Selasa, 18 Desember 2012

Chapter 27


Chapter 27

                “Maafkan aku sudah memukulmu, Kyle.”
                “Tidak apa-apa Eric aku memang pantas mendapatkannya.”
                “Sepertinya masalah ini sudah selesai, kan.”
                “Belum, aku belum mengatakan hal ini pada Mama dan Papa di Jakarta.”
                “Kau tidak perlu khawatir, sayang. Dua hari yang lalu aku sudah menemui kedua orang tuamu di Jakarta dan aku sangat bersyukur mereka mau mengerti, menerima dan merestui kita.”
                “Nah, kapan kalian akan segera menikah?”
                “Aku harus berbicara pada Zach.”
                “Kita akan menemui Zach besok, dan kita akan menikah minggu depan. Kau tak perlu khawatir aku sudah menyiapkan semuanya, kita akan menikah di rumah baru kita.”
                “Kalian sudah memiliki rumah?”
                “Tidak Dhee, aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Sampai sekarang aku belum melihat rumahnya seperti apa.“
“Aku membeli rumah itu ketika ketika mendengar Lila sedeng hamil. Entah mengapa aku memiliki keyakinan bahwa bayi itu adalah anakku.”
“Kapan kalian akan menyusul.” Tanyaku pada kedua sahabatku.
“Kau saja dulu, La. Kami nanti saja.”                                                         
                Malam itu untuk pertama kalinya menginap di apartemen kami. Sebelum tidur aku kembali mengobati luka-luka di wajah tampannya itu. Aku miris sekali melihatnya, karena wajahnya yang tampan jadi lebam.
                “Pelan-pelan sayang, itu sakit sekali.”
                “Maaf Kyle, aku tidak sengaja. Tahan sebentar lagi, ya.”
                Aku kembali mengobati luka-luka di wajah tampannya itu. Setelah menyimpan kotak P3K di atas meja aku langsung berbaring di samping Kyle.
“Sayang, kau tahu saat ini aku sangat sangat bahagia sekali. Karena sebentar lagi kau akan menjadi istriku.”
                “Aku tak menyangkan akan menikah secepat ini. Kyle, bolehkah aku melanjutkan kembali kuliahku setelah melahirkan nanti?”
                “Tentu saja boleh, sayang. Besok aku akan membawamu bertemu dengan keluargaku, mereka sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu, sayang.”
                “Aku belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya, Kyle.”
                “Aku tahu, sayang. Aku sering menceritakan tentang dirimu pada mereka dan memperlihatkan fotomu pada mereka semua.”
                “Kau memperlihatkan fotoku pada mereka? Kau membuatku malu, Kyle.”
                “Mereka bilang bahwa kau pasti sangat cantik.”
                “Foto bisa menipu, Kyle. Ayo kita tidur, aku sangat lelah sekali.”
                Kyle langsung memelukku dari belakang, “Istirahatlah sayang, besok akan menjadi hari yang cukup menyibukan kita berdua.”
                Ia mencium rambutku dan tangannya mengelus-elus perutku dengan sangat lembut, sampai akhirnya aku tertidur dengan lelap. Tubuhnya yang memelukku membuat aku merasa nyaman sekali. Keesokan harinya Kyle membangunkanku.
                “Sayang, ayo bangun ini sudah siang.”
                Aku membuka mataku dengan perlahan, “Sekarang jam berapa?”
                “Sudah hampir jam sepuluh, sayang.”
                “Mengapa kau tidak membangunkanku, Kyle.”
                “Kau terlihat sangat kelelahan, sayang. Ayo cepat bangun, ini aku sudah membuatkan segelas susu untukmu.”
                Aku pun duduk lalu mengambil gelas yang di sodorkan oleh Kyle, “Terima kasih.”
                “Sebaiknya kau segera mandi jika susunya sudah habis.”
                “Memangnya kita akan pergi kemana?”
                “Bukankah kau ingin bertemu dengan Zach. Setelah itu kita pergi bertemu dengan keluargaku.”
                “Ah, aku hampir saja lupa dengan hal itu. Terima kasih sudah mengingatkanku, Kyle.”
                “Aku akan berada di luar jika sudah siap, sayang.” Kyle mengecup bibirku lalu ia keluar dari kamar.
                Setelah aku menghabiskan susu yang dibuat oleh Kyle aku langsung pergi mandi dan setelah berpakaian aku langsung menemui Kyle di ruang depan. Aku melihatnya sedang duduk di sofa sambil menonton TV.
                “Serius sekali kau sedang menonton apa?” aku bertanya sambil duduk di sampingnya.
                “Hai sayang, aku sedang menonton acara music.” Kyle melingkarkan tangannya di pinggangku.
                “Kau sudah sarapan? Kalau belum biar aku siapkan.”
                “Aku sudah sarapan tadi, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Sebaiknya kau makan dulu.”
                 “Aku masih kenyang tadi sudah minum susu, kan.”
                “Tetap saja kau harus sarapan, atau kita tidak akan pergi kemanapun hari ini.”
                Sambil cemberut aku berjalan ke meja makan dan memakan sarapanku. Sedangkan Kyle memperhatikanku dari sofa sambil tersenyum geli. Akhirnya kami pun pergi setelah aku menghabiskan sarapannya. Tujuan pertama kami adalah ke kantornya Zach, aku sangat gugup sekali bertemu dengannya. Aku tak mau melihat wajahnya menjadi sedih, rencananya aku yang akan mendatangi Zach di ruangannya sendiri sedangkan Kyle akan menungguku di lobi.
                Untung saja Zach sedang berada di ruangannya, sekretarisnya bilang Zach belum keluar ruangan seharian ini. Pertemuan dengan beberapa klien pun ia lakukan melalui Skype. Aku masuk ke dalam lift dengan sangat gugup, aku tak yakin Zach mau menemuiku mungkin saja ia akan mengusirku. Kegugupanku semakin bertambah ketika sudah berada di depan ruangannya.
                Kau harus bisa melakukannya Lila, jangan jadi pengecut. Zach takkan mungkin berani menyakitiku. Aku langsung membuka pintu kantornya, ekspresi wajahnya bangkit langsung menegang. Tapi ketika mengetahui aku yang datang ekspresinya langsung melembut. Ia dari kursinya dan menghampiriku.
                “Lila, apa yang sedang kau lakukan disini?”
                “Aku harus berbicara padamu Zach, selain itu aku juga ingin meminta maaf padamu.”
                 “Kau  tidak perlu meminta maaf, Lila. Aku sudah mendengar semuanya dari Kyle kemarin, maaf aku sudah menghajarnya kemarin.”
                “Tetap saja aku harus meminta maaf padamu Zach, aku… aku…”
                “Shh… Sudahlah aku mengerti keadaanmu seperti apa. Lila mulai hari ini aku akan melepaskanmu, asalakan kau bahagia aku pun ikut bahagia.”
                “Ohh, Zach…” aku langsung memeluknya dengan sangat erat, “Kau juga tahu pasti bahwa aku juga mencintaimu Zach.”
                “Aku tahu itu, kau tahu terkadang cinta itu memang tak selamanya harus saling memiliki, bukan. Semoga kau dan Kyle berbahagia Lila.”
                “Terima kasih Zach, sampai kapanpun aku akan tetap sayang padamu.”
                “Ah, dan jangan lupa untuk memberitahuku jika kau sudah melahirkan.”
                “Tentu saja aku akan memberitahumu, Zach aku mohon kau jangan murung lagi seperti ini. Itupun jika kau memang sayang padaku.”
                “Aku berjanji padamu Lila.” Lalu Zach mencium bibirku cukup lama dan melepaskannya, “Maaf karena sudah menciummu, Lila.”
                “Tak apa Zach, baiklah kalau begitu aku permisi. Masih banyak yang harus aku lakukan hari ini, kau harus makan Zach.”
                “Aku akan makan. Ah, jangan lupa untuk mengundangku pada hari pernikahanmu Lila.”
                “Aku akan memberitahumu Zach. Selamat tinggal.”
