Chapter 21
“Setelah
ini kau mau pergi kemana lagi?”
“Bagaimana
kalau kita berkeliling di Times Square. Sudah lam sekali aku tidak
berjalan-jalan di sana.”
“Baiklah,
tapi kita harus menyimpan semua barang-barang ini di dalam mobil. Aku tidak mau
kalau harus membawa-bawa barang ini kemanapun aku pergi.”
“Tentu
saja, astaga Eric aku takkan sekejam itu padamu.”
“Bagaimana
kalau kita pergi sekarang saja?”
“Baiklah,
ayo kita pergi Eric. Aku sedang bersemangat sekali untuk berjalan-jalan.”
Setelah
Eric membayar tagihannya kami pun langsung pergi dari restoran itu. Kami
langsung menuju ke Times Square, ketika sampai di sana hari sudah mulai petang.
Aku dan Eric langsung berjalan-jalan di sana. Hari yang menyenangkan setelah
semalaman aku menangis tanpa henti, hari ini aku ingin bersenang-senang. Biarpun
hanya satu hari saja, aku ingin bisa melupakan masalahku dengan Gale.
“Dhee,
bagaimana kalau kita pergi ke kafe yang
ada di ujung jalan sana. Sepertinya tempatnya bagus meskipun dari sini terlihat
sepi.”
“Boleh,
kakiku sudah mulai pegal. Kita bisa beristirahat di sana sebelum pulang.”
Kami
berdua langsung menuju ke kafe yang tadi di tunjuk oleh Eric. Pilihannya memang
benar, kafe ini sangat bagus dan tidak terlalu ramai. Aku dan Eric memutuskan
untuk duduk di lantai dua saja karena dari situ bisa melihat pemandangan di
luar yang sangat indah sekali. Kami berbincang-bincang sambil menunggu pesanan
kami datang. Aku langsung terpaku ketika melihat Gale sedang bersama Irene.
Irene bergelayutan di lengan Gale bahkan tak jarang Irene menciumi pipi Gale.
Aku ingin
muntah menlihat semua itu, sangat sangat menjijikan sekali. Mata coklat milik
Gale menangkap mataku yang sedang memandanginya. Aku buru-buru mengalihkan
pandanganku pada Eric.
“Eric,
bisakah aku minta tolong padamu?”
“Tentu
saja Dhee, apa itu?”
“Cium
aku…”
“Apa?
Menciummu?”
“Iya, aku
ingin kamu menciumku Eric. Sekarang.”
Lalu Eric
pun menciumku dengan ragu-ragu, mungkin Eric takut jika Lila tiba-tiba muncul
seperti tadi. Ketika wajah Eric semakin mendekat jantungku langsung berpacu dengan
cepat, aku merasa sangat gugup sekali ketika bibirnya dengan lembut mendarat di
bibirku. Bibirnya masih tetap hangat dan lembut seperti dulu. Sampai tiba-tiba
aku merasakan tangan yang besar dan kuat mencengkram lenganku dan menarikku.
“Apa yang
sedang kau lakukan di sini, Angel?” suaranya terdengar berat.
“Bukan
urusanmu, lepaskan aku Gale. Kau tak berhak memperlakukan aku seperti ini.”
“Sebaiknya
kau lepaskan Dhea sekarang.”
“Jangan
ikut campur aku sedang tidak ingin berkelahi denganmu. Kau harus ikut denganku
sekarang juga, Angel.”
“Tidak,
aku tidak mau ikut denganmu. Aku muak melihat wajahmu.”
Tapi Gale
tidak menghiraukan kata-kataku. Ia tetap menyeretku keluar dari kafe itu dan
memaksaku masuk ke dalam limosinnya. Lalu Gale menekan tombol untuk
mengeluarkan pembatas di antara kursi penumpang dan kursi pengemudi.
“Apa yang
sedang kau lakukan dengan pria itu, Angel?”
“Jangan
menggeram padaku Gale, karena aku tidak akan takut padamu.”
“Jelaskan
padaku sedang apa kau bersama dengan pria itu?”
“Namanya
Eric. Lalu apakah kau juga bisa menjelaskan padaku sedang apa kau bersama
dengan Irene disini?”
“Dari
mana kau tahu bahwa namanya Irene?”
“Karena
beberapa hari yang lalu ia mendatangiku di kampus. Ia menngatakan padaku bahwa
saat ini ia sedang mengandung anakmu, Gale.”
“Apa? Dan
kau percaya begitu saja dengan ucapannya itu, Angel?”
“Tadinya
aku tidak percaya sedikitpun pada ucapannya Gale. Tapi kemarin sepulang dari
kampus akuk bermaksud untuk menemuimu di kantormu. Sayangnya aku mengurungkan
niatku karena aku melihatmu sedangb berciuman dengan Irene dipelataran parkir.”
“Jadi
hari itu kau melihatnya, Angel?”
“Ya, aku
melihatnya itulah mengapa aku bersikap acuh padamu. Aku benar-benar tidak
menyangka kau bisa melakukan hal seperti itu padaku, Gale. Apa karena aku tidak
mau cepat-cepat mempunyai seorang anak lantas kau berbuat seperti ini padaku?”
“Tidak
seperti itu, Angel. Aku sama sekali tidak pernah berbuat apa-apa bahkan aku
tidak pernah bertemu dengan Irene ketika aku memutuskan untuk mendekatimu.”
“Lalu apa
maksud dari yang aku lihat kemarin dan hari ini? Apakah kau akan bilang bahwa
ia yang menciummu dulu begitu, hah?”
“Ya,
karena memang itu kenyataannya, Angel.”
“Tapi kau
terlihat sangat menikmatinya, Gale. Bahkan aku berpikir kalian membutuhkan
sebuah kamar.”
“Lalu apa
yang kau lakukan dengan pria bernama Eric itu? Apakah dia yang menciummu
terlebih dahulu juga?”
“Tidak…
Aku yang memintanya untuk menciumku, puas.”
Aku berteriak
padanya dan bermaksud untuk keluar, namun ketika tanganku sudah memegang handle
pintu tiba-tiba Gale menarik tubuhku. Bibirnya langsung mengunci bibirku, ia
menciumku dengan sangat liar. Seperti orang yang kehausan, aku berusaha untuk
melepaskan diri darinya namun tubuhnya mengunciku.
“Lepaskan
aku Gale, kau menyakitiku.”
“Aku
hanya ingin membuktikan bahwa aku hanya milikmu seorang Dhee. Sekarang diamlah,
jangan banyak melawanku.”
Aku merasakan
mobil melaju dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat. Dengan sigap ia
membaringkan tubuhku di atas kursi penumpang, lalu wajahnya kembali mendekat
dan mulai menciumiku mulai dari kening menuju ke hidungku lalu melumat bibirku.
Mendesak lidahnya masuk kedalam mulutku, lidahnya membelai lidahku dengan
sangat lembut. Sedangkan tangannya mulai menyusup masuk kedalam blush yang aku
pakai. Dengan lembut tangannya menangkup di payudaraku, meremasnya dengan
lembut, sesekali ia memilin ujungnya dengan jarinya dan membuatku mengeluarkan
erangan pelan.
Sekujur tubuhku
memanas dan bergetar hebat, kebutuhan yang mendesak membuatku melupakan
perasaan kesal di hatiku. Gale benar-benar membuatku melayang dan kehilangan
akal sehat. Tangannya mulai turun dan
membelai pahaku lalu menyingkap rok yang aku kenakan.
“Sangat
menguntungkan sekali karena kau memakai rok hari ini, Angel.”
Lengannya
mulai membelai bagian diriku yang sudah sangat panas dan basah sekali itu. Lalu
aku mendengar suara restleting yang dibuka. Aku hampir tersedak ketika ia
mendesak masuk kedalam diriku, mataku terpejam sesaat merasakan miliknya yang
begitu besar dan terasa penuh di dalam diriku. Ia menggeram ketika menggerakan
dirinya di atas tubuhku. Aku merasakan milikku semangit mengetat membungkus
dirirnya, tubuhku mulai bergetar hebat tanda orgasme yang akan segera datang.
“Ayo
Angel, berikan itu padaku. aku ingin melihatnya.”
Gale mempercepat
gerangannya ketika orgasmeku meledak, aku merasakan jutaan kupu-kupu keluar
dari dalam diriku. Ketika tubuhku sudah melemas Gale masih mempompa dirinya di
dalam diriku dan kecepatannya bertambah. Sampai akhirnya ia menggeram lalu
meledak di dalam diriku. Lalu tubuhnya ambruk di atas tubuhku. Nafas kami
berdua masih terengah-engah, beberapa saat kemudan ia melepaskan dirinya dari
diriku dengan perlahan.
