Chapter 26
Lila, maaf kami tidak membangunkanmu pagi
ini karena kami pikir kau masih harus beristirahat di rumah. Aku dan Asya akan
mengusahakan pulang cepat setelah kuliah selesai, jangan lupa habiskan sarapan
yang sudah kami sediakan. Berhati-hatilah dirumah.
Dhea
& Asya
Setelah
membacanya aku langsung duduk di depan meja makan dan mulai menyantap sarapan
yang sudah di sediakan oleh kedua sahabatku tersayang. Ketika aku baru selesai
mencuci piring yang baru saja aku pakai tiba-tiba Kyle meneleponku, ia berkata
sudah berada di bawah menungguku. Aku benar-benar lupa bahwa hari ini akan
pergi ke rumah sakit bersamnya. Setelah mengembil tasku aku langsung pergi
menemui Kyle di bawah dan pergi ke rumah sakit.
Sesampainya
di sana aku dan Kyle langsung menjalani beberapa pemeriksaan, hasilnya bisa di
ketahui satu minggu lagi. Aku hanya mendengus ketika mendengarnya, satu minggu
benar-benar waktu yang sangat lama. Dan selama satu minggu itu aku akan
benar-benar merasa penasaran. Sebelum jam akan siang Kyle mengantarkanku
kembali ke apartemen sebelum Dhea dan Asya pulang.
Ketika
sampai Zach menelepon dan memberitahu bahwa ia baru saja sampai di New York dan
akan menemuiku nanti sore. Bagus sekali, Zach sudah pulang dan aku tak tahu
harus bersikap seperti apa padanya nanti. Setelah menyimpan tas aku langsung
mengganti celana jeans yang aku pakai tadi dengan celana pendek. Lalu aku
kembali ke ruang depan, aku merebahkan diriku di atas sofa yang menyalakan TV
agar suasana disini tidak terlalu sepi.
Aku
memegangi perutku, mengelusnya dengan lembut. Mengapa Kyle dan Zach sangat mengingin untuk menjadi ayahmu, sayang.
Mom, benar-benar bingung dengan semua kejadian ini. Andai saja kau bisa
berbicara kau pasti akan mengatakan siapa ayahmu yang sebenarnya kan, sayang. Bersabarlah
sayang, seminggu lagi kau akan tahu siapa ayahmu yang sebenarnya. Karena
lelah akhirnya aku pun tertidur di sofa.
Aku
terbangun ketika ada yang menepuk-nepuk pipiku dengan lembut. Perlahan aku
membuka mataku dan ternyata Zach sudah datang. Aku pun langsung mengubah
posisiku menjadi duduk.
“Kapan
kau datang? Mengapa kau bisa masuk, Zach?”
“Aku
baru saja tiba, kau tidak mengunci pintunya. Makanya aku langsung masuk aku
takut terjadi sesuatu padamu, sayang.”
“Dhea
dan Asya belum pulang?”
“Mereka
berdua belum pulang, sayang. Apakah kau baik-baik saja, wajahmu sedikit pucat.”
“Aku
hanya lelah saja, Zach. Makanya hari ini aku tidak pergi ke kampus. Oh ya,
apakah kau sudah makan? Biar aku siapkan makanan untukmu.”
“Tidak
usah, sayang. Sebaiknya memesan makanan saja, kau harus beristirahat. Biar aku
telepon dulu, ya.” Lalu Zach menelepon restoran masakan Cina kesukaanku.
“Zach,
aku memutuskan untuk cuti dulu dari kuliahku. Bagaimana menurutmu?”
“Kau
memang harus melakukannya, sayang. Kau tidak boleh terlalu lelah, kapan kau
akan mengurus cutinya. Biar aku saja yang mengurus semuanya.”
“Tidak
perlu Zach, biar besok aku saja yang mengurus semuanya.”
“Ya
sudah kalau begitu. Tapi kau jangan terlalu memaksakan diri, ya.”
Lalu
Zach memeluk dan mencium keningku. Ya
Tuhan, pria ini sangat mencintaiku. Zach pasti akan sangat hancur sekali jika
hasil DNA itu mengatakan bahwa bayi yang sedang tumbuh di rahimku ini bukan
darah dagingnya. Zach melepaskan pelukannya untuk membuka pintu, mungkin
makanan yang kami pesan sudah datang. Lalu kami berdua langsung menyantap
makanan yang masih panas itu. Malam ini Zach akan menginap.
