Chapter 20
Lagi lagi
air mataku jatuh tak terbendung. Benar-benar sakit, luka itu masih saja sakit
aku tidak bisa mengurangi rasa sakit ini. Apa yang harus aku lakukan ya Tuhan.
Semalaman aku terus terus menangis, aku yakin sekali mataku pasti sangat sembab
dan di lengkapi dengan lingkaran hitam di mataku seperti mata panda.
Pagi
harinya aku mendengar Lila dan Asya bergantian mengetuk pintu kamarku. Tapi aku
tidak mau keluar, tidak dalam keadaan seperti ini dan pastinya Gale akan ada di
bawah menungguku. Aku tidak mau bertemu dengannya pokoknya tidak mau.
***
Di luar apartemen…
“Dhea
mana?”
“Dhee
tidak mau keluar dari kamarnya, Gale. Aku dan Lila udah berkali-kali mengetuk
pintu kamarnya tapi tidak ada tanggapan dari dalam.”
“Kalau
begitu biar aku saja yang menyusulnya.”
“Tidak
Gale, jangan berpikir kau akan mendobrak pintu kamarnya.”
“Aku
harus melihat keadaan Dhee, Lila.”
“Tapi
tidak dengan cara mendobrak pintunya.”
“Jangana
buat keributan di apartemen mereka, Gale.”
“Zach,
apa yang akan kau lakukan jika tiba-tiba Lila bersikap seperti Dhee saat ini?”
“Aku akan
memberikannya waktu untuk dirinya sendiri, aku akan membiarkannya tenang
terlebih dahulu.”
“Dan aku
pun akan berbuat hal yang sama jika Asya seperti itu. Gale, terkadang seorang
wanita itu membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.”
“Ayolah
Gale, berikan Dhea waktu untuk sendiri.”
“Baiklah
kalau begitu karena aku menghormati kalian terutama kalian berdua Lila dan
Asya. Apa salahnya aku mendengarkan ucapan kalian. Kalian lebih mengenal Dhea
seperti apa.”
“Sudahlah
Gale, kami mengerti bahwa kau sangat khawatir sekali pada Dhea.”
“Sebaiknya
kita berangkat sekarang atau kita akan terlambat.”
***
ketika
sudah sepi aku keluar dari kamar lalu mengintip ke bawah dan melihat teman-temanku
sedang berdebat dengan Gale. Aku tak tahu pasti apa yang sedang mereka
perdebatkan sampai akhirnya mereka semua pergi. Aku benar-benar merasa lega
karena Gale sudah pergi.
Lalu aku
membaringkan tubuhku di atas sofa sambil menekan-nekan remote TV tidak ada
acara yang seru. Jadi apa yang harus aku lakukan seharian ini? Aku pasti akan
merasa sangat bosan sekali karena tak ada kegiatan yang bisa aku kerjakan. Aku
ingin pergi berjalan-jalan mungkin sedikit berbelanja di pusat perbelanjaan
bisa memperbaiki suasana hatiku sedikit. Lamunanku tiba-tiba buyar oleh suara
ponselku yang berbunyi.
“Eric…”
aku mengerutkan keningku lalu menjawab teleponnya, “Hai Eric… Tidak hari ini
aku sedang tidak sibuk… biasalah aku sedang malas masuk kuliah… kemana? Oke baiklah
aku ikut… tentu saja… aku akan bersiap-siap dulu kalau begitu.”
Setelah
menutup telepon aku langsung menuju ke kamar mandi sambil bersenandung. Hari
ini aku akan pergi bersenang-senang dengan Eric. Well, tak apa kan jika
sekali-kali aku melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan. Setengah jam
kemudian aku sudah siap dan tak lama kemudian Eric memberitahu bahwa ia sudah
menungguku di bawah. Lalu aku bergegas turun ke bawah untuk menemui Eric.
Ketika sampai di bawah Eric sedang bersandar di mobil Ferarri hitamnya ia
terlihat sanga tampan dengan sebuah kacamata hitam yang melengkapi
penampilannya.
“Hai,
maaf aku terlambat kau pasti sudah menunggu lama.”
“Tidak
Dhee, aku baru saja tiba. Hari ini kau terlihat sangat cantik.”
“Tidak
Eric, aku merasa penampilanku saat ini sedang buruk. Karena aku harus memakai
kacamata ini agar mata pandaku tidak terlihat.”
“Mau
seperti apapun kau tetap cantik, Dhee.”
“Berhentilah
memujiku Eric. Kemana kita akan pergi?”
“Kau mau
pergi kemana?”
“Aku
sedang ingin pergi berbelanja, itupun
jika kau mau menemaniku.”
“Tentu
saja aku akan menemani kemanapun kau akan pergi Tuan Putri.”
“Ayo kita
berangkat sekarang.”
Lalu Eric membukakan pintu mobil lalu
menahannya dan setelah aku masuk ia menutupnya. Lalu Eric masuk dan duduk di
kursi pengemudi dan menjalankan mobilnya menuju ke pusat perbelanjaan di New
York aku juga ingin berjalan-jalan di Times Square setelah selesai berbelanja
nantin. Aku sudah membayangkan apa saja yang akan aku beli dan apa yang akan
aku lakukan nanti.
“Kau
sepertinya sangat bersemangat sekali, Dhee.”
“Tentu
saja, karena aku sudah lama sekali tidak pergi berbelanja. Aku sibuk dengan
kuliahku jadi jarang sekali pergi untuk berbelanja.”
“Kau
masih bersama dengan Lila dan Asya? Aku sudah lama sekali tidak bertemu mereka
berdua.”
“Tentu
saja kami bertiga masih bersama-sama. Mereka berdua baik-baik saja meskipun
sepertinya sebentar lagi Lila akan segera menikah dengan Zach.”
“Lila
akan menikah? Lho bukannya sepupuku itu pacaran dengan Matt, kan?”
“Ceritanya
panjang Eric, Matt sudah menyakiti Lila sampai-sampai Lila jadi trauma.”
“Aku akan
menghajar Matt jika ia berani mengganggu sepupuku lagi. Lalu apakah Asya masih
berpacaran dengan Nico sepupumu itu?”
“Tidak,
mereka berdua sudah lama putus dan sekarang Asya berpacaran dengan seorang
musisi yang tampan. Tenang saja sudah ada yang menjaga Lila sekarang.”
“Lalu kau
sendiri?”
“Aku… Aku
dan Gale sedang bermasalah Eric. Aku mohon jangan bicarakan tentang Gale, itu
hanya akan membuat suasana hatiku kemabli rusak.”
“Baiklah
kalau begitu, maafkan aku Dhee.”
“Kau
tidak salah apa-apa Eric. Sudah-sudah kita lupakan saja semuanya.”
Kami
berdua langsung mengganti topic pembicaraan. Dan tak lama kemudian kami sampai
di tujuan kami. Aku mulai memasuki toko satu per satu dan mulai memilih
barang-barang yang aku suka. Sampai-sampai Eric kerepotan membawa barang
belanjaanku. Akhirnya kami menutuskan untuk makan dan beristirahat di sebuah
restoran.
“Maaf aku
sudah merepotkanmu, Eric.”
“Tidak
apa-apa lagipula tidak tiap hari kau membuatku kerepotan seperti ini. Sejak
kapan kau jadi suka berbelanja sebanyak ini, Dhee?”
“Aku
memang suka berbelanja Eric kau saja yang tidak tahu. Aku ini seorang wanita
tentu saja aku menyukai belanja.”
Entah
sejak kapan dan siapa yang memulai aku dan Eric berciuman di restoran itu cukup
panas. Dan ketika kami melepaskan ciumannya wajah kami berdua langsung memerah.
“Kak
Eric…” tiba-tiba Lila muncul dan langsung menjewer Eric, “Kakak sedang apa di
sini dan berciuman dengan Dhea seperti itu?”
“Awww,
sakit Lila mengapa kau menjewerku seperti menjewer seorang anak yang nakal
saja.”
“Karena
kau memang nakal, Kak. Makanya aku menjewer kupingmu.”
“Lepaskan
dulu baru aku akan mejelaskannya padamu. Ya Tuhan kau ini memang adik sepupuku
yang paling galak, aku kira kau sudah tidak galak lagi.”
“Cepat
jelaskan atau aku akan menggigit lenganmu.”
“Tidak
tidak gigitanmu membuatku trauma.”
“Ya
sudah, cepat jelaskan padaku.”
“Lila
jangan marah-marah ingat kandunganmu.”
“Eh, Lila
sedang hamil?”
“Jangan
mengalihkan pembicaraan Kak. Ayo cepat jelaskan.”
