Chapter 24
Dua orang datang menghampiriku dan
Mark, tiba-tiba mereka memisahkan kami. Mark memanggil namaku, sedangkan aku
diseret masuk kedalam sebuah ruangan yang gelap. Aku terus memberontak ingin
melepaskan genggaman lelaki itu. Tapi pegangan itu sangat kuat, hingga tak
dapat aku melepaskannya. Seseorang menarik daguku, aku tak bisa melihat siapa
yang melakukan itu.
“ Jika aku tak bisa mendapatkannya,
maka kau juga tidak bisa.” Lelaki itu tertawa.
Secercah cahaya bersinar didepanku,
saat itu kulihat Mark sedang duduk dikursi, tangannya diikat, mulutnya ditutup.
Dia duduk membelakangiku.
“Aku akan membuat kita sama-sama
tak memilikinya” lelaki itu berjalan mendekati Mark dan mengangkat tangannya
yang memegang sebuah pistol. Aku terkejut melihatnya.
“Jangan,, tolong jangan... “ aku
menjerit sekuat mungkin. Lelaki itu sudah hampir menembakkannya kearah kepala
Mark.
“Asya... Asya.. bangun sayang.”
sesorang menepuk wajahku pelan. Mengguncang-guncangkan tubuhku.
“Sayang… bangun. Bukalah matamu, ini
aku.”
Perlahan aku membuka mataku,
nafasku terasa sesak. Kulihat Mark ada didekatku.
“ Mark..” aku memanggilnya pelan.
“Iya ini aku, kau hanya mimpi
sayang..” Mark membelai wajahku yang basah karena keringat.
“Aku takut Mark...”
“Apa yang kau takutkan, aku ada
bersamamu. “ jawab Mark sambil memeluk tubuhku tubuhku erat.
Aku menangis saat teringat mimpiku
tadi. Air mata ini sangat sulit kutahan. Mark memandangiku sambil menyeka air
mataku.
“ Kau kenapa menangis??” tanyanya
“ Aku takut kau akan pergi dariku”
jawabku sambil menangis.
“ Aku takkan meninggalkanmu. Aku
janji.” Jawabnya sambil mencium hangat keningku.
Aku kembali memejamkan mataku,
nafasku masih tak beraturan, keringatku masih bercucuran. Kupeluk erat tubuh
Mark dan membenamkan wajahku kedadanya yang bidang.
“Asya..” Mark memanggilku.
Aku membuka mataku, Mark menarik
daguku dan mencium bibirku dengan lembut. Aku terkejut dengan ciuman Mark yang
tiba-tiba. Ciumannya berubah menjadi panas dan menggairahkan, Mark mengecap
semua bagian bibirku, dia mengigit bibir bawahku. Perlahanku balas ciuman itu.
Lidah Mark masuk kedalam mulutku dan bermain-main dengan lidahku. Tubuh kami
sama-sama sudah panas dan akhirnya percintaan yang panas itu kembali terjadi.
***
Paginya aku terbangun saat
hangatnya cahaya matahari menerpa wajahku. Kulihat Mark masih tertidur
disampingku, tubuhnya mengunci tubuhku. Lalu perlahan aku berbalik,
“ Mark… lepaskan aku.” aku membelai
wajahnya.
Mark membuka matanya “Kau mau
kemana?” tanya sambil mengangkat kakinya yang menekan kakiku.
“ Aku ada kuliah pagi ini” jawabku.
“ Oh iya, maaf aku lupa sayang..”
katanya.
Lalu aku berdiri dan memunguti
pakaian kami yang berserakan dilantai. Ternyata saat aku tidur Mark telah
mengganti gaunku dengan baju kaosnya dan celana trainingnya. Setelah itu akupun
pergi mandi. Selesai mandi aku berpakaian dan membuka pintu kaca yang ada
dikamar. Hamparan pasir didepan dan angin yang berhembus membuatku sangat
nyaman.
“Kau menyukai ini sayang? “ Mark
memelukku dari belakang.
