Selasa, 11 Desember 2012

Chapter 18


Chapter 18

                Aku menghampiri Zach lalu mengambil piring yang sedang di pegangnya. Setelah melepaskan celemeknya Zach langsung masuk ke dalam kamar Lila. Ah, masakan ini sepertinya memang lezat, lalu aku dan Asya menata makanan-makanan yang sudah di masak oleh Zach tadi. Lila beruntung bertemu dengan Zach karena selain tampan, sukses dan kaya Zach juga ternyata pintar memasak. Aku jadi penasaran apakah Gale bisa memasak? Tak lama kemudian Lila dan Zach ikut bergabung bersama kami.

                “Hai, akhirnya kau mau keluar juga Lila. Ayo kita makan bersama-sama aku sudah tidak sabar mencicipi masakan dari calon suamimu.”
                “Jangan meledekku, Dhee.”
                “Astaga, mengapa kau jadi sensitive seperti ini, La.”
                “Sudah-sudah ayo kita makan saja nanti makanannya dingin.” Zach menengahi aku dan Lila.

                Lalu kami semua menyantap makanan yang sudah di masak oleh Zach tadi rasanya enak. Malam itu kami jadi seperti merayakan kehamilannya Lila. Dan kami melanjutkannya dengan berbincang sampai larut malam sampai akhirny satu per satu dari kami pamit untuk tidur.

                “Angel…”
                Aku membalikkan wajahku menapat Gale, “Ada apa?”
                “Aku masih berharap bahwa kau yang akan hamil duluan, bukan Lila. Aku ingin menjadi ayah dari anak-anak yang akan tumbuh dan lahir dari rahimmu itu.”
                “Gale, berapa kali aku bilang padamu bahwa aku belum siap untuk menjadi seorang ibu.”
                “Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu sejak lama, Angel.”
                “Menanyakan tentang apa, sayang?”
                “Sejak pertama kali kita bercinta hingga saat ini aku tidak pernah menggunakan pengaman tapi mengapa kau tidak hamil?”
                “Aku meminum pil KB, Gale. Karena aku belum siap untuk memiliki anak, maaf aku tidak membahas masalah ini sebelumnya denganmu.”
                Gale terlihat gusar dan mengacak-acak rambutnya sendiri, “Mengapa kau tidak berbicara padaku sebelumnya, Dhee?”
                “Karena aku takut kamu tidak menyetujuinya, aku takut kalau aku hamil, Gale. Aku sudah meminta maaf padamu.”
                “Astaga Angel, jika kau bicara padaku aku pasti akan  menyetijuinya, sayang. Aku ingin kau terbuka padaku dalam segala hal, jangan seperti ini.”
                “Aku minta maaf, sayang. Saat itu aku sangat panic sekali.”
                “Sudahlah, kita lupakan saja dan sebaiknya kita tidur ini sudah larut malam. Besok aku ada pertemuan pagi-pagi sekali.”

                Gale memeluk tubuhku dengan erat lalu tertidur. Tidak seperti biasanya Gale seperti ini, apakah ia marah padaku karena aku tidak membicarakan hal ini dengannya? Lagipula aku juga tidak tahu kalau ternyata Gale sangat ingin sekali memiliki seorang anak dariku. Ah, semua ini membuatku menjadi pusing, mudah-mudahan besok pagi Gale akan kembali bersikap seperti biasanya. Malam itu aku benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan perdebatan di antara aku dan Gale sebelum tidur.

                Keesokkan harinya ketika aku membuka mataku aku tidak menemukan Gale di sampingku, biasanya. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan kamar dan menemukan Gale baru saja selesai berpakaian. Ia terlihat sangat segar dan sangat wangi sekali.

                “Sudah saatnya kau bangun, Angel. Atau kita akan terlambat, aku ada di ruang depan menunggumu untuk sarapan, jangan lama-lama.”

                Setelah mengecup keningku Gale langsung pergi keluar meninggalkanku yang masih termenung di atas tempat tidurku. Buru-buru aku bangun dari tempat tidur dan bergegas menuju ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian aku selesai dan langsung pergi keluar kamar. Dan aku mendapati kekasihku dan para sahabatku sedang duduk mengitari meja makan sambil sarapan dan berbincang.

                “Angel, cepat makan sarapanmu karena aku harus sampai di kantor dalam waktu lima belas menit.”
                Aku mendekati meja makan dan duduk di kursi kosong di sebelah Gale meminum segelas susu hangat dan memakan roti panggang yang sudah di sediakan. “Aku sudah selesai, ayo kita berangkat sekarang.”
                “Baiklah, kalau begitu kami berdua pergi duluan, ya.”
                “Hati-hati di jalan kami akan segera menyusul setelah sarapan kami selesai.” Mark menyahut.

                Sikap Gale masih sama seperti tadi malam, ia masih bersikap dingin padaku. Mengapa hal seperti ini harus menjadi suatu masalah yang besar. Apakah aku salah jiga aku mengambil tindakan demi kepentinganku sendiri?

                “Apakah kau masih marah padaku gara-gara semalam?”
                “Tidak…”
                “Jangan membohongiku, Gale. Aku bisa merasakan perubahan sikapmu sejak semalam sampain detik ini. Kalau begitu turunkan aku di sini saja, aku akan naik taksi.”

                Ketika di lampu merah aku langsung turun dari mobil Gale dan menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat. Aku tidak mempedulikan Gale yang berteriak-terika memanggilku. Ketika sudah berada di dalam taksi aku meminta supirnya untuk mengebut. Lalu aku menengok kebelakang dan ternyata mobil Gale tidak mengikutiku. Seketika itu aku langsung merasa kesal dan marah sekali pada Gale. Ia berkali-kali menghubungiku tapi tidak aku hiraukan.

                Akhirnya aku sampai juga di kampus dan bertemu dengan Asya dan Lila yang akan masuk ke dalam.

                “Mengapa kau naik taksi?”
                “Jangan tanya apa-apa, Sya. Aku sedang sangat kesal sekali.”
                “Ya sudahlah kalau kau tidak mau menceritakannya pada kami, sebaiknya kita masuk saja.”
                “Terima kasih sudah mengerti aku Lila, sepertinya kau terlihat lebih dewasa di bandingkan kemarin. Apakah itu bawaan dari bayimu?”
                “Entahlah Dhee, aku tidak tahu mungkin saja ini bawaan dari bayiku. Kau tahu sendirikan bagaimana sikap Zach setelah mengetahui tentang kehamilanku ini.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan, La? Kapan kau akan memberitahu Om dan Tante di Jakarta?”
“Entahlah Sya, aku benar-benar belum siap untuk mengatakannya pada mereka. Lagi pula aku masih akan kuliah sebelum perutku membesar.”

Sepertinya masalah yang di hadapi Lila lebih besar daripada permasalahan yang aku alami sekarang. Aku rasa ini hanya salah paham saja, aku harus berbicara dengan Gale nanti. Tentu saja jika ia masih mau berbicara padaku.

Ah, semua ini benar-benar sangat membuatku sangat pusing sekali, aku tidak bisa berpikir dan berkonsentarasi. Aku tidak tahu apa yang di jelaskan oleh dosenku di depan dan apa yang sedang di bicarakan oleh Asya dan Lila ketika kami berkumpul di kantin. Ya Tuhan, mengapa masalahnya jadi begini?
                “Bisa tolong pesankan aku jus mangga saja, Sya.”
                “Lalu kau mau aku pesankan apa, Dhee?”
                “Cocktail.”
                “Apa? Kau konyol Dhee, mana ada cocktail di kantin kampus.”
                “Kalau begitu tidak usah saja, Sya. Terima kasih.”

                Lalu Asya pergi meninggalkan aku dan Lila untuk membeli makanan dan minuman. Kepalaku pusing, seperti mau pecah saja.

                “Dhee, sebenarnya apa apa? Kau sedang bertengkar dengan Gale?”
                “Iya La, semalam kami terlibat percekcokan.”
                “Jika kau sudah siap menceritakannya ceritakannya, tapi jika kau belum siap maka jangan melakukannya.”
                “Kau seperti bukan Lila yang biasanya.”
                “Kau sudah mengatakannya padaku tadi pagi, Dhee.”
                Lalu aku menceritakan semuanya pada Lila, tentu saja Lila terkejut mendengar alasan aku dan Gale bertengkar, “Jadi seperti itu, La. Bagaimana menurutmu?”
                “Kalau menurutku kalian harusnya saling terbuka satu sama lain. Jangan samakan dengan apa yang terjadi padaku saat ini, Dhee. Karena masalah kita berbeda, masalah ini bisa di selesaikan baik-baik asalkan kau tidak terus-terusan merajuk seperti ini.”
                Tiba-tiba ponselku bordering, ternyata itu pesan dari Gale, ia sudah menungguku di depan kampus, “La, Gale sudah menungguku di dapan.”
                “Pergilah Dhee, cepat selesaikan masalah kalian.”
                “Oke, aku pergi ya. Do’akan aku agar bisa menyelesaikan masalah ini, kau tak apa sendiri?”
                “Aku tidak apa-apa sebentar lagi Asya datang. Berhati-hatilah.”

                Aku langsung pergi untuk menemui Gale yang sudah menungguku di depan kampus. Dan ketika sampai di sana aku melihat Gale sedang menyender di mobilnya. Saat aku mendekat ia langsung membuka kacamata hitam yang dipakainya.

                “Hai Angel, aku mau minta maaf atas sikapku sejak semalam sampai tadi.”
                “Sudahlah Gale, lagipula aku juga salah.”
                “Aku ingin mengajakmu makan siang sambil berbicara. Kau mau, kan?”
                “Tentu saja, aku rasa kita memang harus berbicara. Kita harus mulai saling terbuka satu sama lain Gale.”

                Lalu Gale mencium tanganku dengan lembut, ia membukakan pintu untukku. Dan kami menuju ke sebuah restoran untuk makan siang dan berbicara dari hati ke hati. Lila benar masalah ini bisa di selesaikan baik-baik jika aku tidak keras kepala. Dan sejak saat itu hubungan kami berdua kembali membaik.

                Seminggu setelah kejadian itu, ketika aku sedang duduk sendirian di taman yang berada di depan kelasku sendiri tiba-tiba ada seorang wanita cantik yang mendatangiku dengan wajah yang sedih. Wanita itu memperkenalkan dirinya padaku, ia bilang bahwa sudah sejak lama ia ingin menemuiku. Tapi wanita yang mengaku bernama Irene itu baru bisa menemuiku hari itu.

                “Memang hal apa yang ingin kau sampaikan padaku? Aku saja baru bertemu denganmu hari ini, jadi bagaimana bisa aku memiliki urusan denganmu?”
                “Ini tentang Gale, Dhea..”
                Jantungku langsung berdegup kencang ketika Irene menyebut nama Gale, “Gale? Memang ada apa dengannya?”
                “Dulu aku dan Gale adalah sepasang kekasih, namun tiba-tiba saja ia memutuskanku dengan alasan kami sudah tidak cocok satu sama lain. Sampai akhirnya aku mendengar ia berpacaran denganmu.”
                “Maaf aku memotong omonganmu, aku ini merupakan tipe orang yang tidak suka berbelit-belit jadi katakan saja apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan padaku?”
                “Baiklah… Aku hamil.”
                “Kau hamil? Lalu apa hubungannya denganku?”
                “Karena ayah dari bayi yang sedang aku kandung adalah Gale, kekasihmu.”

                Mendengar ucapannya itu aku serasa di sambar petir dengan kekuatan ribuan volt di siang hari. Ya Tuhan, wnaita ini hamil oleh kekasihku? Apakah aku harus mempercayainya atau tidak? Gale, tidak mungkin Gale seperti itu, tidak mungkin ia mengkhianatiku.

                “Apakah aku harus mempercayai ucapanmu itu, Irene? Gale tidak mungkin melakukan hal yang akan menyakitiku seperti ini.”
                “Ini…” ia memberikan sebuah amplop padaku, “Kau baca saja, itu hasil laboratorium milikku. Aku takkan menuntut apapun darimu. Biar hatimu saja yang memutuskan. Maaf sudah mengganggumu Dhea, permisi.”

2 komentar:

  1. Huuaaaaaaa……*nangis guling2
    :'(
    :'(
    :'(
    :'(

    please post the next chapter soon sist :'(

    :*

    BalasHapus
  2. Dhea galau u.u
    sedih ihh, Gale sm Dhea saling diem.
    giliran udah baikan ada Ex nya itu naku hamil.
    Galau lagi Dhea nya..

    K Jr bikin Lila lbih dewasa yaa..

    next Chapter yaa sista :*

    BalasHapus