“I love you, Angel.” Ia mencium keningku.
Seluruh amarah
yang aku rasakan sebelumnya langsung menghilang tak berbekas. Aku memang sangat
mencintai pria tampan ini sangat sangat cinta. Dan aku sangat merindukannya
saat ini.
“Maafkan
sikapku yang kekanakan , Gale.”
Ia memelukku
dengan erat, “Sudahlah Angel, sebaiknya kita lupakan masalah ini dan kita
memulai kembali lembaran yang baru.”
“Sayang,
aku ingin pulang hari ini sangat melelahkan sekali. Aku ingin tidur.”
“Sebentar
lagi kita sampai sampai di apartemen, Angel.”
Tak lama
kemudian mobil berhenti di pelataran parkir di apartemenku. Kami berjalan
sambil bergandengan tangan menuju ke tempat tinggalku. Aku terkejut ketika
sampai di dalam, ternyata Eric ada sedang mengobrol dengan Lila dan Zach.
“Akhirnya
kalian pulang juga.”
“Sedang
apa kau di sini?”
“Jangan
emosi Gale, dia ini kakak sepupuku. Ia kemari untuk mengantarkan belanjaan
milik Dhea yang tertinggal di mobilnya. Aku sudah mendengar semuanya.”
“Aku juga
mau meminta maaf padamu Gale. Kau tenang saja saat ini perasaanku pada Dhea
sama seperti perasaanku pada Lila. Yah, meskipun dulu kami sempat pacaran. Tapi
yang terpenting buatku adalah bisa melihat Dhea bahagia, karena dengan begitu
aku juga merasa bahagia.” Eric mengulurkan tanganya pada Gale.
“Aku juga
minta maaf karena tadi hampir saja memukulmu.” Gale menjabat tangan Eric.
“Kau
tenang saja Gale, aku akan menjewer telinganya jika ia macam-macam.”
“Sepertinya
semua kesalah pahaman di antara kalian sudah clear, bagaimana kalau kita minum
untuk merayakannya.”
“Bolehkah
aku ikut minum juga?”
“Tidak
sayang, kau tidak boleh minum.”
“Hanya
sedikit saja, aku mohon.”
“Tidak
sayang, mengapa kau tidak bisa di beritahu.”
“Hanya
seteguk saja Zach…”
“Tidak
boleh, kau minum susu saja. Aku sudah membuatkannya untukmu.”
Aku tertawa
melihat Zach memarahi Lila, benar-benar pasangan yang lucu. Ah, Eric kau
benar-benar sanagt baik sekali. Aku berharap kau mendapatkan wanita yang baik,
terima kasih untuk semuanya Eric. Lalu kami mengobrol bersama, Asya dan Mark
tidak bergabung dengan kami. Sepertinya mereka berdua punya acara sendiri.
“Baiklah,
kalau begitu aku pamit dulu.”
“Kau akan
datang mengunjungiku lagi kan, Kak?”
“Tentu
saja aku akan datang mengunjungimu, aku sekarang tinggal di New York. Ya sudah
aku pulang, Zach jaga adikku dan calon bayinya, ya.”
“Tentu
saja Eric, kau tak perlu khawatir aku akan menjaga mereka berdua dengan baik.”
“Dhea,
Gale aku pamit dulu. Kalian berdua baik-baik, ya. Tolong jaga Dhea baik-baik
jangan buat dia menangis lagi.”
“Tentu
saja, terima kasih Eric.”
Lalu Eric
pun pulang lalu kami masuk kekamar kami masing-masing untuk beristirahat.
Hahhhh.. ngapain Dhee diseret-seret masuk mobil ya??
BalasHapusikutan boleh :p
Kasian eric nya, udh disuruh2 sm Dhee, ditnggalin lagi. ckckckck
Hot and Cold nya dapet kak :D
Next Chapter ya :*
*bengong
BalasHapus*speechless
Konflik ajj terus Dhee sm Gale nya seru sih berantemnya :D
Waiting for the next conflict eehhh...next chapter sist :D
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus