Minggu, 09 Desember 2012

Chapeter 17


Chapter 17

***

                “Dhee, Lila aneh ya, kau merasakannya juga bukan?”
                “Iya, Lila aneh. Dia jadi sangat sensitive dan yang paling mencolok adalah pola makannya yang jadi berubah.”
                “Dhee, apa jangan-jangan Lila hamil.”
                “Aku juga punya pemikiran seperti itu, Sya. Tapi aku tidak ingin gegabah, nanti kita sudah heboh kalau Lila hamil tapi ternyata tidak, nanti malah kita yang repot, Sya.”
                “Kau tahu kan kalau Lila tidak suka minum susu coklat begitu juga dengan mangga. Tapi kenapa tiba-tiba ia jadi suka makan buah mangga yang muda-muda pula. Apa itu bukannya jadi salah satu tanda-tana kalau Lila sedang hamil.”
                “Bagaimana kalau kita buktikan saja.”
                “Membuktikannya bagaimana, Dhee?”
                “Aku akan membeli testpack lalu kita suruh Lila memeriksa urinenya dengan testpack itu.”
                “Ide yang bagus, Dhee. Ayo kita mampir dulu ke apotek setelah ini.”

***

                Dhea dan Asya lama sekali pergi ke swalayannya untung saja Zach datang jadi aku tidak merasa kesepian. Semakin hari Zach semakin tampan dan aku juga semakin mencintainya. Dan hari ini Zach akan menginap di apartemen.

                Aku membenamkan wajahku di dada Zach sambil memeluknya erat, “Aku rindu padamu, Zach.”
                “Aku juga sangat merindukanmu, sayang. Maaf aku jarang menemuimu karena di kantor sedang banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan.”
                “Tidak apa-apa, Zach. Aku mengerti dengan pekerjaan dan tanggung jawab yang kau pikul.”
                “Terima kasih sudah mengerti aku, sayang.” Ia mencium keningku.
                “Hai, maaf lama. Rupanya kau datang, Zach.”
                “Hai Dhea… Hai Asya. Aku baru saja tiba.”
                “Kami berdua permisi dulu ke dapur, ya. Mau membereskan dulu belanjaannya.”
                Malam harinya Dhea dan Asya tidak ada di apartemen. Untung saja Zach ada jadi aku tidak merasa kesepian lagi. Dan tentu saja kami bercinta karena kami berdua baru bertemu lagi setelah dua hari kemarin tidak bertemu karena Zach ada urusan bisnis dengan Gale. Dan jika sudah seperti itu kami bisa bercinta sampai pagi. Kadang aku sempat berpikir bagaimana jika aku hamil apakah Zach akan menerima kehamilanku nanti?

                Dua minggu kemudian aku merasa ada yang salah pada tubuhku, karena aku selalu memuntahkan kembali seluruh makanan yang sudah aku makan. Belum lagi rasa pusing dan mual yang melanda di waktu pagi benar-benar menyiksaku, terkadang aku merasakan perutku juga sakit. Membuatku malas untuk melakukan kegiatan apapun. Sudah dua hari ini aku tidak masuk kuliah karena badanku terasa kurang sehat.

                “La, aku sudah merasa lebih baik?”
                “Aku sudah tidak apa-apa, Dhee. Besok aku akan masuk kuliah lagi.”
                “Wajahmu masih pucat seperti itu bagaimana mungkin kami percaya bahwa kau sudah sehat.”
                “Lila aku ingin kau memeriksa urinemu menggunakan ini?” Dhea mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
                “Untuk apa? Lalu ini alat apa?”
                “Sebaiknya kau lakukan saja dulu apa yang aku bilang nanti aku akan memberitahumu.”

                Dengan bingung aku pun akhirnya menuruti permintaan Dhea, aku menempatkan urine di dalam sebuah wadah lalu memasukan alat yang di berikan oleh Dhee padaku sekitar lima menit lalu aku angkat alatnya dan bergegas keluar dari kamar mandi dan memberikannya pada Dhea.

