Chapter 27
“Maafkan
aku sudah memukulmu, Kyle.”
“Tidak
apa-apa Eric aku memang pantas mendapatkannya.”
“Sepertinya
masalah ini sudah selesai, kan.”
“Belum,
aku belum mengatakan hal ini pada Mama dan Papa di Jakarta.”
“Kau
tidak perlu khawatir, sayang. Dua hari yang lalu aku sudah menemui kedua orang
tuamu di Jakarta dan aku sangat bersyukur mereka mau mengerti, menerima dan
merestui kita.”
“Nah,
kapan kalian akan segera menikah?”
“Aku
harus berbicara pada Zach.”
“Kita
akan menemui Zach besok, dan kita akan menikah minggu depan. Kau tak perlu
khawatir aku sudah menyiapkan semuanya, kita akan menikah di rumah baru kita.”
“Kalian
sudah memiliki rumah?”
“Tidak
Dhee, aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Sampai sekarang aku belum
melihat rumahnya seperti apa.“
“Aku membeli rumah itu ketika ketika
mendengar Lila sedeng hamil. Entah mengapa aku memiliki keyakinan bahwa bayi
itu adalah anakku.”
“Kapan kalian akan menyusul.”
Tanyaku pada kedua sahabatku.
“Kau saja dulu,
La. Kami nanti saja.”
Malam
itu untuk pertama kalinya menginap di apartemen kami. Sebelum tidur aku kembali
mengobati luka-luka di wajah tampannya itu. Aku miris sekali melihatnya, karena
wajahnya yang tampan jadi lebam.
“Pelan-pelan
sayang, itu sakit sekali.”
“Maaf
Kyle, aku tidak sengaja. Tahan sebentar lagi, ya.”
Aku
kembali mengobati luka-luka di wajah tampannya itu. Setelah menyimpan kotak P3K
di atas meja aku langsung berbaring di samping Kyle.
“Sayang, kau tahu saat ini aku
sangat sangat bahagia sekali. Karena sebentar lagi kau akan menjadi istriku.”
“Aku
tak menyangkan akan menikah secepat ini. Kyle, bolehkah aku melanjutkan kembali
kuliahku setelah melahirkan nanti?”
“Tentu
saja boleh, sayang. Besok aku akan membawamu bertemu dengan keluargaku, mereka
sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu, sayang.”
“Aku
belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya, Kyle.”
“Aku
tahu, sayang. Aku sering menceritakan tentang dirimu pada mereka dan
memperlihatkan fotomu pada mereka semua.”
“Kau
memperlihatkan fotoku pada mereka? Kau membuatku malu, Kyle.”
“Mereka
bilang bahwa kau pasti sangat cantik.”
“Foto
bisa menipu, Kyle. Ayo kita tidur, aku sangat lelah sekali.”
Kyle
langsung memelukku dari belakang, “Istirahatlah sayang, besok akan menjadi hari
yang cukup menyibukan kita berdua.”
Ia
mencium rambutku dan tangannya mengelus-elus perutku dengan sangat lembut,
sampai akhirnya aku tertidur dengan lelap. Tubuhnya yang memelukku membuat aku
merasa nyaman sekali. Keesokan harinya Kyle membangunkanku.
“Sayang,
ayo bangun ini sudah siang.”
Aku
membuka mataku dengan perlahan, “Sekarang jam berapa?”
“Sudah
hampir jam sepuluh, sayang.”
“Mengapa
kau tidak membangunkanku, Kyle.”
“Kau
terlihat sangat kelelahan, sayang. Ayo cepat bangun, ini aku sudah membuatkan
segelas susu untukmu.”
Aku
pun duduk lalu mengambil gelas yang di sodorkan oleh Kyle, “Terima kasih.”
“Sebaiknya
kau segera mandi jika susunya sudah habis.”
“Memangnya
kita akan pergi kemana?”
“Bukankah
kau ingin bertemu dengan Zach. Setelah itu kita pergi bertemu dengan
keluargaku.”
“Ah,
aku hampir saja lupa dengan hal itu. Terima kasih sudah mengingatkanku, Kyle.”
“Aku akan berada di luar jika
sudah siap, sayang.” Kyle mengecup bibirku lalu ia keluar dari kamar.
Setelah
aku menghabiskan susu yang dibuat oleh Kyle aku langsung pergi mandi dan
setelah berpakaian aku langsung menemui Kyle di ruang depan. Aku melihatnya
sedang duduk di sofa sambil menonton TV.
“Serius
sekali kau sedang menonton apa?” aku bertanya sambil duduk di sampingnya.
“Hai
sayang, aku sedang menonton acara music.” Kyle melingkarkan tangannya di
pinggangku.
“Kau
sudah sarapan? Kalau belum biar aku siapkan.”
“Aku
sudah sarapan tadi, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Sebaiknya kau makan
dulu.”
“Aku masih kenyang tadi sudah minum susu,
kan.”
“Tetap
saja kau harus sarapan, atau kita tidak akan pergi kemanapun hari ini.”
Sambil
cemberut aku berjalan ke meja makan dan memakan sarapanku. Sedangkan Kyle
memperhatikanku dari sofa sambil tersenyum geli. Akhirnya kami pun pergi
setelah aku menghabiskan sarapannya. Tujuan pertama kami adalah ke kantornya
Zach, aku sangat gugup sekali bertemu dengannya. Aku tak mau melihat wajahnya
menjadi sedih, rencananya aku yang akan mendatangi Zach di ruangannya sendiri
sedangkan Kyle akan menungguku di lobi.
Untung
saja Zach sedang berada di ruangannya, sekretarisnya bilang Zach belum keluar
ruangan seharian ini. Pertemuan dengan beberapa klien pun ia lakukan melalui
Skype. Aku masuk ke dalam lift dengan sangat gugup, aku tak yakin Zach mau
menemuiku mungkin saja ia akan mengusirku. Kegugupanku semakin bertambah ketika
sudah berada di depan ruangannya.
Kau harus bisa melakukannya Lila, jangan
jadi pengecut. Zach takkan mungkin berani menyakitiku. Aku langsung membuka
pintu kantornya, ekspresi wajahnya bangkit langsung menegang. Tapi ketika
mengetahui aku yang datang ekspresinya langsung melembut. Ia dari kursinya dan
menghampiriku.
“Lila,
apa yang sedang kau lakukan disini?”
“Aku
harus berbicara padamu Zach, selain itu aku juga ingin meminta maaf padamu.”
“Kau
tidak perlu meminta maaf, Lila. Aku sudah mendengar semuanya dari Kyle
kemarin, maaf aku sudah menghajarnya kemarin.”
“Tetap
saja aku harus meminta maaf padamu Zach, aku… aku…”
“Shh…
Sudahlah aku mengerti keadaanmu seperti apa. Lila mulai hari ini aku akan
melepaskanmu, asalakan kau bahagia aku pun ikut bahagia.”
“Ohh,
Zach…” aku langsung memeluknya dengan sangat erat, “Kau juga tahu pasti bahwa
aku juga mencintaimu Zach.”
“Aku
tahu itu, kau tahu terkadang cinta itu memang tak selamanya harus saling
memiliki, bukan. Semoga kau dan Kyle berbahagia Lila.”
“Terima
kasih Zach, sampai kapanpun aku akan tetap sayang padamu.”
“Ah,
dan jangan lupa untuk memberitahuku jika kau sudah melahirkan.”
“Tentu
saja aku akan memberitahumu, Zach aku mohon kau jangan murung lagi seperti ini.
Itupun jika kau memang sayang padaku.”
“Aku
berjanji padamu Lila.” Lalu Zach mencium bibirku cukup lama dan melepaskannya,
“Maaf karena sudah menciummu, Lila.”
“Tak
apa Zach, baiklah kalau begitu aku permisi. Masih banyak yang harus aku lakukan
hari ini, kau harus makan Zach.”
“Aku
akan makan. Ah, jangan lupa untuk mengundangku pada hari pernikahanmu Lila.”
“Aku
akan memberitahumu Zach. Selamat tinggal.”
“Bukan
selamat tinggal Lila, tapi sampai jumpa lagi. Hati-hati di jalan.”
“Ya,
sampai jumpa lagi.” Aku memeluknya sebelum pergi, “Jaga diri baik-baik Zach.”
“Kau
juga Lila.”
Aku
melepaskan pelukannya lalu keluar dari ruangannya dengan perasaan yang sangat
lega. Rasanya semua beban yang menghimpit di dadaku sudah menghilang semuanya.
Aku langsung menghampiri Kyle yang sedang duduk dengan gelisah di sofa yang
berada di lobi.
“Kyle,
ayo kita pergi.” Ajakku sambil tersenyum.
“Apakah
semuanya sudah selesai, sayang?”
“Semuanya
sudah selesai dengan sangat baik, sayang.”
“Syukurlah,
kalau begitu ayo kita pergi sekarang.”
Aku
dan Kyle keluar dari perusahaan Zach sambil bergandengan tangan dan tersenyum.
Lalu kami melanjutkan kembali perjalanan kami ke Georgia untuk bertemu dengan
keluarganya Kyle.
“Kau
tidak bilang akan mengajakku ke Georgia, Kyle. aku tidak membawa pakain ganti.”
“Pakaianmu
sudah aku bawa, sayang. Kau tenang saja, sebaiknya kau tidur saja, sayang.
Perjalan ini akan cukup panjang dan aku tidak mau kau kelelahan.”
“Tapi
jika kau lelah sebaiknya kita berhenti dulu untuk beristirahat, sayang.”
“JIka
aku merasa lelah aku akan beristirahat. Sekarang tidurlah.”
Aku
langsung memejamkan mataku, sejak hamil tubuhku memang tidak bisa di ajak
berkompromi. Aku menjadi mudah lelah, yang aku inginkan hanya tidur dan tidur
sepanjang hari. Aku merasa bahwa Kyle memperlambat laju mobilnya dan sesekali
aku bisa merasakan tangannya membelai wajahku dengan lembut, meskipun aku
sedang tertidur tapi aku bisa merasakannya.
Entah
sudah berapa lama aku tertidur di dalam mobil sampai akhirnya aku merasakan
sebuah kecupan di bibir dan tepukan yang lembut di pipiku. Aku membuka mataku
secara perlahan-lahan dan rasa pusing langsung menyerangku.
“Kita
sudah sampai, sayang. Kau baik-baik saja, kan?”
“Hanya
sedikit pusing, Kyle.”
“Tunggulah
biar aku yang membuka pintu dan membantumu turun.”
Kyle
langsung turun, memutar dan membuka pintu mobil untukku lalu memegangiku saat
turun dari mobil. Aku bersandar di mobil menunggu Kyle yang sedang mengambil
tas dari dalam bagasi, lalu ia menggandeng tanganku menuju ke rumahnya.
Benar-benar rumah yang indah, banyak sekali berbagai jenis bunga yang di tanam
di pekarangan depan. Dan tentu saja aku menemukan bunga kesukaanku yang tumbuh
subur dan sangat indah di sini.
“Tamannya
sangat indah sekali, Kyle. Apalagi ada bunga lily disini.”
“Maa
sangat menyukai bunga, sepertinya kalian berdua akan cocok.” Lalu Kyle membuaka
pintu utama, “Selamat datang di keluargaku sayang.”
Ketika
masuk seluruh keluarga besar Kyle langsung menyambutku dengan hangat. Mereka
langsung menyalami dan memelukku secara bergantian.
“Sudah,
nanti di lanjutkan lagi. Lila harus istirahat.”
“Aku
baik-baik saja, Kyle.”
“Tidak
sayang, Kyle benar kau harus berstirahat. Maa tidak ingin terjadi apa-apa pada
cucu Maa.”
“Beristirahatlah
dulu, Lila. Nanti kita akan mengobrol lagi.”
“Tentu
saja Corrie.”
Aarrgggrrrhhh…akhirnya masalah selesai
BalasHapustinggal tunggu hari bahagianya Lila sm Kyle ^^
Zach yang sabar ya. Cup cup mwah buat Zach :*
cant wait for the chapter sist :*
Iya, sabar buat weddingnya ya...
Hapuslagi godok adegan hothot pop nya yg enak gimana xD