Chapter 9
Aku
terdiam dan langsung mengikuti arah pandangan Gale. Ya Tuhan, sangat indah
sekali. Padang bungan mawar putih di halaman belakang rumah lalu ada sebuah
kursi ayunan yang berukuran besar di sana. Ya Tuhan, benar-benar sangat indah
sekali. Lalu Gale menggendongku mendekat kesana dan setelah sampai ia
menurunkanku dengan perlahan.
“Apakah
kau menyukainya, Angel? Semua ini aku siapkan hanya untukmu.”
“Gale…
Aku tak tahu harus mengucapkan apalagi, kau benar-benar membuatku tak bisa
berkata-kata. Aku merasa sangat tersanjung dan sangat terharu dengan semua
ini.”
Aku
mengitari padang bunga mawar itu sambil bergandengan tangan dengan Gale.
Benar-benar sangat indah sekali. Tiba-tiba Gale membalikan tubuhku sehingga
kami saling berhadapan, dengan lembut ia menangkup wajahku dengan kedua
tangannya yang besar itu. Lalu ia mengunci bibirku dengan bibirnya, kami
berciuman dengan sangat intens. Dari lembut sampai agak liar, saling menggigit
bibir masing-masing dan saling menautkan lidah kami berdua.
Lalu
Gale mengangkat tubuhku sambil terus saja menciumi bibirku dengan rakusnya. Ia
membopongku menuju ke ayunan yang ada di sana dan membaringkanku. Sedangkan Gale
berlutut di sampingku sambil membelai wajahku dengan begitu lembut.
“Kau
sangat cantik sekali Dhea, aku sangat sangat mencintaimu.”
Gale
mendekatkan wajahnya padaku, aku merasakan nafasnya di wajahku. Lalu ia mulai
menciumi bibir, wajah dan leherku. Sedangkan aku melingkarkan kedua tanganku ke
lehernya, tubuhku sudah benar-benar memanas dan menggelinjang tak karuan.
“Gale…”
nafasku tertahan dengan suara yang serak.
Ia
tidak menanggapiku tangannya membelai pahaku lalu tangannya menyelusup masuk kedalan
t-shirt yang aku kenakan. Lalu jari-jarinya menari di perutku, membuatku
menggelinjang kegelian.
“Gale,
tolong hentikan aku mohon…”
Lagi-lagi
ia hanya tersenyum melihat reaksiku. Ia malah menjalankan tangannya keatas
menuju buah dadaku berada dan meremasnya dengan begitu lembut. Aku terkesiap
sambil mengeluarkan erangan kecil kecil ketika ia melakukan itu. Tindakannya
itu membuat dadaku semakin sesak dan terengah-engah. Ia lalu berdiri
membiarkanku yang sudah terengah-engah dan berkeringan.
Gale
melepaskan jasnya lalu menyimpannya di atas meja kecil yang berada di situ.
Lalu ia mulai membuka kancing kemeja satu persatu dengan gerakan yang sangat
anggun. Lalu ia membuka kemeja dan menyimpannya di atas meja. Aku langsung
terpana melihat tubuh Gale yang sangat indah dan seksi itu. Tubuh yang kekar
dengan otot-otot yang keras benar-benar seperti di pahat dengan begitu
sempurna.
“Berhenti memandangiku seperti itu, Angel. Kau
semakin membuatku tidak sabar.”
“Kau…
Benar-benar sangat tampan sekali, Gale.”
“Dan
kau sangat cantik, Angel.” Ia kembali membelai wajahku dengan sangat lembut.
Dengan
perlahan dan gemetaran aku menyentuh dadanya yang bidang dan tanpa pakaian itu.
Lalu menjalankan jari-jariku dari atas menuju ke perutnya. Tubuhnya benar-benar
membuatku mabuk, ya Tuhan, rasanya aku ingin melahap tubuhnya saja dan akan
kujadikan sebagai milikku satu-satunya.
Gale
lalu menempatkan tubuhku di pangkuannya lalu kami berdua kembali berciuman. Dan
kali ini benar-benar sangat panas sekali. Gale meremas pinggangku dengan begitu
gemas lalu secara perlahan menarik t-shirt yang ku pakai dan hanya menyisakan
bra yang kupakai saja.