                “Ini Dhee, memangnya alat itu untuk apa?” Dhea mengambilnya dari tanganku dan ketika melihatnya ia berteriak syok.
                “Ya Tuhan Lila.”
                “Memangnya ada apa, Dhee?”
                “Kau mau tahu apa artinya dua garis merah yang muncul di alat ini?”
                “Tentu saja aku ingin mengetahuinya, memangnya ada apa denganku?”
                “Kau… Hamil Lila.”
                “APA? Hamil?” aku benar-benar syok mendengarnya, “Tidak… tidak mungki, Dhee.”
                “Apanya yang tidak mungkin Lila, alat ini sudah menjadi buktinya. Apa kau tidak menyadarinya yang kau alami belakangan ini adalah tanda-tanda kehamian.”
                “Tidak mungkin, Sya.”

                Tubuhku langsung lemas, pandanganku kabur dan akhirnya semua menjadi gelap. Aku tak ingat apa-apa, aku hanya merasakan seseorang menepuk-nepuk pipiku. Dan ketika aku membuka mataku kepalaku langsung terasa sakit sekali, aku melihat ada Dhea, Asya dan Zach di kamarku.

                “Sayang, akhirnya kau sadar juga. Aku sangat khawatir sekali padamu.”
                “Sebaiknya kau bawa Lila ke dokter saja Zach, sudah dua hari ini Lila tidak masuk kuliah.”
                “Kami tinggal dulu ya.”

                Lalu Dhea dan Asya keluar dari kamarku. Sepertinya aku harus berbicara dengan Zach tentang kehamilanku ini. Tapi aku tak tahu harus memulainya dari mana, aku benar-benar takut Zach tidak menginginkan bayi ini.

                “Sayang, sebaiknya kita pergi ke dokter saja aku takut kau kenapa-napa.”
                “Zach, ada yang harus aku katakan padamu.”
                “Tentang apa sayang?”
                “Zach… Aku… Aku…”
                “Kau kenapa sayang? Ada apa?”
                “Aku… Aku hamil, Zach.” Mendengar ucapanku wajah Zach langsung memucat dan menegang, “Tapi kalau kau tidak menginginkannya aku akan mengugurkannya.”
                “Tidak… Kau jangan gila, aku takkan membiarkanmu menggugurkan bayiku. Aku hanya terkejut sayang. Aku tak menyangka akan secepat ini.”
                “Jadi maksudmu kau tidak marah padaku?”
                “Astaga sayang, untuk apa aku marah padamu. Aku sangat sangat bahagia sekali mendengar kabar kehamilanmu ini. Ayo kita pergi ke rumah sakit, aku ingin tahu berapa usia dan keadaannya.”
                “Aku mau berganti pakaian dulu. Hanya sebentar.”

                Setelah bergantian pakaian aku dan Zach langsung pergi menuju ke rumah sakit. Aku sangat bersyukur sekali ternyata Zach mau menerima bayi ini, beban dari pundakku sedikit berkurang dan aku merasa lega. Meskipun aku tahu masalah sebenarnya adalah Mama dan Papa aku masih belum tahu kapan akan memberitahukannya pada mereka.

                Zach membawaku ke dokter specialis kandungan yang terbaik. Menurut dokter usia kehamilanku baru berusia empat tiga minggu dan kondisi janinnya dalam keadaan baik dan pertumbuhannya juga baik. Dan itu membuat Zach sangat senang sekali aura kebapaannya muncul dan itu membuatku semakin tenang dan yakin untuk tetap mempertahankan bayi ini. Selesai dari rumah sakit Zach mengajakku pergi berbelanja ke sebuah supermarket. Berbagai buah-buahan, daging, sayuran, telur dan susu ia beli dalam jumlah yang cukup banyak.  
               
                                                                                                                                                                           
                “Ayolah Zach, biarkan aku membantumu untuk membawa belanjaannya.”
                “Tidak sayang, kau sedang hamil aku tidak akan mengizinkanmu.”
                “Biarkan aku membawa kantong yang tidak berat saja.”
                “Tidak sayang, sebaiknya kau bantu aku untuk membuka pintunya saja.”

                Aku membuka pintu apartemenku sambil cemberut karena Zach menjadi sangat posesif dan overprotective sekali setelah mengetahui kehamilanku. Ketika sampai di dalam ternyata ada Gale dan Mark.

***

                Zach dan Lila pulang sambil membawa banyak sekali belanjaan. Lalu mereka terdengar berdepat di dapur ketika sedang membereskan belanjaan itu. Aku hanya tertawa melihat mereka berdua, sepertinya Lila masih saja manja dan seperti anak kecil meskipun saat ini sedang hamil.

                “Hai, wah kalian belanja banyak sekali sepertinya.”
                “Permisi kalau boleh aku akan membereskan dulu semua ini di dapur.”
                “Zach, biarkan aku yang membereskannya. Kau duduk saja di sini.”
                “Tidak sayang, kau yang seharusnya duduk di sini bukan aku.”

                Lalu Lila mengikuti Zach masuk ke dapur sambil merajuk.
                “Lucu sekali mereka, apakah benar mereka berdua akan segera menjadi orang tua.”
                “Lila masih belum bisa berubah ternyata. Aku pikir dia akan berubah ketika mengetahui dirinya sedang hamil, Gale.”
                “Nanti juga Lila akan berubah dengan sendirinya. Tapi aku kagum pada keberanian Lila dan Zach untuk tetap mempertahankan bayi itu. Mengingat usia mereka yang terbilang masih muda dan Lila yang masih kuliah.”
                “Tadi Lila sempat pingsan ketika mengetahui dirinya sedang hamil, Mark.”
                “Sebenarnya aku dan Asya sudah curiga sejak beberapa minggu yang lalu tapi kami belum berani karena Lila bersikap seperti biasanya. Tapi seminggu belakangan ini gejala-gejala kehamilan itu makin jelas pada Lila, akhirnya tadi aku memberanikan diri untuk meminta Lila mengeceknya menggunakan tespack. Ternyata benar saja Lila memang sedang hamil.
                “Padahal aku sangat berharap sekali kau yang hamil duluan, Dhee.”
                “Aku belum siap untuk memiliki seorang anak Gale.”
                Tiba-tiba Lila datang sambil cemberut dan duduk di samping Asya, “Kau kenapa, La?”
                “Ah, Zach sangat menyebalkan sekali kalian tahu.”
                “Zach sedang apa di dapur? Mengapa ia tidak ikut bergabung dengan kita disini?”
                “Ia sedang memasak, entah memasak apa. Karena ia tidak membiarkanku untuk membantunya, menyebalkan sekali, kan.”
                “Itu tandanya ia sangat perhatian padamu, La.”
                “Dia jadi overprotective Mark. Ahh, menyebalkan sebaiknya aku pergi kekamar saja.”
                “Seperti itulah Lila sekarang, ia jadi suka uring-uringan sendiri. Emosinya naik turun dan sangat sensitive sekali.”
                “Apa orang hamil seperti itu, ya?”
                “Salah satunya seperti Lila saat ini, Sya.”
                “Ohh, pasti menyenangkan aka nada seorang bayi di sini.”

                Tiba-tiba Zach keluar dari dapur masih menggunakan celemek dan kedua tangannya memegang piring dan sepertinya isi dari piring tersebut lewat karena baunya sangat harum sekali
.
                “Lila mana?”
                “Ia ada di kamar sebaiknya kau lepaskan celemek itu biar aku dan Asya yang merapikannya di atas meja makan. Lila sepertinya sedang merajuk.”

2 komentar:

  1. Aaaww…Zach Jr eeh Kyle Jr has come.
    So sweet…

    Sumpah jd deg2an bacanya sist :))

    Always waiting for the next chapter

    :**

    BalasHapus
  2. Aw...
    Kyle Jr has come, muaaaachhh.

    Zach, perhatian bgt. So sweet ya.
    Mark, kyknya blm siap kl mau pny baby kyk Zach - Lila.
    Gale, ngebet bgt ya mau G Jr hahha *lirik Dhea.


    next Chapter ya sist :*

    BalasHapus