Chapter 17
***
“Dhee,
Lila aneh ya, kau merasakannya juga bukan?”
“Iya,
Lila aneh. Dia jadi sangat sensitive dan yang paling mencolok adalah pola
makannya yang jadi berubah.”
“Dhee,
apa jangan-jangan Lila hamil.”
“Aku juga
punya pemikiran seperti itu, Sya. Tapi aku tidak ingin gegabah, nanti kita
sudah heboh kalau Lila hamil tapi ternyata tidak, nanti malah kita yang repot,
Sya.”
“Kau tahu
kan kalau Lila tidak suka minum susu coklat begitu juga dengan mangga. Tapi
kenapa tiba-tiba ia jadi suka makan buah mangga yang muda-muda pula. Apa itu
bukannya jadi salah satu tanda-tana kalau Lila sedang hamil.”
“Bagaimana
kalau kita buktikan saja.”
“Membuktikannya
bagaimana, Dhee?”
“Aku akan
membeli testpack lalu kita suruh Lila memeriksa urinenya dengan testpack itu.”
“Ide yang
bagus, Dhee. Ayo kita mampir dulu ke apotek setelah ini.”
***
Dhea dan
Asya lama sekali pergi ke swalayannya untung saja Zach datang jadi aku tidak
merasa kesepian. Semakin hari Zach semakin tampan dan aku juga semakin
mencintainya. Dan hari ini Zach akan menginap di apartemen.
Aku
membenamkan wajahku di dada Zach sambil memeluknya erat, “Aku rindu padamu,
Zach.”
“Aku juga
sangat merindukanmu, sayang. Maaf aku jarang menemuimu karena di kantor sedang
banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan.”
“Tidak
apa-apa, Zach. Aku mengerti dengan pekerjaan dan tanggung jawab yang kau pikul.”
“Terima
kasih sudah mengerti aku, sayang.” Ia mencium keningku.
“Hai,
maaf lama. Rupanya kau datang, Zach.”
“Hai
Dhea… Hai Asya. Aku baru saja tiba.”
“Kami
berdua permisi dulu ke dapur, ya. Mau membereskan dulu belanjaannya.”
Malam
harinya Dhea dan Asya tidak ada di apartemen. Untung saja Zach ada jadi aku
tidak merasa kesepian lagi. Dan tentu saja kami bercinta karena kami berdua
baru bertemu lagi setelah dua hari kemarin tidak bertemu karena Zach ada urusan
bisnis dengan Gale. Dan jika sudah seperti itu kami bisa bercinta sampai pagi.
Kadang aku sempat berpikir bagaimana jika aku hamil apakah Zach akan menerima
kehamilanku nanti?
Dua
minggu kemudian aku merasa ada yang salah pada tubuhku, karena aku selalu
memuntahkan kembali seluruh makanan yang sudah aku makan. Belum lagi rasa
pusing dan mual yang melanda di waktu pagi benar-benar menyiksaku, terkadang
aku merasakan perutku juga sakit. Membuatku malas untuk melakukan kegiatan
apapun. Sudah dua hari ini aku tidak masuk kuliah karena badanku terasa kurang
sehat.
“La, aku
sudah merasa lebih baik?”
“Aku
sudah tidak apa-apa, Dhee. Besok aku akan masuk kuliah lagi.”
“Wajahmu
masih pucat seperti itu bagaimana mungkin kami percaya bahwa kau sudah sehat.”
“Lila aku
ingin kau memeriksa urinemu menggunakan ini?” Dhea mengeluarkan sesuatu dari
dalam tasnya.
“Untuk
apa? Lalu ini alat apa?”
“Sebaiknya
kau lakukan saja dulu apa yang aku bilang nanti aku akan memberitahumu.”
Dengan
bingung aku pun akhirnya menuruti permintaan Dhea, aku menempatkan urine di
dalam sebuah wadah lalu memasukan alat yang di berikan oleh Dhee padaku sekitar
lima menit lalu aku angkat alatnya dan bergegas keluar dari kamar mandi dan
memberikannya pada Dhea.