Aku mengangguk “ Iya aku
menyukainya” jawabku.
“ Kau wangi sekali sayang..”
Mark mulai mencium leherku.
“ Sayang, aku akan kekampus jam 10,
tapi aku ingin kembali keapartemen dulu”
“ Iya aku tahu sayang” jawab Mark.
“ Sebaiknya kau mandi, aku akan
menyiapkan sarapan untuk kita.” jawabku
Mark melepaskan pelukannya dan
mencium keningku sekilas. Lalu masuk kekamar mandi. Sedang kan aku kedapur
menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Setelah Mark selesai mandi kami sarapan
bersama. Kemudian kami berangkat keaparetemenku sebelum aku kekampus.
***
Mark
mengantarkanku pulang ke apartemen untuk mengambil beberapa buku-buku untuk
kuliahku hari ini. Setelah itu dia mengantarkanku kekampus. Hari ini Mark sudah
mengatakan padaku kalau dia tidak bisa menjemputku pulang, karena dia harus
menyelesaikan pekerjaannya.
Saat
dikampus aku langsung masuk kelas dan bergabung dengan Dhea dan Lila. Kulihat
hari ini Dhea sudah lebih ceria. Dia juga sudah mulai membicarakan tentang Gale
lagi. Aku yakin mereka sudah berbaikan.
Kuliah hari ini hanya sebentar,
setelah selesai. Aku, Lila dan Dhea berencana untuk ketoko buku. Kami akan
membeli buku referensi untuk kuliah. Kami ketoko buku yang letaknya tidak
begitu jauh dari kampus. Biasanya kami berjalan kaki pergi kesana, namun kali
ini kami lebih memilih naik taksi. Dikarenakan ini jam 12 siang, hari juga
begitu panas dan ada Lila yang ikut. Lila yang sedang hamil tidak boleh terlalu
lelah.
Sebuah taksi datang dari arah yang
berlawanan,taksi itu berhenti dan kami harus menyebrang. Saat menyebrang Lila
dan Dhea berjalan beriringan sedangkan aku berjalan paling belakang. Lila sudah
masuk kedalam taksi, saat itu aku tepat berada ditengah jalan dan tiba-tiba
sebuah motor sport melaju dengan kencangnya. Hampir saja motor itu menabrakku.
“Asyaaaa...” teriak Dhea smbil menarik tanganku. Hingga aku
terjatuh dan tersungkur didekat taksi yang sedang parkir.
Dhea langsung membantuku berdiri
“Maaf aku menarikmu agak kasar karena motor itu.”
“Aku tidak apa-apa Dhee.” jawabku
sambil membersihkan tanganku.
Lila keluar dari taksi itu, dia
terlihat panic dan mendekatiku “ Kau tidak apa-apa Sya?” tanyanya.
“Tidak, aku tidak apa-apa. Hanya
sedikit terkejut. Ayo kita pergi.” ajakku pada mereka.
Lalu kami masuk kedalam taksi,
“ Kau yakin tidak apa-apa, Sya? “
tanya Lila sambil memberikan air mineral kepadaku.
Aku mengambilnya “Aku baik-baik
saja, terima kasih Dhee kau sudah menyelamatkanku.” jawabku.
“ Aku lihat motor itu sangat
kencang, refleks aku tarik tanganmu.” Dhea mengelus belakangku.
“ Atau kau mau pulang Sya? Kita
pulang saja ya.”
“ Tidak La, aku baik. Kita tetap ke
toko bukunya.” Jawabku.
“ Baiklah jika kau baik-baik saja”
Lila mengangguk.
Kami
tetap pergi ketoko buku, walaupun Lila dan Dhea mengajakku pulang. Aku tidak
apa-apa, hanya sedikit terkejut. Dan tanganku sedikit memerah karena tersungkur
tadi. Setelah selesai kami memutuskan untuk pulang, namun entah mengapa aku
ingin sekali ke galeri Mark. Walaupun Lila dan Dhea melarangku, dan mereka
memintaku untuk menelpon Mark saja agar dia menjengukku nanti, tapi aku tetap
ingin ke galeri Mark. Akhirnya Dhea dan Lila pulang duluan, sedangkan aku pergi
kegaleri Mark.