“Jadi
awalnya begini…”
Akhirnya
Eric menjelaskan secara panjang lebar pada Lila. Eric itu kakak sepupunya Lila
dan sejak kecil mereka berdua selalu saja bertengkar sampai-sampai Eric trauma
karena pernah di gigit oleh oleh Lila di bagian perutnya dan meninggalkan bekas
hingga Eric beranjak dewasa. Mungkin saja luka itu masih ada saat ini. Itulah mengapa
Eric sangat tunduk sekali pada Lila, lucu sekali jika sudah melihat Eric dan
Lila bertengkar.
“Jadi
seperti itulah awalnya adik sepupuku yang paling galak.”
“Aku
tidak mau ikut campur dalam masalah kalian. Aku takkan menceritakan apapun pada
Gale dan aku juga akan meminta Zach untuk tutup mulut. Selesaikan saja masalah
kalian bertiga.”
“Aku
sedang benar-benar marah pada Gale, La. Sangat marah nanti aku akan
menceritakan semuanya padamu ketika kita sudah sampai di apartemen.”
“Aku
takkan memaksamu untuk menceritakan semuanya padaku, Dhee. Kalau kau memang
ingin menceritakannya padaku tentu saja aku akan menjadi pendengar yang baik.”
“Wah,
Lila sejak kapan kau jadi sebijaksana ini. Apa karena bawaan bayi yang sedang
kau kandung itu? Ngomong-ngomong di mana kekasihmu?”
“Berisik
kau, Kak. Zach sedang bertemu kilennya jadi aku menunggu disini. Aku tidak mau
mendengarkan Zach membicarakan bisnis-bisnisnya, karena aku tidak mengerti. Nah
itu dia, Zach sebelah ini.”
“Hai
Dhee, rupanya kau ada disini juga sedang apa?”
“Ah, hai
Zach kami tidak sengaja bertemu Lila disini.”
“Sayang,
perkenalkan ini kakak sepupuku yang paling aneh.”
“Enak
saja kau menyebutku aneh dasar kau kucing. Hai Zach, perkenalkan aku Eric Dill
kakak sepupu dari Lila.”
“Hai
senang bisa bertemu denganmu Eric. Oh iya, mengapa kau memanggil Lila kucing?”
“Sudah
sudah jangan bahas lagi, awas saja kalau kau menceritakannya. Zach sudah jangan
bahas ini lagi.”
“Itu
karena…”
“Kak Eric…
berhenti awas saja kalau berani mengatakannya. Awww…”
“Sayang
kau kenapa? Ada apa dengan perutmu?”
“Tidak
aku tidak apa-apa Zach.”
“Lila
Lila kau ini sedang hamil bersikap tenanglah sedikit.”
“Kau
selalu saja membela kakak sepupuku yang aneh itu.”
“Sebaiknya
kita pulang saja, sayang. Kau harus beristirahat perutmu sakit bukan.”
“Ya sudah
kita pulang saja. Kak, urusan kita belum selesai. Aku pulang ya, bye semua.”
“Hati-hati
di jalan.” Lila dan Zach pun pergi dari restoran.
“Anak itu
masih saja bersikap menindas padaku padahal aku ini lelaki.”
“Kau
terlalu memanjakannya Eric, makanya Lila jadi seperti itu padamu. Kalian berdua
selalu membuatku tertawa sampai sampai perutku sakit.”
“Kau
benar aku memang terlalu memanjakan Lila. Itu karena aku sangat menyayangi Lila,
sosok Lila menggantikan sosok Sue yang sudah meninggal.”
“Sudah
jangan bersedih lagi Eric, kau kan sudah punya Lila sebagai adikmu.”
“Dhee,
terima kasih untuk hari ini. Aku benar-benar bahagia bisa menemanimu dan
akhirnya bertemu dengan Lila juga setelah cukup lama tidak bertemu.”
“Aku yang
harusnya berterima kasih kepadamu, Eric.”
Whooooaaaa……surprise surprise :o
BalasHapusTnyata Eric sepupunya Lila :o
Tnyata Lila jg suka menggigit :o
A lot of surprises here :D
Always cant wait for the next chapter sist :*
Wahhh, selama bersahabat bertahun2 baru tau ya ternyata Lila keturunan Miaaww. hahhah
BalasHapusJadi ngelupain Gale sebentar, tp gpp ada Eric jg ya Dhee :p
yang ini agak berbeda dari biasanya, bikin ngakak. hahaa
Next Chapter kak :*