Jumat, 14 Desember 2012

Chapter 21


Chapter 21

                “Setelah ini kau mau pergi kemana lagi?”
                “Bagaimana kalau kita berkeliling di Times Square. Sudah lam sekali aku tidak berjalan-jalan di sana.”
                “Baiklah, tapi kita harus menyimpan semua barang-barang ini di dalam mobil. Aku tidak mau kalau harus membawa-bawa barang ini kemanapun aku pergi.”
                “Tentu saja, astaga Eric aku takkan sekejam itu padamu.”
                “Bagaimana kalau kita pergi sekarang saja?”
                “Baiklah, ayo kita pergi Eric. Aku sedang bersemangat sekali untuk berjalan-jalan.”

                Setelah Eric membayar tagihannya kami pun langsung pergi dari restoran itu. Kami langsung menuju ke Times Square, ketika sampai di sana hari sudah mulai petang. Aku dan Eric langsung berjalan-jalan di sana. Hari yang menyenangkan setelah semalaman aku menangis tanpa henti, hari ini aku ingin bersenang-senang. Biarpun hanya satu hari saja, aku ingin bisa melupakan masalahku dengan Gale.

                “Dhee, bagaimana kalau kita pergi ke kafe  yang ada di ujung jalan sana. Sepertinya tempatnya bagus meskipun dari sini terlihat sepi.”
                “Boleh, kakiku sudah mulai pegal. Kita bisa beristirahat di sana sebelum pulang.”

                Kami berdua langsung menuju ke kafe yang tadi di tunjuk oleh Eric. Pilihannya memang benar, kafe ini sangat bagus dan tidak terlalu ramai. Aku dan Eric memutuskan untuk duduk di lantai dua saja karena dari situ bisa melihat pemandangan di luar yang sangat indah sekali. Kami berbincang-bincang sambil menunggu pesanan kami datang. Aku langsung terpaku ketika melihat Gale sedang bersama Irene. Irene bergelayutan di lengan Gale bahkan tak jarang Irene menciumi pipi Gale.

                Aku ingin muntah menlihat semua itu, sangat sangat menjijikan sekali. Mata coklat milik Gale menangkap mataku yang sedang memandanginya. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku pada Eric.

                “Eric, bisakah aku minta tolong padamu?”
                “Tentu saja Dhee, apa itu?”
                “Cium aku…”
                “Apa? Menciummu?”
                “Iya, aku ingin kamu menciumku Eric. Sekarang.”

                Lalu Eric pun menciumku dengan ragu-ragu, mungkin Eric takut jika Lila tiba-tiba muncul seperti tadi. Ketika wajah Eric semakin mendekat jantungku langsung berpacu dengan cepat, aku merasa sangat gugup sekali ketika bibirnya dengan lembut mendarat di bibirku. Bibirnya masih tetap hangat dan lembut seperti dulu. Sampai tiba-tiba aku merasakan tangan yang besar dan kuat mencengkram lenganku dan menarikku.

                “Apa yang sedang kau lakukan di sini, Angel?” suaranya terdengar berat.
                “Bukan urusanmu, lepaskan aku Gale. Kau tak berhak memperlakukan aku seperti ini.”
                “Sebaiknya kau lepaskan Dhea sekarang.”
                “Jangan ikut campur aku sedang tidak ingin berkelahi denganmu. Kau harus ikut denganku sekarang juga, Angel.”
                “Tidak, aku tidak mau ikut denganmu. Aku muak melihat wajahmu.”

                Tapi Gale tidak menghiraukan kata-kataku. Ia tetap menyeretku keluar dari kafe itu dan memaksaku masuk ke dalam limosinnya. Lalu Gale menekan tombol untuk mengeluarkan pembatas di antara kursi penumpang dan kursi pengemudi.

                “Apa yang sedang kau lakukan dengan pria itu, Angel?”
                “Jangan menggeram padaku Gale, karena aku tidak akan takut padamu.”
                “Jelaskan padaku sedang apa kau bersama dengan pria itu?”
                “Namanya Eric. Lalu apakah kau juga bisa menjelaskan padaku sedang apa kau bersama dengan Irene disini?”
                “Dari mana kau tahu bahwa namanya Irene?”
                “Karena beberapa hari yang lalu ia mendatangiku di kampus. Ia menngatakan padaku bahwa saat ini ia sedang mengandung anakmu, Gale.”
                “Apa? Dan kau percaya begitu saja dengan ucapannya itu, Angel?”         
                “Tadinya aku tidak percaya sedikitpun pada ucapannya Gale. Tapi kemarin sepulang dari kampus akuk bermaksud untuk menemuimu di kantormu. Sayangnya aku mengurungkan niatku karena aku melihatmu sedangb berciuman dengan Irene dipelataran parkir.”
                “Jadi hari itu kau melihatnya, Angel?”
                “Ya, aku melihatnya itulah mengapa aku bersikap acuh padamu. Aku benar-benar tidak menyangka kau bisa melakukan hal seperti itu padaku, Gale. Apa karena aku tidak mau cepat-cepat mempunyai seorang anak lantas kau berbuat seperti ini padaku?”
                “Tidak seperti itu, Angel. Aku sama sekali tidak pernah berbuat apa-apa bahkan aku tidak pernah bertemu dengan Irene ketika aku memutuskan untuk mendekatimu.”
                “Lalu apa maksud dari yang aku lihat kemarin dan hari ini? Apakah kau akan bilang bahwa ia yang menciummu dulu begitu, hah?”
                “Ya, karena memang itu kenyataannya, Angel.”
                “Tapi kau terlihat sangat menikmatinya, Gale. Bahkan aku berpikir kalian membutuhkan sebuah kamar.”
                “Lalu apa yang kau lakukan dengan pria bernama Eric itu? Apakah dia yang menciummu terlebih dahulu juga?”
                “Tidak… Aku yang memintanya untuk menciumku, puas.”

                Aku berteriak padanya dan bermaksud untuk keluar, namun ketika tanganku sudah memegang handle pintu tiba-tiba Gale menarik tubuhku. Bibirnya langsung mengunci bibirku, ia menciumku dengan sangat liar. Seperti orang yang kehausan, aku berusaha untuk melepaskan diri darinya namun tubuhnya mengunciku.

                “Lepaskan aku Gale, kau menyakitiku.”
                “Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku hanya milikmu seorang Dhee. Sekarang diamlah, jangan banyak melawanku.”

                Aku merasakan mobil melaju dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat. Dengan sigap ia membaringkan tubuhku di atas kursi penumpang, lalu wajahnya kembali mendekat dan mulai menciumiku mulai dari kening menuju ke hidungku lalu melumat bibirku. Mendesak lidahnya masuk kedalam mulutku, lidahnya membelai lidahku dengan sangat lembut. Sedangkan tangannya mulai menyusup masuk kedalam blush yang aku pakai. Dengan lembut tangannya menangkup di payudaraku, meremasnya dengan lembut, sesekali ia memilin ujungnya dengan jarinya dan membuatku mengeluarkan erangan pelan.

                Sekujur tubuhku memanas dan bergetar hebat, kebutuhan yang mendesak membuatku melupakan perasaan kesal di hatiku. Gale benar-benar membuatku melayang dan kehilangan akal sehat. Tangannya mulai turun  dan membelai pahaku lalu menyingkap rok yang aku kenakan.

                “Sangat menguntungkan sekali karena kau memakai rok hari ini, Angel.”

                Lengannya mulai membelai bagian diriku yang sudah sangat panas dan basah sekali itu. Lalu aku mendengar suara restleting yang dibuka. Aku hampir tersedak ketika ia mendesak masuk kedalam diriku, mataku terpejam sesaat merasakan miliknya yang begitu besar dan terasa penuh di dalam diriku. Ia menggeram ketika menggerakan dirinya di atas tubuhku. Aku merasakan milikku semangit mengetat membungkus dirirnya, tubuhku mulai bergetar hebat tanda orgasme yang akan segera datang.

                “Ayo Angel, berikan itu padaku. aku ingin melihatnya.”

                Gale mempercepat gerangannya ketika orgasmeku meledak, aku merasakan jutaan kupu-kupu keluar dari dalam diriku. Ketika tubuhku sudah melemas Gale masih mempompa dirinya di dalam diriku dan kecepatannya bertambah. Sampai akhirnya ia menggeram lalu meledak di dalam diriku. Lalu tubuhnya ambruk di atas tubuhku. Nafas kami berdua masih terengah-engah, beberapa saat kemudan ia melepaskan dirinya dari diriku dengan perlahan.

