hal yang lebih nekat lagi.”
“Tapi kau malam ini akan tetap datang kan, sayang.”
“ Aku tak tahu Mark, aku bingung apakah akan ikut atau tidak.”
“ Ayo lah sayang, jadi aku punya alasan untuk pulang lebih cepat bila denganmu.” Mark memohon.
Aku berfikir sejenak, benar apa yang dikatakan Mark. Akhirnya kuputuskan untuk ikut.
“Baiklah, aku ikut.” jawabku
“ Terimakasih sayang, kau mau kemana setelah ini?” tanyanya.
“ Antar aku pulang keapatemen saja, aku lelah sekali.” jawabku.
“ Memangnya kau dari mana? Kau nampak  begitu lelah.” Mark menatapku.
“ Aku dari kampus, lalu...” terdiam sejenak.
“ Lalu apa?”
“ Lalu ketoko buku dan kesini”
Mark mengangguk “ baiklah kita pulang sekarang yaa” katanya sambil menarik tanganku.
***
Malamnya tepat pukul 7 aku sudah bersiap dikamarku, Mark sebentar lagi akan datang. Dan tak lama aku menunggu Mark datang, kami langsung saja pergi  karena kami akan makan malam berdua terlebih dahulu.
Baru selesai kami makan malam direstoran didekat Club tempat kami akan bertemu dengan Kevin, kevin sudah menelpon  Mark, katanya dia sudah sampai diclub. Dan akhirnya kami menyusulnya disana. Setelah sampai kami langsung berbincang  bersama, seperti tidak terjadi permusuhan antara aku dan Kevin. Dari obrolan itu aku tahu kalau mereka akan pulang beberapa hari lagi. Kulihat Kevin dan Adam mulai minum. Mark dan aku juga minum namun tidak sebanyak mereka berdua. Mark dan aku hanya satu gelas. Sedangkan mereka sudah lebih dari tiga gelas. Dan aku rasa Adam mulai mabuk, karena matanya yang sudah memerah dan bicaranya juga yang sedikit aneh. Saat sedang mengobrol tiba-tiba aku ingin kekamar mandi, Mark ingin mengantarkanku, namun aku katakan, aku bisa sendiri.
Aku meninggalkan mereka ketoilet. Setelah selesai aku langsung keluar untuk kembali bergabung bersama mereka. Saat aku keluar, kulihat ada Adam yang berdiri didekat pintu kamar mandi.
“ Adam, sedang apa kau di sini? “ aku menyapanya.
“ Natasya,  aku perlu bicara sesuatu denganmu. “ Dia memanggilku dengan suara parau.
“Apa? Sebaiknya kita bicarakan dimeja kita saja.” Jawabku sambil berjalan.
“ Tidak bisa berbicara di sana.” katanya sambil menarik tanganku dan menyeretku kepojokan.
“Apa yang akan kau lakukan Adam?” kepanikan mulai melanda diriku.
“ Aku menginginkanmu Natasya.”
“ Tidak..!!! Lepaskan tanganku.” aku memberontak.
“ Tidak sekarang sayang.” Adam menyeringai padaku.
Lalu dia menghempaskan tubuhku kedinding, kemudian menekan tubuhku dengan tubuhnya. Dia memegang wajahku dengan kedua tangannya.
“Aku akan teriak Adam… lepaskan aku, kau mabuk.” tanganku menjauhkan tubuhnya dari tubuhku.
“Teriakanmu akan sia-sia Natasya.“ tubuhnya mengunci tubuhku didinding dan mulai mendekatkan wajahnya kewajahku. Dapat kuhirup nafasnya yang berbau alkohol. Dia mabuk.
“Apa yang kau inginkan dariku.” Air mataku mulai jatuh. Tidak pernah aku diperlakukan kasar seperti ini.  
“Kau sangat menggodaku sejak pertama kali kita bertemu.” Jawabnya sambil membelai wajahku
Aku memejamkan mataku, sangat berharap ada sesorang yang  menolongku.
“ Bibirmu terlalu seksi dan menggoda untuk dinikmati Mark sendiri, “ katanya sambil mengecap bibirku.
Tangannya erat memegang wajahku, air mataku semakin deras mengalir. Aku sangat takut melihat Adam seperti ini. Tiba-tiba dia melepaskan pegangannya diwajahku, sedangkan aku masih memejamkan mataku karena takut.
“ Kurang ajar. Berani-beraninya kau melakukan itu!!!!” kudengar suara itu suara Mark.
Aku membuka mataku Buukk…!!! Mark memukul wajah dan bagian perut Adam. Adam terjatuh kelantai dan Mark menarik tanganku “ Ayo kita pulang sekarang”
Aku menurutinya, berjalan lebih cepat dan Mark memeluk pinggangku. Air mataku masih mengalir. tak kuhiraukan orang-orang yang melihat kami, aku terus berjalan. Saat diparkiran Mark memelukku erat.
“ Kau tidak apa-apa? “ tanyanya,
Aku menggeleng “Aku sangat takut sekali Mark.” jawabku parau.
“Ada aku disini, jangan takut sayang. Maaf kan aku mengajakmu kesini??” Katanya sambil menyeka air mataku.
“Aku mau pulang…”
“Iya, kita pulang sekarang”  Mark membukakan pintu mobilnya untukku. Dan akupun duduk.
Mark langsung menyetir mobilnya keluar dari areal Club itu.
“Kita pulang kerumah kita saja, ya?” tanya Mark.
Aku menggeleng “Aku mau pulang keapartemen saja Mark, aku mohon.”
“Baiklah kalau begitu” jawab Mark sambil memacu mobilnya lebih kencang.

