Kamis, 13 Desember 2012

Chapter 20


Chapter 20

                Lagi lagi air mataku jatuh tak terbendung. Benar-benar sakit, luka itu masih saja sakit aku tidak bisa mengurangi rasa sakit ini. Apa yang harus aku lakukan ya Tuhan. Semalaman aku terus terus menangis, aku yakin sekali mataku pasti sangat sembab dan di lengkapi dengan lingkaran hitam di mataku seperti mata panda.
               
                Pagi harinya aku mendengar Lila dan Asya bergantian mengetuk pintu kamarku. Tapi aku tidak mau keluar, tidak dalam keadaan seperti ini dan pastinya Gale akan ada di bawah menungguku. Aku tidak mau bertemu dengannya pokoknya tidak mau.

***

Di luar apartemen…                       
               
                “Dhea mana?”
                “Dhee tidak mau keluar dari kamarnya, Gale. Aku dan Lila udah berkali-kali mengetuk pintu kamarnya tapi tidak ada tanggapan dari dalam.”
                “Kalau begitu biar aku saja yang menyusulnya.”
                “Tidak Gale, jangan berpikir kau akan mendobrak pintu kamarnya.”
                “Aku harus melihat keadaan Dhee, Lila.”
                “Tapi tidak dengan cara mendobrak pintunya.”
                “Jangana buat keributan di apartemen mereka, Gale.”
                “Zach, apa yang akan kau lakukan jika tiba-tiba Lila bersikap seperti Dhee saat ini?”
                “Aku akan memberikannya waktu untuk dirinya sendiri, aku akan membiarkannya tenang terlebih dahulu.”
                “Dan aku pun akan berbuat hal yang sama jika Asya seperti itu. Gale, terkadang seorang wanita itu membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.”
                “Ayolah Gale, berikan Dhea waktu untuk sendiri.”
                “Baiklah kalau begitu karena aku menghormati kalian terutama kalian berdua Lila dan Asya. Apa salahnya aku mendengarkan ucapan kalian. Kalian lebih mengenal Dhea seperti apa.”
                “Sudahlah Gale, kami mengerti bahwa kau sangat khawatir sekali pada Dhea.”
                “Sebaiknya kita berangkat sekarang atau kita akan terlambat.”

***

                ketika sudah sepi aku keluar dari kamar lalu mengintip ke bawah dan melihat teman-temanku sedang berdebat dengan Gale. Aku tak tahu pasti apa yang sedang mereka perdebatkan sampai akhirnya mereka semua pergi. Aku benar-benar merasa lega karena Gale sudah pergi.

                Lalu aku membaringkan tubuhku di atas sofa sambil menekan-nekan remote TV tidak ada acara yang seru. Jadi apa yang harus aku lakukan seharian ini? Aku pasti akan merasa sangat bosan sekali karena tak ada kegiatan yang bisa aku kerjakan. Aku ingin pergi berjalan-jalan mungkin sedikit berbelanja di pusat perbelanjaan bisa memperbaiki suasana hatiku sedikit. Lamunanku tiba-tiba buyar oleh suara ponselku yang berbunyi.

                “Eric…” aku mengerutkan keningku lalu menjawab teleponnya, “Hai Eric… Tidak hari ini aku sedang tidak sibuk… biasalah aku sedang malas masuk kuliah… kemana? Oke baiklah aku ikut… tentu saja… aku akan bersiap-siap dulu kalau begitu.”
                Setelah menutup telepon aku langsung menuju ke kamar mandi sambil bersenandung. Hari ini aku akan pergi bersenang-senang dengan Eric. Well, tak apa kan jika sekali-kali aku melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan. Setengah jam kemudian aku sudah siap dan tak lama kemudian Eric memberitahu bahwa ia sudah menungguku di bawah. Lalu aku bergegas turun ke bawah untuk menemui Eric. Ketika sampai di bawah Eric sedang bersandar di mobil Ferarri hitamnya ia terlihat sanga tampan dengan sebuah kacamata hitam yang melengkapi penampilannya.

                “Hai, maaf aku terlambat kau pasti sudah menunggu lama.”
                “Tidak Dhee, aku baru saja tiba. Hari ini kau terlihat sangat cantik.”
                “Tidak Eric, aku merasa penampilanku saat ini sedang buruk. Karena aku harus memakai kacamata ini agar mata pandaku tidak terlihat.”
                “Mau seperti apapun kau tetap cantik, Dhee.”
                “Berhentilah memujiku Eric. Kemana kita akan pergi?”
                “Kau mau pergi kemana?”
                “Aku sedang ingin pergi  berbelanja, itupun jika kau mau menemaniku.”
                “Tentu saja aku akan menemani kemanapun kau akan pergi Tuan Putri.”
                “Ayo kita berangkat sekarang.”
Lalu Eric membukakan pintu mobil lalu menahannya dan setelah aku masuk ia menutupnya. Lalu Eric masuk dan duduk di kursi pengemudi dan menjalankan mobilnya menuju ke pusat perbelanjaan di New York aku juga ingin berjalan-jalan di Times Square setelah selesai berbelanja nantin. Aku sudah membayangkan apa saja yang akan aku beli dan apa yang akan aku lakukan nanti.

                “Kau sepertinya sangat bersemangat sekali, Dhee.”
                “Tentu saja, karena aku sudah lama sekali tidak pergi berbelanja. Aku sibuk dengan kuliahku jadi jarang sekali pergi untuk berbelanja.”
                “Kau masih bersama dengan Lila dan Asya? Aku sudah lama sekali tidak bertemu mereka berdua.”
                “Tentu saja kami bertiga masih bersama-sama. Mereka berdua baik-baik saja meskipun sepertinya sebentar lagi Lila akan segera menikah dengan Zach.”
                “Lila akan menikah? Lho bukannya sepupuku itu pacaran dengan Matt, kan?”
                “Ceritanya panjang Eric, Matt sudah menyakiti Lila sampai-sampai Lila jadi trauma.”
                “Aku akan menghajar Matt jika ia berani mengganggu sepupuku lagi. Lalu apakah Asya masih berpacaran dengan Nico sepupumu itu?”
                “Tidak, mereka berdua sudah lama putus dan sekarang Asya berpacaran dengan seorang musisi yang tampan. Tenang saja sudah ada yang menjaga Lila sekarang.”
                “Lalu kau sendiri?”
                “Aku… Aku dan Gale sedang bermasalah Eric. Aku mohon jangan bicarakan tentang Gale, itu hanya akan membuat suasana hatiku kemabli rusak.”
                “Baiklah kalau begitu, maafkan aku Dhee.”
                “Kau tidak salah apa-apa Eric. Sudah-sudah kita lupakan saja semuanya.”
               
                Kami berdua langsung mengganti topic pembicaraan. Dan tak lama kemudian kami sampai di tujuan kami. Aku mulai memasuki toko satu per satu dan mulai memilih barang-barang yang aku suka. Sampai-sampai Eric kerepotan membawa barang belanjaanku. Akhirnya kami menutuskan untuk makan dan beristirahat di sebuah restoran.

                “Maaf aku sudah merepotkanmu, Eric.”
                “Tidak apa-apa lagipula tidak tiap hari kau membuatku kerepotan seperti ini. Sejak kapan kau jadi suka berbelanja sebanyak ini, Dhee?”
                “Aku memang suka berbelanja Eric kau saja yang tidak tahu. Aku ini seorang wanita tentu saja aku menyukai belanja.”
                Entah sejak kapan dan siapa yang memulai aku dan Eric berciuman di restoran itu cukup panas. Dan ketika kami melepaskan ciumannya wajah kami berdua langsung memerah.

                “Kak Eric…” tiba-tiba Lila muncul dan langsung menjewer Eric, “Kakak sedang apa di sini dan berciuman dengan Dhea seperti itu?”
                “Awww, sakit Lila mengapa kau menjewerku seperti menjewer seorang anak yang nakal saja.”
                “Karena kau memang nakal, Kak. Makanya aku menjewer kupingmu.”
                “Lepaskan dulu baru aku akan mejelaskannya padamu. Ya Tuhan kau ini memang adik sepupuku yang paling galak, aku kira kau sudah tidak galak lagi.”
                “Cepat jelaskan atau aku akan menggigit lenganmu.”
                “Tidak tidak gigitanmu membuatku trauma.”
                “Ya sudah, cepat jelaskan padaku.”
                “Lila jangan marah-marah ingat kandunganmu.”
                “Eh, Lila sedang hamil?”
                “Jangan mengalihkan pembicaraan Kak. Ayo cepat jelaskan.”
                “Jadi awalnya begini…”

                Akhirnya Eric menjelaskan secara panjang lebar pada Lila. Eric itu kakak sepupunya Lila dan sejak kecil mereka berdua selalu saja bertengkar sampai-sampai Eric trauma karena pernah di gigit oleh oleh Lila di bagian perutnya dan meninggalkan bekas hingga Eric beranjak dewasa. Mungkin saja luka itu masih ada saat ini. Itulah mengapa Eric sangat tunduk sekali pada Lila, lucu sekali jika sudah melihat Eric dan Lila bertengkar.

                “Jadi seperti itulah awalnya adik sepupuku yang paling galak.”
                “Aku tidak mau ikut campur dalam masalah kalian. Aku takkan menceritakan apapun pada Gale dan aku juga akan meminta Zach untuk tutup mulut. Selesaikan saja masalah kalian bertiga.”
                “Aku sedang benar-benar marah pada Gale, La. Sangat marah nanti aku akan menceritakan semuanya padamu ketika kita sudah sampai di apartemen.”
                “Aku takkan memaksamu untuk menceritakan semuanya padaku, Dhee. Kalau kau memang ingin menceritakannya padaku tentu saja aku akan menjadi pendengar yang baik.”
                “Wah, Lila sejak kapan kau jadi sebijaksana ini. Apa karena bawaan bayi yang sedang kau kandung itu? Ngomong-ngomong di mana kekasihmu?”
                “Berisik kau, Kak. Zach sedang bertemu kilennya jadi aku menunggu disini. Aku tidak mau mendengarkan Zach membicarakan bisnis-bisnisnya, karena aku tidak mengerti. Nah itu dia, Zach sebelah ini.”
                “Hai Dhee, rupanya kau ada disini juga sedang apa?”
                “Ah, hai Zach kami tidak sengaja bertemu Lila disini.”
                “Sayang, perkenalkan ini kakak sepupuku yang paling aneh.”
                “Enak saja kau menyebutku aneh dasar kau kucing. Hai Zach, perkenalkan aku Eric Dill kakak sepupu dari Lila.”
                “Hai senang bisa bertemu denganmu Eric. Oh iya, mengapa kau memanggil Lila kucing?”
                “Sudah sudah jangan bahas lagi, awas saja kalau kau menceritakannya. Zach sudah jangan bahas ini lagi.”
                “Itu karena…”
                “Kak Eric… berhenti awas saja kalau berani mengatakannya. Awww…”
                “Sayang kau kenapa? Ada apa dengan perutmu?”
                “Tidak aku tidak apa-apa Zach.”
                “Lila Lila kau ini sedang hamil bersikap tenanglah sedikit.”
                “Kau selalu saja membela kakak sepupuku yang aneh itu.”
                “Sebaiknya kita pulang saja, sayang. Kau harus beristirahat perutmu sakit bukan.”
                “Ya sudah kita pulang saja. Kak, urusan kita belum selesai. Aku pulang ya, bye semua.”
                “Hati-hati di jalan.” Lila dan Zach pun pergi dari restoran.
                “Anak itu masih saja bersikap menindas padaku padahal aku ini lelaki.”
                “Kau terlalu memanjakannya Eric, makanya Lila jadi seperti itu padamu. Kalian berdua selalu membuatku tertawa sampai sampai perutku sakit.”
                “Kau benar aku memang terlalu memanjakan Lila. Itu karena aku sangat menyayangi Lila, sosok Lila menggantikan sosok Sue yang sudah meninggal.”
                “Sudah jangan bersedih lagi Eric, kau kan sudah punya Lila sebagai adikmu.”
                “Dhee, terima kasih untuk hari ini. Aku benar-benar bahagia bisa menemanimu dan akhirnya bertemu dengan Lila juga setelah cukup lama tidak bertemu.”
                “Aku yang harusnya berterima kasih kepadamu, Eric.”

2 komentar:

  1. Whooooaaaa……surprise surprise :o
    Tnyata Eric sepupunya Lila :o
    Tnyata Lila jg suka menggigit :o

    A lot of surprises here :D

    Always cant wait for the next chapter sist :*

    BalasHapus
  2. Wahhh, selama bersahabat bertahun2 baru tau ya ternyata Lila keturunan Miaaww. hahhah

    Jadi ngelupain Gale sebentar, tp gpp ada Eric jg ya Dhee :p

    yang ini agak berbeda dari biasanya, bikin ngakak. hahaa

    Next Chapter kak :*

    BalasHapus