Saat aku sampai digaleri Mark,
kulihat sebuah motor sport berwarna merah terparkir didekat mobil Mark. Aku
langsung saja masuk mencari Mark, kulihat dari dinding kaca Mark sedang
tertidur disofa diruangannya, tiba-tiba Kevin datang. Kevin tak menyadari
kedatanganku. Langkahku pun terhenti memperhatikan Kevin mendekati Mark. Dia
membelai wajah Mark dan menundukkan wajahnya mendekati wajah Mark.. Aku
langsung berteriak memanggil Mark.
“ Maaarkkkk..” teriakku, Kevin
terkejut melihat kedatanganku dan Mark terbangun dari tidurnya.
Kevin langsung memelototiku, dan aku mendekati Mark tak menghiraukannya.
“Eh, sayang kau sudah lama disini??
Hai Kev. Maaf ya aku ketiduran.” Mark langsung membenarkan posisi duduknya. Aku
pun duduk didekatnya.
“Aku baru saja sampai sayang, “
jawabku sambil mencium pipinya.
“Aku sudah memanggilmu tapi kau
tidak juga bangun. Aku hanya mampir tadi, tapi sepertinya kalian butuh waktu
berdua. Aku pulang dulu ya, jangan lupa nanti malam” Katanya.
“ Kau yakin Kev, kau baru saja
sampai” jawab Mark.
“ Adam baru saja menelponku, dia
membutuhkanku” katanya sambil pergi.
Kevin pun pergi meninggalkan kami.
” Sayang kau tidak bilang akan
kesini??” tanya Mark
“ Aku tiba-tiba
mengkhawatirkanmu Mark” jawbku.
“ Apa yang kau khawatirkan Sayang??
Mimpi mu semalam??” tanyanya.
Aku mengangguk, “Itu salah satunya,
tapi tadi Kevin..” aku ragu mengatakan tentang kejadian yang terjadi barusan.
aku tak ingin hubungan Kevin dan Mark jadi berantakan karenaku.
“Apa sayang, Kevin kenapa? Kau
datang dengannya?” tanya Mark.
Aku menggeleng “ Tidak, aku dan dia
tidak datang bersama.”
“ Lalu…” Mark menunggu jawaban dariku.
“ Tapi kau janji, tetap bersikap
biasa saja pada Kevin, anggap tidak pernah terjadi apa-apa ya.” jawabku
“Baiklah aku janji, “ katanya.
“Tadi, Kevin berusaha menciummu,
makanya aku berteriak.”
“Benarkah? Aku tak tahu tentang itu
sayang.”
“Sebaiknya kau hati-hati sayang.
Dia pasti akan melakukan hal yang lebih nekat lagi.”
“Tapi kau malam ini akan tetap
datang kan, sayang.”
“ Aku tak tahu Mark, aku bingung
apakah akan ikut atau tidak.”
“ Ayo lah sayang, jadi aku punya
alasan untuk pulang lebih cepat bila denganmu.” Mark memohon.
Aku berfikir sejenak, benar apa
yang dikatakan Mark. Akhirnya kuputuskan untuk ikut.
“Baiklah, aku ikut.” jawabku
“ Terimakasih sayang, kau mau
kemana setelah ini?” tanyanya.
“ Antar aku pulang keapatemen saja,
aku lelah sekali.” jawabku.
“ Memangnya kau dari mana? Kau
nampak begitu lelah.” Mark menatapku.
“ Aku dari kampus, lalu...” terdiam
sejenak.
“ Lalu apa?”
“ Lalu ketoko buku dan kesini”
Mark mengangguk “ baiklah kita
pulang sekarang yaa” katanya sambil menarik tanganku.
***
Malamnya tepat pukul 7 aku sudah
bersiap dikamarku, Mark sebentar lagi akan datang. Dan tak lama aku menunggu
Mark datang, kami langsung saja pergi
karena kami akan makan malam berdua terlebih dahulu.
Baru selesai kami makan malam
direstoran didekat Club tempat kami akan bertemu dengan Kevin, kevin sudah
menelpon Mark, katanya dia sudah sampai
diclub. Dan akhirnya kami menyusulnya disana. Setelah sampai kami langsung
berbincang bersama, seperti tidak
terjadi permusuhan antara aku dan Kevin. Dari obrolan itu aku tahu kalau mereka
akan pulang beberapa hari lagi. Kulihat Kevin dan Adam mulai minum. Mark dan
aku juga minum namun tidak sebanyak mereka berdua. Mark dan aku hanya satu
gelas. Sedangkan mereka sudah lebih dari tiga gelas. Dan aku rasa Adam mulai
mabuk, karena matanya yang sudah memerah dan bicaranya juga yang sedikit aneh.
Saat sedang mengobrol tiba-tiba aku ingin kekamar mandi, Mark ingin
mengantarkanku, namun aku katakan, aku bisa sendiri.
Aku meninggalkan mereka ketoilet.
Setelah selesai aku langsung keluar untuk kembali bergabung bersama mereka.
Saat aku keluar, kulihat ada Adam yang berdiri didekat pintu kamar mandi.
“ Adam, sedang apa kau di sini? “
aku menyapanya.
“ Natasya, aku perlu bicara sesuatu denganmu. “ Dia
memanggilku dengan suara parau.
“Apa? Sebaiknya kita bicarakan
dimeja kita saja.” Jawabku sambil berjalan.
“ Tidak bisa berbicara di sana.”
katanya sambil menarik tanganku dan menyeretku kepojokan.
“Apa yang akan kau lakukan Adam?”
kepanikan mulai melanda diriku.
“ Aku menginginkanmu Natasya.”
“ Tidak..!!! Lepaskan tanganku.”
aku memberontak.
“ Tidak sekarang sayang.” Adam
menyeringai padaku.
Lalu dia menghempaskan tubuhku
kedinding, kemudian menekan tubuhku dengan tubuhnya. Dia memegang wajahku dengan
kedua tangannya.
“Aku akan teriak Adam… lepaskan
aku, kau mabuk.” tanganku menjauhkan tubuhnya dari tubuhku.
“Teriakanmu akan sia-sia Natasya.“ tubuhnya
mengunci tubuhku didinding dan mulai mendekatkan wajahnya kewajahku. Dapat
kuhirup nafasnya yang berbau alkohol. Dia mabuk.
“Apa yang kau inginkan dariku.” Air
mataku mulai jatuh. Tidak pernah aku diperlakukan kasar seperti ini.
“Kau sangat menggodaku sejak
pertama kali kita bertemu.” Jawabnya sambil membelai wajahku
Aku memejamkan mataku, sangat
berharap ada sesorang yang menolongku.
“ Bibirmu terlalu seksi dan
menggoda untuk dinikmati Mark sendiri, “ katanya sambil mengecap bibirku.
Tangannya erat memegang wajahku,
air mataku semakin deras mengalir. Aku sangat takut melihat Adam seperti ini. Tiba-tiba
dia melepaskan pegangannya diwajahku, sedangkan aku masih memejamkan mataku
karena takut.
“ Kurang ajar. Berani-beraninya kau
melakukan itu!!!!” kudengar suara itu suara Mark.
Aku membuka mataku Buukk…!!! Mark memukul wajah dan bagian
perut Adam. Adam terjatuh kelantai dan Mark menarik tanganku “ Ayo kita pulang
sekarang”
Aku menurutinya, berjalan lebih
cepat dan Mark memeluk pinggangku. Air mataku masih mengalir. tak kuhiraukan
orang-orang yang melihat kami, aku terus berjalan. Saat diparkiran Mark
memelukku erat.
“ Kau tidak apa-apa? “ tanyanya,
Aku menggeleng “Aku sangat takut
sekali Mark.” jawabku parau.
“Ada aku disini, jangan takut
sayang. Maaf kan aku mengajakmu kesini??” Katanya sambil menyeka air mataku.
“Aku mau pulang…”
“Iya, kita pulang sekarang” Mark membukakan pintu mobilnya untukku. Dan
akupun duduk.
Mark langsung menyetir mobilnya
keluar dari areal Club itu.
“Kita pulang kerumah kita saja, ya?”
tanya Mark.
Aku menggeleng “Aku mau pulang
keapartemen saja Mark, aku mohon.”
“Baiklah kalau begitu” jawab Mark
sambil memacu mobilnya lebih kencang.
Beberapa
menit kemudian kami akhirnya sampai di apartemenku. Ketika sampai hanya ada
Lila dan Zach sedangkan Dhea dan Gale masih berada di luar.
“Hai
Sya, aku pikir kau tidak akan pulang malam ini.”
“Tadinya
aku memang tidak akan pulang, La. Tapi tadi terjadi sesuatu, kau sendirian di
sini?”
“Tidak
aku bersama Zach, dia sedang mandi. Sedangkan Dhea dan Gale belum pulang.”
“Ya
sudah kalau begitu aku mau masuk ke kamar saja. Aku sangat lelah.” Aku langsung
menatap Mark yang sedang duduk sambil menopang dagu,”Kau mau menginap disini
atau mau pulang?”
“Aku
akan tinggal disini, sayang.”
Lalu
Mark mengikutiku masuk ke dalam kamar. Aku langsung menghempaskan tubuhku di
atas tempat tidur. Rasanya sangat lelah sekali, beberapa hari ini sangat sangat
melelahkan dan menyebalkan sekali. Aku memperhatikan Mark yang sedang melepas
jas dan kemejanya, lalu ia berbaring di sampingku dan memeluk tubuhku dengan
sangat erat.
“Sayang,
apakah kau sudah tidak apa-apa?”
“Aku
merasa jauh lebih aman, Mark. Terima kasih.”
Lalu
Mark membalik tubuhku, bibirnya langsung mengunci bibirku dan lidahnya langsung
menerobos masuk. Lidah kami saling bartautan, ciuman kami sangat panas dan
sangat liar. Tangan Mark menjelajahi setiap inchi tubuhku. Tangannya menyelinap
ke belakan tubuhku dan menurunkan restleting gaunku. Dan dengan perlahan
menariknya kebawah, sehingga yang tersisa di tubuhku hanya celana dalamku saja.
Ia
menciumi payudaraku dengan begitu bergairah sehingga aku tidak bisa menahan
erangan yang sudah berkali-kali lolos dari tenggorokanku. Sepertinya malam ini Mark
sangat bernafsu sekali, lalu dengan gerakan cepat ia menurunkan celana dalamku.
Lalu ia bergerak menuju ke pusat diriku dan membenamkan wajahnya di situ. Tubuhku
menggelepar saat lidahnya yang panas itu membelai pusat diriku. Ya Tuhan
sepertinya aku akan segera datang, karena tubuhku langsung menegang.
Entah
kapan melepaskan celananya karena saat aku mulai mengalami orgasme Mark
langsung memasuki diriku dengan cukup keras sehingga aku tersentak. Lalu Mark
menggerakkannya dengan sangat cepat, aku makin kehilangan akal ketika ia
melakukannya di tengah-tengah orgasme yang sedang melandaku. Tak lama kemudian
aku mendengar suara Mark yang menggeram dan aku merasakan sesuatu yang panas
menyembur di dalam diriku. Mark langsung terkulai lemas di atas tubuhku.
akhir yang tidak terduga,..
BalasHapusada apa ini ya??
ngapain Mark sm Asya ckckckck
pembuktian Mark bukan Gay dibuktikan ke Asya :D
Chapter ini semakin membuat gila xD
Akhirnya Mark lupa juga pk safety saking nafsunya :3
BalasHapusMark jr pasti muncul deh bentar lg haha
Selamat selamat anda layak dpt Mark jr……
wkwkwk