Senin, 03 Desember 2012

Chapter 9


 Chapter 9



                Aku terdiam dan langsung mengikuti arah pandangan Gale. Ya Tuhan, sangat indah sekali. Padang bungan mawar putih di halaman belakang rumah lalu ada sebuah kursi ayunan yang berukuran besar di sana. Ya Tuhan, benar-benar sangat indah sekali. Lalu Gale menggendongku mendekat kesana dan setelah sampai ia menurunkanku dengan perlahan.

                “Apakah kau menyukainya, Angel? Semua ini aku siapkan hanya untukmu.”
                “Gale… Aku tak tahu harus mengucapkan apalagi, kau benar-benar membuatku tak bisa berkata-kata. Aku merasa sangat tersanjung dan sangat terharu dengan semua ini.”

                Aku mengitari padang bunga mawar itu sambil bergandengan tangan dengan Gale. Benar-benar sangat indah sekali. Tiba-tiba Gale membalikan tubuhku sehingga kami saling berhadapan, dengan lembut ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang besar itu. Lalu ia mengunci bibirku dengan bibirnya, kami berciuman dengan sangat intens. Dari lembut sampai agak liar, saling menggigit bibir masing-masing dan saling menautkan lidah kami berdua.

                Lalu Gale mengangkat tubuhku sambil terus saja menciumi bibirku dengan rakusnya. Ia membopongku menuju ke ayunan yang ada di sana dan membaringkanku. Sedangkan Gale berlutut di sampingku sambil membelai wajahku dengan begitu lembut.

                “Kau sangat cantik sekali Dhea, aku sangat sangat mencintaimu.”

                Gale mendekatkan wajahnya padaku, aku merasakan nafasnya di wajahku. Lalu ia mulai menciumi bibir, wajah dan leherku. Sedangkan aku melingkarkan kedua tanganku ke lehernya, tubuhku sudah benar-benar memanas dan menggelinjang tak karuan.

                “Gale…” nafasku tertahan dengan suara yang serak.

                Ia tidak menanggapiku tangannya membelai pahaku lalu tangannya menyelusup masuk kedalan t-shirt yang aku kenakan. Lalu jari-jarinya menari di perutku, membuatku menggelinjang kegelian.

                “Gale, tolong hentikan aku mohon…”

                Lagi-lagi ia hanya tersenyum melihat reaksiku. Ia malah menjalankan tangannya keatas menuju buah dadaku berada dan meremasnya dengan begitu lembut. Aku terkesiap sambil mengeluarkan erangan kecil kecil ketika ia melakukan itu. Tindakannya itu membuat dadaku semakin sesak dan terengah-engah. Ia lalu berdiri membiarkanku yang sudah terengah-engah dan berkeringan.

                Gale melepaskan jasnya lalu menyimpannya di atas meja kecil yang berada di situ. Lalu ia mulai membuka kancing kemeja satu persatu dengan gerakan yang sangat anggun. Lalu ia membuka kemeja dan menyimpannya di atas meja. Aku langsung terpana melihat tubuh Gale yang sangat indah dan seksi itu. Tubuh yang kekar dengan otot-otot yang keras benar-benar seperti di pahat dengan begitu sempurna.

                 “Berhenti memandangiku seperti itu, Angel. Kau semakin membuatku tidak sabar.”
                “Kau… Benar-benar sangat tampan sekali, Gale.”
                “Dan kau sangat cantik, Angel.” Ia kembali membelai wajahku dengan sangat lembut.

                Dengan perlahan dan gemetaran aku menyentuh dadanya yang bidang dan tanpa pakaian itu. Lalu menjalankan jari-jariku dari atas menuju ke perutnya. Tubuhnya benar-benar membuatku mabuk, ya Tuhan, rasanya aku ingin melahap tubuhnya saja dan akan kujadikan sebagai milikku satu-satunya.              

                Gale lalu menempatkan tubuhku di pangkuannya lalu kami berdua kembali berciuman. Dan kali ini benar-benar sangat panas sekali. Gale meremas pinggangku dengan begitu gemas lalu secara perlahan menarik t-shirt yang ku pakai dan hanya menyisakan bra yang kupakai saja.