                Beberapa menit kemudian kami akhirnya sampai di apartemenku. Ketika sampai hanya ada Lila dan Zach sedangkan Dhea dan Gale masih berada di luar.

                “Hai Sya, aku pikir kau tidak akan pulang malam ini.”       
                “Tadinya aku memang tidak akan pulang, La. Tapi tadi terjadi sesuatu, kau sendirian di sini?”
                “Tidak aku bersama Zach, dia sedang mandi. Sedangkan Dhea dan Gale belum pulang.”
                “Ya sudah kalau begitu aku mau masuk ke kamar saja. Aku sangat lelah.” Aku langsung menatap Mark yang sedang duduk sambil menopang dagu,”Kau mau menginap disini atau mau pulang?”
                “Aku akan tinggal disini, sayang.”

                Lalu Mark mengikutiku masuk ke dalam kamar. Aku langsung menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Rasanya sangat lelah sekali, beberapa hari ini sangat sangat melelahkan dan menyebalkan sekali. Aku memperhatikan Mark yang sedang melepas jas dan kemejanya, lalu ia berbaring di sampingku dan memeluk tubuhku dengan sangat erat.

                “Sayang, apakah kau sudah tidak apa-apa?”
                “Aku merasa jauh lebih aman, Mark. Terima kasih.”

                Lalu Mark membalik tubuhku, bibirnya langsung mengunci bibirku dan lidahnya langsung menerobos masuk. Lidah kami saling bartautan, ciuman kami sangat panas dan sangat liar. Tangan Mark menjelajahi setiap inchi tubuhku. Tangannya menyelinap ke belakan tubuhku dan menurunkan restleting gaunku. Dan dengan perlahan menariknya kebawah, sehingga yang tersisa di tubuhku hanya celana dalamku saja.

                Ia menciumi payudaraku dengan begitu bergairah sehingga aku tidak bisa menahan erangan yang sudah berkali-kali lolos dari tenggorokanku. Sepertinya malam ini Mark sangat bernafsu sekali, lalu dengan gerakan cepat ia menurunkan celana dalamku. Lalu ia bergerak menuju ke pusat diriku dan membenamkan wajahnya di situ. Tubuhku menggelepar saat lidahnya yang panas itu membelai pusat diriku. Ya Tuhan sepertinya aku akan segera datang, karena tubuhku langsung menegang.

                Entah kapan melepaskan celananya karena saat aku mulai mengalami orgasme Mark langsung memasuki diriku dengan cukup keras sehingga aku tersentak. Lalu Mark menggerakkannya dengan sangat cepat, aku makin kehilangan akal ketika ia melakukannya di tengah-tengah orgasme yang sedang melandaku. Tak lama kemudian aku mendengar suara Mark yang menggeram dan aku merasakan sesuatu yang panas menyembur di dalam diriku. Mark langsung terkulai lemas di atas tubuhku.

2 komentar:

  1. akhir yang tidak terduga,..
    ada apa ini ya??
    ngapain Mark sm Asya ckckckck

    pembuktian Mark bukan Gay dibuktikan ke Asya :D

    Chapter ini semakin membuat gila xD

    BalasHapus
  2. Akhirnya Mark lupa juga pk safety saking nafsunya :3

    Mark jr pasti muncul deh bentar lg haha

    Selamat selamat anda layak dpt Mark jr……
    wkwkwk

    BalasHapus