“Tidak,
Kyle itu tidak mungkin… Bayi ini bukan anakmu, bukan…”
“Sayang,
bangun kau hanya bermimpi.” Aku membuka mataku dan langsung memeluk Zach, “Aku
ada di sini, sayang. Sebaiknya kau kembali tidur, sayang.”
Aku
langsung menuruti perkataan Zach. Keesokan harinya aku bangun dan tidak
mendapati Zach di sampingku. Aku langung terduduk, malas untuk bangun tapi hari
ini aku harus pergi ke kampus untuk mengurus surat-surat pengajuan cutiku.
Setelah selesai mandi aku langsung keluar dari kamar dan mendapati Zach sedang
membaca korang sambil meminum kopi.
“Selamat
pagi sayang.”
“Selamat
pagi, Dhea dan Asya sudah berangkat?”
“Mereka
sudah berangat setengah jam yang lalu. Minum dulu susunya mumpung masih
hangat.”
“Sudah
pukul delapan tapi kau belum berangkat, apakah tidak ada pertemuan?”
“Aku
menunggumu bangun, sayang. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke kampus
sendirian. Habiskan dulu sarapanmu lalu kita segera berangkat. Kalau nanti
sudah selesai urusannya di kampus kau harus menghubungiku.”
“Oke,
aku akan menghubungimu jika semuanya sudah selesai.”
Setelah
aku menghabiskan sarapanku kami langsung pergi. Zach mengantarkanku sampai
depan kantor tata usaha, setelah mencium keningku dia langsung pamit pergi ke
kantor. Sedangkan aku langsung masuk ke dalam kantor tata usaha untuk mengurus
surat izin cuti kuliahku, aku berada si ruang tata usaha sampai jam makan siang
tiba. Setelah semuanya selesai aku langsung menuju ke kantin untuk bertemu
dengan Dhea dan Asya yang sudah menungguku di sana, tapi sebelum aku sampai di
tempat kedua sahabatku menunggu. Kyle sudah menghadang jalanku dan mengajakku
berbicara.
“Ada
apa Kyle?”
“Aku
hanya ingin mengetahui kabarmu saja, Lila. Tadi pagi aku tidak melihatmu di
kampus.”
“Aku
memang tidak masuk sejak kemarin. Hari ini aku datang ke kampus hanya untuk
mengurus surat-surat cutiku saja, Kyle.”
“Kau
memang harus mengambil cuti, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu dan bayi
kita.”
“Berhenti
menyembut bayiku sebagai bayimu, Kyle. Hasil testnya saja belum keluar, kau
sudah mengetahui keadaan, bukan. Jadi kalau begitu aku permisi dulu.”
“Baiklah,
hati-hati Lila. Aku mencintaimu.”
Aku
tidak menjawab perkataan Kyle. Aku langsung pergi ketempat Dhea dan Asya yang
sedari tadi terus saja mengawasiku ketika aku sedang berbicara dengan Kyle.
“Ada
masalah apalagi dengan Kyle, La?”
“Masalah
yang sangat rumit Dhee, sangat sangat rumit sekali.”
“Ada
masalah apa, La. Siapa tahu kami bisa sedikit member solusi.”
“Kyle
mengklaim bahwa bayi yang sedang aku kandung ini adalah darah dagingnya.”
“Apa?”
jawab Dhea dan Asya bersamaan.
“Bagaimana
bisa, La? Jangan bilang bahwa kau pernah tidur dengan Kyle.”
“Dengarkan
dulu penjelasanku, Dhee. Semua ini terjadi ketika kita berlibur di Hawaii, kau
tahu sendiri aku benar-benar sangat mabuk malam itu. Ketika dalam perjalanan ke
kamar aku bertemu dengan Kyle. Dan yang aku ingat selanjutnya adalah ketika
bangun aku mendapati diriku tanpa pakaian dan Kyle di sampingku dalam keadaan
yang sama.”
“Ya
Tuhan, apakah Kyle sengaja melakukan ini,La?”
“Ya
Sya, Kyle sengaja melakukan hal ini. Ia berharap aku mengandung anaknya jadi
dengan begitu aku bisa kembali lagi padanya.”
“Kau
masih memiliki perasaan pada Kyle?”
“Aku
masih sangat mencintai Kyle, Dhee. Meskipun aku juga mencintai Zach, aku
benar-benar marah Kyle melakukan seperti ini padaku.”
“Lalu
apakah kau sudah tahu siapa ayah dari bayimu ini?”
“Kemarin
aku dan Kyle pergi ke rumah sakit untuk melakukan test DNA dan hasilnya akan
segera keluar minggu depan.”
“Mengapa
kau baru menceritakannya pada kami berdua, La.”
“Maafkan
aku Dhee, aku benar-benar tak tahu harus melakukan apa.”
“Sebaiknya
sekarang kau tenang jangan terlalu banyak pikiran. Tidak baik untuk
kehamilanmu, apapun hasilnya nanti kami berdua akan tetap berada di sampingmu.”
“Terima
kasih Sya, Dhee… “ aku memeluk mereka berdua dengan erat.
Sejak
memutuskan untuk cuti dari kuliah aku lebih banyak menghabiskan waktu di
apartemen saja. Zach jadi jarang datang mengunjungiku karena ia sibuk dengan
pekerjaannya. Satu minggu sudah sejak aku dan Kyle memutuskan untuk melakukan
test DNA.
Hari
itu kami semua sedang berkumpul di apartemen, Kak Eric pun ikut bergabung
bersama kami. Tiba-tiba Kyle datang untuk menemuiku di apartemen tapi ada yang
aneh dengannya. Ada beberapa luka lebam di wajahnya, dan luka sobek di ujung
bibir dan pelipisnya.
“Hai
Kyle, kau mau bertemu dengan Lila, kan. Ayo silakan masuk.”
“Terima
kasih Dhee.”
“Kyle
ada apa dengan wajahmu? Mengapa penuh luka seperti ini?”
“Itu
tidak penting, La. Karena ada hal yang lebih penting yang harus aku sampaikan
padamu.” Lalu Kyle memberikanku sebuah amplop berwarna coklat.
Dengan
gemetaran aku mengambilnya lalu membaca isinya, “Ya Tuhan…” aku sangat terkejut
membaca hasil test itu sampai-sampai aku menjatuhkannya.
“Ada
apa Lila?” lalu Kak Eric mengambil kertas hasil lab itu, “Jadi, ayah dari
bayimu bukan Zach tapi Kyle. Ada apa ini sebenarnya Lila.”
“Ini
bukan salah Lila, aku memang sengaja membuatnya hamil agar Lila menjadi milikku
kembali.”
“Kurang
ajar kau.” Kak Eric langsung melayangkan pukulannya dan Kyle langsung
tersungkur.
“Hentikan
Kak, jangan pukuli Kyle. Aku mohon.” Aku menangis terisak.
Tapi
Kak Eric terus saja memukuli Kyle sampai-sampai Gale dan Mark memegangi Kak
Eric.
“Hentikan
Eric, kau bisa membunuhnya.”
“Pria
brengsek itu harus mati, Gale.”
“Jangan
gegabah Eric, kau membunuh Kyle sama saja kau akan membunuh Lila. Kau tahu
bahwa Lila sangat mencintai Kyle.”
“Kalian
berdua bisa tolong lepaskan aku.”
“Tidak
sebelum kau berjanji tidak akan memukul Kyle lagi.”
“Aku
berjanji Gale, aku sudah mulai tenang sekarang.”
“Baiklah
kalau begitu aku dan Gale akan melepaskanmu.”
Lalu
Kak Eric menghampiriku yang sedang mengobati luka-luka Kyle.
“Lila,
maafkan Kakak.”
“Mengapa
Kakak bisa berbuat seperti ini? Semua ini bisa di selesaikan secara baik-baik,
Kak. Bukan dengan kekerasan seperti ini.”
“Maafkan
Kakak, sayang. Kakak khilaf kau tahu bahwa aku sangat menyayangimu.”
“Aku
tahu tapi… Tapi ti…”
“Lila,
sudahlah aku memang brengsek. Aku pantas mendapatkan semua ini, wajar saja jika
Zach dan kakakmu menghajarku.”
“Zach
menghajarmu?”
“Benar
Dhee, kami tadi bertemu di parkiran, setelah itu ia langsung pergi. Tapi aku
tak masalah harus mendapatkan luka-luka ini, asalkan aku dan Lila bisa bersatu
pada akhirnya.”
U.U
BalasHapuskasian sm Lila
kasian sm Zach
kasian sm Kyle
u.u
Tp akhirnya masalah mulai terselesaikan n.n
Semoga happy ending
:*
Tissue, mana tissue,,
BalasHapussedihh.
Kyle.
Zac,
Lila.
Kyle dipukulin smpe bonyok u.u
Selesai kan masalahnya ya.
jng adu jotos lagi. syok Lila nya :'(
next chapter ya kakak :*
Tunggulah, lagi di godok soalnya....
BalasHapushehehehe