                Aku semakin liar menciumi Gale dari bibi hingga perutnya dan sepertinya Gale senang dengan hal yang telah aku lakukan. Bahkan ketika aku mulai melepaskan ikat pinggal milik Gale, sepertinya ia pasrah saja bahkan terlihat geli.
                “Aku rela dengan apa yang akan kau lakukan padaku, Angel.”
                “Benarkah?”
                “Ya, kau yang berkuasa atas tubuhku ini Miss Dheandra.”
                “Tapi aku belum pernah melakukan hal ini sebelumnya Mr. Harold.”
                “Aku percaya kau bisa melakukannya, ikuti saja nalurimu Angel.”
                Aku berdiri dari pangkuan Gale, “Berdiri Mr. Harold, biar aku lepaskan celanamu.”
                “Dengan senang hati, sepertinya kau sudah tidak sabar sekali.”

                Aku membungkuk dan menurunkan resleting celana Gale menggunakan gigiku, aku juga bisa merasakan sesuatu yang berada di balik celananya semakin membesar dan keras seperti batu. Setelah celananya berhasil di buka aku menyeringai sambil menatap wajah Gale yang tampan.

                “Jangan menyeringai seperti itu, sayang. Kau sedang mempermainkan dan menyiksaku dengan kenikmatan, bukan.”
                “Bukankah kau rela aku perlakukan seperti apapun juga.”
                “Biarkan aku menyelesaikan ini Mr. Harold.”

                Dengan perlahan aku membelai paha Gale, lalu aku mendaratkan bibirku di salah satu pahanya dan dengan perlahan aku menjilatnya. Saat aku melakukan itu aku bisa mendengar Gale menggeram dan mendesis tertahan. Kena kau Gale.    

                “Sayang, kau benar-benar membuatku gila.” Gale langsung menarikku berdiri dan melepaskan jeans dan ia berhasil melepaskan bersama dengan celana dalam yang aku pakai.

                Lalu Gale kembali duduk di ayunan dan mendudukanku diatas pangkuannya, sehingga aku mengangkanginya. Entah kapan Gale membuka boxser dan celana dalamnya, karena ketika aku duduk di pangkuannya aku bisa merasakan ereksinya yang sudah sangat besar dank eras itu menyentuh bagian pusat diriku.

                Lalu ia mengangkat tubuhku dan dengan perlahan mengarahkan diriku tepat di atas ereksinya. Aku terpekik ketika Gale berusaha memasukan ereksinya itu kedalan tubuhku hingga setengahnya. Gale menciumku dan saat itulah ia mendorong dirinya kedalam diriku dengan cukup keras, membuatku berteriak.

                “Tidak apa-apa, tenanglah sayang rasa sakit itu akan hilang. Percayalah padaku. Sekarang gerakan tubuhmu ke atas dan ke bawah secara perlahan.”

                Aku menuruti perkataan Gale, ketika aku mengangkat tubuhku secara perlahan aku meringis lalu menurunkan kembali tubuhku secara perlahan. Lama-lama rasa sakit itu menghilang, dan aku mulai terbiasa dengan rasa yang aku rasakan ini. Dengan lincah aku menggerakan tubuhku di atas tubuh Gale, sampai akhirnya aku merasakan tubuhku bergetar hebat.

                “Gale…” aku terpekik memanggil namanya ketika pelepasan itu sampai pada puncaknya.

                Tubuhku langsung terkulai lemas lalu Gale mebalik tubuhku sehingga ia yang sekarang berada di atas tubuhku. Ia terus menerus melakukan gerakan keluar dan masuk, mengeluarkan dengan lembut dan menghujam kembali dengan begitu keras dan membuatku tak berhenti berteriak.

                “Berteriaklah sayang, aku ingin kau mengingat bahwa aku pernah berada di dalam sana. Karena kau miliku Dhea, milikku seorang.”

                Ia semakin cepat melakukan gerakannya sampai nakhirnya aku bisa merasakan tubuhnya bergetar hebat, nafasnya memburu dan dengan sekali hentakan ia mencapai pelepasannya. Ia meledak di dalam diriku dengan panas. Lalu tubuhnya terkulai lemar di atas tubuhku.
                Setelah nafas kami berdua kembali normal, Gale melepaskan dirinya dari dalam diriku dengan perlahan lalu membelai wajahku dengan penuh rasa cinta yang sangat mendalam.
               
                “Sayang, terima kasih tadi sangat sangat sangat hebat. Aku semakin mencintaimu, Angel.”
                “Aku juga Gale,”
                “Ayo, kita berenang sambil membersihkan tubuh kita yang lengket oleh keringat.”

                Gale menggendongku, mungkin ia tahu bahwa aku masih sangat lemas. Aku merasa bahwa kakiku seperti jelly. Lalu dengan perlahan Gale menuruni tangga yang langsung menuju ke dalam kolam. Tubuhku langsung terasa segar ketika terkena air kolam yang dingin.

                “Ah, benar-benar sangat menyegarkan sekali.”
                “Kemari…” Gale menarikku kedalam pelukannya dan dengan lembut meremas buah dadaku. “Apakah badanm terasa sakit, Angel?”
                “Semua badanku sangat sakit sekali, Gale. Kakiku seperti jelly, tak sanggup untuk berdiri.”
                “Nanti kau akan terbiasa, sayang. Karena aku takkan pernah puas bercinta denganmu, aku ingin mengalami bercinta di semua sudut dan ruangan di rumah ini. Aku harap kau mau tinggal selama beberapa hari disini bersamaku, Angel.”
                “Aku mau, Gale.”
                “Ayo, sebaiknya kita naik dan berendam di dalam air hangat saja. Agar tubuhmu terasa lebih baik.”

                Gale naik kepermukaan untuk mengambil sebuah jubah mandi yang memang sengaja di sediakan di dekat situ. Lalu membantuku naik dan memakainya jubahnya padaku, kami berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke lantai dua.

                “ini kamarmu Gale?”
                “Kamar kita berdua, Angel. Ingat kau akan menjadi nyonya di rumah ini.”
                “Tapi itu masih lama, Gale.”
                “Tak masalah, sayang. Karena rumah ini sudah menjadi rumahmu juga.”
                “Tapi besok aku pulang, ya. Kasian Lila, karena besok Asya juga dan Mark akan pergi.”
                “Iya, lagipula Lila memang harus ada yang mengawasi. Ia sedang sangat rapuh dan labil saat ini, aku khawatir ia akan melakukan hal yang bodoh.”
                “Lila takkan berpikiran sedangkal itu, Gale.”
                “Kalau begitu ayo kita pergi ke balkon.”
                “Balkon? Bukannya kita mau pergi mandi?”
                “Nanti saja, sayang. Karena aku sangat ingin sekali bercinta denganmu di balkon sebelum kita pergi mandi.”
                “Gale, bolehkah aku menelepon Lila dulu.”
                “Tentu saja, Angel. Aku akan berada di balkon jika kau sudah selesai.”

                Gale mencium bibirku singkat, lalu aku menuju ke telepon yang berada di samping tempat tidur dan langsung memencet nomor ponsel Lila.

                “Halo, kau sedang berada di mana Lila?”
                “Hai Dhee, aku sedang berada di toko buku. Ada apa?”
                “Aku hanya khawatir padamu Lila.”
                “Jangan khawatirkan aku, Dhee. Aku akan baik-baik saja.”
                “Aku mau bilang kalau hari ini aku takkan bisa pulang.”
                “Aku mengerti, Dhee. Tadi Asya juga menelepon bahwa ia tak bisa pulang malam ini.”
                “Asya juga takkan pulang? Kalau begitu aku akan pulang nanti malam.”
                “Tidak usah, Dhee. Aku taka pa sendiri di apartemen, nikmati akhir pekanmu bersama Gale.”
                “Tapi bagaimana denganmu, Lila?”
                “Aku akan baik-baik saja, Dhee. Aku akan pergi ke kafe dengan beberapa teman jadi kau jangan khawatir aku akan kesepian.”
                “Ya sudah kalau begitu, kau hati-hati. Langsung hubungi aku kalau gterjadi sesuatu.”
                “Tentu saja aku akan langsung menghubungimu, Dhee. Sudah ya, bye.”

                Lila langsung menutup teleponnya begitu saja. Dengan sedikit khwatir aku langsung menyusul Gale yang sudah menungguku di balkon.

2 komentar:

  1. O.o

    WOW!!! speechlesss :o

    Lanjut :D

    BalasHapus
  2. wow..wow..
    Lebih gila lagi.
    Ckckckckckk

    #panggil Mark
    hahaa

    next chapter ya kakak :*

    BalasHapus