                “Bukan selamat tinggal Lila, tapi sampai jumpa lagi. Hati-hati di jalan.”
                “Ya, sampai jumpa lagi.” Aku memeluknya sebelum pergi, “Jaga diri baik-baik Zach.”
                “Kau juga Lila.”
                Aku melepaskan pelukannya lalu keluar dari ruangannya dengan perasaan yang sangat lega. Rasanya semua beban yang menghimpit di dadaku sudah menghilang semuanya. Aku langsung menghampiri Kyle yang sedang duduk dengan gelisah di sofa yang berada di lobi.
                “Kyle, ayo kita pergi.” Ajakku sambil tersenyum.
                “Apakah semuanya sudah selesai, sayang?”
                “Semuanya sudah selesai dengan sangat baik, sayang.”
                “Syukurlah, kalau begitu ayo kita pergi sekarang.”
                Aku dan Kyle keluar dari perusahaan Zach sambil bergandengan tangan dan tersenyum. Lalu kami melanjutkan kembali perjalanan kami ke Georgia untuk bertemu dengan keluarganya Kyle.
                “Kau tidak bilang akan mengajakku ke Georgia, Kyle. aku tidak membawa pakain ganti.”
                “Pakaianmu sudah aku bawa, sayang. Kau tenang saja, sebaiknya kau tidur saja, sayang. Perjalan ini akan cukup panjang dan aku tidak mau kau kelelahan.”
                “Tapi jika kau lelah sebaiknya kita berhenti dulu untuk beristirahat, sayang.”
                “JIka aku merasa lelah aku akan beristirahat. Sekarang tidurlah.”
                Aku langsung memejamkan mataku, sejak hamil tubuhku memang tidak bisa di ajak berkompromi. Aku menjadi mudah lelah, yang aku inginkan hanya tidur dan tidur sepanjang hari. Aku merasa bahwa Kyle memperlambat laju mobilnya dan sesekali aku bisa merasakan tangannya membelai wajahku dengan lembut, meskipun aku sedang tertidur tapi aku bisa merasakannya.
                Entah sudah berapa lama aku tertidur di dalam mobil sampai akhirnya aku merasakan sebuah kecupan di bibir dan tepukan yang lembut di pipiku. Aku membuka mataku secara perlahan-lahan dan rasa pusing langsung menyerangku.
                “Kita sudah sampai, sayang. Kau baik-baik saja, kan?”
                “Hanya sedikit pusing, Kyle.”
                “Tunggulah biar aku yang membuka pintu dan membantumu turun.”
                Kyle langsung turun, memutar dan membuka pintu mobil untukku lalu memegangiku saat turun dari mobil. Aku bersandar di mobil menunggu Kyle yang sedang mengambil tas dari dalam bagasi, lalu ia menggandeng tanganku menuju ke rumahnya. Benar-benar rumah yang indah, banyak sekali berbagai jenis bunga yang di tanam di pekarangan depan. Dan tentu saja aku menemukan bunga kesukaanku yang tumbuh subur dan sangat indah di sini.
                “Tamannya sangat indah sekali, Kyle. Apalagi ada bunga lily disini.”
                “Maa sangat menyukai bunga, sepertinya kalian berdua akan cocok.” Lalu Kyle membuaka pintu utama, “Selamat datang di keluargaku sayang.”
                Ketika masuk seluruh keluarga besar Kyle langsung menyambutku dengan hangat. Mereka langsung menyalami dan memelukku secara bergantian.
                “Sudah, nanti di lanjutkan lagi. Lila harus istirahat.”
                “Aku baik-baik saja, Kyle.”
                “Tidak sayang, Kyle benar kau harus berstirahat. Maa tidak ingin terjadi apa-apa pada cucu Maa.”
                “Beristirahatlah dulu, Lila. Nanti kita akan mengobrol lagi.”
                “Tentu saja Corrie.”

2 komentar:

  1. Aarrgggrrrhhh…akhirnya masalah selesai
    tinggal tunggu hari bahagianya Lila sm Kyle ^^

    Zach yang sabar ya. Cup cup mwah buat Zach :*

    cant wait for the chapter sist :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sabar buat weddingnya ya...
      lagi godok adegan hothot pop nya yg enak gimana xD

      Hapus