Chapter 18
Aku menghampiri
Zach lalu mengambil piring yang sedang di pegangnya. Setelah melepaskan
celemeknya Zach langsung masuk ke dalam kamar Lila. Ah, masakan ini sepertinya
memang lezat, lalu aku dan Asya menata makanan-makanan yang sudah di masak oleh
Zach tadi. Lila beruntung bertemu dengan Zach karena selain tampan, sukses dan
kaya Zach juga ternyata pintar memasak. Aku jadi penasaran apakah Gale bisa
memasak? Tak lama kemudian Lila dan Zach ikut bergabung bersama kami.
“Hai,
akhirnya kau mau keluar juga Lila. Ayo kita makan bersama-sama aku sudah tidak
sabar mencicipi masakan dari calon suamimu.”
“Jangan
meledekku, Dhee.”
“Astaga,
mengapa kau jadi sensitive seperti ini, La.”
“Sudah-sudah
ayo kita makan saja nanti makanannya dingin.” Zach menengahi aku dan Lila.
Lalu kami
semua menyantap makanan yang sudah di masak oleh Zach tadi rasanya enak. Malam
itu kami jadi seperti merayakan kehamilannya Lila. Dan kami melanjutkannya
dengan berbincang sampai larut malam sampai akhirny satu per satu dari kami
pamit untuk tidur.
“Angel…”
Aku
membalikkan wajahku menapat Gale, “Ada apa?”
“Aku
masih berharap bahwa kau yang akan hamil duluan, bukan Lila. Aku ingin menjadi
ayah dari anak-anak yang akan tumbuh dan lahir dari rahimmu itu.”
“Gale,
berapa kali aku bilang padamu bahwa aku belum siap untuk menjadi seorang ibu.”
“Sebenarnya
ada yang ingin aku tanyakan padamu sejak lama, Angel.”
“Menanyakan
tentang apa, sayang?”
“Sejak
pertama kali kita bercinta hingga saat ini aku tidak pernah menggunakan
pengaman tapi mengapa kau tidak hamil?”
“Aku
meminum pil KB, Gale. Karena aku belum siap untuk memiliki anak, maaf aku tidak
membahas masalah ini sebelumnya denganmu.”
Gale
terlihat gusar dan mengacak-acak rambutnya sendiri, “Mengapa kau tidak
berbicara padaku sebelumnya, Dhee?”
“Karena
aku takut kamu tidak menyetujuinya, aku takut kalau aku hamil, Gale. Aku sudah
meminta maaf padamu.”
“Astaga
Angel, jika kau bicara padaku aku pasti akan
menyetijuinya, sayang. Aku ingin kau terbuka padaku dalam segala hal,
jangan seperti ini.”
“Aku
minta maaf, sayang. Saat itu aku sangat panic sekali.”
“Sudahlah,
kita lupakan saja dan sebaiknya kita tidur ini sudah larut malam. Besok aku ada
pertemuan pagi-pagi sekali.”
Gale
memeluk tubuhku dengan erat lalu tertidur. Tidak seperti biasanya Gale seperti
ini, apakah ia marah padaku karena aku tidak membicarakan hal ini dengannya? Lagipula
aku juga tidak tahu kalau ternyata Gale sangat ingin sekali memiliki seorang
anak dariku. Ah, semua ini membuatku menjadi pusing, mudah-mudahan besok pagi
Gale akan kembali bersikap seperti biasanya. Malam itu aku benar-benar tidak
bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan perdebatan di antara aku dan Gale
sebelum tidur.
Keesokkan
harinya ketika aku membuka mataku aku tidak menemukan Gale di sampingku, biasanya.
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan kamar dan menemukan Gale baru
saja selesai berpakaian. Ia terlihat sangat segar dan sangat wangi sekali.
“Sudah
saatnya kau bangun, Angel. Atau kita akan terlambat, aku ada di ruang depan
menunggumu untuk sarapan, jangan lama-lama.”
Setelah
mengecup keningku Gale langsung pergi keluar meninggalkanku yang masih
termenung di atas tempat tidurku. Buru-buru aku bangun dari tempat tidur dan
bergegas menuju ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian aku selesai dan
langsung pergi keluar kamar. Dan aku mendapati kekasihku dan para sahabatku
sedang duduk mengitari meja makan sambil sarapan dan berbincang.
“Angel,
cepat makan sarapanmu karena aku harus sampai di kantor dalam waktu lima belas
menit.”
Aku mendekati
meja makan dan duduk di kursi kosong di sebelah Gale meminum segelas susu
hangat dan memakan roti panggang yang sudah di sediakan. “Aku sudah selesai,
ayo kita berangkat sekarang.”
“Baiklah,
kalau begitu kami berdua pergi duluan, ya.”
“Hati-hati
di jalan kami akan segera menyusul setelah sarapan kami selesai.” Mark
menyahut.
Sikap
Gale masih sama seperti tadi malam, ia masih bersikap dingin padaku. Mengapa
hal seperti ini harus menjadi suatu masalah yang besar. Apakah aku salah jiga
aku mengambil tindakan demi kepentinganku sendiri?
“Apakah
kau masih marah padaku gara-gara semalam?”
“Tidak…”
“Jangan
membohongiku, Gale. Aku bisa merasakan perubahan sikapmu sejak semalam sampain
detik ini. Kalau begitu turunkan aku di sini saja, aku akan naik taksi.”
Ketika di
lampu merah aku langsung turun dari mobil Gale dan menghentikan sebuah taksi yang
kebetulan lewat. Aku tidak mempedulikan Gale yang berteriak-terika memanggilku.
Ketika sudah berada di dalam taksi aku meminta supirnya untuk mengebut. Lalu
aku menengok kebelakang dan ternyata mobil Gale tidak mengikutiku. Seketika itu
aku langsung merasa kesal dan marah sekali pada Gale. Ia berkali-kali
menghubungiku tapi tidak aku hiraukan.
Akhirnya aku
sampai juga di kampus dan bertemu dengan Asya dan Lila yang akan masuk ke
dalam.
“Mengapa
kau naik taksi?”
“Jangan
tanya apa-apa, Sya. Aku sedang sangat kesal sekali.”
“Ya
sudahlah kalau kau tidak mau menceritakannya pada kami, sebaiknya kita masuk
saja.”
“Terima
kasih sudah mengerti aku Lila, sepertinya kau terlihat lebih dewasa di
bandingkan kemarin. Apakah itu bawaan dari bayimu?”
“Entahlah
Dhee, aku tidak tahu mungkin saja ini bawaan dari bayiku. Kau tahu sendirikan
bagaimana sikap Zach setelah mengetahui tentang kehamilanku ini.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan, La? Kapan kau
akan memberitahu Om dan Tante di Jakarta?”
“Entahlah Sya, aku benar-benar belum siap
untuk mengatakannya pada mereka. Lagi pula aku masih akan kuliah sebelum
perutku membesar.”
Sepertinya masalah yang di hadapi Lila lebih
besar daripada permasalahan yang aku alami sekarang. Aku rasa ini hanya salah
paham saja, aku harus berbicara dengan Gale nanti. Tentu saja jika ia masih mau
berbicara padaku.
Ah, semua ini benar-benar sangat membuatku sangat pusing
sekali, aku tidak bisa berpikir dan berkonsentarasi. Aku tidak tahu apa yang di
jelaskan oleh dosenku di depan dan apa yang sedang di bicarakan oleh Asya dan
Lila ketika kami berkumpul di kantin. Ya Tuhan, mengapa masalahnya jadi begini?
“Bisa
tolong pesankan aku jus mangga saja, Sya.”
“Lalu kau
mau aku pesankan apa, Dhee?”
“Cocktail.”
“Apa? Kau
konyol Dhee, mana ada cocktail di kantin kampus.”
“Kalau
begitu tidak usah saja, Sya. Terima kasih.”
Lalu Asya
pergi meninggalkan aku dan Lila untuk membeli makanan dan minuman. Kepalaku pusing,
seperti mau pecah saja.
“Dhee,
sebenarnya apa apa? Kau sedang bertengkar dengan Gale?”
“Iya La,
semalam kami terlibat percekcokan.”
“Jika kau
sudah siap menceritakannya ceritakannya, tapi jika kau belum siap maka jangan
melakukannya.”
“Kau
seperti bukan Lila yang biasanya.”
“Kau
sudah mengatakannya padaku tadi pagi, Dhee.”
Lalu aku
menceritakan semuanya pada Lila, tentu saja Lila terkejut mendengar alasan aku
dan Gale bertengkar, “Jadi seperti itu, La. Bagaimana menurutmu?”
“Kalau
menurutku kalian harusnya saling terbuka satu sama lain. Jangan samakan dengan apa
yang terjadi padaku saat ini, Dhee. Karena masalah kita berbeda, masalah ini
bisa di selesaikan baik-baik asalkan kau tidak terus-terusan merajuk seperti
ini.”
Tiba-tiba
ponselku bordering, ternyata itu pesan dari Gale, ia sudah menungguku di depan
kampus, “La, Gale sudah menungguku di dapan.”
“Pergilah
Dhee, cepat selesaikan masalah kalian.”
“Oke, aku
pergi ya. Do’akan aku agar bisa menyelesaikan masalah ini, kau tak apa sendiri?”
“Aku
tidak apa-apa sebentar lagi Asya datang. Berhati-hatilah.”
Aku langsung
pergi untuk menemui Gale yang sudah menungguku di depan kampus. Dan ketika
sampai di sana aku melihat Gale sedang menyender di mobilnya. Saat aku mendekat
ia langsung membuka kacamata hitam yang dipakainya.
“Hai
Angel, aku mau minta maaf atas sikapku sejak semalam sampai tadi.”
“Sudahlah
Gale, lagipula aku juga salah.”
“Aku
ingin mengajakmu makan siang sambil berbicara. Kau mau, kan?”
“Tentu
saja, aku rasa kita memang harus berbicara. Kita harus mulai saling terbuka
satu sama lain Gale.”
Lalu Gale
mencium tanganku dengan lembut, ia membukakan pintu untukku. Dan kami menuju ke
sebuah restoran untuk makan siang dan berbicara dari hati ke hati. Lila benar
masalah ini bisa di selesaikan baik-baik jika aku tidak keras kepala. Dan sejak
saat itu hubungan kami berdua kembali membaik.
Seminggu setelah
kejadian itu, ketika aku sedang duduk sendirian di taman yang berada di depan
kelasku sendiri tiba-tiba ada seorang wanita cantik yang mendatangiku dengan
wajah yang sedih. Wanita itu memperkenalkan dirinya padaku, ia bilang bahwa
sudah sejak lama ia ingin menemuiku. Tapi wanita yang mengaku bernama Irene itu
baru bisa menemuiku hari itu.
“Memang
hal apa yang ingin kau sampaikan padaku? Aku saja baru bertemu denganmu hari
ini, jadi bagaimana bisa aku memiliki urusan denganmu?”
“Ini
tentang Gale, Dhea..”
Jantungku
langsung berdegup kencang ketika Irene menyebut nama Gale, “Gale? Memang ada
apa dengannya?”
“Dulu aku
dan Gale adalah sepasang kekasih, namun tiba-tiba saja ia memutuskanku dengan
alasan kami sudah tidak cocok satu sama lain. Sampai akhirnya aku mendengar ia
berpacaran denganmu.”
“Maaf aku
memotong omonganmu, aku ini merupakan tipe orang yang tidak suka berbelit-belit
jadi katakan saja apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan padaku?”
“Baiklah…
Aku hamil.”
“Kau
hamil? Lalu apa hubungannya denganku?”
“Karena
ayah dari bayi yang sedang aku kandung adalah Gale, kekasihmu.”
Mendengar
ucapannya itu aku serasa di sambar petir dengan kekuatan ribuan volt di siang
hari. Ya Tuhan, wnaita ini hamil oleh kekasihku? Apakah aku harus
mempercayainya atau tidak? Gale, tidak mungkin Gale seperti itu, tidak mungkin
ia mengkhianatiku.
“Apakah
aku harus mempercayai ucapanmu itu, Irene? Gale tidak mungkin melakukan hal
yang akan menyakitiku seperti ini.”
“Ini…” ia
memberikan sebuah amplop padaku, “Kau baca saja, itu hasil laboratorium
milikku. Aku takkan menuntut apapun darimu. Biar hatimu saja yang memutuskan. Maaf
sudah mengganggumu Dhea, permisi.”
Huuaaaaaaa……*nangis guling2
BalasHapus:'(
:'(
:'(
:'(
please post the next chapter soon sist :'(
:*
Dhea galau u.u
BalasHapussedih ihh, Gale sm Dhea saling diem.
giliran udah baikan ada Ex nya itu naku hamil.
Galau lagi Dhea nya..
K Jr bikin Lila lbih dewasa yaa..
next Chapter yaa sista :*