Aku
semakin liar menciumi Gale dari bibi hingga perutnya dan sepertinya Gale senang
dengan hal yang telah aku lakukan. Bahkan ketika aku mulai melepaskan ikat
pinggal milik Gale, sepertinya ia pasrah saja bahkan terlihat geli.
“Aku
rela dengan apa yang akan kau lakukan padaku, Angel.”
“Benarkah?”
“Ya,
kau yang berkuasa atas tubuhku ini Miss Dheandra.”
“Tapi
aku belum pernah melakukan hal ini sebelumnya Mr. Harold.”
“Aku
percaya kau bisa melakukannya, ikuti saja nalurimu Angel.”
Aku
berdiri dari pangkuan Gale, “Berdiri Mr. Harold, biar aku lepaskan celanamu.”
“Dengan
senang hati, sepertinya kau sudah tidak sabar sekali.”
Aku
membungkuk dan menurunkan resleting celana Gale menggunakan gigiku, aku juga
bisa merasakan sesuatu yang berada di balik celananya semakin membesar dan keras
seperti batu. Setelah celananya berhasil di buka aku menyeringai sambil menatap
wajah Gale yang tampan.
“Jangan
menyeringai seperti itu, sayang. Kau sedang mempermainkan dan menyiksaku dengan
kenikmatan, bukan.”
“Bukankah
kau rela aku perlakukan seperti apapun juga.”
“Biarkan
aku menyelesaikan ini Mr. Harold.”
Dengan
perlahan aku membelai paha Gale, lalu aku mendaratkan bibirku di salah satu
pahanya dan dengan perlahan aku menjilatnya. Saat aku melakukan itu aku bisa
mendengar Gale menggeram dan mendesis tertahan. Kena kau Gale.
“Sayang,
kau benar-benar membuatku gila.” Gale langsung menarikku berdiri dan melepaskan
jeans dan ia berhasil melepaskan bersama dengan celana dalam yang aku pakai.
Lalu
Gale kembali duduk di ayunan dan mendudukanku diatas pangkuannya, sehingga aku
mengangkanginya. Entah kapan Gale membuka boxser dan celana dalamnya, karena
ketika aku duduk di pangkuannya aku bisa merasakan ereksinya yang sudah sangat
besar dank eras itu menyentuh bagian pusat diriku.
Lalu
ia mengangkat tubuhku dan dengan perlahan mengarahkan diriku tepat di atas
ereksinya. Aku terpekik ketika Gale berusaha memasukan ereksinya itu kedalan
tubuhku hingga setengahnya. Gale menciumku dan saat itulah ia mendorong dirinya
kedalam diriku dengan cukup keras, membuatku berteriak.
“Tidak
apa-apa, tenanglah sayang rasa sakit itu akan hilang. Percayalah padaku.
Sekarang gerakan tubuhmu ke atas dan ke bawah secara perlahan.”
Aku
menuruti perkataan Gale, ketika aku mengangkat tubuhku secara perlahan aku
meringis lalu menurunkan kembali tubuhku secara perlahan. Lama-lama rasa sakit
itu menghilang, dan aku mulai terbiasa dengan rasa yang aku rasakan ini. Dengan
lincah aku menggerakan tubuhku di atas tubuh Gale, sampai akhirnya aku
merasakan tubuhku bergetar hebat.
“Gale…”
aku terpekik memanggil namanya ketika pelepasan itu sampai pada puncaknya.
Tubuhku
langsung terkulai lemas lalu Gale mebalik tubuhku sehingga ia yang sekarang
berada di atas tubuhku. Ia terus menerus melakukan gerakan keluar dan masuk,
mengeluarkan dengan lembut dan menghujam kembali dengan begitu keras dan
membuatku tak berhenti berteriak.
“Berteriaklah
sayang, aku ingin kau mengingat bahwa aku pernah berada di dalam sana. Karena kau
miliku Dhea, milikku seorang.”
Ia
semakin cepat melakukan gerakannya sampai nakhirnya aku bisa merasakan tubuhnya
bergetar hebat, nafasnya memburu dan dengan sekali hentakan ia mencapai
pelepasannya. Ia meledak di dalam diriku dengan panas. Lalu tubuhnya terkulai
lemar di atas tubuhku.
Setelah nafas
kami berdua kembali normal, Gale melepaskan dirinya dari dalam diriku dengan
perlahan lalu membelai wajahku dengan penuh rasa cinta yang sangat mendalam.
“Sayang,
terima kasih tadi sangat sangat sangat hebat. Aku semakin mencintaimu, Angel.”
“Aku juga
Gale,”
“Ayo, kita
berenang sambil membersihkan tubuh kita yang lengket oleh keringat.”
Gale menggendongku,
mungkin ia tahu bahwa aku masih sangat lemas. Aku merasa bahwa kakiku seperti
jelly. Lalu dengan perlahan Gale menuruni tangga yang langsung menuju ke dalam
kolam. Tubuhku langsung terasa segar ketika terkena air kolam yang dingin.
“Ah,
benar-benar sangat menyegarkan sekali.”
“Kemari…”
Gale menarikku kedalam pelukannya dan dengan lembut meremas buah dadaku. “Apakah
badanm terasa sakit, Angel?”
“Semua
badanku sangat sakit sekali, Gale. Kakiku seperti jelly, tak sanggup untuk
berdiri.”
“Nanti kau
akan terbiasa, sayang. Karena aku takkan pernah puas bercinta denganmu, aku
ingin mengalami bercinta di semua sudut dan ruangan di rumah ini. Aku harap kau
mau tinggal selama beberapa hari disini bersamaku, Angel.”
“Aku mau,
Gale.”
“Ayo,
sebaiknya kita naik dan berendam di dalam air hangat saja. Agar tubuhmu terasa
lebih baik.”
Gale naik
kepermukaan untuk mengambil sebuah jubah mandi yang memang sengaja di sediakan
di dekat situ. Lalu membantuku naik dan memakainya jubahnya padaku, kami
berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke lantai dua.
“ini
kamarmu Gale?”
“Kamar
kita berdua, Angel. Ingat kau akan menjadi nyonya di rumah ini.”
“Tapi itu
masih lama, Gale.”
“Tak
masalah, sayang. Karena rumah ini sudah menjadi rumahmu juga.”
“Tapi
besok aku pulang, ya. Kasian Lila, karena besok Asya juga dan Mark akan pergi.”
“Iya,
lagipula Lila memang harus ada yang mengawasi. Ia sedang sangat rapuh dan labil
saat ini, aku khawatir ia akan melakukan hal yang bodoh.”
“Lila
takkan berpikiran sedangkal itu, Gale.”
“Kalau
begitu ayo kita pergi ke balkon.”
“Balkon? Bukannya
kita mau pergi mandi?”
“Nanti
saja, sayang. Karena aku sangat ingin sekali bercinta denganmu di balkon
sebelum kita pergi mandi.”
“Gale,
bolehkah aku menelepon Lila dulu.”
“Tentu
saja, Angel. Aku akan berada di balkon jika kau sudah selesai.”
Gale
mencium bibirku singkat, lalu aku menuju ke telepon yang berada di samping
tempat tidur dan langsung memencet nomor ponsel Lila.
“Halo, kau
sedang berada di mana Lila?”
“Hai Dhee,
aku sedang berada di toko buku. Ada apa?”
“Aku hanya
khawatir padamu Lila.”
“Jangan
khawatirkan aku, Dhee. Aku akan baik-baik saja.”
“Aku mau
bilang kalau hari ini aku takkan bisa pulang.”
“Aku
mengerti, Dhee. Tadi Asya juga menelepon bahwa ia tak bisa pulang malam ini.”
“Asya juga
takkan pulang? Kalau begitu aku akan pulang nanti malam.”
“Tidak
usah, Dhee. Aku taka pa sendiri di apartemen, nikmati akhir pekanmu bersama
Gale.”
“Tapi
bagaimana denganmu, Lila?”
“Aku akan
baik-baik saja, Dhee. Aku akan pergi ke kafe dengan beberapa teman jadi kau
jangan khawatir aku akan kesepian.”
“Ya sudah
kalau begitu, kau hati-hati. Langsung hubungi aku kalau gterjadi sesuatu.”
“Tentu
saja aku akan langsung menghubungimu, Dhee. Sudah ya, bye.”
Lila langsung
menutup teleponnya begitu saja. Dengan sedikit khwatir aku langsung menyusul
Gale yang sudah menungguku di balkon.
O.o
BalasHapusWOW!!! speechlesss :o
Lanjut :D
wow..wow..
BalasHapusLebih gila lagi.
Ckckckckckk
#panggil Mark
hahaa
next chapter ya kakak :*