“Ini
Dhee, memangnya alat itu untuk apa?” Dhea mengambilnya dari tanganku dan ketika
melihatnya ia berteriak syok.
“Ya Tuhan
Lila.”
“Memangnya
ada apa, Dhee?”
“Kau mau
tahu apa artinya dua garis merah yang muncul di alat ini?”
“Tentu
saja aku ingin mengetahuinya, memangnya ada apa denganku?”
“Kau…
Hamil Lila.”
“APA?
Hamil?” aku benar-benar syok mendengarnya, “Tidak… tidak mungki, Dhee.”
“Apanya
yang tidak mungkin Lila, alat ini sudah menjadi buktinya. Apa kau tidak
menyadarinya yang kau alami belakangan ini adalah tanda-tanda kehamian.”
“Tidak
mungkin, Sya.”
Tubuhku langsung
lemas, pandanganku kabur dan akhirnya semua menjadi gelap. Aku tak ingat
apa-apa, aku hanya merasakan seseorang menepuk-nepuk pipiku. Dan ketika aku
membuka mataku kepalaku langsung terasa sakit sekali, aku melihat ada Dhea,
Asya dan Zach di kamarku.
“Sayang,
akhirnya kau sadar juga. Aku sangat khawatir sekali padamu.”
“Sebaiknya
kau bawa Lila ke dokter saja Zach, sudah dua hari ini Lila tidak masuk kuliah.”
“Kami
tinggal dulu ya.”
Lalu Dhea
dan Asya keluar dari kamarku. Sepertinya aku harus berbicara dengan Zach
tentang kehamilanku ini. Tapi aku tak tahu harus memulainya dari mana, aku
benar-benar takut Zach tidak menginginkan bayi ini.
“Sayang,
sebaiknya kita pergi ke dokter saja aku takut kau kenapa-napa.”
“Zach,
ada yang harus aku katakan padamu.”
“Tentang
apa sayang?”
“Zach…
Aku… Aku…”
“Kau
kenapa sayang? Ada apa?”
“Aku… Aku
hamil, Zach.” Mendengar ucapanku wajah Zach langsung memucat dan menegang, “Tapi
kalau kau tidak menginginkannya aku akan mengugurkannya.”
“Tidak…
Kau jangan gila, aku takkan membiarkanmu menggugurkan bayiku. Aku hanya
terkejut sayang. Aku tak menyangka akan secepat ini.”
“Jadi
maksudmu kau tidak marah padaku?”
“Astaga
sayang, untuk apa aku marah padamu. Aku sangat sangat bahagia sekali mendengar
kabar kehamilanmu ini. Ayo kita pergi ke rumah sakit, aku ingin tahu berapa
usia dan keadaannya.”
“Aku mau
berganti pakaian dulu. Hanya sebentar.”
Setelah bergantian
pakaian aku dan Zach langsung pergi menuju ke rumah sakit. Aku sangat bersyukur
sekali ternyata Zach mau menerima bayi ini, beban dari pundakku sedikit
berkurang dan aku merasa lega. Meskipun aku tahu masalah sebenarnya adalah Mama
dan Papa aku masih belum tahu kapan akan memberitahukannya pada mereka.
Zach membawaku
ke dokter specialis kandungan yang terbaik. Menurut dokter usia kehamilanku
baru berusia empat tiga minggu dan kondisi janinnya dalam keadaan baik dan
pertumbuhannya juga baik. Dan itu membuat Zach sangat senang sekali aura
kebapaannya muncul dan itu membuatku semakin tenang dan yakin untuk tetap
mempertahankan bayi ini. Selesai dari rumah sakit Zach mengajakku pergi
berbelanja ke sebuah supermarket. Berbagai buah-buahan, daging, sayuran, telur
dan susu ia beli dalam jumlah yang cukup banyak.
“Ayolah
Zach, biarkan aku membantumu untuk membawa belanjaannya.”
“Tidak
sayang, kau sedang hamil aku tidak akan mengizinkanmu.”
“Biarkan
aku membawa kantong yang tidak berat saja.”
“Tidak
sayang, sebaiknya kau bantu aku untuk membuka pintunya saja.”
Aku membuka
pintu apartemenku sambil cemberut karena Zach menjadi sangat posesif dan overprotective
sekali setelah mengetahui kehamilanku. Ketika sampai di dalam ternyata ada Gale
dan Mark.
***
Zach dan
Lila pulang sambil membawa banyak sekali belanjaan. Lalu mereka terdengar
berdepat di dapur ketika sedang membereskan belanjaan itu. Aku hanya tertawa
melihat mereka berdua, sepertinya Lila masih saja manja dan seperti anak kecil
meskipun saat ini sedang hamil.
“Hai, wah
kalian belanja banyak sekali sepertinya.”
“Permisi
kalau boleh aku akan membereskan dulu semua ini di dapur.”
“Zach,
biarkan aku yang membereskannya. Kau duduk saja di sini.”
“Tidak
sayang, kau yang seharusnya duduk di sini bukan aku.”
Lalu Lila
mengikuti Zach masuk ke dapur sambil merajuk.
“Lucu
sekali mereka, apakah benar mereka berdua akan segera menjadi orang tua.”
“Lila
masih belum bisa berubah ternyata. Aku pikir dia akan berubah ketika mengetahui
dirinya sedang hamil, Gale.”
“Nanti
juga Lila akan berubah dengan sendirinya. Tapi aku kagum pada keberanian Lila
dan Zach untuk tetap mempertahankan bayi itu. Mengingat usia mereka yang
terbilang masih muda dan Lila yang masih kuliah.”
“Tadi
Lila sempat pingsan ketika mengetahui dirinya sedang hamil, Mark.”
“Sebenarnya
aku dan Asya sudah curiga sejak beberapa minggu yang lalu tapi kami belum
berani karena Lila bersikap seperti biasanya. Tapi seminggu belakangan ini
gejala-gejala kehamilan itu makin jelas pada Lila, akhirnya tadi aku memberanikan
diri untuk meminta Lila mengeceknya menggunakan tespack. Ternyata benar saja
Lila memang sedang hamil.
“Padahal
aku sangat berharap sekali kau yang hamil duluan, Dhee.”
“Aku
belum siap untuk memiliki seorang anak Gale.”
Tiba-tiba
Lila datang sambil cemberut dan duduk di samping Asya, “Kau kenapa, La?”
“Ah, Zach
sangat menyebalkan sekali kalian tahu.”
“Zach
sedang apa di dapur? Mengapa ia tidak ikut bergabung dengan kita disini?”
“Ia
sedang memasak, entah memasak apa. Karena ia tidak membiarkanku untuk
membantunya, menyebalkan sekali, kan.”
“Itu
tandanya ia sangat perhatian padamu, La.”
“Dia jadi
overprotective Mark. Ahh, menyebalkan sebaiknya aku pergi kekamar saja.”
“Seperti
itulah Lila sekarang, ia jadi suka uring-uringan sendiri. Emosinya naik turun
dan sangat sensitive sekali.”
“Apa
orang hamil seperti itu, ya?”
“Salah
satunya seperti Lila saat ini, Sya.”
“Ohh,
pasti menyenangkan aka nada seorang bayi di sini.”
Tiba-tiba
Zach keluar dari dapur masih menggunakan celemek dan kedua tangannya memegang
piring dan sepertinya isi dari piring tersebut lewat karena baunya sangat harum
sekali
.
“Lila
mana?”
“Ia ada
di kamar sebaiknya kau lepaskan celemek itu biar aku dan Asya yang merapikannya
di atas meja makan. Lila sepertinya sedang merajuk.”
Aaaww…Zach Jr eeh Kyle Jr has come.
BalasHapusSo sweet…
Sumpah jd deg2an bacanya sist :))
Always waiting for the next chapter
:**
Aw...
BalasHapusKyle Jr has come, muaaaachhh.
Zach, perhatian bgt. So sweet ya.
Mark, kyknya blm siap kl mau pny baby kyk Zach - Lila.
Gale, ngebet bgt ya mau G Jr hahha *lirik Dhea.
next Chapter ya sist :*