                I love you, Angel.” Ia mencium keningku.

                Seluruh amarah yang aku rasakan sebelumnya langsung menghilang tak berbekas. Aku memang sangat mencintai pria tampan ini sangat sangat cinta. Dan aku sangat merindukannya saat ini.

                “Maafkan sikapku yang kekanakan , Gale.”
                Ia memelukku dengan erat, “Sudahlah Angel, sebaiknya kita lupakan masalah ini dan kita memulai kembali lembaran yang baru.”
                “Sayang, aku ingin pulang hari ini sangat melelahkan sekali. Aku ingin tidur.”
                “Sebentar lagi kita sampai sampai di apartemen, Angel.”

                Tak lama kemudian mobil berhenti di pelataran parkir di apartemenku. Kami berjalan sambil bergandengan tangan menuju ke tempat tinggalku. Aku terkejut ketika sampai di dalam, ternyata Eric ada sedang mengobrol dengan Lila dan Zach.

                “Akhirnya kalian pulang juga.”
                “Sedang apa kau di sini?”
                “Jangan emosi Gale, dia ini kakak sepupuku. Ia kemari untuk mengantarkan belanjaan milik Dhea yang tertinggal di mobilnya. Aku sudah mendengar semuanya.”
                “Aku juga mau meminta maaf padamu Gale. Kau tenang saja saat ini perasaanku pada Dhea sama seperti perasaanku pada Lila. Yah, meskipun dulu kami sempat pacaran. Tapi yang terpenting buatku adalah bisa melihat Dhea bahagia, karena dengan begitu aku juga merasa bahagia.” Eric mengulurkan tanganya pada Gale.
                “Aku juga minta maaf karena tadi hampir saja memukulmu.” Gale menjabat tangan Eric.
                “Kau tenang saja Gale, aku akan menjewer telinganya jika ia macam-macam.”
                “Sepertinya semua kesalah pahaman di antara kalian sudah clear, bagaimana kalau kita minum untuk merayakannya.”
                “Bolehkah aku ikut minum juga?”
                “Tidak sayang, kau tidak boleh minum.”
                “Hanya sedikit saja, aku mohon.”
                “Tidak sayang, mengapa kau tidak bisa di beritahu.”
                “Hanya seteguk saja Zach…”
                “Tidak boleh, kau minum susu saja. Aku sudah membuatkannya untukmu.”

                Aku tertawa melihat Zach memarahi Lila, benar-benar pasangan yang lucu. Ah, Eric kau benar-benar sanagt baik sekali. Aku berharap kau mendapatkan wanita yang baik, terima kasih untuk semuanya Eric. Lalu kami mengobrol bersama, Asya dan Mark tidak bergabung dengan kami. Sepertinya mereka berdua punya acara sendiri.

                “Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu.”
                “Kau akan datang mengunjungiku lagi kan, Kak?”
                “Tentu saja aku akan datang mengunjungimu, aku sekarang tinggal di New York. Ya sudah aku pulang, Zach jaga adikku dan calon bayinya, ya.”
                “Tentu saja Eric, kau tak perlu khawatir aku akan menjaga mereka berdua dengan baik.”
                “Dhea, Gale aku pamit dulu. Kalian berdua baik-baik, ya. Tolong jaga Dhea baik-baik jangan buat dia menangis lagi.”
                “Tentu saja, terima kasih Eric.”

                Lalu Eric pun pulang lalu kami masuk kekamar kami masing-masing untuk beristirahat.

3 komentar:

  1. Hahhhh.. ngapain Dhee diseret-seret masuk mobil ya??
    ikutan boleh :p

    Kasian eric nya, udh disuruh2 sm Dhee, ditnggalin lagi. ckckckck

    Hot and Cold nya dapet kak :D
    Next Chapter ya :*

    BalasHapus
  2. *bengong
    *speechless

    Konflik ajj terus Dhee sm Gale nya seru sih berantemnya :D

    Waiting for the next conflict eehhh...next chapter sist :D

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus