Senin, 17 Desember 2012

Chapter 26


Chapter 26

                Lila, maaf kami tidak membangunkanmu pagi ini karena kami pikir kau masih harus beristirahat di rumah. Aku dan Asya akan mengusahakan pulang cepat setelah kuliah selesai, jangan lupa habiskan sarapan yang sudah kami sediakan. Berhati-hatilah dirumah.
Dhea & Asya

                Setelah membacanya aku langsung duduk di depan meja makan dan mulai menyantap sarapan yang sudah di sediakan oleh kedua sahabatku tersayang. Ketika aku baru selesai mencuci piring yang baru saja aku pakai tiba-tiba Kyle meneleponku, ia berkata sudah berada di bawah menungguku. Aku benar-benar lupa bahwa hari ini akan pergi ke rumah sakit bersamnya. Setelah mengembil tasku aku langsung pergi menemui Kyle di bawah dan pergi ke rumah sakit.

                Sesampainya di sana aku dan Kyle langsung menjalani beberapa pemeriksaan, hasilnya bisa di ketahui satu minggu lagi. Aku hanya mendengus ketika mendengarnya, satu minggu benar-benar waktu yang sangat lama. Dan selama satu minggu itu aku akan benar-benar merasa penasaran. Sebelum jam akan siang Kyle mengantarkanku kembali ke apartemen sebelum Dhea dan Asya pulang.

                Ketika sampai Zach menelepon dan memberitahu bahwa ia baru saja sampai di New York dan akan menemuiku nanti sore. Bagus sekali, Zach sudah pulang dan aku tak tahu harus bersikap seperti apa padanya nanti. Setelah menyimpan tas aku langsung mengganti celana jeans yang aku pakai tadi dengan celana pendek. Lalu aku kembali ke ruang depan, aku merebahkan diriku di atas sofa yang menyalakan TV agar suasana disini tidak terlalu sepi.
                               
                Aku memegangi perutku, mengelusnya dengan lembut. Mengapa Kyle dan Zach sangat mengingin untuk menjadi ayahmu, sayang. Mom, benar-benar bingung dengan semua kejadian ini. Andai saja kau bisa berbicara kau pasti akan mengatakan siapa ayahmu yang sebenarnya kan, sayang. Bersabarlah sayang, seminggu lagi kau akan tahu siapa ayahmu yang sebenarnya. Karena lelah akhirnya aku pun tertidur di sofa.

                Aku terbangun ketika ada yang menepuk-nepuk pipiku dengan lembut. Perlahan aku membuka mataku dan ternyata Zach sudah datang. Aku pun langsung mengubah posisiku menjadi duduk.

                “Kapan kau datang? Mengapa kau bisa masuk, Zach?”
                “Aku baru saja tiba, kau tidak mengunci pintunya. Makanya aku langsung masuk aku takut terjadi sesuatu padamu, sayang.”
                “Dhea dan Asya belum pulang?”
                “Mereka berdua belum pulang, sayang. Apakah kau baik-baik saja, wajahmu sedikit pucat.”
                “Aku hanya lelah saja, Zach. Makanya hari ini aku tidak pergi ke kampus. Oh ya, apakah kau sudah makan? Biar aku siapkan makanan untukmu.”
                “Tidak usah, sayang. Sebaiknya memesan makanan saja, kau harus beristirahat. Biar aku telepon dulu, ya.” Lalu Zach menelepon restoran masakan Cina kesukaanku.
                “Zach, aku memutuskan untuk cuti dulu dari kuliahku. Bagaimana menurutmu?”
                “Kau memang harus melakukannya, sayang. Kau tidak boleh terlalu lelah, kapan kau akan mengurus cutinya. Biar aku saja yang mengurus semuanya.”
                “Tidak perlu Zach, biar besok aku saja yang mengurus semuanya.”
                “Ya sudah kalau begitu. Tapi kau jangan terlalu memaksakan diri, ya.”

                Lalu Zach memeluk dan mencium keningku. Ya Tuhan, pria ini sangat mencintaiku. Zach pasti akan sangat hancur sekali jika hasil DNA itu mengatakan bahwa bayi yang sedang tumbuh di rahimku ini bukan darah dagingnya. Zach melepaskan pelukannya untuk membuka pintu, mungkin makanan yang kami pesan sudah datang. Lalu kami berdua langsung menyantap makanan yang masih panas itu. Malam ini Zach akan menginap.

                “Tidak, Kyle itu tidak mungkin… Bayi ini bukan anakmu, bukan…”
                “Sayang, bangun kau hanya bermimpi.” Aku membuka mataku dan langsung memeluk Zach, “Aku ada di sini, sayang. Sebaiknya kau kembali tidur, sayang.”

                Aku langsung menuruti perkataan Zach. Keesokan harinya aku bangun dan tidak mendapati Zach di sampingku. Aku langung terduduk, malas untuk bangun tapi hari ini aku harus pergi ke kampus untuk mengurus surat-surat pengajuan cutiku. Setelah selesai mandi aku langsung keluar dari kamar dan mendapati Zach sedang membaca korang sambil meminum kopi.

                “Selamat pagi sayang.”
                “Selamat pagi, Dhea dan Asya sudah berangkat?”
                “Mereka sudah berangat setengah jam yang lalu. Minum dulu susunya mumpung masih hangat.”
                “Sudah pukul delapan tapi kau belum berangkat, apakah tidak ada pertemuan?”
                “Aku menunggumu bangun, sayang. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke kampus sendirian. Habiskan dulu sarapanmu lalu kita segera berangkat. Kalau nanti sudah selesai urusannya di kampus kau harus menghubungiku.”
                “Oke, aku akan menghubungimu jika semuanya sudah selesai.”

                Setelah aku menghabiskan sarapanku kami langsung pergi. Zach mengantarkanku sampai depan kantor tata usaha, setelah mencium keningku dia langsung pamit pergi ke kantor. Sedangkan aku langsung masuk ke dalam kantor tata usaha untuk mengurus surat izin cuti kuliahku, aku berada si ruang tata usaha sampai jam makan siang tiba. Setelah semuanya selesai aku langsung menuju ke kantin untuk bertemu dengan Dhea dan Asya yang sudah menungguku di sana, tapi sebelum aku sampai di tempat kedua sahabatku menunggu. Kyle sudah menghadang jalanku dan mengajakku berbicara.

                “Ada apa Kyle?”
                “Aku hanya ingin mengetahui kabarmu saja, Lila. Tadi pagi aku tidak melihatmu di kampus.”
                “Aku memang tidak masuk sejak kemarin. Hari ini aku datang ke kampus hanya untuk mengurus surat-surat cutiku saja, Kyle.”
                “Kau memang harus mengambil cuti, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu dan bayi kita.”
                “Berhenti menyembut bayiku sebagai bayimu, Kyle. Hasil testnya saja belum keluar, kau sudah mengetahui keadaan, bukan. Jadi kalau begitu aku permisi dulu.”
                “Baiklah, hati-hati Lila. Aku mencintaimu.”

                Aku tidak menjawab perkataan Kyle. Aku langsung pergi ketempat Dhea dan Asya yang sedari tadi terus saja mengawasiku ketika aku sedang berbicara dengan Kyle.

                “Ada masalah apalagi dengan Kyle, La?”
                “Masalah yang sangat rumit Dhee, sangat sangat rumit sekali.”
                “Ada masalah apa, La. Siapa tahu kami bisa sedikit member solusi.”
                “Kyle mengklaim bahwa bayi yang sedang aku kandung ini adalah darah dagingnya.”
                “Apa?” jawab Dhea dan Asya bersamaan.
                “Bagaimana bisa, La? Jangan bilang bahwa kau pernah tidur dengan Kyle.”
                “Dengarkan dulu penjelasanku, Dhee. Semua ini terjadi ketika kita berlibur di Hawaii, kau tahu sendiri aku benar-benar sangat mabuk malam itu. Ketika dalam perjalanan ke kamar aku bertemu dengan Kyle. Dan yang aku ingat selanjutnya adalah ketika bangun aku mendapati diriku tanpa pakaian dan Kyle di sampingku dalam keadaan yang sama.”
                “Ya Tuhan, apakah Kyle sengaja melakukan ini,La?”
                “Ya Sya, Kyle sengaja melakukan hal ini. Ia berharap aku mengandung anaknya jadi dengan begitu aku bisa kembali lagi padanya.”
                “Kau masih memiliki perasaan pada Kyle?”
                “Aku masih sangat mencintai Kyle, Dhee. Meskipun aku juga mencintai Zach, aku benar-benar marah Kyle melakukan seperti ini padaku.”
                “Lalu apakah kau sudah tahu siapa ayah dari bayimu ini?”
                “Kemarin aku dan Kyle pergi ke rumah sakit untuk melakukan test DNA dan hasilnya akan segera keluar minggu depan.”
                “Mengapa kau baru menceritakannya pada kami berdua, La.”
                “Maafkan aku Dhee, aku benar-benar tak tahu harus melakukan apa.”
                “Sebaiknya sekarang kau tenang jangan terlalu banyak pikiran. Tidak baik untuk kehamilanmu, apapun hasilnya nanti kami berdua akan tetap berada di sampingmu.”
                “Terima kasih Sya, Dhee… “ aku memeluk mereka berdua dengan erat.

                Sejak memutuskan untuk cuti dari kuliah aku lebih banyak menghabiskan waktu di apartemen saja. Zach jadi jarang datang mengunjungiku karena ia sibuk dengan pekerjaannya. Satu minggu sudah sejak aku dan Kyle memutuskan untuk melakukan test DNA.

                Hari itu kami semua sedang berkumpul di apartemen, Kak Eric pun ikut bergabung bersama kami. Tiba-tiba Kyle datang untuk menemuiku di apartemen tapi ada yang aneh dengannya. Ada beberapa luka lebam di wajahnya, dan luka sobek di ujung bibir dan pelipisnya.

                “Hai Kyle, kau mau bertemu dengan Lila, kan. Ayo silakan masuk.”
                “Terima kasih Dhee.”
                “Kyle ada apa dengan wajahmu? Mengapa penuh luka seperti ini?”
                “Itu tidak penting, La. Karena ada hal yang lebih penting yang harus aku sampaikan padamu.” Lalu Kyle memberikanku sebuah amplop berwarna coklat.
                Dengan gemetaran aku mengambilnya lalu membaca isinya, “Ya Tuhan…” aku sangat terkejut membaca hasil test itu sampai-sampai aku menjatuhkannya.
                “Ada apa Lila?” lalu Kak Eric mengambil kertas hasil lab itu, “Jadi, ayah dari bayimu bukan Zach tapi Kyle. Ada apa ini sebenarnya Lila.”
                “Ini bukan salah Lila, aku memang sengaja membuatnya hamil agar Lila menjadi milikku kembali.”
                “Kurang ajar kau.” Kak Eric langsung melayangkan pukulannya dan Kyle langsung tersungkur.
                “Hentikan Kak, jangan pukuli Kyle. Aku mohon.” Aku menangis terisak.

                Tapi Kak Eric terus saja memukuli Kyle sampai-sampai Gale dan Mark memegangi Kak Eric.

                “Hentikan Eric, kau bisa membunuhnya.”
                “Pria brengsek itu harus mati, Gale.”
                “Jangan gegabah Eric, kau membunuh Kyle sama saja kau akan membunuh Lila. Kau tahu bahwa Lila sangat mencintai Kyle.”
                “Kalian berdua bisa tolong lepaskan aku.”
                “Tidak sebelum kau berjanji tidak akan memukul Kyle lagi.”
                “Aku berjanji Gale, aku sudah mulai tenang sekarang.”
                “Baiklah kalau begitu aku dan Gale akan melepaskanmu.”
                Lalu Kak Eric menghampiriku yang sedang mengobati luka-luka Kyle.
                “Lila, maafkan Kakak.”
                “Mengapa Kakak bisa berbuat seperti ini? Semua ini bisa di selesaikan secara baik-baik, Kak. Bukan dengan kekerasan seperti ini.”
                “Maafkan Kakak, sayang. Kakak khilaf kau tahu bahwa aku sangat menyayangimu.”
                “Aku tahu tapi… Tapi ti…”
                “Lila, sudahlah aku memang brengsek. Aku pantas mendapatkan semua ini, wajar saja jika Zach dan kakakmu menghajarku.”
                “Zach menghajarmu?”
                “Benar Dhee, kami tadi bertemu di parkiran, setelah itu ia langsung pergi. Tapi aku tak masalah harus mendapatkan luka-luka ini, asalkan aku dan Lila bisa bersatu pada akhirnya.”

3 komentar:

  1. U.U
    kasian sm Lila
    kasian sm Zach
    kasian sm Kyle
    u.u

    Tp akhirnya masalah mulai terselesaikan n.n
    Semoga happy ending

    :*

    BalasHapus
  2. Tissue, mana tissue,,
    sedihh.
    Kyle.
    Zac,
    Lila.

    Kyle dipukulin smpe bonyok u.u
    Selesai kan masalahnya ya.
    jng adu jotos lagi. syok Lila nya :'(

    next chapter ya kakak :*

    BalasHapus
  3. Tunggulah, lagi di godok soalnya....

    hehehehe

    BalasHapus